• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISLAM SIGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ISLAM SIGI"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

kerjasama Q MEDIA

dengan

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sigi dan Pusat Penelitian Sejarah (PusSEJ) LPPM UNTAD

2016

SEJARAH

ISLAM DI

SIGI

(2)

Daftar Isi ... iii Sambutan Bupati Kabupaten Sigi ... vii Sambutan Kadis Pendidikan, Pemuda dan

Olahraga Kabupaten Sigi ... ix Sejarah Islam di Sigi: Pengantar Penulis ... xi PENDAHULUAN

ISLAM DI SIGI SULAWESI TENGAH: ... 2 Periode Mitologis, Ideologis dan Ilmupengetahuan

BAGIAN I ISLAM MITOLOGIS:

Abdullah Raqiy dan Ma’ruf

ABDULLAH RAQIY dan ... 10 MA’RUF (1600an – 1709)

A. Kepercayaan Lama Di Sigi Sulawesi Tengah ... 13 B. Abdullah Raqiy (Datu Karama): Penyebar Islam Awal 15 C. Terbentuknya Masyarakat Islam ... 18 D. Kondisi Sosial Budaya Palu Pada Abad Ke-17 ... 24 E. Kedatangan Datu Karama Di Lembah Palu ... 30 F. Ma’ruf: Penganjur Islam di Bangga dan

Seorang Syahbandar ... 35 G. Ajaran Datu Karama Di Kaili ... 40 H. Makam Datu Karama: Halte Terakhir Sang Ulama 69

DAFTAR ISI

SEJARAH ISLAM DI SIGI

© Haliadi Sadi dan Syamsuri Setting / Layout: Ruslan Desain Cover: Hendra Cetakan I: November 2016 Diterbitkan oleh

Q-MEDIA

Dabag No. 52C Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta bekerjasama dengan

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sigi dan Pusat Penelitian Sejarah (PusSEJ) LPPM UNTAD Hak cipta dilindungi oleh undang-undang

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Haliadi Sadi dan Syamsuri

Sejarah Islam di Sigi / Haliadi Sadi dan Syamsuri Yogyakarta: Q MEDIA

Cet. 1., 2016, 15 x 24 cm; xiv + 234 hlm.

ISBN: 978-602-6213-05-1

(3)

BAGIAN II ISLAM IDEOLOGIS:

Dari La Iboerahima Putra Mahkota Wartabone ke Pue Lasadindi

LA IBOERAHIMA WARTABONE ... 74

PUTRA MAHKOTA RAJA WARTABONE: (1812-1897) A. Gorontalo-Una-Una-Bugis-Palu ... 76

B. Bersama Islam Berlabuh Di Kampung Potoya Dolo Sigi Sulawesi Tengah ... 82

C. La Iboerahima Wartabone Putra Mahkota Raja Wartabone (1812-1897): Ajaran “Nur Muhammad” 90 HAJI AHMAD LAGONG ATAU ... 116

“TOMAI LASUPU” (1798-1880) A. Profil Perjalanan Hidup Sang Pelaut ... 116

B. Ajaran Mappideceng (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) ... 120

I PUE LASATANDE DUNIA (1835-1903) ... 123

A. Seorang Baligau dan Ulama ... 123

B. Ajaran Sanggamu, Sanggata, dan Sanggakamu ... 129

PUE LASADINDI ATAU ... 142

MANGGE RANTE (1828-1953) A. Asal-Usul Keluarga dan Pribadinya ... 144

B. Pue Lasadindi: Ajaran Merawat Alam, Melawan Hegemoni... 162

BAGIAN III ISLAM ILMUPENGETAHUAN: Habib Sayyid Baharullah Al-Aidid dan Habib Sayyid Idrus Bin Salim Aljufri HABIB SAYYED BAHARULLAH AL-AIDID ... 174

A. Budaya Islam Maudu Di Sigi ... 175

B. Budaya Maulid Di Sulawesi Tengah ... 178

C. Ajaran Habib Sayyid Baharullah Al-Aidid ... 180

SAYYID IDRUS BIN SALIM AL JUFRI ... 184

ATAU GURU TUA (1890-1968) A. Dari Hadramaut Ke Palu Sulawesi Tengah ... 185

B. Guru Tua Dan Alkhairat: Islam Ilmu Pengetahuan 188 C. Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufri Atau “Guru Tua”: Al-Khair dan Al-Khiyar ... 196

D. Murid-Murid Guru Tua di Sigi ... 206

PENUTUP KESIMPULAN : ISLAM NUSANTARA ... 214

DI SIGI SULAWESI TENGAH DAFTAR PUSTAKA ... 221

(4)

Bismillahirahmanirrahim, Assalamu Alaikum Wr. Wb.

T

erbitnya buku yang berjudul “Sejarah Islam di Wilayah Kabu paten Sigi”

ini merupakan upaya cerdas dalam merespon kehidupan keagamaan di Kabupaten Sigi. Suasana keberagamaan terutama kehidupan masyarakat yang ber- agama Islam di Kabupaten Sigi menjadi salah satu dasar adanya harmonisasi sosial kemasyarakatan di Sulawesi Tengah. Buku ini membuktikan bahwa dinamika sejarah agama Islam menjadi bukti bahwa harmonisasi keagamaan di Kabupaten Sigi sudah tercipta jauh ke masa lalu yang dikembangkan oleh para ulama Islam di Wilayah Kabupaten Sigi. Mereka para Ulama Islam di Kabupaten Sigi adalah cermin dari suri tauladan untuk generasi sekarang maupun di masa depan di Kabupaten Sigi.

SAMBUTAN BUPATI

KABUPATEN SIGI

(5)

Kami selaku Bupati Kabupaten Sigi menyambut baik buku ini untuk bahan bacaan masyarakat maupun materi pembelajaran bagi generasi muda di Kabupaten Sigi. Masyarakat harus menyadari bahwa terdapat kurang lebih sebelas Ulama Islam yang pernah hidup dan mengembangkan Agama Islam di Wilayah Kabupaten Sigi. Buku ini juga idealnya akan menjadi bahan pembelajaran yang menarik di semua jenjang pendidikan di Kabupaten Sigi mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga ke Perguruan Tinggi. Hal ini merupakan harapan kami untuk pengembangan Kabupaten Sigi yang semakin cerdas.

Upaya Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sigi yang melakukan kerjasama dengan Pusat Penelitian Sejarah Universitas Tadulako untuk memprogramkan penerbitan buku ini adalah usaha yang patut kita apresiasi bersama. Kepadanya, kami selaku Bupati Kabupaten Sigi memberikan penghargaan yang tinggi karena sesuai dengan visi kami Sigi Religius. Demikian juga kepada Penulis, kami memberikan penghargaan dan mengucapkan terima kasih banyak atas kerja kerasnya menerbitkan buku yang dapat memberikan pembelajaran terutama sejarah Agama Islam di Kabupaten Sigi. Kedepan, kita akan tetap memberikan porsi kepada upaya kreatif seperti ini.

Akhirnya, sekali lagi Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mensukseskan penerbitan buku ini terutama SKPD yang terkait. Semoga buku ini dapat bermanfaan bagi pengembangan ilmu pengetahuan Islam di Kabupaten Sigi.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Bupati Kabupaten Sigi

Mohamad Irwan, S. Sos., M. Si.

Bismillahirahmanirrahim Assalamu Alaikum Wr. Wb.

B

uku Sejarah Islam di Sigi sebagai hasil penelitian ini dimaksudkan untuk memperbanyak khasanah kajian ilmiah mengenai Kabupaten Sigi di Sulawesi Tengah dan di Indonesia umumnya.

Tujuan penerbitan ini adalah merekonstruksi sejarah Islam di Kabupaten Sigi sehingga dapat dibaca oleh publik masyarakat Sigi.

Kami sebagai Kepala Dinas terkait menyadari betul bahwa kajian sejarah di Sigi masih kurang, sehingga kajian mengenai sejarah Islam di tingkat lokal Sigi patut dikembangkan demi membangun kesadaran diri mengenai identitas Ke-Sigi-an kita. Hal inilah yang menjadi pamacu dan pemicu munculnya pengadaan buku ini.

Niat baik dan kesepakatan bersama atas Pusat Penelitian Sejarah dengan Kami

SAMBUTAN

KADIS PENDIDIKAN,

PEMUDA DAN OLAHRAGA

KABUPATEN SIGI

(6)

dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sigi membuka leber tentang kerjasama yang baik untuk menerbitkan buku Islam di Sigi Sulawesi Tengah. Untuk itu, kami selaku Kepala Dinas mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak Universitas Tadulako atas terbitnya buku ini untuk bahan bacaan di sekolah.

Sebuah karya Sejarah Islam di Sigi yang hadir ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama Guru-Guru di SD dan di SMP se-Kabupaten Sigi. Penyusunannya memakan waktu dan biaya yang besar hingga berhasilnya karya ini, namun setelah kita lihat bukunya dan hadir dalam masyarakat sehingga kita merasa bangga menjadi warga Kabupaten Sigi.

Sumbangsih dan semua gagasan dari nara sumber masyarakat sangat kami apresiasi untuk pengadaan bahan untuk buku ini. Ramuan buku ini sungguh memberikan pemahaman yang dalam mengenai sejarah Islam di Kabupaten Sigi yang selama ini belum ada. Keberadaan buku ini akan menambah literature ilmiah di Kabupaten Sigi sehingga kita lebih maju selangkah lagi dari kabupaten lainnya.

Akhirnya, karya ini diakui juga bahwa semaksimal apapun pekerjaan akademik tentu di sana-sini masih saja ada hal yang perlu perbaikan. Semoga kelemahan dan kekurangan dalam penelitian, penulisan dan penerbitan buku: Sejarah Islam di Kabupaten Sigi, akan menjadi cambuk bagi kita semua untuk melakukan yang lebih baik dan mendalam di masa depan. Semoga buku ini dapat bermanfaat. Aamiin. Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sigi

Hi. Ahmad Labaso, S.Pd., M.Si.

K

ajian Sejarah Islam di Sigi Sulawesi Tengah ini berhasil dilaksanakan atas kerjasama Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah dengan Pusat Penelitian Sejarah (PusSej) Lembaga Penelitian Universitas Tadulako (UNTAD) dalam tahun 2016. Tulisan ini akan menguraikan beberapa tokoh pembawa dan pengembangan Agama Islam di Sigi seperti Ulama Datu Karama atau Abdullah Raqiy dan Ma’ruf, La Iboerahima Putra Mahkota Raja Wartabone, Pue Lasatande Dunia, Sayyid Baharullah al Aidid, Pue Lasadindi atau Mangge Rante, , Guru Tua atau Sayyed Idrus Bin Salim Al Jufri dan murid-muridnya.

Tokoh-tokoh ulama ini yang banyak mengenalkan dan mengembangkan Agama Islam di Sigi Sulawesi Tengah yang menjadi temuan penting sebagai Islam Nusantara sejak tahun 1606 di Sigi.

SEJARAH ISLAM DI SIGI:

Pengantar Penulis

(7)

Sengaja tulisan ini, isinya dikemas dalam empat bagian karena tokoh pengembang Agama Islam di Kabupaten Sigi. Asal usul tokoh ulama semuanya berasal dari luar Sulawesi Tengah kecuali Lasatande Dunia dan Pue Lasadindi. Datu Karama berasal dari Minangkabau Sumatera Barat dan telah memiliki kuburan di Kampung Lere Kota Palu. Sementara itu Ma’ruf berasal dari Sumatera Barat dan memiliki kuburan terakhirnya di Bangga dan meninggalkan Sumur Silamu di Bora Sigi. La Iboerahima Wartabone berasal dari Gorontalo dan memiliki kuburan di Kampung Potoya Kabupaten Sigi. Pue Lasadindi adalah orang Enu Sulawesi Tengah dan memiliki Kuburan di Rando Mayang perbatasan Sulawesi Tengah dengan Sulawesi Barat. Lasatande Dunia yang meninggal dan dikuburkan di Jawa Barat, tetapi sudah dipindahkan kerangkanya di Petobo Palu. Kemudian, Sayyed baharullah Al Aidid memiliki Kuburan di kampung Baru Palu dan Guru Tua berasal dari Hadramaut Yaman Selatan dan memiliki Kuburan di Kota Palu. Proses masuknya agama Islam di Sulawesi Tengah terdiri atas empat jalur, yakni jalur Pulau Salemo ke Palu oleh Datu Karama, jalur kedua yakni jalur Gorontalo ke Bone, Banggai, Tojo dan Palu oleh La Iboerahima Wartabone, jalur ketiga yakni jalur Mandar ke Palu oleh Pue Bulangisi, Imam Lapeo dan Pue Imbatu, dan jalur keempat dari Gorontalo langsung ke Palu dan Sigi Sulawesi Tengah oleh Said Idrus Bin Salim Aljufri.

Penelitian ini berhasil dilakukan karena sumbangsih pemikiran beberapa pihak terutama Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan olah Raga Kabupaten Sigi. Demikian juga terima kasih banyak kepada Bapak Bupati Mohamad Irwan, S. Sos. M.

Si. atas rekomendasi beliau sehingga buku ini dapat diterbitkan.

Kemudian kepada Bapak Muhammad J. Wartabone, kami dari peneliti mengucapkan penghargaan yang tinggi kepada beliau yang telah memberikan sumbangan pemikiran. Kepada mereka yang telah membantu, kami dari tim sekali lagi mengucapkan

terima kasih. Kepada teman-teman di TIM UNTAD Peneliti awal terutama Doktor Haliadi, Drs. Syakir Mahid, M.Hum,. Wilman Darsono, S.Pd., Ismail, S.Pd., M.Pd., dan Andriansyah Mahid, SS., MA. termasuk enumerator kegiatan ini dihaturkan terima kasih. Demikian juga TIM IAIN Palu yang dipimpin oleh Doktor Syamsuri kami mengucapkan terima kasih. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pengembangan Islam di Kota Palu terutama untuk pembelajaran islam di Kota Palu di semua jenjang pendidikan.

Tim Penulis,

Haliadi, Ph. D.

Dr. Syamsuri

(8)

PENDAHULUAN

(9)

Hubaib lalu menyusul Muhammadiyah dan Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) di Sigi dan Sulawesi Tengah.

Mitos mempunyai sifat irrasional sedangkan mitos juga berguna dan bermanfaat sebagai suatu konsensus. Pemikirannya diarahkan pada pemikiran reseptif artinya menerima segala sesuatu sebagai kodrat. Manusia tidak mungkin dan tidak perlu mengubahnya. Ia harus menerima apa adanya. Periode mistis Islam di Sulawesi Tengah dinyatakan dalam riwayat pada abad ke-XVII datanglah sekelompok rombongan ke Tanah Kaili tepatnya di “Karampe” (Bahasa Kaili berarti terdampar) yang terletak di muara teluk Palu. Kelompok tersebut berjumlah kurang lebih 50 orang. Pemimpin rombongan itu bernama Datuk Karama atau Abdullah Raqie yang diikuti oleh istrinya yang bernama Ince Jille, iparnya bernama Ince Saharibanong, dan anaknya yang bernama Ince Dingko. Mereka datang dengan alat-alat kebesarannya dari Minangkabau seperti Bendera kuning, Panji orang-orangan, Puade, Jijiri, Bulo, Gong, dan Kakula (Kulintang). Juga diriwayatkan bahwa yang menerima Islam pertama bernama Pue Nggari dan Pue Njidi pemimpin di daerah Besusu dan Kabonena Palu lalu menyusul Pue Bongo selaku raja di Bangga Sigi di-Islam-kan oleh Ma’ruf seorang Sahbandar yang ikut rombongan Datu Karama.

Ketika Dato Karama tiba di Karampe Palu di daerah Kaili Pue Nggari, Pue Njidi, dan Pue Bongo belum memeluk agama dan nantinya dengan bantuan dari Datok Karama ini ia langsung memeluk Islam dengan kerelaan hatinya.

Waktu perahu Dato Karama mema suki Teluk Palu diiringi dengan bunyi-bunyian (kakula, gong, dan alat-alat kesenian tradisional di lembah Kaili). Menurut kepercaya an, Dato Karama adalah seorang yang keramat, sehingga pada wak tu memasuki teluk Palu, arus sedang deras-derasnya sehingga pe rahunya terdampar di pantai, tetapi setelah perahunya terdampar, perahu tersebut, berubah menjadi tikar yang

A

gama Islam masuk ke Sigi dan Palu Sulawesi Tengah dalam tiga tahapan utama, yakni tahapan mitologis, ideologis, dan tahapan ilmu pengetahuan. Agama Islam di Sulawesi Tengah dibawa oleh seorang ulama yang bernama Datu Karama atau Abdullah Raqiy pada tahun 1606 dengan mengenalkan agama Islam secara mitologis.

Kemudian, agama Islam dikembangkan oleh orang-orang Sulawesi Selatan termasuk La Iboerahima Putra Mahkota Raja Wartabone dari Gorontalo pada tahun 1842 termasuk juga Ahmad Lagong dan Pue Lasadindi dengan mengembangkan agama Islam secara ideologis. Selanjutnya, agama Islam dikembangkan oleh Sayyed Idrus Bin Salim Aljufri dengan memperkenalkan agama Islam sebagai Ilmu Pengetahuan pada Perguruan Alkhairat pada tahun 1930 termasuk murid- muridnya yang terkenal seperti Dg. Maria Djaelangkara, KH. Awad Abdun, KH. Syakir

ISLAM DI SIGI SULAWESI TENGAH:

Periode Mitologis, Ideologis dan

Ilmupengetahuan

(10)

membentang dan layarnya merupakan suatu perkemahan.

Pantai tempat terdampar nya perahu Dato Karama itu disebut Karampe artinya tempat pe rahu terdampar. Tempat tersebut sampai saat ini disebut Kampung Karampe. Istri Dato Karama bernama Intje Djille dan putri beliau In tje Dingko serta adiknya Sahari Banong menetap di Palu dan ter jadilah perkawinan dengan turunan raja-raja. Hal itulah yang mempercepat proses perkembangan Islam di lembah Palu dan Sulawesi Tengah pada umumnya.

Tantangan utama pada periode ini adalah kepercayaan lama berupa sistem kepercayaan tradisional. Kepercayaan yang menjadi penghalang utama agama Islam adalah kepercayaan Karampue Langi dan Karampue Ntana (Kepercayaan penguasa langit dan penguasa tanah), Kepercayaa Wentira (Kepercayaan:

Tarapotina, Topepa, Buntulovo, Tauta, Divo, Tampilangi, Diava), Kepercayaan gaib dari manusia yang hilang seperti: Tauleru dan Talivarani, Penyakit yang diderita manusia yang berasal dari mahluk halus seperti Viata dan Rate. Kepercayaan tentang doti (doti pontiala / lembek kepala), doti jori (lumpuh), doti apu (kulit terkelupas), doti butiti (perut kembung) dan semacamnya.

Ideologi memiliki sifat rasional dan subyektif serta berguna untuk sebuah kepentingan. Dalam ideologi mementingkan metodologi yang diarahkan pada hal-hal yang normatif.

Ideologi juga mengajarkan cara berpikir yang tertutup. Pada masa ini juga orang-orang Bugis, Makassar, dan Mandar serta Gorontalo melakukan penyebaran agama Islam di wilayah Sigi Sulawesi Tengah. Menurut riwayatnya bahwa yang melakukan penyebaran agama Islam di Sulawesi Tengah dilakukan oleh Pue Bulangisi (Daeng Kondang) menyebarkan Islam di Tavaeli, Pua Karikati menyebarkan Islam di Toribulu.

Demikian pula Datuk Mangaji mengislamkan Raja Parigi yang bernama Magau Tori Kota dan putranya yang bernama Magau Janggo atau yang bernama Ma’ruf. La Iboerahima Wartabone

melakukan pengembangan Islam di Sigi Sulawesi Tengah pada tahun 1842. La Iboerahima Putra Mahkota Raja Wartabone datang ke Sulawesi Tengah untuk melakukan pengembangan Agama Islam yang telah dipelajarinya di Suwawa, di Una- Una, Ternate dan bahkan di tanah Bugis Bone Sulawesi Selatan. La Iboerahima Putra Mahkota Raja Wartabone dalam melakukan pengembangan agama Islam yang sudah diperkenalkan oleh Datu Karama atau Abdullah Raqiy dari Minangkabau Sumatera. Ajaran Islam yang dikembangkan oleh La Iboerahima Putra Mahkota Raja Wartabone adalah Islam secara Ideologi. Ajaran Islam yang diperkenalkan adalah syariat, tariqat dan tasawuf agama Islam dengan tujuan untuk mengikis kepercayaan-kepercayaan lama di Sulawesi Tengah.

Tarikat lebih diutamakan karena pendekatan yang digunakan adalah pendekatan ilmu-ilmu lama yang dipadukan dengan ajaran-ajaran Al Quran dan Hadist. Namun, ajaran Islam selalu diperkenalkan secara keseluruhan kepada masyarakat yang ditemuinya di Sulawesi Tengah. La Iboerahima Putra Mahkota Raja Wartabone wafat pada tahun 1897 di Dolo Potoya Buli Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah.

Selanjutnya, Periode ilmupengetahuan ditandai dengan sifat yang obyektif. Metodologi ilmupengetahuan mementingkan yang faktual. Dalam ilmu diajarkan tentang cara berpikir yang terbuka. Perode ini agama Islam disebarkan oleh Sayyed Idrus Bin Salim Aldjufrie yang biasa dipanggil dengan Guru Tua. Beliau adalah seorang yang berkebangsaan Hadramaut yang rela tinggal di Palu. Beliau lahir pada tanggal 15 Sya’ban 1309 hijriyah. Tokoh Islam ini lahir dari Salim Bin Alawy seorang Mufti Hadramaut dan dari ibu yang bernama Nur. Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie datang ke Palu pada tahun 1929, kemudian pada tahun 1930-an di Kota Palu membangun perguruan Islan yang bernama Alkhairat. Dua puluh tahun kemudian, perguruan ini berkembang luas di

(11)

sekitar Kota Palu hingga Sangir Talaud di pulau-pulau kecil utara pulau Sulawesi. Persebaran itu Pada tahun 1935 di Tinombo oleh H. Gasim Maragau, tahun 1934 di Ampana oleh Dg. Maria Djaelangkara, Pada tahun 1938 di Batui oleh Marzuki, Pada tahun 1936 di Kepulauan Togean Sjamsuddin dan Nohlawewa, Tahun 1937 di Banggai oleh Abd. Hafid Palewa, Pada tahun 1939 di Kintom oleh Alwi Intje Ote dan Abd. Hafid. Pada Tahun 1940-an di Bungku dikembangkan oleh Hasjim, demikian juga di Tanjung Selor Kalimantan Timur dikembangkan oleh Rustam Arsyad Palas dan Lanari serta Sagaf Bin Sech Al Jufri, di Kota Poso tahun 1941 oleh Nawawian Abdullah dan Nur Hasan. Pada tahun 1950 di Sangir Talaud Al Khairat dikembangkan oleh M.S. Patimbang, demikian juga di tahun 1951 di Tahuna dikembangkan oleh Nawawian Abdullah.

Berdasarkan masuknya Agama Islam ke Palu dan Sigi Sulawesi Tengah dikenal beberapa jalur yakni jalur Melayu, jalur Arab, jalur dari Ternate ke Gorontalo yang nantinya menuju ke Palu dan Sigi Sulawesi Tengah. Jalur tersebut dapat dilihat dari Peta sebagai berikut ini:

Peta Jalur Masuknya Islam di Lembah Palu dan Sigi Sulawesi Tengah

Sumber: diolah oleh Penulis.

Peta ini menunjukkan bahwa jalur pertama adalah jalur Abdullah Raqiy atau Datu Karama dari Melayu melalui jalur tengah pelayaran nusantara menuju Pulau Salemo kemudian menuju ke Palu dan Sigi Sulawesi Tengah. Jalur kedua adalah jalur Daeng Kondang atau Pue Bulangisi dari Pambuang Mandar menuju Tosale di wilayah Banawa lalu ke Tavaeli Palu Sulawesi Tengah. Jalur ini juga digunakan oleh Ahmad lagong dan ulama Islam Sayyed Baharullah Al Aidid. Jalur ketiga adalah jalur La Iboerahima Putra Mahkota Wartabone Islam dari Ternate ke Gorontalo dan dari Gorontalo menuju Pulau Una-Una lalu ke Ampana, Pagimana, Luwuk, Banggai ke Bone dan Makassar kemudian berbalik ke Ampana lalu

(12)

— BAGIAN I —

ISLAM

MITOLOGIS:

Datu Karama dan Ma’ruf

menuju ke Parigi, Kasimbar, Lalu ke Batu Suya kemudian berakhir di Bone Tatura dan Potoya Sigi Sulawesi Tengah.

Akhirnya jalur keempat Sayyed Idrus Bin Salim Aljufri dari Jawa menuju ke Gorontalo lalu menuju Wani Palu Sulawesi Tengah kemudian menetap di Palu Sulawesi Tengah. Empat jalur inilah kedatangan tokoh-tokoh Islam di Sigi dan Palu Sulawesi Tengah. Agama Islam yang kita anut dan junjung tinggi sekarang adalah daya dan upaya para alim ulama yang datang mengenalkan dan mengembangkan Agama Islam di Sigi Sulawesi Tengah.

(13)

Barat dan Sulawesi Selatan termasuk Pue Bulangisi dan La Iboerahima Wartabone dari Gorontalo pada tahun 1842 dengan mengembangkan agama Islam secara ideologis. Selanjutnya, agama Islam dikembangkan oleh Sayyed Idrus bin Salim Aljufri dengan memperkenalkan agama Islam sebagai Ilmu Pengetahuan pada Perguruan Alkhairat pada tahun 1930 di Palu.

Periode Islam Mitologis di Palu Sulawesi Tengah ditandai dengan cerita-cerita mitos tentang Agama Islam. Mitos mempunyai sifat irrasional sementara itu mitos juga berguna dan bermanfaat sebagai suatu konsensus.4 Pemikirannya diarahkan pada pemikiran reseptif artinya menerima segala sesuatu sebagai kodrat. Manusia tidak mungkin dan tidak perlu mengubahnya. Ia harus menerima apa adanya. Periode mistis Islam di Sulawesi Tengah dinyatakan dalam riwayat pada abad ke-XVII datanglah sekelompok rombongan ke Tanah Kaili tepatnya di “Karampe” (Bahasa Kaili berarti terdampar) yang terletak di muara Teluk Palu. Kelompok tersebut berjumlah kurang lebih 50 orang. Pemimpin rombongan itu bernama Datu Karama atau Abdullah Raqie yang diikuti oleh istrinya yang bernama Ince Jille, iparnya bernama Ince Saharibanong, dan anaknya yang bernama Ince Dingko. Mereka datang dengan alat-alat kebesarannya dari Minangkabau seperti bendera kuning, panji orang-orangan, Puade, Jijiri, Bulo, Gong, dan Kakula (Kulintang). Juga diriwayatkan bahwa yang menerima Islam pertama bernama Pue Bongo selaku pemimpin di daerah Kabonena Palu. Ketika Dato Karama tiba di Palu di daerah Kaili (Palu) bernama Pue Bongo belum memeluk agama dan nantinya dengan bantuan dari Dato Karama ini ia langsung

4 Mitos mempunyai sifat irrasional sedangkan mitos juga berguna dan bermanfaat sebagai sesuatu konsensus. Pemikirannya diarahkan pada pemikiran reseptif artinya menerima segala sesuatu sebagai kodrat.

Manusia tidak mungkin dan tidak perlu mengubahnya, dalam buku:

Suparlan Suhartono, Dasar-Dasar Filsafat (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2004), hlm. 40.

A

gama Islam masuk ke Sulawesi Tengah dalam tiga tahapan utama, yakni:

tahapan mitologis, ideologis, dan tahapan ilmu pengetahuan.1 Agama Islam di Sulawesi Tengah dibawa oleh seorang ulama yang bernama Datu Karama atau Abdullah Raqiy pada sekitar tahun 16062 dan hingga 16503 dengan mengenalkan agama Islam secara mitologis. Kemudian, agama Islam dikembangkan oleh orang-orang Sulawesi

1 Haliadi, Sejarah Islam di Sulawesi Tengah, Makalah yang disampaikan pada seminar HMI tahun 2005 di Palu.

2 Eija-Maija Kotilainen, When The Bones are Left; A Study of the Material Culture of Central Sulawesi (Helsinki: The Finnish Antropological Society, 1992), hlm. 47

3 Haliadi, Dr. Rahilah Binti Omar, dan Dr. Leo Agustino, ABDULLAH RAQIY DAN ANWAR DATUK MADJO BASAH NAN KUNING: Elit Melayu Penganjur Awal Islam dan Kepimpinan di Sulawesi Tengah, Indonesia, disampaikan pada seminar antarabangsa di Universitas Brunei Darussalam Negara Brunei Darussalam pada tanggal 29-31 Maret 2013.

ABDULLAH RAQIY dan MA’RUF

(1600an – 1709)

(14)

memeluk Islam dengan kerelaan hatinya. Waktu perahu Dato Karama mema suki Teluk Palu diiringi dengan bunyi- bunyian (kakula, gong, dan alat-alat kesenian tradisional di Lembah Kaili). Menurut kepercaya an, Dato Karama adalah seorang yang keramat, sehingga pada wak tu memasuki Teluk Palu, arus sedang deras-derasnya sehingga pe rahunya terdampar di pantai, tetapi setelah perahunya terdampar, perahu tersebut, berubah menjadi tikar yang membentang dan layarnya menyerupai suatu perkemahan. Pantai tempat terdampar nya perahu Dato Karama itu disebut Karampe artinya tempat pe rahu terdampar. Tempat tersebut sampai saat ini disebut Kampung Karampe. Di tempat ini sekarang didirikan rumah sakit UNDATA di Palu. Istri Dato Karama bernama Intje Djille dan putri beliau In tje Dingko serta adik istrinya bernama Sahari Banong menetap di Palu dan ter jadilah perkawinan dengan turunan raja-raja. Hal itulah yang mempercepat proses perkembangan Islam di Lembah Palu dan Sulawesi Tengah pada umumnya.

Tantangan utama pada periode ini adalah kepercayaan lama berupa sistem kepercayaan tradisionalistik. Kepercayaan yang menjadi penghalang utama agama Islam adalah kepercayaan

“Karampue Langi” dan “Karampue Ntana” (kepercayaan penguasa langit dan penguasa tanah), Kepercayaan Wentira (kepercayaan: Tarapotina, Topepa, Buntulovo, Tauta, Divo, Tampilangi, Diava), Kepercayaan kepada hal yang gaib dari manusia yang hilang seperti: Tauleru dan Talivarani, penyakit yang diderita manusia yang berasal dari mahluk halus seperti Viata dan Rate. Kepercayaan tentang doti (doti pontiala/lembek kepala), doti jori (lumpuh), doti apu (kulit terkelupas), doti butiti (perut kembung) dan semacamnya.5

5 Syakir Mahid dkk., Sejarah Sosial Sulawesi Tengah (Yogyakarta:

Pilar Media, 2009), hlm. 19-52; baca juga: N. Adriani en Alb. C. Kruyt, De Baree-Sprekende Toradjas van Midden Celebes, (Batavia: Landsrukkerij, 1912), hlm. 299-301.

Tulisan ini terfokus pada sejarah Datu Karama sebagai tokoh pembawa Islam awal di Palu Sulawesi Tengah sebagai proses awal perkenalan masyarakat Palu dengan agama Islam. Sebelum agama Islam datang ke Palu Sulawesi Tengah, masyarakat masih diliputi oleh pemahaman keagamaan yang bersifat animisme dan dinamisme. Proses masuknya Agama Islam di tengah-tengah masyarakat yang animistik dan dinamistik mampu dimasuki oleh agama Islam tanpa kekerasan dan menggunakan jalan damai.

A. KEPERCAYAAN LAMA DI SIGI SULAWESI TENGAH Sederhananya, kepercayaan masyarakat lokal di Sulawesi Tengah dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu kepercayaan animisme dan dinamisme. Animisme atau pemujaan terhadap roh yang berhubungan dengan kehidupan manusia, artinya roh yang dipercayai dapat membantu atau memudahkan kepentingan manusia, bahkan roh itu dapat mengganggu dan mencelakai seseorang.6 Masyarakat daerah ini juga mempercayai bahwa setiap benda (di alam) memiliki kekuatan gaib yang dipercaya dapat memberi kedamaian maupun ancaman, baik secara kolektif terhadap masyarakat dan juga individu. Penyebabnya adalah ketidaklepasan manusia dengan lingkungan alamnya, baik agraris maupun maritim. Kepercayaan terhadap kekuatan gaib tersebut mampu mengatur sikap dan tingkah lakunya untuk mencapai kebahagiaan hidup. Hal inilah yang menjadi rambu- rambu (hukum adat) agar kiranya keseimbangan lingkungan alam tetap terjaga dengan baik. Itulah yang disebut dinamisme.7

6 Lukman Nadjamuddin, Dari Animisme Ke Monoteisme: Kristenisasi di Poso 1892-1942 (Yogyakarta: YOI, 2002), hlm. 13-16.

7 Lihat Syamsuddin Hi. Chalid, dkk, Upacara Tradisional dalam Kaitannya Dengan Peristiwa Alam Dan Kepercayaan Daerah Sulawesi Tengah, Laporan Penelitian, Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan, 1983/1984, hlm. 16

(15)

Masyarakat Kaili mengenal atau percaya dengan keberadaan karampua langi (penguasa langit; roh yang mengatur iklim, cuaca, bulan dan matahari, gerhana bulan dan matahari, serta benda-benda langit lainnya), dan karampua ntana (penguasa tanah/bumi); karena dipercaya dapat mengatur kehidupan di bumi, gempa, banjir, angin ribut, dan lain-lain). Masyarakat ini juga percaya pada sebuah kekuatan arwah yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kekuatan menyembuhkan ini terlihat dengan adanya sebuah upacara ritual, Balia.8 Upacara (magis) ini dilakukan untuk mengobati atau menolak penyakit oleh seorang atau beberapa orang dukun sebagai mediator antara penyebab atau sumber penyakit dengan si sakit.9 Tujuan pokok balia, yaitu penyembahan (persembahan), permohonan dan perlindungan kepada kekuatan gaib sebagai sumber pemberi rezeki, keselamatan, sekaligus malapetaka bagi manusia.10 Sehingga dikenal empat macam balia, yaitu balia nto manuru, balia bone meloso, balia bone biasa (salaude utomanuru), dan balia tampilangi.11 Olehnya itu dapat dikatakan bahwa balia merupakan salah satu ritus purba yang belum mendapat sentuhan pemikiran monoteisme. Hingga kini, upacara ritual ini masih dilakukan oleh masyarakat Kaili dan masih diyakini

8 Tujuan pelaksanaan upacara Balia adalah (1) pengobatan, baik pengobatan individual atau massal; (2) pertanian, berkaitan dengan kesuburan tanah, menolak wabah, hama tanaman, keselamatan para petani selama mengolah kebun; (3) hiburan, sebagai salah satu bentuk kesenian yang mengandung unsur magis religius, yang biasanya diselenggarakan oleh keluarga raja, bahkan untuk mengumpulkan hasil bumi setelah panen untuk disimpan di lumbung kerajaan sebagai upaya persiapan bila masa paceklik; (4) pelaksanaan eksekusi terhadap pelanggaran tata susila dan perlawanan yang menantang raja. Dahlia Syuaib dan Amining Bannu, Adat Balia Di Tanah Kaili Kabupaten Donggala (Suatu Tinjauan Sosial Religius), Laporan Penelitian: Balai Penelitian Unversitas Tadulako Palu, 1994, hlm. 6-7.

9 Ibid, hlm. 6-7.

10 Syamsudin Hi. Chalid, Op. Cit., hlm. 35.

11 Ibid, hlm 34-35.

keampuhannya dalam menyembuhkan penyakit yang diderita oleh seorang pasien pesakit.

B. ABDULLAH RAQIY (DATU KARAMA): Penyebar Islam Awal

Perjalanan sejarah Islam di Sulawesi Tengah berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Memang di daerah ini tidak terdapat sebuah kerajaan yang menjadi kerajaan Islam atau kesultanan dan mampu mengembangkan kekuasaannya secara Islamik. Sehingga daerah ini dalam proses penyebaran Islam, kurang terkenal walaupun banyak terdapat peninggalan Islam yang diperkirakan lebih tua dari yang pernah ada di negeri ini. Namun, sejarah perkembangan Islam mencatat bahwa di Sulawesi Tengah terdapat kenyataan perkembangan Islam yang spesial, sebagai sebuah peran tersendiri dan berbeda dengan perkembangan Islam di daerah-daerah lain di Indonesia.

Perkembangan agama Islam yang berbeda disebabkan oleh adanya faktor geografis, dan keadaan alam yang bekerja dalam proses penyebaran Islam. Sehingga terjadi kelangkaan sumber atau kekurangan data sebagai bukti-bukti sejarah tertulis guna mendukung kebenaran suatu berita mengenai Islam. Banyak anggapan masyarakat yang ditangkap dari sumber lisan bahwa Islam masuk ke Lembah Palu melalui tiga tahap, dan berasal dari tiga daerah yang telah menjadikan Islam sebagai agama masyarakat. Berita ini diperkuat dalam buku “Sejarah Sulawesi Tengah” yang mengatakan bahwa Islam masuk Sulawesi Tengah melalui tahap-tahap, yaitu: Pertama, Agama Islam dari Ternate yang masuk melalui Gorontalo dan tiba di Lambunu bahagian Pantai Teluk Tomini; Kedua, Agama Islam dari Minagkabau yang dibawa oleh Abdullah Raqie dan dilanjutkan oleh orang- orang Bugis dan Mandar. Keberadaan orang-orang Bugis ini diperkuat oleh ejaan mengaji yang dipergunakan yaitu dengan mengeja menggunakan bahasa Bugis; dan Ketiga, Agama

(16)

Islam dikembangkan atau dilanjutkan orang Arab yang dibawa langsung dari Hadramaut oleh Sayid Idrus bin Salim Al Jufri.12

Sementara itu, Sofyan B. Kambay menyatakan bahwa Agama Islam masuk ke Palu sekitar abad ke-XVII Masehi (1650) yang dibawa oleh seorang Muballiq berasal dari Sumatera Barat (Minagkabau) bernama Abdullah Raqie atau lebih dikenal dengan nama Dato Karama.13 Pernyataan ini dipertegas dalam buku berjudul “Mengenal Tanah Kaili” yang menyatakan bahwa dalam abad XVII agama Islam mulai masuk ke Tanah Kaili dibawa oleh Abdullah Raqie gelar Datu Karama.14 Hal senada dikemukakan dalam buku Sejarah Sosial Sulawesi Tengah bahwa pada abad ke XVII Masehi datang sekelompok rombongan ke Tanah Kaili tepatnya di Karampe (dalam bahasa Kaili berarti terdampar) yang terletak di muara Teluk Palu. Kelompok tersebut kurang lebih 50 orang yang dipimpin oleh Datu Karama (Abdullah Raqie) dengan istrinya yang bernama Ince Jille, Ince Saharibanong (iparnya) serta anaknya yang bernama Ince Dingko. Mereka datang dengan alat-alat kebesarannya dari Minangkabau seperti bendera kuning, panji orang-orangan, puade, jijiri, bulo, gong, dan kakula (Kulintang).15

Kedatangan Datu Karama atau Abdullah Raqie telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat Palu, khusunya menyangkut kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Sulawesi Tengah. Dimana, masyarakat bersedia memeluk agama Islam yang dibawa oleh Datu Karama.

Peristiwa tersebut diyakini masyarakat Kaili sebagai kejadian

12 Nurhayati Nainggolan, Dkk, Sejarah Daerah Sulawesi Tengah (Jakarta: Depdikbud. 1996/1997).

13 Sofyan B. Kambay, Perguruan Islam Alkhairaat: Dari Masa Ke Masa (Palu, Pengurus Besar Yayasan Alkhairaat: 1991), hlm. 6.

14 M. J. Abdullah, Sejarah Tanah Kaili (Palu: Stensilan: 1975), hlm.

20.

15 Syakir Mahid, dkk., Sejarah Sosial Sulawesi Tengah (Yogyakarta:

Pilar Media, 2009), hlm. 106-107.

keramat, sehingga Abdullah Raqie digelari “Datu Karama.”16 Pembawa Agama Islam yang bernama Abdullah Raqie atau yang lebih dikenal dengan Dato Karama adalah seorang tokoh ulama penyebar agama Islam pertama di Sulawesi Tengah. Dato Karama merupakan sebutan Abdul Raqie, bagi penduduk Kota Palu yang berarti seorang dato (datuk) yang sakti atau keramat. Dato Karama datang ke Sulawesi Tengah dan mulai menyebarkan agama Islam sekitar awal abad ke 17 Masehi dengan menggunakan perahu layar. Menurut cerita yang dikisahkan secara turun temurun, beliau pertama kali menginjakkan kakinya di Kampung Lere (sekarang Kelurahan Lere), setelah perahunya pecah dan terdampar di tepi Pantai Talise (disebut karampe) sampai ke Kampung Lere.

Ajaran yang pertama kali disampaikan oleh Abdullah Raqie ketika mengajarkan agama Islam di Lembah Palu adalah cara berbusana karena pada saat itu masyarakat umumnya berpakaian dari kulit kayu. Ajaran ini ternyata mampu menarik simpati masyarakat sehingga mau masuk Islam. Setelah itu, barulah ia mengajarkan akhlak, mengaji, sholat, dan sebagainya. Dato Karama menjadi seorang guru mengaji di Kampung Baru, beliau pernah berjalan-jalan di sebuah kampung dan mendapatkan tumbuhan sejenis ilalang, ia kemudian menamakan kampung tersebut “Kampung Lere”

yang awalnya merupakan jalan panggona.

Kedatangan Dato Karama disambut baik oleh masyarakat Lembah Palu (Kota Palu) bahkan kedatangannya disambut oleh Raja Pue Njidi, Raja Palu yang pertama kali memeluk agama Islam. Demikian juga dengan dua bangsawan lain seperti Pue Nggari (Raja Besusu) dan Pue Bongo. Beliau disebut Dato Karama karena memiliki kesaktian yang amat hebat (keramat dan sakti) yang dibuktikan pada saat ketika ombak tinggi setinggi pohon kelapa terjadi di daerah Palu

16 Untuk mengenangnya, sebuah STAIN di Palu diberi nama “Datu Karama.”

(17)

dan ketika itu beliau melemparkan sorbannya hingga ombak tersebut berbalik arah ke Desa Tambu.

Dato Karama sebagai salah satu dari sekian banyak penyiar agama Islam yang nyaris dilupakan, meskipun demikian, juru pelihara makam Dato Karama menyatakan bahwa Dato Karama sering muncul dalam bentuk suara gaib. Ketika waktu subuh tiba, ia sering dibangunkan oleh suara Dato Karama.

Begitu pula apabila ia melupakan sholat, Dato Karama selalu membisikinya. “Assalamu Alaikum” kata-kata inilah yang sering diperdengarkan Dato Karama menurut kesaksian Aziz Mohammad pada tahun 2013.

Ada beberapa peninggalan sejarah sebagai bukti bahwa beliau pernah datang dan menyebarkan agama Islam di Lembah Palu, seperti Masjid Jami’ (sekarang berada di Kampung Baru Palu) dan rumah adat (sudah terbakar). Adapun ciri makamnya yaitu berbentuk rumah gadang (minang), disesuaikan dengan daerah asalnya yaitu Minangkabau, Sumatera Barat. Olehnya itu, keberadaan Dato Karama sebagai penyiar Islam di Palu, Sulawesi Tengah pada umumnya diperkuat oleh beberapa peninggalan sejarah sebagai bukti bahwa beliau adalah penyebar agama Islam yang pertama di Lembah Palu (abad ke XVII).

C. TERBENTUKNYA MASYARAKAT ISLAM

Dasar utama dari pembentukan masyarakat Islam di Palu merupakan penguatan iman sekaligus implementasi akidah dalam berbagai bentuk pengabdian (ibadah). Iman bagi masyarakat muslim adalah dasar dari segala yang terkait dalam hidupnya. Semua prilaku dan karya masyarakat muslim bermuara dari iman yang kokoh dalam hatinya. Iman dan amal baginya ibarat pohon dan buahnya, iman tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Masyarakat Islam Palu yang mengetahui dan memahami pentingnya ajaran Islam untuk diamalkan oleh

setiap muslim pada giliran terakhirnya perilaku Islami dapat membentuk budaya Islami atau peradaban Islam.

Terbentuknya komunitas muslim atau masyarakat Islam di Palu adalah salah satu tujuan primer dari ajaran Islam.

Umat berasal dari kata “ummah.” Kata itu terdapat dalam Al-Qur’an, sekalipun asal-usulnya tidak asli kosa kata bahasa Arab, melainkan dari bahasa Al-Ibriah atau dari bahasa al- Aramiyah. Umat adalah kelompok masyarakat yang terikat akidah, dengan itu membentuk nasionalitasnya. Tanpa akidah tidak akan terbentuk umat, karena tidak ada tali pengikat sesamanya. Tanah air, ras, bahasa, keturunan, kepentingan- kepentingan umum duniawi, sekalipun sendiri-sendiri atau dikembangkan semua itu tidak cukup untuk membentuk umat, kecuali dipersatukan dengan akidah.17

Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat Islam adalah masyarakat yang tercipta oleh Syariat yang khas, ciptaan Allah. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang universal, yakni tidak rasial, tidak nasional, tidak terbatas oleh batasan geografis, terbuka untuk seluruh umat manusia, tanpa memandang jenis, dan warna kulit atau bahasa. Ukurannya hanyalah taqwa kepada Allah, taat kepada-Nya, dan berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya. Selain itu, masyarakat Islam juga sebagai tipe ideal perwujudan masyarakat muslim dimana saja dan kapan saja, karena masyarakat yang diwujudkan atas asas akidah dan syariah Islamiah serta asas persamaan bertumpu pada konsep, pembinaan dan pengembangan kesatuan-kesatuan sosial seperti umat, keluarga, kerabat dan tetangga serta jamaah sebagai wahana perwujudannya berdasarkan ketentuan dan petunjuk Qur’an dan Hadis.

Selanjutnya perwujudan masyarakat Islam tidak terlepas dari keberadan Masjid, persaudaraan (ukhuwah), persatuan dan kesatuan, interaksi sosial serta sikap dan hubungan

17 Sjamsudhuha dalam Ismail, 2013, hlm.99.

(18)

muslim dengan non-muslim. Hal ini dapat dibuktikan bahwa keberadaan Islam di Palu pemeluk yang beragama Islam lebih banyak dibandingkan dengan penganut agama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Namun, mereka sangat menghargai satu sama lain dan menjaga keharmonisan antar umat beragama.

Penyebaran agama Islam di Palu melalui jalur perdagangan, perkawinan, pesantren dan ajaran tasawuf. Para pedagang ada yang menetap dan kemudian menikah dengan wanita pribumi yang terlebih dahulu memeluk agama Islam. Masuknya Islam di Lembah Palu dapat dibuktikan lewat ceritera rakyat (mitos) peng-Islaman Raja Palu (Pue Njidi) sebagai Magau yang memimpin masyarakat di Palu, Sulawesi Tengah.

Kedatangan Dato Karama (Abdullah Raqie) dapat dipandang sebagai periode pertama dalam penyebaran dan perkembangan agama Islam di Lembah Palu. Kemudian disusul oleh orang-orang Bugis dan Mandar dari Sulawesi Selatan untuk menyebarkan agama Islam. Namun, perkembangan Islam semakin terarah setelah masuknya organisasi-organisasi Islam seperti Sarekat Islam (SI), Muhammadiyah dan sebagainya. Perkembangan agama Islam pada masa organisasi Islam ditandai dengan berdirinya Al Khairaat di Palu yang awal pendirian perguruan Islam di daerah ini.

Berdirinya Al Khairaat menyebabkan pengembangan agama Islam mulai menjangkau ke seluruh daerah-daerah yang ada di Lembah Palu. Sebelum Alkhairaat didirikan, masyarakat di wilayah ini sudah memeluk agama Islam, namun ajaran Islam saat itu belum terarah. Keberadaan Alkhairaat di Palu merupakan masa keemasan bagi masyarakat Islam seutuhnya, karena masyarakat dapat belajar Ilmu agama Islam lebih mapan. Syamsi Ali menyatakan bahwa terbentuknya sebuah masyarakat muslim yang Islami dan solid, diperlukan beberapa hal yang merupakan fondasi atau pilar masyarakat

muslim tersebut. Tanpa dasar-dasar ini masyarakat muslim bisa saja terbentuk, akan tetapi terbentuk di atas yang rapuh dan dapat runtuh dengan mudah. Sebaliknya, dengan dasar-dasar yang akan disebutkan berikut ini, akan terbangun masyarakat yang tidak saja Islami tapi juga solid dalam bangunan dan strukturnya, yakni soliditas dan implementasi imani.

Pandangan di atas mengarah pada sabda Rasulullah SAW. “Iman itu bukanlah khayalan dan angan-angan semata, melainkan apa yang tertanam dalam hati dan dibenarkan oleh hadits”. Artinya, iman itu memiliki dua entity yang tidak terpisahkan yaitu entitas spiritual, dan entitas physical. Entitas spiritual iman adalah hadirnya keyakinan yang kokoh akan kebersamaan Allah SWT. bersama kita (ma’iyatu-Allah) di setiap masa dan ruang. Kapan dan di mana saja akan terasa dibimbing, diayomi, dinaungi, sekaligus diawasi Allah SWT.

Pengayoman dan pengawasan inilah yang melahirkan sebuah kekuatan dahsyat yang selanjutnya berpengaruh dalam sikap dan prilaku seseorang.18

Meskipun di Palu masih terdapat masyarakat yang beragama Islam yang memiliki perilaku yang belum sepenuhnya mengamalkan kebudayaan Islam, yakni orang-orang yang tidak mengetahui dan memahami pentingnya ajaran Islam untuk diamalkan atau pengamalan ajaran Islamnya hanya setengah- setengah. Sebagaimana Kuntowijoyo dalam Sujarwanto, dkk., (1990: 105) menegaskan bahwa “yang perlu kita persiapkan dalam masyarakat Islam ialah harus tumbuh suatu usaha, suatu etos Islam yang mencoba untuk membangkitkan kembali elan vital, yakni suatu hidup Islam yang ada di dalam masyarakat Islam sendiri.” Salah satu contoh adanya organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan da’wah Islamiyah mempunyai perbedaan, seperti; organisasi Muhammadiyah dan Al Khairaat. Perbedaan ke dua organisasi tersebut masih

18 Ibid., hlm, 100.

(19)

menjadi perbedaan klasik secara kultural. Namun, orang- orang yang terlibat dalam dua kelompok ini mengetahui di luar lingkungannya dan memahami bahwa yang menjadi obyek perbedaan adalah persoalan budaya seperti dikemukakan pada bagian awal tulisan ini.19

Proses Islamisasi di Sumatera Barat seperti yang telah diuraikan di atas berjalan dengan baik berkat keterbukaan dan peran serta masyarakat Minangkabau dalam membawa ajaran Islam yang mereka pelajari di daerah rantau. Keberhasilan Islamisasi ini juga sangat didorong oleh adanya lembaga- lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan surau yang didirikan oleh masyarakat Minangkabau untuk mengajarkan Islam kepada sesamanya. Surau yang terdapat di seluruh ranah Minang dijadikan sarana untuk menanamkan nilai- nilai Islam kepada putra-putri Minang semenjak mereka kecil, sehingga mampu membentuk masyarakat Minang yang keras adat namun taat terhadap ajaran Islam. Umar Yunus bahkan mengatakan bahwa jika ada orang Miangkabau yang tidak menganut ajaran Islam, maka hal itu adalah suatu keganjilan yang mengherankan.

Ada beberapa pendapat yang muncul di antara para sejarawan tentang waktu dan tempat pertama kalinya Islam masuk ke Nusantara. Akan tetapi mayoritas mereka setuju bahwa yang membawa ajaran Islam ke Nusantara pada pertama kalinya adalah para pedagang, meskipun mereka tidak mempunyai pandangan yang sama tentang asal para pedagang tersebut. Agama Islam di Nusantara disebarkan dengan berbagai cara. Beberapa jalur utama penyebaran agama Islam dilakukan dengan menumpangi wadah-wadah yang telah dikenal oleh masyarakat setempat pada masyarakat tersebut.

Begitu juga dengan menikahkan para gadis Indonesia dengan mengislamkan mereka sehingga terjadilah ikatan darah.

19 Ibid.

Beberapa media dakwah yang merupakan kategori kesenian ternyata mempunyai kelemahan dimana para masyarakat sulit untuk membedakan ajaran Islam dengan cerita ataupun materi pertunjukan semata. Hal inilah yang kemudian membuat beberapa ajaran Islam bercampur aduk dengan adat di beberapa wilayah khususnya di Pulau Jawa.

Agama Islam masuk melalui sistem dakwah yang damai dan dengan pendekatan budaya serta sistem kemasyarakatan yang telah ada.

Foto Kuburan Datu Karama

Sumber: Koleksi Penulis

Proses Islamisasi di Palu secara umum menggunakan jalur laut lalu melalui darat. Penyebaran Islam di Palu tidak dengan paksaan, apalagi dengan pedang. Tetapi, penyebaran Islam hanya melalui metode dakwah pada pertemuan-pertemuan, baik dalam pesta perkawinan maupun dalam tahlilan. Model dakwah ini masih dipertahankan sampai sekarang. Selain itu, penyebaran agama Islam di Palu melalui jalur perdagangan,

(20)

perkawinan, pesantren dan ajaran tasawuf. Para pedagang ada yang menetap dan kemudian menikah dengan wanita pribumi yang terlebih dahulu memeluk agama Islam. Masuknya Islam di lembah Palu dapat dibuktikan lewat ceritera rakyat (mitos) peng-Islaman Raja Palu (Pue Bongo dan Puen Njidi) sebagai Magau yang memimpin masyarakat Sulawesi Tengah, khusunya di Palu. Olehnya itu, Kedatangan Dato Karama (Abdullah Raqie) dapat dipandang sebagai periode pertama dalam penyebaran dan perkembangan agama Islam di Lembah Palu.

Islamisasi di Palu berlangsung sekitar abad ke-17 Masehi (1650) yang dibawa oleh seorang Muballiq berasal dari tanah Minangkabau (Sumatera Barat) bernama Abdullah Raqie atau lebih dikenal dengan nama Dato Karama. Abdullah Raqie dan sekelompok rombongan ke Tanah Kaili tepatnya di Karampe (dalam bahasa Kaili berarti terdampar) yang terletak di muara Teluk Palu. Kelompok tersebut kurang lebih 50 orang yang dipimpin oleh Datuk Karama (Abdullah Raqie) dengan istrinya yang bernama Ince Jille, Ince Saharibanong (iparnya) serta anaknya yang bernama Ince Dingko. Mereka datang dengan alat-alat kebesarannya dari Minangkabau seperti Bendera kuning, Panji orang-orangan, Puade, Jijiri, Bulo, Gong, dan Kakula (Kulintang). Kedatangan Dato Karama atau Abdullah Raqie telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat Palu, khusunya menyangkut kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Sulawesi Tengah.

Dimana, masyarakat bersedia memeluk agama Islam yang dibawa oleh Dato Karama. Peristiwa tersebut diyakini masyarakat Kaili sebagai kejadian keramat, sehingga Abdullah Raqie digelari “Datu Karama”. Untuk mengenangnya, didirikan sebuah perguruan tinggi (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) diberi nama STAIN “Dato Karama” walaupun di tahun 2014 telah diubah menjadi IAIN Palu.

Proses penyebaran Islam di Tanah Kaili (Palu) menggunakan pendekatan kultural, yakni adaptif dan akomodatif dengan budaya dan tradisi setempat. Sehingga Islam dapat diterima oleh masyarakat Palu meskipun akhirnya mengalami proses akulturasi dengan nilai-nilai setempat. Setelah Islam dan Kaili bersenyawa menjadi satu dalam sebuah ikatan religius dan spiritual, keduanya sangat padu. Bahkan seakan-akan tidak bisa dibedakan sebenarnya yang mana budaya Kaili dan yang mana budaya Islam. Kemudian pencampuran keduanya, atau yang tadi disebut singkretisme menjadi bentuk dan ciri khas Islam di Palu.

D. KONDISI SOSIAL BUDAYA PALU PADA ABAD ke-17 Semenjak pertengahan abad 16, dimasa pemerintahan Raja Tunipalangga (1546-1565), Kerajaan Gowa berhasil memperluas hegemoninya di wilayah hingga ke kawasan Teluk Palu. Meskipun demikian, Gowa tidak menempatkan seorang pejabat kerajaan sebagai wakil Raja Gowa untuk wilayah Teluk Palu. Tradisi lisan masyarakat Teluk Palu menyebutkan bahwa penguasa-penguasa di wilayah Teluk Palu diyakini memiliki hubungan darah dengan penguasa Bugis-Makassar. Demikian juga sistem pemerintahan kerajaan di Teluk Palu mengikuti corak pemerintahan Kerajaan Bugis-Makassar.

Meningkatnya volume perdagangan di Teluk Palu pada abad ke 17 tidak dapat dipisahkan dari kemajuan Makassar masa itu. Menurut Antony Reid, sejak awal abad 17, Kota Makassar menjadi titik komersial, sebagai basis semua pihak yang sedang mencari jalan untuk menghindari usaha VOC memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Portugis yang sejak dekade awal abad ke-17, sering mengunjungi Makassar dan kota ini sebagai basis utama mereka di Asia Tenggara setelah kejatuhan Maluku di tahun 1641. Politik pintu terbuka yang dijalankan oleh penguasa Makassar mendorong wilayah ini

(21)

menjadi salah satu dari enam kota terbesar di kawasan Asia Tenggara yang sama besarnya dengan banyak ibukota negara- negara Eropa. Pedagang dari berbagai penjuru dunia hadir di Makassar, seperti Cina, Belanda, Inggris, Jerman, Denmark, Prancis, Spanyol, India, dan lainnya.20

Makassar dengan pelabuhannya menjadi lokasi ideal pertukaran barang ekspor dan impor. Mulai dari pertukaran barang di daerah pantai setempat, melalui lalu lintas perdagangan antar pulau yang sibuk seperti Kalimantan, Jawa, Maluku, Nusa Tenggara, Sumatera, dan Filipina hingga ke jalur perdagangan jarak jauh yang menghubungkan Eropa, India, dan Cina. Seiring dengan perdagangan antara Makassar dengan Manila semakin intensif pada abad 17, volume perdagangan di wilayah Teluk Palu juga semakin meningkat.

Hal ini menjadi pintu masuk kawasan Teluk Palu terhubung dengan jalur perdagangan maritim dunia. Pelabuhan di wilayah Teluk Palu seperti pelabuhan Donggala menjadi daerah transit yang cukup penting di Selat Makassar.21

Hegemoni Gowa atas wilayah Kaili di Kawasan Teluk Palu berakhir setelah adanya Perjanjian Bongaya ditandatangani oleh Sultan Hasanuddin, Sultan Gowa XVI dan Kolonel Speelman, wakil VOC pada hari Jum’at tanggal 18 November 1667. Pasal 17 Perjanjian Bungaya berbunyi: “Sultan harus melepaskan segala haknya atas pulau-pulau Sula dan pulau lainnya yang termasuk dalam kekuasaan Ternate, seperti:

Selayar, Muna dan seluruh daerah-daerah di pesisir Timur

20 Mohammad Sairin. “Dunia Maritim Teluk Palu Masa Prakolonial”

Midden Celebes Vol. I No. 1 2012 Lebih jauh tentang hal ini dapat dilihat dalam tulisan Anthony Reid. “Pluralisme dan Kemajuan Makassar Abad ke-17” dan juga tulisan Heather Sutherland “Teripang dan Perahu Wangkang; Perdagangan Makassar dengan China pada Abad ke-18 (kl.1720-an-1840-an)”, keduanya dimuat dalam Roger Tol, dkk., (ed), Kuasa dan Usaha di Masyarakat Sulawesi Selatan (Makassar: Inninawa dan KITLV, 2009), hlm. 96.

21 Ibid.

Sulawesi, yaitu mulai dari Sanana sampai Manado, pulau- pulau Banggai, Gapi dan lain-lainnya yang terletak antara Mandar dan Manado seperti Lambagi, Kaidipan, Toli-toli, Buwol, Dampelas, Balaisang, Silensak, dan Kaili.”22

Perjanjian Bongaya menyebabkan wilayah Teluk Palu oleh VOC diserahkan kepada Kesultanan Ternate. Namun, hak Kesultanan Ternate itu tidak berlangsung lama dalam struktur pemerintahan tradisional Kaili di Lembah Palu dapat dijumpai istilah-istilah jabatan pemerintahan yang mirip dengan jabatan pemerintahan di Ternate, seperti Jogugu di Kerajaan Sigi dan Kapita di Kerajaan Palu, walaupun fungsinya sedikit berbeda dengan yang ada di Ternate. Pasca penandatanganan Perjanjian Bongaya, terjadi gelombang migrasi besar-besaran orang Bugis ke wilayah Palu.

Ada banyak istilah yang digunakan untuk menyebut kawasan Lembah dan Teluk Palu pada masa lampau diantaranya: Caile, Kylie, Kajeli, Cajeli dan Palosbaai (Teluk Palu). Menurut Alb. C. Kruyt, Kaili merupakan nama sebuah kampung dekat Tawaeli, di sekitar Pantoloan. Navarette menyebutnya “Kerajaan Caile”. Padtbrugge dan menggunakan Kaili sebagai sebutan untuk seluruh wilayah Teluk Palu, sedangkan sebuah sumber VOC abad 18 mendefinisikan Kaili sebagai “penduduk yang bermukim antara Palu dan Tolitoli.”23 Mengutip kesaksian seorang serdadu VOC yang berkunjung ke wilayah sekitar Teluk Palu pada bulan September 1681, Valentijn mencatat Teluk Palu disebut juga Teluk Cajeli (baca:

Kaili). Ia juga membedakan antara daerah Cajeli dan Palu.

Dalam buku Valentijn disebutkan bahwa Daerah Kaili terdiri dari dua puluh tiga negeri, yakni: Cajeli, Lero, Laboang,

22 Daeng Patunru. Sejarah Gowa.(Cet. II) (Ujung Pandang: YKSS, 1983), hlm. 53. Tulisan Kaili digarisbawahi oleh penulis.

23 Mohammad Sairin. Opcit. Lihat Juga David Henley, Fertility, Food and Fever; Population, Economy and Environtment in North and Central Sulawesi, 1600-1930 (Leiden: KITLV Press, 2005), l 232-233.

(22)

Wanni, Baja, Roedana, Badi, Kaymolove, Rano, Taipa, Batotela, Dolo, Mambora, Bizemaroe, Walawantoe, Sidondo, Prigi, Sigi, Plolo, Tonde-Biro, Bolo-Auw, Pakkoeli, dan Lindoe.

Dari 23 negeri tersebut, lima di antaranya berada di daerah pegunungan. Sisanya berada di pesisir. Adapun wilayah Palu terdiri dari delapan negeri, yakni: Taboelanga, Tagari, Tendame, Boya, Tatanga, Bongi, Laswangi, dan Poeloe.24 Setiap negeri dipimpin seorang pemimpin yang disebutnya sebagai raja (koning). Adapun nama penguasa-penguasa di wilayah Teluk Cajeli, yakni: Toembo memimpin Cajeli, Forelo memimpin Lero, Gingi memimpin Laboang (baca: Labuan), Tengelina memimpin Wanni (baca:Wani), Tingassie memimpin Baja, Tondoe memimpin Roedana, Boejouw memimpin Taipa, Vi-u memimpin Plolo, Sappa memimpin Bizemaroe (baca: Biromaru), Soebi memimpin Walawantoe, Jami-i memimpin Sidondo, Makrelinda memimpin Kaymolove (baca: Kayumalue), Gia memimpin Prigi (baca: Parigi), Tambagge memimpin Rano, Gola memimpin Dolo, Tamaroemba memimpin Batotela (baca: Vatutela), Toewija memimpin Mambora, Samoesoe memimpin Sigi, Tolla-Nambo memimpin Tonde-Biro), Mene memimpin Bolo-Auw, Pangolovoe memimpin Lindoe, dan Roetoe memimpin Pakkoeli. Adapun penguasa-penguasa di daerah Palu yang disebutkan oleh Valentijn yakni: Tontolippe memimpin Taboelanga, Injoela memimpin Tagari, Temitoewa memimpin Tendame, Reboli memimpin Tatanga, Tiko memimpin Bongi, Iloboe memimpin Laswangi (baca Lasoani), Beba memimpin Boya, dan Parindi memimpin Poeloe.

Valentijn menjuluki Lembah Palu sebagai “Tanah Susu dan Madu”. Ia menyatakan bahwa:

24 Valentijn. 1856 [Edisi Pertama, 1724], Oud en Nieuw Oost-Indien Deel I [Editor: S. Keyzer]. (s’Gravenhage: H. C Susan, 1856), hlm. 213- 215.

Lahan di sekitar Palu, sampai ke pegunungan, menawarkan keindahan seperti di Belanda, karena permukaannya datar dan memiliki tanah lempung berwarna hitam. Lahan itu dikelilingi gunung-gunung menjulang tinggi dan ditanami ribuan pohon kelapa.

Terciptalah pemandangan yang indah, menawan, padang rumput penuh dengan sapi gemuk, kerbau, kuda, domba, kambing serta berbagai binatang liar. Di atas semuanya, lahan tersebut menghasilkan banyak sekali padi dan beras karena sawahnya dibajak dengan kerbau. Sungguh tanah yang penuh berkah….25

Saat itu, kawasan Teluk dan Lembah Palu masih terdiri dari kampung-kampung yang masing-masing dipimpin oleh seorang penguasa atau kepala suku. Pada masa itu, masih sering terjadi perang antar kampung atau suku dan juga kebiasaan mengayau.

Perang antar kampung ini pada akhirnya menyebabkan beberapa kampung melakukan persekutuan bersama untuk menghadapi musuh. Dari sinilah cikal balal munculnya kerajaan-kerajaan besar di kawasan Teluk Palu, seperti Banawa, Sigi, Palu dan Tawaeli. Tentang kondisi sosial penduduk di sekitar Teluk Palu dan Lembah Palu, dijelaskan oleh Tania Murray Li, bahwa hubungan antarkampung dibangun melalui perkawinan, mitos asal usul bersama, perdagangan, atau kerjasama sementara saat menghadapi musuh bersama. “Pusat kekuasaan politik tidak memiliki kekuatan berarti. Bahkan apa yang mereka sebut sebagai kerajaan di Lembah Palu sebenarnya tidak lebih dari sekedar kumpulan beberapa kampung yang mengangkat salah seorang dari bangsawan mereka sebagai pemimpin yang ditinggikan”.26 Pada akhirnya, persekutuan antar kampung itu membentuk Kota Patunggota di Palu.

25 Valentijn, Ibid., hlm. 214; Li, The Will To Improve: Perencanaan, Kekuasaan, dan Pembangunan di Indonesia (Tangerang: Marjin Kiri, 2012), hlm. 135.

26 Tania Murray Li, ibid., hal 119-122

(23)

Palu pada abad ketujuh belas bukanlah tempat yang sunyi. Dalam catatan Argensola disebutkan bahwa pada abad ke- 17 terdapat daerah yang memiliki kekuatan militer sebanyak 10.000 soldados, yang dimiliki raja “Pulo dan Yacua”

di Sulawesi, sangat memungkinkan bahwa yang daerah dimaksud adalah Palu dan daerah tetangganya. Sedangkan dalam dokumen VOC tahun 1674 menyebutkan bahwa Kaili memiliki kekuatan sebanyak 7.000 weerbare manen, pria dewasa yang dapat berfungsi sebagai pasukan jika terjadi perang.

Sedangkan dalam laporan Padtbrugge, (Gubernur Maluku) yang mengutip laporan seorang serdadu VOC tahun 1681, yang juga sebagaimana dikutip oleh Valentijn menyampaikan bahwa jumlah penduduk di wilayah Teluk Cajeli telah mencapai 9.000 jiwa yang terdiri dari 3.000 jiwa laki-laki dewasa, sedangkan penduduk Palu mencapai 3.000 jiwa yang terdiri dari 1.000 jiwa laki-laki dewasa. Jadi jika dijumlahkan, jumlah penduduk di Kawasan Teluk Palu (di luar wilayah Donggala) tahun 1681 mencapai 12.000 jiwa.27

E. KEDATANGAN DATU KARAMA DI LEMBAH PALU Islam telah masuk dan berkembang di kawasan Teluk Palu semenjak Abad ke-17. Pada Kerajaan Banawa, Raja (Magau) yang diyakini sebagai pemeluk agama Islam pertama adalah I Toraya, seorang raja perempuan. Raja ketiga Banawa yang berkuasa antara tahun 1650-1698 itu memeluk Islam semenjak tahun 1652. Sementara itu, Magau yang pertama kali menganut agama Islam di Tawaeli adalah Magau Daesalemba, Magau Tawaeli ketiga yang memerintah antara tahun 1605-1667.28 Ia dikenal juga dengan gelar Madika Baka Tolu, sebuah gelar yang menunjukan bahwa beliau seorang Madika yang telah

27 Henley, Op.Cit, hlm. 232-233; Valentijn, Op. Cit.

28 Mohammad Noor Lembah. “Silsilah Kita Santina” Naskah Stensilan, Tawaeli, 1985.

melakukan khitan sebagai wujud kewajiban bagi setiap laki-laki yang telah memeluk agama Islam.

Dalam cerita rakyat masyarakat Tawaeli, orang yang dipercaya sebagai penyebar agama Islam yang pertama di Tawaeli adalah Daeng Makondang yang diberi gelar Bulangisi.

Ia diberi gelar Bulangisi karena tidak mengikuti kebiasaan masyarakat Tawaeli mengunyah sirih. Ia berasal dari Sendana, Mandar dan diyakini pernah berguru pada Syekh Yusuf (1626- 1699) di Makassar. Ia kemudian menyebarkan Islam di Tawaeli dan berhasil mengIslamkan Magau Daesalemba. Selain itu, ia juga dianggap sebagai orang yang pertama kali mengajarkan huruf Al Qur’an dengan ejaan Bugis di Tanah Kaili.29

Orang yang pertama kali memperkenalkan Islam di Palu adalah Dato Karama, yang berasal dari Minangkabau. Dato Karama tiba di Palu pada tahun 1606.30 Pendapat lainnya menyebutkan Datokarama tiba di Palu pada tahun 161331 dan tahun 1650an. Namun yang pasti pada tahun 1681, telah dijumpai pemeluk Islam di wilayah Palu.32

Dalam Abad ketujuh belas Agama Islam mulai masuk di Tanah Kaili dibawa oleh Abdullah Raqie gelar Dato Karama. Berkat toleransi Beliau dengan penduduk terutama raja-raja dan para terkemuka sangatlah menarik simpati semua orang terhadap Beliau dan keluarganya.

Yang mulai memasuki Agama Islam raja Kabonena I Pue Njidi Beliau pertama rela menanggalkan cawat dan mengganti kain sarung dipakai untuk sembahyang.

Kemudian berangsur-angsur mendapat pengikut banyak, dan dibuatlah mesjid untuk mereka tempati sembahyang

29 Ibid,.

30 Eija-Maija Kotilainen, When The Bones are Left; A Study of the Material Culture of Central Sulawesi (Helsinki: The Finnish Antropological Society, 1992), hlm. 47

31 “Usia Palu Dipertanyakan” Pelopor Karya, Minggu 1/07 Juni 1995, hlm. 06.

32 Valentijn. Op.Cit

(24)

[…] Yang sangat menarik perhatian, di saat kedatangan beliau dengan ciri-ciri kesaktiannya. Perahu ditumpangi Belaiu dan rombongannya masuk di waktu malam dan menakjubkan. Dari jauh telah dibunyikan “Tabea” tanda member penghormatan dengan dentuman tembakan meriam tiga kali. Lalu disusul dengan bunyi gong tanda menang dan selamat dalam perjalanan. “Bunyi-bunyian hiburanpun di Palu berupa kulintang, yang disebut: Ni Enje Nu gamba-gamba nte goo nte kakulana” sampai perahu mendarat. Yang lebih mengagumkan lagi melihat, ketika perahu masuk dengan derasnya sampai terdampar jauh ke darat. Setidanya di darat perahu pecah dan tiba-tiba terwujud menjadi sebuah tikar besar terbentang dan layarnya menjelma menjadi perkemahan. Tempat ini dihutani pohon mangga. Karena peristiwa terdamparnya perahu Dato Karama, dinamakanlah tempat itu “Karampe”

dimana sekarang ditempati Rumah Sakit Undata Palu.

Dan pohon-pohon mangga yang ada di tempat itupun hingga kini disebut orang “Taipa Karampe” dari tempat ini, Beliau dan rombongan pindah dan memilih tempat yang agak luas di sebelah barat sungai, namanya: ‘’Ri Lalere’’

dan hingga sekarang disebut kampung Lere, Lalere adalah sejenis rumput jalar bertumbuh di pantai.

Kedatangan Beliau dengan keluarga dan rombongannya sebanyak lima puluh orang, karena perselisihan dikalangan keluarganya, sehingga meninggalkan negerinya. Beliau asal dari Minangkabau (Sumatera) hijrah ke Tanah Kaili untuk selamanya. Isteri beliau nama Ince Jille, sedangkan puteri Beliau nama Ince Dingko dan adiknya Ince Sahribanon semua ikut hijrah dengan Beliau. Ince Dongko mendapat jodoh dengan Putera Kaili dan adiknya Ince Sahribanon mendapat jodoh dengan Putera Sulawesi Selatan. Mereka masing-masing mempunyai turunan banyak. Olehnya segala alat adat kebesaran Dato Karama berupa bendera kuning, panji orang-orangan, puade, jijiri, bulo dan bunyi-bunyian semuanya dipersembahkan kepada raja;

maksudnya untuk mempererat ikatan keluarga setelah mereka kawin mawin. Alat-alat itu sampai sekarang kita lihat di pakai dalam upacara perkawinan atau kematian raja-raja. Beliau dan keluarganya wafat dan dimakamkan di kampung Lere, sehingga tempat itu disebut “Dayo Dato Karama”.33

Sementara itu, dalam cerita rakyat Kaili yang dimuat dalam karya Albert Christian Kruyt dan Nicholas Adriani,

“De Baree Sprekende” yang diterbitkan pada tahun 1912, disampaikan bahwa kedatangan Datu Karama di Palu terjadi pada masa pemerintahan Pue Nggari Raja di Kerajaan Besusu.

Berikut terjemahan cerita rakyat tersebut:

Cerita tentang pengaruh Islam di Palu dan Parigi diceritakan dengan cara ini: semua tanah bugis dan makasar diIslamkan oleh orang Melayu, yang datang dari Minangkabo yang dikenal dengan nama Datoe Karama.

Ketika tanah yang disebut tadi di-Islamkan. Datuk Karama datang ke Buol, dimana juga orang-orang menerima Islam.

Pada waktu itu kampung Palu belum terletak di pantai, tetapi di daerah pedalaman dan penduduk aslinya masih orang Toraja. Ketika itu terjadi, bahwa pengolah garam ke pantai, ketika mereka sibuk mencari ikan, sesuatu melihat kedatangan orang asing, terbawa ombak. Ketika datang ke pantai menjadi jelas itu adalah seorang laki-laki dan satu orang anak yang diatas tempat salat (sejadah) di laut.

Pengambil garam menceritakan hal tersebut pada kepala kampung Paloe, yang disebut Pue Nggari, yang dengan segera pergi berkuda ke pantai. Sementara itu, sang pendatang baru, tiada lain adalah Datu Karama, dengan anaknya bahwa ia setuju (siuman), bahwa ketika disana orang-orang datang anak kecil berkata: “ datoe haruskan

33 Muhammad Djaruddin Abdullah, Mengenal Tanah Kaili (Palu:

Badan Pengembangan Pariwisata Dati I Sulawesi Tengah, 1975), hlm 20- 21.

(25)

aku memasakan kofi untukmu”, dari itu semua orang tahu bahwa ia adalah seorang Datoe. Begitu terpisah itu juga, namun disamping itu tidak mengerti Poee Nggari pada ucapan Datoe Karama, karena itu bahasa Melayu. Namun Datoe Karama seketika mengerti Pue Nggari, karena ia mobaraka (memiliki kekuatan ajaib). Orang-orang berkata kemudian satu sama lain melalui tanda tertentu dan Poee Nggari sangat terkejut atas sembahyang (sebuah kewajiban dari praktik keagamaan, lima kali sehari) Datu Karama. Banyak dia mengerti, bahwa Datu Karama adalah orang luar biasa, maka ia tidak ingin ia mati. Pue Nggari memberikan makanan pada Datu Karama, namun ini membuatnya jelas bahwa dia tidak memakan beras dan hanya minum kopi. Ketua ingin membawa pulang orang suci ini ke kampung, namun ini diceritakanya, bahwa dia tidak ingin pergi jauh karena disana itu bau kotoran babi.

Maka Pue Nggari mendirikan gubuk untuk Datoe Karama di Pantai. Juga diberikan pada orang suci itu seorang perempuan, namun ia menolak, berkata bahwa dia tidak memiliki penis dan navel. Ia memulai (menyatakan) bahwa ketua sejak saat itu yakin dan sekarang yakin akan hal tersebut bahwa Datoe Karama adalah mubaraka.

Kepala Palu pergi ke pantai setiap mengunjugi orang suci dan setiap satu sama lain dapat saling memahami, Datu Karama berkata bahwa sembahyang dapat menghilangkan sakit dan nasi melakukan kesuksesan dan bahwa laki-laki harus disunat. Namun Pue Nggari menginginkan dari sini tidak satupun yang tau. Ketika hal tersebut terjadi pada waktu tertentu, bahwa disana penyakit akibat babi terjadi yang membuat semua hewan ini mati. Sang ketua mengeluh pada sang suci, namun ia menjawab bahwa setiap hal itu adalah takdir dari tuhan (Ala ta’ala).

Pada waktu pertama kali Datu Karama tinggal di Palu, istri dari Pue Nggari sedang mengandung dan ketika ia melahirkan, suaminya mengirim orang dengan segera ke Datoe Karama untuk bertanya harus di beri nama

apa anak tersebut. Sang suci tengah dalam keadaan solat ketika utusan datang. Ketika ia selesai berdoa, ia kemudian berkata pada mereka: “sapa orang”. Utusan itu menganggap bahwa itu adalah nama bagi anak yang lahir itu, dan kembali pulang; namun ditengah jalan ia lupa orang Melayu dan mengusulkan sebelumnya di tempat Paloe taoe, sehingga ia memberitahukan pada sang kepala suku bahwa anak itu harus dinamai Sapataoe, kemudian menjadi La Pataoe, satu yang bagi orang Kaili masih menjadi nama yang umum dari anak kepala suku.

Foto Kuburan Datu Karama

Sumber: Koleksi Penulis

Atas Islam orang-orang Paloe ingin diantaranya tidak ada satupun yang mendengar. Ketika hal itu terjadi, bahwa La Patau sakit berat dan akhirnya perwakilan anak Pue Nggari pesan kepada Datu Karama, mengatakan: ketika ia anak

Referensi

Dokumen terkait

orang pertama yang menerima Islam adalah mangkubumi Kerajaan Gowa yang juga menjabat sebagai Raja Tallo, bernama I Malingkang Daeng Manyonri (Sultan Abdullah

Sehingga Islam menjadi agama yang logis, kalau benar demikianlah pengertian apa yang bernama Matematika, tentu saja secara tidak ragu-ragu dapat dikatakan bahwa Matematika juga

10 Dayah Raudhatul Ilmi yang penulis maksudkan di sini adalah sebuah Pendidikan Islam yang dibangun oleh ulama-ulama untuk menyebarluaskan ajaran agama Islam yang

Meski mengenalkan diri sebagai agama sehingga menyiratkan kesan ritual secara dominan, Islam sesungguhnya merupakan konsep ajaran yang utuh dan menyeluruh. Islam tidak meletakkan

Masuknya pemikiran pembaharuan baik yang dibawa oleh ulama yang bermukim di Timur Tengah khususnya yang belajar di Mekah dan Medinah,maupun melalui media cetak berbahasa

Sedangkan Amin Abdullah, menyoroti kelemahan pendidikan Islam sebagai sebuah pembelajaran disebabkan oleh: (1) Pendidikan Agama (Islam) lebih banyak terkonsentrasi pada

Tesis dengan judul ‚ Peranan Pengawas dalam Meningkatkan Kualitas Guru Pendidikan Agama Islam pada SMP di Kabupaten Buol Propinsi Sulawesi Tengah ‛ yang disusun oleh

Pendidikan Islam telah hadir bersama dengan lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Nabi SAW, pendidikan Islam tidak lain adalah bertujuan untuk membentuk pribadi- pribadi Muslim