• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nur mendendangkan syair untuk menghibur orang. Mereka sudah suntuk seharian bekerja. Bisa jadi pandangan mata mereka menjadi kabur dicuri pekerjaan masing-masing. Maka itulah Nur datang sebagai cahaya di malam hari. Tapi apalah, Nur men-dapatkan orang-orang mengatakan baik-baik tentang dirinya dengan manis nan menghibur. Tetapi, bapak dan ibu Nur sendiri tidak suka dengan pekerjaan yang ia jalani sekarang. Maka itulah, mereka berdua menjadi pengatur waktu Nur menunggu. Menunggu izin!

“Besok. Kalau kamu sudah dewasa, kalau kamu sudah mam-pu menjaga diri, kamu boleh pentas sekehendak hati….”

Nur pun sekarang sudah mampu menjaga diri. Lantas kapan Nur dewasa? Kalau dewasa itu penilaian orang, maka Nur tidak akan pernah jadi dewasa. Dirinya memilih manggung dari desa ke desa, tapi sekarang dikata salah keputusan dan kurang dewasa mengambil jalan.

“Apa kata orang kalau sampai kamu berbuat neko-neko? Besok sajalah menyanyi dangdut itu. Panggungmu kan cuma desa ke desa, takut kamu neko-neko.”

Duh!

Neko-neko bagaimana? Nur bukan gadis yang ingin berkelana dalam dunia malam. Selesai menyanyi, ya pulang. Begitu. Buat apa? Gaji menanyi juga sudah membuat Nur bersyukur. Mem-buatnya tak henti mengagungkan Tuhan atas karunia suara mer-du dan rezeki yang ia terima dari upahnya menyanyi. Rezeki itu sudah membuat Nur bahagia. Mengapa dirinya selalu dikira neko-neko? Masalah panggung yang sebatas desa ke desa, itu karena Nur baru mulai naik panggung dua bulan lalu. Sebelum-nya? Tidak pernah Nur manggung dan dibayar, paling-paling cuma mengisi acara di sekolahnya, sukarela.

“Bu, malam ini Nur manggung cuma sampai jam sembilan, acara pernikahan orang di desa sebelah. Tidak sampai larut. Dan masa iya, Nur neko-neko di acara pernikahan orang?”

dirayu-nya Ibu yang ia cintai, untuk kesekian kali. Kali ini Nur telah siap pergi manggung, pergi bekerja.

Kursi yang diduduki ibunya bergeser sedikit. Ibunya mem-betulkan duduknya. Sementara Nur, duduk di kursi depannya. “Di sana kamu tidak neko-neko, tapi sehabis itu? Sudahlah, besok saja, kalau kamu sudah lebih mampu jaga diri!”

Nur sendiri tahu betul alasan orang tuanya sukar melepas izin bagi dirinya. Ibunya tidak mau anaknya dicap sebagai perem-puan yang suka keluar malam, meski pun untuk bekerja.

Batinnya berandai-andai. Kalau saja ibunya tidak menghi-raukan apa kata orang, kalau saja ibunya sejalan dengan pikiran Nur yang menginginkan kebebasan memilih apa yang harus dilakukan.

“Bu, aku ini sudah tiga minggu tidak bekerja. Bagaimana bisa aku dapat penghasilan?” Ia katakan itu sembari memandang lekat-lekat wajah ibunya. Wajah yang ia cintai, wajah yang ia ingin ukir senyuman padanya.

“Kalau ibu membolehkan kamu, ibu tidak mau mendengar orang-orang bilang kalau ibu gagal mendidik anak perempuan, sampai-sampai kerja malam, menyanyi dangdut pula. Kamu tidak mendengar kata-kata itu dari orang-orang?”

“Kata orang biarlah, Bu.”

“Hidupmu, rumahmu, lingkunganmu saban hari di desa. Tidak bisa sembarang memilih. Orang-orang di desa melihat sesuatu berdasar kesimpulan umum. Jadi tetaplah jaga dirimu,” suara ibunya melirih.

“Lantas, Ibu juga berpikiran seperti mereka?”

“Pada beberapa hal, memang benar apa yang ada di pikiran orang-orang desa. Ibu tidak mengelak.”

“Dan kemudian membenarkan?” suara Nur meninggi. “Kurang percaya apa kamu sama ibu? Ibu ini sudah jauh lebih paham ketimbang kamu!” ibunya menekan tiap kata yang diucapkan, kemudian melepas kata terakhir, dibiarkan meng-gantung sampai ke atap rumah.

“Bisakah terbuka sedikit dalam berpikir?” Nur masih ingin mengarahkan pikiran ibunya supaya sama dengan jalan pikiran-nya.

Tetapi ibunya membiarkan pertanyaan Nur terbawa udara. Keluar lewat jendela, dan kemudian hilang berkelana bersama angin.

Ibu beranjak dari depan Nur.

Demikian, Nur tidak menghapus polesan tubuhnya yang sejak tadi ia kenakan. Bisa rugi. Seharusnya dipakai sampai jam sembilan nanti.

Penat sekali rasanya menunggu. Duh!

“Mau ke mana? Berangkat nyanyi sekarang?” Bapak berta-nya dari balik pintu kamar.

“Ke halaman belakang, cari udara,” Nur tersenyum tipis dan berlalu lewat pintu menuju halaman belakang.

Ada kursi panjang, satu meja kecil di sisi kanan kursi, satu pot bunga kamboja di sisi kiri kursi. Di samping kiri atas ada sangkar merpati kesayangan bapaknya yang entah kemana si penghuni sangkar. Mungkin merpati penghuni sangkar penat menunggu untuk dibebaskan, jadilah bebas duluan. Tidak seperti Nur yang tidak bisa pergi. Kalau saja ia bisa seperti merpati, tidak peduli si empunya kebingungan, marah-marah, bahkan berniat membunuh kalau bertemu lagi.

Tata rumah Nur terlihat terbalik, depan rumah hanya ada teras kosong untuk arisan. Depan rumah jalan aspal penuh debu. Belakang rumah pun ada jalan, tetapi jalan tanah. Tidak terlalu ramai. Paling-paling hanya tetangga sekitar rumah Nur yang biasa lewat jalan itu. Belakang rumah Nur lebih nyaman untuk melepas asumsi-asumsi dan prasangka.

Di kursi panjang Nur duduk. Matanya lurus tertuju pada jalan kecil yang sepi. Tidak ada orang yang lewat. Andai ada yang lewat pun, pasti hanya berlalu saja, tidak menyapa. Ibu Nur seorang ibu rumah tangga yang tinggal di desa. Apalah kalau bukan rumpi sana-sini mengulik anak serta suami. Jangan kira itu kebiasaan orang kota saja. Rumpi sana-sini sering membahas biduan

kampung sebelah. Dari situ, ibu Nur mendapati kalau jadi biduan itu pulang malam dapat banyak uang, tapi entah mampir kemana. Kalau pulang pagi? Pasti tidur dengan lelaki. Ada lagi biduan lain yang pulang-pulang mabuk. Lagi, ada biduan yang anaknya menangis karena ditinggal pergi tiap malam. Tapi apa untungnnya banyak mengambil kesimpulan mayoritas. Toh, bukan pemilu. Parah. Ibu Nur kena pengaruh. Jadilah ibu Nur bercerita ke bapak soal itu. Tapi juga demi Nur sendiri. Kalau sudah begitu, bapak dan ibunya sudah tidak main-main memberikan izin kepada Nur. Mereka berdua sudah sepakat.

Nur duduk melamun tiap kali hendak pergi manggung. Per-tama kali malah tidak lebih sukar dari hari ini. Tetapi semenjak tiga minggu yang lalu, kesulitan mampir lagi pada Nur. Ya itu tadi, lagi-lagi Nur tidak mendapat izin.

“Percaya atau tidak, pintumu masuk ke kehidupan malam ya dari pekerjaanmu itu. Bapak mana yang mau orang-orang melihat anaknya pulang larut malam setelah jadi tontonan ba-nyak orang dan bergoyang? Sampai-sampai pulang dikejar anak orang, diajak pergi. Ditawar mahal pula. Kamu ini orang, bukan barang dagangan.”

“Ya itu resiko pekerjaan, tapi aku bukan yang seperti itu!” Nur menanggapi kata-kata yang menusuk perasaannya.

Kemudian lagi, Nur juga tidak menginginkan kehidupan malam. Sekali lagi, kalau sudah capek ya pulang, terus tidur!

“Ah!” Ia membuang pikiran-pikirannya. Baginya itulah jalan keluar untuk keluh kesahnya dari dalam hati dan pikirannya. Ketika ia ucapkan keluhnya, beban-beban yang ia pikirkan serasa berlari dari dada, kemudian naik ke tenggorokan, sampai di situ lari lebih kencang supaya bisa keluar lewat mulut Nur. Ibarat lomba lari, mulut Nur adalah pita tanda akhir lintasan. Pelari yang bisa membuat pita itu putus, ialah juaranya. Sama seperti unek-unek Nur yang harus memutus pita; membuka mulut Nur supaya keluh-kesah keluar.

“Ah!” Nur menangkupkan kedua tangannya sehingga dagu, bibir, hidung, dan matanya tertutup. Tersisalah poni pirangnya.

Ada dua orang perempuan lewat. Mereka bersepeda ber-dampingan. Melempar senyum tipis pada Nur. Kemudian terba-hak ketika sudah melewati rumah Nur. Alah, sudah biasa. Orang-orang itu sama saja. Selalu begitu ketika bertemu Nur. Di depan Nur sikapnya manis, tapi berpikir miring hanya karena Nur bekerja sebagai penyanyi dangdut. Kalau sudah berada di belakang Nur, habislah dikupas tentang Nur si biduan baru desanya. Ibunya sendiri yang bercerita.

Apa salahnya dengan manggung sana-sini untuk bekerja? Apa karena terlihat hina? Kan itu lagi-lagi anggapan orang.

“Nur,” Bapak sudah berdiri di ambang pintu. Tangan kanan-nya bersandar pada pintu, sedang tangan kirikanan-nya menggantung di sisi kiri badan.

Nur cuma menoleh sebentar, kemudian kembali memandang jalan.

“Kamu tunggu satu tahun lagi, tunggulah!”

“Setelah satu tahun itu, Nur boleh manggung?” Ia menengok bapaknya yang hendak duduk di kursi yang sama. Di kursi panjang yang sejak tadi sabar mendengar keluh kesah.

“Tidak,” bapaknya berdehem ringan, “Ya lihat saja nanti. Lihat orang-orang berkata apa satu tahun lagi,” lanjutnya.

Hah!

Sama saja. Bapaknya mungkin sedikit terbebas dari kata orang. Tapi Nur tetap harus menunggu. Entah sampai kapan. Sore itu juga, Nur tidak jadi manggung.

Aulia Nur Rahmawati. Lahir di Bantul, 22 Februari 2000. Siswa SMA Negeri 1 Bantul ini memiliki hobi mem-baca dan menulis. Alamat rumah di Gluntung Kidul, Caturharjo, Pandak, Bantul. Ponsel 08561247349; posel: [email protected]

Ketika memejamkan mata, aku seperti melihat ada bayang kelam yang melekat pekat. Setitik cahaya kadang serupa ilusi. Melukiskan sebuah imajinasi yang begitu mengesankan. Semua-nya terlihat gelap. Tak ada yang mampu kulihat, karena sudut-sudut ruang ini telah tertutup oleh kegelapan. Mimpi, mungkin hanya itu saja yang mampu membawa setitik lilin dan secerca harapan.

Cerita seorang gadis malang yang masih duduk di bangku SMA yang tengah menghadapi liku-liku kehidupan, sebut saja Kumala. Dari usia 3 tahun Kumala sudah tak lagi mengenal kasih sayang seorang ayah. Tiada kenangan indah yang terlukis dalam pikirannya. Saat itu, detik itu, dan di hari itu pula Kumala meli-hat peristiwa yang tidak sewajarnya dilimeli-hat oleh anak seusia Kumala. Dia hanya diam, berdiri di depan pintu bersama ibu, kakak dan nenek, yang tengah menyaksikan perdebatan antara ayah dengan pamannya. Kumala tidak mengerti apa yang sebe-narnya terjadi. Kepalan tangan yang menggenggam penuh dengan amarah, tiba-tiba melayang menghantam wajah ayah Kumala, sampai membuat fisik yang kokoh itu menjadi terkapar di lantai. Gadis malang ini menangis meraung-raung mengetahui ayahnya dipukul seperti itu.

Setelah kejadian yang menimpa, ayah Kumala pergi begitu saja. Hari-hari kumala menjadi senyap tanpa seorang ayah.

Peris-Rindu yang tidak Terungkap