• Tidak ada hasil yang ditemukan

“Kita sahabatkan?” kata Dani memelas.

“Itu dulu tolol, sebelum kau bertindak sembrono seperti ini,” “Emang sahabat harus hancur hanya karena kejadian ini?” “Terserahlah kalau kau memang tak mau bertanggung ja-wab,” kata Rani mulai meniggalkan Dani sendiri.

Dani hanya tertunduk merasa bersalah atas kejadian itu. Kejadian yang berakhir merusak persahabatan mereka, hanya karena Dani “ember” tentang Rani yang pacaran. Awalnya Rani tidak terlalu mempermasalahkan. Namun, tiba-tiba yang dikenal sebagai anak teladan, turun karena terdengar oleh salah satu guru agamanya. Guru agama tersebut awalnya sering sekali me-nyanjung Rani karena akhlaknya yang baik. Tapi, setelah guru itu tahu yang dilakukan Rani, yakni pacaran, akhirnya guru itu mulai menjelek-jelekannya.

*****

Hari berlangsung cepat. Namun, persahabatan Rani dan Dani masih saja hancur akibat kejadian itu. Rani akhirnya tak peduli dengan gelarnya sebagai anak teladan, malah senang saja dengan cowoknya. Rani bahkan tidak terlalu peduli dengan guru agama-nya yang sering menjelek-jelekan. Rani senang saja berdua makan di restoran, jalan-jalan dan kegiatan mesra lainnya dengan co-woknya. Namun, ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Sesuatu yang dulunya selalu bersanding di sampingnya kini hilang bagai kabut ditelan siang.

Dani yang akhirnya kebingungan hanya bisa memperingat-kan Rani. Namun, Rani masa bodoh terhadap Dani. Rani telah terlanjur masuk ke dunia pacaran. Saat itu Dani merasa ada se-suatu yang hilang dalam kehidupannya. Kehidupan yang dulu sangat ia sengangi. yang membuatnya selalu tersenyum setiap pagi. Namun, tiba-tiba itu juga hilang bagai hujan deras diterpa teriknya mentari.

Setelah kejadian yang menyerang mereka berdua, meretak segala hubungan mereka. Bahkan, sapa pun tidak pernah terjadi. Tiba-tiba mereka berdua ditunjuk menjadi perwakilan sekolah

dalam ajang lomba debat tingkat kecamatan. Mereka yang baru perang dingin mendapat tugas itu bagai sebuah bencana tsunami yang akan menghanyutkan mereka.

“Kalian mewakili sekolah ya? Lomba debat,” kata Bu Ani guru bahasa Indonesia.

“Dani saja Bu,” kata Rani menanggapi permintaan itu. “Gak usah saya Bu, Rani saja dia lebih jago,” jelas Dani. “Enggak, kalian berdua yang ikut, nanti sama Sinta juga,” jawab Bu Ani.

“Kalau gitu yang lain saja Bu, saya diganti,” kata Rani dengan segera.

“Saya saja Bu yang diganti, biar Rani yang maju dia kan yang jadi best speker tahun lalu,” Dani mulai mendebat.

“Kalian bagaimana sih, kalian itu pasangan hebat debat tahun lalu, makanya ibu pilih buat tahun ini,” jawab Bu Ani kesal. “Ya udah cari yang lain saja Bu, yang adik kelas biar mereka ada pengalaman,” pinta Rani.

“Iya Bu kebetulan saya tahu adik kelas yang pintar debat,” tambah Dani.

“Gak, sudah ibu daftarkan dan kalian harus maju bagaima-napun keadaaanya,” kata Bu Ani mulai gerah dengan tingkah mereka.

Akhirnya mereka mendengus kesal. Tidak tahu mau berbuat apalagi dengan guru yang keras kepala.

“Sebenarnya ibu bingung, kenapa kalian ini disuruh tidak mau, biasanya gak ibu tawari, kalian cari-cari sendiri lomba debat. Sekarang pas gak ada yang minat, ibu tawarkan ke kalian. Kalian malah tidak mau. Ada apa dengan kalian?” tanya Bu Ani.

“Entahlah Bu,” jawab Rani.

Kemudian hening berapa menit, tidak ada respon dari keduanya. Akhirnya Bu Ani buka mulut.

“Pokoknya ibu gak mau tahu, besok kalian datang ke per-pustakaan habis pelajaran, kita latihan,” terang Bu Ani.

Mereka akhirnya dengan sangat terpaksa mengangguk ri-ngan. Walau dalam hati mereka cukup berat. Bagai sebuah batu yang diikat di kepala mereka.

“Ya sudah, silakan balik ke kelas,” Bu Ani mengakhiri. Mereka berjalan pelan menuju kelas. Kemudian saling berpisah seakan tidak pernah bertemu.

****

Esok pun datang dengan segera, Denting suara bel tanda berakhirnya pelajaran terdengar. Dani segera meluncur menuju perpustakaan sesuai dengan perintah Bu Ani kemarin. Saat masuk ke perpustakaan, Dani hanya menemukan Sinta.

“Rani kemana?” tanya Dani.

“Entah, dari tadi cuma aku kok,” jawabnya.

“Perasaan tadi udah keluar duluan lho,” kata Dani pena-saran.

“Entah, mungkin sama pacarnya,” kata Sinta polos. “Ah, dasar anak sialan,” kutuk Dani.

“Kalian kan sahabat? Terus kok berantem gitu?” tanya Sinta menyelidik.

“Entahlah, dia berubah sejak dengan pacarnya,” jawab Dani polos.

Tiba-tiba Bu Ani datang dengan tergesa-gesa. Dia membawa berkas berkas daftar adu argumen yang telah disiapkan.

“Kalian berdua dulu, tadi Rani izin ada urusan penting dan sudah ibu bawakan yang harus dia persiapkan,” jelas Bu Ani.

“Oke kita mulai,” kata Bu Ani.

Di sisi lain dari sekolah itu, dua insan sedang mesranya mengendarai motor. Motor itu berhenti di sebuah warung ma-kan. Salah satu insan itu adalah Rani. Rani berbohong tentang acara penting, kecuali memang dengan sang pacar. Mereka se-nang sekali mengumbar-umbar janji palsu. Apalagi si pacar hanya melampiaskan rasa kesalnya pada mantanya. Namun itu tak pernah disadari oleh Rani. Rani senang saja dengan rayu gombal

lelaki itu. Ditraktir makan gratis, jalan-jalan atau kegiatan apa pun itu.

*****

Lomba debat pun tiba bersama sang mentari menyinari gelapnya bumi. Para peserta sudah hadir di arena debat. Namun, sampai hari itu tiba, Rani tak pernah ikut latihan sekali pun. Bahkan, tadi dia sempat menghilang, tapi Dani menemukannya sedang bermesraan di bawah pohon cemara yang tidak jauh dari sekolah. Dengan membawa Bu Ani serta Satpam sekolah, Rani dipanggil agar mau ikut. Sebenarnya Dani sudah bilang ke Bu Ani mengenai masalah Rani yang sebetulnya, hanya pacaran tak ada acara penting. Bahkan, Dani meminta menggantinya saja. Tapi Bu Ani diam saja tidak mau tahu, dan keras kepala.

Lomba itu berlangsung meriah, namun sayang Rani berbi-cara tak jelas. Bahkan, argumennya ngawur. Mereka berakhir dengan membawa atmostfer kekalahan. Setelah selesai, mereka diantar Bu Ani dengan mobilnya. Sepanjang jalan, Bu Ani mence-ramahi mereka tanpa ampun karena ini hal paling memalukan buat sekolah mereka.

“Kalian bagaimana? Ibu sudah susah payah cari argumen terbaik, tapi kalian tidak dapat mengolahnya. Dan kau Rani, kenapa kau tiba-tiba ngelantur gak jelas gitu,”

“Siapa yang menyuruh memilih saya,” jawab Rani ketus. “Kau selalu menyalahkan tentang itu, padahal kamu sendiri yang enggan untuk itu, malah kabur gak mau latihan dan ber-mesraan dengan pacarmu,” terang Bu Ani.

“Terserahlah,” jawab Rani ketus, membuang pandangan. “Sebetulnya Ibu gak usah milih dia,” kata Dani.

“Iya Bu,” tambah Sinta yang kesal karena kalah.

“Sebenarnya, ibu tahu akan jadi begini sejak salah satu teman kalian memberi laporan tentang Rani. Tapi ibu diam saja membiarkan apakah Rani merasa bersalah atau tidak? Namun, hingga saat ini dia malah menyalahkan ibu,” terang Bu Ani panjang lebar.

Kemudian mobil mulai melambat, meluncur menempati lahan kosong yang bertuliskan “Tempat Parkir”. Di samping tulisan itu berdiri sebuah bangunan yang tidak cukup megah. Berisi para manusia yang sedang menyatap makanan.

“Oke kita istirahat, makan dulu,” kata Bu Ani

Mereka turun dari mobil. Rani masih terdiam di dalam mobil.

“Ayo Ran turun, Kau sering makan di sini dengan pacarmu kan?” celetuk Bu Ani membuat Rani cukup kaget.

Rani dengan terpaksa turun dari mobil. Bu Ani lalu memilih tempat duduk. Empat saling berhadapan memenuhi meja. Wajah Rani masih saja tertekuk akibat debat kusir di mobil tadi. Bu Ani memanggil pelayan dan menyuruh siswanya memilih ma-kanan yang disukai.

Rani mulai mengedarkan pandangan ke seluruh menjuru ruangan, menemukan sepasang kekasih yang salah satunya tidak asing baginya. Bu Ani yang menyadari hal itu lansung menahan Rani yang akan bediri menuju tempat dua insan yang mesra makan suap-suapan.

“Kau kaget Ran melihat pacarmu di sini?” tanya Bu Ani. Rani diam saja menahan amarahnya dan sakit hati yang memuncak. Ingin rasanya menghampiri, tapi tangan Bu Ani ter-lalu kuat mencengkeramnya.

“Kau tak pernah tahu kan apa yang ada di balik pacarmu?” Bu Ani kembali bertanya.

“Bahkan kau tak pernah tahu bahwa kau selama ini diman-faatkan oleh pacarmu agar mantannya kembali,” Dani angkat suara.

“Kau tak pernah mendengarkan Dani saat di dalam kelas memperingatkanmu? kau masa bodoh dan meluncur pergi untuk kencan,” Sinta mulai ikut.

“Saat kau dan Dani bertengkar di kelas, Bu Ani sedang mengajari Sinta di kelas sampingmu. Ibu yang tahu hubungan kalian sebagai sahabat dari percakapan kalian, merasa tak enak

hati. Akhirnya Sinta mengusulkan untuk mengembalikan per-sahabatan kalian dengan mengikutkan lomba debat. Awalnya Dani tak kami beri tahu soal rencana ini, tapi karena kau tidak pernah datang ke latihan, kami membeberkan rencana ini kepada Dani. Dani sebagai mata-mata mengawasi kau tiap ada waktu luang. Juga mengawasi pacarmu, “ terang Bu Ani.

“Tapi aku curiga tentang pacarmu yang tiba-tiba mau denganmu. Dia dikenal ganteng bahkan kaya, tapi mau saja denganmu,” tambah Dani.

“Kau tak usah menghina diriku,” jawab Rani dengan telinga panas, apalagi pemandangan di depannya sungguh menyakitkan. “Aku akhirnya tahu dari teman-temannya bahwa pacarmu hanya manfaatkan agar bisa balikkan dengan mantannya,” kata Dani menjelaskan.

Lengang sesaat.

“Dan Setelah kau tahu fakta sebenarnya, terserah kamu, mau balik sebagai sahabatku atau tidak,” kata Dani menawari.

Perdebatan mereka berakhir, makanan pesanan datang. Me-reka makan dengan tenang, kecuali Rani. Dirinya merasa terca-bik-cabik melihat pacarnya masih mesra dengan mantanya dulu. Rani pun tidak tahan lagi, dia berdiri. Kemudian berjalan meng-hampiri pacarnya yang sudah mau pergi ke kasir. Tangannya dengan cepat menghantam pipi pacarnya.

“Kita putus,” kata Rani sambil pergi meninggalkan pacarnya. Pacarnya kaget dengan tamparan itu, hanya tersenyum sambil memegang pipinya, sambil berseru pelan, “Makasih.”

Pacarnya pergi menyusul mantannya yang sudah duluan ke meja kasir. Tidak ada yang melihat kejadian itu karena berlang-sung begitu cepat.

Rani menghampiri Dani yang masih menyatap makanan. Kemudian pelan tangannya merangkul Dani. Dani tersentak karena tidak mengira hal tersebut terjadi.

“Kita balikan jadi sahabat ya?” kata Rani pelan dan air mata-nya mengalir membasahi pipi.

Dani mengangguk pelan, Sinta dan Bu Ani tersenyum melihat dua pasang insan yang hebat itu kembali.

“Habiskan makanan kalian, besok kita latihan debat, ibu sudah daftarkan lomba debat lagi,” kata Bu Ani mengakhiri.

“Horeee,” seru mereka bertiga.

“Kali ini kita harus menang dong,” kata Rani. “Iya kan pasangan hebat sudah kembali,” kata Sinta. “Tapi ngomong-ngomong, kenapa kalian gak pacaran?” tambah Sinta penasaran.

Dani dan Rani saling berpandangan sambil tersenyum. “Gak papa Sin,” kata Dani.

“Kita pengen gini aja,” kata Rani.

Sinta mendengus sebal, Bu Ani yang melihatnya hanya tersenyum.

“Ya udah jangan pada ribut, udah sore, mending kita pu-lang,” sambung Bu Ani.

“Ya udah kita pulang,” ujar Dani.

Mereka akhirnya kembali bersama sang fajar yang bergerak ke peraduan.

Maulana Maqdum Ibrahim. Lahir di Sleman, 31 Maret 1999. Siswa SMA Muhammadiyah Bantul ini memiliki hobi membaca novel dan menulis. Alamat rumah di Perum BSA 2 Njoho, Gununggempal, Giripeni, Wates, Kulonprogo. Ponsel 087838711839; posel: [email protected]

Kalimat yang terurai dari ucapan Herry nyaris membuatku tersedak. Aku terpana. Sesuatu yang melintas dalam pikiran, sesaat menghadirkan rasa tak nyaman. Setengah terkejut, kupan-dang Herry dengan sorot mata tak percaya. Herry berpaling, menghindari kerlingku. Dari eksperesinya, aku tahu Herry se-dang tidak bergurau. Ia tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

Kutelan ludah, pahit terasa melalui kerongkongan. Sesung-guhnya, aku berharap Herry akan memutar ulang kata-kata yang baru meluncur dari bibirnya. Bisa jadi aku salah dengar, atau juga mungkin salah menyimpulkan. Barangkali, bisa saja hal itu terjadi. Tapi, Herry bergeming. Sia-sia aku menunggu ia meng-ulangi kata-kata yang sama seperti diucapkan sebelumnya.

“Apa aku tidak salah dengar, Her?” tanyaku, memancing dialog.

Herry menghela napas panjang. Sejurus, Herry mengganguk. Berarti benar apa yang kudengar, aku membatin. Hening. Se-nyap memenggal perasaanku.

“Aku harap kamu tidak keberatan, Mer,” kata Herry pelan nyaris tak terdengar. Wajah tirusnya kemudian dialihkan pada-ku. Dalam tatapannya, aku menangkap gurat ekspresi yang tak tertafsirkan.

Mimpi Belum Usai