Top PDF Strategi Scaffolding Berbasis Multirepresentasi untuk Mengatasi Kesulitan Pemahaman Konseptual Siswa dalam Operasi Pecahan di SMP

Strategi Scaffolding Berbasis Multirepresentasi untuk Mengatasi Kesulitan Pemahaman Konseptual Siswa dalam Operasi Pecahan di SMP

Strategi Scaffolding Berbasis Multirepresentasi untuk Mengatasi Kesulitan Pemahaman Konseptual Siswa dalam Operasi Pecahan di SMP

Pada saat proses wawancara, pemberian strategi scaffolding berbasis multirepresentasi pada ketiga subjek berbeda-beda. Untuk subjek EY, sebelum diberikan strategi scaffolding berbasis multirepresentasi berada pada ZPD rendah. Subjek EY mengalami hambatan dalam menyelesaikan soal pemahaman konseptual pada tiap butir soal (soal nomor 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10). Pada saat wawancara, dilakukan beberapa hal yaitu: (1) peneliti menscaffolding EY untuk memahami konsep pecahan menggunakan penyajian konsep secara gabungan verbal, gambar dan simbolik; (2) Peneliti menscaffolding EY untuk memahami konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan biasa berpenyebut sama dan tak sama menggunakan penyajian konsep secara gabungan verbal, gambar dan simbolik; (3) Peneliti mengingatkan kepada EY jika akan menyelesaikan soal berbentuk cerita, maka dituliskan terlebih dahulu apa yang diketahui, ditanya, prosedur penyelesaian dan kesimpulan; (4) peneliti mengingatkan EY jika menyelesaikan suatu soal harus teliti, setelh dijawab harus dicek kembali untuk memeriksa apakah ada yang keliru atau salah tulis; (5) Peneliti memotivasi EY bahwa jangan pernah menyerah dulu sebelum mecoba.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

WAWANCARA KLINIS BERSTRUKTUR KONFLIK KOGNITIF BERBANTUAN MEDIA UNTUK MENGATASI MISKONSEPSI SISWA DALAM OPERASI PECAHAN ARTIKEL PENELITIAN

WAWANCARA KLINIS BERSTRUKTUR KONFLIK KOGNITIF BERBANTUAN MEDIA UNTUK MENGATASI MISKONSEPSI SISWA DALAM OPERASI PECAHAN ARTIKEL PENELITIAN

Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap pelaksanaan antara lain: (1) Memberikan pretest kepada 34 siswa kelas VII G di SMP Negeri 5 Pontianak. Untuk penyelesaian soal diberikan waktu 45 menit; (2) Mengkoreksi hasil pekerjaan siswa dan menganalisis dengan teknik analisis data yang sesuai; (3) Memilih 4 orang siswa untuk diberikan treatment; (4) Memberikan treatment berupa wawancara klinis berstruktur konflik kognitif berbantuan media lego; (5) Memberikan posttest pertama kepada siswa yang menjadi subjek penelitian; (6) Mengkoreksi hasil tes tertulis dari jawaban siswa; (7) Jika ada siswa yang belum terlihat perubahan terhadap miskonsepsinya, akan diberikan treatment ulang; (8) Melakukan posttest kedua kepada siswa setelah diberi rentang waktu selama 7 hari setelah treatment diberikan; (9) Mengkoreksi hasil tes tertulis dari jawaban siswa. Tahap Pembuatan Laporan
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN OPERASI HITUNG ALJABAR BENTUK PECAHAN  Analisis Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Operasi Hitung Aljabar Bentuk Pecahan.

ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN OPERASI HITUNG ALJABAR BENTUK PECAHAN Analisis Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Operasi Hitung Aljabar Bentuk Pecahan.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan dan kesulitan siswa serta mengetahui faktor penyebab siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal operasi aljabar bentuk pecahan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian ini yaitu 6 orang siswa yang diambil dari kelas VII A dan VII B di SMP Muhammadiyah 8 Surakarta. Teknik pengumpulan data menggunakan metode tes, wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, paparan data, dan kesimpulan atau verifikasi. Analisis dikembangkan berdasarkan tiga jenis kesalahan yaitu kesalahan pada konsep, kesalahan pada prinsip, dan kesalahan dalam menyelesaikan operasi. Sehingga dapat diketahui apa saja kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal operasi hitung aljabar bentuk pecahan. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kesulitan yang paling banyak dialami siswa adalah kesulitan pada prinsip, dimana terlihat bahwa siswa melakukan kesalahan pada soal pecahan aljabar yang berkaitan dengan perkalian dua aljabar dengan dua suku. Faktor penyebabnya adalah siswa tidak memahami aturan- aturan serta sifat-sifat dalam menyelesaikan operasi pecahan aljabar.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Wawancara Klinis Berstruktur Konflik Kognitif Berbantuan Media untuk Mengatasi Miskonsepsi Siswa dalam Operasi Pecahan

Wawancara Klinis Berstruktur Konflik Kognitif Berbantuan Media untuk Mengatasi Miskonsepsi Siswa dalam Operasi Pecahan

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan miskonsepsi siswa sebelum dan sesudah dilakukan treatment berupa wawancara klinis berstruktur konflik kognitif berbantuan media lego. Bentuk penelitian ini adalah Didactical Design Research (DDR) yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu: (1) tahapan analisis disain didaktis, (2) tahapan analisis metapedadidaktik, dan (3) tahapan retrosfektif. Sampel dipenelitian ini adalah 4 siswa kelas VII G SMP Negeri 5 Pontianak. Instrumen tes yang digunakan sebanyak 3 kali, yaitu pretest, posttest pertama dan posttest kedua. Ditemukan 10 bentuk miskonsepsi pada saat pretest, 1 bentuk miskonsepsi saat posttest pertama dan tidak ditemukan lagi miskonsepsi pada posttest kedua. Miskonsepsi setiap subjek mengalami penurunan yaitu pada posttest pertama sebesar 91,67% dan pada posttest kedua sebesar 100% ini artinya wawancara klinis berstruktur konflik kognitif berbantuan media lego dapat mengatasi miskonsepsi siswa pada materi operasi pecahan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN OPERASI HITUNG ALJABAR BENTUK PECAHAN  Analisis Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Operasi Hitung Aljabar Bentuk Pecahan.

KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN OPERASI HITUNG ALJABAR BENTUK PECAHAN Analisis Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Operasi Hitung Aljabar Bentuk Pecahan.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan dan kesulitan siswa serta mengetahui faktor penyebab siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal operasi aljabar bentuk pecahan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian ini yaitu 6 orang siswa yang diambil dari kelas VII A dan VII B di SMP Muhammadiyah 8 Surakarta. Teknik pengumpulan data menggunakan metode tes, wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, paparan data, dan kesimpulan atau verifikasi. Analisis dikembangkan berdasarkan tiga jenis kesalahan yaitu kesalahan pada konsep, kesalahan pada prinsip, dan kesalahan dalam menyelesaikan operasi. Sehingga dapat diketahui apa saja kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal operasi hitung aljabar bentuk pecahan. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kesulitan yang paling banyak dialami siswa adalah kesulitan pada prinsip, dimana terlihat bahwa siswa melakukan kesalahan pada soal pecahan aljabar yang berkaitan dengan perkalian dua aljabar dengan dua suku. Faktor penyebabnya adalah siswa tidak memahami aturan-aturan serta sifat-sifat dalam menyelesaikan operasi pecahan aljabar.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Wawancara Klinis Berbasis Konflik Kognitif untuk Mengatasi Miskonsepsi Siswa pada Operasi Pecahan Bentuk Aljabar

Wawancara Klinis Berbasis Konflik Kognitif untuk Mengatasi Miskonsepsi Siswa pada Operasi Pecahan Bentuk Aljabar

Subjek penelitian ini adalah empat siswa kelas VIII D SMP Negeri 11 Pontianak. Pemilihan sampel penelitian berdasarkan kriteria yaitu siswa yang telah mempelajari materi pecahan khususnya pada materi operasi pecahan bentuk aljabar dikelas VII semester ganjil dan siswa yang dari hasil pretest-nya mengalami miskonsepsi pada tiap soal. Menurut Gay dan Diehl (1992) (dalam Saputra, 2010), untuk metode deskriptif pengambilan sampel minimumnya adalah dari populasi (32 siswa) dan karna keterbatasan waktu yang diberikan oleh sekolah maka subjek yang diambil untuk penelitian ini adalah empat siswa kelas VIII D SMP Negeri 11 Pontianak. Kode subjek penelitian tersebut adalah AZ, MW, MC, dan RH. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik tes dan teknik komunikasi langsung dan alat pengumpulan datanya berupa tes tertulis (terdiri dari enam soal tentang penjumlahan pecahan bentuk aljabar dan enam soal tentang pengurangan pecahan bentuk aljabar) dan pedoman wawancara. Instrumen penelitian divalidasi oleh dua orang dosen Pendidikan Matematika FKIP Untan dan satu orang guru matematika SMP Negeri 11 Pontianak dengan hasil validasi bahwa instrumen yang digunakan valid.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

WAWANCARA KLINIS BERBASIS KONFLIK KOGNITIF UNTUK MENGATASI MISKONSEPSI SISWA PADA OPERASI PECAHAN BENTUK ALJABAR

WAWANCARA KLINIS BERBASIS KONFLIK KOGNITIF UNTUK MENGATASI MISKONSEPSI SISWA PADA OPERASI PECAHAN BENTUK ALJABAR

Subjek penelitian ini adalah empat siswa kelas VIII D SMP Negeri 11 Pontianak. Pemilihan sampel penelitian berdasarkan kriteria yaitu siswa yang telah mempelajari materi pecahan khususnya pada materi operasi pecahan bentuk aljabar dikelas VII semester ganjil dan siswa yang dari hasil pretest-nya mengalami miskonsepsi pada tiap soal. Menurut Gay dan Diehl (1992) (dalam Saputra, 2010), untuk metode deskriptif pengambilan sampel minimumnya adalah dari populasi (32 siswa) dan karna keterbatasan waktu yang diberikan oleh sekolah maka subjek yang diambil untuk penelitian ini adalah empat siswa kelas VIII D SMP Negeri 11 Pontianak. Kode subjek penelitian tersebut adalah AZ, MW, MC, dan RH. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik tes dan teknik komunikasi langsung dan alat pengumpulan datanya berupa tes tertulis (terdiri dari enam soal tentang penjumlahan pecahan bentuk aljabar dan enam soal tentang pengurangan pecahan bentuk aljabar) dan pedoman wawancara. Instrumen penelitian divalidasi oleh dua orang dosen Pendidikan Matematika FKIP Untan dan satu orang guru matematika SMP Negeri 11 Pontianak dengan hasil validasi bahwa instrumen yang digunakan valid.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

DESAIN DIDAKTIS DENGAN SCAFFOLDING UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLE MATERI PENJUMLAHAN PECAHAN ALJABAR DI SMP

DESAIN DIDAKTIS DENGAN SCAFFOLDING UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLE MATERI PENJUMLAHAN PECAHAN ALJABAR DI SMP

Hambatan yang dihadapi oleh siswa ini dikenal dengan learning obstacle. Munculnya learning obstacle sebagaimana yang dikemukakan oleh Brousseo (Suratno, 2009) disebabkan oleh tiga faktor, yaitu (1) hambatan ontogeni (kesiapan mental belajar), (2) didaktis (pengajaran guru atau bahan ajar), dan (3) epistimologis (pengetahuan siswa yang memiliki konteks aplikasi yang terbatas). Menurut Duroux (dalam Suryadi, 2010) epistimologis obstacle pada hakekatnya merupakan pengetahuan seseorang yang hanya terbatas pada konteks tertentu. Jika orang tersebut dihadapkan pada konteks berbeda, maka pengetahuan yang dimiliki menjadi tidak bisa digunakan atau dia mengalami kesulitan untuk menggunakannya. Suryadi (2010) mengemukakan bahwa learning obstacle khususnya yang bersifat epistimologis merupakan satu diantara aspek yang perlu menjadi pertimbangan guru dalam mengembangkan antisipasi didaktik dan pedagogik. Pada operasi penjumlahan pecahan aljabar khususnya, siswa telah memahami mengenai operasi penjumlahan pecahan biasa, tetapi ketika dalam materi operasi penjumlahan pecahan aljabar yang cara menyelesaikannya sama dengan operasi pecahan biasa siswa masih mengalami hambatan dalam menyelesaikannya.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MEDIA REFUTATION TEXT UNTUK MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA DALAM MATERI PERBANDINGAN DI SMP

PENGEMBANGAN MEDIA REFUTATION TEXT UNTUK MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA DALAM MATERI PERBANDINGAN DI SMP

Penelitian ini mengembangkan media pembelajaran refutation text untuk materi perbandingan di SMP. Media pembelajaran refutation text yang dikembangkan dalam materi perbandingan berbentuk Lembar Kerja Siswa (LKS). Tahapan penelitian dan pengembangan yang pertama adalah pengumpulan informasi. Pada tahap ini diperoleh kesalahan-kesalahan yang dialami siswa pada materi perbandingan. Kesalahan-kesalahan tersebut yaitu: (1) Siswa tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan ketika menyelesaikan soal berbentuk cerita. Siswa biasanya langsung membuat model matematika dan menghitung hasil akhir, sehingga akhirnya keliru dalam membuat model matematika. (2) Siswa salah dalam dalam operasi hitung. (3) Siswa kurang memahami tentang perbandingan senilai dan berbalik nilai, sehinggga menggunakan rumus yang berkaitan dengan perbandingan berbalik nilai sebagai perbandingan senilai, atau sebaliknya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA INTERAKTIF BERBASIS EDUTAINMENT UNTUK SISWA KELAS VII SMP PADA MATERI OPERASI BILANGAN PECAHAN

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA INTERAKTIF BERBASIS EDUTAINMENT UNTUK SISWA KELAS VII SMP PADA MATERI OPERASI BILANGAN PECAHAN

Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah valid artinya CD pembelajan interaktif yang dirancang berdasarkan Rencana Pelaksaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat digunakan sebagai perangkat pembelajaran dalam proses pembelajaran matematika. Selain itu dari uji coba skala kecil diperoleh rata-rata persentase respon siswa terhadap perangkat pembelajaran adalah positif yaitu sebesar 90 % atau lebih dari 80%.

10 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASIPEMBELAJARAN BERBASIS MULTIREPRESENTASI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

IMPLEMENTASIPEMBELAJARAN BERBASIS MULTIREPRESENTASI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

Aspek pemahaman masuk ke dalam salah satu kelompok ranah kognitif taksonomi Bloom pada tingkat kedua. Pada tingkat pemahaman siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep. Menurut Rudyatmi dan Rusilowati (2013: 25) yang dimaksud dengan pemahaman/komprehensi (comprehension) adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya. Pengetahuan pemahaman dapat dibedakan dalam tiga tingkatan, yaitu (1) dapat menjelaskan arti dan fungsi; (2) penafsiran seperti dapat menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan kejadian; (3) mampu melihat dibalik yang tertulis, atau dapat membuat ramalan tentang konsekuensi sesuatu.
Baca lebih lanjut

218 Baca lebih lajut

Pemberian Scaffolding untuk Mengatasi Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

Pemberian Scaffolding untuk Mengatasi Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika

Untuk mengembangkan cara berpikir dalam pembelajaran matematika perlu adanya pemberian masalah matematika. Adanya masalah matematika dapat menyelesaikan masalah karena dengan dengan penyelesaian masalah merupakan bagian dari pembelajaran matematika. Pemberian masalah matematika ini digunakan guna mengukur kemampuan siswa dalam menguasai materi yang telah dipelajari. Tidak memungkinkan adanya siswa mengalami kesalahan ketika menyelesaikan masalah bahkan ketika siswa memahami suatu konsep matematika. Salah satu cara yang mungkin untuk mengatasi kesalahan siswa yaitu dengan memberikan scaffolding. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan scaffolding yang diberikan untuk mengatasi kesalahan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini berupa data tertulis, kata-kata, dan hasil dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian scaffolding untuk mengatasi kesalahan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika yaitu 1) Scaffolding dalam penyusunan model matematika dalam bentuk aljabar; 2) Scaffolding dalam membangun kembali konsep bangun datar, khususnya luas dan keliling persegi dan persegi panjang; 3) Scaffolding dalam menyelesaikan operasi bentuk aljabar; dan 4) Scaffolding dalam memanfaatkan teorema Pythagoras dalam menyelesaikan masalah matematika.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Penggunaan Teknik Scaffolding Pada Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematik Pada Siswa SMP

Penggunaan Teknik Scaffolding Pada Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematik Pada Siswa SMP

Pemahaman konsep adalah kemampuan siswa dalam mengklasifikasi konsep dan mengimplementasikan konsep berdasarkan contoh dan bukan contoh, dan siswa dapat mengungkapkan suatu konsep dengan menggunakan kata-kata sendiri disertai alasannya. Masalah yang sering terjadi yaitu siswa hafal suatu konsep, tetapi siswa tidak bisa menerapkan suatu konsep dalam pemecahan masalah. Selain itu kebiasaan guru langsung memberikan suatu konsep secara baku, tanpa menjelaskan pembentukan konsep itu berlangsung. Akibatnya ketika siswa mengerjakan soal yang berbeda dengan yang diberikan contoh oleh guru atau siswa harus mencari konsep yang belum diketahui dalam soal, siswa belum mampu mengerjakannya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

DESKRIPSI PEMAHAMAN KONSEP SISWA DALAM MATERI OPERASI HITUNG BILANGAN PECAHAN DI SMP BOEDI OETOMO ARTIKEL PENELITIAN

DESKRIPSI PEMAHAMAN KONSEP SISWA DALAM MATERI OPERASI HITUNG BILANGAN PECAHAN DI SMP BOEDI OETOMO ARTIKEL PENELITIAN

Pentingnya pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika dapat dilihat dari tujuan pembelajaran matematika di sekolah, seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 sebagai berikut : (1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah; (2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pemahaman konsep operasi pecahan mahasiswa Mappi tentang  operasi pecahan dalam program matrikulasi 2018/2019

Pemahaman konsep operasi pecahan mahasiswa Mappi tentang operasi pecahan dalam program matrikulasi 2018/2019

Pada umumnya anak lulusan SMA sudah mempelajari ilmu yang cukup banyak mengenai matematika seperti aljabar, trigonometri, geometri, statistika dan peluang. Anak SMA yang memiliki umur antara 15-19 tahun, menurut Piaget tingkat perkembangan intelektualnya termasuk dalam tingkat operasional formal. Pada tingkat ini anak dapat menggunakan operasi-operasi konkretnya untuk membentuk operasi yang lebih kompleks (Dahar, 2011). Pada saat ini pun pembelajaran sudah menggunakan kurikulum 2013 yang melatih anak SMA untuk dapat berpikir tingkat tinggi, berpikir kritis, kreatif dalam memecahkan suatu permasalahan yang kompleks. Akan tetapi, anak lulusan SMA di kabupaten Mappi dalam membaca suatu bilangan pun masih belum terlalu lancar. Hal ini didapatkan dari hasil observasi pendampingan mahasiswa Mappi Papua.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Efektivitas Media Blok Pecahan dan Media Power Point Terhadap Tingkat Pemahaman Konsep Operasi Pecahan Siswa

Efektivitas Media Blok Pecahan dan Media Power Point Terhadap Tingkat Pemahaman Konsep Operasi Pecahan Siswa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat pemahaman konsep operasi pecahan antara siswa yang diajar menggunakan blok pecahan dan menggunakan media power point serta untuk mengetahui efektivitas media blok pecahan dan media power point terhadap pemahaman konsep operasi pecahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian quasi-eksperimental. Populasi dalam sampel ini adalah seluruh peserta didik kelas VII SMPN 2 Barombong yang berjumlah 160 orang. Pengambilan sampel dengan teknik simple class random
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL DAN PROSEDURAL MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN  Peningkatan Pemahaman Konseptual Dan Prosedural Matematika Siswa Melalui Strategi Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Berbasis Group Investigation (Gi) (

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL DAN PROSEDURAL MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN Peningkatan Pemahaman Konseptual Dan Prosedural Matematika Siswa Melalui Strategi Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Berbasis Group Investigation (Gi) (

Alhamdulillah, segala puji syukur kehadirat Allah SWT selalu penulis panjatkan atas segala rahmad dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya yang sederhana ini. Sebagai ungkapan rasa syukur, karya ini penulis persembahkan untuk:

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEMAMPUAN PENALARAN INDUKTIF DENGAN PEMAHAMAN KONSEP PADA MATERI OPERASI HITUNG PECAHAN DI SMP

HUBUNGAN KEMAMPUAN PENALARAN INDUKTIF DENGAN PEMAHAMAN KONSEP PADA MATERI OPERASI HITUNG PECAHAN DI SMP

Pada indikator kemampuan mengajukan dugaan atau konjektur siswa pada penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut sama berada pada kategori rendah. Dari hasil tes, dapat diketahui bahwa rendahnya kemampuan mengajukan dugaan atau konjektur siswa pada penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut sama disebabkan siswa tidak teliti dalam memahami soal yang diberikan, beberapa siswa keliru dalam memberikan dugaan cara menjumlahkan dan mengurangkan pecahan yang berpenyebut sama serta alasan yang diberikan siswa juga keliru. Kemungkinan selanjutnya yaitu siswa masih belum terbiasa dengan bentuk soal beralasan sehingga ketika tes berlangsung banyak siswa yang mengeluh dalam memberikan alasan. Selain itu, kemungkinan lainnya yaitu siswa masih belum menguasai prosedur dalam menjumlahkan dan mengurangkan pecahan yang berpenyebut sama sehingga siswa tidak dapat menduga cara menjumlakan dan mengurangkan pecahan yang berpenyebut sama. Beberapa siswa menduga cara menjumlakan dan mengurangkan pecahan berpenyebut sama dapat dilakukan dengan mencari KPK terlebih dahulu dengan alasan yang diberikan “jika tidak dicari KPK penyebutnya terlebih dahulu, tidak akan bisa menjumlahkan pembilangnya sedangkan penyebut dari pecahan yang ada di soal sudah sama. Dugaan peneliti, hal tersebut dapat terjadi mungkin siswa masih belum mengenal pembilang dan penyebut karena soal tes yang diberikan berupa penyebutnya sama sedangkan pembilang-pembilangnya berbeda.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Identifikasi Kesulitan Siswa dalam Memahami Konsep Operasi Hitung Pecahan di SMP Negeri 1 Sawang (Integrasi dengan Dasar-dasar Pendidikan Mipa)

Identifikasi Kesulitan Siswa dalam Memahami Konsep Operasi Hitung Pecahan di SMP Negeri 1 Sawang (Integrasi dengan Dasar-dasar Pendidikan Mipa)

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di sekolah, mulai jenjang taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Penguasaan terhadap matematika akan memberikan andil yang penting bagi pencapaian tujuan pendidikan secara umum, yaitu melalui pembentukan manusia yang mampu berpikir logis, sistematis dan cermat serta bersifat objektif dan terbuka dalam menghadapi berbagai permasalahan. Matematika adalah ilmu yang mempelajari pola keteraturan tentang struktur yang terorganisasi, maka terdapat topik atau konsep persyaratan sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

ANALISIS KESULITAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL PADA MATERI PELUANG DI MAN SANGGAU

ANALISIS KESULITAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL PADA MATERI PELUANG DI MAN SANGGAU

atematika adalah salah satu bidang pengetahuan yang dijadikan pengetahuan dasar, karena dengan belajar matematika mampu mengembangkan nalar. Tetapi pada kenyataannya kecintaan siswa terhadap matematika masih relatif rendah. Akan tetapi banyak sudut pandang siswa yang menganggap bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit untuk dimengerti dan dipahami sehingga banyak siswa yang kurang termotivasi untuk belajar matematika Karena adanya anggapan seperti itu. Hal ini tentulah sangat berpengaruh besar terhadap hasil belajar siswa, dimana siswa selalu mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal matematika pada setiap bab dan subbabnya. Dengan dilakukannya sebuah proses analisis kesulitan, maka dari sebuah analisis tersebut akan ditemukan apa yang menjadi kesulitan siswa selama ini dalam mengerjakan soal-soal matematika. Sehingga siswa diharapkan tidak lagi menemukan kesulitan dalam mengerjakan soal-soal matematika dan dengan demikian siswa akan termotivasi belajar matematika.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects