• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putri terkesiap. Ia tahu selingkuh merupakan kata yang menjadi pertanda retaknya sebuah hubungan, apalagi hubungan keluarga. Selama ini ia hanya mendengar kata itu dari berita-berita televisi, atau dari kisah percintaan temannya. Putri tidak menyangka ia akan mendengar kata itu dari ibunya, terlebih kata itu ditujukan pada sang ayah. Sangat sulit bagi Putri untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Di ruang keluarga, ayah dan ibunya masih sibuk bertengkar mempertahankan argumen masing-masing. Di balik daun pintu kamarnya, Putri diam mem-bisu dengan air mata yang menganak sungai di kedua pipinya. Kejadian itu sudah berselang lima bulan yang lalu, namun pertengkaran kedua orang tua Putri masih tetap berlanjut di rumah. Selama itu, Putri jarang berinteraksi dengan orang tua-nya, ia lebih sering menghabiskan waktu di sekolah atau sekedar berkumpul bersama kawan-kawannya. Selama lima bulan itu pula Putri berusaha tidak mepedulikan pertengkaran ayah dan ibunya. Hingga akhirnya, di titik terberat dalam hidupnya, ka-kaknya muncul dan mengulurkan tangan padanya, berusaha me-nariknya dari jurang kegelapan. Rivai yang tengah mengenyam pendidikan di dataran Eropa harus rela mengambil cuti untuk menemani adik semata wayangnya yang harus berjuang sendi-rian di tengah carut-marut permasalahan keluarga.

Gadis berambut hitam sepunggung itu masih ingat bagai-mana kedatangan Rivai membawa angin sejuk di hatinya. Saat itu sore hari sepulang sekolah, Putri menemukan seorang pemu-da jangkung berdiri di depan pintu rumahnya, di sisi kanannya terdapat koper besar yang tampak penuh sesak. Tanpa berpikir dua kali, Putri menghampiri si pemuda dengan tergesa. Ia sangat mengenal tatanan rambut itu, punggung tegap yang mengha-dapnya itu, tangan yang tersembunyi dalam saku celana itu, kaki jenjang berbalut celana bahan hitam itu, dari gestur tubuh-nya pun Putri tahu itu Rivai, kakaktubuh-nya. Metubuh-nyadari kehadiran seseorang di belakangnya, Rivai berbalik dengan senyum lebar menghias wajahnya yang rupawan.

“Halo, Tuan Putri. Merindukanku?” tanya Rivai menggoda, merentangkan tangannya untuk sebuah pelukan. Putri meng-hambur ke dalam rengkuhan Rivai, menikmati momen yang tak dirasakannya selama dua tahun ini.

“Apa aku terlihat tidak merindukanmu?” tanya Putri. Suara-nya serak, mataSuara-nya basah oleh air mata haru. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Apa kau tahu betapa susahnya hidup-ku saat ini?” Gadis itu menangis sesenggukan dalam dekapan kakaknya.

Rivai mengeratkan pelukannya, dengan lirih ia berkata, “Ya, aku tahu.” Entah Putri bisa mendengarnya atau tidak, namun gadis itu membalas pelukan Rivai seolah tidak ingin melepas-kannya lagi.

Sudah sebulan sejak Rivai kembali hadir di rumah ini, hari-hari yang dilalui Putri semakin terasa ringan berkatnya. Mereka saling membantu mengurus rumah, mengingat griya yang cukup luas untuk dihuni empat orang itu kini semakin lengang karena ayah dan ibu jarang bersama mereka. Ibu sering pulang kelewat malam, lebih banyak menghabiskan waktu di kantor membuat-nya menjadi orang yang gila kerja, hingga tak memperhatikan anak-anaknya. Sedangkan ayah, hampir tidak pernah pulang, entah urusan apa yang sebegitu pentingnya hingga beliau tak mengindahkan keluarga kecilnya. Karena langkanya kesempatan berkumpul itulah, Putri dan Rivai sepakat untuk mengurus ru-mah bersama-sama tanpa bimbingan kedua orang tua mereka. Keduanya bergantian memasak setiap hari, mencuci piring dan baju, membersihkan rumah, bahkan berbelanja sendiri. Mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan uang tabungan Rivai, maka dari itu mereka harus meminimalkan pengeluaran.

“Kak, esok bolehkah aku pulang malam? Kiara mengun-dangku makan malam di rumahnya.” Putri menghidangkan dua piring telur mata sapi dan dua gelas air putih, menaruhnya di meja. Kala itu mereka sedang makan malam di ruang keluarga ditemani tayangan film dari televisi.

“Dalam rangka apa?” tanya Rivai sembari meraih piring makannya.

“Perayaan ulang tahun Kiara. Teman-teman yang lain juga akan datang.” Putri mulai melahap makan malam sederhana yang dibuatnya secara kilat.

“Baiklah,” ujar Rivai di sela-sela makannya, “Tapi pastikan ada teman yang mengantarmu pulang! Jangan pulang sendirian, mengerti?”

“Siap, Kapten!” Putri menempelkan tangan kanan ke pelipis, membuat sikap hormat seperti saat upacara bendera. Sudut mulutnya tertarik ke atas, membentuk senyuman lebar.

Putri bersyukur memiliki kakak yang memahami dirinya. Kakaknya tidak perlu khawatir Putri keluyuran kemana-mana kalau sudah bersama kawan-kawannya. Rivai sudah mengenal teman-teman Putri dengan baik, dan dia sering mempercayakan mereka untuk menjaga Putri. Rivai paham betul keinginan Putri untuk bebas mengikuti kegiatan-kegiatan yang disukainya, asalkan hal itu merupakan kegiatan yang positif. Ia juga pernah remaja, bukan begitu? Lagipula, membiarkan Putri mengisi wak-tu dengan kegiatan di luar rumah dapat membanwak-tu mengalihkan pikiran Putri mengenai masalah keluarga mereka. Rivai tentunya tidak ingin Putri ikut memikirkan persoalan rumit khas orang dewasa ini, karena sebagai kakak, ia merasa punya tanggung jawab untuk menjaga adiknya.

Rivai berdiri meninggalkan piring kotornya di meja. Ia ber-anjak menuju kamarnya. “Kamu yang cuci piring, ya, Put! Aku harus mengerjakan sesuatu,” ujar kakaknya. “Oh, dan satu lagi,” Rivai menoleh, “Apapun yang terjadi nanti, kamu bisa tetap ber-sama kakak.” Seulas senyum misterius tersungging pada wajah Rivai, membuat Putri terheran-heran apa yang ada dalam pikiran kakaknya hingga berkata demikian. Ada apa kiranya hingga Rivai berkata demikian. Tapi Putri hanya menganggap perkataan kakaknya barusan sebagai angin lalu. Ia balas tersenyum dan membereskan peralatan makan.

Jam sudah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh sore. Perayaan ulang tahun Kiara berjalan lancar. Walau hanya teman-teman dekat yang diundang, keceriaan dan kemeriahan acara itu memenuhi sepenjuru ruangan. Berbagai hidangan memenuhi meja, disambut baik oleh tangan-tangan lapar, tergoda untuk menikmati sajian kue-kue kering dan minuman dingin. Semua baik-baik saja bagi Putri sampai ia mendapat pesan singkat dari kakaknya. Putri menyingkir sebentar dari kerumunan kawan-kawannya, menghampiri sisi yang lebih sepi dan mulai membaca dengan teliti.

“Nak, pulanglah lebih awal. Ada hal yang harus kita bahas mengenai perceraian ayah dan ibu.”

Pesan singkat itu terus dibacanya berulang-ulang. Ia menge-cek kolom pengirim, tertera nomor kakaknya di sana. Tapi ke-napa isinya tidak seperti tulisan Rivai? Tak lama sebuah pesan baru muncul.

“Put, itu tadi ayah. Tidak perlu berpikiran macam-macam, pulang saja, oke?”

Yang satu ini jelas pesan dari Rivai. Putri terduduk di lantai, kakinya mendadak lemas kehilangan tenaga, tangannya berge-rak memeluk kedua lutut. Ia ingin menangis sekarang. Akhirnya kabar yang tidak dinantinya itu datang. Kenapa harus di saat-saat seperti ini dia menerima kabar tak diinginkan itu? Bahunya bergetar, isakannya lirih terdengar. Tanpa sengaja, Dikta yang melihat Putri meringkuk sendirian pun menghampirinya. Ia berjongkok di depan Putri.

“Hei, Put. Ada apa? Kamu sakit?” kata Dikta khawatir. Putri tidak menghiraukan keberadaan Dikta di depannya. Ia terus terisak lirih sambil mengeratkan pelukannya. Hal itu membuat Dikta semakin heran dengan sikap Putri. Melihat handphone Putri yang tergantung dan hampir jatuh, Dikta me-raihnya dan tanpa sengaja membaca pesan dari Rivai. Ia terdiam sejenak, mulai memahami apa yang terjadi.

“Putri, dengar…,” Dikta berusaha mendapat perhatian Putri, “Menangislah, tidak apa-apa. Tapi jangan berlarut-larut. Apa kau mau pulang sekarang? Aku akan mengantarmu,” bujuk Dikta, mencoba membuat Putri merasa lebih baik.

“Sebentar lagi,” ucap Putri lirih.

“Baiklah, mau kutemani?” tawar Dikta.

Putri mengangguk. Mereka terduduk di sana beberapa lama dengan keheningan menyelimuti mereka. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya, tidak pula mereka berusaha berucap. Di tengah-tengah kegembiraan teman-temannya, Putri bergelut dengan pikirannya. Gadis malang itu bisa membayang-kan apa yang tengah menunggunya di rumah. Sebuah kejutan, kejutan yang bagai mimpi buruk baginya.

***

Di ruang keluarga, semuanya berkumpul. Putri duduk ber-sisihan dengan Rivai di hadapan orang tua mereka. Mendengar-kan dengan enggan apa yang disampaiMendengar-kan ayah dan ibunya. Menahan rasa sesak di dada. Putri harus memilih di antara dua pilihan sulit. Tidak. Kalaupun dipaksa, ia tidak mau memilih di antara keduanya. Ayah dan ibunya bukanlah pilihan. Segigih apapun ayah dan ibu membujuknya untuk memutuskan akan tinggal dengan siapa, Putri tidak akan memilih keduanya.

“Nak, ini adalah keputusan ayah dan ibu. Kami akan bercerai minggu depan. Sekarang kamu pilihlah, akan tinggal dengan ayah atau ibu,” Ayah dengan tenang mengucapkannya seolah hal itu bukan perkara besar. Beliau tidak tahu, hal itu meremuk redamkan hati Putri. “Ayah tidak memaksamu untuk tinggal dengan Ayah, kamu boleh memilih salah satu dari kami. Kepu-tusan ada padamu. Apa pun kepuKepu-tusan yang kamu buat, kami akan berusaha menerimanya,” tambah Ayah.

“Kak Rivai bagaimana?” tanya Putri lirih, suaranya hampir pecah karena menahan tangis. Rivai di sampingnya merengkuh Putri dalam rangkulan, berusaha menenangkan adiknya yang pasti terguncang dengan kabar ini.

“Kakakmu akan melanjutkan kuliahnya di Jerman dan tinggal di sana. Maka dari itu kami hanya menanyaimu, karena kamu harus tinggal dengan salah satu dari kami,” kata Ibu. Walau suaranya terdengar sedih, ia berusaha tegar.

Putri terdiam lama. Pikirannya berkecamuk. Walaupun ia tahu, ini akan terjadi cepat atau lambat, ia benar-benar tidak menginginkannya. Dia masih ingin merasakan keutuhan keluarganya, dia merindukan kehangatan dalam kebersamaan mereka. Bukan malah akhir yang tidak bahagia seperti ini, bukan! Cukup! Putri tidak mau memilih, ia tidak akan memilih. Putri berusaha mengumpulkan keberaniannya, meman-tapkan hatinya, menguatkan pendiriannya. Dengan mata basah oleh air mata yang menggenang, ia berucap dengan mantap, “Aku tidak akan tinggal dengan salah satu dari kalian.”

Ayah dan ibu tercengang. Bahkan Rivai. Mereka tidak menyangka Putri akan menjawab seperti itu.

“Apa maksudmu, Putri? Lalu kamu mau tinggal dengan siapa jika tidak dengan orang tuamu?” Ibu menuntut penjelasan. Ia panik mendengar jawaban putri satu-satunya.

“Aku akan tinggal dengan kakak. Aku akan ikut ke Jerman. Aku akan hidup di sana. Aku akan terus bersama kakak,” ucap Putri, “Aku tidak mau memilih salah satu dari kalian. Aku hanya akan mengikuti kakak mulai sekarang.”

Kedua orang dewasa di sana mematung, hampir tak bisa menanggapi jawaban mengejutkan yang dilontarkan putri semata wayang mereka.

“Lagipula, bukankah selama setahun ini kalian begitu sibuk dengan urusan masing-masing? Kalian bahkan tidak ingat dengan Putri, kalian membiarkan Putri sendirian di rumah menunggu kepulangan kalian. Sesampai di rumah pun, kalian hanya akan beradu mulut tanpa henti, mengabaikan kami yang berjuang ke-ras menahan ke-rasa sakit hati. Apa yang seperti itu masih pantas menyebut dirinya sebagai orang tua?” tambah Rivai dengan nada tajam, menuturkan betapa kecewanya ia pada orang tuanya,

“Sudah diputuskan, Putri akan tinggal bersamaku,” ujar Rivai dengan nada final.

Putri beranjak dari ruang keluarga. Huh? Bagaimana bisa ruangan ini pantas disebut ruang keluarga? Tempat yang seha-rusnya Putri bisa mendapat kehangatan kebersamaan keluarga di dalamnya, ia malah mendapati keluarganya berakhir dengan tidak bahagia. Ruang keluarga itu menyisakan rasa dingin dan sepi di hatinya, tidak seperti dulu. Kepahitan ruangan itu meng-hancurkan pertahanan Putri, meloloskan air mata yang kemu-dian mengalir deras di kedua pipinya.

Yogyakarta 2016

Miladdiena Maharani Mahfudhoh. Lahir di Bantul, 20 Juni 1999. Siswa SMK Negeri 1 Bantul ini gemar membaca, browsing, dan pramuka. Alamat rumah di Kembanggede, Guwosari, Pajangan, Bantul. posel: [email protected] Ponsel 085743882348;

“Ingat ini, Nak. Ingat selalu bahwa dunia ini memiliki pan-tulan cermin kehidupan yang membaurkan beberapa warna berbeda,” kata seorang ibu pada anaknya.

“Apa maksudnya, Bu…” sahut anaknya yang masih kecil. “Ada waktunya kau memahami hal aneh ini…”

Suatu keanehan. Bisa bermakna menakjubkan, menarik, lucu, berbeda, bisa pula berarti kengerian. Di setiap bagian dunia ini penuh oleh berbagai hal berbau aneh. Dan di setiap keanehan terdapat pula warna yang menyelubunginya. Warna yang punya banyak variasi tanpa bentuk itu dapat ditemui sebuah hal baru tanpa isi yang seharusnya tak dapat dirasakan oleh manusia. Walau keanehan itu dapat membuat beberapa orang menjadi tertekan, namun dari hal tersebut kita dapat memperoleh dan mencapai kebenaran hakiki bila memikirkannya secara bijak me-lalui panduan hidup Alquran.

Dalam sepi, terlihat seorang anak laki-laki tengah berjemur di dekat teras rumahnya. Walau samar, bayangannya terlihat menari-nari mengikuti irama matahari. Angin yang mampu mem-buat pohon melambaikan dahannya memmem-buat suasana saat itu semakin sejuk. Terlihat gemulai hutan rambut yang terkena alunan senandung udara. Dengan pelan seorang perempuan yang telah mempunyai garis keriput di wajahnya mendekat ke arah buah hatinya.

Cermin Jagat