Top PDF Tanggap Varietas Kacang Hijau Terhadap Cekaman Salinitas

Tanggap Varietas Kacang Hijau Terhadap Cekaman Salinitas

Tanggap Varietas Kacang Hijau Terhadap Cekaman Salinitas

ABSTRAK. Tanggap varietas kacang hijau terhadap cekaman salinitas dievaluasi pada percobaan pot di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, Malang pada bulan Juli hingga September 2012. Perlakuan terdiri atas dua faktor yang disusun dalam rancangan acak kelompok, diulang empat kali. Faktor I adalah enam tingkat salinitas air, yaitu kontrol (DHLw 0,5 dS/m), 4,0, 7,1, 10,1, 13,1, dan 15,8 dS/m. Faktor II adalah 10 varietas kacang hijau, yaitu Vima 1, Kutilang, Sampeong, Perkutut, Murai, Kenari, Sriti, Merpati, Betet, dan Walet. Pengamatan meliputi hasil dan komponen hasil, biomas tanaman, indeks kandungan klorofil (IKK), tinggi tanaman, luas daun, dan kandungan air relatif daun (KARD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan salinitas air meningkatkan salinitas tanah (DHLs). Peningkatan salinitas tidak berpengaruh terhadap luas daun, tetapi nyata menurunkan bobot kering akar, IKK, jumlah polong isi, jumlah biji/polong, bobot polong dan biji kering/tanaman, dan bobot 100 biji. Peubah-peubah tersebut
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Respons Aksesi Plasma Nutfah Kacang Hijau terhadap Cekaman Kekeringan

Respons Aksesi Plasma Nutfah Kacang Hijau terhadap Cekaman Kekeringan

keringan memiliki umur masak 63 hari, tinggi ta- naman 49 cm, jumlah polong 15 buah per tanaman, dan jumlah biji 9 butir/polong. Ukuran biji varietas Fore Lotu tergolong agak besar, yaitu 5,96,0 g/100 biji. Data karakter agronomis tersebut secara umum menyamai atau lebih tinggi dari rerata 50 genotipe yang diuji (Tabel 5). Varietas lokal Fore Lotu bersama 10 varietas kacang hijau terbaik dari hasil pengujian ini telah ditanam di lahan petani di 4 desa di Kabupaten Kupang untuk dimurnikan dan dipelajari daya hasil dan adaptasinya. Diharapkan dari hasil penelitian ini akan diperoleh 1 varietas lokal (Fore Lotu) yang berdaya hasil tinggi dan memiliki prospek untuk dilepas menjadi varietas unggul lokal NTT, serta satu atau lebih varietas unggul nasional kacang hijau atau varietas lokal dari provinsi lain yang berdaya hasil tinggi dan beradaptasi baik di Provinsi NTT.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Seleksi kacang tanah (Arachis hypogaea L.) lokal Bangka toleran cekaman salinitas

Seleksi kacang tanah (Arachis hypogaea L.) lokal Bangka toleran cekaman salinitas

Seleksi cekaman salinitas kacang tanah dilakukan untuk mendapatkan tetua yang toleran terhadap salinitas dan memperbaiki sifat kacang tanah dalam kegiatan pemuliaan tanaman. Informasi genotip unggul kacang tanah toleran terhadap salinitas sangat diperlukan sebagai dasar pemilihan genotip tetua yang adaptif pada lahan salin. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kacang tanah yang memiliki sifat toleran cekaman salinitas dan menentukan konsentrasi air laut yang dapat ditoleransi oleh tanaman. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Penelitian, Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi, Universitas Bangka Belitung, pada bulan Februari–April 2018. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola split plot dengan 2 ulangan. Petak utama adalah tingkat salinitas yaitu non-salin (kontrol), salinitas rendah, dan salinitas sedang. Anak petak adalah 5 genotip kacang tanah yaitu aksesi lokal (Belimbing dan Arung dalam) dan varietas nasional (Tuban, Kancil, dan Hypoma). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Hypoma memiliki karakter jumlah daun dan diameter batang yang paling baik, namun tidak toleran terhadap cekaman salinitas sedang. Aksesi Belimbing merupakan genotip toleran salinitas rendah berdasarkan nilai indeks toleransi cekaman salinitas.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

UJI KEMAMPUAN DAYA HASIL GALUR MUTAN KACANG HIJAU TERHADAP KETAHANAN CEKAMAN

UJI KEMAMPUAN DAYA HASIL GALUR MUTAN KACANG HIJAU TERHADAP KETAHANAN CEKAMAN

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 aksesi kacang hijau sebagai perlakuan dan diulang 3 kali. 12 Aksesi kacang hijau adalah 11 galur kacang hijau yaitu Psj-CT-5-96, Psj-CT-10-96, Psj-CT-11-96, Psj- CT-25-96, Psj-CT-26-96, Psj-BII-17-3-96, Psj-BII-17-5-96, Psj-BII-17-6-96, Psj- RAS-LM 16, Psj-RAS-LM 22, Psj-RAS-LM 20 dan satu varietas Perkutut. Hasil percobaan menunjukkan bahwa dari 11 galur kacang hijau mutan dan satu varietas Perkutut yang diuji menunjukkan perbedaan nyata pada variabel pengamatan tinggi tanaman, umur berbunga, umur masak, jumlah biji per tanaman, berat biji per petak, produksi per hektar dan berat 1000 butir, sedangkan pada variabel jumlah polong per tanaman menunjukkan perbedaan tidak nyata. Psj-RAS-LM 22 merupakan galur berpenampilan baik dengan sifat-sifat antara lain jumlah biji per tanaman 167 biji, berat biji per petak 2.633 kg, produksi per hektar 1.367 ton dan berat 1000 bijinya 63.0 g
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Respon Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Padi (Oryza Sativa L.) Terhadap Pemberian Asam Askorbat Dalam Cekaman Salinitas

Respon Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Padi (Oryza Sativa L.) Terhadap Pemberian Asam Askorbat Dalam Cekaman Salinitas

yang merupakan ion penting bagi tanaman. Kelarutan garam yang tinggi dapat menghambat penyerapan (up take) air dan hara oleh tanaman seiring dengan terjadinya peningkatan tekanan osmotik. Secara khusus, kegaraman yang tinggi menimbulkan keracunan tanaman, terutama oleh ion Na + dan Cl - . Studi mengenai respon tanaman terhadap salinitas penting dalam usaha teknik penapisan (screening) tanaman yang efektif. Salinitas mempengaruhi proses fisiologis yang berbeda-beda. Pada tanaman pertanian seperti jagung, kacang merah, kacang polong, tomat dan bunga matahari, pertumbuhan dan berat kering mengalami penurunan jika tanaman ditumbuhkan dalam media salin. Pada kacang merah, pelebaran daun terhambat oleh cekaman salinitas karena berkurangnya tekanan turgor sel. Berkurangnya pelebaran daun dapat berakibat berkurangnya fotosintesis maupun produktivitas (Mahmood dkk, 2000).
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

Deskripsi Varietas Unggul Kacang-kacangan dan Umbi-umbian kedelai kacang tanah kacang hijau kacang tunggak kacang gude ubikayu ubijalar

Deskripsi Varietas Unggul Kacang-kacangan dan Umbi-umbian kedelai kacang tanah kacang hijau kacang tunggak kacang gude ubikayu ubijalar

Varietas unggul merupakan komponen teknologi yang paling cepat diadopsi petani, karena mudah, murah, dan kompatibel dengan teknologi lain. Dengan digunakannya varietas unggul, berarti sebagian masalah produksi seperti kemasaman, kahat atau ketidakseimbangan hara, serta cekaman hama/penyakit telah atau lebih mudah diatasi. Selain menghasilkan varietas dengan produktivitas tinggi, pemuliaan tanaman juga memberikan perhatian terhadap sifat-sifat khusus tanaman, seperti toleransi terhadap tanah dan iklim yang tidak optimal, serta toleransi terhadap hama dan penyakit. Perkembangan permintaan pasar juga semakin mendapat perhatian. Dewasa ini, permintaan pasar terhadap produk untuk pangan fungsional dan sehat, semakin besar. Varietas-varietas unggul yang dihasilkan juga semakin mengarah kepada hal-hal tersebut.
Baca lebih lanjut

170 Baca lebih lajut

Invigorasi Benih untuk Memperbaiki Perkecambahan Kacang Panjang (Vigna unguiculata Hask. ssp. sesquipedalis) pada Cekaman Salinitas

Invigorasi Benih untuk Memperbaiki Perkecambahan Kacang Panjang (Vigna unguiculata Hask. ssp. sesquipedalis) pada Cekaman Salinitas

Perlakuan priming dengan pasir memberikan hasil lebih baik dibanding matriconditioning dengan serbuk gergaji, meskipun hanya berbeda nyata pada bobot kering kecambah normal; masing-masing dengan nilai 0.65 g untuk priming dengan pasir dan 0.53 g untuk matriconditioning dengan serbuk gergaji (Tabel 5). Perlakuan priming dengan pasir mampu meningkatkan daya tumbuh sebanyak 33.33% dibandingkan kontrol (Tabel 3); dan meningkatkan kecepatan tumbuh sebesar 1.72%/etmal dibanding kontrol (Tabel 4). Hu et al. (2006) menyatakan priming dengan pasir secara nyata meningkatkan daya tumbuh pada dua varietas alfalfa, pada perlakuan cekaman 0.8% NaCl. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa priming dengan pasir mampu meningkatkan aktivitas enzim-enzim pertahanan, yaitu enzim katalase, peroksidase, dan superoksida dismutase. Ilyas et al. (2002) mengemukakan bahwa pada benih cabe merah, total protein meningkat 16% pada perlakuan matricon- ditioning dengan serbuk gergaji yang dilembabkan dengan 100μ M GA 3 . Khususnya pada benih bervigor
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Invigorasi Benih untuk Memperbaiki Perkecambahan Kacang Panjang (Vigna unguiculata Hask. ssp. sesquipedalis) pada Cekaman Salinitas

Invigorasi Benih untuk Memperbaiki Perkecambahan Kacang Panjang (Vigna unguiculata Hask. ssp. sesquipedalis) pada Cekaman Salinitas

Pada percobaan pertama, faktor percobaan adalah varietas kacang panjang yaitu varietas 777 dan Landung Super, dan konsentrasi NaCl pada media tanam yaitu 0% (kontrol), 0.25%, 0.5%, 0.75%, 1.0%, 1.25%, 1.5%, 1.75%, 2.0% (w/v) NaCl. Penanaman dilakukan dengan metode uji kertas digulung didirikan dalam plastik (UKDdp), menggunakan lima lembar kertas merang ukuran folio yang dilembabkan dengan 50 ml larutan NaCl, konsentrasi sesuai perlakuan. Pengecambahan dilakukan dalam alat pengecambah benih tipe IPB 72-1. Benih yang telah dikecambahkan diamati dengan tolok ukur daya tumbuh, indeks vigor, dan kecepatan tumbuh. Berdasarkan data tersebut ditentukan konsentrasi NaCl yang memberikan cekaman untuk digunakan sebagai media tanam cekaman salinitas pada percobaan kedua.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Efek Aplikasi Osmoconditioning Pada Benih Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Kedelai (Gylcine max L.) Dalam Kondisi Cekaman Salinitas

Efek Aplikasi Osmoconditioning Pada Benih Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Kedelai (Gylcine max L.) Dalam Kondisi Cekaman Salinitas

Perbedaan Varietas Kacang Kedelai Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Dari hasil analisis statistik diperoleh bahwa perlakuan varietas berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan 3 HST hingga 5 HST, tinggi tanaman 2 MST hingga 6 MST, bobot basah tajuk, bobot basah akar, bobot kering tajuk, bobot kering akar, bobot kering biji per tanaman per tanaman dan bobot 100 biji. Terjadinya perbedaan yang beragam dari masing-masing varietas ini disebabkan karena adanya perbedaan genetik pada kedua varietas tanaman. Perbedaan genetik ini mengakibatkan setiap varietas memiliki ciri dan sifat khusus yang berbeda satu sama lain sehingga akan menunjukkan keragaman penampilan. Seperti yang dikemukakan oleh Sitompul dan Guritno (1995) bahwa perbedaan susunan genetik merupakan salah satu faktor penyebab keragaman penampilan tanaman. Program genetik yang akan diekspresikan pada suatu fase pertumbuhan yang berbeda dapat diekspresikan pada berbagai sifat tanaman yang mencakup bentuk dan fungsi tanaman yang menghasilkan keragaman pertumbuhan tanaman. Keragaman penampilan tanaman akibat perbedaan susunan genetik selalu mungkin terjadi sekalipun bahan tanaman yang digunakan berasal dari jenis yang sama.
Baca lebih lanjut

146 Baca lebih lajut

Respon Tiga Varietas Kacang Hijau (Vigna radiata L.)  terhadap Kapasitas Lapang

Respon Tiga Varietas Kacang Hijau (Vigna radiata L.) terhadap Kapasitas Lapang

perkembangan suatu tanaman. Air merupakan faktor utama yang berperan dalam proses fisiologi tanaman serta bagian dari protoplasma dan menyusun 85-90% dari berat keseluruhan jaringan tanaman. Tanaman dalam satu siklus hidupnya terdapat periode di mana tanaman peka terhadap cekaman kekeringan, periode tersebut dinamakan periode kritis. Periode kritis cekaman kekeringan pada tanaman kacang hijau pada waktu perkecambahan, menjelang berbunga dan menjelang pengisian polong (Hartiwi et al., 2017). Apabila terjadi cekaman kekeringan pada periode tersebut dapat menyebabkan tanaman tidak tumbuh optimal bahkan mati. Hal itu dikarenakan terganggunya proses fotosintesis dan terhambatnya pertumbuhan ujung dan akar. Sehingga akar tidak dapat menyerap minerat atau unsur hara dari dalam tanah. Berdasarkan hal tersebut perlu adanya upaya peningkatan hasil kacang hijau dengan penelitian ketersediaan air dengan melalui pengambilan sampel kapasitas lapang dan menguji beberapa varietas.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Studi Karakter Beberapa Varietas Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.) Turunan Kelima

Studi Karakter Beberapa Varietas Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.) Turunan Kelima

Berdasarkan uji statistik untuk pengamatan panjang polong (lampiran 37) diketahui bahwa varietas berbeda nyata terhadap panjang polong. Dari rataan (lampiran 36) diperoleh bahwa panjang polong tertinggi terdapat pada varietas Kenari yaitu 10,55 cm dan panjang polong yang terendah terdapat pada varietas Betet yaitu 8,84 cm. Dari hasil pengamatan data bahwa panjang polong berkisar antara 6 - 15 cm. Terjadinya perbedaaan panjang polong antara keenam varietas ini dapat disebabkan dari tanggap genotip terhadap lingkungan. Hal ini sesuai dengan literatur dari Andrianto dan Indarto (2004) yang menyatakan bahwa polongnya berbentuk silindris dengan panjang antara 6 - 15 cm dan berbulu pendek. Dan Allard (2005) menyatakan bahwa Gen-gen dari tanaman tidak dapat menyebabkan berkembangnya suatu karakter terkecuali bila mereka berada pada lingkungan yang sesuai, dan sebaliknya tidak ada pengaruhnya terhadap berkembangnya karakteristik dengan mengubah tingkat keadaan lingkungan terkecuali gen yang diperlukan ada.
Baca lebih lanjut

134 Baca lebih lajut

Perbaikan Varietas Unggul Kacang Hijau Tahan Penyakit Embun Tepung dan Bercak Daun

Perbaikan Varietas Unggul Kacang Hijau Tahan Penyakit Embun Tepung dan Bercak Daun

tanaman menyerbuk sendiri, bahkan penyerbu- kan terjadi pada malam hari sebelum bunga mekar (Singh, 1982), sehingga kemungkinan terjadinya penyerbukan silang rendah sekali yaitu sekitar 4–5% (Fernandez dan Shanmuga- sundaram, 1988). Pada prinsipnya perbaikan varietas untuk tanaman menyerbuk sendiri dilakukan dengan introduksi, seleksi, dan hibridisasi (Poehlman, 1977). Perbaikan varietas kacang hijau di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) selain dilakukan dengan hibridisasi juga dengan introduksi galur-galur dari mancanegara yang selanjutnya dievaluasi daya hasil maupun ketahanannya terhadap cekaman lingkungan yang bersifat biotik.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

TANGGAP TANAMAN KACANG TANAH TERHADAP PE

TANGGAP TANAMAN KACANG TANAH TERHADAP PE

Ameliorasi adalah salah satu cara untuk menga- tasi masalah salinitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ameliorasi terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah pada tanah salin. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Balit- kabi pada bulan Maret – Juni 2014. Penelitian meng- gunakan rancangan acak kelompok faktorial. Faktor I adalah dua tingkat salinitas tanah (tanah dengan DHL 2,0–2,3 dS/m dan DHL 2,8–3,2 dS/ m). Faktor II adalah pemberian amelioran (kontrol, 120 kg K 2 O/ha, 2,5 t/ha dolomit, 2,5 t/ha gipsum, 2,5 t/ha pupuk kandang). Varietas kacang tanah yang digunakan adalah Domba (tipe Valencia). Peubah yang diamati meliputi tinggi tanaman, bobot kering tajuk dan akar, indeks kandungan klorofil, hasil dan komponen hasil, analisis tanah sebelum tanam dan sesudah panen serta analisis tanaman saat panen. Hasil penelitian menunjukkan pertum- buhan kacang tanah terhambat dan gagal memben- tuk polong meskipun pada perlakuan salinitas rendah (2,0–2,3 dS/m). Pemberian amelioran 120 kg/ha K 2 O, dolomit, gipsum, dan pupuk kandang dengan dosis 2,5 t/ha meningkatkan kandungan hara K, Ca, dan Mg serta memperbaiki keseim- bangan K/Na, Ca/Na, dan Mg/Na, tetapi tidak efektif memperbaiki pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Berdasarkan data tersebut, tampaknya diperlukan pencucian garam di daerah perakaran untuk me- nurunkan tingkat salinitas agar sesuai untuk per- tumbuhan tanaman.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Respon Pertumbuhan Dan Produksi Kacang Hijau (Vigna Radiata L.) Hasil Mutasi Radiasi Sinar Gamma Terhadap Salinitas

Respon Pertumbuhan Dan Produksi Kacang Hijau (Vigna Radiata L.) Hasil Mutasi Radiasi Sinar Gamma Terhadap Salinitas

Pada dasarnya radiasi dapat merusak makhluk hidup, namun kalau dosis radiasi yang diberikan pada benih tepat maka induksi mutasi pada generasi berikutnya akan terjadi. Jika radiasi yang diberikan terlalu rendah maka benih yang diradiasi tidak berubah, dan sebaliknya jika radiasinya terlalu tinggi maka benih-benih tersebut akan mati. Dengan radiasi yang optimal maka akan menaikkan frekwensi mutasi sebesar 100.000 kali. Dosis optimal untuk induksi mutasi bervariasi menurut materi tanaman, varietas tanaman, dosis radiasi sinar gamma yang digunakan. Dengan dosis di bawah 5 krad, frekwensi mutasi berkurang, sedang pada dosis lebih dari 25 krad radiasi terlalu tinggi dan banyak organisme yang mati (Sudrajat dan Zanzibar, 2009).
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

Respons Tanaman Kedelai, Kacang Tanah, dan Kacang Hijau terhadap Cekaman Salinitas

Respons Tanaman Kedelai, Kacang Tanah, dan Kacang Hijau terhadap Cekaman Salinitas

Cekaman salinitas menyebabkan ketidak- seimbangan hara (Rogers et al. 2003; Hu dan Schmidhalter 2005). Kandungan Na pada daun meningkat, unsur K juga meningkat tetapi Na ditransfer ke jaringan dalam jumlah lebih besar daripada K (Hirpara et al. 2005). Meningkatnya konsentrasi Na + dalam tanah menurunkan kandungan K + dan Ca 2+ jaringan tanaman (Hu dan Schmidhalter 2005; Asch et al. 2000). Rendahnya penyerapan Ca 2+ oleh tanaman dapat mengganggu aktivitas dan integritas membran sel serta mendorong akumulasi Na + dalam jaringan tanaman. Rendahnya nisbah Ca 2+ /Na + akibat tingginya ion Na menghambat pertumbuhan dan menyebabkan perubahan morfologi dan anatomi tanaman (Cakmak 2005). Penurunan konsentrasi kalium (K) dalam jaringan tanaman mungkin disebabkan oleh antagonisme penyerapan Na dan K pada akar sehingga menghambat penyerapan K, terham- batnya transport K dalam xylem. Kalium ber- peran penting sebagai katalisator berbagai enzim. Berkurangnya K menyebabkan aktivitas enzim seperti nitrat reduktase yang mengubah Tabel 2. Klasifikasi salinitas air
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

ANALISIS KETAHANAN 10 GENOTIPE KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) ASAL PROVINSI RIAU TERHADAP CEKAMAN SALINITAS

ANALISIS KETAHANAN 10 GENOTIPE KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) ASAL PROVINSI RIAU TERHADAP CEKAMAN SALINITAS

Media tanam yang digunakan pada penelitian ini yaitu campuran tanah, pasir dan pupuk kandang sapi dengan perbandingan volume 2:1:1 (Dachlan et al. 2013). Campuran media tanam tanah, pasir dan pupuk kandang sapi di masukkan ke dalam polibag dengan ukuran 8 kg. Polibag masing-masing diisi sebanyak 3 biji kacang hijau. Pemberian NaCl terlebih dahulu dilakukan dengan melarutkan 7 g/LNaCl ke dalam air sebanyak 1000 mL. Setelah itu sebanyak 330 mL dari 7 g/L larutan garam disiram ke tanaman dengan interval penyiraman lima hari sekali saat tanaman mulai berbunga.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Evaluasi Toleransi Genotipe Kacang Hijau terhadap Cekaman Salinitas

Evaluasi Toleransi Genotipe Kacang Hijau terhadap Cekaman Salinitas

Evaluasi sumber daya genetik untuk salinitas dapat dilakukan di rumah kaca atau di lapang dengan jumlah aksesi yang lebih sedikit. Singh dan Singh (2011) mengemukakan bahwa skrining lapang adalah cara yang tepat untuk evaluasi plasma nutfah dan bahan pemuliaan terhadap cekaman abiotik. Pada pengujian di rumah kaca, galur kacang hijau F3 memberikan respon yang beragam terhadap salinitas, dari toleran hingga sangat peka (Trustinah et al., 2016). Cekaman salinitas berat sejak awal pertumbuhan menyebabkan sedikit tanaman yang mampu bertahan hidup hingga panen dan sedikit menghasilkan polong. Pada cekaman berat setelah tanaman berkecambah, tanaman masih dapat tumbuh hingga panen, postur lebih tinggi, dan sebagian besar menghasilkan polong rata-rata 2 polong per tanaman (Trustinah et al., 2016). Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi toleransi genotipe kacang hijau terhadap cekaman salinitas.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Evaluasi Toleransi Genotipe Kacang Hijau terhadap Cekaman Salinitas

Evaluasi Toleransi Genotipe Kacang Hijau terhadap Cekaman Salinitas

terletak di dekat pantai, salinitas telah menjadi masalah serius dalam produksi tanaman pangan di Indonesia. Hal ini disebabkan masuknya air laut akibat bencana alam seperti tsunami, dan intrusi air laut akibat pengaruh pasang surut air laut. Dampak salinitas semakin parah pada musim kemarau. Salinitas menyebabkan tanaman mengalami nekrosis dan klorosis, serta berakibat menurunkan bahan kering dan hasil (Naher dan Alam, 2010, Kumar et al., 2012, Sehrawat et al.,

7 Baca lebih lajut

Tanggap Fisiologis dan Hasil Biji Berbagai Genotipe Kedelai terhadap Cekaman Salinitas

Tanggap Fisiologis dan Hasil Biji Berbagai Genotipe Kedelai terhadap Cekaman Salinitas

tanaman mati sebelum pengisian polong berakhir. Pengukuran toleransi terhadap cekaman salinitas salah satunya dapat dilakukan dengan melihat persentase penurunan hasilnya dibandingkan hasil biji pada kondisi optimal. Persentase penurunan hasil biji semakin meningkat dengan peningkatan kadar salinitas serta terjadi variasi persentase penurunan hasil biji pada semua genotipe yang diuji (Gambar 1). Pada tingkat salinitas 5,8 dS/m, hasil biji genotipe G4 dan G7 turun hingga 56,6% dibanding kontrol. Pada varietas Wilis, Tanggamus, Gema, genotipe G5, G6, dan G9 terjadi penurunan hasil biji sebesar 31,3– 47,4%. Persentase penurunan biji paling sedikit terjadi pada genotipe G8, G10, dan G11 yaitu 25,6–26,8%. Pada tingkat salinitas 8,4 dS/m, genotipe yang menga- lami penurunan hasil <56% hanya genotipe G5, G8, G10, dan G11, sedangkan genotipe lainnya meng- alami penurunan hasil biji di atas 56%. Pada tingkat salinitas 12,2 dS/m, genotipe G8 dan G11 meng-
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Kajian Pertumbuhan dan Produksi Varietas Jagung Lokal dan Kacang Hijau dalam Sistem Tumpangsari

Kajian Pertumbuhan dan Produksi Varietas Jagung Lokal dan Kacang Hijau dalam Sistem Tumpangsari

Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi varietas jagung dan kacang hijau yang tepat dalam sistem tumpangsari terhadap produksi dan untuk mengetahui Nisbah Kesetaraan Lahan dalam sistem tumpangsari. Penelitian ini dilakukan di Desa Paso Kota Ambon. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah varietas jagung, yaitu: varietas hibrida BISI-2, varietas lokal biji ungu, varietas lokal biji putih. Faktor kedua adalah: varietas kacang hijau, yaitu: varietas Murai, varietas lokal biji merah dan varietas lokal biji hijau kusam. Tiap perlakuan diulangi tiga kali ditambah enam perlakuan monokultur sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas jagung dan kacang hijau dalam sistem tumpangsari berpengaruh nyata terhadap komponen pertumbuhan dan komponen hasil tanaman jagung dan kacang hijau. Jagung BISI-2 menghasilkan jumlah biji per baris, berat 100 biji dan berat biji per petak, jumlah polong per tanaman dan jumlah polong berisi. Kombinasi perlakuan K1J1 menghasilkan berat biji untuk tanaman jagung sebesar 7,63 ton/ha dan kacang hijau 0,73 ton/ha. Nisbah Kesetaraan Lahan tertinggi (4,07) dihasilkan pada kombinasi perlakuan J1K1.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects