BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.5 Instrumen Penelitian
Instrument adalah alat untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini yang menjadi instrumen dalam penelitianya ialah peneliti itu sendiri. Karena dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen utama adalah peneliti itu sendiri. Dalam hal instrumen penelitian kaulitatif, Nasution dalam Sugiyono (2012:60) menyatakan:
”Dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya”.
Berdasarkan pernyataan tersebut dapat difahami bahwa, dalam penelitian kualitatif pada awalnya dimana permasalahan belum jelas dan pasti, maka yang menjadi instrument adalah peneliti itu sendiri. Namun selanjutnya setelah fokus penelitian menjadi jelas, maka kemungkinan akan dikembangkan instrument penelitian sederhana, yang diharapkan dapat melengkapi data dan mebandingkan dengan data yang telah ditemukan melaluli observasi dan wawancara.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan sumber primer dan sumber skunder. Sumber primer atau sumber skunder adalah data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Sumber skunder dalam penelitian ini berupa kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamatidari hasil wawancara dan observasi berperan serta (observation participant). Sedangkan data-data sekunder yang didapatkan berupa dokumen tertulis, gambar dan foto-foto. Adapun alat-alat bantu yang digunakan dalam pengumpulan data terdiri dari: panduan wawancara, alat perekam (tape recorder atau handphone), buku catatan, dan kamera digital.
Terknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa teknik, yaitu:
a. Studi Kepustakaan
Istilah studi kepustakaan digunakan dalam ragam istilah oleh para ahli, diantaranya yang dikenal adalah: kajian pustaka, tinjauan pustaka, kajian teoritis, dan tinjauan teoritis. Penggunaan istilah-istilah tersebut, pada dasarnya merujuk pada upaya umum yang harus dilalui untuk mendapatkan teori-teori yang relevan dengan topik penelitian. Oleh karena itu studi kepustakaan meliputi proses umum seperti: mengidentifikasi teori secara sistematis, penemuan pustaka, analis dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan topik penelitian. Dalam hal ini peneliti melakukan studi kepustakaan melalui hasil penelitian sejenis yang pernah dilakukan, buku-
buku, maupun artikel atau yang memuat konsep atau teori yang dibutuhkan terkait dengan upaya mengatasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) b. Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang secara umum dikenal dengan pengamatan langsung dilapangan. Namun menurut Moleong (2006:176) mengklasifikasikan atas pengamatan melalui cara berperanserta dan yang tidak berperanserta. Pada pengamatan tanpa peranserta pengamat hanya melakukan satu fungsi, yaitu mengadakan pengamatan. Pengamat berperanserta melakukan dua peranan sekaligus, yaitu sebagai pengamat dan sekaligus menjadi anggota resmi dari kelompok yang diamatinya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi tak berperan serta yaitu hanya melakukan pengamatan tanpa ikut berperan serta dalam anggota resmi dalam membantu menangani kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
c. Wawancara
Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas prtanyaan. Menurut Lincolin dan Guba dalam Moleong (2006:186) menyatakan bahwa:
“Maksud mengadakan wawancara antara lian mengkontruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain; merekontruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu; memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang, mengubah, dan memperluas, informasi yang diperoleh dari orang lain (triangulasi), dan memverifikasi, mengubah dan memperluas
konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota.”
Jadi wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif karena apabila peneliti menemukan permasalahan yang harus diteliti dan peneliti berkeinginan untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan informan lebih mendalam.
Wawancara mendalam adalah teknik pengolahan data yang pengumpulan data didasarkan pada percakapan secara intensif dengan suatu tujuan tertentu untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya. Wawancara dilakukan dengan cara mendapat berbagai informasi manyangkut masalah yang diajukan dalam penelitian. Wawancara dilakukan pada informan yang dianggap menguasai penelitian. Adapun teknik wawancara yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tersruktur yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan yang akan diajukan oleh peneliti.
Wawancara dilakukan dengan cara mempersiapkan terlebih dahulu berbagai keperluan yang dibutuhkan yaitu sampel informan, kriteria informaan, dan pedoman wawancara yang di susun dengan rapih dan terlebih dahulu dipahami oleh peneliti sebagai berikut di bawah ini.
Tabel 3.1
Daftar Pedoman Wawancara
Dimensi Pertanyaan Informan
1. Produktivitas a. Input 1. Sumberdaya manusia b. Output 1. Pengerjaan Efektif 1, Input a. Apakah sumberdaya manusia yang dimiliki telah dirasa memadai?
Kabid Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB, Kasubid BPMPPKB, sekretaris P2TP2A, Kanit PPA Kab. Tangerang, Kanit PPA Jaksel, Kabid Dinas Kesehatan, Kabid Dinas Sosial, LBH, Korban. 2. output
a. Berapa kasus KDRT yang ditangani hingga tuntas dalam setahun?
Kasubid BPMPPKB, sekretaris P2TP2A, Kanit PPA Kab. Tangerang, Kanit PPA Jaksel, LBH
b. Apakah waktu dalam penyelesaian dirasa efisien?
Kasubid BPMPPKB, sekretaris P2TP2A, Kanit PPA Kab. Tangerang, Kanit PPA Jaksel, LBH, Korban.
2. Kualitas Layanan a. Kemudahan Mendapatkan Pelayanan b. kenyamanan dalam pelayanan 1. Apakah BPMPPKM sebagai penyediaan layanan cukup dikenal oleh masyarakat, upaya apa yang dilakukan?
Kasubid BPMPPKB, sekretaris P2TP2A, Kanit PPA Kab. Tangerang, Kanit PPA Jaksel, Korban, Masyarakat Tangsel, Satgas.
2. Apakah sarana serta prasarana telah memadai? Kabid Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB, Kasubid BPMPPKB, sekretaris P2TP2A, LBH, Korban 3. Responsivitas a. Pengembangan program b. Menyusun agenda kegiatan
1. Adakah program yang di bentuk dan ditempuh untuk mencegah KDRT di masyarakat dan berjalan hingga saat ini?
Kabid Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB, Kasubid BPMPPKB, Sekretaris P2TP2A, Kanit PPA Kab. Tangerang, Kanit
PPA Jaksel, Satgas, Masyarakat Tangsel. 2. Bagaimana agenda
sosislisasi payung hukum yang ditempuh untuk mencegah KDRT di masyarakat?
Kabid Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB, Kasubid BPMPPKB, Sekretaris P2TP2A, Kanit PPA Kab. Tangerang, Kanit PPA Jaksel, Satgas,
Masyarakat Tangsel. 4. Responsibilitas
a. Komitmen Koordinasi dengan kepolisian, P2TP2A, Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan b. Prosedur kegiatan 1. Apakah BPMPPKB telah menjalankan tupoksinya sebagai koordinator dalam komunikasi yang terjalin antar instasi terkait?
Kabid Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB, Kasubid BPMPPKB, Sekretaris P2TP2A, Kanit PPA Kab. Tangerang, Kanit PPA Jaksel, Kabid Dinas Kesehatan, Kabid Dinas Sosial, LSM, Satgas. 2. Apakah pelayanan yang
diberikah telah sesuai prosedur? Kabid Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB, Kasubid BPMPPKB, Sekretaris P2TP2A, Korban. 5. Akuntabilitas
Tanggung jawab dalam kegitan a. Controlling b. Sanksi 1. Apakah BPMPPKB ikut mengontrol dalam penyelesaian kasus hingga tuntas? Kabid Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB, Kasubid BPMPPKB, Sekretaris P2TP2A, Kanit PPA Kab. Tangerang, Kanit PPA Jaksel, Kabid Dinas Kesehatan, Kabid Dinas Sosial, LBH, Korban, Satgas.
2. Adakah sanksi tegas yang diberikan pada anggota birokrasi publik? Kabid Pemberdayaan Perempuan BPMPPKB, Kasubid BPMPPKB (Sumber : Peneliti, 2014)
a. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya mislanya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2009:240).