AJARAN KETUHANAN DALAM HINDUISME DAN ISLAM
B. Ajaran Ketuhanan Dalam Agama Hindu
Hinduisme muncul sekitar tahun 1800 sebelum Masehi di India7 dan termasuk agama paling tua di dunia yang masih hidup hingga sekarang. Dalam hal ajaran ketuhanannya, agama Hindu merupakan agama monotheistik politeisme8, yang pengikut-pengikutnya percaya pada satu Tuhan, yaitu Brahman (Roh yang mutlak), yang tak dapat dijangkau dan dimengerti oleh manusia, namun terdapat berjuta-juta gambar yang membuat Brahman bisa dilihat dan dikenal oleh para pemujanya, yang mana disebut dengan Dewa-Dewi.9
Menurut pandangan Hindu, Kenyataan (Brahman dalam Kitab Upanishad10) dapat dilihat dari dua aspek, yaitu transendental (Impersonal11) dan tetap ada (Personal12). Dalam aspek transendental-Nya, Kenyataan13 disebut dengan Nirguna Brahman, yaitu Brahman tanpa atribut. Nirguna Brahman bukanlah objek doa, tetapi objek meditasi dan pengetahuan. Tidak dapat digambarkan, pengetahuan yang mutlak dan kebahagiaan yang mutlak dan orang mengatakan ini sebagai keberadaan yang mutlak, pengetahuan dan kebahagiaan yang absolut (sat-cit-ananda14).15 Dalam Brahma Sutra I. 1. 1
7
Michael Keene, Agama-Agama Dunia (Yogyakarta: Kanisius, 2006), h. 10. 8
Monotheisme adalah paham yang percaya pada Tuhan yang satu dan berkuasa penuh atas segala sesuatu, sedangkan monotheistik politeisme adalah pengakuan tentang Tuhan yang diketahui dengan berbagai cara dan dipuja dalam berbagai bentuk. Lihat Bansi Pandit, Pemikiran Hindu (Surabaya: Paramita, 2003), h. 43-46.
9
Keene, Agama-Agama, h. 14. 10
Kitab Upanishad adalah penafsiran filosofis atas kitab Veda, yang berisi tantang filsafat Hindu, baik berisi mantera-mantera ataupun berbagai teori mengenai aspek ketuhanan. Lihat Gde Sara Sastra, Konsepsi Monotheisme dalam Agama Hindu (Surabaya: Paramita, 2005).
11
Impersonal atau transendental berarti pengenalan Tuhan tentang diri-Nya. 12
Personal atau imanen berarti pengenalan Tuhan melalui ciptaan-Nya. 13
Kenyataan maksudnya Tuhan, Dzat Yang Maha Esa. 14
Brahman memiliki 3 aspek, yaitu: Sat sebagai Maha Ada satu-satunya, tidak ada keberadaan yang lain di luar beliau. Dengan kekuatanNya Brahman telah menciptakan bermacam-macam bentuk, warna, serta sifat banyak di alam semesta ini. Planet, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan serta benda yang disebut benda mati berasal dari Tuhan dan kembali pada Tuhan bila saatnya tiba. Cit sebagai Maha Tahu, Dialah sumber ilmu pengetahuan, bukan pengetahuan agama,
dijelaskan bahwa asal dari asal itu adalah Brahman, Ia yang tahu dan Ia adalah akibat dari yang ada. Sloka tersebut berbunyi ―Athato Brahma jijnasa‖.
Artinya : ―Brahman (Tuhan) adalah asal dari akibat tahu dan melihat
segala ciptaan yang merupakan hasil yadnya-Nya‖.16
Sedangkan aspeknya yang selalu ada dimana-mana (imanen), Kenyataan disebut dengan Sadguna Brahman, yaitu Brahman dengan Atributnya. Sadguna Brahman adalah Personal Tuhan, Pencipta, Pemelihara dan Pengendali dari jagat raya ini.17 Dalam agama Hindu, aspek personal dipuja dalam bentuk pria dan wanita (Ardhanareswari). Dari aspek pria, Kenyataan ini disebut dengan berbagai nama dalam bahasa Sanskerta, seperti Isvara, Paramesvara, Paramatma, Mahesvara dan Purusa. Walaupun ada perbedaan yang mendasar dalam arti dari kata Sanskerta tersebut, secara umum menyatakan Kenyataan sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pengendali dari seluruh jagat raya. Dari aspek wanita, Kenyataan ini disebut dengan nama seperti Ibu Mulia, Durga dan Kali. Terdapat dalam Adhyaya IV. 2 Sweta Swatara Upanisad yang berbunyi :
―Tat ewa gnis tad adityas tad wwyus tad u candramah, tad ewa
sukram tad brahma tad apas tad prajapatih.‖
Artinya : ―Itu (Brahman) sesungguhnya juga adalah Agni, juga adalah Sang Aditya, juga adalah Sang Wayu dan juga Sang Candrama atau Sang Bulan. Beliau itu juga adalah bintang-bintang yang ada di langit Brahman itu
tetapi sumber segala pengetahuan. Ananda adalah kebahagiaan abadi yang bebas dari penderitaan dan suka duka. Lihat, www.ang-gun.blogspot.com, dengan judul artikel ―Konsep Ketuhanan Dalam Agama Hindu, diakses pada 26 oktober 2010.
15
Pandit, Pemikiran, h. 40-41. 16
Sastra, Konsepsi Monotheisme, h. 61. 17
juga Hiranyagarbha (pencipta semua yang ada), juga adalah Prajapati (asal dari segala yang ada).‖18
Dalam pemahaman agama Hindu, Tuhan menjelma dalam banyak wujud. Konsep satu Tuhan dalam banyak perwujudan ini berfungsi untuk memudahkan manusia dalam memahami Tuhan Yang Maha Esa. Trinitas Hindu atau Trimurti, wujud Dewa dan Dewi, para Avatara atau titisan dari Wishnu Sang Tuhan, Dewata-Dewata, titisan Dewa-Dewa dalam bentuk planet dan binatang merupakan perpanjangan bentuk (manifestasi) dari Tuhan.19
Trimurti terdiri dari Brahma, Wishnu dan Shiwa, bukanlah tiga yang berdiri sendiri atau dewa yang terpisah satu sama lain, tetapi merupakan tiga aspek yang berbeda dari satu Tuhan. Brahma mewakili aspek Maha Pencipta, Wishnu Sang Pemelihara dan Shiwa mewakili aspek Pemusnah alam semesta. dari ketiga dewa-dewa ini lalu berkembang menjadi dewa-dewa yang lainnya.
Pemberian nama terhadap sifat-sifat Tuhan ini adalah suatu hal yang tak dapat dielakkan, namun tidak mempengaruhi hakikat-Nya yang hakiki. Karena menurut Kitab Suci Veda20 yang absolut (Tuhan) itu adalah satu, hanya orang-orang bijaksana yang menyebutkan dengan banyak nama. Hal ini tercantum dalam syair mantera Veda, yaitu Rg Veda mandala 10. 90. 1 – 2 yang berbunyi :
18
Sastra, Konsepsi Monotheisme, h. 66. 19
Bagus Takwin, Filsafat Timur: Sebuah Pengantar Ke Pemikiran-Pemikiran Timur
(Yogyakarta: Jalasutra, 2003), h. 52. 20
Veda adalah sumber dari agama Hindu. Veda ini diucapkan sebagai nafas Tuhan, kalimat-kalimat Veda disebut mantera yang meliputi bunyi dan arti dalam kesatuannya. Menurut sifatnya, isi dari Veda dibagi atas tiga bagian: Bagian Mantera, terdiri dari empat himpunan (Catur Veda Samhita) yaitu Rg Veda, Sama Veda, Yajur Veda dan Atharwa Veda. Bagian Brahmana
(Karma Kanda) dan Bagian Upanishad dan aranyaka (Jnana Kanda), lihat Sastra, Konsepsi Monotheisme, h. 6, 59.
―Sahasra sirsa purusah, Sahasraksah sahasrapat, Sa bhumim vis ‗vato
vrtva, Tyatisthad das angulam, Purusa evedam sarvam, Yadbhutam yacca bhavyam.‖ 21
Artinya : ―Purusa mempunyai kepala, seribu mata dan seribu kaki (Purusa tak terbatas), beliau meliputi alam semesta ini dari semua arah, tetapi diri-Nya sendiri (Purusa) lebih dari alam semesta itu dengan ukuran sepuluh jari. Semua ini, semua yang sudah jadi dan semua yang akan jadi adalah sama dengan Purusa atau Purusa adalah sama dengan semua ini, yaitu semua yang sudah jadi semua yang akan jadi.‖
Kitab-kitab suci Hindu, Veda dan Upanishad, telah membuka jalan ke pemikiran filosofis mendalam dimana akhirnya segala-galanya dipahami sebagai Satu. Dzat paling mendasar adalah Brahman sebagai Atman (jiwa) meresapi segala-galanya. Ada yang berpendapat bahwa yang sebenarnya ‗ada‘
hanyalah Brahman sebagai realitas satu-satunya, sedangkan segala apa yang kelihatan, seluruh alam inderawi adalah maya (tipuan belaka).22
Namun dalam penghayatan lebih umum, yang Satu mengungkapkan diri dalam Trimurti, dengan tiga wajah-Nya yang kemudian juga bisa menjadi tiga Dewa—Brahman, Wishnu dan Shiwa. Bagi rakyat biasa, ketuhanan tersebut terungkap dalam ribuan Dewa dan Dewi yang sebagian kita kenal dari kisah Ramayana dan Mahabharata. Dengan demikian, seluruh realitas terpenuhi oleh kehadiran dimensi adi-duniawi. Dewa-Dewi ini merupakan personifikasi ketuhanan yang satu, yang begitu abstrak. Melalui Dewa-Dewi ini, ketuhanan menjadi kehadiran dalam lingkungan hidup nyata.23
Hinduisme memberikan tiga cara yang unik kepada pengikutnya untuk menyembah Brahman, yaitu dengan kata-kata suci, melagukan mantera dan
21
Sastra, Konsepsi Monotheisme, h. 45. 22
Franz magnis Suseno, Menalar Tuhan (Yogyakarta: Kanisius, 2006), h. 29-30. 23
penggunaan Mandala24 (pola geometris yang kompleks). Banyak dari umat Hindu yang melakukan ibadat di rumah, di rumah dan kuil atau hanya beribadat di kuil saja.
1. Kata-kata suci
Kata-kata suci atau kata keramat, AUM atau OM, adalah kata yang pertama muncul dalam kitab-kitab Upanishad dan tersusun dari tiga unsur bunyi—‗a‘, ‗u‘ dan ‗m‘—menjadi satu kata yang disenandungkan dengan alunan suara yang dalam. Orang Hindu percaya bahwa jika diucapkan, bunyi yang terdiri dari tiga unsur bunyi ini menyatakan:
a. Tiga Kitab Veda dari bagian pertama; b. Tiga dunia—bumi, atmosfer dan langit.
c. Tiga dewa utama—Brahma, Wishnu dan Shiwa.
Namun demikian, bagi kebanyakan umat Hindu, kata keramat ini menyatakan lebih daripada hal yang dinyatakan diatas. Mereka meyakini bahwa bunyi itu menjangkau seluruh alam semesta dan kesatuannya dengan Brahman. Dalam Mandukya Upanishad dikatakan:
―OM. Bunyi yang tidak bisa mati adalah benih dari segala yang
ada. Kemarin, sekarang dan yang akan datang, semuanya adalah OM
yang kelihatan.‖25
24
Mandalaadalah istilah untuk lingkaran. Dalam meditasi Hindu dan Buddha digunakan untuk meningkatkan kesadaran. Dalam meditasi, orang tersebut perbaikan pikirannya di tengah lingkaran "suci." desain geometrik yang umum. Pusat beberapa Mandala menunjukkan segitiga dengan Bindu (dot) di dalam lingkaran. Ini merupakan penggabungan kekuatan laki-laki dan perempuan, contoh dari mandala ini misalkan Candi Prambanan untuk agama Hindu dan Candi Borobudur untuk agama Buddha. Lih Keene, Agama-Agama, h. 24, dan https://www.paradetect.com, diakses pada 03 November 2010.
25
2. Melagukan Mantera
Mantera mempunyai peranan penting dalam semua peribadatan Hindu. Mantera adalah suatu ayat, kata atau sederet kata-kata yang dipercaya memiliki daya kekuatan Ilahi. Mantera diulang-ulang untuk meningkatkan pengertian dan kesadaran umat Hindu terhadap Allah. Mantera dipercayai dapat membawa pembebasan dari keduniawian dan hal-hal sepele yang biasanya menguasai pikiran manusia ke dalam alam spiritual yang sekaligus beraneka ragam. Dalam Katha Upanishad, 2;16,17 di sebutkan:
―Bermeditasi dengan menggunakan mantera akan memenuhi
setiap kebutuhan dan akhirnya membawa pada pembebasan.‖
3. Mandala
Mandala adalah pola geometris yang kompleks, yang digunakan di dalam ibadat, untuk melahirkan seluruh kosmos. Dalam upacara keagamaan yang penting, mandala digambarkan di atas tanah yang diberkati dengan menggunakan serbuk warna-warni dan dihapus setelahnya. Ruang-ruang dalam mandala melambangkan Dewa-Dewi terkenal atau Dewa-Dewi pujaan pribadi, dengan Wishnu ditengahnya.26
Dari ketiga cara unik tersebut, pada intinya itu semua adalah bentuk penyembahan umat Hindu kepada Brahman, Dzat Tertinggi, sebagai bentuk dari rasa syukur dan penghormatan atas nikmat dan karunia yang telah diberikan-Nya.
26