• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ajaran Sanggamu, Sanggata, dan Sanggakamu

Dalam dokumen ISLAM SIGI (Halaman 74-91)

dikontrol (Zelfbestuurslandschappen atau Vorstelanden). Daerah yang dikontrol langsung dibagi lagi menjadi afdeelingen dan sub bagiannya onder afdeelingen. Afdelingen dipimpin langsung oleh seorang kontroleur Belanda tetapi yang memerintah dipegang oleh seorang Bupati. Bupati adalah seorang penguasa baru yang dibuat oleh Belanda untuk menggantikan konsep Mokole, Magau, Karaja, Datu, Kabosenya, sebagai penguasa tertinggi tradisional di wilayah Sulawesi Tengah. Bupati inilah yang menguasai keseluruhan Regentchaapen (Kabupaten).

Hambatan budaya dan agama dalam integrasi politik Hindia Belanda dan Pendudukan Jepang di Sulawesi Tengah dapat dilihat dalam perlawanan-perlawanan yang ditampilkan oleh tokoh-tokoh lokal seperti Ama (Umana Soli) di Pekurehua tahun 1907, Kolomboy yang dilanjutkan oleh anaknya Tanjumbulu di Tojo, Tabatoki di Pamona, Owolu Marunduh di Mori tahun 1907 termasuk La Satande Dunia di Tatanga bersama Ratu Tatanga yang bernama Ranginggamagi.

Pada tahun 1920-an telah muncul organisasi perjuangan yang didalangi oleh PSII, Muhammadiyah dengan nama pejuang Merah Putih. Tercatatlah Haji Alauddin dan Haji Abdul Rahim di Bungku, Abdul Latif Mangitung dan Tanjumbulu di Tojo.

Kelompok yang kooperatif yang mau melanjutkan kekuasaan tradisionalnya dalam kekuasaan Hindia Belanda dan Pendudukan Jepang diimplementasikan dalam kesepakatan Perjanjian Pendek (Korte Verklaring). Bagi wilayah Poso antara lain Kabosenya yang bernama Ta Lasa selaku penguasa pribumi yang juga diakui Belanda sebagai orang terpandang di wilayah Poso. Setelah masa Pendudukan Jepang kekuasaan Ta Lasa dilanjutkan oleh putranya Wongko Lemba Ta Lasa pada masa Jepang tahun 1943. Namun, di masa awal masuknya Belanda ada tokoh-tokoh Poso terkemuka lainnya seperti Taroea, Garoeda, Bengka, Boengesawah,dan Terinde. Demikian juga

di Lore, tercatatlah Raja Kabo sebagai penguasa di daerah Vorstenlanden wilayah Poso yang juga nantinya dilanjutkan oleh putranya Sudara Kabo. Aristokrasi Pribumi rupa-rupanya bisa membaca perubahan jaman sehingga mereka tetap eksis menampilkan karakter tradisionalistik mereka yang disebut oleh Belanda dan Jepang sebagai “Raja”. Pembuangan raja-raja Sulawesi Tengah ke luar Sulawesi Tengah mengakibatkan surutnya kerajaan lokal sebagai kerajaan yang berdaulat sehingga ada beberapa raja yang dibuang telah wafat dalam pembuangan seperti I Satandedunia dari Kerajaan Tatanga.

Dia pulang ke negerinya tinggal tulang belulang ke pemakaman Petobo Sulawesi Tengah. Pusara itu yang menjadi saksi bahwa dia seorang pejuang dan sebagai ulama di Lembah Palu Sulawesi Tengah.

B. AJARAN SANGGAMU, SANGGATA, DAN SANGGAKAMU

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolkanya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Ungkapan dalam bahasa Kaili untuk sebutan realitas kehidupan, Lasatande Dunia menyebut Sanggamo, Sanggata, dan Sanggakamu. Adapun uraian ajaran Baligau Kerajaan Tatanga itu adalah:

1. Sanggamo

Sanggamo artinya segenggam. Masyarakat Kaili mempercayai bahwa asal muasal kejadian manusia dari segenggam tanah.

Hanya dua penamaan didahului kata “tanah” yaitu Tanak Kaili dan Tanah Suci. Relasi kepercayaan orang Kaili ini sudah menandai hakikat keislaman dengan merujuk Tanah Suci tempat Ka’bah, kiblat umat Islam dalam kegiatan ibadah, sosial, budaya, ekonomi, dan sentral komunikasi politik.

Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT

12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Lasatande Dunia mengajarkan sanggamu disimbolkan dalam bentuk kepalan tangan dengan posisi ibu jari dalam genggaman. Artinya, manusia di waktu masih janin di perut ibu, sudah diberikan ketentuan atau takdir. Ada empat hal yang ditetapkan oleh Allah kepada jabang bayi yang sudah ditiupkan roh yaitu rezki, amal perbuatan, ajal dan takdir baik atau buruk.

Hal tersebut sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW, sebagai berikut:1

1 Hadis riwayat al-lmam al-Bukhari dan al-lmam Muslim (Al-Imam al-Bukhari meriwayatkannya dalam ( nombor 3036, dan dalam ( ) dan dalam ( ). Al-Imam Muslim meriwayatkannya di awal kitab

( ) bab ( ) nombor 2643.)

Dari Abu Abdul Rahman Abdullah ibn Mas’uud r.a. beliau berkata: Rasulullah SAW telah bersabda, dan Baginda adalah seorang yang benar lagi dibenarkan (iaitu dipercayai):

Sesungguhnya setiap orang di kalangan kamu dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari berupa air mani, kemudian menjadi segumpal darah selama tempoh yang sama, kemudian menjadi seketul daging selama tempoh yang sama, kemudian dikirimkan kepadanya seorang malaikat lalu dia menghembuskan padanya ruh dan dia diperintahkan dengan 4 kalimat; iaitu supaya menulis rezekinya, ajalnya, amalannya dan adakah dia celaka atau bahagia. Demi Allah Yang tiada Tuhan melainkanNya, sesungguhnya salah seorang dari kalangan kamu akan beramal dengan amalan ahli syurga, sehingga jarak antaranya dan syurga tidak lebih dari sehasta, lalu dia didahului oleh ketentuan tulisan kitab lantas dia mengerjakan amalan ahli neraka lalu dia memasuki neraka. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalangan kamu akan beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antaranya dengan neraka tidak lebih dari sehasta, lalu dia didahului oleh ketentuan tulisan kitab lantas dia mengerjakan amalan ahli syurga lalu dia memasuki syurga.

Jabang bayi dalam rahim ibu, sudah memiliki genggaman takdir yang menjadi modal untuk lahir di dunia. Modal utama adalah ditiupkannya roh ke dalam jasad sang bayi. Setelahnya, diberikan potensi rezeki, yang jumlahnya nanti ditentukan yang bersangkutan setelah meraih karir. Selanjutnya diberikan potensi hidup yang dihitung berapa lama ia tinggal di dunia.

Lalu, ditakdirkan pekerjaan yang akan digelutinya yaitu “amal”.

Makna karir pada sector ini dipengaruhi dan mempengaruhi

“garis tangan”nya, pada dua kemungkinan, mujur atau malang.

Ibn al-Quff (1233-1305), mengemukakan proses embrio manusia sebagai berikut:

Pembentukan pada tahap cairan terjadi pada hari ke-6 sampai hari ke-7 pertama, di mana dalam 13 sampai 16 hari, berangsur-angsur berubah menjadi suatu bentuk dan dalam tempo 28 sampai 30 hari menjadi gumpalan daging kecil. Pada kurun 38 sampai 40 hari, kepala muncul terpisah dari bahu dan anggota tubuh. Otak dan jantung diikuti oleh hati telah terbentuk sebelum alat tubuh lainnya. Janin mendapatkan makanan dari ibunya untuk tubuh dan memperbarui hal-hal yang rusak atau hilang.

Terdapat tiga lapisan yang menutupi dan melindungi janin. Pertama, lapisan yang menghubungkan antara arteri dan vena dengan rahim ibu melalui tali pusar. Kedua, vena mengantarkan makanan bagi janin yang sedang berkembang.

Ketiga, arteri mengantarkan udara. Pada akhir bulan ketujuh, seluruh alat tubuh sudah lengkap. Setelah persalinan, tali pusar bayi dipotong dalam jarak sekitar empat jari tangan luasnya dari tubuh, lau diikat dengan benang wool yang halus dan lembut. Daerah yang dipotong ditutup dengan lapisan tipis yang dilumuri minyak zaitun di atasnya untuk mencegah pendarahan. Selanjutnya, bayi dirawat oleh ibunya dengan memberikan air susu. Merawat bayi dilakukan sekurang-kurangnya dua atau tiga kali setiap hari. Sebelum merawat, air susu ibu dikeluarkan pada dua atau tiga kali tarikan untuk menghilangkan susu dekat puting.2

Modernitas pemikiran orang-orang terdahulu kadang-kadang baru dapat dipahami oleh generasi sekarang. Kejayaan

2 Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, Menyngkap Rentang Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian, (Jakarta: Rajawali Pers, 2006), h. 74.

umat Islam pada masa lalu telah mengantarkan peradaban dunia, termasuk pengetahuan tentang kelahiran manusia yang merupakan elan vital pada penyediaan sumber daya dalam pengelolaan alam. Keseimbangan alam yang sehat akan mengantarkan pada penyediaan sumber hayati yang akan menjadi embrio lahirnya manusia.

Oleh karena itu, menjaga kelestarian alam adalah hal yang mutlak dilakukan untuk penyediaan saripati sumber hayati yang berasal dari, lalu dikonsumsi oleh manusia. Selanjutnya direproduksi dalam kelenjar, lalu menjadi mani pada laki-laki dan ovum atau sel telur bagi perempuan. Dari situlah termaktub bahwa manusia tercipta dari segenggam (sanggamu) tanah. Sebaliknya, jika tanah, air, dan udara yang tercemar, maka akan menghasilkan kontraksi konsumsi yang tidak layak, lalu menghasilkan reproduksi janin yang tidak sehat. Kalau ini terjadi, manusia akan melahirkan generasi yang lemah.

Oleh karena itu menjaga lingkungan hidup adalah sebuah keniscayaan, supaya modal keberlanjutan generasi terus terpelihara. Pandangan kepercayaan para orang tua memberikan penghormatan kepada hutan, dengan melepas kambing dan atau ayam, memberi sesajen, dan pagelaran ritual lainnya merupakan harapan yang sangat dalam untuk mewariskan alam yang sejuk dan asri kepada generasinya. Ketika alam tidak dihormati, lalu yang terjadi adalah malapetaka, berupa longsor, banjir, dan asap pembakaran hutan.

2. Sanggata

Sesaat manusia lahir, terus menangis yang menandai era baru dalam kehidupan setelah sekian bulan berada di rahim ibu.

Tangisan bayi dimaknai sebagai kekuatan dalam diri bayi itu.

Semakin kuat tangisan sang jabang bayi, semakin kuat pula kelak perjalanan hdupnya. Sang jabang bayi menangis karena sanggamu (genggaman) dalam rahim ibu, tiba-tiba terlepas

menjadi sanggata. Isi genggaman terhablur di alam dunia.

Genggaman itu dapat diraih ketika, manusia bekerja keras untuk meraihnya.

Simbol yang diajarkan Lasatande Dunia setelah manusia lahir adalah sebuah kepalan dengan ibu jari di luar genggaman.

Simbol ibu jari merupakan rangkaian nasib manusia dalam memaknai kehidupan. Segenggam tanah yang dikonversi dengan ilmu pengetahuan, dapat dipahami bahwa tanah adalah sentral kepentingan manusia. Orang Kaili menyebut

“tanaku humaku” (tanahku adalah ibuku). Ibu dapat bermakna geneologis, artinya yang mengandung dan melahirkan. Ibu dapat juga bermakna ideologis, artinya seseorang berada pada takdirnya dengan tempat di mana dilahirkan dan dibesarkan.

Ibu dalam makna ideologis, dapat dilihat dengan kata-kata,

“ibukota”, “ibu pertiwi”, “bahasa ibu” dan lain-lain. Salah satu identitas penting dalam dunia perbankan terhadap riwayat nasabah adalah menuliskan nama kecil ibu kandung. Hal ini dimaksudkan, dalam sistem informasi perbankan, jika suatu ketika seseorang tidak mengetahui nomor rekening dan identitas lainnya, lalu hal yang paling fundamental pada diri manusia adalah mengingat ibu kandungnya. Tatapan ibu kandung dapat menjadi ratapan sanubari selama hayat masih dikandung badan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Ahqaaf ayat 15:

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf: 15)

Ayat di atas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya.

Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan.

Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs.

Luqman: 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah.

Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata,

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’

Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’”

(HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu

‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut.

Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya.

Setelah manusia lahir dan menghirup udara di bumi, mulailah mengikuti potensi kehidupan yang telah digariskan atau ditetapkan ketika dalam kandungan. Segenggam takdir

yang dibawa ketika lahir, menjadi modal untuk selanjutnya meraih karir yang disebut sanggata. Kalau sanggamo masih dalam genggaman takdir, kemudian sanggata artinya genggaman itu sudah terlepas sehingga harus diisi dengan kemampaun manusia mengisi genggaman karyanya. Makna kekaryaan sangat penting bagi manusia dalam menemukan jati dirinya.

3. Sanggakamu

Lasatande Dunia memberi nasehat yang sangat berharga dengan melepas ibu jari dalam genggaman ketika manusia lahir. Selanjutnya, genggaman yang kosong itu harus diisi dengan karya yang berguna dan bermanfaat. Empat takdir dalam genggaman nasib sesungguhnya merupakan potensi dan peringatan yang dimiliki manusia. Manusia memiliki kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan. Inilah kemudian dikenal dengan analisis SWOT (strengths atau kekuatan, weaknesses atau kelemahan, opportunities atau peluang, dan threats/ancaman).

Sayid Sabiq mengemukakan bahwa ajaran Islam menetapkan manusia lahir dengan dibekali kekuatan, bakat, persiapan dan persediaan tenaga dan ilmu. Allah SWT membekali manusia akal pikiran. Manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Manusia dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk dalam perbuatan, dan dapat membedakan antara yang jujur dan yang dusta dalam ucapan3.

Pertautan sumber daya manusia dengan sumber daya alam melahirkan etos kerja seseorang. Lalu etos kerja yang memperkuat isi genggaman manusia. Semakin banyak karya seseorang, maka semakin banyak kesempatan untuk memperoleh sumber penghidupan yang layak. Sanggakamu yang diajarkan Lasatande Dunia merupakan jelmaan kapasitasnya sebagai Raja Tatanga dengan sumber inspirasi dari kerajaan hulu yaitu Kerajaan Bone.

3 Sayyid Sabiq, Adidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman

Etos kerja orang Bugis yang disaksikan Lasatande Dunia selalu disertai dengan hal-hal pekerjaan fisik yang diiringi dengan kebulatan moral yaitu kemampuan batin menangkap tanda-tanda alam yang diciptakan oleh Allah SWT.

Sanggakamu dalam bahasa Bugis diungkapkan dengan lirik yang penuh makna magis, yaitu siaga mukemmo. Falsafah bisnis orang Bugis tidak hanya melihat kemampuan perolehan rezeki seseorang dari hal-hal yang tampak di depan mata, tapi juga sangat memperhitungkan hal-hal gaib yang tak tersentuh oleh panca indera.

Potensi manusia tersebut digambarkan dalam sabda Nabi Muhammad SAW:

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi,

kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

Lasatande Dunia sebagai seorang Baligau atau seorang Raja sekaligus seorang Ulama Kaili. Beliau merupakan seorang Raja yang berkuasa di Kerajaan Tatanga di Lembah Palu Sulawesi Tengah yang bertakhta sebagai seorang Baligau ke 8 yang memerintah pada tahun 1875- 1895. Kuburan beliau berada di Kampung Halamannya dan dimakamkan di Bulili.

Beliau juga adalah seorang pengemban agama Islam di Lembah Palu setelah ulama Islam Datu Karamah atau Abdullah Raqiy dari Minangkabau. Beliau hidup diawal abad ke-18 di Lembah Palu dalam wilayah Kerajaan atau Kebaligauan Tatanga di Lembah Palu, Sulawesi Tengah.

Ajaran yang dikembangkan oleh Lasatande Dunia yakni ajaran yang Sanggamo, Sanggata, dan Sanggakamu. Sanggamo artinya segenggam. Masyarakat Kaili mempercayai bahwa asal muasal kejadian manusia dari segenggam tanah. Hanya dua penamaan didahului kata “tanah” yaitu Tanak Kaili dan Tanah Suci. Relasi kepercayaan orang Kaili ini sudah menandai hakikat keislaman dengan merujuk Tanah Suci tempat Ka’bah, kiblat umat Islam dalam kegiatan ibadah, sosial, budaya, ekonomi, dan sentral komunikasi politik. Sementara itu, Sanggata merupakan kehidupan jabang bayi yang menangis karena sanggamu (genggaman) dalam rahim ibu, tiba-tiba terlepas menjadi sanggata. Isi genggaman terhablur di alam dunia. Ajaran Lasatande Dunia setelah manusia lahir adalah sebuah kepalan dengan ibu jari di luar genggaman. Simbol ibu

jari merupakan rangkaian nasib manusia dalam memaknai kehidupan. Segenggam tanah yang dikonversi dengan ilmu pengetahuan, dapat dipahami bahwa tanah adalah sentral kepentingan manusia. Akhirnya konsep tentang Sanggakamu yang bermakna sebagai nasehat yang sangat berharga dengan melepas ibu jari dalam genggaman ketika manusia lahir.

Selanjutnya, genggaman yang kosong itu harus diisi dengan karya yang berguna dan bermanfaat.

KUBURAN LASATANDE DUNIA DI PETOBO

Sumber: Koleksi Sendiri

T

idak banyak tokoh sejarah yang diselimuti mitos sedekian rupa, sehingga sosoknya menjadi misterius sekali. Ialah Lasadindi, sosok misterius yang sebenarnya adalah seorang bangsawan, aktivis, dan ulama. Sosoknya begitu kabur akibat balutan mitos yang makin lama semakin pekat. Sebelum sulit dipetakan gerak sejarah sang tokoh, maka tulisan ini dibuat untuk menelusuri kiprah dan ketokohan beliau di Sulawesi Tengah.

Tokoh sejarah yang berkalang kabut mitos itu adalah Lasadindi atau yang biasa dipanggil Lasadindi,1 tokoh yang sangat kompleks. Bukan hanya karena dia seorang bangsawan, tetapi karena dirinya juga seorang tokoh organisasi Sarekat Islam dan Partai

1 Selanjutnya dalam tulisan ini, namanya tidak akan disebut lagi melainkan panggilan saja, yakni Lasadindi, karena nama panggilan tersebut yang lebih populer dari pada sebutan lainnya.

PUE LASADINDI ATAU

MANGGE RANTE (1828-1953)

Syarikat Islam Indonesia, serta yang paling menonjol dari sosoknya adalah kiprahnya sebagai seorang ulama. Sebagai seorang manusia biasa, beliau berhasil menyatukan ketiga aspek (aktivitasnya) tersebut dalam kehidupan nyata yang riil.

Apalagi masa hidupnya yang meliputi empat zaman; sebelum Belanda berkuasa di Sindue, ketika Belanda berkuasa, masa Jepang, dan masa kemerdekaan. Keempat masa itu itu member catatan tersendiri dalam perjalanan hidupnya. Namun sosoknya sebagai seorang ulama-lah yang mampu menjembatani semua kiprahnya baik saat suka maupun duka. Sebagai seorang ulama, bangsawan, dan aktivis SI maka beliau mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat. Tidak hanya di Sindue –tempat kelahirannya- tetapi juga di Palu, Banawa, dan Rando Mayang sekalipun.

Tulisan ini berusaha menampilkan sosok Lasadindi sebagai seorang ulama Tanah Kaili. Sosok yang komplit secara personal bila ditulis dengan perspektif yang berbeda. Beliau adalah ulama bangsawan,2 sekaligus aktivis sosial politik. Olehnya itu, dapat dikatakan bahwa beliau bukanlah sosok misterius yang memiliki banyak nama dan wajah.

Sebagai sebuah kajian sejarah, maka ketokohan beliau tidak hanya dibahas dengan menggunakan konsep biografi menurut Kuntowijoyo yang menyatakan bahwa setiap biografi seharusnya mengandung empat hal yakni kepribadian tokohnya, kekuatan sosial yang mendukung, lukisan sejarah zaman, dan keberuntungan dan kesempatan.3 Juga menggunakan konsep

2 Ahmad Adaby Darban mengemukakan bahwa ada empat tipologi ulama di Jawa, yaitu ulama yaitu (1) golongan ulama yang merangkap sebagai penguasa pusat pemerintahan, (2) golongan ulama yang masih berdarah bangsawan, (3) golongan ulama sebagai alat birokrasi kerajaan/

pemerintahan, dan (4) golongan ulama pedesaan yang hidup di desa-desa dan tidak memiliki hubungan dengan kekuasaan. Ahmad Adaby Darban,

“Ulama Jawa Dalam Perspektif Sejarah”, Humaniora Volume 16, No. 1, Pebruari 2014, hlm. 31-32.

3 Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah Edisi Kedua (Yogyakarta: Tiara

Gerry van Klinken bahwa setiap perjalanan hidup seseorang tentunya mempunyai banyak dinamika, sekaligus membentuk suatu proses dari awal kemudian menuju puncak dan akhirnya jatuh.4 Olehnya itu, saya akan berusaha menghadirkan dinamika hidup beliau. Asumsi pokok yang digunakan adalah dengan mengkaji kehidupan sang tokoh maka masa lalu sebuah masyarakat (Kaili) dapat terkuak lebih terang lagi. Apalagi memang Lasadindi ini sangat menarik untuk diteliti dan ditulis, sekaligus member tantangan tersendiri. Tebalnya kabut misteri dan mitos yang melingkari dirinya menjadi hal penting dalam penulisan ini, artinya Lasadindi dengan sekumpulan mitos di seputar dirinya menambah pesona mistik yang perlu diretas oleh seorang peneliti sejarah. Melalui metode sejarah, sosok Lasadindi dapat ditempatkan sebagai manusia biasa yang memiliki keistimewaan. Selain buku, digunakan pula tradisi lisan dan sejarah lisan untuk mengumpulkan data sejarah,5 khususnya berkaitan dengan wawancara mendalam. Sosok Lasadindi adalah bagian dari Orang Enu dan Sindue yang sangat penting dalam perjalanan sejarah tanah kelahirannya tersebut.

A. ASAL-USUL KELUARGA DAN PRIBADINYA

Lasadindi lahir di Enu, Kecamatan Sindue (dulu Kerajaan Sindue). Beliau adalah putera Yandala atau Yandara6 (orang Sindue) dengan seorang perempuan dari Pantai Timur.7 Dalam

Wacana, 2005), hlm. 206.

4 Gerry van Klinken, “Saya Yang Berjuang” dalam H. S. Nordloth, Bambang Purwanto, dan Ratna Saptari, Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (Jakarta: YOI dan KITLV-Jakarta, 2013).

5 Bambang Purwanto, “Belajar Dari Afrika: Tradisi Lisan Sebagai Sejarah Dan Upaya Membangun Historiografi Bagi Mereka yang Terabaikan”, dalam Jan Vansina, Tradisi Lisan Sebagai Sejarah (Yogyakarta:

Ombak, 2013), hlm. xxv-xxvi.

6 Wawancara dengan Panembulu dan Daerepu di Enu,

7 Paisal dan Husnul Fahimah Ilyas, “Biografi Ulama Sulawesi

buku Cerita Rakyat Sulawesi Tengah disebutkan bahwa ayahnya bernama Rampatan.8 Ayahnya diberi gelar Rapotango (artinya orang yang mengetahui rahasia tanah), sedangkan ibunya yang bernama Daelino yang berasal dari Toposo (Labuan Toposo).

Ibunya dikatakan sebagai seorang keturunan bangsawan Labuan. Leluhur Daelino dari pihak ibunya berasal dari Pantai Timur Sulteng. Hal yang simpang siur ini menandakan bahwa sejak kelahirannya, Lasadindi sudah dibuat misterius oleh masyarakat kampung kelahirannya tersebut.

Hasil penelusuran mengenai tokoh penganjur Islam ini mendapati bahwa nama ayahnya adalah Yandalara atau Rapotango. Beliau adalah anak kedua dari Pue Keloro (ayah) dan Yapa (ibu). Seperti diceritakan oleh Panembulu dan Daerepu bahwa Pue Keloro merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, putera dan puteri Rampatana. Beliau bermakam di Enu, dan dikenal dengan sebutan Pue Nteke. Pue Nteke merupakan cicit Lamagau, Raja Sindue. Sebelum Pue Nteke, dikenal nama-nama lain, seperti Madika Lusu Manuru dan dikenal dengan gelar Pue Mpevonju. Gelar ini diberikan karena raja tersebut dianggap keramat dan dapat merubah-rubah wajahnya. Kemudian disusul Madika Ruantaka Tanama (berkepala dua). Walaupun begitu, mereka mempunyai wibawa dan disegani di Sindue (Enu), tetapi mereka tidak diberi mahkota sebagai simbol kekuasaan. Oleh sebab itu, jabatan yang mereka adalah Madika Ada Ntana.9

Kedua saudara Pue Keloro adalah Nurubunga dan Keo.

Keo menurunkan Laro dan Laro mempunyai anak yang bernama Indila. Sementara Nurubunga menikah dengan Tandasura, putera Sampe Ada dan Nuruinta. Seperti diketahui

Tenggara dan Sulawesi Tengah” dalam Tim Penulis, Biografi Ulama di Kawasan Timur Indonesia (t.t., t.p, 2014), hlm. 66.

8 Tim Peneliti dan Penulis, Cerita Rakyat Sulawesi Tengah (Jakarta:

Depdikbud, 1979), hlm. 58.

9 Ibid.

Dalam dokumen ISLAM SIGI (Halaman 74-91)