• Tidak ada hasil yang ditemukan

“Tapi menurutku, kita tetap harus memberi uang pada mere-ka, Kun. Setidaknya sebagai tanda terima kasih. Bagaimanapun mereka adalah kakak-kakak kita dan membuat iringan bukanlah hal yang mudah. Mereka tidak akan tidur sampai pagi untuk membuatnya,” ujarku.

“Baiklah begini saja, untuk musik kita anggarkan 600 ribu,” kata Arum

“Bukankah itu terlalu sedikit?” sahut Kuncara.

“Iya betul. Lebih baik anggaran untuk musik kita lebihkan. Satu juta, misalnya,” kata Dini menimpali.

“Sadarlah kawan-kawan. Kalian pikir berapa uang kas yang kita miliki? Apakah kalian sudah membayar lunas untuk kas kita…” Arum mulai naik darah.

“Hehe iya, maaf Mbak Bendahara,” ujar Kuncara diikuti cengiran Dini.

“Lalu kapan musik koreografi kita mulai digarap?” tanya Inca masih dengan kepolosannya.

“Tentu saja setelah gerakan tari kita tuntas!” jawab Kuncara. “Dan masalahnya kita belum bisa menuntaskan gerakan kita, karena setiap kali latihan Krisna selalu tidak hadir. Sudah se-minggu ini dia menghilang. Dia hanya berpesan padaku bahwa dia akan pentas, dia menyuruh kita untuk berlatih bersama tanpa dia,” ujar Tri.

Aku hanya diam membisu sedari tadi. Hal yang aku takutkan akhirnya dibahas juga. Krisna adalah sumber permasalahan da-lam kelompok koreografiku. Dia adalah ketua kelompok, namun dia mangkir dari tanggung jawabnya sebagai ketua. Dia tidak pernah hadir dalam latihan rutin kelompok. Dia juga sudah ber-janji akan membuat properti gada dan naga, namun hingga hari ini sama sekali tidak terlaksana. Kami para anggota kelompok sangatlah kesal akan ulah Krisna. Namun apa daya kami. Kami bekerja dalam koreografi di bawah otoritas Krisna dan Kuncara. Krisna adalah ketua yang seenaknya sendiri, begitu pula Kuncara. Dia adalah sutradara dan penata gerak kami.

Setiap kali latihan, kami harus mengulang gerakan yang sama minimal tiga kali. Kami mandi keringat setiap hari, sedangkan Krisna dan Kuncara hanya duduk dengan santai, memerintah kami dengan dalih “mengamati kekompakan”. Sangat menjeng-kelkan, bukan? Dalam proses kelompok, seharusnya kita semua merasakan kebersamaan. Bahagia dan lelah pun harus bersama. Jujur, aku lelah dengan semua ini. Lelah fisik, hati, dan pi-kiran. Aku lelah lahir dan batin. Masalah Krisna ini menurunkan semangat kami semua dalam koreografi. Kami semua muak dengan sikapnya.

“Ah! Manusia macam apa dia? Menjabat sebagai ketua, tapi pada kenyataannya dia hanyalah parasit bagi kelompok kita!” kata Kuncara emosi.

Sudah sejak lama memang, Kuncara dan Krisna saling me-nyimpan rasa tidak suka. Jika tidak ada Krisna, Kuncara akan menjelek-jelekkan Krisna di hadapan kami, begitu juga sebalik-nya. Krisna akan menjelek-jelekkan Kuncara ketika dia tidak ada. Dan posisi kami di sini seperti bayi yang tidak tahu apa-apa. Seperti orang tanpa pendirian. Kadang kami mendukung Kuncara dan kadang kami mendukung Krisna. Padahal dalam hati, kami membenci mereka berdua. Benar-benar munafik.

“Sudahlah, lebih baik kita hubungi saja Krisna. Kita minta dia datang ke sini. Kita bahas masalah ini dan kita selesaikan sekarang juga,” ujarku.

“Baiklah, aku akan menghubungi Krisna sekarang,” ujar Dini sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Kami semua menunggu Krisna mengangkat telepon. Jantung kami berdegup semakin kencang dan kencang. Namun kaki kami menjadi lemas ketika terdengar suara operator di seberang. Panggilan kami tak dijawab. Kami pun mencoba menghubungi-nya sekali lagi. Tak juga dijawab.

“Jangan berburuk sangka, Kun. Ayo coba lagi,” kataku sam-bil meraih ponsel Dini dan menelepon ulang. Perlahan terdengar suara Krisna di seberang sana.

“Halo….”

“Halo Kris, kamu di mana?” tanyaku perlahan.

“Aku di pinggir jalan. Aku sedang perjalanan ke Magelang. Jangan telepon sekarang. Aku sibuk. Kalian latihan sendiri dulu. Kuncara bisa mendampingi kalian.”

“Tidak bisa Kris! Kamu harus datang sekarang juga. Koreo-grafi kita dalam masalah dan sekarang kami sedang mengadakan rapat. Kamu seharusnya hadir di sini. Bukannya menyuruh se-enaknya sendiri,” ujar Arum emosi.

“Aku tidak bertingkah seenaknya sendiri. Aku hanya sedang sibuk. Aku ada pentas,” kata Krisna.

“Sudah berapa kali kamu meninggalkan kelompok koreografi untuk kepentingan pribadimu? Kami lelah Kris,” ujarku.

“Baiklah aku akan datang,” balasnya cepat.

Tahukah kalian, kawan? Di saat seperti ini, Kuncara hanya diam. Dengan dalih “menahan emosi”. Padahal kami semua tahu bahwa dia hanya berani menjelek-jelekkan Krisna di belakang saja. Dia tidak berani menghadapi Krisna secara langsung.

Setelah lama menunggu, akhirnya Krisna datang. Terlukis jelas di wajahnya bahwa dia mencoba menahan emosi. Dia pun duduk bergabung ke dalam lingkaran forum. Menarik napas panjang lalu perlahan menghembuskan lewat mulut.

“Baiklah kawan-kawan, apa yang ingin kita bahas kali ini?” katanya membuka pembicaraan.

“Begini Kris, kami semua lelah dengan sikapmu. Pementasan koreografi kita tinggal dua minggu lagi, tapi kita sama sekali belum matang,” kata Arum.

“Dan ditambah lagi kamu selalu menghilang. Tidak pernah hadir dalam latihan. Itu sangat menurunkan semangat kami,” ujar Tri.

“Kami hanya ingin kejelasan darimu. Kamu masih ingin ber-gabung dalam kelompok atau tidak? Jika kamu terus saja me-nyusahkan, lebih baik kamu keluar saja,” kataku memberanikan diri.

“Aku sudah mengatakan sebelumnya bahwa aku pergi ka-rena ada pentas. Aku mencari uang untuk membayar kas ko-reografi kita,” katanya.

“Lalu jika kamu memang pergi mencari uang, mana bukti-nya? Kamu juga sama sekali belum membayar kas. Sudah berkali-kali Kris kamu meninggalkan kelompok kita. Entah untuk pentas, untuk berkumpul dan nongkrong bersama teman-temanmu, bah-kan untuk menyelesaibah-kan masalahmu dengan pacarmu,” kata Arum.

“Kami cuma butuh tanggung jawabmu sebagai ketua Kris,” kata Kuncara pelan.

Lalu, kami semua diam. Larut dalam pikiran masing-masing. Mencoba menimbang-nimbang. Dalam hati sebenarnya aku ti-dak tega mengeluarkan Krisna. Karena dia sudah berproses sejak awal bersama kami.

“Kami sudah menuruti keinginanmu Kris. Mulai dari ide cerita, konsep hingga jadwal latihan. Sekarang kami ingin kamu menuruti permintaan kami. Kami ingin kamu ada untuk kami,” kata Tri.

“Tapi aku sudah menyanggupi untuk melatih Jathilan di Gunungkidul. Aku ingin mencari nama di sana. Aku ingin jadi terkenal,” kata Krisna mulai emosi.

“Kamu harus memilih, Kris,” kata Arum.

Setelah sekian lama kami menyimpan semua ini dalam hati, akhirnya kami berhasil mengungkapkan. Kami kembali diam. Aku mencoba menahan tangis. Dan aku yakin kawan-kawan yang lain juga begitu. Lalu perlahan terdengar suara Krisna.

“Aku minta maaf teman-teman. Aku memang salah. Aku selalu meninggalkan kalian. Maafkan aku. Aku masih ingin ber-proses bersama kalian. Aku ingin maju di ujian koreografi besok

bersama kalian. Aku minta maaf dan sekali lagi aku menegaskan bahwa aku masih ingin bersama kalian. Maukah kalian meneri-maku?”

Sontak tangis kami semua pecah. Kami semua berpelukan. Memeluk erat kawan-kawan kami yang sudah mengorbankan segalanya. Kami semua menangis. Terharu. Kini semuanya jelas. Kami sudah lega. Aku dapat tersenyum bahagia sekarang. Bah-kan hingga dalam perjalanan pulang. Ketika sampai dirumah, aku masuk kamar. Kupandangi wayang Bima yang terpajang di tembok. Kembali kuingat bahwa koreografi kami menceritakan perjuangan Bratasena yang mencari Air Perwitasari. Sekalipun sulit, namun Bratasena mempunyai semangat yang luar biasa besar menemukannya.

Aku pun menyadari bahwa perjuangan kami juga harus sama beratnya dengan perjuangan Bratasena. Kami pun kembali me-ngobarkan semangat, seperti Bratasena yang meme-ngobarkan se-mangatnya hingga dia berhasil dan mendapat nama Bima. Tokoh ini akan selalu menjadi teladan bagi kami. Bratasena.

Amara Arvitha Mayangsari. Lahir di Yogyakarta, 30 April 1999. Siswa SMK Negeri 1 Kasihan ini memiliki hobi membaca, menyanyi, dan menari. Alamat rumah di Kweni RT 04, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Ponsel 083867580575.

Di sini aku pun menanti di dalam hatiku bersama burung merpati putih memberikan siraman rindunya menatap mentari sore di ufuk barat. Merah langit di waktu senja mengharapkan hiasan bintang mengedipkan sinarnya di malam yang gulita. Mer-pati putih saksi dalam malam kubersujud di hadapan-Mu, berha-rap ulur kasih maha pengasih dan maha penyayang. Di manakah waktu akan berkata, ketika hati dibalut kabut kelam? Semurni cinta dan pengabdian seorang anak pada seorang wanita yang telah melahirkannya di dunia ini. Peluh keringatnya menetes kering terpapar matahari tengah hari. Semoga bunda mende-ngarkan dan merasakan rasa kangen akan kecupan kening ini. Kucinta kepadamu, menikmati belai mesra helai rambut yang telah engkau berikan.

Getaran-getaran di hati sanubari sempat tak ada lagi saat bersamamu. Aku pun tak tahu bagaimana caranya agar selalu berada bersamamu, meskipun waktu tak merestui untuk perte-muan panjang itu. Bunda jadikanlah aku sebagai temanmu, ajak ke mana saja engkau mau, dan jadikanlah aku sesuatu yang ber-arti dalam hidupmu. Semua yang telah aku dapatkan darimu tak akan tergantikan hanya dengan kedipan mata memandang.

“Tuhan, inikah cara-Mu meneguhkan hatiku?”

Tarian bidadari berselendang putih menari-nari di atas ta-ngisanku. Belum pernah ada orang sehebat bunda, tak ada kisah

100 Burung Kertas