Pengaruh jenis sumber serat terhadap rendemen

Top PDF Pengaruh jenis sumber serat terhadap rendemen:

Pengaruh Jenis Sumber Serat dan Perbandingan Penstabil Terhadap Mutu Minuman Serat Alami.

Pengaruh Jenis Sumber Serat dan Perbandingan Penstabil Terhadap Mutu Minuman Serat Alami.

beaker glass yang berisi air dan diatur pH-nya dengan menambahkan asam asetat hingga mencapai pH 6 dan dimasak selama 45 menit pada suhu 90 o C. Bahan selanjutnya disaring dan dikeringkan dengan oven suhu 50 0 C selama 24 jam, kemudian ditimbang untuk mendapatkan rendemen. Dicampur bahan dengan menambahkan penstabil (gum arab : dekstrin) sebanyak 9% dengan perbandingan P 1 (1 : 8), P 2 (2 : 7), P 3 (3 : 6) dan P 4 (4 : 5) dan tepung gula 20% yang telah dilarutkan terlebih dahulu. Kemudian dituang ke dalam loyang dan dikeringkan dalam oven pada suhu 50 o C selama 24 jam. Dihaluskan bahan yang telah kering dan diayak dengan menggunakan ayakan 30 mesh. Dilakukan analisis kadar air, kadar serat kasar, daya larut dalam air, daya serap air, daya serap minyak dan uji organoleptik terhadap warna, aroma dan rasa.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

Pengaruh Jenis Alkohol pada Rendemen Sintesis Zink Dialkilditiofosfat

Pengaruh Jenis Alkohol pada Rendemen Sintesis Zink Dialkilditiofosfat

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengaruh Jenis Alkohol pada Rendemen Sintesis Zink Dialkilditiofosfat adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

43 Baca lebih lajut

Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Larutan Perendam terhadap Rendemen Gelatin

Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Larutan Perendam terhadap Rendemen Gelatin

3%, 5% dan 7%, ekstraksi gelatin dan pengeringan gelatin. Cakar ayam broiler yang sudah dibersihkan kemudian dilanjutkan proses demineralisasi dengan direndam dalam larutan asam selama 48 jam untuk menghilangkan kalsium dan garam pada cakar ayam broiler sehingga dihasilkan tulang cakar ayam yang lunak (ossein). Struktur kolagen triple-helix (tropokolagen) pada cakar ayam broiler akan berinteraksi dengan asam dan menjadi pecah sehingga serat kolagen triple-helix (tropokolagen) akan berubah menjadi asam amino rantai tunggal (glisin-prolin dan glisin-hidroksiprolin) (Huda et al., 2013). Perendaman menggunakan asam akan membentuk gelatin yang larut air pada cakar ayam broiler dengan waktu yang lebih cepat berkisar 48-72 jam dibandingkan basa. Jika menggunakan basa membutuhkan waktu yang lama untuk menghilangkan protein non- kolagen seperti albumin dan globulin yang selalu terdapat dalam bahan baku sehingga terdapat protein non-kolagen saat proses ekstraksi gelatin (Schrieber & Herbert, 2007).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Larutan Perendam terhadap Rendemen Gelatin

Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Larutan Perendam terhadap Rendemen Gelatin

Untuk memperoleh gelatin dari cakar ayam broiler, diperlukan tiga tahapan utama yang meliputi demineralisasi dengan menggunakan asam HCl dan H2SO4 pada konsentrasi 3%, 5% dan 7%, ekstraksi gelatin dan pengeringan gelatin. Cakar ayam broiler yang sudah dibersihkan kemudian dilanjutkan proses demineralisasi dengan direndam dalam larutan asam selama 48 jam untuk menghilangkan kalsium dan garam pada cakar ayam broiler sehingga dihasilkan tulang cakar ayam yang lunak (ossein). Struktur kolagen triple-helix (tropokolagen) pada cakar ayam broiler akan berinteraksi dengan asam dan menjadi pecah sehingga serat kolagen triple-helix (tropokolagen) akan berubah menjadi asam amino rantai tunggal (glisin-prolin dan glisin-hidroksiprolin) (Huda et al., 2013). Perendaman menggunakan asam akan membentuk gelatin yang larut air pada cakar ayam broiler dengan waktu yang lebih cepat berkisar 48-72 jam dibandingkan basa. Jika menggunakan basa membutuhkan waktu yang lama untuk menghilangkan protein non- kolagen seperti albumin dan globulin yang selalu terdapat dalam bahan baku sehingga terdapat protein non-kolagen saat proses ekstraksi gelatin (Schrieber & Herbert, 2007).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Metode Dan Jenis Pelarut Ekstraksi Terhadap Rendemen Dan Kualitas Minyak Atsiri Nilam

Pengaruh Metode Dan Jenis Pelarut Ekstraksi Terhadap Rendemen Dan Kualitas Minyak Atsiri Nilam

Minyak atsiri nilam merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia penghasil devisa negara. Minyak atsiri nilam Indonesia sangat digemari oleh pasar Eropa dan Amerika sebagai bahan baku industri pembuatan minyak wangi, kosmetik, farmasi, dan sabun karena merupakan bahan fiksatif wewangian yang sampai saat ini belum dapat disintesis secara kimia, juga bersifat antijamur, antidepresi, dan antiinflamasi. Meskipun demikian, stabilitas ketersediaan dan mutu minyak atsiri nilam Indonesia dapat dikatakan sangat fluktuatif dan masih tergolong rendah. Hal ini mungkin diakibatkan oleh keterbatasan wawasan dan teknologi yang dimiliki oleh petani/penyuling minyak atsiri nilam baik dalam hal budidaya tanaman nilam maupun teknik pengolahan minyak atsiri nilam. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh metode dan jenis pelarut ekstraksi terhadap rendemen dan kualitas minyak atsiri nilam yang dihasilkan. Metode ekstraksi pelarut menggunakan tiga jenis pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda, yaitu etanol, metanol, dan etil asetat. Metode lainnya adalah distilasi uap. Minyak nilam yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan GC-MS. Hasil analisis menggunakan GC terhadap ekstrak maupun minyak nilam hasil distilasi uap menunjukkan adanya kesamaan kromatogram dengan minyak nilam komersial. Senyawa aktif yang terdeteksi antara lain patchouli alcohol, α- patchoulene, β-patchoulene, dan α-guaiene. Hasil analisis GC-MS juga menunjukkan adanya kandungan patchouli alcohol pada minyak nilam yang diperoleh.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENGARUH JENIS PELARUT TERHADAP RENDEMEN DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DALAM EKSTRAK MINYAK BEKATUL PADI

PENGARUH JENIS PELARUT TERHADAP RENDEMEN DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DALAM EKSTRAK MINYAK BEKATUL PADI

Kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan telah meningkat secara nyata dalam dasa warsa terakhir ini. Kenyataan ini menuntut suatu bahan pangan tidak hanya bergizi dan lezat saja, tetapi juga mempunyai khasiat yang menguntungkan bagi kesehatan, yang dikenal dengan istilah pangan fungsional. Pangan fungsional adalah bahan pangan yang mengandung senyawa atau komponen yang berkhasiat bagi kesehatan. Senyawa atau komponen dalam pangan fungsional tersebut antara lain serat pangan, oligosakarida, gula alkohol, asam amino, peptida, protein, glikosida, alkohol, isoprenoida vitamin, kolin, mineral, bakteri asam laktat, asam lemak tidak jenuh, dan antioksidan (Golberg, 1994).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

4.1. Pengaruh Pra Perlakuan dan Jenis Larutan Ekstraksi terhadap Rendemen Gelatin yang Dihasilkan.

4.1. Pengaruh Pra Perlakuan dan Jenis Larutan Ekstraksi terhadap Rendemen Gelatin yang Dihasilkan.

Berdasarkan jenis pra perlakuannya, data hasil pengujian kekuatan gel yang disajikan pada Tabel 5 dan Gambar 12 menunjukkan bahwa proses demineralisasi cenderung menghasilkan gelatin dengan kekuatan gel yang lebih tinggi dibanding proses defatting dan deproteinasi. Selama proses demineralisasi berlangsung, beberapa kelompok fosfat dari kalsium fosfat tulang ikan berikatan dengan asam amino sehingga mengakibatkan terjadinya fosforilasi. Pada proses fosforilasi, terjadi reaksi ionik antara gugus fosfat dengan –NH 3+ dari asam amino yang menyebabkan ikatan antar proteinnya semakin kuat (Guo, et al., 2005). Kuatnya ikatan antar protein tersebut menyebabkan struktur gel dari gelatin menjadi lebih kompak sehingga ketika dilakukan pengukuran, memiliki nilai kekuatan gel yang lebih tinggi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Variasi Jenis Asam Terhadap Rendemen Gelatin Dari Tulang Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis)

Pengaruh Variasi Jenis Asam Terhadap Rendemen Gelatin Dari Tulang Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis)

yaitu 1,9894 cPs. Perbedaan viskositas tersebut dikarenakan perbedaan kemampuan jenis asam didalam memutuskan ikatan-ikatan antar molekul. Rendahnya viskositas yang diperoleh, diakibatkan karena pendeknya rantai asam amino yang terkandung didalamnya. Hal ini didukung oleh Chamidah dan Elita (2002), lemahnya ikatan silang akan menyebabkan kolagen mudah terhidrolisis, hidrolisis ini dapat menurunkan berat molekul gelatin yang akan menurunkan viskositas larutan gelatin.

10 Baca lebih lajut

PENGARUH JENIS PENGGILINGAN PADI TERHADAP RENDEMEN HASIL DAN TINGKAT KECERAHAN BERAS DI KABUPATEN SLEMAN

PENGARUH JENIS PENGGILINGAN PADI TERHADAP RENDEMEN HASIL DAN TINGKAT KECERAHAN BERAS DI KABUPATEN SLEMAN

Penggilingan padi kecil yang menggunakan sistim kerja satu kali proses penyosohan kualitas dan rendemen beras yang kurang baik. Teknologi penggilingan padi pada penggilingan padi kecil masih sederhana, konfigurasi mesinnya hanya terdiri dari husker dan polisher saja dan sudah berumur tua. Di Sleman berkembang penggilingan padi keliling dimana kinerja dan mutu berasnya lebih buruk. Melihat kondisi penggilingan padi yang ada di Sleman perlu dilakukan penelitian terhadap penggilingan padi untuk mengetahui rendemen hasil dan tingkat kecerahan beras yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Sleman yang merupakan sentra padi di DIY, waktu penelitian dari bulan Januari -April 2015. Penggilingan dilakukan terhadap gabah IR-64 dan Mentik untuk melihat pengaruh jenis gabah. Penggilingan padi yang dipakai dengan model: 1). SD = husker-2x separator-2x polisher (H- 2S -2P), 2). TS = husker-polisher (H-P), 3). BC = 2x husker-2x polisher (2H-2P), dan 4). KL = 2x polisher (2P). Hasil perhitungan rendemen lapang (Rlp) untuk varietas IR-64 berkisar 60,00 – 64,41% dan varietas Mentik berkisar 61,67 – 64,58%. Sedangkan rendemen laboratorium untuk varietas IR -64 69,94% dan Mentik 66,99%. Selanjutnya dari hasil perhitungan susut penggilingan untuk varietas IR-64 dan Mentik untuk masing-masing penggilingan, yaitu : SD = 9,94 dan 2,41%; BC = 5,53 dan 3,63%; TS = 5,86 dan 3,78%; serta KL = 7,43 dan 5,32%. Hasil pengukuran tingkat kecerahan menunjukkan Mentik memiliki tingkat kecerahan lebih tinggi dibanding IR-64. Dimana tingkat kecerahan untuk IR-64 berkisar 71,18- 77,02 dan pada Mentik 83,00-87,32. Untuk memperoleh rendemen beras yang baik perlu memperhatikan bentuk beras dan konfigurasi penggilingan yang digunakan. Konfigurasi penggilingan padi skala kecil dengan husker -polisher untuk bentuk beras ramping memberikan rendemen yang terbaik. Sedangkan untuk bentuk beras medium, konfigurasi penggilingan terbaik adalah husker - 2 x separator - 2 x polisher Tingkat kecerahan beras terbaik diperoleh dari hasil k onfigurasi penggilingan husker - polisher atau 2 x polisher dengan bentuk beras medium. Perlu dilakukan perbaikan konfigurasi cara penggilingan pada penggilingan padi skala kecil untuk mendapatkan mutu beras yang lebih baik.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Kondisi Penyimpanan Gabah Kering Panen, Rendemen Giling dan Beras Kepala

Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Kondisi Penyimpanan Gabah Kering Panen, Rendemen Giling dan Beras Kepala

budidaya, cekaman lingkungan, agroekosistem, dan iklim. Kelompok kedua merupakan faktor penentu rendemen yang terlibat dalam proses koversi gabah menjadi beras, yaitu teknik penggilingan dan alat/mesin penggilingan. Kelompok ketiga adalah derajar sosoh yang diinginkan, karena semakin tinggi derajat sosoh, maka rendemen akan semakin rendah. Menurut Mardiah dan Indrasari () yang melakukan karakterisasi mutu gabah, mutu fisik dan mutu giling beras terhadap beberapa galur harapan padi sawah, menyatakan bahwa rendemen giling dari 43 galur yang dianalisis berkisar antara 65,4-72,5%, artinya jenis kemasan yang rendemen yang memenuhi kriteria tersebut hanya kemasan plastik. Rendemen giling yang kurang dari 65%, kemungkinan karena gabah disimpan pada kadar air tinggi, sehingga aktivitas respirasi gabah tinggi. Aktivitas respirasi dapat mengurangi rendemen giling karena terjadinya penguraian senyawa gula (pati) menjadi CO 2 dan air (Dilhutany et al., 2000)
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH JENIS KEMASAN TERHADAP KONDISI PENYIMPANAN GABAH KERING PANEN, RENDEMEN GILING DAN BERAS KEPALA

PENGARUH JENIS KEMASAN TERHADAP KONDISI PENYIMPANAN GABAH KERING PANEN, RENDEMEN GILING DAN BERAS KEPALA

budidaya, cekaman lingkungan, agroekosistem, dan iklim. Kelompok kedua merupakan faktor penentu rendemen yang terlibat dalam proses koversi gabah menjadi beras, yaitu teknik penggilingan dan alat/mesin penggilingan. Kelompok ketiga adalah derajar sosoh yang diinginkan, karena semakin tinggi derajat sosoh, maka rendemen akan semakin rendah. Menurut Mardiah dan Indrasari () yang melakukan karakterisasi mutu gabah, mutu fisik dan mutu giling beras terhadap beberapa galur harapan padi sawah, menyatakan bahwa rendemen giling dari 43 galur yang dianalisis berkisar antara 65,4-72,5%, artinya jenis kemasan yang rendemen yang memenuhi kriteria tersebut hanya kemasan plastik. Rendemen giling yang kurang dari 65%, kemungkinan karena gabah disimpan pada kadar air tinggi, sehingga aktivitas respirasi gabah tinggi. Aktivitas respirasi dapat mengurangi rendemen giling karena terjadinya penguraian senyawa gula (pati) menjadi CO 2 dan air (Dilhutany et al., 2000)
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH JENIS KEMASAN TERHADAP KONDISI PENYIMPANAN GABAH KERING PANEN, RENDEMEN GILING DAN BERAS KEPALA

PENGARUH JENIS KEMASAN TERHADAP KONDISI PENYIMPANAN GABAH KERING PANEN, RENDEMEN GILING DAN BERAS KEPALA

budidaya, cekaman lingkungan, agroekosistem, dan iklim. Kelompok kedua merupakan faktor penentu rendemen yang terlibat dalam proses koversi gabah menjadi beras, yaitu teknik penggilingan dan alat/mesin penggilingan. Kelompok ketiga adalah derajar sosoh yang diinginkan, karena semakin tinggi derajat sosoh, maka rendemen akan semakin rendah. Menurut Mardiah dan Indrasari () yang melakukan karakterisasi mutu gabah, mutu fisik dan mutu giling beras terhadap beberapa galur harapan padi sawah, menyatakan bahwa rendemen giling dari 43 galur yang dianalisis berkisar antara 65,4-72,5%, artinya jenis kemasan yang rendemen yang memenuhi kriteria tersebut hanya kemasan plastik. Rendemen giling yang kurang dari 65%, kemungkinan karena gabah disimpan pada kadar air tinggi, sehingga aktivitas respirasi gabah tinggi. Aktivitas respirasi dapat mengurangi rendemen giling karena terjadinya penguraian senyawa gula (pati) menjadi CO 2 dan air
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH JENIS DAUN DAN PELARUT TERHADAP RENDEMEN EKSTRAK SAPONIN DAUN PEPAYA (Carica papaya Linn.)

PENGARUH JENIS DAUN DAN PELARUT TERHADAP RENDEMEN EKSTRAK SAPONIN DAUN PEPAYA (Carica papaya Linn.)

ABSTRAK Senyawa saponin diketahui memiliki aktifitas antimikroba yang dapat digunakan sebagai pengawet makanan, dan jumlahnya cukup melimpah pada daun pepaya yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Akan tetapi studi terkait ektraksi saponin dari daun papaya ini belum banyak dikaji, serta jumlah saponin di daun papaya muda dan tua belum banyak yang mengetahuinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode ekstraksi saponin yang menghasilkan rendemen tinggi dari daun pepaya dengan membandingkan rendemen dari daun pepaya (tua, muda) dan pelarut (etanol, metanol) yang digunakan. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa ekstraksi menggunakan pelarut etanol menghasilkan rendemen yang lebih tinggi (5,7%) dibandingkan dengan metanol (3,2%), sedangkan rendemen ekstrak kaya saponin pada daun pepaya muda dan tua tidak berbeda nyata.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENGARUH RASIO SEMEN/SERAT DAN JENIS KATALIS TERHADAP KEKUATAN PAPAN SEMEN-SERAT DARI LIMBAH KERTAS KARDUS

PENGARUH RASIO SEMEN/SERAT DAN JENIS KATALIS TERHADAP KEKUATAN PAPAN SEMEN-SERAT DARI LIMBAH KERTAS KARDUS

Coutts (2000) menyatakan bahwa papan semen yang dibuat dengan menggunakan serat daur ulang menjadi salah satu alter- natif konstruksi yang layak untuk dipertimbangkan. Sementara Fernandez et al. (2000) telah melakukan penelitian dengan me- manfaatkan serat jerami untuk pembuatan papan semen yang kemudian disebut sebagai fiber-cementboard. Papan semen yang dibuat Fernandez et al. (2000) mempunyai sifat yang cukup baik, namun kelemahan dari penelitian ini adalah ketersediaan bahan baku yang sangat kurang untuk bisa diaplikasikan ke dalam in- dustri. Fernandez dan Taja-On, (2000) juga melakukan penelitian dengan menggunakan bahan baku dari sludge primer industri pulp dan kertas dengan sifat fisik dan mekanis yang bagus. Na- mun, penelitian ini tidak membuat target kerapatan papan semen yang dibuat, sehingga kelemahan dari penelitian ini adalah papan yang dihasilkan mempunyai kerapatan yang berbeda-beda dan memiliki berat yang tinggi.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH SUBTITUSI KARAGENAN, TEPUNG TERIGU DAN SUMBER JENIS SERAT (KAYU SECANG, ROSELLA DAN KULIT BUAH NAGA) TERHADAP KARAKTERISTIK EDIBLE STRAWS

PENGARUH SUBTITUSI KARAGENAN, TEPUNG TERIGU DAN SUMBER JENIS SERAT (KAYU SECANG, ROSELLA DAN KULIT BUAH NAGA) TERHADAP KARAKTERISTIK EDIBLE STRAWS

Menurut Mardiah (2009), kandungan penting yang terdapat pada kelopak bunga rosella adalah pigmen antosianin yang membentuk flavonoid yang berperan sabagai antioksidan. Pigemen antosianin ini yeng membentuk warna ungu kemerahan pada kelopak bunga maupun teh hasil seduhan rosella. Zat gizi lain yang tak kalah penting terkandung dalam bunga rosella adalah kalsium, niasin, riboflavin dan besi yang cukup tinggi. Kandungan zat besi pada kelopak segar rosella dapat mencapai 8,98 mg/100 g, sedangkan pada daun rosella sebesar 5,4 mg/100 g. Selain itu kelopak rosella mengandung 1,12%, protein, 12% serat kasar, 21,89 mg/100 g sodium, vitamin C dan vitamin A.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PENGARUH JENIS PENUTUP SUMBER GULA DAN P

PENGARUH JENIS PENUTUP SUMBER GULA DAN P

Selain banyak diminati karena rasanya yang enak dan kaya serat, pembuatan nata de coco pun tidak sulit dan biaya yang dibutuhkan tidak banyak sehingga dapat sebagai alternatif usaha yang dapat memberikan keuntungan. Produk ini banyak digunakan sebagai pencampur es krim, coktail buah, sirup, dan makanan ringan lainnya. nata de coco dapat dipakai sebagai sumber makan rendah energi untuk keperluan diet. Nata de coco juga mengandung serat (dietary fiber) yang sangat dibutuhkan tubuh dalam proses fisiologi. Konon, produk ini dapat membantu penderita diabetes dan memperlancar proses pencernaan dalam tubuh.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGARUH WAKTU PERENDAMAN DAN JENIS LARUTAN TERHADAP KEKUATAN TARIK SERAT NANAS

PENGARUH WAKTU PERENDAMAN DAN JENIS LARUTAN TERHADAP KEKUATAN TARIK SERAT NANAS

Pemanfaatan serat alam baik dari segi teknis maupun sebagai produk pertanian non- pangan telah dikembangkan sejak lama. Misalnya sebagai serat selulosa dalam industri tekstil dan bubuk kertas tetap menjadi komoditi utama dalam industri produk non-pangan. Pemasaran serat alam seperti flax, hemp, jute dan sisal mengalami penurunan yang sangat substansial semenjak dikembangkannya serat sintetis WO II dalam industri tekstil (FAO statistics). Meskipun demikian, pemanfaatan serat alam masih terjaga dan sejumlah pemanfaatan baru dipersiapkan untuk serat alam.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGARUH PERENDAMAN DENGAN LARUTAN GARAM TERHADAP KANDUNGAN RENDEMEN, BAHAN KERING, SERAT KASAR DAN BAHAN EKSTRAK TANPA NITROGEN (BETN) UMBI GADUNG

PENGARUH PERENDAMAN DENGAN LARUTAN GARAM TERHADAP KANDUNGAN RENDEMEN, BAHAN KERING, SERAT KASAR DAN BAHAN EKSTRAK TANPA NITROGEN (BETN) UMBI GADUNG

Tujuan dari penelitian ini untuk melihat pengaruh perendaman larutan garam terhadap kandungan rendemen, bahan kering, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) umb[r]

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Perbedaan Metode Ekstraksi, Bagian Dan Jenis Pelarut Terhadap Rendemen Dan Aktifitas Antioksidan Bambu Laut (Isis Hippuris)

Pengaruh Perbedaan Metode Ekstraksi, Bagian Dan Jenis Pelarut Terhadap Rendemen Dan Aktifitas Antioksidan Bambu Laut (Isis Hippuris)

Bambu laut (Isis hippuris) merupakan karang lunak yang tersebar luas di perairan Indo-Pasifik dan memiliki potensi untuk dieksplorasi dalam pemanfaatannya. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh perbedaan metode ekstraksi ultrasonik dan maserasi, perbedaan jenis pelarut yang berbeda terhadap rendemen dan aktifitas antioksidan bambu laut (Isis hippuris) dan menentukan metode ekstraksi dan jenis pelarut terbaik dalam mengekstraksi bambu laut (Isis hippuris). Hasil rendemen yang paling tinggi adalah rendemen dengan menggunakan pelarut metanol, sehingga kemungkinan besar senyawa bioaktif yang terdapat pada bambu laut (Isis hippuris) lebih bersifat polar, hal ini karena pelarut metanol merupakan pelarut yang besifat polar. Rendemen dengan pelarut metanol pada ekstraksi ultrasonik bagian kulit sebesar 5,63%; bagian axial 0,67% sedangkan ektraksi menggunakan maserasi bagian kulit sebesar 7,7% sedangkan bagian axial sebesar 1%. hasil uji antioksidan dengan DPPH terhadap ekstrak bambu laut (Isis hippuris) menunjukkan bahwa ekstrak yang berpotensi sebagai antioksidan adalah hasil ekstraksi dengan teknik maserasi dan ultrasonik dengan pelarut metanol baik bagian kulit maupun axial karena memiliki nilai IC 50 yang lebih rendah dibandingkan pelarut
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Jenis Lemak dan Frekuensi Penggantian Bunga pada Proses Enfleurasi terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Melati (Jasminum sambac)

Pengaruh Jenis Lemak dan Frekuensi Penggantian Bunga pada Proses Enfleurasi terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Melati (Jasminum sambac)

Perlakuan jeuis lemak Australia deugau waktu eufleurasi 3 hari (A3B1) tidalc me~nberikau hasil yang beda uyata terhadap iudelcs bias, total oxygeizated hydrocarbon dai julll[r]

87 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...