BAB IV HASIL PENELITIAN
4.3 Deskripsi Hasil Penelitian
4.3.1 Produktivitas
Produktivitas pada umumnya dipahami sebagai rasio antara input dengan output, konsep tersebut kemuadian dikembangkan menjadi lebih luas dengan memasukan seberapa besar pelayanan publik itu memiliki hasil yang diharapkan sebagai salah satu indikator kinerja yang penting. Oleh karena itu, perlu melihat sumber daya masnuasia (SDM) serta anggaran untuk pembiayaan dalam pencegahan dan penanganan korban kekerasan dalam rumah tangga oleh BPMPPKB Kota Tangerang Selatan sebagai input atau masukan dalam proses mengatasi permasalahan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sebagaimana dalam wawancara yang disampaikan oleh Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM selaku Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan:
“Kita kalau untuk SDM kalo di bilang cukup tapi yaa tergantung kinerja kita, kalau kita bisa menggerakkan diri kita untuk bekerja baik rasanya yaa bisa saja cukup.” (Wawancara dengan Hj. Listya Windarty, S.Sos, M KM, 15 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan)
Hal ini ditambahkan oleh Hj. Titi Suhartini, S.ST, Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tengerang Selatan:
“Kalau untuk bagian investigasi di saya masih kurang tapi kalau P2TP2A lebih-lebih kurang lagi dari kita, belum memenuhi syarat lah tapi kita berusaha semaksimal mungkin mau jam 7 malam jam 9 malam sampai hari sabtu hari minggu tetap kita melayani. Tetapi ketika ikut terjun langsung dalam investigasi kalau terus menerus mah iya lah kualahan, untuk investigasi lebih-lebih kalau hari sabtu minggu kadang saya yaa kadang gantian pak Hairul, yaa pokoknya kualahan lah kalo kita saja karena kasusnya itu kan banyak sedangkan kita juga ga punya relawan.”(Wawancara dengan Hj. Titi Suhartini, S.ST 8 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan)
Berdasarkan wawancara di atas, dapat dilihat bahwa sumber daya yang dimiliki oleh BPMPPKB Kota Tangerang Selatan masih dikatakan kurang
memadai, BPMPPKB Kota Tangerang Selatan sebagai pelaksana pengawasan dan pengendalian dalam penanganan korban kekerasan dalam rumah tangga harus memiliki SDM yang cukup sehingga dapat secara aktif melakukan koordinasi pada instansi-instansi terkait yang ikut terlibat dalam penangana kekerasan dalam rumah tangga. Sumber Daya Manusia (SDM) pada BPMPPKB Kota Tangerang Selatan yang lebih di fokuskan lagi pada Sub Bagian Pemberdayaan Perempuan sebagai bidang yang bertugas menangani kekerasan dalam rumah tangga adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3
Data Pegawai Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan
No Nama Gol Jabatan
1 Hj. Listya Windarti, S.Sos,
MKM IV/A Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan
2 Hj. Titi Suhartini, A.Md,Keb III/D Kasubid Perlindungan Perempuan dan Anak 3 Drg. Mercy Apriyanti III/D Kasubid PUG dan Kualitas Hidup Perempuan 4 Dwi Mulyana, A.Md II/C Sub Bagian Perlindungan Perempuan 5 Yayan Asmayanti, SKM III/B Sub Bagian Perempuan
6 Herlina, AMK III/A Sub Bagian PUG dan Kualitas Hidup Perempuan
7 Irma Amalia, Amd TKS Staff
8 Drs. Haerul Basyar TKS Staff
9 Wisnu Kusharyanto TKS Staff
10 Ferry Supriyadi, SE TKS Staff
11 Paestri, SP TKS Staff
12 Ratna TKS Staff
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah SDM BPMPPKB Kota Tangerang Selatan pada Bidang Perlindungan Perempuan hanya memiliki 6 yang bersatus sebagai PNS dan sisanya adalah sebagai Tenaga Kerja Sukarela (TKS) dimana para TKS ini belum memiliki keahlian dibidangnya, karena menurut Hasibuan (2011:54), dalam bukunya menjelaskan bahwa keahlian merupakan salah satu unsur penting dalam menentukan mampu atau tidaknya seseorang menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Lebih baik lagi jika penempatan, seleksi dan penarikan karyawan berdasarkan pada asas the right man in the right place and the right man in the right job sehingga para karyawan mampu untuk bekerja secara efisien dan efektif karena sesuai dengan kempuan dan keahliannya dan dengan di tunjang latar belakang pendidikan yang tepat, mengenai hal SDM juga disampaikan oleh Dini Kurnia, S.Si selaku staff Sekretariat P2TP2A Kota Tangerang Selatan:
“Kalau untuk sumber daya manusia BPMPPKB belum memadai, sebetulnya begini secara kepengurusan sih sudah tapi secara penanganan investigasi keluar kadang BPMPPKB masih kekurangan orang, nah P2TP2A kan di bentuk dari BPMPPKB juga jadi kalau kerja yaa sama- sama jadi BPMPPKB tuh ngebantu kita, ada satu orang yang suka ngebantu saya itu Pak Hairul, tapi kalau untuk di P2TP2A saya hanya sendiri, kalau untuk pengurus yang lain jarang datang karena mereka kan sibuk dengan kegiatan masing-masing karena mereka orang-orang penting semua dan bekerja di instansi masing-masing, jadi jarang sekali mereka berkantor di P2TP2A karena mereka orang-orang ahli.” (Wawancara dengan Dini Kurnia, S,Si 16 September 2014, di P2TP2A Kota Tangerang Selatan)
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia yang dimiliki BPMPPKB Kota Tangerang Selatan masih sangat kurang untuk bagian investigasi dan hanya dibebakan pada satu orang saja, selain
itu juga berdasarkan struktur organisasi P2TP2A Kota Tangerang Selatan yaitu sebagai berikut:
Gambar 4.1
Struktur Organisasi P2TP2A Kota Tangerang Selatan
Ketua I : Herlina Mustikasari, Spd, MA.
Ketua II : Hj. Listya Windarti, MKM. (Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan)
Ketua III : Dra. Haryati.
Sekretris : Drg. Mercy Apriyanti ( Kepala Sub Bidang PUG dan Kualitas Hidup Perempuan BPMPPKB Kota Tangerang Selatan)
Bendahara : Hj. Titi Suhartini, A.Md, Keb. (Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak)
I. Bidang Pelayanan Pemulihan II. Bidang Pengutan Organisasi
III.Bidang Pendidikan dan Pengembangan IV.Sekretariat
V. Relawan
(Sumber: P2TP2A Kota Tangerang Selatan, 2014)
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa Sumber Daya Manusia P2TP2A Kota Tangerang Selatan sebagian berasal dari pejabat fungsional BPMPPKB Kota Tangerang Selatan, hal ini tentu saja mengakibatkan adanya rangkap jabatan sehingga para pejabat fungsional BPMPPKB Kota Tangerang Selatan memiliki beban kerja ganda, hal ini tentunya dapat menyebabkan proses penanganan korban kekerasan dalam rumah tangga kurang efektif, karena sumber daya manusia BPMPPKB Kota Tangerang Selatan masih dibebani dengan pekerjaan lain, selain itu juga SDM BPMPPKB Kota Tangerang Selatan masih belum memadai pada petugas investigasi lapangan hal ini sangat berbeda jauh dengan BKBPP Kota Cilegon yang memiliki 33 relawan tetap yang bertugas melaksanakan investigasi.
Selain aspek input dalam mengukur produktivitas, perlu juga melihat aspek output atau hasil pelaksanaan karena kedua aspek tersebut saling berhubungan, dengan melihat aspek input seperti sumber daya manusia yang dimiliki dalam pelaksanaan penangan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maka kita perlu mengetahui berapa kasus yang ditangani oleh BPMPPKB Kota Tangerang Selatan selain itu perlu juga untuk melihat efisiensi waktu pengerjaan dalam penganan kasus, berdasar kan hasil wawancara dengan Hj. Titi Suhartini, S.ST, Kepala Sub Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BPMPPKB Kota Tangerang Selatan:
“Banyak sih yang ditangani, sekitar 80% tapi banyak juga kasus yang mundur. Kalau untuk waktu penyelesaian tergantung seperti kasus sekarang ini untuk visum saja sudah ada satu minggu.” (Wawancara dengan Hj. Titi Suhartini, S.Si 8 September 2014, di BPMPPKB Kota Tangerang Selatan)
Hal ini juga ditambahkan oleh Dini Kurnia, S.Si selaku staff Sekretariat P2TP2A Kota Tangerang Selatan:
“Wah kalo masalah waktu kita ga bisa ukur tuh mba, karena ada juga kasus yang bertahun-tahun belum selesai juga karena sulit sekali atur waktu dengan mereka, kita sih ingin nya 100% selesai, cuma kalau untuk penyelesaian kita lihat kliennya juga, jangan sampai kita kasih solusi tapi mereka pakai cara dia bukan kita yang ikut aturan mereka tapi mereka yang harus ikut aturan main kita karena ada prosedur yang terbaik buat klien, kadang susah di atur masalah waktunya, yaa itulah kendalanya tapi kasus selesai sekitar 70% sisanya memilih mundur dan tidak ada kejelasan.” (Wawancara dengan Dini Kurnia, S.Si 16 September 2014, di P2TP2A Kota Tangerang Selatan)
Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa penangan kasus KDRT masih terkesan lambat, bahkan berdasarkan hasil wawancara di atas ada sebagain korban yang lebih memilih untuk mundur pada saat proses penanganan kasus mereka sedang berjalan, hal ini semakin diperkuat berdasarkan hasil
wawancara dengan Lh selaku korban KDRT yang melapor langsung pada BPMPPKB Kota Tangerang Selatan:
“Pas pertama sehabis saya lapor itu kan saya di anjurkan apakah mau lapor ke kantor polisi atau mediasi saja, besoknya saya akhirnya memilih lapor ke polres Jakarta Selatan mba itu pun tidak di antar oleh BPMPPKB karena sibuk dengan pekerjaan mereka, saya hanya berkesempatan sekali bertemu psikolog setelah itu saya mundur mba ribet juga sih, terakhir komunikasi dengan BPMPPKB tuh waktu mau bertemu psikolog.”(Wawancara dengan Lh 18 September 2014, di kediamnya Bintaro)
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa sumber daya manusia dan anggaran samangat mempengaruhi hasil penanganan korban kekerasan dalam rumah tangga, dengan keterbatasan sumber daya BPMPPKB Kota Tangerang Selatan mengakibatkan lambatnya penanganan korban yang pada akhirnya cukup banyak korban untuk lebih memilih mundur dalam selama proses penanganan berlangsung, selain itu tidak adanya transparansi masalah pembiayaan, dan penanganan yang bebas dari biaya belum seluruhnya dapat drasakan oleh korban mengakibatkan para korban tidak mendapatkan haknya.