• Tidak ada hasil yang ditemukan

Murid-Murid Guru Tua di Sigi

Dalam dokumen ISLAM SIGI (Halaman 113-124)

Tulisan ini akan menguraikan profil murid-murid Sayyed Idrus Bin Salim Aljufri yang mengembangkan Agama Islam di wilayah Kabupaten Sigi. Adapun beberapa profil singkat ulama Islam murid Guru Tua antara lain: KH. Dg. Maria Pilarante Djaelangkara, KH. Sayed Bin Awad Abdun, KH. Suaib Bandera, dan KH. Syakir Hubaib.

KH. Dg. Maria P. Djaelangkara yang biasa dipanggil Pua Kali lahir pada tanggal 7 Juli 1916. KH. Dg. Maria P.

Djaelangkara adalah anak dari pasangan Pilarante sebagai ayahnya dan lahir dari Ibu yang bernama Ya Nisa sebagai orang Biromaru. Jadi beliau adalah seorang bangsawan dari Kerajaan Tavaeli. KH. Dg. Maria P. Djaelangkara bersaudara lima orang masing-masing Padainta, Intje Sana, Jalanti Djaelangkara, Aciara, dan beliau sendiri sebagai anak bungsu. HK. Dg. Maria P. Djaelangkara lahir di Bromaru pada tanggal dan meninggal dunia juga di Biromaru pada tanggal 2 Pebruari 1987.19 Isteri dari KH. Dg. Maria P. Djaelangkara bernama Abeinta Yojokodi yang menurunkan keturunan masing-masing Ramlah, Ahmad Rafin, Talhah, Muh. Jabir, Zulkifli, Hapipah, Zikra Hayati, dan dua orang yang meninggal.

Pada umur 12 tahun, beliau berguru sama Sayyid Idrus Bin Salim Aljufri di Alkhairat Palu.

Sejak ini beliau sebagai seorang bangsawan hidup dalam naungan atau perguruan Islam atas binaan Guru Tua di Palu Sulawesi Tengah. Setelah tamat di Alkhairat beliau menjadi guru agama di Alkhairat Tavaeli, kemudian pindah ke Sigi-Dolo di Bora dan merintis pembangunan Masjid Korem

711 di Palu. Beliau membina beberapa masjid terutama Masjid di Loru, Porovo, Paneki, Pombeve, Karaupe Pombeve, Wombo Kalobo. Beliau bertugas di Bora menjadi Wakil Camat di Sigi.

KH. Dg. Maria P. Djaelangkara biasa juga dipanggil Pua Kali. Pertama kali bertugas sebagai kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di Tavaeli. Pua Kali inilah yang menjadi panggilan akrab oleh masyarakat di Wilayah Sigi. Murid-murid

19 Wawancara dengan Talha Djaelangkara, Pensiunan kakanwil BPN Provinsi Sulawesi Tengah, pada tanggal

KH. Dg. Maria P. Djaelangkara

Sumber: Koleksi Penulis

Pua kali antara lain Ustadz Asli di Lasoani dan Sujudi Basri di Lolu, Ustadz Arfan Latopada, termasuk juga H. Candi di Petobo Biromaru.

Pada masa Jepang di Sulawesi Tengah, KH. Dg. Maria P. Djaelangkara menjadi tenaga pengajar Islam di Tojo, Sulawesi Tengah. Selain itu beliau juga menjadi matri kapas di Sirenja. Selain itu, beliau juga mengajar Agama Islam di Ampana untuk kemudian pindah ke Bora dan Palolo juga untuk mengembangkan ajaran Agama Islam atau melakukan dakwah Islamiyah.

KH. Sayed bin Awad Abdun lahir di Pelawa Parigi pada tahun 1924 dari keluarga taat pada Agama Islam.

Kakeknya dari Hardamaut bernama Ahmad Abdun.

Ayahnya bernama Awad bin Ahmad Abdun dari Hadramaut dan ibunya bernama Rahma binti Syekh Abdun. Beliau dinikahkan dengan keluarganya juga yang berasal dari trah Hadramaut. Perkawinan ini melahirkan lima orang anak, masing-masing bernama Zaenab, Maryam, Mahfud, Gamar, dan Rahili.

Selain isteri dari kerabatnya sendiri yang bernama Rahma, KH. Sayyed Awad Abdun juga menikah kembali dengan tiga orang isteri masing-masing Hamida, Hatija Binti Masi Tomampe, dan Hj. Dahlia binti Pua Andi Nuhung dari Mamuju.

Perkawinan KH. Awad Abdun dengan Dahlia mendapatkan delapan orang anak masing-masing Warda Sayyed Abdun, Zahra, Muh. Said, Masad, Laila, Abdillah, Hikmah, dan Muh.

Munir.

Awad Abdun

Sumber: Koleksi Penulis

KH. Sayed bin Awad Abdun semasa kecil menjadi santri setia bersama Guru Tua atau Sayed Bin Salim Al Jufri. Beliau menamatkan mualimmin di Al khairat selama lima tahun dan tamat pada tanggal 1 Januari 1950. Ijazahnya langsung ditanda tangani oleh Z.A. Betalemba Kepala Sekolah Alchairat Pusat Palu. Ijazah ini menjadi dasar atau legitimasi menjadi pengajar di sekolah-sekolah Islamiyah bahagian rendah di seluruh sekolah binaan Alkhairat. Pertama kali mengajar Agama Islam di Banggai karena dipanggil oleh Syukuran Amir (Raja Banggai waktu itu) pada tahun 1937. Kemudian, KH. Sayed bin Awad Abdun mengabdi untuk membuka perguruan di Alkhairat Kulawi. Murid-murid KH. Sayed bin Awad Abdun di Kulawi antara lain: Zainuddin Abdul Rauf, Abd. Majid Dg.

Minggu, Saso Dg. Mapuji (alm), Halib Kanari (KUA Kulawi), dan Ustadz Maemuna Tikku di Kulawi.

KH. Sayed bin Awad Abdun meninggal pada tanggal 1 Juli 2006 dengan iringan air mata dari masyarakat dan keluarga yang ditinggalkannya. Terutama keluarga yang ditinggalakan, Sayed Bin Awad Abdun meninggalkan banyak cerita tentang perjuangan mengajarkan Agama Islam kepada keluarga besarnya mulai dari Parigi Sulawesi Tengah hingga ke Kulawi.

KH. Suaib Bandera lahir di Moahino pada tanggal 16 April 1942. Dia lahir dari ayahandanya yang bernama Bandera bin La Unso bin Labengki. KH. Suab Bandera menikah dengan Hj. Zainab Latopada. Isteri KH. Suaib Bandera yang bernama Zainab merupakan seorang perempuan dari keluarga ternama di Lembah Palu Sulawesi Tengah.

KH. Suaib Bandera

Sumber: Koleksi Penulis

Pada tahun 1959 menuju Palu untuk menjadi murid Guru Tua di Muallimin Alkhairat Palu. Beliau tinggal di Kampung Baru Palu hingga tahun 1962. Setamat dari Alkhairat mengajar di Ibtidaiyah di Dolo dan Kota Rindau tahun 1963 hingga tahun 1965. Pada tahun 1975 hingga tahun 1977 mengajar di Madrasah Tsanawiah di Kaluku Bula Sigi, Sulawesi Tengah.

Pada tahun 1981 hingga tahun 1988 mengajar di Alkhairat Pusat Palu.

Kemudian pada tahun 1989, mendirikan sebuah Panti Asuhan Darul Aitam Alkhairat di Dolo. Panti asuhan ini diresmikan oleh isteri Gubernur Azis Lamajido. Panti asuhan ini pada awalnya membina membina santri laki-laki sebanyak 11 orang, dan satriwati sebanyak 12 orang. Pimpinan Panti asuhan oleh H. Suaib Bandera dengan sekretaris Ahmad Dg.

Pataba, stafnya bernama Abdul Malik, dengan bendahara Hj.

Hasia Latopada.

KH. Suab Bandera menjadi orang yang merintis pembangunan pesantren Madinatul Ilmi Dolo dan beliau mengurus tanahknya. Murid-murid KH. Suaib Bandera adalah Mama Reno, Haji Hompiu, Faisal Mahmud, Abdullah Latopada, H. Hasan, Sagaf, Ramli Noor, dan Alam Nasser.

Beliau melakukan dakwah di seluruh Kawasan Morowali termasuk di Pulau-Pulau dan untuk melakukan dakwah Islam menggunakan Kapal Haji Sun.

Beliau meninggal di Ensa pada tanggal 21 September 2001. Pada saat beliau wafat ditahlilkan di tiga tempat yakni di Solonsa, Wosu, dan Emea Kabupaten Morowali. KH. Suaib Bandera merupakan salah seorang ulama yang menjadi murid Guru Tua atau Sayyed Idrus bin Salim Al Jufri.

KH. Syakir Hubaib lahir di Kauluku Bula pada tanggal 2 Juli 1942. Syakir Hubaib memiliki sebelas orang saudara, yakni:

Ali, Jaruni, Abd. Rahman, Moh. Amin, Ahmad, Muhammad, Sabrin, Zubairia, Rugaia, dan Zulvia. Isteri Syakir Hubaib

bernama Maryam. Maryan lahir pada tanggal 10 April 1952 di Kalukubula Sulawesi Tengah. Hasil perkawinan antara Syakir Hibaib dengan Marya melahirkan enam orang anak, yakni:

Sagaf, Saida, Idrus, Farhan, Dewi, dan Shiva.

Syakir Hubaib merupakan salah satu murid dari Sayid Idrus Bin Salim Aljufri atau yang biasa dipanggil Guru Tua.

Beliau memilih untuk berguru pada perguruan Alkhairat palu Sulawesi Tengah. Beliau terlatih menjadi santri Guru Tua belajar mengaji, ajaran-ajaran Islam yang dikembangkan oleh Guru Tua. Syakir Hubaib rajin mengikuti jadwal pelajaran yang diajarkan oleh Guru tua di Alkhairat Palu sehingga beliau menjadi santri yang tekun dan pada akhirnya disayangi oleh Guru Tua menjadi murid yang taat dan patuh.

Pada tahun 1988, dari Kalukubula berhijrah ke Pewunu untuk mengembangkan Agama Islam di sana. Beliau ke Pewunu Kecamatan Dolo Barat untuk mendirikan taman pengajian untuk anak-anak di desa tersebut. Lanjutan perjuangan beliau dalam mengembangkan Agama Islam di Pewunu dengan membangun Madrasah Tsanawiah (MTS) dan untuk kemudian membangun lembaga pendidikan nonformal yang bernama Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) di tempat baru tersebut. Satu tekad beliau setelah tamat di Alkhairat dengan menciptakan generasi muda yang pintas dan beragama antara lain menciptakan generasi muda yang berilmu tinggi, pintar dan beragama. Pada akhirnya beliau juga mendirikan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang pada akhirnya terkenal dengan sebutan Aliyah Kabelota Alkhairat.

Selain membangun sekolah seperti yang dijelaskan sebelum ini, beliau juga membangun masjid untuk keentingan Agama Islam di wilayah Kabupaten Sigi. Pada tanggal 28 November 1997, beliau mendirikan masjid dan diresmikan oleh Bupati daerah tingkat Dua Kabupaten Donggala yang bernama Drs. Hi. Sahabuddin labadjo. Masjid yang dibangun di dekat

pesantren tersebut bernama Masjid Arrahman Kabelo. Masjid Arrahman Kabelo menjadi tempat beribadah bagi anak-anak santri serta keluarga KH. Syakir Hubaib dan keluarga juga digunakan oleh penduduk Desa Pewunu di masjid tersebut.

Pada tanggal 24 Desember 2012, KH. Syakir Hubaib telah meninggal dunia.

B

uku karya Azyumardi Azra telah banyak menjelaskan tentang hubungan Ulama-Ulama Timur Tengah dengan Ulama-ulama Nusantara yang telah mengenalkan dan mengembangkan Agama Islam di seluruh pelosok Nusantara termasuk di Sulawesi Tengah. Salah satu Ulama di Sulawesi Tengah yang diperkenalkan dalam Buku tersebut adalah seorang Sayyed Idrus Bin Salim Aljufri yang mendirikan perguruan Islam Alkhairat di Palu Sulawesi Tengah. Namun, ternyata ulama-ulama Islam yang mengembangkan Agama Islam di wilayah Palu Sulawesi Tengah bukan hanya Sayyed Idrus Bin Salim AlJufri saja tetapi sungguh bervariasi sebagai bagian dari perkembangan ulama-ulama Islam nusantara.

Buku ini membuktikan ada beberapa tokoh ulama Agama Islam di Lembah Palu Sulawesi Tengah.

KESIMPULAN

ISLAM NUSANTARA

DI SIGI SULAWESI TENGAH

Buku ini telah menguraikan ulama Islam lokal di Kabupaten Sigi (ulama nusantara) yang mengenalkan dan mengembangkan Agama Islam di Lembah Palu dan Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Uraian buku ini berinti kepada tiga hal, yakni: Ketokohan Abdullah Raqiy dari Minangkabau, La Iboerahima Wartabone dari Gorontalo, La Satande Dunia dari Tatanga Palu, Yojofuri dari Besusu Palu, Lasadindi dari Enu, Sayyed Idrus Bin Salim Al Jufri dari Hadramaut, dan Sayyed Baharullah Al Aidid dari Cikoang Makassar. Ulama ini tidak datang bersamaan namun mengalami masa yang berbeda-beda dan memperkenalkan dan mengembangkan Agama Islam dalam tiga tahapan yakni tahap Islam mitologis, tahap Islam ideologis, dan tahap Islam Ilmupengetahuan.

Tahap Islamisasi awal atau periode mitologis dipelopori oleh Abdullah Raqiy dari Minangkabau Sumatera Barat. Periode kedatangan dan kehidupan mereka bertiga disertai dengan cerita-cerita mitologis. Abdullah Raqiy atau biasa dipanggil masyarakat Palu dengan sebutan Datu Karama memperkenalkan Agama Islam kepada seorang tokoh masyarakat Palu yang bernama Pue Njidi dengan sebuah pertandingan menanam cabe dalam satu malam sudah berbuah. Abdullah Raqiy atau Datu Karama berasal dari daerah Minangkabau yang datang ke Palu untuk mengislamkan masyarakat Palu terutama di Besusu Palu Sulawesi Tengah. Kuburan Abdullah Raqiy sekarang ini berada di Kampung Lere Palu Sulawesi Tengah. Tokoh ini lahir di Sepuluh Koto Padang Sumatera Barat. Pada paruh awal sekitar awal abad ke-17 berangkat dari Minangkabau dan tiba di Palu pada tahun 1606. Beliau bersama rombongannya dari Johor menuju Pulau Salemo di Sulawesi Selatan melalui jalur tengah yang selalu digunakan oleh pelayar-pelayar Bugis dan Bajo. Perantau Abdullah Raqiy dan rombongannya diterima oleh Raja Besusu yang bernama Pue Nggari di sebuah pantai Lembah Palu yang sekarang ini disebut Pantai Karampe.

Abdullah Raqiy mengenalkan Agama Islam kepada tiga orang tokoh masyarakat Kaili di Lembah Palu yang bernama Pue Nggari, Pue Njidi, dan Pue Bongo. Keluarga Ulama yang datang dari Minangkabau ini kemudian kawin mawin dengan masyarakat setempat sehingga melahirkan keluarga campuran Minangkabau dan Kaili yang biasa di Kaili disebut “paranaka.”

Salah seorang anak buah datu Karama yakni Ma’ruf menuju Bora untuk mengislamkan Pue Bongo yang ditandai dengan

“Sumur Silamu.”

Ulama-Ulama Islam periode Ideologi dikembangkan oleh enam orang ulama, yakni: La Iboerahima Wartabone dari Gorontalo, La Satande Dunia dari Tatanga Palu, Lasadindi dari Enu. Mangge Rante atau Pue Lasadindi berasal dari Enu Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah. Kuburan terakhir Pue Lasadindi berada di Randomayang Sulawesi Barat. Ulama ini adalah putra Kaili asli yang lahir di Enu Wilayah Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah. Beliau lahir dari Keluarga Bangsawan Kaili di Enu, ayahnya bernama Rampatana dan ibunya bernama Daelino. Tokoh ini hidup antara tahun 1828-1953, mulai dari kelahirannya hingga kematiannya dipenuhi oleh cerita mitos yang hampir-hampir membuat tokoh ini bukan manusia biasa. Namun, Tokoh ini sebagai manusia biasa yang memiliki keluarga, memiliki murid dan aktif dalam organisasi Syarekat Islam Sulawesi Tengah.

Menurut keterangan buku “Sinduae Tana Pamula” dikatakan bahwa Pue Lasadindi menikah dengan sebelas orang perempuan di Kampung Enu, Wani, Besusu, Pantoloan, Sidole, Ambesia, Alindau, Toaya, Kalora, dan Kampung Vayanga.

Kegiatan Pue Lasadindi adalah berdakwah dan secara resmi bergabung kedalam Sarekat Islam (SI) pimpinan HOS. Cokroaminoto pada tahun 1917. Beliau melakukan dakwah Islam di daerah-daerah terpencil dimana terdapat suku-suku terpencil. Beliau membuat cara berdakwah yang

mudah dipahami oleh pemeluk agama Islam di Sindue yakni menciptakan Pangaji Tonji. “Pangaji Tonji ini berbentuk ‘buku’

atau lontara yang berisi ajaran-ajaran Pue Lasadindi. Pue Lasadindi selalu bilang, tanah itu penting sekali. Penting bagi kehidupan manusia karena sebelum nenek moyang kita ada, tanah itu sudah ada, dan dari tanah itu pula nenek moyang kita berasal. “Kalu mamate kita, hau ri tana kita sei”

ini ajarannya, Ajaran ini yang selalu dihubungkan konsep

“tana sanggamu” (tanah segenggam). Ajaran Tana Sanggamu yang dikembangkan oleh Pue Lasadindi terdiri atas: tanah sanggamu, tanah sanggaku dan tanah sangga kamu. Masyarakat Kaili berdasarkan ajaran Lasatande Dunia dan Pue Lasadindi, mempercayai bahwa asal muasal kejadian manusia dari segenggam tanah. Ajaran tanah sanggamu berarti seperti tangan yang menggenggam ibu jari, kalau tana sanggaku berarti genggaman dengan jari di luar, sementara tana sangga kamu berarti bahwa menggenggam sesuatu. Ibu jari dalam bahasa Kaili disebut sebagai Kotumpu. Kotumpu inilah yang menjadi pusat ajaran yang dikembangkan oleh Lasatande Dunia dan Pue Lasadindi sebagai seorang ulama Islam di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Lasatande Dunia mengajarkan sanggamu disimbolkan dalam bentuk kepalan tangan dengan posisi ibu jari dalam genggaman. Artinya, manusia di waktu masih janin di perut ibu, sudah diberikan ketentuan atau takdir. Ada empat hal yang ditetapkan oleh Allah kepada jabang bayi yang sudah ditiupkan roh yaitu rezki, amal perbuatan, ajal dan takdir baik atau buruk.

Akhirnya ulama-ulama Islam pada masa Islam ilmupengetahuan yang terakhir adalah dikembangkan oleh empat orang Ulama yakni: Sayyed Idrus Bin Salim Al Jufri dari Hadramaut. Periode Islam Ilmupengetahuan diwakili Sayyed Idrus Bin Salim Aljufri. Ulama periode ini diwakili oleh Sayyed Idrus Bin Salim Al Jufri. Secara ringkas Sayyed Idrus Bin

Salim Aljufri berasal dari Hadramaut. Tokoh Islam ini lahir dari Salim Bin Alawy seorang mukti Hadramaut dan dari ibu yang bernama Nur. Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie datang ke Palu pada tahun 1929, kemudian pada tahun 1930-an di Kota Palu membangun perguruan Islan yang bernama Alkhairat.

Dua puluh tahun kemudian, perguruan ini berkembang luas di sekitar Kota Palu hingga ke daerah Sangir Talaud di pulau-pulau kecil Utara Pulau Sulawesi. Persebaran itu ke Tinombo, Ampana, Batui Luwuk Banggai, Kepulauan Togean, Banggai Kepulauan, dan Bungku hingga Tanjung Selor Kalimantan Timur juga di Kota Poso. Pada tahun 1960-an seorang murid Guru Tua yang terkenal adalah Zainal Abidin Betalemba sebagai tokoh lokal pendiri Perguruan Tinggi Alkhairat dan juga pendiri Provinsi Sulawesi Tengah. Demikian ulama-ulama kenamaan asal Sigi KH. Dg. Maria Djaelangkara atau Pua Kali, KH. Syakir Hubaib, KH. Awad Abdun.

Agama Islam masuk dan berkembang di Lembah Palu dan Sigi Sulawesi Tengah dipelopori oleh beberapa ulama sejak tahun 1606 hingga tahun 1950-an. Diantara tokoh Ulama Islam tersebut di Lembah Palu dan Sigi ada tiga orang yang dapat mewakili tiga zaman tersebut, yakni Islam mitologis (1650-1800) diwakili oleh Abdullah Raqiy dari Minangkabau yang mengislamkan Raja Pue Nggari dan Pue Njidi di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Periode Islam Ideologis (1800-1930) diwakili oleh Pue Lasadindi dari Enu Sulawesi Tengah, seterusnya ulama yang mewakili Islam Ilmupengetahuan (1930-1950-an) adalah Sayyed Idrus Bin Salim Al Jufri dari Hadramaut.

Abdullah Raqiy yang biasa juga dipanggil dengan sebutan Datu Karama di Palu Sulawesi Tengah telah mengenalkan Agama Islam kepada Raja Palu dan menanamkan nilai-nilai keesaan Allah SWT. kepada masyarakat Palu Sulawesi Tengah.

Agama islam ideologi diletakkan dasarnya oleh La Iboerahima Wartabone di Bone Tatura Palu, lalu dikembangkan oleh Pua

Lasatande Dunia di Kerajaan Tatanga Palu, untuk kemudian dikembangkan lagi oleh Pue Lasadindi atau biasa dipanggil Mangge Rante telah memperjuangkan nilai-nilai Islam dengan melakukan perlawanan kepada Kolonial Belanda terutama melalui perjuangan Syarekat Islam (SI) yang diperkenalkan oleh HOS. Cokroaminoto yang datang ke Palu pada tahun 1917. Sementara itu, Sayyed Idrus Bin Salim Al Jufri mengembangkan Agama Islam dengan mendirikan perguruan Alkhairat di Palu Sulawesi Tengah pada tahun 1931, kemudian menyusul Hamka mendirikan sekolah Muhammadiyah di tahun 1932 di Donggala Sulawesi Tengah.

“Telik Sandi Jadi Petinggi Partai”, Tempo Edisi Khusus Agus Salim, 18 Agustus 2013.

“Usia Palu Dipertanyakan” Pelopor Karya, Minggu 1/07 Juni 1995.

Abu Muhammad Salul Ibn Abdillah al-Tusturi, Tafsir Al-Qur’an al-Azim, Kairo: Dar Kutub Arabiyyah al-Kubra, t.th.

Ahmad Adaby Darban, “Ulama Jawa Dalam Perspektif Sejarah”, Humaniora Volume 16, No. 1, Pebruari 2014.

Ahmad M. Sewang, Islamisasi Kerajaan Gowa:

Abad XVI Sampai Abad XVII.

Al-Ragib al-Ashfahani, Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1971.

Albert Christiaan Kruyt, De Bare’e Sprekende van Midden Celebes.

Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, Menyngkap Rentang Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian, Jakarta: Rajawali Pers, 2006.

DAFTAR PUSTAKA

Andi Bedduara, Al-Hikmah Wasiat Sepanjang Zaman, Watampone, Ibadur Rahman, 2009.

Azyumardi Azra, Islam Nusantara Jaringan Global dan Lokal, Bandung: Mizan, 2002.

Bambang Purwanto, “Belajar Dari Afrika: Tradisi Lisan Sebagai Sejarah Dan Upaya Membangun Historiografi Bagi Mereka yang Terabaikan”, dalam Jan Vansina, Tradisi Lisan Sebagai Sejarah, Yogyakarta: Ombak, 2013.

Daeng Patunru. Sejarah Gowa.(Cet. II), Ujung Pandang: YKSS, 1983.

Dahlia Syuaib dan Amining Bannu, Adat Balia Di Tanah Kaili Kabupaten Donggala (Suatu Tinjauan Sosial Religius), Laporan Penelitian: Balai Penelitian Unversitas Tadulako Palu, 1994.

David Henley, Fertility, Food and Fever; Population, Economy and Environtment in North and Central Sulawesi, 1600-1930, Leiden: KITLV Press, 2005.

Dihimpun dari berbagai sumber di Tibo, Enu, Toaya, Donggala dan Lembah Sada, 25 Maret – 5 April 2015.

Dokumen Drs. Ali Husain Raja Singi. Haji Ahmad Lagong dan Daliyama Dalam Silsilah Keluarga,. Tidak diterbitkan.

Drs. Ali Husain Raja Singi. Haji Ahmad Lagong dan Daliyama Dalam Silsilah Keluarga,. Tidak diterbitkan.

Eija-Maija Kotilainen, When The Bones are Left; A Study of the Material Culture of Central Sulawesi, Helsinki: The Finnish Antropological Society, 1992.

Gerry van Klinken, “Saya Yang Berjuang” dalam H. S.

Nordloth, Bambang Purwanto, dan Ratna Saptari, Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Jakarta:

YOI dan KITLV-Jakarta, 2013.

H.A. Massiara Daeng Rapi, Menyingkap Tabir Sejaran dan Budaya di Sulawesi Selatan, Jakarta: Yayasan Bhinneka Tunggal Ika, 1988.

Hadis riwayat al-lmam al-Bukhari dan al-lmam Muslim (Al-Imam al-Bukhari meriwayatkannya dalam (

nombor 3036, dan dalam ( ) dan dalam ( ). Al-Imam Muslim meriwayatkannya di awal kitab ( )

bab ( nombor 2643.)

Haliadi, “Sejarah Teluk Momini,” disampaikan pada seminar Sehari di Bappeda Kabupaten Parigi Moutong tahun 2014.

Haliadi, Dr. Rahilah Binti Omar, dan Dr. Leo Agustino, ABDULLAH RAQIY DAN ANWAR DATUK MADJO BASAH NAN KUNING: Elit Melayu Penganjur Awal Islam dan Kepimpinan di Sulawesi Tengah, Indonesia, disampaikan pada seminar antarabangsa di Universitas Brunei Darussalam Negara Brunei Darussalam pada tanggal 29-31 Maret 2013.

Haliadi, Sejarah Islam di Sulawesi Tengah, Makalah yang disampaikan pada seminar HMI tahun 2005 di Palu.

Harto Juwono dan Yosephine Hutagalung, Limo Lo Pohalaa Sejarah Kerajaan Gorontalo (H. Alex Sato Bya:

Penerjemah), Yogyakarta: Ombak, 2005).

Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1986.

Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta, 1992.

Heather Sutherland “Teripang dan Perahu Wangkang;

Perdagangan Makassar dengan China pada Abad ke-18 (kl.1720-an-ke-1840-an)”

Hj. Huzaimah T. Yanggo, et. All.. Sayyid Idrus Bin Salim Al Jufri Pendiri Alkhairat dan Kontribusinya Dalam Pembinaan Umat, (Ed: H. Abdul Wahab Abd. Muhaimin), Palu dan Jakarta: Yayasan Alkhairat dan Gaung Persada (GP) Press: 2013.

http://kisahmuslim.com/sejarah-islam-aurangzeb-alamgir-raja-kerajaan-islam-mughal-di-india/, 2 Desember 2015.

Ismail ibn Muhammad al-Ajlany, Kashf al-Khifa, Jilid I, Beirut:

Dar al-Kutub, 1988.

J. Bastiaans, “Relatie Tusschen Gorontaloen Limboto,”

Tijdschrift van Batavia Genootschap (TBG), jilid LXXVVIII, 1938, hlm 323.an Tomini of Gorontalo en Aangrezende Landen,” TNAG, jilid IV, 1880.

Jamrin Abubakar, Mengenal Khazanah Budaya dan Masyarakat Lembah Palu, Palu: t.p., 1999.

Joost Coté, “Missionary Albert Kruyt And Colonial Modernity In The Dutch East Indies”, Itinerario, Itinerario volume XXXIV, issue 3, 2010.

Juraid Abdul Latif, Pemberontakan Petani Tolitoli 1919, Yogyakarta: Tesis S2 Sejarah UGM, 1996.

JUS. Nadjamuddin, Disekitar Kerajaan Suwawa Serta Terjadinya Pohalaa, Surabaya, 1975.

Kholid O. Santosa, “HOS Tjokroaminoto Raja Jawa Yang Tak Bermahkota” dalam HOS Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme, Bandung: Sega Arsy, 2010.

Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah Edisi Kedua, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005.

L. van Vuuren, “de Prauwvaart van Celebes,” Koloniale Studien, jilid 1, 1917.

Lukman Nadjamuddin, Dari Animisme Ke Monoteisme:

Kristenisasi di Poso 1892-1942, Yogyakarta: YOI, 2002.

LWC. Van Den Berg, Orang Arab di Nusantara, Jakarta:

Komunitas bamboo, 2010.

M. J. Abdullah, Sejarah Tanah Kaili, Palu: Stensilan: 1975.

Mark Brocher, Jaques Lacan, Diskursus, dan Perubahan Sosial, Yogyakarta: Galang Press, 2009.

Mircea Aliade dkk., , Metodologi Studi Agama (Editor: Ahmad Norma Permana) (Pengantar: Amin Abdullah), Bandung: Pustaka Pelajar, 2000.

Mohammad Ali, Datuk Karama dan Islamisasi Masyarakat Kaili di Lembah Palu, Cirebon: Perwira, 2014.

Mohammad Noor Lembah. “Silsilah Kita Santina” Naskah Stensilan, Tawaeli, 1985.

Mohammad Sairin, “Gerakan Sarekat Islam di Tanah Kaili”, Opini Radar Sulteng, 20 Mei 2011.

Mohammad Sairin. “Dunia Maritim Teluk Palu Masa Prakolonial” Midden Celebes Vol. I No. 1 2012 Lebih jauh tentang hal ini dapat dilihat dalam tulisan Anthony Reid. “Pluralisme dan Kemajuan Makassar Abad ke-17”

Muchtar Adam, Samudra Cahaya, Mengungkap Hizb Al-Bahr Imam Abu Al-Hasan Al-Syadzily, Bandung: Makrifat Media Utama, 2008.

Muhammad Djaruddin Abdullah, Mengenal Tanah Kaili, Palu:

Badan Pengembangan Pariwisata Dati I Sulawesi Tengah, 1975.

Muhammad Islam Yusuf, 60 Tokoh Gorontalo Panutan Umat (Suatu Tinjauan Neuro-Sains), Gorontalo: UNG Press, 2012.

Muhyiddin Ibnu Arabi, Tafsir Al-Qur’an al-Karim, jili II, Beirut:

Dar al-Andalus, t.th.

Dalam dokumen ISLAM SIGI (Halaman 113-124)