Top PDF Bab 6 Menilai karya Melalui Kritik dan Esai

Bab 6 Menilai karya Melalui Kritik dan Esai

Bab 6 Menilai karya Melalui Kritik dan Esai

Dengan demikian kalimat tidak hanya bertindak sebagai fondasi bagi pencerita untuk membangun peristiwa, juga sebagai pilar penyangga bagi peralihan peristiwa satu ke peristiwa lain melal[r]

63 Baca lebih lajut

PENGKAJIAN ESAI KRITIK SASTRA DALAM MAJALAH HORISON (2010-2014) DAN PEMANFAATANNYA UNTUK PEMBELAJARAN KRITIK SASTRA DI PERGURUAN TINGGI.

PENGKAJIAN ESAI KRITIK SASTRA DALAM MAJALAH HORISON (2010-2014) DAN PEMANFAATANNYA UNTUK PEMBELAJARAN KRITIK SASTRA DI PERGURUAN TINGGI.

Majalah Budaya Jaya (1968 – 1979) Upaya Pendalaman Bahan Pembelajaran Mata Kuliah Kesastraan di Perguruan Tinggi”. Hasil penelitian mendeskripsikan tentang aspek esais, kecenderungan objek esai, dan konteks esai. Sumiyadi menyimpulkan bahwa diantara esais yang telah banyak menghasilkan karya esai dalam majalah Budaya Jaya tersebut hanya beberapa orang yang telah mulai membukukan karya esainya. Peneliti beranggapan bahwa maksud dari simpulan tersebut adalah sebuah indikasi bahwa karya-karya esai kritik belum mendapat perhatian yang serius sebagai sebuah karya tulis yang harus diabadikan dan disebarkan pada masyarakat luas. Oleh karena itu, Sumiyadi menyarankan adanya penelitian serupa dengan korpus berbeda yang diperluas atau dengan populasi majalah berbeda. Hal tersebut diharapkan sebagai upaya untuk memberikan kontribusi nyata terhadap upaya mengutuhkan tradisi esai kritik Indonesia hingga kini (Sumiyadi, 2005, hlm. 30).
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

Kritik Sosial dalam Puisi Esai "Manusia Gerobak" karya Elza Peldi Taher dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA

Kritik Sosial dalam Puisi Esai "Manusia Gerobak" karya Elza Peldi Taher dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA

Penelitian yang relevan dengan skripsi ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Prima Yulia Nugraha (NIM 106013000311) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011 yang berjudul Kritik Sosial dengan Pendekatan Mimetik pada Kumpulan Puisi Potret Pembangunan dalam Puisi karya W.S. Rendra. Penelitian tersebut menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui kritik sosial yang terdapat dalam Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon dan Sajak Sebotol Bir. Metode yang digunakan adalah metode dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data atau dokumen untuk memperkuat informasi, seperti terdapat dalam bacaan maupun internet, lalu dilanjutkan dengan menganalisis data sejarah yakni pada dua puisi tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Pengkajian yang dilakukan yakni pengkajian terhadap struktur batin dan fisik dalam puisi serta pengaitan peristiwa sosial yang berlangsung di sekitar tahun penciptaan puisi dengan peristiwa yang digambarkan oleh Rendra di dalam puisinya. Adapun kesamaan penelitian ini dengan penelitian tersebut yakni pendekatan mimetik yang digunakan dalam menganalisis, pengkajian terhadap unsur pembangun puisi, dan pengaitan fakta sosial yang terkandung dalam puisi. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian tersebut yakni puisi yang digunakan dalam penelitian. Penelitian tersebut menggunakan puisi berjudul Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon dan Sajak Sebotol Bir karya WS Rendra, sedangkan penelitian ini menggunakan puisi esai berjudul “Manusia Gerobak” karya Elza Peldi Tahe r.
Baca lebih lanjut

130 Baca lebih lajut

ESAI KRITIK SASTRA DLM MINGGU PAGI MASA

ESAI KRITIK SASTRA DLM MINGGU PAGI MASA

Esai/Kritik Sastra dalam Minggu Pagi, Masa Kini, dan 25 Arief “Hari-Hari Itu Telah Berlalu” (No. 43, 23 Januari 1972); Soejanto Js. “Menjelang Kelahiran” (No.46, 13 Februari 1972); Hana Eli “Barangkali Hanya Cemburu” (No. 43, 27 Januari 1980); Abud “Rumah Sakit” (No. 2, 13 April 1980); Amru Hm. “Gadis Manisku” (No. 3, 20 April 1980); Zainal Abdi “Terperangkap” (No. 12, 22 Juni 1980); Al Fauzi Sofi Salam “Al Baqoroh” (No. 18, 3 Agustus 1980); Ketut Aryana “Pak Mamad Pahlawan Kami” (No. 20, 17 Agustus 1980); Muchlas Am. “Ia Sudah Pergi” (No. 23, 7 September 1980); Hendro Wiyanto “Elegi Untuk Erna” (No. 26, 28 September 1980); Putu Arya Tirtawirya “Wanita” (No. 35, 30 Nov. 1980); Surjanto Sastroatmodjo “Sumirah” (No. 33, 14 Nov. 1971). Cerpen Hendro Wiyanto “Beta” muncul pada Minggu Pagi, No. 22, 31 Agustus 1980; Susislomurti ”Menentang Matahari” (No. 2, 10 April 1966); Siti Nurjanah Sastrosubagjo “Aku Akan Kembali” (No. 22, 27 Agustus 1967); Tut Sugyarti Sayoga “Akhir Dari Segalanya” (No. 1, 3 April 1966); Koen Brotosasmito “Sebuah Cerita Buat Chambaly” (No. 7, 14 Mei 1967); Budi Santosa “Awan Tidak Selalu Hitam” (No. 8, 25 Mei 1969); Krisna Anam “Awan Menyibaklah” (No. 22, 31 Agustus 1969); Abimanyu “Di Ujung Kegelapan” (No. 51, 22 Maret 1970); Yoyok Aryo Tedjo “Suara” (No. 29, 17 Oktober 1971); dan Titien Handayani “Di Suatu Saat Nanti” (No. 45, 10 Februari 1980).
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

KERLING Antologi Kritik Esai Bahasa dan

KERLING Antologi Kritik Esai Bahasa dan

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia telah dikumandangkan 71 tahun lalu. Kelebihan dan kekurangan kemajuan bangsa pun masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Kemajuan pem- bangunan biasanya didengungkan dan divisualisasikan melalui media, sedangkan kekurangan pembangunan cenderung “di- sembunyikan”. Ini adalah sebuah fakta pembangunan kebangsa- an. Oleh karenanya, perjuangan menuntut keadilan pun menye- ruak di mana-mana. Jika kita berkeliling di kota Yogyakarta, tidak akan lepas dari pandangan kita berbagai mural dan poster. Jika dicermati, ada poster-poster berwarna hitam-putih tertem- pel di dinding-dinding bangunan dan tembok-tembok di pinggir jalan dengan beragam tulisan “pedas” dan sindiran yang berisi kritik tehadap pemerintah. Lihat saja, ada gambar almarhum wartawan Udin dengan tulisan di bawahnya “dibunuh karena berita”, kemudian gambar wajah almarhum aktivis kemanusiaan, Munir, dengan tulisan di bawahnya “menolak lupa”, dan yang agak menggelitik adalah gambar badut yang memegang kotak bertuliskan “jika butuh badut lucu hubungi senayan”. Ini adalah secuil fakta tulis dan visual yang digabung menjadi media protes, kritik, bahkan propaganda dalam rangka memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan kehidupan kebangsaan di Indo- nesia. Seni tulis dan visual, memang, dirasa lebih efektif sebagai alat “perjuangan” daripada aktivitas konfrontasi fisik. Bahkan, harus diakui, pada masa tertentu, bahasa tulis mampu menjadi momok bagi pemerintah yang sedang berkuasa.
Baca lebih lanjut

394 Baca lebih lajut

Perangkat Mengajar Bahasa Indonesia SMA Kelas X,XI,XII kritik dan esai

Perangkat Mengajar Bahasa Indonesia SMA Kelas X,XI,XII kritik dan esai

Prinsip penulisan kritik  Seorang kritikus sastra wajib membaca karya yang akan dikritik berulang kali sampai mendapatkan gambaran yang jelas mengenai isi karya sastra tersebut..  S[r]

7 Baca lebih lajut

REVISI ESAI KRITIK PROGRAM STUDI PENDIDI

REVISI ESAI KRITIK PROGRAM STUDI PENDIDI

Novel Layar Terkembang karya Sultan Takdir Alsjahbana (STA) menggambarkan perbedaan sifat yang mencolok antara dua perempuan kakak beradik. Perempuan seringkali dipandang hanya memiliki pengalaman terbatas, melahirkan, mengurus anak, ibu rumah tangga dan melayani suami. Penggambaran tokoh perempuan dalam novel tersebut adalah Tuti dan Maria. Keduanya merupakan anak dari Raden Wiriatmaja, bekas wedana di daerah Banten, yang pada ketika itu hidup pensiunan di Jakarta bersama kedua anaknya. Karakter kedua perempuan tersebut terlihat berbeda melalui imajinasi yang ditampilkan oleh pengarang. Usaha membedakan perempuan masa kini dan perempuan dahulu sangat menarik untuk dipahami.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

T BIND 1302762 Chapter3

T BIND 1302762 Chapter3

Sumber data kualitatif berupa buku-buku sumber yang dijadikan rujukan utama penelitian terdiri atas buku landasan keilmuan, kesusastraan, landasan penelitian ilmiah, dan buku sumber data utama yang akan dianalisis. Sumber data utama yang akan dianalisis adalah majalah Horison tahun 2010 s.d. 2014. Dalam majalah Horison selama 5 tahun tersebut ditemukan populasi data sebanyak 46 esai kritik. Di antara 46 esai kritik tersebut, 20 esai merupakan kritik sastra terapan yang membahas karya sastra, seperti puisi, cerpen, dan novel, sedangkan 26 esai membahas tentang sastra secara umum da nada pula kritik yang membahas kritik.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

T BIND 1302762 Abstract

T BIND 1302762 Abstract

Kritik sastra sangat erat hubungannya dengan esai. Perbedaan antara esai dengan kritik yaitu kritik sastra lebih menekankan pada segi evaluasinya. Adapun tujuan penelitian ini adalah upaya untuk mengikuti perkembangan arah kritik sastra dalam dunia kesusastraan sekaligus memberikan kontribusi terhadap pelaksanaan pembelajaran kritik sastra dengan menyajikan sebuah model struktur penulisan esai kritik sastra untuk dipergunakan dalam pengajaran esai kritik sastra di sekolah maupun Perguruan Tinggi. Rujukan teori yang digunakan adalah pendekatan Art van Zoest untuk menganalisis teori yang banyak digunakan dalam penulisan esai kritik sastra, teori Abrams mengenai jenis kritik, dan teori Anderson yang berhubungan dengan struktur teks. Metode penelitian dalam pengkajian terhadap esai kritik sastra ini adalah metode campuran atau mixed method yang menggunakan penelitian kualitatif untuk menganalisis data primer dan kuantitatif untuk menganalisis data sekunder. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat perubahan pada teori yang selama ini diungkapkan Jassin, bahwa kritik adalah penilaian baik dan buruknya suatu karya sastra, tetapi hasil penelitian sebagian besar esai kritik dalam majalah Horison pada tahun 2010-2014 tidak menyertakan ulasan kelemahan dan kelebihan karya sastra sebagai bentuk penilaian esais/kritikus terhadap karya. Jenis kritik sastra yang banyak dimuat dalam majalah Horison pada tahun 2010-2014 ini cenderung merupakan jenis judicial criticism atau yang umumnya dikenal dengan kritik akademik. Setelah penemuan hasil analisis terhadap data kualitatif, kemudian diujicobakan dalam pembelajaran. Hasilnya, berdasarkan analisis struktur, mahasiswa pada umumnya mampu menulis esai kritik sastra berdasarkan kriteria penilaian hasil kajian data kualitatif. Selain itu, mahasiswa merasa terbantu dengan adanya acuan struktur penulisan esai berdasarkan data yang diperoleh melalui angket.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

T BIND 1302762 Chapter1

T BIND 1302762 Chapter1

Adapun media yang tersedia untuk telaah sastra pun sangat terbatas. Tidak ada jurnal khusus yang tersedia untuk telaah sastra (Hae dalam Prasetyo, 2011, hlm. 30). Media sastra banyak yang tak berumur panjang. Seperti halnya di Yogyakarta, media yang masih bertahan adalah Basis dan Minggu Pagi, ada juga Suara Muhammadiyah tetapi kurang memberikan ruang cukup bagi kritik sastra. Namun, Suwondo (2010, hlm. 29) menganalisis perkembangan kritik sastra pada masa orde baru hingga kekinian mulai mengalami perkembangan kembali, bahkan kritik sastra sifatnya ilmiah/akademik/judisial yang ditulis oleh para akademisi terus dikembangkan dan ditulis di media massa. Terlihat ada upaya yang dilakukan para akademisi untuk mengubah bentuk kritik sastra judisial ke kritik impresionistik dan mempublikasikannya melalui media massa. Publikasi melalui media cetak tersebut dilakukan agar kritik sastra dapat menjangkau khalayak pembaca. Adapun diantara nama-nama para akademisi yang secara giat mempublikasikan karya kritik sastra adalah A. Teeuw, Dick Hartoko, Kuntara Wiryamartana, Suripan Sadi Hutomo, Umar Kayam, Bakdi Sumanto, B. Rahmanto, Harry Aveling, Boen S. Oemaryati, Th. Koendjono, Andre Harjana, dll. Kiranya, paparan tersebut cukup membuat peneliti merasa tertarik dan perlu untuk melakukan pengkajian terhadap esai kritik sastra yang ditulis dalam media massa yang masih “hidup” hingga kini , benarkah masih berkembang atau tenggelam?
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

T BIND 1302762 Bibliography

T BIND 1302762 Bibliography

Sumiyadi. (2011). Genesis esai dan kritik sastra kita. Dalam Sri Wiyanti dan Yulianeta (editor), Bahasa dan sastra Indonesia di tengah arus global (hlm. 253-259). Bandung: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS- UPI.

3 Baca lebih lajut

T BIND 1302762 Chapter5

T BIND 1302762 Chapter5

Simpulan hasil penelitian mencakup tiga hal yang merupakan jawaban rumusan masalah yang ditemukan setelah dilakukan penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan jawaban mengenai profil majalah sastra Horison tahun 2010-2014 khususnya yang berhubungan dengan esai kritik sastra dan penulisnya, sruktur penulisan esai kritik sastra pada majalah Horison edisi 2010-2014, dan kemampuan menulis esai kritik sastra pada mahasiswa dengan acuan struktur penulisan esai kritik sastra dalam majalah Horison edisi 2010-2014.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

SILABUS BAHASA INDONESIA KELAS X TAHUN PELAJARAN 2017/2018

SILABUS BAHASA INDONESIA KELAS X TAHUN PELAJARAN 2017/2018

 Menentukan unsur-unsur kritik dan esai, persamaan dan perbedaan kritik dan esai, dari aspek pengetahuan dan pandangan  Menulis kritik dan esai dengan memerhatikan aspek pengetahuan[r]

33 Baca lebih lajut

T BIND 1302762 Title

T BIND 1302762 Title

PENGKAJIAN ESAI KRITIK SASTRA DALAM MAJALAH HORISON 2010-2014 DAN PEMANFAATANNYA UNTUK PEMBELAJARAN KRITIK SASTRA DI PERGURUAN TINGGI TESIS diajukan untuk memenuhi sebagian syara[r]

3 Baca lebih lajut

KARYA SASTRA INDO DLM MAJALAH GADJAH MAD

KARYA SASTRA INDO DLM MAJALAH GADJAH MAD

Sementara itu, beberapa esai atau kritik yang dimuat dalam majalah Gadjah Mada, antara lain, “Novel dan Cerita dari Blora” karya Anas Ma’ruf (Februari 1951), “Kesusasteraan dan Masyarakat” karya Anas Ma’ruf (Juli 1951), “Pengaruh Revolusi 17 Agustus terhadap Kesusastraan Indonesia” karya Anas Ma’ruf (Agustus— September 1951), “Buah Kesusastraan SMA bag A dan Surat Terbuka kepada Sdr. Suharno” karya Majang n’Dresjwari (November 1951), “Pengarang sebagai Pemberontak” karya S. Mundingsari (Februari 1953), “Wanita dalam Musik dan Kesusastraan” karya Wiratmo Sukito (Februari 1953), “Masalah Penulis” karya Rip (Januari 1954), “Sartre Tambah Musuh Lagi” karya Wiratmo Sukito (Mei 1954), “Pelukis Kontra Polisi” karya Wiratmo Sukito (November 1954), “Seniman, Radio, dan Politik” karya Wiratmo Sukito (November—Desember 1955), “Symposium Sastera 1955” karya Wiratmo Sukito (Januari 1956), “Keluarga Kemuning dalam ‘Sayang Ada Orang Lain’ buah Pena Utuy Tatang Sontani” karya Setiawan H.S. (Januari 1956), “Revolusi dalam Bahasa” karya Wiratmo Sukito (Maret 1956), “Kehidupan Seni Drama dan Kebudayaan” karya Wiratmo Sukito (Agustus 1958), “Fakultas Sastra dan Drama” karya Pong Waluyo (Maret 1959), “Fakultas Sastra dan Drama: Tanggapan Tulisan Pong” karya Budi Darma (Juni 1959), dan masih banyak lagi.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

WONG JAWA KOK (ORA) NGAPUSI KARYA SUCIPTO HADI PURNOMO DALAM PERSPEKTIF INTERTEKSTUALITAS.

WONG JAWA KOK (ORA) NGAPUSI KARYA SUCIPTO HADI PURNOMO DALAM PERSPEKTIF INTERTEKSTUALITAS.

Kasiling analisis panaliten iki antarane. (1) Kumpulan esai budaya Wong Jawa Kok (Ora) Ngapusi karyane Sucipto Hadi Purnomo ngemot sawijining intertekstualitas. Kanthi cara wewujudan penghipograman ing antarane yaiku: panyadapan (eksrep), pangembangan (ekspansi), manipulasi (modifikasi), lan pamuterwalikan (konversi) dijlentrehake teks-teks kang nyaruwe kumpulan esai budaya Wong Jawa Kok Ora Ngapusi. (2) Kumpulan esai budaya Wong Jawa Kok (Ora) Ngapusi karyane Sucipto Hadi Purnomo ngemot mawarna-warna kritik sosial, yaiku: (a) kritik marang solah bawa lan tindak-tanduk, antarane kritik ngengingi tindak-tanduk ngapusi; kritik ngengingi tindak-tanduk panjiplakan; kritik ngengingi tindak-tanduk sawenang-wenang; kritik ngengingi tindak-tanduk mangu-mangu, (b) kritik marang kapitayan lan spiritualitas, ing antarane yaiku kritik ngengingi pandudutan agama kang salah; kritik ngengingi kapitayan marang mitos, (c) kritik marang birokrasi kang lalim, (d) kritik marang jagading pandhidhikan, (e) kritik marang carane urip, (f) kritik ngengingi rasa kabangsaan, (g) kritik ngengingi prekara gender, (h) kritik ngengingi prostitusi, lan (i) kritik marang sistem kaamanan ing Indonesia.
Baca lebih lanjut

126 Baca lebih lajut

Bab 10 Kritik Karya Seni Rupa

Bab 10 Kritik Karya Seni Rupa

Selain jenis kritik yang disampaikan oleh Feldman, berdasarkan titik tolak atau landasan yang digunakan, dikenal pula beberapa bentuk kritik yaitu: kritik formalistik, kritik ekspresivistik dan instrumentalistik. Kritik formalistik melihat kualitas karya berdasarkan konigurasi unsur-unsur pembentukannya, prinsip penataannya, teknik, bahan dan medium yang digunakan dalam berkarya seni. Jika kritik formalistik lebih cenderung pada penilaian aspek-aspek formalnya, maka kritik ekspresivistik lebih tertarik untuk menilai sebuah karya berdasarkan kualitas gagasan dan perasaan yang ingin dikomunikasikan oleh perupa melalui sebuah karya seni. Kegiatan kritik ini umumnya menanggapi kesesuaian atau keterkaitan antara judul, tema, isi dan visualisasi objek-objek yang ditampilkan dalam sebuah karya.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Bab 10 Kritik Karya Seni Rupa

Bab 10 Kritik Karya Seni Rupa

Ketokohan seseorang dalam dunia seni rupa tidak terlepas dari peran para kritikus karya seni rupa. Bahkan dapat dikatakan para kritikus inilah yang membuat seseorang seniman atau perupa menjadi tokoh dan mendapat pengakuan dari masyarakat luas melalui ulasan kritiknya. Kamu mungkin pernah mendengar atau membaca informasi tentang tokoh-tokoh seni rupa di Indonesia seperti Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah, Sudjojono, GM Sidharta, Popo Iskkamur, Barli dan Sasmitawinata. Kamu juga mungkin sudah pernah mendengar tokoh-tokoh seni rupa mancanegara seperti Rembrant, Vincent Van Gogh, Andy Warhol, Kandinsky, dan sebagainya. Ketokohan seorang perupa ini ada yang bersifat internasional, regional, nasional bahkan lokal.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Evolusi teori dan  kebudayaan

Evolusi teori dan kebudayaan

Akhirnya, kritik bahwa evolusionis abad kesembilan belas itu berpandangan etnosentris-naif mengenai keniscayaan kemajuan manusia pun perlu kami komentari. Pertama, orang dapat menjadi etnosentris dengan beberapa cara. Misalnya, pada suatu titik ekstrem seseorang boleh jadi tidak tahu menahu tentang keragaman pengaturan kultural, dan memandang cara hidupnya sendiri sebagai sesuatu yang bukan hanya benar dan patut bahkan mengungkapkan sifat hakikat manusia umumnya.

14 Baca lebih lajut

Bab 6 Ulasan karya Kita

Bab 6 Ulasan karya Kita

Meskipun demikian, semua itu bersifat multitafsir. Film ”Beth” tampak istimewa karena pendekatan Aria yang unik dibanding sineas lain. Nurul Arifin melihat film karya Aria ini tak ubahnya suatu realitas yang didekati dengan cara yang berkebalikan dari pendekatan yang dilakukan Garin Nugroho dalam karya- karyanya. "Beda dengan karya-karya Garin yang menggambarkan realitas sosial yang selalu dari sisi kehidupan yang manis–manis, Aria lebih suka mendekatinya dari sisi-sisi yang lebih pahit," kata Nurul. "Itu sebabnya semangat Aria ini perlu didukung penuh."(Republika)
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...