• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adab-adab D alam Beker ja dan Ber kar ya

K eutam aan Ber kar ya dan

3. Adab-adab D alam Beker ja dan Ber kar ya

d. Memudahkan Terkabulnya Doa

Pada dasar n ya, naf k ah t er bai k adal ah naf k ah yan g didapatkan dari hasil usahanya sendiri. Nafkah yang halal dan baik, baik berupa makanan, pakaian, ataupun tempat tinggal, merupakan sarana agar doa diterima Allah Swt.

Sabda Rasulullah Saw yang artinya: “…Selanjutnya, beliau ber cer it a t ent ang seor ang laki-laki yang ber ada di dalam perjalanan yang sangat panjang, hingga pakaian-nya lusuh dan berdebu. Laki-laki itu lantas menengadah-kan dua tangannya ke at as l angi t dan ber doa, “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku..”, sement ar a it u makanan yang dimakannya adalah har am, minuman yang diminumnya adalah haram, dan pakaian yang dikenakannya adalah haram; dan ia diber i makanan dengan makanan-makanan yang har am. Lantas, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?.” [HR Muslim]

Hadis ini menerangkan bahwa sebab diterimanya doa adalah nafkah yang halal dan baik. Jika makanan, pakaian, dan tempat tinggal seseorang berasal dari nafkah yang haram, niscaya doanya tidak akan dikabulkan Allah Swt.

Gambar: Bekerja ikhlas, bukan sekadar demi uang

Sumber: httpyudhiapr.blogdetik.com Dal am beker j a dan ber karya, I sl am t el ah

menggaris-kan sejumlah et ika (adab) yang harus diperhat ikan oleh seorang M uslim. Adab-adab dalam bekerja dan berkarya adalah sebagai berikut:

a. Beker ja Dengan Niat I khlas Kar ena Allah

Bekerja adalah ibadah. Setiap ibadah harus selalu dilandasi dengan niat ikhlas semat a-mat a untuk mencari rida Allah. Sebab, bekerja bukan sekadar untuk mendapatkan harta, akan tetapi, juga menjadi sarana untuk mendekat kan diri kepada- Nya. Fi r m an Al l ah Swt yang ar t i nya: “M aka ber ibadahlah kepada Allah dengan memur nikan ketaatan kepada-Nya”. [ QS Az-Zumar (39): 2] .

b. Amanah Dalam Beker ja

Dal am beker j a dan ber kar ya seseor ang har us sel al u memperhatikan dan memenuhi semua akad yang berhubungan dengan pekerjaannya, mulai dari waktu, tempat, jenis pekerjaan, kompensasi, dan lain sebagainya. Perintah untuk memenuhi akad-akad telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dan sunnah.

Di dalam al-Qur’an, Allah Swt berfirman, yang art inya:

“Hai or ang-or ang yang ber iman, penuhilah akad-akad itu.” [ QS Al-M aidah (5): 1] . “Dan or ang-or ang yang memelihar a amanat -amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” [ QS Al- Ma’ rij (70): 32]

Kewajiban memenuhi amanah dan janji juga disebut kan di dal am sun nah. Dal am sebuah r i wayat di t u t u r k an , bahwasanya Rasulullah Saw bersabda yang art inya: “Tanda or ang munafik itu ada tiga, yaitu,”Bila ber kata ia dusta, bila ber janji ia menyelisihi, dan bila diper caya ia ber khianat.” [ HR Bukhari dan Muslim] .

c. Tidak Ber laku Cur ang atau Khianat

Dalam bekerja dan berkarya seorang Muslim dilarang berlaku curang dan khianat. Larangan ini bersifat umum, mencakup orang yang bekerja di inst ansi pemerint ah maupun swasta.

Imam Abu Dawud meriwayatkan hadis dari ‘Abdull h bin Buraidah, dari bapaknya, bahwas Rasulullah Saw ber sabda yang ar t i nya: “ Bar angsi apa yang kami peker jakan untuk mengerjakan suatu peker jaan, dan kami telah memberi-kan upahnya, maka apa yang diambilnya selain itu adalah suatu kecurangan.” [HR Abu Dawud].

d. Tidak Mer ampas Hak Or ang Lain

Harta dan darah seorang Muslim adalah terjaga. Seorang M usl im t idak boleh merampas har t a maupun kehormat an saudara Muslimnya yang lain. Jika seseorang berprofesi at au melakukan suatu pekerjaan yang berakibat pada terampasnya hart a at au kehormat an saudaranya yang lain, maka ia t elah berbuat kezaliman.

Di dalam banyak hadis, Rasulullah Saw telah mengingat- kan kaum Muslim untuk tidak menganiaya atau merampas hak orang lain. Tatkala di Haji Wada’ Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “Sesungguhnya dar ahmu, har tamu, dan kehor matan dir imu itu har am diganggu, sebagaimana har amnya har imu ini di bulanmu ini, dan di neger imu ini. I ngatlah, bukankah aku telah menyampaikannya? ” [ HR Bukhari dan Muslim] .

Gambar: Menyontek, berlaku curang

e. Tidak Menipu dan Ber dusta

Adab bekerja yang lain adalah t idak menipu dan berdusta dalam pekerjaan. Adab ini tampaknya sangat ringan dan sepele. Namun demikian, banyak orang yang tidak bisa keluar dari kebiasaan menipu dan berdusta, lebih- lebih lagi, tatkala seseorang dituntut untuk menyelesaikan pekerj aannya, sement ar a i t u, ia t i dak mungki n bisa menyelesaikannya tepat waktu. Dalam kondisi semacam ini, berdust a dan menipu menjadi semacam alt ernat if, bahkan keharusan untuk menyelamatkan diri. Padahal, berdusta termasuk perbuatan haram.

Dar i I bnu M as’ud Ra di ki sahkan, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya ber dusta itu membaw a kepada kej ahat an dan sesungguhny a kejahat an itu membaw a ke ner aka; or ang yang suka berdusta itu akan selalu bohong sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” [HR Bukhari dan Muslim].

Gambar: Tera ulang timbangan dapat mencegah penipuan

Sumber: http://www.antarafoto.com

f. Tidak Ber sumpah Palsu

Seorang Muslim wajib menjauhi sumpah palsu. Sebab, sumpah palsu termasuk perbuatan dosa. Biasanya, sumpah palsu dilakukan untuk menyakinkan at asan, klien, dan rekan kerja. Sumpah palsu kadang-kadang juga digunakan unt uk unt uk menutupi kesalahan, atau untuk meraih tujuan-tujuannya.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari Al-Asy’ats bin Qais, bahwasanya ia berkata, yang artinya: “Aku memiliki sebuah sumur yang terletak di tanah anak pamanku. Lalu kami memint a keadilan kepada Rasulullah Saw. Beliau bersabda,”Dua or ang saksi dar imu at au sumpah dar inya.” Aku menj aw ab, “Dia ber sumpah dan t idak menghir aukan sel ai n ny a.” Bel i au ber sabda,” Bar angsi apa mel akukan sumpah yang dengannya dia mengambil sebagian dar i har ta seor ang Muslim, maka dia akan ber temu dengan Allah, sedang Dia mur ka kepadanya.” [ HR Bukhari]

Gambar: Stop suap

Sumber: http://farm3.static.flickr .com

g. Tidak Mengambil Suap

Dalam bekerja dan berkarya, seorang Muslim harus menghindari pr akt ek suap (risyw ah). Biasanya, suap di lakukan unt uk memangkas birokr asi , menghi ndari sank si at au denda, m en dapat k an t en der , dan l ai n sebagainya. Padahal, suap adalah perbuatan haram, baik yang menerima maupun yang melakukannya.

I mam Abu Dawud menuturkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah Ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, yang ar t i n ya: “Rasul ul l ah mel ak nat peny uap dan pener ima suap.” [ HR Abu Dawud] .

h. Tidak Mengeksploitasi Kecantikan dan Ketampanan

I slam melar ang seseorang mempeker jakan or ang lain untuk dieksploitasi kecantikan dan ketampanannya. Pasalnya, pekerjaan yang mengeksploit asi kecantikan dan ketampanan bi sa menj adi wasi l ah menuju kehar aman. Seor ang har us dipekerjakan berdasarkan kemampuan kerjanya.

Diriwayatkan dari Rafi’ bin Rifa’ah, bahwasanya Rasulullah Saw t el ah mel ar ang kami mempeker j akan budak -budak per empuan kami, kecuali apa yang dihasi lkan ol eh kedua t angannya. Raf i ’ ber kat a, “ Yang di ker j akan t anganny a misalnya adalah membuat r oti, mencuci, dan memahat.”

i . Tidak Menggibah

Dalam bekerja, seorang Muslim juga harus menjauhi gibah. Sebab, gibah adalah perbuatan keji dan menjijikkan. Sayangnya, sekarang ini, gibah malah dijadikan profesi unt uk menger uk keunt ungan sebanyak -banyaknya. Padahal Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan gibah. Allah Swt berfirman yang artinya:

Hai or ang-or ang yang ber iman, jauhilah kebanyakan dar i pr asangka, sesungguhnya sebagian pr asangka itu adal ah dosa dan j angan l ah kamu m en car i -car i kesalahan or ang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing (gibah) sebagian yang lain. Sukakah, sal ah seor an g di ant ar a kamu m em akan dagi n g saudar anya sendir i yang telah mati? Maka tentulah kamu mer asa jijik kepadanya. Dan ber taqw alah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pener ima Taubat lagi Maha Penyayang.” [ QS Al-Hujur t (49) :12] .

j . Tidak Ber khalw at dan Tabar r uj

Banyak pekerjaan yang menuntut adanya interaksi antara laki- laki dan wanita. Keadaan tersebut tentunya memberikan celah yang sangat lebar bagi laki-laki dan wanita untuk melakukan tabar r uj, dan khalwat. Padahal, I slam telah melarang dengan tegas dua aktivitas tersebut.

Berkaitan dengan khalw at, Rasulullah Saw bersabda, yang artinya: “Bar angsiapa yang ber iman kepada Allah dan har i Akhir , hendaklah tidak melakukan khalw at dengan seor ang w ani t a y ang t idak diser t ai dengan m ahr amnya, kar ena sesungguhnya yang ketiganya adalah setan.” [ HR Tirmi i]

Adapun berkait an dengan larangan t abar r uj, Allah Swt Gambar: Stop gibah

Sumber: http://ahmadfarisi.files. wordpress.com

berfirman, yang art inya: “Per empuan-per empuan t ua yang t elah ber hent i dar i haid dan kehami lan yang t idak i ngin meni kah l agi , t i dakl ah dosa at as mer eka menanggal kan pakaian mer eka tanpa ber maksud menampakkan per hiasan- nya (ber tabar r uj).” [QS An-N r (24):60] .

Khalw at, menurut bahasa Arab bermakna bersepi-sepi. Adapun yang dimaksud berkhalwat adalah bersepi-sepi nya seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya, di suat u t empat . Sedangkan t abar r uj adalah, menampakkan perhiasan dan kecantikannya kepada orang-orang yang bukan mahram. Jika seorang per empuan menampakkan per hiasan dan kecant i kan nya t er hadap or ang l ak i -l aki yang buk an mahramnya, maka ia telah melakukan tabar r uj.

k. Tidak Beker ja dan Ber kar ya yang Ber tentangan dengan Akidah dan Syar iat I slam

Seorang Muslim dilarang bekerja dan berkarya yang bisa bertentangan dengan tauhid. Misalnya, bekerja sebagai peramal dan dukun, propagandis ide-ide sesat , dan lain sebagainya. Seorang Muslim juga dilarang menghasilkan karya-karya yang ber t ent angan dengan aqidah dan syar i at I sl am; mi sal nya membuat patung, lukisan makhluk hidup, lukisan porno, atau membuat simbol-simbol agama selain I slam.

Dari I bnu, dia berkata, yang art inya: “Rasul ullah Saw ber sabda,”Bar angsi apa menggambar suat u gambar dar i sesuatu yang bernyaw a di dunia, maka dia akan diminta untuk meniupkan r uh kepada gambar nya it u kelak di har i akhir , sedangkan di a t i dak kuasa unt uk meni upkanny a.” [ H R Bukhari] .

Dari ‘Ali Ra, ia berkata, “Rasulullah Saw sedang melaw at jenazah, lalu beliau ber kata, “Siapakah di antara kamu yang mau per gi ke Madinah, maka janganlah ia membiar kan satu ber hala pun kecuali dia menghancur kan-nya, tidak satupun kuburan kecuali dia ratakan dengan tanah, dan tidak satupun gambar kecuali dia melumurinya? Seorang laki-laki berkata, “Saya, w ahai Rasulullah .” ‘Ali ber kata, “Penduduk Madinah mer asa takut dan or ang itu ber angkat, kemudian kembali lagi. Lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, tidak aku biar kan satu ber hala pun kecuali aku hancur kan, tidak satupun kubur an kecuali aku r atakan, dan tidak satu pun gambar kecuali aku lumur i ”. Rasul ul lah ber sabda,”Bar angsiapa kembal i lagi membuat sesuatu dar i yang demikian ini, maka ber ar ti dia telah kafir terhadap apa yang ditur unkan kepada Muhammad Saw .”