Top PDF Pengaruh Berbagai Imbangan Energi-protein Ransum Silase Ikan terhadap Efisiensi Pakan pada Ikan Jambal Siam (Pangasius Hypophtalmus Sauvage)

Pengaruh Berbagai Imbangan Energi-protein Ransum Silase Ikan terhadap Efisiensi Pakan pada Ikan Jambal Siam (Pangasius Hypophtalmus Sauvage)

Pengaruh Berbagai Imbangan Energi-protein Ransum Silase Ikan terhadap Efisiensi Pakan pada Ikan Jambal Siam (Pangasius Hypophtalmus Sauvage)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh berbagai imbangan energi protein pada ransum yang mengandung silase ikan terhadap efisiensi protein dan energi ikan jambal siam (Pangasius hypophtalmus SAUVAGE) stadia muda . hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi protein pakan kontrol, yaitu pellet komersial (protein 25% energi 3300 kkal) menghasikan efisiensi protein tertinggi, tetapi tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan ransum yang mengandung silase 75% (protein 36,50%; energi 2953 kkal) dan silase 50% (protein 26,17%; energi 2827 kkal). Efisiensi protein perlakuan ransum yang mengandung silase 25% (protein 16,26%; energi 2700 kkal) sangat nyata lebih rendah dibanding ketiga perlakuan lainnya. Rendahnya efisiensi protein tersebut disebabkan oleh kandungan protein yang tidak mencukupi kebutuan, dan serat kasar yang melebihi batas penggunaan. Penggunaan energi yang paling efisien diperoleh pada ikan yang mendapat perlakuan silase 25%, kemudian diikuti silase 50%, pellet komersial, dan silase 75%, tetapi masing- masing perlakuan tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata. Peningkatan efisiensi protein dan energi dari ransum yang mengandung silase ikan 25%, kemudian silase 50%, dan silase 75% tersebut seiring dengan meningkatnya penggunaan silase ikan dan menurunnya imbangan energi-protein dari 16,6 pada ransum yang mengandung silase ikan 25% menjadi 8,18 kkal/g protein pada ransum yang mengandung silase ikan 75%. Hal tersebut menunjukkan bahwa protein merupakan zat gizi utama pada ikan jambal siam stadia muda.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH BERBAGAI IMBANGAN ENERGI-PROTEIN RANSUM SILASE IKAN TERHADAP EFISIENSI PAKAN PADA IKAN JAMBAL SIAM (Pangasius hypophtalmus SAUVAGE)

PENGARUH BERBAGAI IMBANGAN ENERGI-PROTEIN RANSUM SILASE IKAN TERHADAP EFISIENSI PAKAN PADA IKAN JAMBAL SIAM (Pangasius hypophtalmus SAUVAGE)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh berbagai imbangan energi protein pada ransum yang mengandung silase ikan terhadap efisiensi protein dan energi ikan jambal siam (Pangasius hypophtalmus SAUVAGE) stadia muda . hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi protein pakan kontrol, yaitu pellet komersial (protein 25% energi 3300 kkal) menghasikan efisiensi protein tertinggi, tetapi tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan ransum yang mengandung silase 75% (protein 36,50%; energi 2953 kkal) dan silase 50% (protein 26,17%; energi 2827 kkal). Efisiensi protein perlakuan ransum yang mengandung silase 25% (protein 16,26%; energi 2700 kkal) sangat nyata lebih rendah dibanding ketiga perlakuan lainnya. Rendahnya efisiensi protein tersebut disebabkan oleh kandungan protein yang tidak mencukupi kebutuan, dan serat kasar yang melebihi batas penggunaan. Penggunaan energi yang paling efisien diperoleh pada ikan yang mendapat perlakuan silase 25%, kemudian diikuti silase 50%, pellet komersial, dan silase 75%, tetapi masing- masing perlakuan tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata. Peningkatan efisiensi protein dan energi dari ransum yang mengandung silase ikan 25%, kemudian silase 50%, dan silase 75% tersebut seiring dengan meningkatnya penggunaan silase ikan dan menurunnya imbangan energi-protein dari 16,6 pada ransum yang mengandung silase ikan 25% menjadi 8,18 kkal/g protein pada ransum yang mengandung silase ikan 75%. Hal tersebut menunjukkan bahwa protein merupakan zat gizi utama pada ikan jambal siam stadia muda.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kebutuhan Dan Pola Makan Ikan Jambal Siam Dari Berbagai Tingkat Pemberian Energi Protein Pakan Dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Dan Efisiensi-The Rate Consumption Of Energy Protein Levels On Jambal Siam Fish Feed And Its Influence On Growth And Effici

Kebutuhan Dan Pola Makan Ikan Jambal Siam Dari Berbagai Tingkat Pemberian Energi Protein Pakan Dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Dan Efisiensi-The Rate Consumption Of Energy Protein Levels On Jambal Siam Fish Feed And Its Influence On Growth And Effici

Ikan jambal siam (Pangasius hypophtalmus SAUVAGE) merupakan ikan ekonomis penting, baik pada tingkat benih sebagai ikan hias maupun pada tingkat dewasa sebagai ikan konsumsi (Hardjamulia, dkk. 1986). Sebagai ikan hias disamping mempunyai bentuk tubuh yang khas, juga dapat berenang cepat dan mudah dipelihara dalam akuarium. Sedangkan sebagai ikan konsumsi, ikan ini sangat digemari masyarakat karena mempunyai daging yang tebal dan gurih, serta cepat pertumbuhannya. Minat para petani untuk memelihara ikan ini semakin besar, karena dibandingkan dengan ikan budidaya lain seperti ikan mas dan nila, pembentukkan daging ikan ini lebih cepat, yaitu dalam jangka waktu lima bulan sejak pemeliharaan stadia benih, dapat mencapai berat 500 g per ekor.
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

PENGARUH PERBEDAAN LEVEL PROTEIN PAKAN BERBAHAN BAKU SILASE IKAN TERHADAP PERTUMBUHAN, DAYA CERNA DAN RASIO KONVERSI PAKAN IKAN SIDAT (Anguilla bicolor) UKURAN FINGERLING

PENGARUH PERBEDAAN LEVEL PROTEIN PAKAN BERBAHAN BAKU SILASE IKAN TERHADAP PERTUMBUHAN, DAYA CERNA DAN RASIO KONVERSI PAKAN IKAN SIDAT (Anguilla bicolor) UKURAN FINGERLING

Iskandar , Ivon. 2000. Pengaruh Kadar Protein Dan Imbangan Energi Protein Pakan Berbeda Terhadap Retensi Protein Dan Pertumbuhan Benih Ikan Sidat (Anguilla bicolor bicolor). Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Imbangan Energi dan Protein Ransum Terhadap Pertumbuhan Itik Pitalah Yang Diberi Probiotik Bacillus amyloliquefaciens

Pengaruh Imbangan Energi dan Protein Ransum Terhadap Pertumbuhan Itik Pitalah Yang Diberi Probiotik Bacillus amyloliquefaciens

Informasi tentang kebutuhan zat makanan pada ternak unggas merupakan dasar penting untuk meningkatkan efisiensi ekonomis pemberian ransum. Kebutuhan zat makanan untuk pertumbuhan biasanya dihubungkan dengan jumlah berbagai zat makanan yang dibutuhkan per hari untuk mendukung pertambahan bobot badan ternak secara maksimal. Hal paling mendasar dan perlu diketahui adalah kebutuhan serta imbangan akan energi dan protein dalam ransum untuk setiap spesies hewan dan setiap tahapan hidup dari spesies tersebut. Selanjutnya harus ditetapkan efisiensi penggunaan ransum yang menunjang pertumbuhan yang maksimum, dan keseimbangan antara kandungan zat- zat makanan seperti asam amino essensial, vitamin-vitamin dan elemen inorganik essensial dalam ransum. Secara ekonomis ransum harus disusun sedemikian rupa agar efesiensi penggunannya maksimal dan secara ekonomis harga ransum menjadi murah (Scott dan Dean, 1991).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Karakteristik minyak ikan dari limbah pengolahan filet ikan patin siam (Pangasius hypopthalmus) dan Patin Jambal

Karakteristik minyak ikan dari limbah pengolahan filet ikan patin siam (Pangasius hypopthalmus) dan Patin Jambal

Patin (Pangasius sp) which is the common name is catfish, has been well- known as a highly economic freshwater fish in Indonesia. Its high lipid content considered as source of unsaturated fatty acids including omega-3 which brings advantages for human health. This research project aims to obtain physico- chemical characteristics of the purified oil derived from the waste of Siam (Pangasius hypothalamus) and Jambal (Pangasius djambal) catfish fillet production, particularly on its fatty acids and glycerides profile. The project had been done in stages including raw material (waste from catfish fillet processing) characterization, oil extraction, oil purification, and purified oil characterization. Fish oil extraction is conducted by using a modified wet rendering method. During the catfish fillet processing, besides of getting the flesh-fillet as the main product, it remains also the other parts of fish (waste) that can be classified into 6 components i.e. head, spin-fin, skin, belly flap, trimmed flesh, and viscera. The head, belly flap, and viscera are considered to be the potential parts using for raw material in fish oil production that could yield the crude oil of 9.84%, 28.52%, and 20.34%, respectively derived from Siam, while 9,54%, 25,60% dan 30,05% derived from Jambal catfish. Fatty acids profile derived from both Siam and Jambal catfish showed that the palmitic and oleic acids are the major components. The percentage of long chain unsaturated fatty acid showed a higher amount of the total lipid, that were 53.24%, 54.38%, 52.74% respectively derived from head, belly flap, and viscera of Siam, and 62.70%, 62.92%, 61.97% derived from Jambal catfish. Even though only in small amount, Omega-3 fatty acids i.e. linoleic, EPA and DHA were detected in this experiment from both species. The typical result of FTIR spectrum profile were obtained. Nevertheless, in the range of 3050 – 2800 cm -1 representing the unsaturated fatty acids, FTIR absorbance on Jambal catfish showed a bigger and more sharply spectrum. Glycerides profile resulted 19 types of TAG in both spesies. According to the standard, 11 types of TGA were identified, which are OLO, PLO, PLP, OOO, POO, POP, PPP, SOO, POS, PPS and LaPP/MMP, respectively based on ECN and retention time. Hydrolysis using lipase enzyme from mold Thermomyces lanuginosa could specifically hydrolyze the position of sn-1 and sn-3 of TAG into DAG and MAG. DSC results demonstrated the 3 zones of melting point of Siam catfish oil, i.e range of (-30) – (-16) C, range of (-16) – 25 C, and range of 25 – 46 C. While in Jambal catfish oil, it was earlier detected, i.e. at -34 C at the range up to 40 C.
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN SILASE IKAN SEBAGAI PAKAN TERHADAP PRODUKSI KISTA Artemia franciscana PADA BERBAGAI PADAT PENEBARAN

PEMANFAATAN SILASE IKAN SEBAGAI PAKAN TERHADAP PRODUKSI KISTA Artemia franciscana PADA BERBAGAI PADAT PENEBARAN

Padat penebaran adalah jumlah organisme yang ditebar dalam suatu luasan tertentu. Padat penebaran erat kaitannya dengan produksi dan kecepatan tumbuh yang diharapkan. Peningkatan padat penebaran akan berhenti pada suatu batas tertentu karena pakan dan lingkungan sebagai pembatas (Hickling, 1971 dalam Utomo, 2004). Dengan semakin meningkatnya padat penebaran individu yang dipelihara akan meningkatkan pula persaingan di antara individu yang dipelihara, terutama persaingan untuk memperebutkan ruang gerak dan pakan sehingga individu yang kalah akan terganggu kelangsungan hidupnya. Baert et al. (1996) menyatakan bahwa pada padat penebaran tinggi dapat menstimuli reproduksi ovipar Artemia. Hal itu terjadi ketika kepadatan tinggi maka O 2 yang
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

PENGARUH SUBTITUSI TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG KEONG MAS (Pomaceae canaliculata) PADA PAKAN TERHADAP RASIO KONVERSI PAKAN, RETENSI PROTEIN DAN RASIO EFISIENSI PROTEIN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

PENGARUH SUBTITUSI TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG KEONG MAS (Pomaceae canaliculata) PADA PAKAN TERHADAP RASIO KONVERSI PAKAN, RETENSI PROTEIN DAN RASIO EFISIENSI PROTEIN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium indoor perikanan fakultas peternakan – perikanan universitas muhammadiyah Malang pada tanggal 1 – 28 desember 2008. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung keong ikan dengan tepung keong mas (pomacea canaliculata) pada pakan terhadap rasio konversi pakan, retensi protein dan rasio efisiensi protein ikan lele dumbo (clarias gariepinus).

2 Baca lebih lajut

SUPLEMENTASI METIONIN DALAM RANSUM BERBASIS LOKAL TERHADAP IMBANGAN EFISIENSI PROTEIN PADA AYAM PEDAGING

SUPLEMENTASI METIONIN DALAM RANSUM BERBASIS LOKAL TERHADAP IMBANGAN EFISIENSI PROTEIN PADA AYAM PEDAGING

Kualitas protein antara lain ditentukan oleh kelengkapan dan keseimbangan asam amino esensial yang dikandung di dalamnya. Protein yang berkualitas tinggi mengandung asam-asam amino esensial yang lengkap, jumlahnya cukup dan seimbang. Penyusunan ransum unggas saat ini titik berat perhatiannya bukan lagi terhadap jumlah protein yang harus disediakan, akan tetapi lebih memperhatikan imbangan antara energi dengan asam-asam amino esensial, karena asam-asam amino esensial tidak dapat disintesis dalam tubuh sehingga kebutuhannya harus disediakan dalam ransum yang dikonsumsinya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH PERBEDAAN KADAR PROTEIN DAN RASIO ENERGI PROTEIN PAKAN TERHADAP KINERJA PERTUMBUHAN FINGERLINGS IKAN MAS (Cyprinus carpio)

PENGARUH PERBEDAAN KADAR PROTEIN DAN RASIO ENERGI PROTEIN PAKAN TERHADAP KINERJA PERTUMBUHAN FINGERLINGS IKAN MAS (Cyprinus carpio)

Kegiatan budidaya ikan termasuk ikan mas (Cyprinus carpio) saat ini dihadapkan pada kenyataan mahalnya harga pakan buatan. Kebutuhan biaya pakan dalam proses produksi mencapai lebih dari 50% sehingga menurunkan tingkat keuntungannya. Untuk meningkatkan keuntungan, diperlukan efisiensi biaya produksi yang salah satunya dengan memproduksi pakan yang mengandung kadar protein dan rasio protein terhadap energi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ikan. Pakan dengan kadar protein (28 and 31%) dan rasio protein-energi (8 dan 10) yang berbeda diuji untuk mengetahui kandungan protein dan rasio protein- energi yang sesuai untuk fingerling ikan mas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fingerling ikan mas yang yang diberi pakan dengan kadar protein dan rasio protein energi yang berbeda menghasilkan tingkat efisiensi pakan yang berbeda, namun tidak mempengaruhi tingkat pertumbuhan relatifnya. Pakan dengan kadar protein 31,15% dengan rasio protein energi 7,81 dan kadar protein 28,08% dengan rasio protein energi 9,12 menghasilkan nilai efisiensi pakan yang lebih baik daripada pakan yang mengandung kadar protein 31,15% dengan rasio protein energi 7,81 dan kadar protein 28,27% dengan rasio protein energi 8,28.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Imbangan Energi dan Protein Ransum terhadap Pertumbuhan Itik Pitalah yang Diberi Probiotik Bacillus Amyloliquefaciens

Pengaruh Imbangan Energi dan Protein Ransum terhadap Pertumbuhan Itik Pitalah yang Diberi Probiotik Bacillus Amyloliquefaciens

kkal/kg dan protein 16 %. Konversi ransum terendah terdapat pada perlakuan energi 2800 kkal/kg dan protein 18%, namun secara statistik tidak berbeda nyata terhadap perlakuan energi 2800 kkal/kg dan protein 17%, energi 2800 kkal/kg dan protein 16%, energi 2700 kkal/kg dan protein 18%, dan energi 2700 kkal/kg dan protein 17%. Hal ini disebabkan pada konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan juga tidak berpengaruh dengan pemberian energi sampai 2700 kkal/kg dan protein 17%, namun ketika energi sudah di bawah 2700 kkal/kg dan protein dibawah 17% konversi ransum sudah tidak efisien lagi. Hal ini disebabkan kandungan nutrisi yang jauh berbeda yaitu adanya perbedaan tingkat energi dan protein dalam ransum. Semakin rendah energi dan protein yang diberikan maka semakin tinggi konsumsi ransum karena ternak akan terus makan sampai energinya terpenuhi. Efisiensi penggunaan ransum saling berkaitan dengan konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan, tetapi konsumsi ransum yang tinggi tidak selalu diikuti dengan efisiensi penggunaan ransum yang tinggi. Efisiensi ransum adalah kemampuan ransum yang dikonsumsi dalam satu waktu tertentu untuk menghasilkan berat badan seekor ternak dalam waktu yang sama (Yamin, 2008). Semakin kecil nilai konversi ransum maka efisiensi ransum semakin baik, sedangkan semakin besarnya nilai konversi ransum maka efisiensi ransum semakin kecil. Konversi ransum dapat digunakan sebagai gambaran efisiensi produksi. Angka konversi ransum yang kecil berarti banyaknya ransum yang digunakan untuk menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit (Kartasudjana dan Supriyatna, 2005). Hasil terbaik dari penelitian adalah pada imbangan energi 2700 kkal/kg dan protein 17% dalam ransum. Hasil penelitian ini tidah jauh berbeda dengan yang dilaporkan oleh Alyandari (2014), bahwa tingkat energi 2700 kkal/kg dan protein 16% menghasilkan performa itik Rambon jantan terbaik pada fase pertumbuhan (umur itiknya 8 minggu).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects