• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebenarnya apa yang diperbincangkan ia dan teman-teman-nya tak jauh beda denganku. Ia suka berdiskusi sastra, kadang aku sengaja menghentikan langkah pura-pura mencari botol bekas di depan warung bambunya dengan tujuan tersembunyi ingin mendengar lebih jauh tentang sastra. Apa yang ia perbin-cangkan, selalu memancing hatiku untuk bergabung. Tapi aku masih harus berpikir dua sampai sepuluh kali, sebab mereka itu gadis-gadis cantik dan cerdas, anak orang kaya. Sedang aku hanyalah pemulung, anak orang miskin yang secara kebetulan saja bersekolah dan menyukai sastra. Lagi pula takut demikian kentara, jika aku mengaguminya.

“Hei Karim! Musim kemarau sangat panjang, setiap hari selalu gerah, apa kamu punya cara untuk mendatangkan hujan? Jika ada akan aku beli,” tukasnya kepadaku di suatu senja yang senyap seraya menampakkan sosok dirinya yang kaya.

“He…he…, iya Non, aku punya cara untuk urusan itu?” “Apa itu Rim?”

“Tunggu saja besok di tempat ini, seekor burung akan kuba-wakan untukmu.”

“He…he…, jangan berpuisi kepada kami, Rim! Katakan dengan jelas, tak usah memakai istilah burung sebagai metafor dari sesuatu yang kau maksud sebenarnya,” jelas salah satu temannya.

“Benar! Saya sedang tidak berpuisi, seekor burung akan kubawakan untuk kalian.”

“Yang saya inginkan hujan, bukan burung,” ia yang bersuara merdu kembali berkata.

“Aku ingin memberikan seekor burung kepadamu dan kamu akan menerimanya berupa hujan.”

Kemudian hening menyergap dari antara daunan yang diam. Mereka saling menatap lalu mengangguk bersama, dan aku tersenyum, memanggul karung dan lanjut melangkah. Menapak jasad kemarau.

Hari yang kujanjikan kepadanya telah tiba. Tak kuhirau karung sampah, kuabai botol-botol bekas minuman yang berse-rak di depan warung bambu tempat ia belajar. Sebab, hari ini aku tak ingin memulung. Tujuanku satu, ingin ia tersenyum dengan tingkahku yang membawa burung budbud demi menga-bulkan permintaannya agar turun hujan. Burung budbud dalam kepercayaan tertua Madura diyakini sebagai burung pemanggil hujan. Amatilah di desa-desa, ketika burung itu berbunyi, para petani menggarap sawah, itu pertanda hujan akan turun.

Kupandangi langit bersih yang bertebar kabut tipis. Kuelus kepala burung seraya kuingat kemarin lusa saat burung ini ku-tangkap di bukit Rongkorong.

Ia dan teman-temannya baru saja datang ke warung bambu. Meletakkan tas dan beberapa peralatan lain. Di sisi tas hitam dari tiga yang berjajar itu, kulihat sebuah buku tentang Svetlana Alexievich, rupanya ia dan teman-temannya perempuan terob-sesi menjadi peraih nobel sastra sebagaimana perempuan hebat bernama Svetlana Alexievich.

Ia mengipasi wajah dan lehernya dengan jilbab sebelum akhirnya sepasang bola matanya yang teduh melirik ke arahku yang sejak pukul 14.00 sudah duduk di bawah pohon kesambi menunggu kedatangan mereka. Ia menarik lengan dua temannya dan berlari-lari ke arahku.

“Karim! Rupanya sampean benar-benar membawa burung untuk kami,” merdu suaranya melesat.

“Ya, burung ini namanya budbud, mulai sejak zaman moyang kita beribu tahun yang silam, burung ini dipercaya memanggil hujan.”

“O, jadi kamu akan mendatangkan hujan kepada kami dengan perantara burung ini?”

“Benar! Tapi tidak sekali burung ini bersuara lantas hujan langsung turun, butuh berhari-hari, ia harus melantangkan suara-nya. Jika burung ini terus bersuara, maka hujan akan segera

turun. Jadi rawatlah burung ini baik-baik, usahakan ia selalu bersuara, hingga nanti hujan benar-benar turun kepada kalian.” “Hore!” ia dan teman-temannya berjingkrak-jingkrak riang setelah mendengar kabar hujan. Lalu burung budbud yag sudah lengkap dengan sangkarnya kuberikan kepadanya, tentu setelah aku berpesan dan berbisik tentang makanan dan cara perawatan burung itu. Ia menerima burung dengan senang, senyumnya merekah. Aku berbunga-bunga, seakan ia telah menerima cinta-ku, dan tampaklah kini, sesangkar burung budbud tergantung di pojok atap rumbia warung bambu miliknya. Suaranya parau menjerit terlempar ke penjuru arah. Keyakinanku masih sama dengan keyakinan orang tua bahwa burung itu tengah memang-gil hujan.

Azan asar baru selesai dikumandangkan. Cuaca sangat gerah, meski langit desa tampak dipenuhi mendung. Hanya saja angin bertiup agak kencang, mendorong-dorong botol bekas yang hendak kupungut di depan warung bambu miliknya. Ia dan teman-temannya masih belum datang, warung bambunya tertegun senyap. Hanya burung budbud berkoar-koar di dalam sangkar. Paruhnya diangkat keatas hingga terlihatlah gelembung angin naik turun di antara lehernya yang disaput berbulu cokelat kekuningan. Suaranya yang keras menandakan doa yang khu-syuk dipanjat, menembus diam langit.

Ini hari keenam ia memelihara burung pemanggil hujan. Aku berharap hujan turun sore ini agar ia dan teman-temannya tak lagi menagih hujan kepadaku seperti hari kemarin. Mendung kian merapat dan bergumul membentuk warna gelap. Angin semakin kencang dan tekun menusukkan dingin ke tulang-tu-lang, aku semakin yakin hujan akan segera turun. Segera kuma-sukkan botol-botol ke dalam karung. Kulirik burung itu sedang bergoyang-goyang melempar suaranya ke jantung langit.

Aku mulai merasakan ada butiran rintik halus bertabur dari langit. Di kejauhan, riuh suara hujan terdengar, persis ketika cuping pembauanku mencium harum tanah yang melesap dari

utara. Ia dan teman-temannya berlari-lari kecil sambil berpayung daun jati, tergesa ingin cepat berteduh di warung bambunya. Oh, kali ini tak seperti hari biasa. Ada dua orang teman laki-lakinya yang turut hadir ke warung itu. Entahlah, siapa mereka? Ia meletakkan tas dengan rapi mengusap sisa rintik yang bertebar di wajahnya, sebagian temannya mengeluarkan buku dari dalam tas dan temannya yang lain memeriksa isi tas.

“Hei! Karim! Ayo kumpul kesini! Hujan akan segera turun,” ia memanggilku. Wajahnya berbinar-binar.

“Iya, Non, terima kasih.”

Aku melangkah ke arah warung. Setelah meletakkan karung di samping warung, aku duduk dan bergabung dengan mereka. Tak lupa kusalami dua teman laki-lakinya. Aku duduk di sam-pingnya, di antara buku-buku sastra yang berjajar lengkap dengan alat wifi yang memungkinkan ia dan teman-temannya terhubung ke internet. Hujan turun deras sekali, daunan tampak mengkilat, suara guntur dan halilintar seperti deru pertarungan dua raksasa di angkasa. Langit desa pekat menghitam. Air meng-alir ke mana-mana. Kulirik wajahnya yang jelita. Ia tersenyum. “Karim! Terima kasih atas bantuanmu. Caramu berhasil dengan sukses, rupanya burung yang kau berikan padaku itu benar-benar memanggil hujan,” ucapnya padaku menyela sepa-sang bibir mungilnya yang merah basah.

“Berterima kasihlah kepada Allah dan kepada burung itu, jangan kepadaku,” jawabku merendah, meski sesungguhnya aku ingin ia tak hanya berterima kasih, akan tetapi merasa berutang budi dan melunasinya dengan cinta yang ia miliki. Kulihat burung itu menari-nari, berkepak-kepak seperti hendak keluar memba-suh tubuhnya dengan air hujan.

“Karim, ayo kenalkan, ini adalah tunanganku. Namanya Eron,” ia menunjuk lelaki berkaus putih di sampingnya yang tersenyum dingin ke arahku.

“Saya Karim.”

Sambil lalu, lelaki itu menoleh ke arah Raisa. Ia pun terse-nyum mengangguk-angguk, kemudian merebahkan kepalanya ke bahu lelaki itu.

“Aku sangat bahagia bila turun hujan seperti ini Karim!” ia berkata kepadaku. Aku terdiam dan mengalihkan pandangan ke arah aliran air yang menghanyutkan ranting-ranting kering di persawahan. Burung itu semakin girang meloncat. Hujan ber-tambah deras, seiring hujan lain kurasakan membasahi sudut mataku. Betapa hujan banyak macamnya.

Gevanda Awisya Putri. Lahir di Yogyakarta, 23 Sep-tember 2000. Siswa SMA PGRI Kasihan ini memiliki hobi menulis dan belajar bahasa Inggris. Alamat rumah di Jalan Konodigdayan 61 A Yogyakarta. Ponsel 085641982500.

Kumulonimbus merupakan jenis awan tebal yang dapat menjulang tinggi menyerupai menara atau gunung, sebagian puncaknya mulus atau menyerupai serabut yang hampir rata. Awan tersebut menandakan akan terjadi hujan lebat disertai petir.

***

Pada setiap hembusan angin berbalut rindu, rasa yang selalu menusuk kalbu tanpa mengenal ampun yang kemudian berbalas semu. Tak lama, sinar terang mulai memasuki celah di lubang jendela. Menerangi setiap sudut ruangan. Terperanjat aku men-dengar dering ponsel di bawah sana. Kuperhatikan samar-samar angka yang muncul di layar.

Pagi ini, lagi-lagi aku kesiangan. Aku melangkah dengan tergesa-gesa, keluar dari kamar sambil menenteng tas ransel berwarna jingga. Kulewati sekat demi sekat dalam rumah. Langkah kakiku terhenti ketika melihat sebuah bingkai foto ke-luarga yang memperlihatkan kebahagiaan. Kuambil foto itu dan kuamati setiap wajah yang ada di sana. Senyum tipis yang mengembang menambah kehangatan dalam foto. Tak sadar air mata mulai membasahi pipi.

Aku Zefanya Nada Safira, yang akrab disapa Nada. Sama seperti remaja lainnya, aku laksana mutiara yang ada dalam ke-luarga. Semua orang mengasihi, dan memberi apa yang aku

Kumulonimbus