• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.3 Deskripsi Hasil Penelitian

4.3.2 Kualitas Layanan

Kemudahan akan mendapatkan pelayanan oleh para korban kekerasan dalam rumah tangga sangatlah penting untuk mengetahui kualitas layanan pada BPMPPKB Kota Tangerang Selatan dalam penanganan kasus KDRT, dengan sejauh mana masyarakat mengetahui tugas serta fungsi BPMPPKB Kota Tangerang Selatan untuk memfasilitasi dalam penanganan KDRT sehingga masyarakat memiliki keberanian untuk melapor ketika KDRT terjadi, berdasarkan hasil wawancara dengan Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM selaku Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan:

“Biasanya yang lapor itu masyarakat yang memiliki ekonomi menengah ke atas, karena kesadaran mereka akan adanya kehadiran BPMPPKB Kota Tangerang Selatan dan adanya undang-undang lebih tinggi, di bandingkan dengan masyarakat ekonomi menengah kebawah.” (Wawancara dengan Dra. Sri Wahyuni Hartini, A.pt 22 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan)

Hal ini ditambahkan oleh Hj. Titi Suhartini, S.ST, Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tengerang Selatan:

“Belum, sosialisasi kita terus yaa walaupun tidak terjadwal tapi kalau ibu-ibu kader mah tau tapi masyarakat bias jarang pada tahu, ibu-ibu yang aktif yang suka internet yang pinter pasti tau, kalau masyarakat awam belum, malah Rt atau Rw juga kadang belum tahu, jadi satgas belum berjalan optimal. (Wawancara dengan Hj. Titi Suhartini, S.Si 8 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan)

Berdasarkan wawancara di atas dapat diketahui bahwa kehadiran BPMPPKB Kota Tangerang Selatan belum seluruhnya dapat di rasakan oleh sebagian masyarakat, kurangnya sosialisasi secara merata mengakibatkan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan belum cukup dikenal oleh sebagian masyarakat, hal ini semakin di perkuat berdasarkan hasil wawancara dengan Mariana WD, SH selaku Kepala Sub Unit PPA Sat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan:

“BPMPPKB belum dikenal oleh masyarakat biasanya masyarakat masih bertanya-tanya kalo mendengar BPMPPKB, padahal sangat penting karena di kita banyak sekali laporan yang berasal dari Tangerang Selatan yaitu, Ciputat dan Pamulang selain KDRT jenis kekerasan yang sering terjadi bukan hanya fisik yang tinggi tapi juga psikis sekitar 60:40 perbandinganya.” (Wawancara dengan Mariana WD, SH 25 Agustus 2014, di Polres Metro Jakarta Selatan)

Berdasarkan wawancara di atas menjelaskan bahwa masih banyak korban melapor pada pihak kepolisian karena masyarakat masih bertanya-tanya akan keberadaan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan sebagai penyedia layanan dalam penaganan perempuan dan anak korban kekerasan. Hal ini juga didukung oleh

hasil wawancara dengan Ma selaku Korban KDRT yang melapor pada Polres Metro Kabupaten Tangerang:

“Saya ga tau tuh sudah lama memang adanya? Awalnya saya lapor ke Polsek Serpong karena saya tidak tahu ada BPMPPKB dan fungsinya itu seperti apa.” (Wawancara dengan Ma , 10 September 2014, di kediamannya Jaltetreng, Serpong).

Hal serupa juga di sampaikan oleh Mu selaku korban yang melapor pada pihak kepolisian polres metro Kabupaten Tangerang, beliau menuturkan :

“saya juga baru tahu sekarang ini kalau ada instansi pemerintah Tangerang Selatan yang bisa bantu nanganin KDRT, pokoknya setelah kejadian saya di pukulin itu saya langsung lapor ke polsek Serpong terus saya di antar ke polres tigaraksa.”(Wawancara dengan Mu, 13 September 2014, di kediamannya Jaletreng, Serpong)

Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukan bahwa masyarakat Kota Tangerang Selatan masih banyak yang belum mengetahui fungsi BPMPPKB Kota Tangerang Selatan dan lebih memilih untuk langsung melapor pada pihak kepolisian setempat, dan yang sangat di sayangkan kenyataan yang terjadi Kota Tangerang Selatan belum memiliki Polres melainkan masih bergabung dengan Polres Jakarta Selatan dan Polres Kabupaten Tangerang dan lokasinya yang cukup jauh sehingga masyarakat sulit untuk menjangkaunya.

Selain kemudahan dalam mendapatkan pelayanan, kenyaman dalam pelayanan juga perlu untuk mengetahui sejauh mana kualitas layanan yang di berikan oleh BPMPPKB KotaTangerang Selatan yang fungsinya memfasilitasi kegiatan perlindungan korban kekerasan, dengan melihat sarana serta prasarana yang dimiliki kita dapat melihat kepuasan yang dirasakan oleh para pengguna jasa, fasilitas yang harus dimiliki sebetulnya telah tertuang dalam Standar Oprasional Prosedur Pelayanan Terhadap Perempuan dan Anak Korban

Kekerasan yang telah diataur dalam Peraturan Gubernur Banten Nomor 21 tahun 2009 tentang Mekanisme Pelayanan Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan, seperti tersedianya ruang pelayanan yang aman dan nyaman , shalter

serta kendaraan oprasional. Berdasarkan hasil wawancara dengan Hj. Titi Suhartini, S.ST, Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tengerang Selatan:

“Maunya saya kan satu atap yaa, seperti di Jakarta Timur dalam satu gedung ada bagian hukumnya, ada paramedisnya, ada dokternya, psikolognya, ada juga shalter nya. Nah, karena Tangerang Selatan ini baru berdiri tapi memang belum memenuhi syaratlah sarana dan prasarananya, walaupun memang kita dapat dana uang hibah tapi sarana dan sumber daya manusianya kita belum siap satu atap, anggaran sih cukup tapi baru cukup untuk pendampingan aja, tapi kalau gedung kita masih ngontrak inginnya sih satu atap agar tidak perlu rujuk ke sana-sini, kadang-kadang psikolognya itu suka lagi ngajar LBH juga sama. Nah, untuk kendraan juga kan BPMPPKB belum mengadakan, harusnya memang ada, saya sih ingin sekali, justru itu sarana dan prasarananya belum mencukupi, saya ingin mengajukan kendaraan untuk klien entah mobil, ambulan, atau motor kalau naik angkutan umum kan lumayan biayanya. Sedangkan kalau di sini sering sekali banyak yang konsultasi walaupun tidak ada tempatnya yang khusus, tapi banyak saja yang konsultasi.”(Wawancara dengan Hj. Titi Suhartini, S.Si 8 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan)

Hal senada juga diungkapkan oleh Bapak Abdul Hamim Jauzie selaku Ketua Pengurus LBH Keadilan Kota Tangerang Selatan:

“Ini hal yang menarik, sebetulnya ini sudah diatur yaa dalam Peraturan Gubernur Nomor 21 tahun 2009 Tentang Mekanisme Pelayanan Terpadu Bagi Perempuan Dan Anak Korban Kekerasan Di Provinsi Banten, nah di peraturan tersebut tertulis harus adanya fasilitas shalter tapi BPMPPKB shalter sata tidak punya, kalo ada Kementrian Pemberdayaan Perempuan yang hadir mau member penilaian tertentu BPMPPKB itu mengklaim bahwa mereka punya shalter, kantor mereka juga dijadikan sebagai shalter ada memang tempat tidur tapi saya pernah menangani kasus pernah ada satu orang yang saya tempatkan di shalter tapi ko sampai mau diusir kan lucu, karena kelamaan katanya sih. Yaa, lalu saya carikan orang yang mau manampung, waktu itu ada seorang dosen yang mau membantu menampung dia punya shalter walaupun tidak aktif tapi dia

bisa membantu, kan kasihan korban diusir saya sangat menyayangkan sekali padahal kondisi korban terancam suaminya TNI yang jaraknya itu tidak jauh dari P2TP2A.” (Wawancara dengan Abdul Mamim Jauzie, 27 Agustus 2014, di Pengadilan Negeri Kelas IA Kota Tangerang).

Dari kedua pernyataan tersebut terlihat memang sebetulnya sarana dan prasarana yang dimiliki oleh BPMPPKB Kota Tangerang Selatan masih jauh dari kata memadai dibandingkan dengan Kota Jakarta yang lebih dahulu menggunakan sistem satu atap, dimana seluruh fasilitas yang dibutuhkan oleh korban sudah tersedia langsung tanpa perlu merujuk ke tempat lain, sedangkan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan tidak memiliki ketiganya baik ruang pelayanan khusus,

shalter, maupun kendaraan oprasional, hal ini ditambahkan oleh Lh selaku korban KDRT yang melapor langsung pada BPMPPKB Kota Tangerang Selatan:

“Selama proses penanganan sih saya kurang merasakan, karena saya kemana-mana juga sendiri ga di antar jemput sama mereka selama proses berlangsung ga ada tuh yang namanya kendaraan oprasional, kalau untuk ruang pelayanan pengaduan di BPMPPKB saya rasa kurang privat yaa mba, jadi hanya seperti ruang untuk tamu-tamu biasa atau ruang tunggu jadi waktu saya mau cerita pun saya merasa malu karena itu seperti ruang terbuka yang siapa saya bisa mendengarkan ketika saya bercerita soal masalah saya gitu, dan kalau untuk shalter yaa mba saya tidak tahu karena sama sekali tidak di tawarkan untuk tinggal disana, selama proses berjalan saya tinggal di rumah orang tua saya karena kebetulan tidak jauh.”(Wawancara dengan Lh 18 September 2014, di kediamanya Bintaro)

Berdasarkan keterangan di atas menujukan bahwa ketidak tersedianya sarana dan prasana pada BPMPPKB Kota Tangerang Selatan seperti tidak adanya ruang pelayanan khusus pada saat pelaporan dapat mengakibatkan kurangnya kenyamana korban saat melapor karena kerahasiaan korban tidak terjamin sepenuhnya, berdasarkan hasil observasi pada BPMPPKB Kota Tangerang Selatan ruang pelayanan pelaporan yang mereka miliki seperti berikut ini:

Gambar 4.2

Ruang Pelayanan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan

Sedangkan untuk shalter sebetulnya sangat dibutuhkan sebagai tempat aman korban berlindung sementara bagi korban yang memerlukan pelayanan yang lebih intensif, namun kenyataan yang terjadi berdasarkan wawancara dengan pihak LBH Keadilan bahwa sempat adanya korban yang di usir dari shalter yang di buat seadanya oleh BPMPPKB Kota Tangerang Selatan, dimana shalter

tersebut sebetulnya ruang kantor, sehingga korban tersebut tidak mendapatkan jaminan keamanan dari BPMPPKB Kota Tangerang Selatan. Sedangkan untuk kendaraan oprasional BPMPPKB Kota Tangerang Selatan juga belum memiliki sehingga dalam penanganan korban KDRT masih terkesan lambat karena keterbatasan alat transportasi.

Ketidak tersediaan sarana dan prasarana tersebut pada akhinya tidak sesuai dengan mekanisme penanganan korban KDRT yang telah di atur pada Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 3 Tahun 2012 Tentang Perlindungan Perempuan Dan Anak Korban Kekerasan, dimana berdasarkan peraturan tersebut prinsip pelayanan yang harus terpenuhi ialah :

a. cepat, aman dan empati; b. adanya jaminan kerahasiaan; c. mudah dijangkau;

d. tidak di pungut biaya.

Maka dapat disimpulkan bahwa dengan kurangnya kemudahan untuk mendapatkan pelayanan pada korban KDRT yaitu, karena kurangnya sosilisasi sehingga masyarakat Kota Tangerang Selatan masih sedikit sekali yang mengetahui fungsi BPMPPKB Kota Tangerang Selatan sebagai intansi pemerintah yang bertugas untuk memfasilitasi penanganan perempuan dan anak korban kekerasan, serta masih minimnya sarana dan prasarana yang dimiliki oleh BPMPPKB Kota Tangerang Selatan sehingga kualitas pelayanan yang di berikan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan belum optimal.