Top PDF Studi Eksperimental Pengaruh Tembaga Terhadap Kuat Tarik Baja

Studi Eksperimental Pengaruh Tembaga Terhadap Kuat Tarik Baja

Studi Eksperimental Pengaruh Tembaga Terhadap Kuat Tarik Baja

Baja adalah paduan logam yang tersusun dari besi sebagai unsur utama dan karbon sebagai unsur penguat. Unsur karbon banyak berperan dalam peningkatan kualitas baja. Beberapa unsur dipadu dengan baja agar dapat memperbaiki kemampuan tarik baja. Pada penelitian ini memadukan antara baja karbon dengan tembaga. Baja paduan tembaga diharapkan akan dapat meningkatkan kuat tarik dari baja tersebut. Penelitian ini dilakukan sampel dengan menggunakan baja tanpa paduan (TP), baja paduan 0,5% tembaga (FeCu-5) dan baja paduan 1,0% tembaga (FeCu-10). Pengujian dilakukan berupa pengujian komposisi, pengujian kekerasan dan pengujian tarik baja. Pada pengujian tarik baja didapatkan data tegangan, regangan, modulus elastisitas dan daktilitas baja. Hasil yang didapatkan dari eksperimen ini, penambahan tembaga 1,0% meningkatkan tegangan ultimate baja sebesar 42,42% dibandingkan dengan baja cor tanpa paduan. Sedangkan memberikan penurunan tegangan ultimate pada baja paduan 0,5% tembaga sebesar 30,98% dibandingkan baja cor tanpa paduan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

STUDI EKSPERIMENTAL KUAT LENTUR PADA BALOK BETON BERTULANG DENGAN PERKUATAN BAJA RINGAN PROFIL U TUGAS AKHIR - Studi Eksperimental Kuat Lentur Pada Balok Beton Bertulang Dengan Perkuatan Baja Ringan Profil U

STUDI EKSPERIMENTAL KUAT LENTUR PADA BALOK BETON BERTULANG DENGAN PERKUATAN BAJA RINGAN PROFIL U TUGAS AKHIR - Studi Eksperimental Kuat Lentur Pada Balok Beton Bertulang Dengan Perkuatan Baja Ringan Profil U

Pada penelitian ini digunakan baja ringan profil U sebagai bahan alternatif untuk perkuatan lentur pada balok beton bertulang yang diharapkan dapat meningkatkan kekuatan struktur tersebut. Perkuatan dilakukan pada daerah tarik dengan menggunakan baja ringan profil U dengan sambungan baut.

20 Baca lebih lajut

STUDI VARIASI SUHU TERHADAP KUAT MEKANIK SAMBUNGAN ANTARA BAJA DENGAN TEMBAGA PADA PROSES FURNACE BRAZING

STUDI VARIASI SUHU TERHADAP KUAT MEKANIK SAMBUNGAN ANTARA BAJA DENGAN TEMBAGA PADA PROSES FURNACE BRAZING

Pengembangan teknologi di bidang material sangatlah pesat sekarang ini, hal ini terlihat dari banyaknya penggunaan material logam khususnya di industri produksi massal dengan spesifikasi tertentu, seperti baja tahan karat, baja karbon tinggi, dan baja perkakas. Pada industri kecil seperti pembuatan ring, panci, tutup botol, komponen kompor dan lain-lain sering menggunakan material tersebut sebagai bahan untuk membuat alat bantu yang disebut dengan Press Tools. Pada press tool ini banyak digunakan baja karbon tinggi atau baja perkakas sebagai mata potong (punch), tetapi seiring mahal dan sulitnya material-material tersebut membuat para pelaku industri kecil mengalami kerugian yang besar untuk pembuatan alat bantu produksi. Untuk itu melalui penelitian ini penulis mengadakan percobaan di laboratorium terhadap bahan pegas daun bekas. Percobaan dilakukan empat tahap pengujian yaitu uji komposisi, uji tarik, uji kekerasan, dan uji struktur mikro. Pada uji komposisi material pegas daun bekas mempunyai kadar 0,6627 % Carbon (C), 0,7304%, Mangan (Mn), 0.0240% Belerang (S), 0,0257% Phosphor (P). Kekuatan tarik pegas daun bekas adalah 1332,5 kg/mm 2 . Kekerasan dilakukan dengan uji kekerasan Rockwell C maka
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

STUDI VARIASI SUHU TERHADAP KUAT MEKANIK SAMBUNGAN ANTARA BAJA DENGAN TEMBAGA PADA PROSES FURNACE BRAZING

STUDI VARIASI SUHU TERHADAP KUAT MEKANIK SAMBUNGAN ANTARA BAJA DENGAN TEMBAGA PADA PROSES FURNACE BRAZING

Metode penyambungan antara mild steel dengan baja dilakukan dengan menggunakan jig untuk memberi tekanan selama proses brazing. Jig berikut dengan spesimen uji tarik, uji geser, dan uji belah dilakukan pemanasan didalam furnace serta didinginkan dengan perlahan setelah mencapai suhu penelitian. Pengujian mekanis dilakukan dengan mesin Universal Testing Machine.

8 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Studi Eksperimental Kuat Lentur Pada Balok Beton Bertulang Dengan Perkuatan Baja Ringan Profil U

BAB I PENDAHULUAN - Studi Eksperimental Kuat Lentur Pada Balok Beton Bertulang Dengan Perkuatan Baja Ringan Profil U

Jumaat, M.Z dan Alam, M.A (2006) meneliti pengaruh perkuatan menggunakan ferrocement dan fire mesh terhadap kekuatan lentur balok. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa balok dengan perkuatan menggunakan laminasi ferrocement pada daerah tarik akan menunda terjadinya retak pertama, menambah kekakuan dan kapasitas menahan beban. Defleksi di tengah bentang dan peningkatan kapasitas beban pada balok perkuatan akan kecil dimana aksi komposit akan hilang antara balok asli dengan ferrocement sebelum mencapai keruntuhan. Dengan adanya shear connector akan memberikan aksi komposit penuh antara balok asli dengan ferrocement.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Studi Eksperimental Pengujian Kuat Tekan, Kuat Tarik Belah dan Kuat Lentur pada Campuran Beton dengan Penambahan Serat Kawat Bendrat Berkait

Studi Eksperimental Pengujian Kuat Tekan, Kuat Tarik Belah dan Kuat Lentur pada Campuran Beton dengan Penambahan Serat Kawat Bendrat Berkait

Beton adalah bahan konstruksi yang paling banyak digunakan untuk bangunan sipil dikarenakan memiliki beberapa kelebihan. Kelemahan pada struktur beton yaitu mempunyai kuat tarik yang rendah dan bersifat getas (brittle) sehingga beton diberi tulangan baja sebagai bahan alternatifnya. Pada penelitian ini, campuran beton diberi bahan tambah serat bendrat berkait. Penambahan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh serat bendrat berkait terhadap kuat tekan, tarik belah dan kuat lentur pada beton mutu normal dengan variasi kadar serat 0%, 0,75%, 1,0% dan 1,25% dengan panjang serat 60 mm dan diameter 1 mm. Benda uji kuat tekan dan tarik belah berupa silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm berjumlah 24 buah dan benda uji kuat lentur berupa balok dengan panjang 60 cm, lebar 15 cm dan tinggi 15 cm sebanyak 12 buah. Pengujian dilakukan setelah 28 hari. Kuat tekan, tarik belah dan kuat lentur pada beton meningkat setelah diberi penambahan serat kawat bendrat berkait. Peningkatan optimum terjadi pada variasi kadar serat 0,75% dengan hasil berturut-turut sebesar 35,9336 MPa, 3,9848 MPa, dan 8,9380 MPa. Semakin banyak variasi kadar serat akan menyebabkan sulitnya pergerakan agregat sehingga semakin besar kemungkinan terjadi balling effect pada saat pengerjaan beton.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Penambahan Fiber Baja Seling dengan Volume Fraction 0,4%, 0,6% dan 0,8% terhadap Kuat Tekan dan Kuat Tarik Lentur pada Beton Mutu Normal.

Pengaruh Penambahan Fiber Baja Seling dengan Volume Fraction 0,4%, 0,6% dan 0,8% terhadap Kuat Tekan dan Kuat Tarik Lentur pada Beton Mutu Normal.

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari dan mengetahui pengaruh serat baja seling terhadap kuat tekan dan kuat tarik lentur pada beton mutu normal dengan konsentrasi serat 0,4%, 0,6% dan 0,8%. Studi ini menggunakan metode eksperimen di Laboratorium Bahan dan Konstruksi Fakultas Teknik Universitas Lampung. Benda uji kuat tekan berupa silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm dan benda uji kuat lentur berupa balok dengan panjang 40 cm, lebar 10 cm, dan tinggi 10 cm. Pengujian kuat tekan dan kuat lentur beton mutu normal dengan konsentrasi serat 0,4%, 0,6% dan 0,8% dilakukan setelah 14 dan 28 hari. Kuat tekan dan kuat lentur maksimal terjadi pada beton serat dengan konsentrasi serat 0,6% dan menurun pada konsentrasi serat 0,8%. Kuat tekan maksimal sebesar 27,5537 MPa pada konsentrasi serat 0,6% dan nilai optimum dari grafik regresi polinomial didapatkan kuat tekan sebesar 27,6028 MPa pada konsentrasi serat 0,5754%. Kuat lentur maksimal sebesar 5,6899 MPa pada konsentrasi serat 0,6% dan nilai optimum dari grafik regresi polinomial didapatkan kuat lentur sebesar 5,7163 MPa pada konsentrasi serat 0,5687%. Penambahan serat baja seling tidak memberikan kontribusi yang besar dalam peningkatan kuat tekan, sedangkan pada kuat tarik lentur, serat baja seling pada penelitian ini mempunyai kuat tarik yang tinggi, yaitu 1733,46 MPa sehingga dapat memberikan peningkatan kuat lentur yang signifikan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Studi Eksperimental Pengaruh Inklusi Baja Terhadap Perilaku Mortar-inklusi

Studi Eksperimental Pengaruh Inklusi Baja Terhadap Perilaku Mortar-inklusi

Penelitian Wahyu dan Wardhana (2016) serta Nurmalita (2016) menggunakan material inklusi berupa mortar menunjukkan bahwa semakin besar diameter inklusi maka nilai kuat tekan benda uji akan semakin menurun. Hal itu dikarenakan pada area lekatan antara inklusi dengan mortar terjadi pembesaran konsentrasi tegangan yang merupakan bagian terlemah dari benda uji tersebut. Sejauh ini inklusi yang digunakan dalam beberapa penelitian masih dalam bentuk batuan atau mortar, sedangkan pengetahuan mengenai perilaku ITZ akan inklusi dengan baja masih minim akan penelitiannya. Hal ini akan dikaji lebih lanjut dalam penelitian ini dengan menggunakan permodelan inklusi menggunakan baja tulangan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN LIMBAH BUBUTAN BAJA PADA LAPIS TIPIS CAMPURAN ASPAL PANAS TERHADAP KARAKTERISTIK KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG, KUAT TEKAN BEBAS DAN PERMEABILITAS

PENGARUH PENAMBAHAN LIMBAH BUBUTAN BAJA PADA LAPIS TIPIS CAMPURAN ASPAL PANAS TERHADAP KARAKTERISTIK KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG, KUAT TEKAN BEBAS DAN PERMEABILITAS

Pertumbuhan ekonomi menyebabkan permintaan terhadap infrastruktur jalan yang layak meningkat. Sementara kondisi perkerasan jalan terus menurun dari waktu ke waktu, sehingga perlu adanya pemeliharaan secara berkala untuk mempertahankan kondisi perkerasan yang layak. Pemeliharaan lapis permukaan jalan pada saat ini umumnya dikerjakan dengan ketebalan yang cukup tinggi, hal ini menimbulkan berbagai persoalan baru. Untuk itu dibutuhkan adanya inovasi yang salah satunya dengan lapis tipis campuran aspal panas. Dari sisi penggunaan material digunakan bahan tambah limbah bubutan baja untuk meningkatkan performa lapis tipis. Penelitian ini bersifat eksperimental di laboratorium dengan metode yang mengacu pada National Asphalt Pavement Association (NAPA), serta pembuatan campuran menggunakan gradasi North Carolina. Pengujian campuran meliputi pengujian kuat tarik tidak langsung, kuat tekan bebas dan permeabilitas pada kondisi kadar aspal optimum. Penambahan limbah bubutan baja antara 1% sampai 5 % dari berat total campuran. Setelah dilakukan analisis dengan menggunakan metode analisis regresi didapatkan pengaruh penambahan limbah bubutan baja optimum pada pengujian kuat tarik tidak langsung sebesar 3,79%, menghasilkan nilai ITS 670,111 KPa atau mengalami penurunan sebesar 25,13% dari benda uji normal dengan nilai R 2 = 0,728. Pada pengujian kuat tekan bebas didapatkan penambahan limbah
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

STUDI PENGARUH ASPEK RASIO SERAT KAWAT TERHADAP KUAT TEKAN, KUAT TARIK DAN LENTUR BETON RINGAN  STUDI PENGARUH ASPEK RASIO SERAT KAWAT TERHADAP KUAT TEKAN, KUAT TARIK DAN LENTUR BETON RINGAN.

STUDI PENGARUH ASPEK RASIO SERAT KAWAT TERHADAP KUAT TEKAN, KUAT TARIK DAN LENTUR BETON RINGAN STUDI PENGARUH ASPEK RASIO SERAT KAWAT TERHADAP KUAT TEKAN, KUAT TARIK DAN LENTUR BETON RINGAN.

Beton ringan merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi dunia konstruksi terutama pada daerah yang memiliki potensi gempa yang besar. Pembuatan beton ringan dapat dilakukan dengan cara mengganti agregat krikil dengan agregat yang lebih ringan. Namun sifat beton yang getas, mengakibatkan beton sulit untuk menahan beban yang mengakibatkan gaya lentur. Oleh karena untuk mengurangi sifat getas tersebut digunakan baja tulangan, atau dengan mencampur serat ( fiber ) pada campuran beton yang berfungsi sebagai pengikat. Penelitian ini dilakukan untuk meninjau pengaruh penambahan fiber berdasarkan variasi aspek rasio terhadap perkuatan tekan, kuat tarik dan lentur beton ringan yang menggunakan agregat kasar berupa batu apung ( pumice ).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Studi Eksperimental Kuat Lentur Pada Balok Beton Bertulang Dengan Perkuatan Baja Ringan Profil U

BAB I PENDAHULUAN - Studi Eksperimental Kuat Lentur Pada Balok Beton Bertulang Dengan Perkuatan Baja Ringan Profil U

Dengan adanya kemajuan teknologi di bidang konstruksi khususnya teknologi bahan kini telah ditemukan metode baru dalam melakukan perkuatan struktur, dengan ide dasarnya memberikan tulangan pada balok beton bertulang dari bagian luar pada daerah tarik, dengan menggunakan baja ringan profil U dengan sambungan baut.

10 Baca lebih lajut

Studi Eksperimental Kuat Lentur Pada Balok Beton Bertulang Dengan Perkuatan Baja Ringan Profil U

Studi Eksperimental Kuat Lentur Pada Balok Beton Bertulang Dengan Perkuatan Baja Ringan Profil U

diperlukan untuk mencapai keseimbangan regangan, maka penampang balok demikian disebut bertulangan lebih (overreinforced). Berlebihnya tulangan tarik menyebabkan garis netral bergeser ke bawah. Hal ini mengakibatkan beton mendahului mencapai regangan maksimum 0,003 sebelum tulangan tariknya leleh. Apabila penampang balok tersebut dibebani momen yang lebih besar lagi, yang berarti regangannya semakin besar sehingga kemampuan regangan beton terlampaui, maka akan terjadi keruntuhan dengan beton hancur secara mendadak tanpa didahului dengan gejala-gejala peringatan terlebih dahulu. Sedangkan apabila suatu penampang balok beton bertulang mengandung jumlah tulangan tarik kurang dari yang diperlukan untuk mencapai keseimbangan regangan, penampang demikian disebut bertulangan kurang (underreinforced). Sehingga tulangan tarik akan mendahului mencapai regangan lelehnya sebelum beton mencapai regangan 0,003, lendutan balok meningkat tajam sehingga dapat merupakan tanda-tanda kehancuran.
Baca lebih lanjut

218 Baca lebih lajut

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH DIAMETER DAN KUAT TEKAN INKLUSI TERHADAP KUAT TEKAN MORTAR

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH DIAMETER DAN KUAT TEKAN INKLUSI TERHADAP KUAT TEKAN MORTAR

Pada pemrograman SAP untuk benda uji dengan kuat tekan inklusi 46,80 MPa, area berwarna biru mengalami tegangan tarik sebesar 13 N/mm 2 – 32,5 N/mm 2 , area berwarna hijau mengalami tegangan tarik sebesar 0 N/mm 2 - 13 N/mm 2 , area berwarna kuning mengalami tegangan tekan sebesar 0 N/mm 2 – 13 N/mm 2 , dan area berwarna oranye mengalami tegangan tekan sebesar 13 N/mm 2 – 32,5 N/mm 2 . Berdasarkan hasil pemrograman SAP , tegangan maksimum terjadi pada daerah lekatan antara inklusi dengan mortar. Hal ini membuktikan bahwa adanya konsentrasi tegangan di daerah sekitar inklusi, selain itu juga menggambarkan penyebab retak yang terjadi pada benda uji dengan rasio kuat tekan inklusi terhadap kuat tekan mortar > 1 (36,12 MPa, 41,63 MPa, dan 46,80 MPa) disebabkan karena adanya tegangan tarik maksimum di area lekatan antara inklusi dengan mortar, seperti yang terlihat pada Gambar 11.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Sifat Tarik dan Struktur Mikro Sambungan Las Gesek Tak Sejenis Baja-Tembaga

Sifat Tarik dan Struktur Mikro Sambungan Las Gesek Tak Sejenis Baja-Tembaga

Beberapa penelitian tentang sambungan dissimilar logam fero-non fero, seperti sambungan baja-paduan alumunium [4,5], baja tahan karat-paduan alumunium [6,7,8] telah berhasil dilakukan. Struktur logam fero-paduan alumunium banyak diaplikasikan karena dapat menurunkan bobot dari struktur [9]. Selain itu juga banyak dikembangkan sambungan dissimilar logam fero-paduan tembaga agar memperoleh struktur yang kuat dan berkonduktivitas listrik dan panas yang tinggi. Beberapa penelitian yang telah dilakukan meliputi sambungan dissimilar baja-tembaga [10,11,12], baja-paduan tembaga [13,14], dan baja tahan karat- tembaga [15,16]. Jayabharath dkk. [11] menyambung silinder baja dari proses metalurgi serbuk dengan silinder tembaga menggunakan las gesek putaran konstan 1500 rpm pada berbagai variasi densitas dari silinder baja, tekanan gesek dan tekanan upsetnya. Sambungan pada silinder dengan densitas silinder baja lebih rendah dengan parameter proses yang lebih rendah memberikan sifat-sifat sambungan yang lebih tinggi dibandingkan sambungan pada baja densitas tinggi dengan parameter proses yang lebih tinggi. Sedangkan kekerasan di daerah sambungan las baik di bagian tengah maupun di bagian pinggir sambungan terukur meningkat dibanding material dasarnya karena adanya peningkatan densitas akibat penempaan pada proses pengelasan. Namun penelitian ini belum mengukur efisiensi dari sambungan. Kimura, dkk [10] meneliti lebih detil pengaruh proses paramater pengelasan (tekanan pengelasan) pada kecepatan putar 1650 rpm, terhadap fenomena proses penyambungan (temperatur dan torsi gesek) dan sifat mekanis (kekerasan dan kekuatan tarik) sambungan disimilar baja karbon rendah dengan tembaga yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum temperatur di bagian tengah sambungan (center
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

STUDI PENGARUH FAKTOR AIR SEMEN TERHADAP KUAT TEKAN, KUAT TARIK BELAH DAN KUAT LENTUR  STUDI PENGARUH FAKTOR AIR SEMEN TERHADAP KUAT TEKAN, KUAT TARIK BELAH DAN KUAT LENTUR BETON RINGAN DENGAN SERAT KAWAT.

STUDI PENGARUH FAKTOR AIR SEMEN TERHADAP KUAT TEKAN, KUAT TARIK BELAH DAN KUAT LENTUR STUDI PENGARUH FAKTOR AIR SEMEN TERHADAP KUAT TEKAN, KUAT TARIK BELAH DAN KUAT LENTUR BETON RINGAN DENGAN SERAT KAWAT.

Beton dapat dikategorikan beton ringan apabila memiliki berat jenis di bawah 1850 kg/m 3 . Salah satu cara untuk membuat beton ringan dengan cara merubah komposisi dan jenis material penyusun beton itu sendiri antara lain menggunakan batu apung sebagai pengganti agregat kasar. Secara umum beton diketahui memiliki kekurangan dalam hal kuat tarik. Biasanya digunakan tulangan baja untuk memperbaiki kelemahan tersebut, namun sangat tidak ekonomis jika digunakan dalam jumlah banyak. Salah satu alternative mengatasi hal tersebut adalah dengan menambahkan campuran serat (fiber) pada beton. Beton ringan dapat dikatakan beton ringan struktural apabila memiliki nilai kuat tekan melebihi 17,24 MPa. Penggunaan nilai faktor air semen yang tepat adalah salah satu cara untuk dapat mencapai mutu beton yang diisyaratkan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

STUDI VARIASI SUHU TERHADAP KUAT MEKANIK SAMBUNGAN ANTARA BAJA DENGAN TEMBAGA PADA PROSES FURNACE BRAZING

STUDI VARIASI SUHU TERHADAP KUAT MEKANIK SAMBUNGAN ANTARA BAJA DENGAN TEMBAGA PADA PROSES FURNACE BRAZING

Pembentukan spesimen untuk uji tarik mengacu pada standart ASTM D897 dengan bentuk sesuai Gambar 7, untuk uji belah (cleavage) mengacu pada standart ASTM D1062 dengan bentuk sesuai Gambar 8, untuk uji geser sesuai dengan standart ASTM D1002 sesuai dengan Gambar 9. Standar uji ini mengacu pada pengujian

8 Baca lebih lajut

Studi Eksperimental Kuat Geser Balok Ter

Studi Eksperimental Kuat Geser Balok Ter

Beton merupakan suatu material yang memiliki kuat tekan yang cukup tinggi, namun lemah terhadap tarik. Untuk mencegah keruntuhan beton dalam hal tarik pada umumnya beton dipadukan dengan material yang memiliki kuat tarik yang tinggi sebagai tulangan. Untuk membuat beton bertulang salah satu material yang pada umumnya digunakan sebagai tulangan adalah baja yang memiliki kekuatan tarik yang tinggi, namun harga material baja tidaklah murah. Oleh karena itu untuk dapat mendapatkan beton bertulang yang relatif lebih murah, untuk bangunan rakyat di pedesaan, digunakan alternatif penggunaan tulangan bambu. Pada penelitian ini akan dimanfaatkan tulangan Bambu Gombong (Giganthocloa pseudoarundinacea) sebagai tulangan lentur maupun tulangan geser. Berdasarkan uji tarik bambu Gombong memiliki tegangan tarik ultimit sebesar 87.5 MPa. Pengujian kuat geser balok dilakukan pada balok berukuran 20 cm x 25 cm x 160 cm dengan dua buah konfigurasi pemasangan tulangan geser, yaitu pemasangan tulangan geser vertikal dengan dua buah kaki dengan jarak tumpuan sebesar 100 cm, dan tulangan geser bambu miring dan vertikal dengan dua buah kaki dengan jarak tumpuan 120 cm. Pengujian dilakukan dengan menggunakan Universal Testing Machine (UTM) dengan dua pembebanan simetris (two point loading). Dari hasil pengujian, balok mengalami kegagalan pada beban simetris rata-rata P sebesar 54.5 kN pada balok dengan konfigurasi tulangan geser bambu vertikal, dan beban simertis rata-rata P sebesar 52.4 kN pada balok dengan konfigurasi tulangan geser miring dan vertikal. Dari penyebaran pola keretakan terlihat bahwa balok dengan konfigurasi tulangan geser vertikal mengalami kombinasi kegagalan lentur dan geser, dan balok dengan konfigurasi tulangan geser miring dan vertikal mengalami kegagalan lentur murni. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tulangan geser bambu vertikal dan miring memiliki kontribusi dalam meningkatkan kuat geser selain dari kuat geser dari beton sendiri. Dalam desain lentur kekuatannya harus direduksi dengan faktor reduksi lentur sebesar 0.52.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

STUDI PERILAKU KUAT LENTUR DAN KUAT TARIK BELAH PADA BETON BERSERAT BAJA

STUDI PERILAKU KUAT LENTUR DAN KUAT TARIK BELAH PADA BETON BERSERAT BAJA

Berikutnya akan dibahas mengenai hubungan kuat lentur dengan kadar serat, dengan terlebih dahulu mencari pengaruh kadar serat terhadap nilai kuat lentur yang didapatkan dibandingkan dengan kuat lentur dari beton normal hasil penelitian. Setelah didapatkan penambahan yang terjadi, kemudian dicari pengaruh kadar serat terhadap selisih yang didapatkan dari penelitian menggunakan metode iterasi, sampai didapatkan koefisien yang hampir sama dari pengaruh kadar yang sudah diberi koefisien terhadap semua beton berserat baja berbagai kadar. Dari cara ini didapatkan hubungan kuat lentur dengan kuat tekan yang
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Studi Eksperimental Kuat Lentur Pada Balok  Beton Bertulang Dengan Perkuatan Baja  Ringan Profil U Di Daerah Tarik

Studi Eksperimental Kuat Lentur Pada Balok Beton Bertulang Dengan Perkuatan Baja Ringan Profil U Di Daerah Tarik

Penggunaan beton bertulang pada bangunan banyak dijumpai dalam penggunaan skala kecil maupun besar. Namun saat ini banyak dijumpai bangunan yang mengalami kerusakan karena adanya kesalahan dalam perencanaan desain, pemberian beban yang berlebihan, pelaksanaan maupun pengawasan konstruksi yang salah maupun akibat terjadinya gempa. Kerugian yang dihasilkan karena adanya keruntuhan struktur pada bangunan dapat berupa kerugian materiil dan korban jiwa. Maka salah satu upaya perbaikan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada balok beton bertulang jika tulangan tariknya telah mengalami tegangan leleh adalah dengan melakukan perkuatan memakai profil baja ringan.
Baca lebih lanjut

132 Baca lebih lajut

STUDI PENGARUH VOLUME FRAKSI SERAT KAWAT TERHADAP KUAT TEKAN , KUAT TARIK BELAH , DAN  STUDI PENGARUH VOLUME FRAKSI SERAT KAWAT TERHADAP KUAT TEKAN , KUAT TARIK BELAH , DAN KUAT LENTUR BETON RINGAN.

STUDI PENGARUH VOLUME FRAKSI SERAT KAWAT TERHADAP KUAT TEKAN , KUAT TARIK BELAH , DAN STUDI PENGARUH VOLUME FRAKSI SERAT KAWAT TERHADAP KUAT TEKAN , KUAT TARIK BELAH , DAN KUAT LENTUR BETON RINGAN.

Beton ringan adalah beton yang memiliki berat jenis ( density ) lebih ringan daripada beton pada umumnya. Penggunaan serat baja telah terbukti dapat meningkatkan dan memperbaiki sifat – sifat struktural beton, ( ACI Committee 544, 1982 ) serat baja dapat memperbaiki sifat – sifat beton antara lain : daktilitas yang berhubungan dengan kemampuan bahan untuk menyerap energi, ketahanan terhadap beban kejut, ketahanan terhadap keausan, dan ketahanan terhadap pengaruh susutan ( shrinkage ).

15 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects