Top PDF UNGKAPAN TRADISIONAL JAWA TENGAH

UNGKAPAN TRADISIONAL JAWA TENGAH

UNGKAPAN TRADISIONAL JAWA TENGAH

Ungkapan tradisional ini mengandung arti positip yaitu seseorang untuk berhati-hati dalam bertindak. Sifat perlahan­ lahan nampaknya merupakan sifat dasar yang diilhami oleh sifat "narima" atau menerima apa adanya yang merupakan pola hidup orang Jawa. Namun ditekankan pula agar kita ber­ hati-hati dalam bertindak, dengan harapan yang penting ialah bahwa hasil yang dicapai tidak mengecewakan. Sikap berhati­ hati ini sudah tentu wajib kita laksanakan dalam menghadapi sesuatu masalah. Jangan sampai kita terburu napsu dalam meng­ ambil suatu keputusan yang menentukan, misalnya keterburuan yang tercermin dalam ungkapan "kebat kliwat" ( cepat tetapi terlewatkan), yang justru bisa berakibat kerugian besar bagi kita. Sikap atau tind.akan "kebat kliwat" yang maknanya merupakan kebalikan dari makt\a ungkapan "alon-alon waton �elakon" ini, jelas merupakan cerminan sikap kurang cermat dalam mem­ perhitungkan sesuatu. Suatu perhitungan yang tidak cermat, yang misalnya dikarenakan hanya demi mengejar target waktu yang telah ditetapkan, akan menghasilkan hasil akhir yang tidak memenuhi sasaran dan harapan. Dengan demikian maka ter­ jadilah kesia-siaan dana, waktu dan tenaga.
Baca lebih lanjut

190 Baca lebih lajut

POLITIK IDENTITAS JAWA-CINA  POLITIK IDENTITAS JAWA-CINA Kajian Atas Ungkapan Tradisional “Jawa Safar Cina Sajadah” Yang Terdapat Pada Tradisi Lisan Jawa.

POLITIK IDENTITAS JAWA-CINA POLITIK IDENTITAS JAWA-CINA Kajian Atas Ungkapan Tradisional “Jawa Safar Cina Sajadah” Yang Terdapat Pada Tradisi Lisan Jawa.

Bagi masyarakat Jawa yang memiliki struktur masyarakat berlapis dan tertutup, pola merupakan sebuah elemen yang mendasari keyakinan atas cara pandang hidup. Dengan mempelajari pola, seseorang dapat merangkai sebuah pola baru yang bisa menjadi bekal untuk membaca pergerakan demi pergerakan ke depan. Hal ini sesungguhnya dilandasi oleh ide pengkapsulan alam kedalam cara berpikir, dimana pola alam yang memiliki ritme diterapkan pada berbagai sendimentasi kehidupan pribadi dan juga saat merumuskan kehidupan sosial. Karena itulah, tujuan ketentraman dalam masyarakat Jawa adalah pola keseimbangan; antara alam dengan manusia, antara publik dan privat.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

DESKRIPSI SUBYEK PENELITIAN  POLITIK IDENTITAS JAWA-CINA Kajian Atas Ungkapan Tradisional “Jawa Safar Cina Sajadah” Yang Terdapat Pada Tradisi Lisan Jawa.

DESKRIPSI SUBYEK PENELITIAN POLITIK IDENTITAS JAWA-CINA Kajian Atas Ungkapan Tradisional “Jawa Safar Cina Sajadah” Yang Terdapat Pada Tradisi Lisan Jawa.

Tidak dapat dipungkiri, meskipun Pembaharuan Islam berjalan diberbagai lapisan tetapi paling tidak ia tidak bisa dikatakan berhasil melakukan transformasi ketika berhadapan dengan sistem berbasa. Bahwa terdapat banyak perbendaharaan kosakata baru itu patut dibenarkan namun tidak terdapat perombakan berarti dalam kelas berbasa. Masyarakat Jawa mengenal tiga ragam dasar tingkat berbahasa, yakni ngoko, kromo dan kromo inggil. Dalam relasi sosial ketiganya jelas tidak dapat disejajarkan karena penggunaannya berkait dengan status sosial seseorang. Banyak hukum tak tertulis yang mengatur pemakaian bahasa ini secara konvensional dan sampai hari ini orang Jawa masih tetap menggunakannya. Untuk melihat bagaimana gambaran tentang klasifikasi berbasa dalam relasi sosial ini Lombard (2000-3: 60), mengutip Suma Oriental yang ditulis Tomé Pires pada awal abad ke-16, “Tidak ada tempat lain di dunia yang sifat angkuhnya menonjol sedahsyat di Jawa yang mempunyai dua bahasa, yang satu dipakai oleh kaum bangsawan dan yang lain oleh rakyat. (...) Bukan soal kesopanan seperti pada bangsa kita, tetapi lain nama sutu benda di kalangan bangsawan, lain lagi di kalangan rakyat”
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Surat Tugas Workshop penciltaan Seni Rupa 2012

Surat Tugas Workshop penciltaan Seni Rupa 2012

Desa Wisata Turi menawarkan sewa rumah satu kamar permalam, perminggu, atau perbulan. Selain sewa dilengkapi dengan rumah makan yang bisa dipesan berupa makanan daerah setempat seperti gudek, selain itu juga ada hidangan karaoke gratis bagi pengunjung. Selain itu pada saat pengunjung dalam jumlah tertentu cukup banyak bisa disajikan sapi dan pembajaknya secara demonstrative diperuntukkan buat pengunjung. Selain itu alat tradisional dalam masak-memasak makanan di daerah Jawa Tengah/ Daerah Istimewa Yogyakarta juga dipajang dalam salah satu teras ruangan yang dinamakan ruang tradisional alat masak-memasak. Tidak ketinggalan ruang sidang atau ruang pertemuan juga disediakan yang bisa disewa dengan ruangan yang cukup luas 6x8 meter luasnya.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

KOMPLEKS SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL JAWA TENGAH DI SURAKARTA

KOMPLEKS SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL JAWA TENGAH DI SURAKARTA

Konfigurasi ruang atau bagian-bagian rumah orang Jawa di desa membentuk tatanan tiga bagian linier belakang. Bagian depan pendopo, di tengah peringgitan dan yang paling belakang dan terdalam adalah dalem. Pada konfigurai ruang rumah Jawa dikenal adanya dualisme (oposisi binair) antara ruang luar dan dalam, antara kiri dan kanan, antara daerah istirahat dan daerah aktivitas, antara spirit laki-laki (tempat placenta yang biasanya diletakkan sebelah kanan) dan spirit wanita (tempat placenta yang biasanya diletakkan pada bagian kiri), sentong kanan dan sentong kiri, dan lain-lain. Pembagian dua ini juga terjadi pada saat pagelaran wayang dimana layar diletakkan di sepanjang peringgitan, dalang dan perangkatnya serta penonton laki- laki di bagian pendapa sedangkan perempuan menonton dari bagian belakang (melihat bayangan wayang dari belakang kelir).
Baca lebih lanjut

220 Baca lebih lajut

MODEL PENINGKATAN KEMAMPUAN BEREMPATI MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL JAWA TENGAH PADA ANAK KETURUNAN ETNIS JAWA-TIONGHOA

MODEL PENINGKATAN KEMAMPUAN BEREMPATI MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL JAWA TENGAH PADA ANAK KETURUNAN ETNIS JAWA-TIONGHOA

Menurut Wibowo (2000), minoritas etnis Cina di Indonesia telah menguasai 70-80 persen perekonomian Indonesia. Begitu penting persoalan etnis Cina di Indonesia, sehingga memunculkan isu mengenai ‘permasalahan Cina’ (Habib, 2004). Masyarakat Jawa juga menganggap etnis Cina sebagai permasalahan karena keberadaan dan sikapnya dirasa mengancam eksistensinya. Anggapan ini dibuktikan oleh terjadinya serangkaian kekerasan yang melibatkan kedua etnis. Seperti halnya di Surakarta peristiwa-peristiwa kekerasan antara etnis Jawa-Cina telah berlangsung begitu lama, yaitu sejak awal berdirinya kota Surakarta hingga saat ini peristiwa-peristiwa kekerasan masih tetap berlangsung.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK RUMAH TINGGAL TRADISIONAL DI DAERAH PEGUNUNGAN JAWA TENGAH

KARAKTERISTIK RUMAH TINGGAL TRADISIONAL DI DAERAH PEGUNUNGAN JAWA TENGAH

tahu secara tepat berapa usia rumah tersebut karena dibangun oleh orang tuanya yang sudah meninggal. Rumah yang belum pernah menggalami renovasi dan tidak mempunyai jendela kaca. Pada ruang tamu terdapat dipan yang terbuat dari bambu dan lantai terbuat dari tanah. Rumah tinggal ini hanya mempunyai satu kamar dan tidak mempunyai ruang tengah. Saka terbuat dari papan kayu jati untuk bagian depan terbuat dari kayu senggon jawa sedangkan dinding bagian samping kanan kiri terbuat dari anyaman bambu. Reng terbuat dari bambu dan atap dari genteng. Teralis jendela depan terbuat dari kayu yang diukir. Pintu merupakan pintu lipat sebanyak enam lipatan, plafon terbuat dari anyaman bambu. Hal ini dikarenakan pada jaman dulu kayu dan bambu masih mudah didapat serta harga murah. Kamar mandi masih terpisah hanya dengan menggunakan sekat plastik hitam. Ada mitos yang berkembang bahwa apabila ada orang yang pintar sekali di dusun tersebut pasti akan menggalami kecelakaan. Hal ini dimaksudkan bahwa orang pintar tidak boleh sombong dengan menunukkan kepintarannya secara berlebihan. Dusun Sawit masih kental dengan tradisi kejawen dengan ditandai digunakannya sesajen jajanan pasar dan dan ingkung ayam jawa sebelum mendirikan rumah dan harus mencari waktu yang baik (sahat). Sebagian rumah warga sudah modern semi permanen, hanya sebagian saja yang masih terbuat dari bahan kayu total. Mayoritas warganya bercocok tanam dan buruh lepas, sebagian merantau keluar kota.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

UNGKAPAN TRADISIONAL YANG BERKAITAN DENGAN SILA-SlA DALAM PANCASI.A DAERAH JAMBI

UNGKAPAN TRADISIONAL YANG BERKAITAN DENGAN SILA-SlA DALAM PANCASI.A DAERAH JAMBI

Ungkapan ini melambangkan makna kepahlawanan. Ada­ lah lebih terhormat mati dalam medan pertempuran daripada hidup nikmat di tengah cengkeraman penjajah. Kaum pen-. jajah pandai mengelabui rakyat suatu negeri yang dijajahnya. Bagi seorang patriot kehidupan yang demikian sungguh sa­ ngat melukai hatinya. Ia menyaksikan betapa pihak penjajah menguras kekayaan negerinya. Tontonan itu tidak menarik. Oleh sebab itu lebih baik mengangkat senjata. Kalaupun mati di dalam perjuangan, maka mati itu lebih baik daripada me­ nonton menyaksikan penjajah berbuat sekehendak hatinya. Di kalangan masyarakat pendukungnya, ungkapan ini amat populer. Ia dikenal tidak hanya di kalangan orang­ orang tua, tetapi juga di kalangan orang-orang muda. Namun harus diingat pemakaiannya sudah meluas untuk maksud yang lain. Di kalangan anak-anak muda ungkapan ini dituju­ kan kepada kekasih yang mengingkari cinta. Karena kekasih­ nya dipersunting oleh orang lain, maka ia rela meninggalkan kampung halaman dan tidak kembali lagi sampai akhimya mati di rantau orang.
Baca lebih lanjut

196 Baca lebih lajut

PUBLIKASI ILMIAH Museum Ukir Tradisional Jawa Tengah Di Jepara Pendekatan Pada Ekspresi Ruang.

PUBLIKASI ILMIAH Museum Ukir Tradisional Jawa Tengah Di Jepara Pendekatan Pada Ekspresi Ruang.

Berbagai kesenian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia dengan keunikanya menciptakan suatu potensi bagi bangsa Indonesia untuk lebih memperhatikan dan melestarikan ketrradisionalan yang memiliki keragaman dan keunikan tersendiri. Sebagai bangsa yang memiliki keanekaragaman kebudayaan dengan keunikan – keunikan yang khas tersendiri di dalamnya, maka seyogyanya pengelolaan pelestarian warisan nenek moyang dan pemanfaatan diperlukan pada ketradisionalan bangsa. Oleh karena itu, pengelompokan berbagai produk tradisional bangsa serta informasi sejarah mengenai tradisional bangsa Indonesia membutuhkan suatu tempat yang dapat memberikan dan menyuguhkan informasi termasuk pengetahuan yang lengkap akan pentingnya pelestarian kebudayaan bangsa dengan ketradisionalan di dalamnya yang memiliki keunikan tersendiri dan juga sebagai Landmark atas berbagai ketradisionalan bangsa Indonesia yang beraneka ragam.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  POLITIK IDENTITAS JAWA-CINA Kajian Atas Ungkapan Tradisional “Jawa Safar Cina Sajadah” Yang Terdapat Pada Tradisi Lisan Jawa.

PENDAHULUAN POLITIK IDENTITAS JAWA-CINA Kajian Atas Ungkapan Tradisional “Jawa Safar Cina Sajadah” Yang Terdapat Pada Tradisi Lisan Jawa.

Ungkapan tradisionalJawa Safar Cina Sajadah” dipercaya bicara mengenai relasi Jawa-Cina dalam fase atau periode sejarah yang sama seperti dikemukakan di atas. 8 Awalnya, penyusun mendengar ungkapan itu beberapa waktu lalu di Jakarta dalam sebuah diskusi terbatas. 9 Perbincangan dimulai dengan membaca relasi awal Jawa-Cina sampai dengan perkembangan Cina kini, dimana sebagai negara-bangsa, Cina mampu melewati masa kritis dan bahkan berkembang menjadi satu kekuatan besar di dunia. Perbincangan kemudian ditarik hingga titik terjauh seperti terbangunnya jalur niaga di Asia Tenggara, berdirinya Dinasti Ming menggantikan kekuatan Mongol, masuknya Cina perantauan ke Jawa, hingga falsafah hidup masyarakat Cina. Perbincangan akhinya mengerucut pada simpul karakter dasar identitas: sifat.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

DISPORAPAR PROV JATENG 1.17.01.08.21.06

DISPORAPAR PROV JATENG 1.17.01.08.21.06

Koordinasi Seni Luar Daerah 1 tahun Festival Seni Tradisional Jawa Tengah: 1 kegiatan 0 orang HASIL Festival Seni Tradisional Jawa Tengah: 1 kegiatan 375 orang Festival Seni Jawa Teng[r]

21 Baca lebih lajut

Ungkapan Tradisional Jawa Dalam Organisasi Pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate

Ungkapan Tradisional Jawa Dalam Organisasi Pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate

Pengertian ungkapan dalam benntuk kalimat, juga dibatasi dalam kalimat yang mengandung pesan, amanat, nasihat atau petuah, yang didalamnya berisi nilai dan moral dari masyarakat petuturnya. 1) Yang dimaksud kalimat yang berbentuk ungkapan tradisional mengandung pesan, artinya dalam susunan kata dalam arti keseluruhannya ada arti yang dibawa, agar dikemudian hari deiteladani oleh generasi yang akan datang atau pendengarnya. 2) Ungkapan tradisional yang mengandung nasihat atau petuah, yaitu susunan kata dalam artian seluruhnya ada dorongan untuk mengikuti idea vital yang dimisikan dari ungkapan tradisional tersebut.3) Dalam kaitan bahwa ungkapa tersebut berisi nilai etik dan moral, artinya didalam susunan kata pada ungkapan tradisioanal ada seperangkat nilai yang mengajarkan kebaikan dan keluhuran budi pekerti manusia yang dipandang dari segi norma yang berlaku (Seogeng dalam Herawati 2009:25).
Baca lebih lanjut

172 Baca lebih lajut

8. Kramanisasi Seks dalam Kehidupan Orang Jawa melalui Ungkapan Tradisional, Jurnal HUmaniora FIB UGM, Terakreditasi dikti, Vol.

8. Kramanisasi Seks dalam Kehidupan Orang Jawa melalui Ungkapan Tradisional, Jurnal HUmaniora FIB UGM, Terakreditasi dikti, Vol.

Realita demikian juga diakui oleh Bu Kar (1981:39), seorang pengasuh rubrik Dari Hati Ke Hati' majalah Femina bahwa selama lebih dari setengah abad berkenalan ia hidup di bumi, belum pernah diberi `penerangan seks' oleh orang tuanya. Dia juga merasa belum pernah mendengar ungkapan tradisional Jawa dari urang tuanya sebagai wahana pengungkapan seks. Padahal, ia berpendapat manakala penjelasan tentang seks ini bisa menyentuh usia remaja, terlebih lagi menggunakan ungkapan tradisional yang tepat, mungkin akan terhindarkan drama tragis kehidupan rumah tangga. Di sinilah pentingnya orang tua untuk lebih terbuka dan meniadakan `pola lama' yang menganggap masalah seks sebagai hal yang jorok, tidakwajar, dan tabu.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

LEKSIKON TUMBUHAN DALAM PERIBAHASA JAWA (KAJIAN ETNOLINGUISTIK)

LEKSIKON TUMBUHAN DALAM PERIBAHASA JAWA (KAJIAN ETNOLINGUISTIK)

Penelitian selanjutnya yang diacu oleh penelitian ini adalah tesis milik Raudloh (2012) dari Universitas Diponegoro yang berjudul Sesanti Bahasa Bima yang Menggunakan Leksikon Binatang (Sebuah Kajian Etnolinguistik). Penelitian Raudloh (2012) dalam tesisnya tersebut membahas tentang ungkapan tradisional/peribahasa masyarakat Bima Nusa Tenggara Barat yang disebut dengan sesanti. Raudloh (2012) melalui penelitiannya ini bermaksud menggali proses terbentuknya sesanti terkait dengan keseharian masyarakat Bima yang memiliki pengaruh besar dalam pembentukannya sebab sesanti bagi masyarakat Bima merupakan salah satu wujud bagaimana pola pikir masyarakat Bima secara nyata. Raudloh (2012) tidak hanya sebatas meneliti pengaruh budaya masyarakat Bima dalam proses pembentukan sesanti saja, melainkan juga mencari makna metaforis dari leksikon nama binatang yang digunakan sebagai pembentuk peribahasa/sesanti masyarakat Bima tersebut.
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

etno judul dan Latar belakang

etno judul dan Latar belakang

. Jika diterjemahkan secara harafiah berbunyi teratur, damai, makmur, nasib baik. Khusus kata teratur sebenarnya memberi pernyataan kesanggupan untuk memberi kehidupan, memelihara suatu kerapian yang sempurna. Orang Jawa yakin bahwa dengan mempertahankan hal tersebut akan terhindar dari kekacauan tidak akan terjadi. Ungkapan tradisional Jawa sebagai suatu media, sudah barang tentu mempunyai nilai yang baik dan tidak baik. Di sini ungkapan yang mempunyai nilai tidak baik berlaku sangat relatif, berhubungan dengan ruang waktu berlakunya. Nilai yang baik dijadikan pegangan sedangkan yang tidak baik dikesampingkan. Nilai yang mengandung fungsi pokok sebagai penegak norma sosial yang dipergunakan untuk pegangan perilaku masyarakat. Makna yang ada dalam ungkapan tradisional yang dimiliki orang Jawa bersifat metafora dan ada yang secara wajar atau lugu, semuanya dapat diperlajari dengan seksama sehingga dapat dipergunakan untuk melihat aspek kehidupan masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu peneliti memilih ungkapan tradisional Jawa sebagai topik pembahasan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

ABSTRAKSI Museum Ukir Tradisional Jawa Tengah Di Jepara Pendekatan Pada Ekspresi Ruang.

ABSTRAKSI Museum Ukir Tradisional Jawa Tengah Di Jepara Pendekatan Pada Ekspresi Ruang.

Dengan segala hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul MUSEUM UKIR TRADISIONAL JAWA TENGAH DI JEPARA Pendekatan Pada Ekspresi Ruang Meskipun banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.

23 Baca lebih lajut

T1 152009023 Daftar Pustaka

T1 152009023 Daftar Pustaka

Ungkapan Tradisional Sebagai Sumber Informasi Kebudayaan Daerah Jawa Tengah.. Buku Pintar Budaya Jawa.[r]

2 Baca lebih lajut

UNGKAPAN TRADISIONAL YANG BERKAITAN DENGAN SILA-SILA DALAM PANCASIA DAERAH KHUSUSIBUKOTAJAKARTA

UNGKAPAN TRADISIONAL YANG BERKAITAN DENGAN SILA-SILA DALAM PANCASIA DAERAH KHUSUSIBUKOTAJAKARTA

Ada sejumlah masalah tentang ungkapan tradisional sebagai salah satu aspek budaya, sehingga mendorong Pemerintah untuk melaksanakan penginventarisasian dan pendokumentasian Ung­ kapan Tradisional dalam l kaitannya dengan sila-sila dalam Pancasila. Sebagaimana diketahui, dialek Betawi atau dialek Me­ layu Betawi yang berasal dari Bahasa Melayu telah berkembang sedemikian pesat. Dialek ini menjadi bahasa pergaulan di Jakarta dan sekitarnya. Dialek ini dipergunakan sebagai bahasa pergaulan yang terasa lebih akrab dalam pergaulan di samping pemakaian bahasa Indonesia. Ungkapan tradisional Betawi yang merupakan salah satu unsur budaya masyarakat Jakarta, tidak dapat dile­ paskau dari Dialek Betawi. Kebudayaan Nasional yang berdasar­ kan kebudayaan daerah, juga mengenal ungkapan. Dari pergaulan sehari-hari maupun literatur-literatur yang ada, dapat diketahui bahwa Masyarakat Betawi juga mengenal ungkapan tradisional, walaupun tidak sekaya ungkapan dalam masyarakat Minang. Mengingat kota Jakarta telah berkembang menjadi kota metro­ politan dan pintu gerbang utama Indonesia, dan menjadi kota nasional yang dipadati oleh seluruh suku bangsa yang ada di In­ donesia. Mereka ini juga membawa adat dan budayanya semula, maka penduduk dan budaya Betawi atau Jakarta menjadi ter­ desak. Masyarakat Betawi semakin tersingkir dan terpencar serta bercampur aduk dengan pendatang baru. Hal semacam ini kurang menguntungkan perkembangan budaya Betawi. Terlalu banyak saingan, baik dari budaya asing maupun daerah-daerah lainnya yang terdapat di Jakarta. Sampai berapa jauh masyarakat Betawi merniliki ungkapan tradisional yang ada kaitannya dengan sila­ sila dalam Pancasila, dan bagaimana pula perkembangannya pada saat ini akan dapat diketahui setelah diteliti nanti.
Baca lebih lanjut

145 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...