• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Proteksi Kebakaran Aktif

2.5.3 Alarm Kebakaran

Alarm kebakaran adalah komponen dari sistem yang memberikan isyarat atau tanda adanya suatu kebakaran (Permenaker No.02 Tahun 1983) yang dapat berupa:

• Alarm kebakaran yang memberikan tanda atau isyarat berupa bunyi khusus (audible alarm)

• Alarm kebakaran yang memberikan tanda atau isyarat yang tertangkap oleh pandangan mata secara jelas (visible alarm)

29

Tabel 2.3 Penyediaan Sistem Deteksi dan Alarm Menurut Fungsi, Jumlah dan Luas Lantai Bangunan.

Kelompo

k Fungsi Kelas Hunian Fungsi Bangunan

Jumla

1a Bangunan gedung hunian tunggal

Rumah tinggal 1 - -

1b Bangunan gedung hunian

Asrama/Kos/Rum ah Tamu/Hostel

(luas < 300 m2)

1 300 -

2 Bangunan gedung Hunian

Terdiri dari 2 atau lebih unit hunian

(RUKO)

3 Bangunan gedung Hunian di luar

point 2 4 Bangunan gedung

hunian campuran 5 Bangunan gedung

kantor

30 6 Bangunan gedung

perdagangan

Rumah makan, toko, salon, pasar,

dan lainlain

1 400 (M)

> 4 T.A.B (O) 7 Bangunan gedung

penyimpanan/guda 8 Bangunan gedung

Lab/Industri/Pabri 9a Bangunan gedung

umum 9b Bangunan gedung

umum

10a Struktur, bukan hunian

Garasi pribadi 1 400 (M) 2 ~ 4 200 (M)

> 4 T.A.B (O)

Sumber: Permen PU No.26 tahun 2008

Ket: T.A.B = Tidak ada batas M = Manual S = Detektor Asap O = Otomatik

31 2.5.4 Sprinkler

Sprinkler adalah alat pemancar air untuk pemadam kebakaran yang mempunyai tudung berbentuk deflector pada ujung mulut pancarnya, sehingga air dapat memancar ke semua arah secara merata (Kementerian Pekerjaan Umum,2008). Sedangkan yang dimaksud dengan sprinkler otomatis adalah suatu sistem pemancar air yang aktif jika suhu pada ruangannya mencapai tingkatan tertentu.

Tabel 2.4 Kapasitas Minimum Reservoir

Jenis Kebakaran Kapasitas Minimum Reservoir

Bahaya kebakaran ringan 9m3

Bahaya kebakaran sedang I 12m3

Bahaya kebakaran sedang II 22m3

Bahaya kebakaran sedang III 33m3

Bahaya kebakaran berat 69-290m3

Sumber: SNI 03-3989 tahun 2000

Tabel 2.5 Syarat Tekanan Air dan Kapasitas Pompa pada Komponen Pemipaan Jenis Kebakaran Tekanan Air Kapasitas Aliran Bahaya kebakaran ringan 10bar 300 liter/menit Bahaya kebakaran sedang I 12bar 375 liter/menit Bahaya kebakaran sedang II 14bar 725 liter/menit Bahaya kebakaran sedang

III

16bar 1100 liter/menit

Bahaya kebakaran berat 22bar 2300 - 9650 liter/menit

Sumber: SNI 03-3989 tahun 2000

32

Persyaratan untuk sprinkler otomatis menurut SNI 03-3989 tahun 2000 sebagai berikut:

• Jarak maksimal antar sprinkler untuk bangunan bahaya kebakaran sedang 4-5 meter.

• Terdapat sambungan kembar dinas kebakaran dengan ukuran 2,5 inci

• Bentuk kopling sambungan sama dengan dinas pemadam kebakaran

• Sumber daya sprinkler minimal berasal dari dua sumber

• Pemipaan sprinkler dicat warna merah kecuali kepala sprinkler

2.5.5 Sistem Deteksi

Sistem deteksi adalah alat yang berfungsi mendeteksi secara dini adanya suatu kebakaran awal (SNI 03-6574 tahun 2000) yang terdiri dari:

• Detector asap yaitu: detector yang bekerja berdasarkan terjadinya akumulasi asap dalam jumlah tertentu. Detector asap (smoke) dapat mendeteksi kebakaran jauh lebih cepat dari detector panas. Persyaratan untuk detektor asap yaitu:

1. Dipasang pada jarak lebih dari 15 m antara AC dengan detector sedangkan antara exhaush dengan detector dipasang pada jarak kurang dari 15 meter

33

2. Untuk ruangan dengan luas 92 m2 dengan ketinggian langit - langit 3 m harus dipasang 1 buah alat detector.

3. Jarak detector pada ruangan efek kurang dari 12 m dengan suhu ruangan kurang dari dari 38°C

• Detector panas yaitu: detector yang bekerja berdasarkan pengaruh panas (temperatur) tertentu pengindraan panas.

Persyaratan untuk detektor panas yaitu:

1. Dipasang pada jarak lebih dari 15meter antara AC dengan detector sedangkan antara exhaush dengan detector dipasang pada jarak kurang dari 15 m

2. Untuk ruangan dengan luas 46 m2 dengan ketinggian langitlangit 3 m harus dipasang 1 buah alat detector.

3. Jarak detector pada ruangan sirkulasi kurang dari 10 m.

Tabel 2.6 Pemilihan Jenis Detector Sesuai Dengan Fungsi Ruangannya

Jenis Detektor Fungsi Ruangan

Asap Ruang peralatan kontrol bangunan,ruangan resepsionis, ruang tamu, ruang mesin, ruang lift, ruang

pompa, ruang AC, tangga, koridor, lobi, aula, perpustakaan dan gudang

Gas Ruang transformator/diesel, ruang yang berisi bahan yang mudah menimbulkan gas yang mudah terbakar Nyala api Gudang material yang mudah terbakar, ruang kontrol

instalasi peralatan vital

Sumber: SNI 03-6574 tahun 2000

34 2.5.6 Hidran

Hidran adalah suatu sistem pemadam kebakaran tetap yang menggunakan media pemadam air bertekanan yang dialirkan melalui pipa-pipa dan selang kebakaran (Depnaker,1987). Hidran biasanya dilengkapi dengan selang (fire hose) yang disambungkan dengan kepala selang (nozzle) yang tersimpan didalam suatu kotak baja dengan cat warna merah. Untuk menghubungkan selang dengan kepala selang, digunakan alat yang disebut dengan kopling 25 yang dimiliki oleh dinas pemadam kebakaran setempat sehingga bisa disambung ketempat-tempat yang jauh. Perletakan kotak hidran harus mudah dilihat, mudah dicapai, tidak terhalang oleh benda lain. Kotak hidran dicat warna merah dan di tengah-tengah kotak Hidran diberi tulisan “HIDRAN”

dengan warna putih, tinggi tulisan minimum 10 cm (SNI-1745-1989 Bab 2 bagian 10 mengenai perletakan hidran).

Berdasarkan jenis penempatannya, hidran terbagi menjadi dua:

• Hidran Gedung

Hidran gedung adalah hidran yang terletak di dalam gedung dan sistem serta peralatannya disediakan serta dipasang dalam bangunan gedung tersebut.

• Hidran Halaman

Hidran halaman adalah hidran yang terletak diluar bangunan, sedangkan instalasi dan peralatannya disediakan serta dipasang di lingkungan tersebut.

35

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam hidran yaitu:

• Persyaratan teknis:

1. Sumber persediaan air harus diperhitungkan untuk pemakaian selama 30 menit

2. Pompa kebakaran dan peralatan listrik lainnya harus mempunyai aliran listrik tersendiri dari sumber daya listrik darurat.

3. Selang kebakaran dengan diameter maksimum 1,5 inci harus terbuat dari bahan yang tahan panas, panjang maksimum selang harus 30 meter.

4. Harus disediakan kopling penyambung yang sama dengan kopling dari unit pemadam kebakaran.

Tabel 2.7 Penyediaan Hidran Berdasarkan Luas Lantai dan Klasifikasi Bangunan Klasifikasi Bangunan Jumlah Lantai Jumlah dan Luas Lantai

A 1 lantai 1 buah per 1000 m2

B 2 lantai 1 buah per 1000 m2

C 4 lantai 1 buah per 1000 m2

D 8 lantai 1 buah per 800 m2

E >8 lantai 1 buah per 200 m2

Sumber: Kepmen PU No.10 tahun 2000

36 2.6 Proteksi Kebakaran Pasif

Dalam banyak kasus, proteksi pasif yang baik akan membakar ruangannya sendiri tanpa menyebar ke area lainnya. Keunggulan lain dari sistem proteksi kebakaran pasif adalah melindungi penghuni gedung untuk melaukan evakuasi dengan selamat. Hal ini dikarenakan kebakaran tertahan dalam satu ruangan dalam waktu yang lama. Alat proteksi ini juga melindungi bangunan dari kehancuran atau kerusakan akibat kebakaran. Sehingga dapat menekan kerugian yang diakibatkan oleh kebakaran baik kerugian materi maupun korban jiwa

2.6.1 Definisi Proteksi Kebakaran Pasif

Proteksi kebakaran pasif berhubungan dengan pendekatan desain keseluruhan bangunan yang berkaitan dengan api dan kesesuaian material dalam pembangunan sebuah bangunan. Kompartmentasi api, misalnya dicapai dengan penggunaan komponen bangunan yang dinilai tahan terhadap api seperti dinding, lantai, pintu dan sebagainya.

Komponen bangunan harus memenuhi standar ketahanan api, yang jika terjadi musibah kebakaran memiliki kemampuan untuk membatasi penyebaran api dan asap dalam jangka waktu tertentu. Pendekatan ini akan memberikan waktu yang cukup bagi penghuni untuk keluar dari bangunan dengan aman dan petugas pemadam kebakaran dalam melakukan pekerjaan mereka (Zografos, 2019).

Pemerintah menyadari pentingnya proteksi risiko kebakaran di perumahan dan membuat beberapa peraturan terkait hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak bencana kebakaran. Meskipun

37

begitu, tak semua dari peraturan terkait proteksi kebakaran itu mencantumkan aturan yang khusus diberlakukan bagi bangunan perumahan, dalam konteks ini adalah landed housing (perumahan).

Aturan yang bersifat nasional mengenai proteksi risiko kebakaran di Indonesia antara lain adalah;

• Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1992

• Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000

• Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:

26/PRT/M/2008 tanggal 30 Desember 2008 2.6.2 Jalur Akses

Proteksi kebakaran dalam sebuah bangunan mengacu pada regulasi sistem proteksi kebakaran pada masing-masing wilayah dimana gedung tersebut dibangun. Dalam Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005, sebuah bangunan harus memiliki penyediaan akses kendaraan penyelamatan, seperti kendaraan pemadam kebakaran dan ambulan, untuk masuk ke dalam tapak bangunan gedung. Berdasarkan SNI 03-1735-2000 tentang tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung adalah sebagai berikut:

• Jalur akses masuk dan lapisan perkerasan

Setiap bangunan harus menyediakan perkerasan yang ditempatkan sedemikian rupa, sehingga dapat langsung

38

mencapai bukaan akses pemadam kebakaran pada bangunan.Perkerasan tersebut harus dapat mengakomodasi jalan masuk dan manuver mobil pemadam, snorkel, mobil pompa, dan mobil tangga dan platform hidrolik, serta mempunyai spesifikasi tertentu.

Lapisan perkerasan harus memiliki lebar minimum 6 m dan panjang minimum 15 m, dan lapis perkerasan harus ditempatkan tidak boleh kurang dari 2 m dari tepi terdekat atau lebih dari 10 m dari pusat posisi bukaan akses pemadam kebakaran. Lapis perkerasan harus dibuat sedatar mungkin dan tinggi ruang bebas di jalur masuk mobil pemadam minimum 5 m untuk dapat dilalui peralatan pemadam tersebut.

Bidang kerja dengan lebar 4 m sebaiknya diletakkan sepanjang sisi bangunan dimana bukaan akses ditempatkan dan tidak boleh menaikkan ketinggian bidang kerja. Bidang kerja dengan lebar 4 m sepanjang sisi bangunan digunakan untuk manuver tangga besi petugas pemadam kebakaran.

Panjang maksimum 45 m antara ujung jalan akses mobil pemadam kebakaran dan ujung terjauh dari bidang kerja untuk mencegah kelebihan gerakan dari petugas pemadam kebakaran

39

Gambar 2.2 Jalur Akses Sumber: SNI 03-1735-2000

• Penandaan jalur

Area jalur akses pada kedua sisinya harus ditandai dengan bahan yang kontras dan bersifat reflektif sehingga jalur masuk dan lapis perkerasan dapat terlihat pada malam hari. Penandaan tersebut diberi jarak antara tidak melebihi 3 m satu sama lain dan harus ditempatkan pada kedua sisi jalur. Tulisan “JALUR PEMADAM KEBAKARAN – JANGAN DIHALANGI” harus dibuat dengan tinggi huruf tidak kurang dari 50 mm.

2.6.3 Ruang Terbuka Hijau

Secara umum ruang terbuka publik (open spaces) di perkotaan terdiri dari ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau. Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi (endemik maupun introduksi) guna mendukung manfaat ekologis, sosial-budaya dan arsitektural yang dapat memberikan manfaat ekonomi (kesejahteraan) bagi

40

masyarakatnya. Ruang terbuka non-hijau dapat berupa ruang terbuka yang diperkeras (paved) maupun ruang terbuka biru (RTB) yang berupa permukaan sungai, danau, maupun areal-areal yang diperuntukkan sebagai genangan retensi.

Fungsi ruang terbuka hijau dalam mengendalikan bahaya lingkungan terutama difokuskan pada dua aspek penting: pencegahan bahaya kebakaran dan perlindungan dari keadaan darurat berupa gempa bumi. Ruang terbuka hijau dengan komponen penyusun utamanya berupa vegetasi mampu mencegah menjalarnya luapan api kebakaran secara efektif, dikarenakan vegetasi mengandung air yang menghambat sulutan api dari sekitarnya. Haryadi (1993) membagi sistem budidaya dalam ruang terbuka hijau dengan dua sistem yaitu sistem monokultur dan sistem aneka ragam hayati. Sistem monokultur hanya terdiri dari satu jenis tanaman saja, sedang sistem aneka ragam hayati merupakan sistem ruang terbuka hijau dengan berbagai jenis tanaman (kombinasi antar jenis) dan dapat juga berupa kombinasi antar flora dan fauna.

2.6.4 Penataan Lingkungan

Menurut Wirawibawa (2005), penanggulangan kebakaran pada sebuah bangunan membutuhkan suatu penataan lingkungan yang didalamnya terdapat beberapa penekanan utama antara lain: site plan dan lingkungan bangunan, struktur bangunan yang tahan api, sarana penyelamatan, tata massa bangunan, dan penggunaan lahan.

41

Dari tinjauan tersebut bisa disimpulkan bahwa kebakaran dalam sebuah bangunan disebabkan oleh beberapa hal antara lain kepadatan hunian, infrastruktur kebakaran yang belum memadai seperti hidran, jalan yang belum bisa dilewati oleh mobil pemadam kebakaran, dan kondisi fisik bangunannya.Penataan lingkungan ini dibagi menjadi dua yakni:

• Indikator Fisik Bangunan

Karakteristik pada indikator fisik bangunan antara lain karakteristik jarak antar bangunan, ketinggian bangunan, fungsi bangunan, jenis material bangunan dan ketersediaan ruang terbuka.

• Indikator Lingkungan

Karakteristik pada indikator lingkungan antara lain karakteristik hirarki jalan, sumber air, jaringan listrik, dan ruang terbuka.

2.6.5 Brandgang

Brandgang adalah batas belakang antara bangunan rumah (back to back) yang menjadi batas lingkungan permukiman secara fisik.

Biasanya, lebar jalur ini adalah 2 m yang dibuat untuk keselamatan penghuni rumah jika terjadi kebakaran. Keberadaan brandgang ini menjadi penting karena kepadatan bangunan yang tidak terkontrol,

42

maka dalam perencanaan kawasan permukiman, jalur ini sering tidak diperhitungkan dengan baik (SNI 03-1735-2000).

Gambar 2.3 Brandgang Sumber: SNI 03-1735-2000

2.6.6 Material dan Proteksi Kebakaran Struktural

Bahan tahan api, juga dikenal sebagai penghambat api, mampu menahan suhu yang sangat tinggi dan dirancang untuk membantu memperlambat penyebaran api. Material tahan api mampu mereduksi aliran panas melalui ketebalan material. Meskipun bahan tersebut dapat disebut "tahan api", tidak ada bahan yang 100 persen tahan api karena semua bahan pada akhirnya akan terpengaruh jika suhu cukup tinggi.

Material – material yang dapat digunakan pada bangunan seperti:

• Kaca tahan api

Kaca tahan api merupakan salah satu jenis kaca yang memiliki tingkat ketahanan yang cukup tinggi terhadap api.

Hal ini disebabkan oleh adanya dua lapisan yang membentuknya. Saat terjadi kebakaran, maka kaca tidak

43

langsung pecah secara menyeluruh. Sebab, ada kaca luar berfungsi sebagai penahan panas api. Jika panas api sudah semakin tinggi, kaca lapisan luar akan pecah. Kemudian panas pun baru bisa menyentuh kaca lapisan dalam.

• Beton

Beton merupakan bahan bangunan yang sering diaplikasikan pada bangunan rumah ataupun perkantoran.

Hal tersebut dipilih karena beton memiliki ketahanan terhadap api yang cukup tinggi. Butuh waktu lama bagi panas api untuk merusak struktur beton yang kokoh. Selain itu, daya tahan beton terhadap api ternyata juga lebih baik dibandingkan dengan baja. Oleh karena itu, beton seringkali menjadi pelindung baja dalam konstruksi bangunan.

• Gypsum

Salah satu cara mengantisipasi dan mengurangi potensi kerugian nyawa dalam musibah kebakaran adalah dengan memasang sistem proteksi pasif, terutama dalam gedung bertingkat. Sistem ini dapat dilakukan dengan memasang sistem partisi, dinding, atau sistem plafon dari gypsum tahan api yang banyak di jual dipasaran.

44

Setiap elemen bangunan yang dipasang atau disediakan untuk menahan penyebaran api pada bukaan, sambungan-sambungan, tempat-tempat penembusan struktur untuk utilitas harus dilindungi terhadap kebakaran sehingga diperoleh kinerja yang memadai dari elemen tersebut. Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.

26/PRT/M/2008, terdapat empat tipe konstruksi tahan api:

• Klasifikasi konstruksi bangunan gedung tipe I (konstruksi tahan api)

Bangunan gedung yang dibuat dengan bahan tahan api (beton, bata dan lain-lain dengan bahan logam yang dilindungi) dengan struktur yang dibuat sedemikian, sehingga tahan terhadap peruntukan dan perambatan api.

• Klasifikasi konstruksi bangunan gedung tipe II (tidak mudah terbakar, konstruksi kayu berat)

Bangunan gedung yang seluruh bagian konstruksinya (termasuk dinding, lantai dan atap) terdiri dari bahan yang tidak mudah terbakar yang tidak termasuk sebagai bahan tahan api, termasuk bangunan gedung konstruksi kayu dengan dinding bata, tiang kayu 20,3 cm, lantai kayu 76 mm, atap kayu 51 mm dan balok kayu 15,2 x 25,4 cm.

• Klasifikasi konstruksi bangunan gedung tipe III (biasa) Bangunan gedung dengan dinding luar bata atau bahan tidak mudah terbakar lainnya sedangkan bagian bangunan

45

gedung lainnya terdiri dari kayu atau bahan yang mudah terbakar.

• Klasifikasi konstruksi bangunan gedung tipe IV (kerangka kayu)

Bangunan gedung (kecuali bangunan gedung rumah tinggal) yang strukturnya sebagian atau seluruhnya terdiri dari kayu atau bahan mudah terbakar yang tidak tergolong dalam konstruksi bangunan gedung biasa (tipe III)

2.7 Komponen Pemeriksaan dan Keselamatan Kebakaran Bangunan

Pelaksanaan pemeriksaan keandalan bangunan terhadap bahaya kebakaran harus dilakukan oleh tenaga ahli yang sesuai dengan bidangnya, dan hasilnya disahkan oleh instansi yang berwenang. Menurut Peraturan Departemen Pekerjaan Umum No.11C Tahun 2005 tentang Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Gedung, komponen utilitas antara lain:

Tabel 2.8 Komponen Pemeriksaan

No

Sumber air Jalan keluar

2. Siames

46

3. Alat

pemadam api ringan

Ketahanan api dan stabilitas

Hidran halaman Landasan Helikopter

4. Hidran bangunan

Kompartemenisasi

ruang - -

5. Sprinkler Perlindungan

bukaan - -

6. Sistem pemadam

luapan

- - -

7. Pengendali

asap - - -

8. Deteksi asap - - -

9. Pembuangan

asap - - -

10. Lift

Kebakaran - - -

11. Cahaya

darurat - - -

12. Listrik

darurat - - -

13. Ruang pengendali

operasi

- - -

Sumber: Peraturan Departemen PU No. 11 C Tahun 2005 tentang Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung

47 2.7.1 Kelengkapan Tapak

Perencanaan tapak adalah perencanaan yang mengatur tapak (site) bangunan, yang meliputi tata letak dan orientasi bangunan, jarak antar bangunan, penempat an hidran halaman, penyediaan ruang – ruang terbuka dan sebagainya dalam rangka mencegah dan meminimasi bahaya kebakaran. (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.

26/PRT/M/2008). Kelengkapan tapak ini merupakan bagian dari sistem proteksi pasif yang berpengaruh besar terhadap risiko kebakaran yang terjadi pada tapak sebuah bangunan.

2.7.2 Sarana Penyelamatan

Setiap bangunan harus dilengkapi dengan sarana jalan keluar yang dapat digunakan oleh penghuni bangunan gedung, sehingga memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa terhambat oleh hal – hal yang diakibatkan oleh keadaan darurat (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 26/PRT/M/2008).

Tujuan dari adanya sarana penyelamatan adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan atau luka pada waktu melakukan evakuasi pada saat jalan darurat terjadi. (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.

26/PRT/M/2008)

Sarana penyelamatan adalah sarana yang dipersiapkan untuk dipergunakan oleh penghuni maupun petugas pemadam kebakran dalam upaya penyelamatan jiwa manusia maupun harta benda bila

48

terjadi kebakaran pada suatu bangunan gedung dan lingkungan.

Komponen sarana penyelamatan menurut (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 26/PRT/M/2008) antara lain:

• Eksit

• Keandalan sarana jalan keluar

• Pintu

• Ruang terlindung dan proteksi tangga

• Jalur terusan eksit

• Jumlah sarana jalan keluar

• Susunan jalan keluar

• Eksit pelepasan

• Iluminasi sarana jalan keluar

• Pencahayaan darurat

• Penandaan Sarana jalan keluar

2.8 Komponen Penilaian

Instrumen penilaian yang digunakan adalah analisa gap dan Nilai Keandalan Sistem Proteksi Kebakaran Bangunan (NKSKB). Analisa gap ini dapat digunakan dalam perencanaan dan pengembangan sebuah bangunan.

2.8.1 Analisa Gap

Analisis kesenjangan adalah proses analisa yang membandingkan kinerja atau hasil aktual dengan apa yang diharapkan atau diinginkan.

Metode ini memberikan cara untuk mengidentifikasi kapabilitas, proses, praktik, teknologi atau keterampilan yang kurang optimal. Dari proses identifikasi tersebut, dapat ditemukan tingkat kesenjangan antara

49

kondisi existing dari hal yang diteliti dan kondisi idealnya. (Col Perks, 2003).

Framework arsitektur yang menggunakan instrumen ini adalah framework TOGAF (The Open Group Architecture Framework). Pada framework ini, tinjauan dapat dilakukan dari segi persyaratan elemen arsitektur yang telah terpenuhi dan elemen arsitektur yang masih kurang dan perlu ditambah pada sebuah bangunan.

Tabel 2.9 Persentase Analisa Gap

No Keterangan Analisa Gap

1 Sangat sesuai dengan peraturan 80% ≤ X ≤ 100%

2 Sesuai dengan peraturan 60% ≤ X ≤ 80%

3 Cukup sesuai dengan peraturan 40% ≤ X ≤ 60%

4 Kurang sesuai peraturan 20% ≤ X ≤ 40%

5 Sangat tidak memenuhi 0% ≤ X ≤ 20%

Sumber: Col Perks, 2003

2.8.2 Nilai Keandalan Sistem Proteksi Kebakaran Bangunan (NKSKB)

Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan, yaitu hasil pengukuran kinerja sistem berdasarkan standar keselamatan bangunan yang berlaku dan/atau pengetahuan/pengalaman tim pemeriksa(Peraturan Departemen PU No.11 Tahun 2005) Pelaksanaan pemeriksaan keandalan bangunan terhadap bahaya kebakaran harus

50

dilakukan oleh tenaga ahli yang sesuai dengan bidangnya, dan hasilnya disahkan oleh instansi yang berwenang.

Keandalan merupakan tingkat kesempurnaan kondisi proteksi yang menjamin keselamatan, fungsi dan kenyamanan suatu bangunan dan lingkungannya selama masa pakai dari gedung tersebut dari segi bahayanya terhadap kebakaran. Keselamatan gedung merupakan hal yang menjamin keselamatan dan dalam suatu gedung beserta isinya (manusia, peralatan, barang) yang diakibatkan oleh kegagalan utilitas bangunan.

Tabel 2.10 Variabel Penilaian NKSKB

No. Variabel

1.

Kelengkapan Tapak

Sumber air

2. Jalan lingkungan

3. Jarak antar bangunan

4. Hidran halaman

1. Sarana

Penyelamatan

Jalan keluar

2. Konstruksi jalan keluar

1.

Sistem Proteksi Aktif

Deteksi dan alarm

2. Siames connection

3. Alat pemadam api ringan

4. Hidran bangunan

5. Sprinkler

6. Sistem pemadam luapan

7. Pengendali asap

8. Deteksi asap

9. Pembuangan asap

51

10. Lift kebakaran

11. Pencahayaan darurat

12. Listrik darurat

13. Ruang pengendalian operasi

1.

Sistem Proteksi Pasif

Ketahanan api struktur bangunan

2. Kompartemenisasi ruang

3. Perlindungan bukaan

2.8.2.1 Kriteria Penilaian

Kondisi setiap komponen atau bagian bangunan harus dinilai atau dievaluasi. Nilai kondisi komponen proteksi kebakaran bangunan dibagi dalam tiga tingkat, yaitu: BAIK=“B“ , SEDANG atau CUKUP = “C“ dan KURANG = “K“ (Ekuivalensi nilai B adalah 100, C adalah 80 dan K adalah 60). Penilaian didasarkan pada kriteria atau pembatasan kondisi komponen bangunan. (Peraturan Pd – T – 11 – 2005 – C tentang Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung).

Tabel 2.11 Tingkat Penilaian Proteksi Kebakaran Sumber: Peraturan Departemen PU No.11 C Tahun 2005 tentang

Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung

Nilai Kesesuaian Keandalan

> 80 - 100 Sesuai persyaratan Baik (B) 60 - 80 Terpasang tetapi ada sebagian

kecil instalasi yang tidak sesuai persyaratan

Cukup (C)

52

Untuk kriteria penilaian tiap variabel NKSKB, dapat ditinjau pada peraturan Pd – T – 11- 2005 – C sebagai berikut:

Tabel 2.12 Penilaian Komponen Kelengkapan Tapak

No. Variabel KSKB Nilai Kriteria Penilaian

1. Sumber Air

B

Tersedia dengan kapasitas yang memenuhi persyaratan minimal terhadap fungsi bangunan

C

Tersedia dengan kapasitas dibawah persyaratan minimal terhadap fungsi bangunan K Tidak tersedia

2 Jalan

Lingkungan

B

• Tersedia dengan lebar minimal 6m

• Diberi pengerasan

• Lebar jalan masuk minimal 4 m.

C Tersedia dengan lebar kurang dari persyaratan minimal.

K Tidak tersedia

3. Jarak Antar

Bangunan B

Sesuai Persyaratan (Tinggi s/d 8 – 3 m; 8 s/d 14 – 6 m; tinggi

> 40m - >8 m)

< 60 Tidak sesuai sama sekali Kurang (K) Sumber: Peraturan Pd – T – 11 – 2005 – C tentang Pemeriksaan

Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung

53 C

Tidak sesuai Persyaratan (Tinggi s/d 8 – 3 m; 8 s/d 14 – pada tempat yang mudah dijangkau

• Berfungsi secara sempurna dan lengkap

• Supply air 38 l/detik dan bertekanan 35 Bar

C

Tersedia, tetapi tidak berfungsi secara sempurna atau supply air dan tekanannya kurang daripada persyaratan minimal.

K Tidak tersedia sama sekali

Tabel 2.13 Penilaian Komponen Sarana Penyelamatan

No. Variabel

KSKB Nilai Kriteria Penilaian

1. Jalan Keluar B

1. Jalan Keluar B