BAB IV HASIL PENELITIAN
4.3 Deskripsi Hasil Penelitian
4.3.3 Responsivitas
Menurut Dwiyanto (2002:60), responsivitas kerja melihat pada pengembangan program yang telah di buat, serta penyusunan agenda kegitan. Oleh sebab itu peneliti melihat pada Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 3 Tahun 2012 Tentang Perlindungan Perempuan Dan Anak Korban Kekerasan yang menjelaskan bahwa pemerintah daerah dalam menyelenggarakan perlindungan perempuan adan anak korban kekerasan, dapat melibatkan peran serta masyarakat baik oleh perorangan, kelompok maupun orgnisasi sosial kemasyarakatan dengan diberikan pembinaan oleh Satuan Kerja Daerah yang terkait. Berdasarkan hasil wawancara dengan Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM
selaku Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan:
“Kita sudah membentuk 540 anggota satgas tingkat rt maupun rw seluruh Kota Tangerang Selatan, pengesahanya itu tahun 2013 lalu, sampai saat ini satgas masih terus berjalan.”(Wawancara dengan Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM, 15 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan)
Berdasarkan hasil wawancara tersebut memang benar adanya bahwa BPMPPKB Kota Tangerang Selatan telah membentuk setidaknya 540 anggota satgas tingkat Rt dan Rw seluruh Kota Tangerang Selatan yang di resmikan pada 22 Agustus 2013, yang bertempat di Universitas Terbuka, bahkan pembentuakn satgas ini pun telah tercatat pada Museum Rekor Indonesia (MURI).
Penjelasan mengenai keberadaan satgas selanjutnya ditambahkan oleh Hj. Titi Suhartini, S.ST, selaku Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tengerang Selatan:
“maaf yaa, satgasnya belum optimal lapor aja belum pernah malahan duluan koran, satgas ada yang melapor ada juga yang tidak melapor, kalau satgas yang suka lapor ada biasanya dari Jombang, tapi mungkin gimana yaa kuranglah padahal sudah pelatihan malah masyarakatnya langsung yang pada lapor.”(Wawancara dengan Hj. Titi Suhartini, S.Si 8 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan).
Hal serupa juga disampaikan oleh Mariana WD, SH selaku Kepala Sub Unit PPA Sat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan:
“Kalau untuk BPMPPKB nya sudah dibentuk satgas dan itu tidak berjalan sama sekali yang saya tahu, seperti formalitas saja dibentuknya, tetap saja lapornya ke polisi gak pernah ada satgas ada KDRT menangani duluan, tapi satgas ini benar ada atau tidak karena, tidak pernah ada satgas yang ikut menangani dan mendampingi untuk lapor ke polisi, terbentuknya satgas seolah-olah terlihat bagus saat diseminar saja. Dan untuk kerja sama saya katakana tidak pernah ada dan tidak pernah bersentuhan langsung dengan wilayah Tangerang Selatan BPMPPKBnya terutama.” (Wawancara dengan Mariana WD, SH 25 Agustus 2014, di Polres Metro Jakarta Selatan)
Berdasarkan keterangan di atas Pemerintah Kota Tangerang Selatan khususnya BPMPPKB Kota Tangerang Selatan, sebetulnya telah berupaya untuk melibatkan peran serta masyarakat untuk bersama-sama berperan aktif baik dalam pencegahan maupun penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak, dengan membentuk satgas, namun berdasarkan hasil wawancara tersebut di dapatkan bahwa satgas yang dibentuk belum seluruhnya berjalan, kemungkinan hal ini di sebabkan oleh kesibukan para anggota satgas selain menjadi Rt dan Rw mereka juga tentunya memiliki pekerjaan tetap sehingga pembentukan satgas ini belum seluruhnya berjalan, hal ini juga didukung oleh penjelasan Hj. Titi Suhartini, S.ST, selaku Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tengerang Selatan:
“kan semua ada 108 yaa satgas itu, yang aktif paling sekitar 10 orang lahh. ada, pertemuan kita omongin lagi segala macam, biasanya lewat SMS aja yang kemaren tuh ada satgas SMS saya, tergantung satgasnya mungkin yaa ada yang lapor ada yang engga, mungkin sibuk kerja jadi tidak fokus jadi satgas belum berjalan optimal.”(Wawancara dengan Hj. Titi Suhartini, S.Si 8 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan).
Berdasarkan penjelasan di atas menegaskan bahwa hanya terdapat 108 anggota satgas, padahal dalam awal pembentukannya terdapat 540 anggota satgas dan yang semakin disayangkan ternyata dari 108 hanya 10 anggota yang aktif untuk melapor, itu pun hanya melalui SMS saja, hal ini pastinya memunculkan pemikiran bahwa ada yang salah dalam pelaksanaaya di lapangan, bahkan menurut hasil wawancara dengan Bapak Maludin selaku Rw 03 Kelurahan Kademangan Kecamatan Setu, menjelaskan :
“Kalau memang program itu benar ada tapi saya ga dapet undanganya, ga pernah ada juga sosialisasi, pernah ada undangan dari Dinas Tata Kota, biasanya kalo ada sosialisasi dari dinas itu kita yang minta jadi dari bawah minta ke atas bukan dari atas yang inisiatif datang ke kita, tapi kita yang ususlkan baru mereka mau datang, kalau memang benar ada pembentukan satgas pasti saya tahu walaupun saya ga dapet undangan, karena saya aktif di forum Rw Kecamatan Setu, jadi kadang suka kumpul Rw sekecamatan Setu bagi-bagi informasi kegiatan apa aja, jadi walaupun saya tidak bisa hadir di acara sosilisasi tapi pasti saya tahu.” (Wawancara dengan Bapak Maludin, 11 September 2014, di Kediamanya)
Hal senada juga disampaikan oleh Bapak Karnata selaku Ketua Rt 013 di Kelurahan Pondok Jagung, Kecamatan Serpong Utara:
“Saya tidak pernah ikut pelatihan sama sekali selama jadi Rt, biasanya kalau saya lagi kerja ataupun tidak kerja itu pasti ada undangannya kalau memang benar-benar ada pembentukan satgas yang katanya sih anggotanya Rt sama Rw, kita juga ga tau program kerjanya apa aja yang harus dilakuin, biasanya kalau emang satgas itu bener ada kegiatan tuh dikumpulin di kelurahan atau minimal ada undangan lah kan sempat ga sempat kan kita jadi tahu, pernah juga kita di kumpulin sama polisi ada kegiatan kita di kasih kaos sama topi.” (Wawancara denga Bapak Karnata, 7 September 2014, di kediamanya).
Berdasarkan hasil wawancara di atas didapatkan bahwa, para Rt dan Rw di dua kecamatan yang berbeda tersebut sama sekali tidak mengetahui akan adanya pembentukan satgas, hal ini juga didukung pada hasil wawancara dengan Mu selaku korban KDRT yang melapor pada Polres Metro Kabupaten Tangerang, beliau menuturkan bahwa:
“Gak pernah ada sosialisasi tuh masalah satgas, pas ada kejadian itu saya langsung saja lapor ke kantor polisi terdekat, karena saya sudah ga tahan terlalu sering suami saya mba sampai yang terakhir itu saya di cekik terus di banting mangkanya saya udah ga tahan, tapi ga pernah ada perhatian dari Rt atau Rw juga.”(Wawancara dengan Mu, 13 September 2014, di kediaman korban, Kecamatan Serpong).
Hal senada juga disampaikan oleh Ibu Titin Sartini selaku masyarakat Kota Tangerang Selatan, berdasarkan hasil wawancara beliau menuturkan bahwa:
“Kalau ada satgas yang neng bilang saya kurang tau, ga pernah ada kumpul sosialisasi, kumpul Rt/Rw juga ga pernah yang katanya mereka itu anggota satgas. Pokoknya mah saya ga pernah merasakan lah ada program-program seperti itu, jadi bingung mau lapor juga kalo ada KDRT.”(Wawancara dengan Ibu Titin Sartini, 7 September 2014, di kediamanya Pondok Jagung, Serpong Utara)
Berdasarkan hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa banyak masyarakat yang tidak mengetahui akan keberdaan program pembentukan satgas,hal ini sangat disayangkan sekali bahwa program yang selama ini di harapkan dapat membantu pemerintah dalam pencegahan dan penanganan koraban kekerasan pada perempuan dan anak tidak berjalan sebagai mana mestinya, bahwa terjadi sosialisasi yang kurang merata dan tidak menyeleruh dalam pembentukan satgas ini, selain itu tidak adanya agenda khusus dalam kegiatan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan untuk melaksanakan pertemuan para anggota satgas juga meyebabkan ketidak jelasan kelanjutan program ini.
Selain pembentukan satgas, sosilisasi akan adanya Undang-Undang nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga serta Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2012 tenang Perlindungan Perempuan Dan Anak Korban Kekerasan perlu dilakukan agar masyarakat Kota Tangerang Selatan lebih menyadari akan adanya payung hukum dalam penanganan korban kekerasan, sehingga masyarakat memiliki keberanian untuk melapor ketika terjadi tindak kekerasan dalam lingkum rumah tangga, karena hal tersebut telah di atur tegas pada peraturan Undang-Undang dan Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan, berdasarkan hasil wawancara dengan Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM
selaku Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan:
“Untuk sosilisasi perda kita terus menerus yaa dalam setiap kesempatan, salah satunya saat melakukan apel tiap senin pagi di sekolah seluruh Kota Tangerang Selatan.”(Wawancara dengan Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM, 15 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan).
Hal ini juga ditambahakan oleh Ibu Hj. Titi Suhartini, S.ST, selaku Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tengerang Selatan:
“Untuk sosilisasi UU PKDRT dan Perda itu jalan terus tapi tidak terjadwal karena keterbatasan anggran juga yaa.”(Wawancara dengan Hj. Titi Suhartini, S.Si 8 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan).
Berdasarkan wawancara di atas menjelaskan bahwa dalam mensosilisasikan Undang-undang PKDRT dan Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2012 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan mengalami kendala seperti keterbatasan anggaran yang dimiliki, sehingga BPMPPKB Kota Tangerang Selatan tidak memiliki agenda khusus untuk mensosialisasikanya kepada masyarakat Kota Tangerang Selatan.
Persoalan ini juga benar adanya bahwa dalam agenda kegiatan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan tahun 2014 tidak ada jadwal khusus untuk melukan sosialisasi, hal ini tentunya mengakibatkan pengetahuan masyarakat Kota Tangerang Selatan akan adanya payung hukum belum menyeluruh tersampaikan, berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Sukari selaku Ketua Rt 01 kelurahan Kademangan Kecamatan Setu:
“kita belom pernah ada undangan, pernah ada rapat kecamatan tapi rapat masalah PBB tapi kalau untuk Peraturan Daerah sama pelatihan
pembetukan satgas mah belum pernah ada kumpul-kumpul tuh.”(Wawancara dengan Bapak Sukari, 11 September 2014, di kediamanya).
Hal serupa juga disampaikan oleh Ma selaku korban KDRT yang melapor pada Polres Kabupaten Tangerang:
“saya ga tahu mba kalau ada satgas tingkat Rt/Rw, pokoknya saya mah langsung lapor aja ke polisi. Kalo untuk undang-undang PKDRT saya pernah lihat di tv jadi sedikit tahu, kalo untuk hukuman paling sedikit lima tahun, tapi kalau untuk Peraturan Daerah saya tidak tahu.” (Wawancara dengan Ma, 10 September 2014, di kediamanya Babakan, Serpong).
Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukan bahwa sosialisasi yang dilakukan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan belum secara menyeluruh bahkan untuk setingkat Rt dan Rw pun masih banyak yang belum mengetahui akan adanya Undang-udang PKDRT dan Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2012 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan, sehingga masyarakat Kota Tangerang Selatan yang dituntut untuk lebih aktif agar lebih sadar hukum, beradasarkan hasil wawancara dengan Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM selaku Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan beliau menuturkan:
“Masyarakat dengan ekonomi menengah keatas lebih berani melapor karena mereka sudah tahu akan adanya Undang-undang dan Peraturan Daerah karena meraka lebih aktif dalam mencari informasi.”Wawancara dengan Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM, 15 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan).
Hal ini juga didukung oleh Lh selaku korban yang selaku korban yang melopor langsung pada BPMPPKB Kota Tangerang Selatan:
“Kayanya kalau untuk masyarakat biasa juga jarang yang tau yaa mba, saya juga kenapa bisa lapor kesana karena dulu sempat cari-cari dan baca di internet, jadi kayaknya lebih aktif masyarakat yang cari tahu ketimbang mereka yang kasih sosialisasi karena ga pernah ada tuh
sosialisasi di lingkungan rumah saya.” (Wawancara dengan Lh, 18 September 2014, di kediamnya Bintaro).
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi ialah tidak adanya kelanjutan dalam program pembentukan satgas, kurangnya koordinasi dan tidak adanya agenda khusus untuk melakukan pertemuan dengan anggota satgas, serta kurangnya sosilisasi UU PKDRT dan Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan mengakibatkan program yang telah dibentuk tidak berjalan dengan efektif, karena hanya masyarakat menengah ke atas saja yang lebih aktif untuk mencari tahu sehingga memiliki keberanian untuk melapor, hal ini tentunya sangat disayangkan sekali karena program yang dibentuk diharapkan dapat membantu malah tidak berjalan sebagaimana mestinya.