Top PDF 2.2.1.3 Perlindungan Terhadap Kekerasan Psikis

2.2.1.3 Perlindungan Terhadap Kekerasan Psikis

2.2.1.3 Perlindungan Terhadap Kekerasan Psikis

Saya pribadi juga belum bisa memberi solusi yang tepat untuk menekan angka kekerasan psikis di bumi pertiwi yang semakin tahun justru semakin meningkat. Entah apa yang menjadi penyebabnya, apakah faktor teknologi kah? Faktor globalisasi kah? Faktor pendidikan kah? Hmm, ini lucu, sebab orang-orang ber-jas rapi di luar sana kini senantiasa menggalakkan pendidikan karakter dalam setiap pidatonya. Pendidikan karakter naon? Wong kita semua tahu bahwa masyarakat terdahulu lebih tawadhu’ bila dibandingkan dengan masyarakat masa kini.

7 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS DALAM RUMAH TANGGA.

IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS DALAM RUMAH TANGGA.

Pasal 45 ayat (2) Undang-undang PKDRT menyatakan bahwa dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suami terhadap isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah). 3. Implementasi perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban

24 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DALAM PROSES PERADILAN.

PENDAHULUAN IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DALAM PROSES PERADILAN.

Perkawinan merupakan hal yang sakral bagi manusia, tujuan perkawinan diantaranya untuk membentuk sebuah keluarga harmonis yang dapat membentuk suasana bahagia menuju terwujudnya ketenangan, kenyamanan bagi suami isteri serta anggota keluarga. Adakalanya, dalam suatu perkawinan sering terjadi pertengkaran hingga menimbulkan kekerasan baik fisik, verbal, seksual maupun psikis. Korban tindak kekerasan yang marak terjadi di rumah tangga lebih banyak dialami oleh perempuan yang berkedudukan sebagai isteri, sedangkan pelakunya didominasi oleh laki-laki yang berkedudukan sebagai suami. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga mendefinisikan kekerasan dalam rumah tangga sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS DALAM RUMAH TANGGA.

PENDAHULUAN IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS DALAM RUMAH TANGGA.

1) Perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban eksploitasi seksual di Kota Yogyakarta telah dilaksanakan sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hal itu terbukti dengan pemberian hukuman yang tegas kepada para pelaku tindak pidana eksploitasi seksual terhadap anak. Sedangkan Polresta Yogyakarta, perlindungan hukum terhadapa anak sebagai korban eksploitasi seksual sudah dilaksanakan. Hal ini dapat dilihat dengan dibentuknya Unit Pelayanan Perempuan dan Anak, serta melakukan kerjasama dengan LSM yaitu Rifka Annisa yang secara khusus memberikan bimbingan dan pendampingan kepada anak sebagai korban eksploitasi seksual.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

SKRIPSIIMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS DALAM RUMAH TANGGA.

SKRIPSIIMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS DALAM RUMAH TANGGA.

Domestic Violence (domestic violence) had become a common agenda in recent decades. Facts show that domestic violence disproportionately affects large enough for children as victims. Violence against children is not a rare case in the community. Children have been taught since childhood to be obedient and disobedient to parents in a violent manner. Parents in applying discipline to a child does not always pay attention to the existence of the child as a human being, a child is given the rules of the parents who do not appreciate the rational and without the presence of a child with all of his rights, such as the right of children to play. The research that have done is a normative research of law which is focused on the norm and also the object of law as the main data, they getting from rule and books that consist of the rule, that had to fine the truth from the research that have done. The writter made a research in DIY Police. The result of this study were : (1) Implementation of legal protection of children as victims of domestic violence can be done in two ways, namely the efforts of non-penal and penal effort. Non-penal effort done by a preemptive and preventive, while the efforts made by the penal repressive actions by the police DIY after psychological violence within the domestic sphere occur and are reported to the police. (2) Constraints faced by the police in the implementation of the legal protection of children as victims of psychological violence in the household, namely: (a) The difficulty of finding strong evidence of a child victim of psychological violence, in this case the question is about how to form of psychological violence. (b) The difficulty to distinguish children who are experiencing emotional violence committed by family members in a household setting. A child who is experiencing violence usually has a psychological fear to reveal the problems they experienced as a result of the act of the perpetrator. (c) The number of child victims of psychological violence to the people who shut themselves in their environment and also includes the police or to Child Protective Services. (d) The delay in the reports of family members in household, and also includes reports from neighbors who saw or hear direct actions and words of the perpetrators of such violence.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERAN LEMBAGA PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS OLEH GURU DI SEKOLAH.

PENDAHULUAN PERAN LEMBAGA PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS OLEH GURU DI SEKOLAH.

Anak adalah anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada setiap orang tua yang harus dijaga, dilindungi dan diberi kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dalam diri seorang anak sejak ia dilahirkan telah melekat harkat, martabat dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi anak merupakan bagian dari hak asasi manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi PBB tentang Hak-Hak Anak. Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan, dan tanggung jawab orang tua, keluarga, masyarakat, Pemerintah, dan Negara untuk memberikan perlindungan pada anak. Perlindungan anak dalam segala aspeknya merupakan kegiatan Pembangunan Nasional khususnya dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. 1
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENUTUP  PERAN LEMBAGA PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS OLEH GURU DI SEKOLAH.

PENUTUP PERAN LEMBAGA PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS OLEH GURU DI SEKOLAH.

1. Sosialisasi mengenai peran Lembaga Perlindungan Anak dan hak-hak anak ditiap-tiap sekolah dan orang tua murid sehingga aparat sekolah dan guru dapat mengetahui tentang hak-hak anak dan Undang-undang Prlindungan anak, serta orang tua murid apabila anaknya menjadi korban kekerasan oleh gurunya dapat meminta bantuan kepada Lembaga Perlindungan Anak.

9 Baca lebih lajut

 PENULISAN HUKUM / SKRIPSI  PERLINDUNGAN HUKUM PIDANA TERHADAP PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN FISIK DAN PSIKIS.

PENULISAN HUKUM / SKRIPSI PERLINDUNGAN HUKUM PIDANA TERHADAP PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN FISIK DAN PSIKIS.

Title legal writing / thesis is the protection of criminal law against female victims of physical violence in a case study of psychological problems Pavita Soelistio Livia described in the background that some international conventions, attended by Indonesia as a country that upholds human rights of women victims of such case studies defined Livia in two formulation of the problem of how the criminal law protection of women victims of physical and psychic and obstacles in the case. The purpose of this study is to find data on the formulation of the issues raised two researchers. Chapter 2 explains the three sub-chapters of the first sub- chapter on criminal law protection of better understanding and protection of its constraints, sub-second chapter of the victims of physical and psychological well the role of women's NGOs, the third chapter of the sub-handling process cases of physical violence and psychological case study Pavita Livia compared with cases UU that occurred in the Province of DIY though the same court. Chapter 3 describes the conclusions and suggestions of two formulations of the issues raised investigators.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Bab 1 Kekerasan edisi 2010

Bab 1 Kekerasan edisi 2010

Terdapat tiga jenis ukuran kekerasan, tergantung pada cara melakukan pengujian, yaitu: (1) Kekerasan goresan (scratch hardness); (2) Kekerasan lekukan (indentation hardness); (3) Kekerasan pantulan (rebound). Untuk logam, hanya kekerasan lekukan yang banyak diguanakan dalam kaitannya dengan bidang rekayasa . Terdapat berbagai macam uji kekerasan lekukan, antara lain: Uji kekerasan Brinell, Vickers, Rockwell, Knoop, dan lain sebagainya.

4 Baca lebih lajut

Kekerasan dalam rumah tangg1 docx'

Kekerasan dalam rumah tangg1 docx'

ketentuan hukum sebagaimana yang diatur dalam KUHP. Apalagi jika korban mengalami cacat fisik, psikis, atau bahkan korban meninggal. Sebagai UU yang memfokuskan pada proses penanganan hukum pidana dan penghukuman dari korban, untuk itu, perlu upaya strategis di luar diri korban guna mendukung dan memberikan perlindungan bagi korban dalam rangka mengungkapkan kasus KDRT yang menimpanya. [1]

11 Baca lebih lajut

PENGALAMAN IBU TENTANG TINDAKAN KEKERASAN PADA ANAK DI KELURAHAN KALIBEBER KECAMATAN MOJOTENGAH KABUPATEN WONOSOBO TAHUN 2012

PENGALAMAN IBU TENTANG TINDAKAN KEKERASAN PADA ANAK DI KELURAHAN KALIBEBER KECAMATAN MOJOTENGAH KABUPATEN WONOSOBO TAHUN 2012

Kekerasan di Indonesia tidak semakin berkurang, tetapi meningkat dari tahun ke tahun, tanpa kecuali kekerasan terhadap anak. Seto Mulyadi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, misalnya, mencatat pada 2003 terdapat 481 kasus kekerasan. Jumlah itu meningkat menjadi 547 kasus pada 2004, dengan 221 kasus merupakan kekerasan seksual, 140 kekerasan fisik, 80 kekerasan psikis, dan 106 permasalahan lainnya. Sebelumnya, majalah Medika mencatat, pada 1992 lalu, dilaporkan terjadi tiga juta kasus perlakukan keji terhadap anak- anak di bawah umur 18 tahun, dan 1.299 di antaranya meninggal dunia. Kekerasan terhadap anak sebenarnya bukan sekadar urusan fisik dan seksual. Itu hanyalah bagian kecil dari kasus yang terjadi. Kalau mau lebih esensial menilai, kekerasan juga meliputi kekerasan psikis dan sosial (struktural) (KPAI, 2007).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

Istilah KDRT sebagaimana ditentukan pada Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) tersebut seringkali disebut dengan kekerasan domestik. Kekerasan domestik sebetulnya tidak hanya menjangkau para pihak dalam hubungan perkawinan antara suami dengan istri saja, namun termasuk juga kekerasan yang terjadi pada pihak lain yang berada dalam lingkup rumah tangga. Pihak lain tersebut adalah 1) anak, termasuk anak angkat dan anak tiri; 2) orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan suami, istri dan anak karena hubungan darah, perkawinan (misalnya: mertua, menantu, ipar dan besan), persusuan, pengasuhan, dan perwalian yang menetap dalam rumah tangga serta 3) orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Peran Hukum dalam Memberikan Perlindungan terhadap Perempuan dari Tindak Kekerasan di Era Globalisasi | Widyastuti | Mimbar Hukum 16264 30812 1 PB

Peran Hukum dalam Memberikan Perlindungan terhadap Perempuan dari Tindak Kekerasan di Era Globalisasi | Widyastuti | Mimbar Hukum 16264 30812 1 PB

2. Model kedua, adalah model harmonisasi nilai-nilai internasi- onal ke dalam nilai-nilai hukum nasional. Sebelum dilakukan langkah harmonisasi antara hukum nasional dengan hukum internasional, perlu dikaji terlebih dulu sejauh mana nilai- nilai dalam hukum internasional tersebut dapat diterima dengan menggunakan Pancasila sebagai ilter. Ini berarti bahwa hukum nasional Indonesia harus diletakkan pada lima nilai dasar. Sepanjang nilai-nilai global tidak bertentangan atau memiliki nilai persamaan dengan lima nilai dasar itu, maka adopsi nilai global dapat dilakukan. Hal ini berarti bahwa nilai-nilai internasional yang telah dijabarkan dalam instrumen internasional (konvensi, deklarasi, resolusi, dsb) harus disinkronkan dengan aturan hukum nasional, baik secara kelembagaan, hukum positif maupun kultur. Berpegang pada model kedua ini maka hukum Indonesia tidak sekedar
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

S IND 1100021 Abstract

S IND 1100021 Abstract

Objek penelitian ini adalah novel dengan judul Daun Putri Malu Karya Magdalena Sitorus. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan struktur; (2) mendeskripsikan permasalahan perempuan meliputi Kekerasan terhadap perempuan yang bersifat fisik ataupun Psikis; (3) mendeskripsikan perjuangan perempuan menghadapi ketidakadilan akibat nilai- nilai patriarki meliputi bentuk-bentuk perjuangan dan faktor-faktor pendukung serta penghalang perjuangan perempuan; (4) mendeskripsikan tentang tinjauan kritik sastra feminis pada novel Daun Putri Malu Karya Magdalena Sitorus.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Kuliah umum Kesejahteraan Sosial Anak da

Kuliah umum Kesejahteraan Sosial Anak da

3. Hak perlindungan. Yaitu perlindungan dari eksploitasi (anak yang diperintah untuk meminta2 di jalanan ), kekerasan, penelantaran, kekerasan seksual. Perlindungan dalam hak psikis dan fisik. Saat ini banyak anak yang memiliki orang tua tapi ditelantarkan, tidak diurus, tidak diberi makan dan pendidikan. Kadang ada juga pembedaan antara kulit putih dan hitam.

4 Baca lebih lajut

PENUTUP  PERLINDUNGAN HUKUM PIDANA TERHADAP PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN FISIK DAN PSIKIS.

PENUTUP PERLINDUNGAN HUKUM PIDANA TERHADAP PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN FISIK DAN PSIKIS.

1. Perlindungan Hukum Pidana terhadap korban kekerasan fisik dan psikis studi kasus Livia Pavita Soelistio dalam rangka melindungi mereka dari tindak kekerasan adalah, lebih fokus ke proses penyelesaian hukum dengan adanya penangkapan pelaku kekerasan dan kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat yang menangani kasus kekerasan pada perempuan, meningkatkan penyelidikan pelaku kekerasan dan tempat-tempat rawan terjadinya kekerasan serta mengajukan saksi ahli dari rumah sakit yang menangani visum et repertum untuk mengetahui frekuensi luka lebam yang dialami korban perempuan.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

FAKTOR FAKTOR PSIKIS YANG BERPENGARUH TE (2)

FAKTOR FAKTOR PSIKIS YANG BERPENGARUH TE (2)

Dalam pada ini, bagian psikis yang dimaksudkan adalah al-nafsu, al-aql, al-qalb, al-ruh, dan al-fitrah. Kelima aspek ini lah yang menjadi motor penggerak yang sangat berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari, dan dalam hal ini adalah pembelajaran. secara esensial, proses pembelajaran merupakan aktivitas guru-siswa di kelas, karenanya dibutuhkan komunikasi dan sekaligus kondisi psikis yang baik dalam berjalannya pembelajara, keserasian antar keduanya menjadikan proses pembelajaran berjalan dengan baik, dan pada gilirannya akan mempengaruhi pencapaian hasil belajar siswsa.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HAK PEREMPUAN KORBAN PERBUATAN ASUSILA DITINJAU DARI PRESPEKTIF HUKUM PIDANA.

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HAK PEREMPUAN KORBAN PERBUATAN ASUSILA DITINJAU DARI PRESPEKTIF HUKUM PIDANA.

kontrol sosial serta perlindungan hak-hak perempuan di masyarakat masih terbatas. Kondisi perempuan yang lemah, rentan sekali memicu munculnya bahaya. Kondisi tersebut mengakibatkan tidak berdayanya perempuan apabila terjadi tindakan kriminal. Diskriminasi gender dan kekerasan pada perempuan yang masih terjadi di masyarakat luas menimbulkan kesenjangan sosial dan rasa tidak aman bagi perempuan. Terjadinya kekerasaan yang dialami perempuan menambah rasa takut bagi setiap perempuan. Keberadaan kaum perempuan selalu berada diposisikan yang kedua. Kondisi ini berdampak merugikan kaum perempuan. Kerugian dialami kaum perempuan terhadap kejahatan baik secara materi maupun jasmani. Berbagai upaya dilakukan memperjuangkan kemerdekaan perempuan dari bayang-bayang penindasan mental. Usaha perjuangan melindungi hak asasi perempuan telah dilakukan masyarakat internasional. Masyarakat dunia internasional berusaha meningkatkan harkat dan martabat kaum perempuan di mata dunia melalui konvensi internasional yang membahas hak-hak kaum perempuan. Kaum perempuan mengalami subordinasi dengan kaum laki-laki. Sangat pantas keinginan kaum perempuan diakui keberadaannya dan disamakan kedudukannya layaknya kaum laki-laki.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENULISAN HUKUM/SKRIPSI  PERAN LEMBAGA PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS OLEH GURU DI SEKOLAH.

PENULISAN HUKUM/SKRIPSI PERAN LEMBAGA PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS OLEH GURU DI SEKOLAH.

PENULISAN HUKUM/SKRIPSI PERAN LEMBAGA PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN PSIKIS OLEH GURU DI SEKOLAH Disusun oleh : ALICE BEATRICE CANDRAWATI NPM : 07 05[r]

14 Baca lebih lajut

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESI

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESI

3 Pastu 11 87 Kata orang-orang, Cok Ratih egois. Bagiku tidak. Dia memberikan apa saja yang dia punya untukku. Cok Ratih mengajari aku berbagi. Hubungan kami terus terjalin begitu erat. Saking eratnya, banyak teman mengira ada yang salah dengan hubungan kami. Tapi kecurigaan mereka terbantahkan ketika Cok Ratih terlihat menggandeng I Made Pasek Wibawa. Semua orang pun mengira, Pasek (begitu aku dan Cok Ratih memanggil lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu), akan berbagi cinta. Aku dan Cok Ratih hanya tertawa. Hubungan mereka berdua begitu alot. Keluarga besar Cok Ratih menentang hubungan itu. Orangtuanya juga. Tetapi Cok Ratih nekat. “Hari gini masih ada sekat -sekat manusia. Kasta, derajat. Memuakkan! Hidup ini sudah rumit, kenapa sih masih dibuat rumit?” papar Cok Ratih santai. Cok Ratih memang bangsawan. Keluarganya tidak kurang harta, juga tidak kurang martabat. Perempuan itu keras kepala. Akhirnya dia
Baca lebih lanjut

191 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...