• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.3 Deskripsi Hasil Penelitian

4.3.5 Akuntabilitas

Akuntabilitas kinerja melihat pada pertanggungjawaban dalam setiap tindakan, keputusan bahkan kebijakan organisasi publik, dalam indikator kinerja ini peneliti melihat pada BPMPPKB Kota Tangerang Selatan dalam mempertanggungjawabkan kinerjanya dalam memonitor pelaksanaan penangan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan instansi terkait yang bertanggung jawab pula dalam memberikan pelayanan baik medis, psikolog,

bantuan hukum bahkan pemberdayaan ekonomi hingga kasus-kasus tersebut selesai, brdasarkan hasil wawancara dengan Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM selaku Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan, beliau menuturkan bahwa:

“Kita selalu mengontrol dalam setiap kegiatan penanganan kasus hingga tuntas mba,bahkan hingga pemulangan korban.”Wawancara dengan Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM, 15 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan).

Hal ini juga ditambahkan oleh Hj. Titi Suhartini, S.ST, selaku Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tengerang Selatan, beliau menuturkan bahwa:

“Bukan hanya mengontrol, kan yang menjalankan P2TP2A karena P2TP2A di bawah kita, paling kita menanyakan kasus sudah sampai mana. Misalnya ada bedah kasus, di bedah seluruh kasus sudah sampai mana, ini kasusnya bagaimana, penyelesaiannya bagaimana, apa yang dibutuhkan nah lalu kita fasilitasi.”(Wawancara dengan Hj. Titi Suhartini, S.Si 8 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan).

Berdasarkan hasil wawancara di atas didapatkan bahwa BPMPPKB Kota Tangerang Selatan dalam mengontol sejauh mana penanganan kasus telah berjalan, dilakukan ketika ada kesempatan saat pelaksanaan rapat pertemuan, biasanya BPMPPKB Kota Tangerang Selatan, menanyakan akan hal kelajutan kasus sejauh mana pada pihak P2TP2A Kota Tengerang Selatan, hal ini pula semakin diperkuat berdasarkan hasil wawancara dengan Dini Kurnia, S.Si selaku staff Sekretariat P2TP2A Kota Tangerang Selatan, beliau menuturkan:

Dalam penanganan kasus BPMPPKB pasti mengontrol, karena kita kan kalau memberi laporan itu ke BPMPPKB.” (Wawancara dengan Dini Kurnia, S.Si 16 September 2014, di P2TP2A Kota Tangerang Selatan).

Pernyataan tersebut semakin memperkuat bahwa BPMPPKB Kota Tangerang Selatan cukup baik dalam mempertanggungjawabkan fungsi nya dalam mengontrol atau memonitoring setiap kegiatan penanganan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun pendapat lain disampaikan oleh Bapak Abdul Hamim Jauzie selaku Ketua Pengurus LBH Keadilan Kota Tangerang Selatan, beliau menuturkan bahwa:

“Tidak ada mba, bahkan dalam MoU sebetulnya harus ada forum resmi rapat minimal dua kali dalam setahun tetapi tidak ada, ada memang rapat tapi tidak dikhususkan untuk mengontrol tapi hanya rapat secara umum terus kebetulan LBH dilibatkan, ada memang di situ ditanya kasusnya sudah sampai mana aja tapi kasus yang saya dampingi sejak MoU itu sampai sekarang masih ada yang berjalan hingga sekarang, tapi mereka seperti tidak mau tahu, tapi yaa itu tetap menjadi tanggung jawab saya dan tidak tahu kapan kasus ini akan selesai.”(Wawancara dengan Bapak Abdul Mamim Jauzie, 27 Agustus 2014, di Pengadilan Negeri Kelas IA Kota Tangerang).

Berdasarkan hasil wawancara di atas menjukan bahwa tidak adanya perhatian yang diberikan oleh BPMPPKB Kota Tangerang Selatan atas kelanjutan kasus yang masih berjalan dan sedang di tangani oleh pihak LBH, walaupun sebetulnya MoU antara BPMPPKB Kota Tangerang Selatan dengan pihak LBH Keadilan telah berakhir namun seharusnya tetap saja komunikasi yang terjalin antara kedua instansi tersebut harus lah berjalan dengan baik, karena setelah pendampingan hukum korban-korban KDRT tersebut masih memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan lebih lanjut seperti pemberdayaan ekonomi agar korban memiliki keterampilan dan kemandirian dalam perekonomian pasca perceraian dengan tersangka KDRT. Hal ini semakin di perkuat oleh LH selaku korban yang melapor pada BPMPPKB Kota Tangerang Selatan, beliau menuturkan bahwa :

“selama proses saya hanya di damping oleh mba Dini, saya juga memutuskan untuk mundur saja lah komunikasi terakhir itu ketika saya bertemu psikolog, dan sampai sekarang saya sudah berceraipun tidak ada kelanjutan dengan BPMPPKB mba.”(Wawancara dengan LH, 18 September 2014, di kediamnaya, Bintaro).

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa, tidak adanya kelanjutan dalam penanganan KDRT, dan tidak adanya upaya yang dilakukan oleh BPMPPKB Kota Tangerang Selatan untuk mendapingi korban hingga kasus selesai, hal ini sangat disayangkan sekali bahwa kurangnya kontrol oleh BPMPPKB Kota Tangerang Selatan menyebabkan para korban tidak mendapatkan penangan berkelanjutan.

BPMPPKB Kota Tangerang Selatan juga harus melakukan penerapan sanksi yang tegas kepada setiap anggotanya apabila lalai dalam menjalankan tugas yang diberikan dalam penanganan korban kekerasan sebagai bentuk pertanggungjawaban pada kinerjanya, hal ini dipaparkan oleh Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM selaku Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan, beliau menuturkan bahwa:

“Sejauh ini sih kita belum pernah yaa memberikan sanksi yang berat paling baru teguran secara lisan saja, karena memang semau anggotanya baik-baik dalam menjalankan tugas dan memang yang menangani kasus itu biasanya pak hairul saja, kalo malam kita telepon pun dia langsung jalan kalau ada kasus.”Wawancara dengan Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM, 15 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan).

Hal ini juga ditambahkan oleh Hj. Titi Suhartini, S.ST, selaku Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tengerang Selatan, beliau menuturkan bahwa:

“Pasti, kan kita ada SP1 SP2, tapi kalau di sini sih baik-baik kalau untuk menjalankan tugas malam cuma satu pak Hairul saja..”(Wawancara

dengan Hj. Titi Suhartini, S.Si 8 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan).

Berdasarkan wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa dalam penanganan kekerasan dalam rumah tangga KDRT , BPMPPKB Kota Tangerang Selatan telah memiliki sanksi kepada siapa saja anggotanya yang lalai dalam menjalankan tugas. Namun, sejauh ini belum ada anggotanya yang lalai atau melakukan pelanggaran berat dalam menjalankan tugas sehingga belum pernah ada yang dijatuhkan saksi berat dan baru sekedar teguran lisan saja.