Kehar usan M engikuti N ab
A. Pengertian Taubat dan Raja ’
1. Penger tian dan H ukum Taubat
Menurut bahasa Arab, taubat bermakna al-in bah w al iql ’
(kembali dan mencabut). Sedangkan menurut istilah para ulama,
t aubat adal ah kembal i kepada Al l ah unt uk mendapat kan ampunan-Nya dengan cara meninggalkan kemaksiatan.
Hukum bertaubat atas segala kemaksiatan adalah wajib. Allah Swt berfirman:
“Hai or ang-or ang yang ber iman, ber t aubatlah kepada Allah dengan taubat an nasuh (taubat yang semur ni-mur ninya). M udah- mudahan Rabbmu akan menut upi kesal ahan - kesal ahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di baw ahnya sungai-sungai, pada har i ketika Allah t i dak menghinakan Nabi dan or ang-or ang mukmin yang ber sama dia; sedang cahaya mer eka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mer eka, sambil mer eka mengat akan:
Doa Menuntut Ilmu
Ya Allah, jadikanlah semua yang Engkau ajarkan kepada kami bermanfaat bagi kami, dan ajarkanlah kepada kami semua yang bermanfaat bagi kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami
ﺎــﻤﻠﻋً ْ ِ
ﺎــﻧدزَ
ْ
ِ َوﺎﻨﻌـــﻔﻨﻳﺎﻣَ ُ
َ
ْ
َ
َ
ﺎﻨﻤـــﻠﻋوَ
ْ
ِّ
َ
َ
ﺎﻨﺘـــﻤﻠﻋَ
َ
ْ
َّ
َ َﺎــﻤﺑِﺎــﻨﻌﻔﻧاَ
ْ َْ
َّ ُ
ـــﻠﻟأّ َ
Y± ayyuhal-la©³na ±manμ tμbμ ilall±hi taubatan na¡μ¥±(n), ‘as±
rabbukum ay yukaffira ‘ankum sayyi’±tikum wa yudkhilakum jann±tin tajr³ min ta¥tihal-anh±r(u), yauma l± yukhzill±hun-nabiyya
wal-la©³na ±manμ ma‘ah(μ), nμruhum yas‘± baina aid³him wa
bi’aim±nihim yaqμlμna rabban± atmim lan± nμran± wagfir lan±,
“Ya Rabb kami, sempur nakanl ah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [ QS At-Ta r m (66): 8]
I mam Qur ubi ber pendapat , ayat di at as merupakan perint ah All ah kepada hamba-Nya unt uk melakukan taubat. Setiap orang diwajibkan untuk bertaubat atas dosa-dosanya dalam setiap waktu dan kondisi.
Taubat yang di t er i ma Al l ah Swt adal ah t aubat nasuha. Para ‘ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan
taubatan nasuha. Sebagian ulama mengartikan taubatan nasuha dengan,” t i dak mengul an gi dosa set el ah ber taubat; sebagaimana susu tidak akan pernah kembali pada kambingnya”. Ada pula yang mengartikan taubatan nasuha dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Gambar: Bergegaslah bertaubat
Sumber: http3.bp.blogspot.com
I slam memberikan tuntunan atau tata cara bertaubat. Tata cara t aubat dit ent ukan oleh jenis dosa yang dilakukan oleh seorang hamba. Dosa yang dilakukan manusia dibagi menjadi dua macam. Pertama, dosa karena melanggar hak-hak Allah; dan kedua, dosa karena melanggar hak manusia.
Berkenaan dengan dosa karena melanggar hak-hak Allah, menurut I mam Nawawi tata cara taubatnya harus memenuhi tiga syarat , yait u:
1. bergegas meninggalkan dosa yang dilakukan 2. adanya penyesalan di dalam hati
3. harus bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut. Jika dalam pelanggaran itu ada kewajiban untuk meng-qa a’
atau membayar kafarat, maka taubatnya belum sempurna hi ngga qa a’ dan kaf ar at di t u nai kan. Cont oh nya, pelanggaran terhadap sumpah yang disengaja. Orang yang melanggar sumpah, selain harus melaksanakan tiga hal di I mam Qur ubi mengut ip pendapat Al-H asan, “Nasuha adal ah membenci dosa-dosa y ang ser i ng di l akukanny a, kemudian memohon ampunan kepada Allah ketika ia sadar ”.
Al-Kalabi ber kat a, “ Taubat an nasuha adal ah peny esal an dalam hati, memohon ampun dengan lisan, menjauhkan dar i dosa, dan dengan suka hati tidak akan mengulangi lagi”.
Menurut I mam I bnu Jarir at-Tabari, QS At-Tahr m (66):8 adalah peri nt ah unt uk meni nggal kan perbuat an dosa dan kembal i t aat kepada All ah, ser t a kembali kepada apa yang diridai oleh Allah Swt”. Beliau melanjutkan, “Yang dimaksud dengan taubatan nasuha adalah meninggalkan dosa dan tidak akan per nah mengulangi lagi selamanya.”
Dari pendapat-pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa taubatan nasuha adalah sebuah sikap seseorang terhadap perbuatan dosanya dengan penyesalan dalam hat i, memohon ampunan-Nya, dan bert ekad unt uk t idak mengulangi dosa tersebut selamanya. Sikap t ersebut dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
at as, di a j uga ber kewaj iban membayar kafar at
(denda) atas pelanggaran sumpah.
Kafar at pelanggar an sumpah bisa dipilih sebagai berikut ; (1) memberi makan, (2) memberi pakaian, (3) memerdekakan budak. Jika tidak mampu melaksanakan tiga hal ini, dia wajib berpuasa selama tiga hari [ QS Al- Maidah (5):89]
Jika pelanggaran it u berhubungan dengan hudud, dosanya ak an di ampun i j i ka t i ga hal di at as t el ah di penuhi, dan gugur l ah ad (hukuman at as udud).
udud ada enam macam , (1) zina dan homosex, (2) pencurian, (3) minum khamer, (4) hir abah, (5) qazaf
(menuduh orang lain berbuat zina), dan (6) murtad.
Gambar: Lafaz bertaubat kepada-Nya
Sumber: httpwww.ezsoftech.com
ad untuk zina adalah dijilid sebanyak 100 kali bagi pezina
gair u muh an, dan dirajam bagi pezina muh an. ad untuk pencurian adalah sanksi pot ong t angan. ad unt uk minum khamer adalah dijilid sebanyak 40 kali. ad unt uk hir abah
(pelaku kerusakan di muka bumi) adalah dipotong tangan dan kakinya secara bersilangan, diberi hukuman mati, dan disalib.
ad unt uk qazaf adalah dijilid sebanyak 80 kali. Sedangkan
ad untuk murtad adalah hukuman mati.
Jika peminum khamer hendak bertaubat, maka dia harus melaksanakan tiga hal di atas dengan sebenar-benarnya. Lalu, apakah dia harus meminta hukuman jilid sebanyak 40 kali, sebagai
ad atas dosa meminum khamer? Menurut I mam Syafi’i, jika seseorang melanggar dosa yang terkategori hududnya Allah, maka taubatnya akan diterima dan ad atas dirinya gugur, jika dia telah menjalankan tiga hal di atas, sebelum tertangkap oleh pemerintah. Namun, jika ia tertangkap dan belum sempat bertaubat, maka
ad akan dijatuhkan atas dirinya. Ketentuan ini didasarkan firman Allah Swt, yang artinya:
“ Sesungguhnya pembal asan t er hadap or ang-or ang y ang memer angi Allah dan Rasul-Nya dan membuat ker usakan di muka bumi, hanyalah mer eka di bunuh at au disali b, at au dipotong tangan dan kaki mer eka dengan ber silangan; atau dibuang dari neger i tempat kediamannya. Yang demikian itu, sebagai penghinaan unt uk mer eka di dunia, dan di akhir at mereka memperoleh siksaan yang besar. Kecuali, orang-orang yang ber t aubat (diant ar a mer eka) sebelum kamu ber hasil menangkap mer eka; maka ketahuilah bahw asanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS Al-Maidah (5): 33-34]
Adapun dosa yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap hak-hak anak Adam, maka t at a car a t aubat nya adal ah melaksanakan tiga syarat yang telah disebutkan di at as, dan ditambah dengan syarat keempat, yaitu, mengembalikan hak- hak orang yang dia zali mi, dan memint a maaf kepadanya. Misalnya, jika seseorang hendak bertaubat dari dosa merampas
2. Penger tian dan H ukum Ra ja ’
Menurut bahasa Arab, raja‘ adalah al-amāl (harapan), lawan dari putus asa. Sedangkan menurut istilah para ulama,
r aja‘ adalah berbaik sangka kepada Allah. Tanda berbaik sangka kepada Allah adalah mengharapkan rahmat, jalan keluar, ampunan dan pertolongan dari-Nya.
harta orang lain, maka ia harus melaksanakan tiga syarat di atas, serta harus meminta maaf dan mengembalikan harta yang dia rampas kepada pemiliknya.
Gambar: Minta maaf atas pelanggar- an hak anak Adam
Sumber: http3.bp.blogspot.com Allah Swt mewajibkan r aja‘ dan berbaik sangka kepada-
Nya, sebagaimana Allah mewajibkan kaum Muslim untuk selalu t aku t kepada- N ya. W aj i bnya ar -r aj a’ t el ah di t et apkan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan ber jihad di jalan Allah, mer eka itu menghar apkan r ahmat All ah, dan Allah M aha Pengampun lagi M aha Penyayang”. [QS Al-Baqarah (2): 218]
Allah Swt juga berfirman, yang artinya:“Or ang-orang yang mereka ser u itu, mereka sendir i mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mer eka yang lebih dekat (kepada Allah) dan menghar apkan r ahmat -Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhny a azab Tuhanmu adalah suat u y ang (har us) ditakuti”. [QS Al-Isr ’ (17): 57]
Sedangkan dal am sun nah, ban yak r i wayat t el ah mewajibkan r aja’. Diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh I mam Ahmad dari Wasi lah bi n Asqa, bahwasanya i a ber kat a, “ Ber bah agi al ah kar en a sesungguhnya ak u t el ah mendengar Rasulullah Saw bersabda:
“Allah ber fir man, “Aku ter gantung pada pr asangka hamba- Ku kepada-Ku. Apabila ia ber pr asangka baik kepada-Ku, maka kebai kan bagi ny a, dan bi l a ber pr asangka bur uk m aka kebur ukan baginya” [ HR Ahmad dengan sanad hasan dan I bnu Hibban dalam kitab sahihnya]
ﻦـــﻇنا يﺪـــﺒﻋﻦﻇﺪـــﻨﻋﺎﻧأﻼﻋوﻞـــﺟﷲالﺎـــﻗ
َّ
َ
ْ ِ ْ ِ ِ ْ َ
ِّ ََ
ْ ِ َ ََ
َ
َ َّ َ
ُ
َ َ
ــﻓاﺮــﺷﻦــﻇنا
ــﻓاﲑــﺧ
ُ
َ
َ
ًّ َ َّ َ
ْ ِ
ُ
َ
َ
ً ْ
َ
I mam Tirmi i menut urkan sebuah hadi dari Anas Ra sesungguhnya Nabi Saw masuk untuk menemui seorang pemuda yang sedang sakaratul maut; lalu Rasulullah Saw bersabda, yang ar t i nya:
“Bagai mana k eadaan mu? Pemuda i t u m en j aw a, “Ya Rasulullah saw .! Aku menghar apkan r ahmat Allah dan aku sangat t akut akan dosa-dosaku.” Kemudian Rasulullah saw . ber sabda, “Tidaklah takut dan r aja` ber kumpul dalam hat i seor ang hamba dalam keadaan seper ti ini kecuali Allah akan member ikan kepadanya apa-apa yang dihar apkannya, dan akan member ikan keamanan kepadanya dar i per kar a yang ditakutinya.” [ HR Tirmi i dan I bnu Majah, Al-Mun iri berkata hadi ini sanadnya hasan]
Lawan dari raja‘ adalah al qanut atau al-ya‘su (putus asa dari rahmat Allah). Al-qanut dan al-ya’su memilik art i yang sama. Putus asa dari rahmat Allah dan karunia-Nya hukumnya haram. Dalilnya adalah Al-Kitab dan As-Sunah. Di dalam Al- Qur’an, Allah Swt berfirman:
“Hai anak-anakku, per gilah kamu, maka car ilah ber ita tentang Yusuf dan saudar anya dan jangan kamu ber putus asa dar i r ahmat Allah. Sesungguhnya tiada ber putus asa dar i r ahmat Allah, melainkan kaum yang kafir ”. [ QS Yusuf (12): 87]
Firman Allah Swt yang artinya: “Dan or ang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mer eka put us asa dar i r ahmat -Ku, dan mer eka itu mendapat azab pedih”. [QS Al-’Ankab t (29): 23]
Adapun di dalam sunnah, banyak diriwayat kan hadi - hadi yang berisi larangan berput us asa dari rahmat Allah; di an t ar an ya adal ah h adi yan g di r i wayat k an ol eh I m am Bukhari dan M uslim dari Dari Abu H urairah Ra, ia berkata; sesungguhnya Rasulullah bersabda:
ﻊــﻤﻃَ
ِ َ َﺎــﻣﺔــﺑﻮﻘﻌﻟاِ
َ ُ ُ
ْ
ﻦــﻣْ
ِ ِﷲاﺪــﻨﻋَ
ْ
ِ
ﺎــﻣَ
ُﻦﻣﺆــﻤﻟاِ
ْ
ُ
ْ
ﻢــﻠﻌﻳُ َ
ْ َْ
ﻮــﻟَ
Y± baniyya©habμfa ta¥assasμmiy yμsufa wa akh³hi wa l± tai’asμ
mir rau¥ill±h(i), innahμ l± yai’asu mir rau¥ill±hi illal-qaumul-
“Andaikata seor ang M ukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, maka tak seor ang pun yang tidak menghar apkan sur ga. Dan andaikata or ang kafir mengetahui r ahmat yang ada di sisi Allah, maka tak seor ang pun yang putus har apan dar i sur ga-Nya”. [Mutafaq ‘alaih]
I mam Ahmad, abrani, dan Al-Bazar menuturkan sebuah hadi s dari Fa alah bi n Abi d, bahwasanya Rasulul lah Saw bersabda yang art inya:
“Ada tiga golongan manusia yang tidak akan ditanya di har i Kiamat yaitu: manusia yang mencabut selendang Allah; dan sesungguhny a sel endang All ah adal ah kesombongan dan kai n ny a adal ah al -’i zzah ( keper kasaan); m anusi a y ang mer agukan per intah Allah; dan manusia yang putus har apan dar i r ahmat Allah.” [ HR Ahmad, abr ani, Al-Bazar. Al-Hai ami berkat a perawinya t er per caya. Al -Bukhar i dalam kit ab Al- Adab, I bnu Hibban dalam kitab sahihnya]