• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seorang Baligau dan Ulama

Dalam dokumen ISLAM SIGI (Halaman 71-74)

La Sarata dengan Lulumaburi. Lasatande Dunia menikah dengan isteri pertama bernama

I PUE LASATANDE DUNIA

(1835-1903)

Raelino dan Raetija sebagai isteri kedua. Perkawinan antara Lasa Tande Dunia dengan Raelino menurunkan keturunan masing-masing Lakamase dan Dandi Sura hingga menurunkan Songgo Langi. Sementara itu, hasil perkawinan antara Lasa Tande Dunia dengan Raetija menurunkan keturunan masing-masing Palauva, Pilarante, Dei atau Tikasura, Lamasauda, Labuntina, dan Sariuju.

Pue Lasatande Dunia merupakan seorang ulama Islam di Kerajaan Tatanga sebagai sebuah kerajaan di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Beliau adalah seorang pengemban agama Islam di Lembah Palu setelah ulama Islam Datu Karamah atau Abdullah Raqiy dari Minangkabau. Beliau hidup diawal abad ke-18 di Lembah Palu dalam wilayah Kerajaan atau Kebaligauan Tatanga di Lembah Palu, Sulawesi Tengah. Selain sebagai seorang ulama Islam, Lasatande Dunia juga menjadi sebagai seorang Baligau di Kebaligauan Tatanga Palu Sulawesi Tengah.

Ulama Lasatande Dunia kebanyakan menyebarkan Agama Islam di Petobo hingga Tavaeli hingga ke Vayu di bahagian atas Gunung Bagian Timur Lembah Palu. Ulama Lasatande Dunia dalam mengembangkan Agama Islam dibantu oleh Pue Rantebadja anaknya Madika Kodi. Pue Rante Badja menikah dengan seorang perempuan yang bernama Sinuvayu. Perkawinan ini juga yang membuat Agama Islam yang dikembangkan oleh Lasatande Dunia diterima oleh masyarakat daerah Vayu Sulawesi Tengah.

Selain sebagai seorang ulama, beliau juga dipercaya oleh Kebaligauan Tatanga sebagai seorang Baligau atau Raja Tatanga pada tahun 1875-1896. Beliau berkuasa setelah pemerintahan Baligau Maebunga (1865-1875) selama 10 berkuasa sebagai baligau ke-7 di Kerajaan Tatanga. Setelah Lasatande Dunia menaiki takhta tahun 1875-1895 digantikan oleh seorang Baligau Perempuan yang bernama Ranginggamagi. Baligau

Ranginggamagi naik takhta di Kerajaan Tatanga pada tahun 1895-1903 ketika beliau ditangkap oleh Belanda lalu dibuang ke Jawa. Mereka diangkut dengan kapal Camphuis ke tanah Jawa untuk diasingkan.

Kerajaan Tatanga sebuah kerajaan kecil di Lembah Palu tercatat pemimpin perempuan yang masing-masing: I Kalonjugi (1794-1821), I Maebunga (1865-1875), I Rangginggamagi (1895-1905) di Kerajaan Tatanga. I Rangginggamaagi tidak diketahui riwayat kelahiran dan kematiannyapun demikian karena tidak pernah diketahui dikebumikan dimana oleh Belanda. Dia adalah Ratu Kerajaan Tatanga yang ada di Palu. Suaminya bernama I Linginjobu. Menurut Iskandar, Rangginggamagi merupakan raja ke 9 atau baligau ke IX setelah I Lasatandedunia seorang Baligau ke 8 yang memerintah pada tahun 1875- 1895 yang dimakamkan di Bulili. I Rangginggamagi berkuasa di kerajaan Tatanga pada tahun 1895 hingga tahun 1905 pada saat dia ditangkap kemudian diasingkan ke penjara Nusakambangan. Dia adalah representasi perempuan bangsawan di Kerajaan Tatanga sehingga diangkat menjadi seorang Baligau ke IX di kerajaan tersebut.

Tokoh Ranginggamagi merupakan Raja Tatanga yang menolak perjanjian pendek atau Korte Verklaring yang dilakukan oleh Magau Palu pada awal abad ke-20. Pada masa pemerintahannya dia membawahi perdana menteri laki-laki yang bernama Amir Kasa sebagai seorang Madika Malolo yang merangkap untuk urusan dalam kerajaan maupun urusan luar kerajaan. Selain itu, Ratu ini membawahi Punggava oleh I Gonurante, Pabisara I Latorampe, Galara I Ritulero, dan Tadulako- Punggava I Songgolangi. Pada awal abad ke-20, bangsawan Tatanga dan Kerajaan di Lembah Palu mengagumi dia sebagai seorang ratu Kerajaan Tatanga pada waktu itu. Dia memiliki hubungan relasi politik dengan kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Tengah. Pada malam Jum’at, tanggal 7 juli

1905, Ratu Tatanga menyerang pos Belanda di tepi barat Lere, namun perwira Belanda telah menyingkir di pos tersebut.

Pasukan Tatanga dan Pasukan Belanda yang dipimpin oleh Voskuil saling menyerang hingga tanggal 5 September 1905 Belanda berhasil mengepung benteng Tatanga sehingga hari kamis, tanggal 7 September 1905 Ratu dan 30 orang serdadu pengawal ditawan oleh Letnan Voskuil kemudian dibawa ke Gunung Bale Donggala. Menurut keterangan di gunung Bale, dalam penantian kapal tumpangan ke pengasingan, Rangginggamagi berpesan pada Madika Bale yang bernama La Malonda bahwa: “pasiromu todeamu yaku hilaumo ruru,”

artinya “persatukan rakyatmu, saya ke sana dulu.” Mereka diangkut oleh kapal “Camphuys,” mereka yang dibawa ke Nusakambangan antara lain I Rangginggamagi, I Linginjobu (suami Rangginggamagi), Madika Malolo Amir Kasa dan 7 orang Tadulako masing-masing; I Ritulero, I Gonurante, I Latorampe, I Kundu, I Songgovau, I Takali, I Rusapande.

Pada tahun 1903, terjadi perlawanan dari Baligau Perempuan yang bernama Ranginggamagi terhadap Belanda di Palu Sulawesi Tengah. Beliau diasingkan ke Jawa pada tanggal 7 September 1903. Pada saat itu, Lasatande Dunia menjadi seorang yang penting pada saat itu sehingga belaiu turut ditangkap lalu dibuang ke Jawa bersama Ranginggamagi.

Beliau hingga akhir hayatnya dalam pembuangan di Jawa Barat. Beliau setelah dibuang ke Jakarta lalu ke Jawa Tengah ke Semarang hingga ke Nusakambangan lalu kemudian ke Sukabumi hingga wafat di sana dan dimakamkan di dekat makamnya Raja Karajalemba.

Dia lahir dari seorang keluarga Bangsawan Kaili di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Keluarganya adalah keluarga terpandang di masa itu sehingga Lasatande Dunia memiliki posisi penting dalam kemasyarakatan Kaili Sulawesi Tengah.

Posisi penting ini nantinya yang mengantar dia menjadi seorang

Baligau di Kerajaan atau Kebaligauan Tatanga Palu Sulawesi Tengah. Dia adalah salah satu bangsawan di Lembah Palu yang menentukan arah Kebaligauan Tatanga Palu Sulawesi Tengah di masa depan.

Peranan Lasatande Dunia dalam melawan Kolonial Belanda di Sulawesi Tengah sampai beliau dibuang dan diasingkan hingga akhir hayatnya di Jawa Barat. Pada masa kekuasaan Ranginggamagi bertakhta di Kerajaan Tatanga, raja tidak bisa bekerjasama dengan Kolonial Belanda sehingga dia dianggap tokoh perempuan yang menolak kehadiran Belanda. Oleh karena perlawaan yang dilakukan oleh Baligau Ranginggamagi sehingga beliau ditangkap dan diasingkan ke Jawa hingga akhir hidupnya.

Selain sebagai seorang Baligau, Lasatande Dunia juga sebagai seorang ulama Palu. Sebagai seorang Ulama, Lasatande Dunia mengembangkan ajaran Islam lokal yang disebut sebagai ajaran Tana Sanggamu (tanah segenggam). Dia membedakan istilah tana sanggamu, tana sanggaku dan tana sangga kamu. Ajaran tana sanggamu berarti seperti tangan yang menggenggam ibu jari, kalau sanggaku berarti genggaman dengan jari di luar, sementara sangga kamu berarti bahwa menggenggam sesuatu. Ibu jari dalam bahasa Kaili disebut sebagai Kotumpu. Kotumpu inilah yang menjadi pusat ajaran yang dikembangkan oleh Lasatande Dunia sebagai seorang ulama Islam di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Sebagai seorang ulama di Kerajaan Tatanga dan sekaligus raja, beliau menolak kedatangan Belanda di Sulawesi Tengah.

Masa Penjajahan Belanda di Wilayah Indonesia berlaku selama dua periode penting yakni masa VOC (1602-1800) dan masa Hindia Belanda (1800-1942). Kekuasaan Hindia Belanda membagi daerah menjadi dua bagian utama yakni daerah yang dikontrol langsung (Rechtsreeksbestuursgebied atau Governementslanden) dan daerah yang tidak langsung

dikontrol (Zelfbestuurslandschappen atau Vorstelanden). Daerah yang dikontrol langsung dibagi lagi menjadi afdeelingen dan sub bagiannya onder afdeelingen. Afdelingen dipimpin langsung oleh seorang kontroleur Belanda tetapi yang memerintah dipegang oleh seorang Bupati. Bupati adalah seorang penguasa baru yang dibuat oleh Belanda untuk menggantikan konsep Mokole, Magau, Karaja, Datu, Kabosenya, sebagai penguasa tertinggi tradisional di wilayah Sulawesi Tengah. Bupati inilah yang menguasai keseluruhan Regentchaapen (Kabupaten).

Hambatan budaya dan agama dalam integrasi politik Hindia Belanda dan Pendudukan Jepang di Sulawesi Tengah dapat dilihat dalam perlawanan-perlawanan yang ditampilkan oleh tokoh-tokoh lokal seperti Ama (Umana Soli) di Pekurehua tahun 1907, Kolomboy yang dilanjutkan oleh anaknya Tanjumbulu di Tojo, Tabatoki di Pamona, Owolu Marunduh di Mori tahun 1907 termasuk La Satande Dunia di Tatanga bersama Ratu Tatanga yang bernama Ranginggamagi.

Pada tahun 1920-an telah muncul organisasi perjuangan yang didalangi oleh PSII, Muhammadiyah dengan nama pejuang Merah Putih. Tercatatlah Haji Alauddin dan Haji Abdul Rahim di Bungku, Abdul Latif Mangitung dan Tanjumbulu di Tojo.

Kelompok yang kooperatif yang mau melanjutkan kekuasaan tradisionalnya dalam kekuasaan Hindia Belanda dan Pendudukan Jepang diimplementasikan dalam kesepakatan Perjanjian Pendek (Korte Verklaring). Bagi wilayah Poso antara lain Kabosenya yang bernama Ta Lasa selaku penguasa pribumi yang juga diakui Belanda sebagai orang terpandang di wilayah Poso. Setelah masa Pendudukan Jepang kekuasaan Ta Lasa dilanjutkan oleh putranya Wongko Lemba Ta Lasa pada masa Jepang tahun 1943. Namun, di masa awal masuknya Belanda ada tokoh-tokoh Poso terkemuka lainnya seperti Taroea, Garoeda, Bengka, Boengesawah,dan Terinde. Demikian juga

di Lore, tercatatlah Raja Kabo sebagai penguasa di daerah Vorstenlanden wilayah Poso yang juga nantinya dilanjutkan oleh putranya Sudara Kabo. Aristokrasi Pribumi rupa-rupanya bisa membaca perubahan jaman sehingga mereka tetap eksis menampilkan karakter tradisionalistik mereka yang disebut oleh Belanda dan Jepang sebagai “Raja”. Pembuangan raja-raja Sulawesi Tengah ke luar Sulawesi Tengah mengakibatkan surutnya kerajaan lokal sebagai kerajaan yang berdaulat sehingga ada beberapa raja yang dibuang telah wafat dalam pembuangan seperti I Satandedunia dari Kerajaan Tatanga.

Dia pulang ke negerinya tinggal tulang belulang ke pemakaman Petobo Sulawesi Tengah. Pusara itu yang menjadi saksi bahwa dia seorang pejuang dan sebagai ulama di Lembah Palu Sulawesi Tengah.

B. AJARAN SANGGAMU, SANGGATA, DAN SANGGAKAMU

Dalam dokumen ISLAM SIGI (Halaman 71-74)