Masyarakat Kota dan Desa sebagai Kelompok Sosial

Top PDF Masyarakat Kota dan Desa sebagai Kelompok Sosial:

Masyarakat Kota Dan Masyarakat Desa

Masyarakat Kota Dan Masyarakat Desa

Dari segi positif, orang kota dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota karena ketersediaan mata pencahariannya di segala bidang. Sehingga banyak dari warga desa yang pergi mengadu nasib di kota dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang banyak. Jalan pikiran yang mereka anut pada umumnya bersifat rasional. Selain itu kota dianggap mewakili suatu kedinamisan dan progresifitas(kemajuan). Masyarakat kota seolah selalu diburu oleh waktu dan situasi yang mendorong mereka untuk bekerja lebih giat dan lebih kreatif. Untuk sebisa mungkin mencukupi kebutuhannya. Di kota ada banyak hiburan yang tersedia. Ada juga ketersediaan alat-alat transportasi yang beraneka ragam. Toko-toko yang menjual berbagai macam kebutuhan yang dibutuhkan maupun yang diinginkan. Gedung-gedung pencakar langit juga pusat perbelanjaan yang modern dan mewah yang bisa jadi tempat sekedar mencuci mata sekalipun. Ciri-ciri Masyarakat Kota
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota

Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota

Karakteristik umum masyarakat pedesaan yaitu masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri dalam hidup bermasyarakat, yang biasa nampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat dicontohkan pada kehidupan masyarakat desa di jawa. Namun dengan adanya perubahan sosial dan kebudayaan serta teknologi dan informasi, sebagian karakteristik tersebut sudah tidak berlaku.

12 Baca lebih lajut

Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multiku

Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multiku

Desa adalah sebuah komunitas yang kehidupannya masih didominasi oleh banyak adat istiadat lama. Sebagian besar aspek kehidupan komunitas ini didasarkan pada cara-cara atau kebiasaan- kebiasaan lama yang diwarisi dari nenek moyang. Kehidupan mereka relatif belum dipengaruhi oleh perubahan dari luar lingkungan sosialnya.

4 Baca lebih lajut

KELOMPOK SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL

KELOMPOK SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Masyarakat Dayak banyak dipengaruhi agama-agama besar seperti Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Sebagian juga masih berpegang pada agama asli yang biasa disebut Kaharingan yang berarti air kehidupan, karena air kehidupanlah yang memberi kehidupan kepada manusia. Masyarakat Dayak percaya bahwa roh-roh halus (ganan) yang berdiam di pohon-pohon atau batu-batu besar, hutan belukar, sungai, danau, dll. Selain itu, mereka juga percaya pada roh-roh nenek moyang (liau) yang masih berada di sekitar mereka. Orang Dayak percaya bahwa jiwa seseorang yang mati akan meninggalkan raganya sebagai liau dan berada di sekitar manusia. Liau itu nantinya akan pergi kepada dewa tertinggi namun melalui proses yang sangat panjang dengan segala tantangan dan ujian.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN. muncul banyak sekali kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Kelompok-kelompok tersebut muncul dikarenakan adanya persamaan

BAB I PENDAHULUAN. muncul banyak sekali kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Kelompok-kelompok tersebut muncul dikarenakan adanya persamaan

punk yang dipersepsi negatif oleh masyarakat merupakan suatu proses yang tidak muncul begitu saja, tapi juga berkaitan dan disebabkan oleh kehidaupan masa lalu individu tersebut. Proses tersebut telah berlangsung sejak dari awal kelahiran baik itu disadari maupun tidak. Untuk itu teori psikoanalisis yang membahas tentang masa lalu dan ketidaksadaran merupaka teori yang sangat sesuai untuk mengungkapkannya. Ketiga, perilaku negatif anak Punk bisa dikatakan sebagai tindakan destruktif dan agresif merupakan salah satu turunan dari insting mati (thanatos) yang dikemukakan oleh Freud dalam teori psikoanalisis. Hal inilah yang mendasari peneliti memilih pendektan psikoanalisis untuk mengungkap keunikan anak-anak Punk.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

masyarakat desa kota

masyarakat desa kota

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Manusia menjalani kehidupan didunia ini tidaklah bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri dalam artian butuh bantuan dan pertolongan orang lain , maka dari itu manusia disebut makhluk sosial, sesuai dengan Firman Allah SWT yang artinya : “ Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal ( bersosialisasi ). ....” ( Al-Hujurat :13 ). Oleh karena itu kehidupan bermasyarakat hendaklah menjadi sebuah pendorong atau sumber kekuatan untuk mencapai cita-cita kehidupan yang harmonis, baik itu kehidupan didesa maupun diperkotaan. Tentunya itulah harapan kita bersama, tetapi fenomena apa yang kita saksikan sekarang ini, jauh sekali dari harapan dan tujuan pembangunan Nasional negara ini, kesenjangan Sosial, yang kaya makin Kaya dan yang Miskin tambah melarat , mutu pendidikan yang masih rendah, orang mudah sekali membunuh saudaranya (dekadensi moral ) hanya karena hal sepele saja, dan masih banyak lagi fenomena kehidupan tersebut diatas yang kita rasakan bersama, mungkin juga fenomena itu ada pada lingkungan dimana kita tinggal.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Tinjauan Sosial–Kelompok Masyarakat Adat Furai di Desa Bawamatalu‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan

Tinjauan Sosial–Kelompok Masyarakat Adat Furai di Desa Bawamatalu‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan

Hal ini kemudian diperkuat oleh pernyataan dari kutipan wawancara kepala desa selaku informan kunci : Peneliti : ” Apakah semua jenis – jenis pekerjaan sektor informal yang sekarang dijadikan sumber mata pencaharian oleh hampir semua masyarakat desa merupakan profesi yang memang sejak lama mereka kerjak an?” Informan : ”T idak. Awalnya mereka mayoritas bercocok tanam sebagai petani, berternak ayam dan babi, serta menjadi kuli dan tukang bangunan saja. Kalau yang berdagang paling di desa ini ada sekitar dua atau tiga pedagang kelontong saja. Nelayan malahan tidak ada. Tapi setelah akses jalan sudah beraspal baik dan semakin hari semakin banyaknya para turis lokal dan asing yang berkunjung, masyarakat mulai lebih berani juga beragam dalam mencari penghidupanny a.”
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

Tinjauan Sosial–Kelompok Masyarakat Adat Furai di Desa Bawamatalu‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan

Tinjauan Sosial–Kelompok Masyarakat Adat Furai di Desa Bawamatalu‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan

Penelitian ini dilakukan di Desa Bawamatal u‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian bentuk deskriptif. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini, yaitu sebagai informan kunci adalah Kepala Desa Bawamatal u‘o dan sebagai informan utama antara lain empat orang masyarakat Desa Bawamatal u‘o yang mewakili empat jenis pekerjaan sektor informal di Desa Bawamatal u‘o. Teknik pengumpulan data dengan studi pustaka, studi lapangan, wawancara dan observasi. Data yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisis oleh peneliti yang dijelaskan secara kualitatif, sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian tersebut.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Tinjauan Sosial–Kelompok Masyarakat Adat Furai di Desa Bawamatalu‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan

Tinjauan Sosial–Kelompok Masyarakat Adat Furai di Desa Bawamatalu‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan

Pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah banyak meluncurkan program penanggulangan kemiskinan seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai), KUR (Kredit Usaha Rakyat), Pengembangan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dan masih banyak program-program lainnya. Sayangnya itu semua masih belum cukup berhasil. Usaha pemerintah dalam penanggulangan masalah kemiskinan sangatlah serius, bahkan merupakan salah satu program prioritas. Itu semua semata-mata untuk melenyapkan kemiskinan dan menciptakan kesejahateraan di bumi Indonesia ini.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Tinjauan Sosial–Kelompok Masyarakat Adat Furai di Desa Bawamatalu‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan

Tinjauan Sosial–Kelompok Masyarakat Adat Furai di Desa Bawamatalu‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan

Untuk memahami masalah kemiskinan, maka perlu memandang kemiskinan itu dari dua aspek, yakni kemiskinan sebagai suatu kondisi dan kemiskinan sebagai suatu proses. Sebagai suatu kondisi, kemiskinan adalah suatu fakta dimana seseorang atau sekelompok orang hidup di bawah atau lebih rendah dari kondisi hidup layak sebagai manusia disebabkan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara sebagai suatu proses, kemiskinan merupakan proses menurunnya daya dukung terhadap hidup seseorang atau sekelompok orang sehingga pada gilirannya ia atau kelompok tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak pula mampu mencapai taraf kehidupan yang dianggap layak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia (Siagian, 2012:2-3).
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Tinjauan Sosial–Kelompok Masyarakat Adat Furai di Desa Bawamatalu‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan

Tinjauan Sosial–Kelompok Masyarakat Adat Furai di Desa Bawamatalu‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan

Siagian, M. (2011). Metode Penelitian Sosial, Pedoman Praktis Penelitian Bidang Ilmu Sosial dan Kesehatan . Medan: PT. Grasindo Monoratama. Siagian, M. (2012). Kemiskinan dan Solusi . Medan : Grasindo Monoratama. Silalahi, U. (2009). Metode Penelitian Sosial . Bandung : PT. Refika Aditama. Soekanto, S. (2009). Sosiologi Suatu Pengantar . Jakarta : Raja Grafindo Persada.

2 Baca lebih lajut

Tinjauan Sosial–Kelompok Masyarakat Adat Furai di Desa Bawamatalu‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan

Tinjauan Sosial–Kelompok Masyarakat Adat Furai di Desa Bawamatalu‘o Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan

keempat informan utama dan masyarakat di Desa Bawamatal u‘o Kecamatan Fanayama. Kabupaten Nias Selatan :[r]

4 Baca lebih lajut

PERSPEKTIF KEANEKARAGAMAN SOSIAL. Analisis keanekaragaman kelompok sosial dalam masyarakat multikultural

PERSPEKTIF KEANEKARAGAMAN SOSIAL. Analisis keanekaragaman kelompok sosial dalam masyarakat multikultural

(6) serta adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok yang lain. Setiap kehidupan bersama tentu akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi, dan dasarnya sangat sederhana, yaitu bahwa setiap orang memiliki potensi yang berbeda dengan orang-orang lainnya, baik dasar pengetahuan, pertimbangan, orientasi kepentingan, ataupun pengalaman. Keluarga, sebagai unit terkecil dari suatu kesatuan sosial, tidak selalu ada dalam keseimbangan, walaupun kedudukan-kedukan, peranan-peranan, serta nilai-nilai dan norma- norma yang ada di dalamnya diatur secara jelas; dalam keluarga, kontrol sosial antara anggota satu terhadap anggota lainnya relatif dapat dilaksanakan dengan mudah, tetapi tidak jarang terjadi pertentangan-pertentangan yang akhirnya menimbulkan hilangnya keutuhan keluarga yang berangkutan. Dalam kelompok sekecil keluarga pun keadaan persatuan dan perpecahan sangat memungkinkan terjadi, apalagi bila diimplementasikan dalam bentuk pengelompokkan yang lebih besar, tetangga, masyarakat, terlebih masyarakat multikultural. Dalam Bab ini kita akan dicoba melakukan suatu kajian tentang masyarakat Indonesia, berdasarkan ikatan-ikatan yang mempersatukan atau berpotensi memisahkan satu sama lain, sebagai salah satu konsekuensi kemajemukan masyarakat dan kebudayaannya.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Makalah Perubahan Sosial Masyarakat Desa

Makalah Perubahan Sosial Masyarakat Desa

Seperti telah dijelaskan di atas, secara umum lembaga diartikan sebagai wahana untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam suatu masyarakat. Kelembagaan dalam kaftan ini adalah tindakan bersama (collective action) yang memiliki pola atau tertib yang jelas dalam upaya untuk mencapai tujuan atau kebutuhan tertentu. ini berarti bahwa kelembagaan yang ada dalam suatu masyarakat eksistensinya ditentukan oleh sifat dan ragam kebutuhan yang ada dalam suatu masyarakat. Dengan demikian apabila dalam masyarakat muncul kebutuhan-kebutuhan baru yang semakin meluas dan bera gam, maka lembaga-lembaga lama menjadi kurang dapat berfungsi. Sebagai konsekuensinya, lembaga-lembaga baru yang instrumental bagi pemenuhan kebutuhan baru itu semakin dituntut keberadaannya. Munculnya lembaga-lembaga baru di desa- desa belum tentu rupakan tanggapan dari kebutuhan-kebutuhan baru yang
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KELAS SOSIAL DALAM MASYARAKAT DI DESA TORUE

KELAS SOSIAL DALAM MASYARAKAT DI DESA TORUE

Pendahuluan Masyarakat adalah golongan besar atau kecil terdiri dari beberapa manusia, yang dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan pengaruh- mempengaruhi sutu sama lain. (Hassan Shadily, 1993: 47). Masyarakat adalah sekelompok manusia yang saling berinteraksi. Dari interaksi ini akan menimbulkan suatu stratifikasi sosial sebagai bentuk perebutan kekuasaan yang merupakan sesuatu hal yang selalu diperebutkan di masyarakat dengan menguasai sumber- sumber kekuasaan yang ada di masyarakat.Stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. (Soerjono Soekanto: 1982;198). Dari stratifikasi sosial dapat lagi di bedakan ke dalam kelas-kelas tertentu. Dimana kelas sosial adalah suatu strata (lapisan ) orang- orang yang berkedudukan sama dalam kontinum status sosial. Bagian-bagian dari kelas sosial adalah status sosial, penghasilan, kekuasaan dan pekerjaan. Di zaman yang modern seperti ini masyarakat selalu memandang seseorang dari kelas sosialnya. Jika seseorang yang memiliki kekuasaan pasti masyarakat akan menghormatinya namun jika seseorang tidak memiliki kekuasaan di tempat itu maka ia tidak akan dihormati sebagaimana layaknya orang yang berkuasa.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Dampak Pembentukan Kota Gunungsitoli Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Madula Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli

Dampak Pembentukan Kota Gunungsitoli Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Madula Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli

Pembangunan di Indonesia merupakan salah satu langkah penting nasional dalam rangka pencapaian kesejahteraan masyarakat. Pembangunan tersebut diharapkan dilakukan secara merata dan menjangkau seluruh daerah. Rentang kendali pemerintah terhadap seluruh daerah di Indonesia akan menjadi sangat luas apabila pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan secara terpusat. Oleh karena itu dengan jalan pemberian wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengelola daerah wilayahnya melalui otonomi daerah yang diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004, menjadikan rentang kendali lebih terfokus sehingga mengurangi ketidakmerataan dan ketimpangan pelaksanaan antar daerah. Hal tersebut membuka peluang kepada Kota Gunungsitoli untuk dimekarkan dari Kabupaten Nias sehingga dapat mengelola sendiri daerah wilayahnya. Dengan landasan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 47 tahun 2008 tertanggal 26 November 2008 dan diresmikan pada tanggal 25 Mei 2009 bersamaan dengan beberapa kabupaten di Kepulauan Nias, Kota Gunungsitoli sah dimekarkan dan menjadi satu Kota Madya dan diresmikan di Medan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden RI.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Dampak Pembentukan Kota Gunungsitoli Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Madula Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli

Dampak Pembentukan Kota Gunungsitoli Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Madula Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli

Pembangunan di Indonesia merupakan salah satu langkah penting nasional dalam rangka pencapaian kesejahteraan masyarakat. Pembangunan tersebut diharapkan dilakukan secara merata dan menjangkau seluruh daerah. Rentang kendali pemerintah terhadap seluruh daerah di Indonesia akan menjadi sangat luas apabila pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan secara terpusat. Oleh karena itu dengan jalan pemberian wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengelola daerah wilayahnya melalui otonomi daerah yang diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004, menjadikan rentang kendali lebih terfokus sehingga mengurangi ketidakmerataan dan ketimpangan pelaksanaan antar daerah. Hal tersebut membuka peluang kepada Kota Gunungsitoli untuk dimekarkan dari Kabupaten Nias sehingga dapat mengelola sendiri daerah wilayahnya. Dengan landasan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 47 tahun 2008 tertanggal 26 November 2008 dan diresmikan pada tanggal 25 Mei 2009 bersamaan dengan beberapa kabupaten di Kepulauan Nias, Kota Gunungsitoli sah dimekarkan dan menjadi satu Kota Madya dan diresmikan di Medan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden RI.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Dampak Pembentukan Kota Gunungsitoli Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Madula Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli

Dampak Pembentukan Kota Gunungsitoli Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Madula Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli

Pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengelola daerah wilayahnya kemudian diatur dalam Undang-undang No. 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 5, tentang otonomi daerah yakni adanya hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Otonomi daerah tersebut merupakan jalan terbaik yang ditempuh dalam rangka mendorong pembangunan daerah, menggantikan sistem pembangunan terpusat yang menyebabkan ketidakmerataan dan ketimpangan perlakuan antar daerah. Dengan adanya otonomi daerah, kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah akan semakin besar sehingga tanggung jawab yang diemban juga akan bertambah banyak.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Dampak Pembentukan Kota Gunungsitoli Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Madula Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli

Dampak Pembentukan Kota Gunungsitoli Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Madula Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli

Di Indonesia, konsep kesejahteraan sosial juga telah lama dikenal. Ia telah ada dalam ketatanegaraan Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial, misalnya, merumuskan kesejahteraan sosial sebagai suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir dan batin, yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan- kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga, serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak atau kewajiban manusia sesuai Pancasila.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Dampak Pembentukan Kota Gunungsitoli Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Madula Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli

Dampak Pembentukan Kota Gunungsitoli Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Madula Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli

Peraturan Pemerintah Nomor 129 tahun 2000 tentang Persyaratan Pembentukan.. dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan dan Penggabungan Daerah.[r]

3 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...