Undang-Undang Nomor Nomor 25 Tahun 2007 Tentang

Top PDF Undang-Undang Nomor Nomor 25 Tahun 2007 Tentang:

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

Upaya ini perlu dilaksanakan demi mewujudkan Teori Pacta Sunt Servanda (Pasal 1338 KUHPerdata) sebagaimana Munir Fuady nyatakan. Teori ini menekankan bahwa pelaksanaan perjanjian tidak boleh merugikan pihak lawan maupun pihak ketiga dalam perjanjian tersebut. 29 Selain itu, Pacta “Fakta” Sunt Servanda juga memiliki arti bahwa perjanjian yang dibuat secara sah, memiliki kekuatan yang sama dengan undang-undang. 30 Oleh karena itu, tindakan yang dilakukan oleh PT Berlayar Shipping berupa mengabaikan urusan perizinan, penyediaan fasilitas kantor PT Barra Berlayar Shipping dan pemindahan uang tanpa koordinasi serta mendapatkan persetujuan tertulis dari anda sebagai Pihak Kedua merupakan tindakan yang dapat dikenakan sanksi melalui putusan arbitrase. Melalui analisa di atas, anda dapat mengajukan tuntutan provisionil agar arbiter atau majelis arbitrase BANI mengamankan dana anda terlebih dahulu atau selama sengketa berlangsung dan anda juga dapat mengajukan tuntutan agar PT Berlayar Shipping melaksanakan kewajiban mereka seperti halnya apabila mereka melaksanakan undang-undang.
Show more

17 Read more

Mengkritisi Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM)

Mengkritisi Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM)

Menurut Montesquieu, lembaga perwakilan rakyat dibentuk untuk membuat undang-undang, atau untuk melihat apakah undang-undang tersebut dijalankan semestinya, 11 dan menentukan keuangan publik. Frank J. Goodnow mengemukakan bahwa fungsi utama dalam pemerintahan adalah fungsi politik, atau fungsi yang menyatakan keinginan negara dan fungsi administrasi, yang berarti melaksanakan keinginan negara. 12 Fungsi legislasi berkenaan dengan kewenangan untuk menentukan peraturan yang mengikat warga negara dengan norma-norma hukum yang mengikat dan membatasi. 13 Jimly Asshiddiqie berpendapat bahwa pelaksanaan fungsi legislasi dalam pembentukan undang- undang, menyangkut empat bentuk kegiatan, 14 yaitu:
Show more

11 Read more

PENANAMAN MODAL ASING DI INDONESIA (STUDI KOMPARATIF TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 78 TAHUN 1958 , UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1967 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007)

PENANAMAN MODAL ASING DI INDONESIA (STUDI KOMPARATIF TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 78 TAHUN 1958 , UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1967 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007)

Kesemua peraturan perundang-undangan tersebut telah digantikan dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Pembentukan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal didasarkan pada semangat untuk menciptakan iklim penanaman modal yang kondusif sehingga dapat mengatur hal-hal yang dinilai penting, antara lain yang terkait dengan cakupan undang-undang, kebijakan dasar penanaman modal, bentuk badan usaha, perlakuan terhadap penanaman modal, bidang usaha serta keterkaitan pembangunan ekonomi dengan pelaku ekonomi kerakyatan yang diwujudkan dalam peraturan mengenai pengembangan penanaman modal bagi usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi, hak, kewajiban, dan tanggung jawab penanam modal, serta fasilitas penanam modal, pengesahan dan perizinan, koordinasi pelaksanaan dan kebijakan penanaman modal yang didalamnya mengatur mengenai kelembagaan, penyelenggaraan urusan penanaman modal dan ketentuan yang mengatur tentang penyelesaian sengketa.
Show more

52 Read more

Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh; Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal; Peraturan Pemerintah Nomor 83

Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh; Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal; Peraturan Pemerintah Nomor 83

Tahap kontruksi (Pembangunan) → 3 bulanan (Triwulan) : • Laporan Triwulan I → paling lambat pada tanggal 5 April tahun yang bersangkutan; • Laporan Triwulan II → paling lambat pada tanggal 5 Juli tahun yang bersangkutan; • Laporan Triwulan III→ paling lambat pada tanggal 5 Okt tahun yang bersangkutan; • Laporan Triwulan IV→ paling lambat pada tanggal 5 Januari tahun berikutnya.

27 Read more

PENDAHULUAN. Tahun 2007 pintu gerbang bagi para investor. Melalui Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal,

PENDAHULUAN. Tahun 2007 pintu gerbang bagi para investor. Melalui Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal,

Beralihnya kepemilikan tanah masyarakat khususnya melalui jual beli bukanlah perbuatan hukum yang dilarang. Hanya saja sebaiknya perlu diatur dengan batasan-batasan tertentu agar masyarakat tidak dirugikan mengingat perkembangan pariwisata cukup pesat. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton dari geliat pariwisata karena aset yang mereka miliki telah berpindah tangan kepada orang lain. Kebijakan pengaturan jual beli tanah masih sangat terbatas dan belum menyentuh fenomena akuisisi tanah karena sebab tertentu, misalnya karena perkembangan sebuah wilayah. Undang-undang Nomor 56 Tahun 1956 misalnya, didalamnya hanya mengatur larangan pemecahan tanah menjadi lebih kecil dari 2 hektar karena proses jual beli. Hal tersebut masih dikecualikan bagi tanah yang berasal dari waris sehingga perlu kebijakan yang lebih detil dalam mengatur jual beli tanah.
Show more

16 Read more

1. DASAR HUKUM 1. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan 2. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

1. DASAR HUKUM 1. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan 2. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/PRT/M/2010 tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pengunaan Bagian-Bagian Jalan. 7. Peraturan Gubernur Jambi Nomor 7 Tahun 2013 tentang Pelimpahan Kewenangan di Bidang Pelayanan Perizinan dan Non Perizinan Kepada Kepala Badan Penanaman Modal Daerah dan Pelayanan Perizinan Terpadu Provinsi Jambi.

7 Read more

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN 2007 PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN 2007 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN 2007 PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN 2007 TENTANG

norma itu akan memberikan peran kepada Pemerintah, masyarakat, dan swasta sebagai pemangku kepentingan baik kepentingan daerah, kepentingan nasional, maupun kepentingan internasional melalui sistem pengelolaan wilayah terpadu. Sesuai dengan hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum, pengembangan sistem Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus diberi dasar hukum yang jelas, tegas, dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Dasar hukum itu dilandasi oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Show more

110 Read more

Penyelesaian Sengketa Tentang Penanaman Modal Dalam Negeri Menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007

Penyelesaian Sengketa Tentang Penanaman Modal Dalam Negeri Menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk penyelesaian sengketa penanaman modal dalam negeri menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 dan bagaimana kewajiban dan tanggung jawab penanam modal. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normative disimpulkan: 1. Bentuk penyelesaian sengketa penanaman modal dalam negeri menurut Pasal 32 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 yaitu melalui musyawarah dan mufakat; arbitrase, alternatif penyelesaian sengketa, pengadilan, dan khususnya antara sengketa antara pemerintah dengan penanaman modal asing, sengketa diselesaikan melalui arbitrase internasional yang sudah disepakati. 2. Menurut Pasal 15 Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2007, kewajiban dari penanam modal di Indonesia yaitu menerapkan prinsip kelola perusahaan yang baik, melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility), membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannya kepada badan kordinasi penanaman modal (BKPM), menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha penanaman modal, mematuhi segala peraturan perundang- undangan. Sedangkan tanggung jawab penanam modal diatur dalam Pasal 16 yaitu: menjamin tersedianya modal yang berasal dari sumber yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; menanggung dan menyelesaikan segala kewajiban kerugian jika penanam modal menghentikan atau meninggalkan atau menelantarkan kegiatan usaha secara sepihak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku; menciptakan usaha persaingan yang sehat dan mencegah praktik
Show more

8 Read more

BAB II PRINSIP PERLAKUAN YANG SAMA DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL

BAB II PRINSIP PERLAKUAN YANG SAMA DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL

Perusahaan penanaman modal yang akan melakukan kegiatan usaha wajib memperoleh izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dari instansi yang memiliki kewenangan, kecuali ditentukan lain dalam undang- undang. 56 Izin sebagaimana dimaksud diperoleh melalui pelayanan terpadu satu pintu. 57 Pelayanan Terpadu Satu Pintu, yang selanjutnya disingkat PTSP adalah kegiatan penyelenggaraan suatu perizinan dan nonperizinan yang mendapat pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari lembaga atau instansi yang memiliki kewenangan perizinan dan nonperizinan yang proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap terbitnya dokumen yang dilakukan dalam satu tempat. 58
Show more

51 Read more

2. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang. 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang. 4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang

2. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang. 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang. 4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang

(1) Pelaku Usaha yang telah mendapatkan NIB dari Lembaga OSS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 akan diberikan Izin Usaha oleh Lembaga OSS, berupa Tanda Daftar Usah[r]

15 Read more

PRESIDEN REPUELIK INDONESIA TENTANG. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2OO7 tentang. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2O2O tentang

PRESIDEN REPUELIK INDONESIA TENTANG. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2OO7 tentang. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2O2O tentang

(4) Penanam Modal yang mcnanamkan modalnya pada Bidang Usaha yang tcrcantum dalam daftar Bidang Usaha prioritas scbagaimana dimaksud pada ayat (2).. diberikan:.[r]

13 Read more

Kajian Yuridis Terhadap Koperasi Apabila Berubah Menjadi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Kajian Yuridis Terhadap Koperasi Apabila Berubah Menjadi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang diselenggarakan tanggal 17 Agustus 1945 pada dasarnya menginginkan agar bangsa Indonesia merdeka dalam setiap aspek kehidupannya dari aspek-aspek yang dapat merusak persatuan bangsa termasuk dalam bidang ekonomi. Mengingat pentingnya bidang ekonomi terutama ekonomi nasional Indonesia, maka para pendiri bangsa merasa perlu untuk menempatkan pengaturan tentang perekonomian bangsa sebagai salah satu bagian dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya UUD 1945) yang selanjutnya akan menjadi dasar dalam menyelenggarakan perekonomian nasional sebagaimana disebutkan dalam Pasal 33 UUD 1945 yang secara tegas telah meletakkan sendi dasar dalam sistim perekonomian nasional sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
Show more

96 Read more

Kajian Yuridis Terhadap Koperasi Apabila Berubah Menjadi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Kajian Yuridis Terhadap Koperasi Apabila Berubah Menjadi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Prinsip koperasi bersifat gotong royong, kerja sama dan mempunyai solidaritas yang kuat. Didalam perkoperasian secara langsung mendidik anggotanya untuk hidup hemat, suka menabung, menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain, menjauhi sifat boros, dan tidak bergaya hidup mewah. Pengertian organisasi ekonomi dalam UUD 1945 dan UU Koperasi menggariskan bahwa koperasi adalah organisasi ekonomi yang berwatak sosial. Pengertian organisasi ekonomi dalam undang-undang tersebut dimana koperasi diberikan kebebasan berusaha dan mencari keuntungan yang wajar bagi kepentingan anggotanya dengan tidak mengabaikan fungsi sosial sebagai watak asli koperasi. Hal ini tercermin dalam pembagian keuntungan melalui dana-dana pembangunan, dana sosial, dana pendidikan, dan lain-lain. Semakin besar keuntungan yang diperoleh koperasi, semakin besar pula dana yang disediakan untuk pembangunan kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat wilayahnya.
Show more

20 Read more

Aspek Globalisasi Prinsip Akuntabilitas dalam Penanaman Modal Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007

Aspek Globalisasi Prinsip Akuntabilitas dalam Penanaman Modal Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007

ABSTRAK Liberalisasi dan globalisasi ekonomi sudah melanda seluruh dunia, termasuk dalam investasi asing atau penanaman modal asing. Di era globalisasi ini, penerapan tata kelola pemerintahan yang bersih dan baik serta tata kelola perusahaan yang baik sudah menjadi acuan berbagai pihak dalam memberi layanan publik maupun dalam menjalankan aktivitas bisnis. Adapun prinsip dasar yang terkandung dalam tata pemerintahan dan tata kelola perusahaan yang baik, satu diantaranya adalah akuntabilitas. Penerapan prinsip akuntabilitas menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007, pelaksanaan prinsip akuntabilitas dalam penanaman modal kaitannya dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan aspek globalisasi prinsip akuntabilitas dalam kegiatan penanaman modal di Indonesia merupakan permasalahan dalam penelitian ini.
Show more

80 Read more

HARMONISASI BILATERAL INVESTMENT TREATY AGREEMENT SEBAGAI PENYELESAIAN SENGKETA KE DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007

HARMONISASI BILATERAL INVESTMENT TREATY AGREEMENT SEBAGAI PENYELESAIAN SENGKETA KE DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007

Pengaturan terkait dengan penyelesaian sengketa terdapat di dalam Bab XV Pasal 32 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Pada Pasal 32 disebutkan bahwa penyelesaian sengketa terlebih dahulu diselesaikan dengan cara musyawarah dan mufakat. Namun sesuai dengan Pasal 32 ayat 2, maka apabila tidak dicapai kesepakatan, maka dapat dilakukan penyelesaian sengketa melalui pengadilan atau arbitrase (alternatif penyelesaian sengketa) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini sengketa terjadi antara pemerintah dengan penanam modal dalam negeri maka penyelesaiannya dapat dilakukan melalui pengadilan atau arbitrase dan apabila sengketa antara pemerintah dengan penanam modal asing maka penyelesaiannya dapat dilakukan melalui arbitrase internasional, namun kesemuanya harus berdasarkan kesepakatan oleh kedua belah pihak, ketentuan ini terdapat pada Pasal 32 ayat 3 dan ayat 4 Undang-Undang tentang Penanaman Modal.
Show more

14 Read more

BAB II KEBIJAKAN PENANAMAN MODAL DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL

BAB II KEBIJAKAN PENANAMAN MODAL DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL

Buku II Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (selanjutnya disebut RPJMN) Tahun 2015-2019 menyebutkan, berdasarkan survei Bappenas dan LPEM UI terhadap 200 perusahaan memperlihatkan prosedur perizinan, waktu, dan biaya yang dibutuhkan untuk proses ekspor dan impor merupakan faktor utama penghambat berinvestasi di Indonesia. Hal ini diikuti dengan kondisi makro-ekonomi dan ketersediaan infrastruktur. Permasalahan yang dihadapi untuk meningkatkan investasi di Indonesia meliputi pertama, belum optimalnya pelaksanaan harmonisasi pusat dan daerah. Kedua, kualitas infrastruktur yang kurang memadai. Ketiga, masih cukup panjangnya perizinan investasi sehingga masih tingginya biaya perizinan investasi dibandingkan dengan negara-negara kompetitif. Keempat, belum tercukupinya pasokan energi yang dibutuhkan untuk kegiatan industri. Kelima, masih cukup banyak peraturan daerah yang menghambat iklim investasi. Keenam, masih terkonsentrasinya sebaran investasi di Pulau Jawa, dan belum optimalnya pelaksanaan alih teknologi. 34 Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Gajah Mada, Rimawan Pradiptyo, mengatakan bahwa tingginya suku bunga, birokrasi antarlembaga pemerintahan yang lemah dan kurang koordinasi, lambatnya pembebasan lahan untuk proyek- proyek pembangunan infrastruktur, dan tidak ada kepastian hukum di Indonesia membuat pelaku usaha kurang berminat berinvestasi di bidang infrastruktur. 35
Show more

30 Read more

Joint Venture Agreement Dalam Tinjauan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal.

Joint Venture Agreement Dalam Tinjauan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal.

Calon penanam modal (investor) yang akan mengadakan usaha dalam rangka penanaman modal asing pertama-tama yang harus dilakukan adalah mempelajari terlebih dahulu Daftar Bidang Usaha yang Tertutup Bagi Penanaman Modal Asing yang berlaku, dan apabila diperlukan suatu penjelasan lebih lanjut mengenai hal tersebut diatas dapat menghubungi Badan Koordinasi Penanaman Modal atau Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah. Adapun yang dimaksud dengan Daftar Usaha Yang Tertutup Bagi Penanamam Modal Asing adalah daftar usaha yang tidak boleh diberikan untuk dilaksanakan oleh penanaman modal sebagaimana yang diatur dalam Keputusan Presiden No. 111 Tahun 2007 yang kemudian diganti dengan keluarnya Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanamam Modal. Daftar bidang usaha yang tertutup bagi penanaman modal asing ini menunjukkan bahwa pemerintah menggunakan dan memanfaatkan modal asing sesuai dengan kebutuhan dan tetap menjaga bidang usaha yang menguasai hajat orang banyak demi kemakmuran rakyat Indonesia.
Show more

109 Read more

Show all 10000 documents...