“Hai! Ah, tidak,” jawabku pendek.
“Adakah yang membuatmu tidak tidur semalaman?” tanya Berlian menatapku penasaran.
Ya, begitulah dia. Selalu peka dengan apa yang terjadi pada-ku. Aku hanya diam. Menatapnya dengan senyum tipis di bi-birku. Aku pikir dia akan segera tahu apa yang terjadi.
Kelas berjalan dengan baik, meski aku sama sekali tidak mengerti apa yang disampaikan guru seharian. Aku masih duduk sendiri. Menatap langit-langit kelas. Menatapnya kosong. Satu pekerjaan masih kugantungkan. Bimbang. Semangatku untuk melanjutkan hal itu telah hilang. Semua hilang ketika pengumum-an itu terdengar sampai telingaku. Judul terpilih untuk mengikuti seleksi Gladi Penelitian Ilmiah Remaja diumumkan. Benar-benar pengumuman itu menusuk hatiku, menikamku. Membuat tatapanku kosong, lamat-lamat menatap sekitar. Kabur.
Hening di dalam kelas. Hanya tersisa aku sendiri, pintu ter-tutup, hanya terdengar suara kipas angin tergantung tepat di atasku. Aku masih berpikir. Pertanyaan-pertanyaan bermun-culan di kepalaku. Entah, aku harus mencari jawaban kemana. Hingga lamunanku pecah, pintu kelas dibuka. Seseorang meli-hatku, dia tersenyum. Tidak tahu, apa yang membawanya kemari, menyambangiku. Aku menatapnya, melihat setiap lang-kah kaki yang semakin mendekat. Dia hanya berdiri di depanku. Tersenyum.
“Sendiri saja kau di sini? Kau tidak takut, di sini suka ada hantu…” ujarnya sambil nyengir.
“Ada yang lebih menakutkan dari hantu,” jawabku pendek menatap atap-atap yang kosong.
“Oh, aku tahu. Kau takut kita di sini hanya berdua saja? Ayolah kita perlu bicara. Mari ke kantin bersama,” ajaknya sambil menatapku dalam-dalam.
Dia bergegas begitu saja, memaksaku mengikutinya. Aku pikir dia adalah orang yang tepat untuk kuajak bicara. Tidak masalah dia mengetahui semuanya. Dia teman yang baik,
walaupun nyatanya dia tidak pernah menganggapku teman. Begitu pun sebaliknya.
Aku duduk mengambil posisi yang nyaman di kursi kayu yang pliturnya sudah sedikit hilang. Dia tepat di depanku. Tanpa berbasa-basi, dia langsung mengatakan semuanya padaku.
“Aku tahu apa yang kamu alami. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Impian terbesarmu tidak bisa kamu dapatkan. Namun, apakah ini akhir dari perjalananmu? Bukankah kau mengajar-kanku tentang rencana A, B, C, dan selanjutnya? Apa kau lupa itu?” sekali lagi dia menatapku dalam-dalam.
“Ya, aku sudah melakukan rencana-rencana itu,” jawabku singkat.
“GPIR itu baru rencana B-mu. Aku tahu itu. Kau lari dari olimpiade matematika yang memusingkan itu dan kamu mengambil langkah untuk meneliti. Tidakkah kamu berpikir untuk melakukan rencana C? Kau tidak bisa seperti ini,” katanya pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu yang mempunyai sandaran cukup tinggi.
Aku hanya diam. Aku tidak habis pikir. Bahkan sebelum aku menceritakan cerita itu kepadanya, dia sudah memberiku ocehan seperti ini. Dia selalu saja seperti itu.
“Rencana B-ku gagal,” aku berkata pelan sambil tertunduk. Kesedihanku memuncak, ketika aku benar-benar tidak tahu apa rencanaku selanjutnya.
Obrolan kami terhenti sejenak. Langit di atas mendung. Cuaca yang tadinya cerah dengan cepat berganti gelap. Rintik-rintik hujan mulai turun. Aku melihatnya lamat-lamat. Kali ini hujan benar-benar turun. Aku bahkan masih duduk di kantin dengannya. Menikmati segelas jus jambu yang dia belikan.
“Seharusnya aku memang tidak boleh seperti ini. Aku benar-benar akan menghentikan penelitian ini, mencari rencana C untuk aku lakukan,” aku mulai bicara. Dia justru melihat-lihat sekitar. Aku tidak tahu apakah dia mendengar perkataanku atau tidak.
“Tidak perlu kamu berhenti seperti itu. Wadah untuk pene-litian itu banyak, bukan? Asal kau tahu, aku ingin sepertimu. Punya banyak ide untuk melakukan penelitian, tidak berhenti di satu titik. Hingga saat ini, aku belum tahu apa yang akan aku lakukan setelah kita sama-sama tidak lolos olimpiade ke pro-vinsi,” dia mengenang tentang olimpiade yang memusingkan itu.
Aku tersenyum tipis mendengar perkataannya. Kenyataan tentang olimpiade itu memang benar-benar menyedihkan.
“Sudahlah, kita pulang saja. Percuma aku bicara denganmu dalam waktu seperti ini. Menyabalkan sekali kamu hari ini. Bahkan kau hanya tersenyum tipis kepadaku, menatapku ko-song. Istirahat dan makanlah yang banyak. Ini untukmu. Kau suka ini, bukan?” katanya sambil tersenyum dan menyodorkan coklat favoritku.
“Apa kau sedang menyogokku dengan coklat ini seperti anak kecil?” tanyaku sebal.
“Tidak. Aku menyuruhmu untuk istirahat dan makan yang banyak, bukan menyuruhmu tersenyum. Ayo, pulang!” dia berdiri dan nyengir di depanku.
Begitulah dia, Al. Teman baikku yang tidak pernah meng-anggapku teman. Namun, sikapnya lebih dari seorang teman. Dia selalu tahu apa pun yang terjadi pada diriku. Setiap jengkal cerita kehidupanku sejak aku mengenalnya, dia pasti tahu. Aku juga tidak mengerti, dia selalu tahu lebih dulu apa yang terjadi sebelum aku bercerita padanya. Dia cerdas, selalu peka dengan lingkungannya.
Sejak obrolan di kantin itu, aku kembali memikirkan banyak hal. Aku pikir, perkataan Al itu benar. Aku tidak boleh berhenti di sini, terpuruk di dalam jurang yang sangat dalam. Perlahan, aku mulai menyusun rencana C. Namun, aku tetap memutuskan untuk berhenti melakukan penelitian. Aku kembali melakukan aktivitas dengan semangat dua hari setelah obrolan di kantin itu.
Hari itu sepulang sekolah ternyata diadakan latihan rutin tentang penelitian. Aku berniat untuk datang, pikirku ini terakhir kalinya aku akan mengikuti latihan rutin. Sampai di sana, aku mengambil tempat duduk paling belakang. Ini pertama kalinya aku memilih tempat duduk di belakang. Hingga latihan rutin itu selesai dan semuanya telah keluar dari ruangan, aku meng-hampiri Mas Ali yang kali ini menjadi pengisi latihan rutin.
“Mas, aku mau berhenti melakukan penelitian,” kataku tan-pa basa-basi. Mas Ali langsung menengok ke arahku. Melihatku dengan ekspresi wajah bingung.
“Lho, kenapa, Dik? Ada kesulitan yang kamu temui? Kamu bisa bercerita kepada saya,” katanya pelan.
“Tidak, Mas. Rencana B-ku ini gagal seperti rencana A-ku. Aku tidak ingin melakukannya lagi. Aku benar-benar kecewa karena kegagalanku itu. Namun, aku punya satu pertanyaan yang benar-benar membuatku penasaran,” jawabku pelan. Sepertinya Mas Ali menangkap maksud perkataanku. Dia tahu soal siapa yang lolos dan yang tidak lolos di GPIR itu.
“Apa, Dik?” tanyanya sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas dan kembali melihatku.
“Sebenarnya, apa yang membuat judul penelitianku tidak lolos, Mas? Penelitianku benar-benar orisinal, metode yang aku pilih sudah tepat, aku mencari referensi juga dari buku. Bahkan dari buku berbahasa inggris yang susah payah aku terjemahkan.” “Apakah karena tidak lolos GPIR lalu kamu memutuskan berhenti untuk meneliti? Ada banyak faktor dan aspek yang menjadi penilaian juri. Aku juga tidak tahu apa saja faktor dan aspek atau kriteria itu. Yang jelas, kamu tidak boleh seperti itu,” jawabnya pelan.
“Lalu?” tanyaku lebih lanjut karena aku belum paham apa yang Mas Ali katakan.
“Meneliti bukan hanya sekedar apa yang kamu pikirkan. Meneliti itu punya proses. Seorang peneliti yang baik akan mela-kukan penelitiannya hingga selesai. Tidak peduli itu sampai ka-pan. Tidak peduli dia mendapatkan penghargaan atas temuannya
atau tidak. Tujuan utamanya hanya satu, membuat kehidupan ini semakin maju. Meneliti itu untuk mengabdi, mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Peneliti yang baik tidak meneliti hanya untuk mendapatkan sebuah medali. Medali hanyalah salah satu penghargaan bagi seorang peneliti. Penghargaan terbesar adalah penelitiannya diterima masyarakat luas, membawa kema-juan, memberikan manfaat bagi siapa pun. Itulah seorang peneliti sejati. Apakah kamu tidak ingin seperti itu? Itu hal mulia, lho, Dik,” kata Mas Ali menjelaskan.
Seketika aku menelan ludah. Aku malah ingin menangis. Namun, ini akan sangat memalukan. Aku menatap lantai kera-mik ruangan. Otakku seperti terstimulasi, menjawab perkataan Mas Ali dengan mantap.
“Iya, Mas. Aku ingin seperti itu. Aku akan melanjutkan pene-litianku,” jawabku dengan nada suara yang mantap dan berse-mangat.
Perbincanganku dengan Mas Ali masih berlanjut. Membahas soal perkembangan penelitianku. Perkataan dan penjelasan Mas Ali seketika membuatku lupa soal pengumuman GPIR. Aku lupa bagaimana kekecewaanku dua hari lalu. Aku lupa bagaimana terpuruknya aku saat mendengar pengumuman itu. Benar apa kata Al, aku harus mencari rencana C. Bukan malah berhenti di satu titik seperti ini. Ada banyak wadah untuk penelitianku. Dunia yang aku bayangkan tidak sesempit jalan pikiranku.
Lisa Ayu Cahyaningtyas. Lahir di Bantul, 25 Agus-tus 2000. Siswa SMA Negeri 1 Bantul ini memiliki hobi membaca, mendengarkan musik, dan bermain game. Pernah meraih prestasi sebagai 10 besar Lomba Menulis Sinopsis Buku (SD) dan peserta Klinik Sains Sagasitas untuk Penulisan Karya Ilmiah Remaja OPSI 2016. Alamat rumah di Wonorejo II, Gadingsari, Sanden, Bantul. Ponsel 087839793375; posel: [email protected].
Kubentangkan tangan, aroma segar udara di pagi ini mem-buatku terbius, kicauan burung mulai bersautan. Sang surya kini tampak di ufuk timur. Aku memulai aktivitas di pagi yang cerah ini. Seperti biasa, aku membantu ibu membersihkan rumah, me-nata buku yang berserakan di atas meja ke rak buku, dan menya-pu lantai. Setelah pekerjaan rumah selesai, aku ikut ke ladang memanen padi bersama kedua orang tuaku. Setibanya di ladang, aku merasakan, sungguh luar biasa surga Gunungkidul ini. Aku sangat bahagia telah di lahirkan di tempat ini.
Senyum tulus terpancar dari para petani yang menyapaku. Betapa bahagianya mereka menyambut datangnya panen. Terik matahari berada di atas ubun-ubun mereka. Kulihat para petani membawa berbagai alat untuk memanen padi di ladang. Satu per satu para petani memotong ujung batang apadi, lalu dima-sukkan ke tenggok yang digendong di punggung. Kutatap wajah petani mulai sayu. Derasnya keringat mulai membasahi seluruh wajahnya. Kupejamkan mataku sejenak di bawah teduhan pohon yang rindang.
Kurentangkan kedua tanganku, sejuk, tenang, senang kura-sakan. Desiran angin yang berirama, tumbuhan menari-nari be-gitu indahnya, membuatku terpukau melayang kegirangan. Bak indahnya taman di surga. Suara khas dari ekosistem di ladang ini membuatku benar-benar mengerti betapa indahnya hidup