• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pue Lasadindi: Ajaran Merawat Alam,

Dalam dokumen ISLAM SIGI (Halaman 91-96)

Sesungguhnya pertemuan Presiden Soekarno dengan Pue Lasadindi pada tahun 1952, bukanlah sekedar perjumpaan secara fisik, tetapi perjumpaan yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa sebagai sama-sama khalifatullah. Keduanya diperjalankan oleh Allah SWT dalam rangka memakmurkan

alam ciptaanNya. Beberapa orang di Tanah Kaili merupakan penasehat Istana Negara, namun tidak terpublikasi karena berlangsung secara rahasia. Dalam hal ini, memang Syekh Yusuf sudah menulis sebuah buka yang berjudul “Sirrul Asrar”

artinya rahasia dalam rahasia.

Sebuah kaidah yang berlaku di kalangan pencari dan pemegang hakikat yaitu La Ya’lamu al-Wali Illa al-Wali (tiada mengetahui wali kecuali dia juga menyandang tingkat wali).

Soekarno, keturunan Sunan Kalijogo dan pernah tinggal di rumah Haji Omar Said Cokroaminoto selalu disebut sebagai waliullah, sehingga dengan penalaran batin yang seksama, mampu menyatakan diri dan Bung Hatta sebagai Atas Nama Bangsa Indonesia. Tentu tidak ada pemberian mandat secara resmi dan tertulis untuk menggunakan kalimat legitimasi tersebut, tapi dengan penerawangan komunikasi batin yang ditempuh oleh Sang Proklamator. Hasilnya, setelah proklamasi 17 Agustus 1945, berdatanganlah dukungan dari berbagai daerah terhadap Kemerdekaan Indonesia.

Sebagai seorang ulama, Lasadindi mulai mengajarkan beberapa pokok pikirannya kepada masyarakat Sindue (Enu) dan kepada masyarakat di pegunungan daerah Sindue, bahkan hingga ke pemukiman orang-orang Da’a di Gawalise. Hingga kini masyarakat di wilayah tersebut masih mengkultuskan sosoknya.

Beliau semakin dikenal dan terkenal sebagai seorang penganjur Islam yang berusaha keras menyiarkan pemikirannya tanpa menentang adat istiadat.Walaupun sebenarnya beliau tahu bahwa pelaksanaan syariat masih perlu diperbaiki.Saat itu masih hidup kepercayaan lama pada masyarakat Sindue, bahkan di seluruh Tanah Kaili. Oleh karena itu, beliau membuat cara berdakwah yang mudah dipahami oleh pemeluk agama Islam di Sindue.

Caranya ia menciptakan Pangaji Tonji.53 Menurut Daerepu bahwa

“Pangaji Tonji ini berbentuk ‘buku’ atau lontara yang berisi

ajaran-53 Panggaji Tonji inilah yang menginspirasi Aru Lembah Panggagau untuk menciptakan Panggareng Tonji.

ajaran I Pue Lasadindi. Dulu, waktu saya masih muda, saya pernah membacanya. Banyak orang yang tidak paham dengan ajaran orang tua ini, makanya masih percaya dengan hal-hal yang tidak masuk akal.”54 Sementara itu, Panembulu menyatakan bahwa

“dalam setiap bicara di muka banyak orang. I Pue ini selalu bilang, tanah itu penting sekali. Penting. Penting bagi bagi kehidupan kita, manusia.Sebelum nenek moyang kita ada, tanah itu sudah ada, dan dari tanah itu pula nenek moyang kita berasal.Kalu mamate kita, hau ri tana kita sei.”55

Sebagai Maradika Ada Ntana yang bertugas mengurusi pertanian, maka beliau selalu menganjurkan agar masyarakat mengurus tanah dengan baik. Pada masa itu, terutama awal abad ke dua puluh, masyarakat Sindue belum mengenal pola pertanian sawah.Mereka masih berkebun di lereng-lereng gunung.Kelapa sudah ditanam, tetapi belum banyak dijadikan kopra.Sebab belum diketahui wilayah pemasarannya.56 Lewat kebijakan menanami tanah, kebutuhan bahan makanan di wilayah Sindue dapat dipenuhi oleh masyarakat.Namun kungkungan Belanda membuatnya harus melawan, terutama atas kebijakan belasting(pajak) dan heredients (kerja paksa).57

Islam menjelaskan pentingnya tanah bagi kehidupan manusia dan kehidupan semua makhluk hidup. Banyak keperluan yang dapat diambil dari hamparan bumi, dan fungsi-fungsi tanah dengan sangat baik telah dijabarkan ke dalam aspek-aspek yang paling fundamental dan strategis bagi keperluan species hidup di bumi. Beberapa ayat Al-Qur’an memuat pandangan Islam mengenai tanah cara memperlakukan dengan benar.58

54 Daerepu, wawancara di Enu, 5 April 2015.

55 Panembulu, wawancara di Enu, 5 April 2015.

56 Rubiah, wawancara di Tibo, 5 April 2015.

57 Daerepu, wawancara di Enu, 5 April 2015.

58 Sunardi, Perlindungan Lingkungan Sebuah Perspektif dan Spritualitas Islam, (Bandung: Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Padjadjaran, 2008), hlm. 82.

Firman Allah pada Surah Al-Hijr ayat 20:

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.

Tanah adalah materi yang paling dekat dengan kehidupan manusia, karena diciptakan dari tanah. Baik buruknya kualitas tanah menentukan baik dan buruknya kualitas manusia. Menurut sains modern, tanah adalah substrat yang mengandung mineral-mineral kimiawi yang sangat penting bagi tubuh manusia, juga bagi hewan dan tumbuhan. Memelihara kesuburan tanah sebagai bagian dari rantai siklus mineral adalah suatu keharusan.59

Islam juga mengajarkan bahwa Sang Pencipta telah menetapkan tanah sebagai lahan sumber makanan dan penghidupan bagi semua makhluk hidup. Manusia dapat mengolah tanah dan bercocok tanam untuk menghasilkan dan memenuhi makanan pokok. Pada terbuka adalah tempat rumput-rumput hijau tumbuh dan biji-bijian di mana binatang dan hewan ternak dapat menemukan makanan. Allah Yang Maha Bijak telah menjadikan tanah subur supaya vegetasi tumbuh dengan baik di mana manusia dan binatang bergantung.60

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an pada Surah Yasin ayat 33 – 35:

59 Ibid, hlm. 83.

60 Ibid, hlm. 84.

33. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.

34. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, 35. Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

Bumi adalah karunia yang paling baik dari Sang Pencipta di mana manusia dapat memenuhi kebutuhan material, serta memperoleh kepuasan mental dan spiritual darinya. Tanah juga sebagai medan tempat mengembangkan segala perbuatan baik sebagai abdi dan khalifah Allah, sekaligus sebagai tempat bersyukur kepadaNya. Sebagai ekspresi rasa syukur, manusai wajib memelihara amanah tersebut dan memperlakukannya dengan baik. Mencemari tanah dengan bahan kimia beracun dan bahan yang sulit diurai adalah perbuatan merusak fungsi tanah. Menguras hara tanah menurunkan kesuburannya.

Merusakn dan menghancurkan tanah berarti menghancurkan tempat hidup makhluk bumi. Menurut Al-Qur’an, merusak bumi merupakan perbuatan yang tercela dan dilarang keras.61

Allah SWT berfirman dalam Qur’an pada Surah Al-A’raf ayat 56:

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

61 Ibid., hlm. 86.

Manusia tidak boleh merusak kesuburan tanah dengan menghilangkan mineral-mineral oleh penambangan yang tidak terkendali, yang mengakibatkan banjir dan erosi.

Mengembalikan kesuburan tanah pada lahan-lahan pertanian adalah kewajiban umat manusia. Islam melarang seorang muslim membiarkan lahnnya dikosongkan dan tidak produktif, apalagi menciptakan lahan-lahan kritis.62

Tanah dan lahan jelas perlu mendapat perhatian karena fungsinya yang sangat penting bagi kehidupan teresterial.

Walaupun hak milik tanah diizinkan bagi perorangan, Islam juga memperhatikan pelestarian dan perlindungan tanah dan lahan apalagi berkaitan dengan kebaikan dan manfaat (mashlahat) orang banyak. Artinya, lahan-lahan tertentu dapat dialokasikan untuk kepentingan-kepentingan umum dan tidak dapat dimiliki oleh siapapun atau kelompok tertentu. Praktek konservasi kawasan telah dilakukan sejak mula Islam muncul.

Pada generasi awal Islam telah dikenal klasifikasi lahan dengan fungsinya masing-masing. Pada literatur klasik, lahan menurut hukum dikelompokkan menjadi tiga kategori utama, yaitu:

amir, mawat, dan harim.

Ketahanan alam menjadi kekuatan untuk kelangsungan hidup manusia. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dari saripati tanah. Oleh karenya, tanah memiliki dedikasi kemuliaan (karamah) yang wajib dijunjung tinggi oleh manusia. Perlakuan orang-orang terdahulu terhadap kelestarian alam berupa, tanah, hutan, binatang, ditunjukkan dengan perlakuan yang sama dengan sesama manusia. Manusia mengantarkan sesajian kepada hutan, yang menggambarkan bahwa menu hidangan terhadap alam juga sama dengan yang dikonsumsi manusia.

Tilikan dari panorama ekosistem alam, hidangan yang disajikan di bawah pohon-pohon yang besar, dimaknai bahwa unsur-unsur kebutuhan kelangsungan hidup pohon itu seperti

62 Ibid., hlm. 86.

juga manusia. Pohon membutuhkan asupan natrium, kalsium, fosfor, dan mineral. Pada pokoknya, tumbuh-tumbuhan memerlukan asupan hara, baik makrohara maupun mikrohara.

Semakin besar sebuah pohon, semakin besar daya akar tunggang yang menjadi penyangga. Akar pohon juga memerlukan ruang untuk menghirup oksigen. Parade akar-akar pohon membuat rongga dalam tanah, sebagai ruang pernafasan. Rongga-rongga tersebut berfungsi sebagai tandom air ketika hujan turun. Air pada tandom-tandom akar pohon selanjutnya menjadi tempat penampungan air untuk kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sumber-sumber mata air dipastikan pada hutan lestari, yang menjadi sandaran utama kehidupan makhluk hidup.

Hutan yang kritis dan lahan yang tandus akibat pembabatan pohon, mengakibatkan rongga-rongga dalam dalam tanah menjadi tertutup karena matinya akar yang menyangganya.

Akibatnya, hujan yang turun tidak mampu lagi terserap oleh tanah, namun mengalir semua ke lembah atau dataran rendah.

Lalu itulah yang mengakibatkan banjir dan erosi.

Lasadindi juga mengajarkan kepada pengikutnya untuk memperbanyak rasa syukur kepada Sang Khaliq. Beliau selalu mengulang-ulang ucapannya bahwa Allah telah memberi kita makanan melalui anugerah yang bernama bumi dan segala isinya.63“Kita diberikan kepada kita segala-galanya, tidak ada yang kurang, kecuali lebih, tapi bukan untuk dihabiskan sekarang.Kita hidup di bumi karena dipinjami oleh Allah.”64 Pada intinya, Lasadindi ingin menyampaikan bahwa sebagai seorang manusia sebaiknya selalu merasa rendah diri, sebab segala sesuatu yang ada di bumi ini hanyalah titipan semata.

Lebih jauh dapat pula dikatakan, keberadaan manusia di atas bumi ini adalah akibat, sedangkan sebabnya adalah penciptaan alam semesta yang sangat luas.

63 Rubiah, wawancara di Tibo, 5 April 2015.

64 Daerepu, wawancara di Enu, 5 April 2015.

Dalam hal bersedekah, ulama bangsawan dari Sindue ini memiliki konsepsi bahwa “setiap kamu berikan kepada orang lain, pasti akan dikembalikan seperti apa yang kamu keluarkan.”65 Perihal sedekah, beliau menjelaskan lebih dalam lagi.Seorang murid wajib bersedekah kepada gurunya.Seorang anak wajib memberikan sedekah kepada orang tuanya.Sedekah di sini bukan berarti harta, tetapi tenaga atau pikiran.Tidak selamanya mereka dapat mengerjakan pekerjaannya sendirian.

Ada saatnya mereka lelah dan minta bantuan kepada anak-anaknya, entah itu dikatakan atau tidak.Berbakti kepada orang tua bukan dalam hal harta saja, tetapi yang lain dari itu pun dapat dilakukan.

Ajaran lain yang selalu ditekankan Lasadindi adalah fungsi orang tua dimuka bumi, yakni sebagai guru. Kepada Panembulu, Lasadindi pernah barkata, “Guru pertama kita adalah orang tua.Orang tua sebagai guru sejak kita masih dalam kandungan.Guru yang lain itu adalah yang kedua.”66 Kalimat di atas mengisyaratkan bahwa pendidikan agama dalam keluarga merupakan dasar pembelajaran seorang anak di masa depan. Anak selalu berposisi sebagai tunas harapan keluarga yang perlu diawasi pertumbuhannya. Sehingga memang tidak salah jika beliau menekankan pendidikan dalam keluarga yang menjadi penting. Namun tidak ada penjelasan yang lain mengenai seorang anak yang tidak mempunyai orang tua lagi, artinya yatim piatu.

Salah satu ajarannya yang menyebabkan dirinya dikultuskan oleh pengikut dan masyarakat Kaili hingga kini adalah ungkapan yang berbunyi “semua orang bersaudara.

Saya punya tubuh dan nyawa, kalian pun begitu. Saya sama dengan kalian sebagai manusia ciptaan.”67 Pada konteks ini, beliau tidak hanya melihat orang muslim saja yang menjadi

65 Daerepu, wawancara di Enu, 5 April 2015.

66 Hamsing, wawancara di Lembah Sada, 25 Maret 2015

67 Panembulu, wawancara di Enu, 5 April 2015

saudaranya, melainkan semua orang. Semua manusia di muka bumi.Ini menandakan bahwa Mangge Rante menganjurkan Islam dengan sufisme.

Kuatnya pengaruh Lasadindi di Lembah Palu, membuat beberapa pihak merasa terancam kepentingannya. Namun, menghadapi Lasadindi yang tegar dan kuat, sangat tidak mungkin dirayu dan ditaklukkan oleh kelompok-kelompok penyamun. Salah satu cara yang dilakukan para penyamun itu adalah memisahkan Lasadindi dengan masyarakatnya. Taktik yang ditebarkan adalah mengusung daya mitos yang melegenda pada diri Lasadindi. Bersamaan waktu itu, ganas-ganasnya penetrasi penjajahan Belanda di Lembah Palu, yang ditandai dengan diutusnya seorang Controllir Belanda dan membentuk sistem pemerintahan yaitu Afdelling Donggala dan Afdelling Poso.

Pue Lasadindi berasal dari keluarga bangsawan Sindue yang tidak bermahkota. Kehidupan sang pangeran, tidak mudah dipetakan secara gamblang oleh sebuah penelusuran yang sangat singkat, karena sosoknya yang penuh mitos itu.

Leluhurnya adalah ulama-ulama yang menjadi penganjur Islam juga. Sehingga tidak mengherankan apabila beliau menjadi tokoh yang cukup dihormati dan didengar ucapannya, bukan berarti sesuatu yang munculdengan sendirinya, tetapi ada proses di baliknya. Pada sosoknya ada perpaduan darah bangsawan dan jiwa ulama, serta semangat aktivis.

Kompleksnya kehidupan Lasadindi inilah yang menyebabkan dirinya selalu berada di awing-awang. Dalam sejumlah cerita rakyat tentang Mangge Rante ini, ditemukan satu pertanyaan, kenapa sosoknya dimitoskan? Jawabannya iaitu pertama, budaya masyarakat yang mengandalkan tradisi lisan. Segala peristiwa selalu saja disimbolkan dan dibuat ceritanya oleh mereka yang memiliki kepentingan atas sejarah itu. Kedua, setiap mitos tentang Lasadindi itu adalah mitos politik,

sehingga sangat sulit dihapuskan. Mitos (politik) sengaja dibuat dan diceritakan guna melanggengkan kekuasaan atau mengaburkan setiap peristiwa sejarah, karena ada kepentingan dan agenda politik yang lebih besar lagi. Pemitosan Lasadindi sangat terkait dengan upaya penghilangan fakta sejarah tokoh Islam tersebut.

Lukisan Pue Lasadindi

Sumber: Koleksi Penulis

Islam masuk dan berkembang di Sindue melalui istana kerajaan atau rumah raja. Islam datang dari puncak kekuasaan, sehingga sosok penyebar Islam itu ditinggikan kedudukannya, setinggi-tingginya. Apalagi memang di Tanah Kaili. Masih hidup atau ada kepercayaan mengenai Tomanuru, orang yang turun dari langit bukan diturunkan. Ini merupakan penegasan bahwa seorang raja adalah “keturunan yang suci”

dan bermartabat di muka bumi. Istana raja menjadi tempat yang menerima sinar kebenaran Ilahi lebih awal dari rumah orang kebanyakan. Dalam alam pikiran demikian, Lasadindi dilahirkan, dibesarkan, mengabdi dan meninggal, maka selama asap itu masih mengepul, selama itu pula, Lasadindi tetap akan jadi mitos di masyarakat Kaili Kota Palu.

Dalam dokumen ISLAM SIGI (Halaman 91-96)