• Tidak ada hasil yang ditemukan

La Iboerahima Wartabone Putra Mahkota Raja

Dalam dokumen ISLAM SIGI (Halaman 54-70)

Membuka serta membina taman pengajian Alquran di berbagai desa merupakan aktifitas yang mewarnai hampir seluruh kehidupan Jarudin. Bahkan ketika kembali ke daerah tempat kelahirannya di Kelurahan Petobo pada tahun 2004, semangat serta niat yang besar untuk membuka sekaligus membina taman pengajian Alquran masih terlihat dengan jelas. Akan tetapi, karena mempertimbangkan faktor usianya yang sudah tua, anak-anaknya menyarankan agar sang ayah mengurungkan niatnya. Sebagai gantinya, Jarudin kemudian mengajak anaknya, Muhammad J. Wartabone, untuk mendirikan Islamic Center dan Indonesia berdzikir di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, dan di Desa Bora, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah.

C. LA IBOERAHIMA WARTABONE PUTRA MAHKOTA

menerima Islam, lalu Bone kemudian menjadi mercusuar ilmu pengetahuan keislaman di Sulawesi Selatan. Ulama Bugis menjadi sinar cahaya Islam, sehingga kemampuan akulturasi dan penetrasi budaya selalu mewarnai perjalanan manusia Bugis dalam sepak terjang adaptasi dan implementasi ajaran Islam hingga kini.

Raja yang memilih tinggal di luar kemegahan istana kerajaan adalah Aurangzeb, Raja Mughal yang memerintah selama 49 tahun. Kerajaan Mughal menguasai India sejak masa kepemimpinan Babur pada tahun 1526 M. 150 tahun kemudian, Aurangzeb menduduki puncak takhta, sebagai raja kerajaan Mughal. Saat itu, Mughal mencapai puncak kejayaannya. KerAjaan ini menguasai anak benua India dan kerajaan terkaya di dunia kala itu.

Salah satu cita-cita luhur yang diidamkan Aurangzeb adalah melandasi pemerintahan kerajaan Mughal dengan ajaran Islam yang murni. Raja-raja sebelumnya, walaupun mereka muslim, tidak menerapkan syariat Islam secara kafah dalam pemerintahan mereka. Contohnya adalah sang kakek, Raja Akbar, dalam kehidupan dan pemerintahannya, sang kakek sering kali menentang prinsip ajaran Islam dengan mengadopsi tata nilai; akidah dan amalan yang bukan berasal dari Islam. Cita-cita Aurangzeb ini diilhami oleh pendidikan dan keyakinannya yang kuat akan ajaran Islam.

Aurangzeb menjadi raja Mughal sebelum ayahnya mangkat. Meskipun ia sangat menghormati ayahnya, namun Aurangzeb cukup vokal menentang kebijakan-kebijakan ayahnya, seperti gaya hidup yang boros dan berlebih-lebihan. Di antara kebijakan sang ayah yang ia kritik adalah pembangunan Taj Mahal, sebuah makam yang dibangun oleh ayahnya untuk mendiang ibunya, Mumtaz Mahal. Menurut Aurangzeb, pembangunan makam tersebut bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang melarang meninggikan bangunan di

atas makam, dan tentu saja hiasan dan ornamen-ornamen Taj Mahal pasti membutuhkan biaya yang besar. Ia menyatakan,

“Meninggikan bangunan di atas makam adalah sesuatu yang ilegal, dan tidak diragukan lagi hal itu merupakan pemborosan (sesuatu yang mubadzir).” Ia juga lantang menyerukan larangan mengagungkan kuburan-kuburan tokoh-tokoh agama karena yang demikian menurutnya adalah praktik pengkultusan terhadap penghuni kubur dan sangat jauh dari tuntunan syariat Islam.

Untuk mewujudkan penerapan syariat Islam dalam pemerintahannya, Aurangzeb berupaya mengumpulkan jurnal-jurnal fikih menjadi sebuah buku yang sistematis sehingga mudah untuk dijadikan acuan. Ia juga memfasilitasi ratusan cendekiawan muslim dari berbagai penjuru negeri untuk memformulasikan fikih Islam. Hasilnya adalah sebuah buku fenomenal dalam fikih Hanafi yang berjudul Fatawa al-Amgiri atau juga dikenal dengan Fatawa al-Hindiya yang merupakan ikhtisar dari fikih Madzhab Hanafi.

Buku ini kemudian disebarkan ke penjuru wilayah Mughal agar dijadikan panduan hukum dan memberantas penyakit-penyakit sosial, seperti: mabuk-mabukan, perjudian, dan prostitusi yang memang berusaha dihabisi oleh kerajaan.

Pungutan pajak yang tidak sesuai syariat juga ia hapuskan, padahal tata perpajakan ini sudah sejak dulu dipraktikkan oleh kerajaan Mughal. Untuk mem-back up pendapatan besar yang sebelumnya diperoleh dari pajak, Aurangzeb mengurangi gaya hidup mewah yang dipraktekkan para raja sebelumnya.

Ia tidak tinggal di istana mewah seperti yang dilakukan oleh ayahnya, tradisi-tradisi kerajaan yang dianggap menghambur-hamburkan uang dihapuskan; seperti pentas musik dan perayaan ulang tahun raja.17

Haji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto, Raja Jawa yang

17 http://kisahmuslim.com/sejarah-islam-aurangzeb-alamgir-raja-kerajaan-islam-mughal-di-india/, 2 Desember 2015.

tak bermahkota. Seorang pemimpin nasionalis berkebangsaan Belanda, P.F Dahler, menyebut Tjokroaminoto sebagai seorang

“Harimau Mimbar, yang pidato-pidatonya dapat memukau pendengarnya sampai berjam-jam. Dengan postur tubuh yang tegap, penampilan yang berwibawa, dilengkapi dengan suara yang berat dan bahasa yang teratur membuat beribu-ribu hadirin harus terpaku mendengarnya kendati panas terik membakar mereka. Salah seorang yang mengikuti jejaknya adalah muridnya, Soekarno, pemuda dari Blitar yang kelak menjadi proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia.18

La Iboerahima Wartabone adalah seorang anak pertama Raja Wartabone dari Gorontalo sebagai seorang putra mahkota yang meninggalkan Kerajaan Bone Suwawa karena intervensi dari Kolonial Belanda. Beliau memiliki keluarga di Gorontalo, Pulau-Una-Una dan Togean, dan juga Keluarga di Palu Sulawesi Tengah. Di Gorontalo beliau menikah dengan Nahaya di Bone atau Suwawa dan di Sulawesi Tengah beliau menikah dengan Roneama di Ujuna Palu Sulawesi Tengah. Di Ujuna Sulawesi Tengah, beliau memiliki lima orang anak yakni Lajonco, Jahiya, Habasia, Susapalu, dan Sawasia. Sementara di Gorontalo beliau memiliki tiga orang anak yakni Buna, Tangahu, dan Mitu. Mereka inilah yang menurunkan keluarga La Iboerahima Wartabone sebagai keluarga yang menggunakan marga Wartabone di Gorontalo dan di Sulawesi Tengah.

La Iboerahima Wartabone putra mahkota Raja Wartabone adalah seorang ulama pengemban Agama Islam di Palu Sulawesi Tengah pada pertengahan abad ke-19. Beliau adalah seorang ulama Islam yang mengembangkan agama Islam secara ideologis sehingga ajaran Islam dapat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya di dunia ini. Beliau adalah seorang ulama abad ke-19 yang dilupakan dan memiliki kuburan di pekuburan

18 Kholid O. Santosa, “HOS Tjokroaminoto Raja Jawa Yang Tak Bermahkota” dalam HOS Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme (Bandung:

Sega Arsy, 2010), hlm. 7.

tua Potoya Buli, Kampung Potoya Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Ajaran Islam yang dikembangkan di Palu Sulawesi Tengah adalah ajaran Islam ideologis karena Agama Islam dikorelasikan dengan hidup dan kehidupan manusia penganutnya sehingga menjadi ideologi yang normatif.

Kuburan La Iboerahima Wartabone

Sumber: Koleksi Penulis

Ajaran La Iboerahima Wartabone Putra Mahkota Raja Wartabone adalah Nur Muhamamd. Ajaran ini memang menjadi populer di kalangan orang Bugis, tempat putra mahkota ini menimba ilmu agama Islam yaitu di Kerajaan Bone. Pada “nur”

sesungguhnya yang dimaknai dengan “tomanurung”. To Manurung

(Bugis) atau Tomanuru (Kaili) selalu menjadi pemimpin pertama yang baru terbentuk. Kerajaan Bone yang berdiri pada tahun 1330, pertama kali dipimpin oleh To Manurung Mata Silompoe.

Nur artinya cahaya, yang bermakna titisan.

Nur Muhammad menjadi titik permulaan yang diciptakan Allah SWT kemudian secara berurutan terciptalah alam ini secara bertahap. Allah SWT dengan kekuasaan yang dimilikiNya, untuk pertama kali terpancar dari diriNya sebuah titik cahaya, yang disebut Nur Muhammad. Hal ini diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad sebagai berikut:

Ya Jabir sesungguhnya Allah Taala sebelum menciptakan segala sesuatu lebih dahulu diciptakan cahaya nabimu (Nur Muhammad) dari Nur Allah.

Sejalan dengan hadis tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an pada Surah al-Nur ayat 35:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.

Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang

19 Syekh Yusuf al-Nahbani, al-Anwar al-Muhammadiyyah, (Indonesia:

Maktabah Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, t.th.), h. 13. Dapat juga dilihat, Ismail ibn Muhammad al-Ajlany, Kashf al-Khifa, Jilid I (Beirut: Dar al-Kutub, 1988), h. 310.

bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Menurut al-Tustani, maksud kalimat (perumpa-maan cahayaNya), adalah perumpa(perumpa-maan Nur Muhammad.20 Sedang Ibnu Arabi menafsirkannya dengan ruh al-‘alam, satu padanan kata dengan Nur Muhammad.21 Pancaran dari Nur Muhammad, terciptalah alam dengan tahapan berdasarkan jumlah hari. Hari yang biasa disebut “masa” dalam Al-Qur’an disebutkan selama satu hari sama dengan seribu tahun.

Firman Allah SWT pada Surah Al-Hajj ayat 47 dan Surah As-Sajadah ayat 5:

Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janjiNya.

Dan sesunggunhnya di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.

20 Abu Muhammad Salul Ibn Abdillah al-Tusturi, Tafsir Al-Qur’an al-Azim, (Kairo: Dar al-Kutub al-Arabiyyah al-Kubra, t.th.), h. 68

21 Muhyiddin Ibnu Arabi, Tafsir Al-Qur’an al-Karim, jili II, (Beirut:

Dar al-Andalus, t.th.), h. 139-140.

Dia mengatur segala urusan di langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.

Tahapan-tahapan penciptaan versi Nur Muhammad,22 yaitu:

1. Masa (hari) yang pertama: Ahad a. Kejadian Nur

Pada masa ini Allah SWT dalam keadaan sendirian.

Dalam kesendirian, Allah SWT melihat ke depan tak tampak sesuatu. Allah SWT melihat ke kanan, tidak tampak sesuatu.

Allah SWT melihat ke kiri, tidak tampak sesuatu. Allah SWT melihat ke belakang, tidak tampak sesuatu. Allah SWT melihat ke atas tidak ada sesuatu. Melihat ke bawah, tidak tampak sesuatu. Tidak ada sesuatu di sekelilingNya. Dia sendirian dalam kegelapan. Lalu Alla SWT melihat diriNya.

Pada saat itu, sesuai dengan firmanNya, dalam Al-Qur’an pada Surah Yasin ayat 82:

Sesungguhnya urusanNya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “jadilah!”, maka terciptalah sesuatu itu.

Allah SWT menyeru “kun”, seketika itu keluarlah sesuatu (cahaya) dari diriNya menjelma di hadapanNya’ persis dengan diriNya. Itulah “nur” ciptaan Allah SWT yang pertama.

Lalu Allah SWT memerintahkan “nur” untuk bersujud dan menyembah Allah SWT sebagai Tuhan pencipta “nur.

Mendengar perintah Allah SWT, “nur” yang terjelma dari ZatNya, tidak langsung bersujud, melainkan terlebih dulu

22 Andi Bedduara, Al-Hikmah Wasiat Sepanjang Zaman, (Watampone, CV Ibadur Rahman, 2009), h. 47.

melihat kepadaNya lalu melihat dirinya. Nur melihat Allah SWT sama dengan dirinya. Nur mengulangi tatapanya kepada Allah SWT lalu melihat dirinya, ternyata “masih sama”.

Lalu, Nur memandang Allah SWT dengan seksama, lalu memandang dirinya dengan seksama pula.

Dalam pandangan Nur, Allah SWT dengan dirinya tidak berbeda sedikitpun. Karenanya, Nur menyangka bahwa dirinya sama dengan Allah SWT, sehingga dia tidak mau bersujud menyembah menuruti perintahNya, lalu terjadi dialog sebagai berikut:

Nur berkata : Tidak! Engkaulah yang bersujud dan menyembah kepadaku, karena akulah tuhan dan akulah yang menciptakan Engkau.

Allah berfirman : Tidak, Akulah yang menciptakan engkau.

Akulah Tuhanmu

Nur berkata : Tidak! Akulah tuhan, akulah yang menciptakan Engkau.

Keduanya bersitegang, karena Nur tidak mau mengalah, melainkan mengaku pula sebagai Tuhan. Karena itu

Allah berfirman : Kalau begitu, untuk membuktikan siapa

“pencipta” di antara kita, mari kita bertaruh!

Nur berkata : Bertaruh bagaimana?

Allah berfirman : Kita masing-masing bersembunyi. Siapa yang tidak dapat ditemukan, dialah Tuhan.

Dialah pencipta dan dia pula yang berhak disembah.

Nur berkata : Baiklah!

Allah berfirman : Silakan bersembunyi wahai Nur.

Lalu Nur bersembunyi. Di manapun Nur bersembunyi, baik di belakang, di atas, di bawah, Allah selalu menebaknya tanpa Dia bergerak sedikitpun. Setelah Nur bersembunyi sebanyak tiga kali, namun selalu ditebak oleh Allah, lalu Nur tidak

menemukan lagi tempat persembunyian yang terlindungi dari tebakan Allah. Kini, tiba giliran Allah yang bersembunyi.

Nur berkata : Sekarang Engkaulah yang bersembunyi!

Allah berfirman : Baiklah! Dia menyelinap di belakang Nur.

Kemudian menyeru, wahai Nur carilah Aku.

Ketika Nur mendengar seruan Allah, langsung mencari. Nur menoleh ke belakang, karena didengar seruan itu seperti di belakang. Nur berputar, tapi gagal melihat Allah. Nur menjadi bingung, lalu bertanya:

Nur berkata : Di mana Engkau?

Allah berfirman : Aku di sini.

Mendengar seruan Allah, Nur dengan cepat berputar, karena mendengar seruan Allah seperti keluar dari dirinya, di belakang kepalanya. Nur berputar lagi, namun gagal menemukan Allah.

Nur bertanya lagi : Di mana Engkau?

Allah berfirman : Aku di sini.

Secepat kilat Nur menoleh ke belakang, karena seruan Allah seperti sebelumnya, seolah-olah keluar dari dirinya di belakang kepalanya. Namun, tetap gagal melihat Allah. Nur menjadi bingung, di mana Allah bersembunyi. SeruanNya didengar sangat dekat, tapi Nur tidak dapat melihatnya.

Nur berkata : Di mana Engkau bersembunyi sehingga aku tidak dapat melihatMu?

Allah berfirman : Aku di sini, “di belakang penglihatanmu”.

Nur berkata : Pantas aku tidak dapat melihatMu. Pindahla di tempat lain, supaya aku mencariMu!

Allah langsung berpindah ke dalam “Rahasia Nur”, lalu berseru:

Carilah Aku! Mendengar seruan itu, Nur langsung berputar mencari Allah, karena didengarnya seruan itu sangat dekat dan seolah-olah keluar dari dirinya. Tapi Nur tidak melihat Allah.

Nur berkata : Di mana Engkau?

Allah berfirman : Aku di sini.

Nur mencari di sekeliling dirinya, karena didengarnya seruan Allah sangat dekat. Sekali lagi Nur bertanya .

Nur berkata : Di mana Engkau?

Allah berfirman : Aku di sini.

Pada ketiga kalinya Nur berputar mencari di sekujur dirinya, namun tetap tidak dapat melhat Allah. Nur merasa tidak dapat menemukan Allah, lalu bertanya:

Nur berkata : Di mana Engkau bersembunyi sehingga aku tidak dapat melihatMu?

Allah berfirman : Aku di sini, “di dalam rahasiamu”

Nur berkata : Pantas aku tidak dapat melihatMu.

Sekarang pindahlah ke tempat lain, lalu aku cari lagi, semoga kali ini aku dapat menemukanmu.

Allah berseru : Baiklah, carilah Aku!

Bersamaan dengan seruanNya, Allah langsung berpindah ke dalam “kepercayaan” atau “keyakinan” Nur. Nur langsung mencari sambil menunduk dengan cepat, karena didengarnya seruan Allah dari bawah. Namun, kali ini Nur tidak melihat sesuatu. Lalu Nur bertanya untuk meyakinkann pendengarannya.

Nur berkata : Di mana Engkau?

Allah berseru : Aku di sini!

Serentak Nur menunduk, karena didengarnya seruan Allah dari bawah, sama seperti tadi. Akan tetapi, Nur tetap tidak melihat Allah. Nur mulai putus asa lalu sekali lagi dia bertanya:

Nur berkata : Di mana Engkau?

Allah berseru : Aku di sini!

Untuk ketiga kalinya, Nur secepat kilat menunduk mencari, dikiranya akan dapat melihat Allah, tetapi usahanya sia-sia.

Nur jadi putus asa. Nur sama sekali tidak dapat melihat atau menemukan Allah, di manapun Allah bersembunyi. Akhirnya Nur berkata:

Nur berkata : Di mana lagi Engkau bersembunyi sehingga tetap aku tidak dapat menemukanMu?

Allah berseru : Aku di sini, “di dalam kepercayaanmu”.!

Nur berkata : Pantas aku tidak dapat melihatMu. Aku mengaku kalah. Perlihatkanlah diriMu!

Aku mengakui, bahwa Engkaulah Tuhan yang menciptakan aku. Aku bersedia bersujud, menyembah kepadaMu.

Allah berseru : Apa bukti atas semua pengakuanmu itu?

Nur berkata : Terserah kepadaMu!

b. Terciptanya “dua kalimat syahadat”

Allah berfirman : Kalau begitu ucapkan “asyhadu anlaa ilaha Illa Allah”

Nur melafalkan : “asyhadu anlaa ilaha Illa Allah”

Allah menjawab : “wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”.

Dengan demikian, terikrarlah dua kalimat pengakuan yang diucapkan dengan cara bersambut, yaitu:

Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi pula bahwa Muhammad itu utusan Allah.

Setelah dua kalimat syahadat terikrar, Allah berfirman “Hai Nur, sekarang gaiblah engkau, nanti di akhir zaman engkau lahir dengan naman Ahmad atau Muhammad. Inilah sebabnya, para ulama (ahli tasawwuf) berkata bahwa, “Nabi

Muhammad lebih tua dari Nabi Adam”, karena sesungguhnya Nabi Muhammad merupakan bentuk lahiriah dari Nur, ciptaan Allah yang pertama.

2. Masa (hari) yang kedua: “Tsinina” (Senin)

a. Terciptanya cikal bakal bumi dan langit (tata surya) Pada permulaan masa yang kedua , Allah berfirman “kun”.

Seketika itu terjelma perpaduan tanah dan air yang terus menerus mengembang. Lama kelamaan membentuk suatu hamparan, merambat ke segenap penjuru. Hamparan itu lama kelamaan bertambah luas dan sampai waktu 500 tahun, berhasil memenuhi segenap penjuru.

Firman Allah dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Hijr ayat 19:

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.

b. Terjadinya Laut dan Gunung

Hamparan pada ayat tersebut merupakan lumpur yang rata.

Keadaannya terus menerus bergerak dan bergelombang.

Lalu Allah berfirman “kun”. Tiba-tiba terjadi sutau “ledakan yang maha dahsyat”. Sedemikian dahsyatnya ledakan itu dan melontarkan sebagian besar daripadanya sampai keluar angkasa.

Jatuhnya gumpalan-gumpalan ke bumi, satu demi satu sesuai dengan ketinggiannya, menimbulkan gemuruh ledakan berkeanjangan. Peristiwa inilah asal mula (riwayat terjadinya)

gunung-gunung. Firman Allah dalam Al-Qur’an pada Surah Lukman ayat 10:

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.

Pada pusat-pusat ledakan, terlontar bongkahan-bongkahan yang sangat besar dan meninggalkan bekas yang dalam dan sangat dalam. Pada tempat seperti ini dan di tempat rendah lainnya berkumpullah air yang sifatnya memang selalu mencari tempat yang rendah dan inilah yang dinamai laut, samudra, palung, dan lain-lain.

Setelah mencapai masa 1000 tahun, berubahlah hamparan lumpur menjadi suatu bentuk baru, yang meskipun tidak beraturan, namun serasi. Ada gunung, bukit, dataran-dataran rendah dan sebagian besar ditempati air (laut) dan jauh di atas pada batas pandangan ada langit. Perubahan bentuk yang demikian menyebabkan hamparan yang semula terus menerus bergerak (bergelombang) menjadi diam dan kokoh. Fenomena ini diabadikan dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Anbiyaa ayat 30-31:

30. Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya, dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapa mereka tiada beriman?

31. Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi ini (tidak) bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.

Setelah prosesi “kun” ini, berakhirlah masa (hari) kedua, yang lamanya 1000 tahun. Kisah Allah menciptakan bumi dan langit dalam enam masa.

3. Masa (hari) yang ketiga: “Tsalatsa” (Selasa) a. Penciptaan Matahari

Masa yang ketiga disebut “tsalasa” artinya tiga. Pada permulaan tahapan masa yang ketiga, Allah berfirman “kun”. Sesuai dengan penemuan ahli ilmu falak, tersebut di luar angkasa, terjadi suatu peristiwa pergerakan atau pergeseran di antara pecahan bumi yang tidak dapat jatuh kembali ke tempatnya semula. Gumpalan yang terbesar berangsur-angsur menjauhi gumpalan-gumpalan lainnya, sampai kepada posisi yang ditetapkan oleh Allah. Demikian juga terbesar berikutnya bergerak dan bergeser ke tempat yang ditetapkan oleh Allah.

Disusul kemudian gumpalan-gumpalan terbesar berikutnya

secara berturut-turut, sampai kepada yang terkecil.

Setelah mencapai waktu sekitar 500 tahun, semua gumpalan tersebut sudah berada pada posisinya masing-masing:

1. Gumpalan terbesar berada di luar angkasa 2. Gumpalan berikutnya berada di bawah angkasa 3. Gumpalan berikutnya berada di bumi.

Setelah itu, mungkin karena pengaruh tempatnya yang sangat tinggi, pada gumpalan yang terbesar itu terjadilah proses kimia, sehingga berangsur-angsur gumpalan itu bercahaya.

Lama kelamaan cahayanya bertambah terang dan mulai memancar. Setelah mencapai waktu sekitar 500 tahun, cahaya itu mencapai puncaknya, sehingga berubah menjadi sinar yang memancar, menyinari semua gumpalan di bawahnya sampai ke bumi dengan sangat terang dan panas.

Gumpalan terbesar yang kini memancarkan sinar terang dan panas itu, dinamai “matahari. Para ahli ilmu falak mengemukakan bahwa di dasar matahari itu ada tungku atom yang berisi hydrogen sebagai bahan bakar. Setiap saat hydrogen itu terbakar dan memancar dari inti matahari sampai ke permukaan. Setelah itu berubah menjadi hydrogen baru, yang kembali ke tempatnya semula dan terbakar lagi. Demikian terus menerus terjadi, sehingga manusia dapat menerima cahaya matahari setiap hari.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an pada Surah Yunus ayat 5 dan Surah An-Naba ayat 13:

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkaNya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Dan kami jadikan pelita yang amat terang.

b. Penciptaan Bulan dan Bintang

Setelah masa yang ketiga ini hampir mencapai 1000 tahun, sinar matahari mencapai puncaknya, memancar hingga ke bumi dengan panasnya. Kemudian Allah berfirman “kun”.

Secara perlahan-lahan berputarlah bumi pada porosnya, dan semua gumpalan di luar angkasa termasuk matahari mulai beredar mengelilingi bumi.

Pada waktu matahari berada di sebelah barat bumi, di belahan timur menjadi gelap. Itulah suasana malam. Pada saat itu, bumi berada di antara matahari dan gumpalan-gumpalan lainnya. Karena jauhnya antara matahari dan bumi, maka sebagian besar sinar matahari lolos di sekeliling luar bumi.

Sinar matahari yang lolos memancar menyinari semua gumpalan lain, menyebabkan gumpalan-gumpalan itu tampak bercahaya dari belahan bumi yang mengalami waktu malam.

Yang terbesar itulah disebut bulan, dan yang lainnya disebut bintang-bintang.

Firman Allah dalam Al-Qur’an pada Surah Nuh ayat 16:

Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita.

Dalam dokumen ISLAM SIGI (Halaman 54-70)