BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Proteksi Kebakaran Pasif
2.6.1 Definisi Proteksi Kebakaran Pasif
Proteksi kebakaran pasif berhubungan dengan pendekatan desain keseluruhan bangunan yang berkaitan dengan api dan kesesuaian material dalam pembangunan sebuah bangunan. Kompartmentasi api, misalnya dicapai dengan penggunaan komponen bangunan yang dinilai tahan terhadap api seperti dinding, lantai, pintu dan sebagainya.
Komponen bangunan harus memenuhi standar ketahanan api, yang jika terjadi musibah kebakaran memiliki kemampuan untuk membatasi penyebaran api dan asap dalam jangka waktu tertentu. Pendekatan ini akan memberikan waktu yang cukup bagi penghuni untuk keluar dari bangunan dengan aman dan petugas pemadam kebakaran dalam melakukan pekerjaan mereka (Zografos, 2019).
Pemerintah menyadari pentingnya proteksi risiko kebakaran di perumahan dan membuat beberapa peraturan terkait hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak bencana kebakaran. Meskipun
37
begitu, tak semua dari peraturan terkait proteksi kebakaran itu mencantumkan aturan yang khusus diberlakukan bagi bangunan perumahan, dalam konteks ini adalah landed housing (perumahan).
Aturan yang bersifat nasional mengenai proteksi risiko kebakaran di Indonesia antara lain adalah;
• Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1992
• Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor 10/KPTS/2000
• Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:
26/PRT/M/2008 tanggal 30 Desember 2008 2.6.2 Jalur Akses
Proteksi kebakaran dalam sebuah bangunan mengacu pada regulasi sistem proteksi kebakaran pada masing-masing wilayah dimana gedung tersebut dibangun. Dalam Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005, sebuah bangunan harus memiliki penyediaan akses kendaraan penyelamatan, seperti kendaraan pemadam kebakaran dan ambulan, untuk masuk ke dalam tapak bangunan gedung. Berdasarkan SNI 03-1735-2000 tentang tata cara perencanaan akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung adalah sebagai berikut:
• Jalur akses masuk dan lapisan perkerasan
Setiap bangunan harus menyediakan perkerasan yang ditempatkan sedemikian rupa, sehingga dapat langsung
38
mencapai bukaan akses pemadam kebakaran pada bangunan.Perkerasan tersebut harus dapat mengakomodasi jalan masuk dan manuver mobil pemadam, snorkel, mobil pompa, dan mobil tangga dan platform hidrolik, serta mempunyai spesifikasi tertentu.
Lapisan perkerasan harus memiliki lebar minimum 6 m dan panjang minimum 15 m, dan lapis perkerasan harus ditempatkan tidak boleh kurang dari 2 m dari tepi terdekat atau lebih dari 10 m dari pusat posisi bukaan akses pemadam kebakaran. Lapis perkerasan harus dibuat sedatar mungkin dan tinggi ruang bebas di jalur masuk mobil pemadam minimum 5 m untuk dapat dilalui peralatan pemadam tersebut.
Bidang kerja dengan lebar 4 m sebaiknya diletakkan sepanjang sisi bangunan dimana bukaan akses ditempatkan dan tidak boleh menaikkan ketinggian bidang kerja. Bidang kerja dengan lebar 4 m sepanjang sisi bangunan digunakan untuk manuver tangga besi petugas pemadam kebakaran.
Panjang maksimum 45 m antara ujung jalan akses mobil pemadam kebakaran dan ujung terjauh dari bidang kerja untuk mencegah kelebihan gerakan dari petugas pemadam kebakaran
39
Gambar 2.2 Jalur Akses Sumber: SNI 03-1735-2000
• Penandaan jalur
Area jalur akses pada kedua sisinya harus ditandai dengan bahan yang kontras dan bersifat reflektif sehingga jalur masuk dan lapis perkerasan dapat terlihat pada malam hari. Penandaan tersebut diberi jarak antara tidak melebihi 3 m satu sama lain dan harus ditempatkan pada kedua sisi jalur. Tulisan “JALUR PEMADAM KEBAKARAN – JANGAN DIHALANGI” harus dibuat dengan tinggi huruf tidak kurang dari 50 mm.
2.6.3 Ruang Terbuka Hijau
Secara umum ruang terbuka publik (open spaces) di perkotaan terdiri dari ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau. Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi (endemik maupun introduksi) guna mendukung manfaat ekologis, sosial-budaya dan arsitektural yang dapat memberikan manfaat ekonomi (kesejahteraan) bagi
40
masyarakatnya. Ruang terbuka non-hijau dapat berupa ruang terbuka yang diperkeras (paved) maupun ruang terbuka biru (RTB) yang berupa permukaan sungai, danau, maupun areal-areal yang diperuntukkan sebagai genangan retensi.
Fungsi ruang terbuka hijau dalam mengendalikan bahaya lingkungan terutama difokuskan pada dua aspek penting: pencegahan bahaya kebakaran dan perlindungan dari keadaan darurat berupa gempa bumi. Ruang terbuka hijau dengan komponen penyusun utamanya berupa vegetasi mampu mencegah menjalarnya luapan api kebakaran secara efektif, dikarenakan vegetasi mengandung air yang menghambat sulutan api dari sekitarnya. Haryadi (1993) membagi sistem budidaya dalam ruang terbuka hijau dengan dua sistem yaitu sistem monokultur dan sistem aneka ragam hayati. Sistem monokultur hanya terdiri dari satu jenis tanaman saja, sedang sistem aneka ragam hayati merupakan sistem ruang terbuka hijau dengan berbagai jenis tanaman (kombinasi antar jenis) dan dapat juga berupa kombinasi antar flora dan fauna.
2.6.4 Penataan Lingkungan
Menurut Wirawibawa (2005), penanggulangan kebakaran pada sebuah bangunan membutuhkan suatu penataan lingkungan yang didalamnya terdapat beberapa penekanan utama antara lain: site plan dan lingkungan bangunan, struktur bangunan yang tahan api, sarana penyelamatan, tata massa bangunan, dan penggunaan lahan.
41
Dari tinjauan tersebut bisa disimpulkan bahwa kebakaran dalam sebuah bangunan disebabkan oleh beberapa hal antara lain kepadatan hunian, infrastruktur kebakaran yang belum memadai seperti hidran, jalan yang belum bisa dilewati oleh mobil pemadam kebakaran, dan kondisi fisik bangunannya.Penataan lingkungan ini dibagi menjadi dua yakni:
• Indikator Fisik Bangunan
Karakteristik pada indikator fisik bangunan antara lain karakteristik jarak antar bangunan, ketinggian bangunan, fungsi bangunan, jenis material bangunan dan ketersediaan ruang terbuka.
• Indikator Lingkungan
Karakteristik pada indikator lingkungan antara lain karakteristik hirarki jalan, sumber air, jaringan listrik, dan ruang terbuka.
2.6.5 Brandgang
Brandgang adalah batas belakang antara bangunan rumah (back to back) yang menjadi batas lingkungan permukiman secara fisik.
Biasanya, lebar jalur ini adalah 2 m yang dibuat untuk keselamatan penghuni rumah jika terjadi kebakaran. Keberadaan brandgang ini menjadi penting karena kepadatan bangunan yang tidak terkontrol,
42
maka dalam perencanaan kawasan permukiman, jalur ini sering tidak diperhitungkan dengan baik (SNI 03-1735-2000).
Gambar 2.3 Brandgang Sumber: SNI 03-1735-2000
2.6.6 Material dan Proteksi Kebakaran Struktural
Bahan tahan api, juga dikenal sebagai penghambat api, mampu menahan suhu yang sangat tinggi dan dirancang untuk membantu memperlambat penyebaran api. Material tahan api mampu mereduksi aliran panas melalui ketebalan material. Meskipun bahan tersebut dapat disebut "tahan api", tidak ada bahan yang 100 persen tahan api karena semua bahan pada akhirnya akan terpengaruh jika suhu cukup tinggi.
Material – material yang dapat digunakan pada bangunan seperti:
• Kaca tahan api
Kaca tahan api merupakan salah satu jenis kaca yang memiliki tingkat ketahanan yang cukup tinggi terhadap api.
Hal ini disebabkan oleh adanya dua lapisan yang membentuknya. Saat terjadi kebakaran, maka kaca tidak
43
langsung pecah secara menyeluruh. Sebab, ada kaca luar berfungsi sebagai penahan panas api. Jika panas api sudah semakin tinggi, kaca lapisan luar akan pecah. Kemudian panas pun baru bisa menyentuh kaca lapisan dalam.
• Beton
Beton merupakan bahan bangunan yang sering diaplikasikan pada bangunan rumah ataupun perkantoran.
Hal tersebut dipilih karena beton memiliki ketahanan terhadap api yang cukup tinggi. Butuh waktu lama bagi panas api untuk merusak struktur beton yang kokoh. Selain itu, daya tahan beton terhadap api ternyata juga lebih baik dibandingkan dengan baja. Oleh karena itu, beton seringkali menjadi pelindung baja dalam konstruksi bangunan.
• Gypsum
Salah satu cara mengantisipasi dan mengurangi potensi kerugian nyawa dalam musibah kebakaran adalah dengan memasang sistem proteksi pasif, terutama dalam gedung bertingkat. Sistem ini dapat dilakukan dengan memasang sistem partisi, dinding, atau sistem plafon dari gypsum tahan api yang banyak di jual dipasaran.
44
Setiap elemen bangunan yang dipasang atau disediakan untuk menahan penyebaran api pada bukaan, sambungan-sambungan, tempat-tempat penembusan struktur untuk utilitas harus dilindungi terhadap kebakaran sehingga diperoleh kinerja yang memadai dari elemen tersebut. Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
26/PRT/M/2008, terdapat empat tipe konstruksi tahan api:
• Klasifikasi konstruksi bangunan gedung tipe I (konstruksi tahan api)
Bangunan gedung yang dibuat dengan bahan tahan api (beton, bata dan lain-lain dengan bahan logam yang dilindungi) dengan struktur yang dibuat sedemikian, sehingga tahan terhadap peruntukan dan perambatan api.
• Klasifikasi konstruksi bangunan gedung tipe II (tidak mudah terbakar, konstruksi kayu berat)
Bangunan gedung yang seluruh bagian konstruksinya (termasuk dinding, lantai dan atap) terdiri dari bahan yang tidak mudah terbakar yang tidak termasuk sebagai bahan tahan api, termasuk bangunan gedung konstruksi kayu dengan dinding bata, tiang kayu 20,3 cm, lantai kayu 76 mm, atap kayu 51 mm dan balok kayu 15,2 x 25,4 cm.
• Klasifikasi konstruksi bangunan gedung tipe III (biasa) Bangunan gedung dengan dinding luar bata atau bahan tidak mudah terbakar lainnya sedangkan bagian bangunan
45
gedung lainnya terdiri dari kayu atau bahan yang mudah terbakar.
• Klasifikasi konstruksi bangunan gedung tipe IV (kerangka kayu)
Bangunan gedung (kecuali bangunan gedung rumah tinggal) yang strukturnya sebagian atau seluruhnya terdiri dari kayu atau bahan mudah terbakar yang tidak tergolong dalam konstruksi bangunan gedung biasa (tipe III)
2.7 Komponen Pemeriksaan dan Keselamatan Kebakaran Bangunan
Pelaksanaan pemeriksaan keandalan bangunan terhadap bahaya kebakaran harus dilakukan oleh tenaga ahli yang sesuai dengan bidangnya, dan hasilnya disahkan oleh instansi yang berwenang. Menurut Peraturan Departemen Pekerjaan Umum No.11C Tahun 2005 tentang Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Gedung, komponen utilitas antara lain:
Tabel 2.8 Komponen Pemeriksaan
No
Sumber air Jalan keluar
2. Siames
46
3. Alat
pemadam api ringan
Ketahanan api dan stabilitas
Hidran halaman Landasan Helikopter
4. Hidran bangunan
Kompartemenisasi
ruang - -
5. Sprinkler Perlindungan
bukaan - -
6. Sistem pemadam
luapan
- - -
7. Pengendali
asap - - -
8. Deteksi asap - - -
9. Pembuangan
asap - - -
10. Lift
Kebakaran - - -
11. Cahaya
darurat - - -
12. Listrik
darurat - - -
13. Ruang pengendali
operasi
- - -
Sumber: Peraturan Departemen PU No. 11 C Tahun 2005 tentang Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung
47 2.7.1 Kelengkapan Tapak
Perencanaan tapak adalah perencanaan yang mengatur tapak (site) bangunan, yang meliputi tata letak dan orientasi bangunan, jarak antar bangunan, penempat an hidran halaman, penyediaan ruang – ruang terbuka dan sebagainya dalam rangka mencegah dan meminimasi bahaya kebakaran. (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
26/PRT/M/2008). Kelengkapan tapak ini merupakan bagian dari sistem proteksi pasif yang berpengaruh besar terhadap risiko kebakaran yang terjadi pada tapak sebuah bangunan.
2.7.2 Sarana Penyelamatan
Setiap bangunan harus dilengkapi dengan sarana jalan keluar yang dapat digunakan oleh penghuni bangunan gedung, sehingga memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa terhambat oleh hal – hal yang diakibatkan oleh keadaan darurat (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 26/PRT/M/2008).
Tujuan dari adanya sarana penyelamatan adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan atau luka pada waktu melakukan evakuasi pada saat jalan darurat terjadi. (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
26/PRT/M/2008)
Sarana penyelamatan adalah sarana yang dipersiapkan untuk dipergunakan oleh penghuni maupun petugas pemadam kebakran dalam upaya penyelamatan jiwa manusia maupun harta benda bila
48
terjadi kebakaran pada suatu bangunan gedung dan lingkungan.
Komponen sarana penyelamatan menurut (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 26/PRT/M/2008) antara lain:
• Eksit
• Keandalan sarana jalan keluar
• Pintu
• Ruang terlindung dan proteksi tangga
• Jalur terusan eksit
• Jumlah sarana jalan keluar
• Susunan jalan keluar
• Eksit pelepasan
• Iluminasi sarana jalan keluar
• Pencahayaan darurat
• Penandaan Sarana jalan keluar
2.8 Komponen Penilaian
Instrumen penilaian yang digunakan adalah analisa gap dan Nilai Keandalan Sistem Proteksi Kebakaran Bangunan (NKSKB). Analisa gap ini dapat digunakan dalam perencanaan dan pengembangan sebuah bangunan.
2.8.1 Analisa Gap
Analisis kesenjangan adalah proses analisa yang membandingkan kinerja atau hasil aktual dengan apa yang diharapkan atau diinginkan.
Metode ini memberikan cara untuk mengidentifikasi kapabilitas, proses, praktik, teknologi atau keterampilan yang kurang optimal. Dari proses identifikasi tersebut, dapat ditemukan tingkat kesenjangan antara
49
kondisi existing dari hal yang diteliti dan kondisi idealnya. (Col Perks, 2003).
Framework arsitektur yang menggunakan instrumen ini adalah framework TOGAF (The Open Group Architecture Framework). Pada framework ini, tinjauan dapat dilakukan dari segi persyaratan elemen arsitektur yang telah terpenuhi dan elemen arsitektur yang masih kurang dan perlu ditambah pada sebuah bangunan.
Tabel 2.9 Persentase Analisa Gap
No Keterangan Analisa Gap
1 Sangat sesuai dengan peraturan 80% ≤ X ≤ 100%
2 Sesuai dengan peraturan 60% ≤ X ≤ 80%
3 Cukup sesuai dengan peraturan 40% ≤ X ≤ 60%
4 Kurang sesuai peraturan 20% ≤ X ≤ 40%
5 Sangat tidak memenuhi 0% ≤ X ≤ 20%
Sumber: Col Perks, 2003
2.8.2 Nilai Keandalan Sistem Proteksi Kebakaran Bangunan (NKSKB)
Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan, yaitu hasil pengukuran kinerja sistem berdasarkan standar keselamatan bangunan yang berlaku dan/atau pengetahuan/pengalaman tim pemeriksa(Peraturan Departemen PU No.11 Tahun 2005) Pelaksanaan pemeriksaan keandalan bangunan terhadap bahaya kebakaran harus
50
dilakukan oleh tenaga ahli yang sesuai dengan bidangnya, dan hasilnya disahkan oleh instansi yang berwenang.
Keandalan merupakan tingkat kesempurnaan kondisi proteksi yang menjamin keselamatan, fungsi dan kenyamanan suatu bangunan dan lingkungannya selama masa pakai dari gedung tersebut dari segi bahayanya terhadap kebakaran. Keselamatan gedung merupakan hal yang menjamin keselamatan dan dalam suatu gedung beserta isinya (manusia, peralatan, barang) yang diakibatkan oleh kegagalan utilitas bangunan.
Tabel 2.10 Variabel Penilaian NKSKB
No. Variabel
1.
Kelengkapan Tapak
Sumber air
2. Jalan lingkungan
3. Jarak antar bangunan
4. Hidran halaman
1. Sarana
Penyelamatan
Jalan keluar
2. Konstruksi jalan keluar
1.
Sistem Proteksi Aktif
Deteksi dan alarm
2. Siames connection
3. Alat pemadam api ringan
4. Hidran bangunan
5. Sprinkler
6. Sistem pemadam luapan
7. Pengendali asap
8. Deteksi asap
9. Pembuangan asap
51
10. Lift kebakaran
11. Pencahayaan darurat
12. Listrik darurat
13. Ruang pengendalian operasi
1.
Sistem Proteksi Pasif
Ketahanan api struktur bangunan
2. Kompartemenisasi ruang
3. Perlindungan bukaan
2.8.2.1 Kriteria Penilaian
Kondisi setiap komponen atau bagian bangunan harus dinilai atau dievaluasi. Nilai kondisi komponen proteksi kebakaran bangunan dibagi dalam tiga tingkat, yaitu: BAIK=“B“ , SEDANG atau CUKUP = “C“ dan KURANG = “K“ (Ekuivalensi nilai B adalah 100, C adalah 80 dan K adalah 60). Penilaian didasarkan pada kriteria atau pembatasan kondisi komponen bangunan. (Peraturan Pd – T – 11 – 2005 – C tentang Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung).
Tabel 2.11 Tingkat Penilaian Proteksi Kebakaran Sumber: Peraturan Departemen PU No.11 C Tahun 2005 tentang
Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung
Nilai Kesesuaian Keandalan
> 80 - 100 Sesuai persyaratan Baik (B) 60 - 80 Terpasang tetapi ada sebagian
kecil instalasi yang tidak sesuai persyaratan
Cukup (C)
52
Untuk kriteria penilaian tiap variabel NKSKB, dapat ditinjau pada peraturan Pd – T – 11- 2005 – C sebagai berikut:
Tabel 2.12 Penilaian Komponen Kelengkapan Tapak
No. Variabel KSKB Nilai Kriteria Penilaian
1. Sumber Air
B
Tersedia dengan kapasitas yang memenuhi persyaratan minimal terhadap fungsi bangunan
C
Tersedia dengan kapasitas dibawah persyaratan minimal terhadap fungsi bangunan K Tidak tersedia
2 Jalan
Lingkungan
B
• Tersedia dengan lebar minimal 6m
• Diberi pengerasan
• Lebar jalan masuk minimal 4 m.
C Tersedia dengan lebar kurang dari persyaratan minimal.
K Tidak tersedia
3. Jarak Antar
Bangunan B
Sesuai Persyaratan (Tinggi s/d 8 – 3 m; 8 s/d 14 – 6 m; tinggi
> 40m - >8 m)
< 60 Tidak sesuai sama sekali Kurang (K) Sumber: Peraturan Pd – T – 11 – 2005 – C tentang Pemeriksaan
Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung
53 C
Tidak sesuai Persyaratan (Tinggi s/d 8 – 3 m; 8 s/d 14 – pada tempat yang mudah dijangkau
• Berfungsi secara sempurna dan lengkap
• Supply air 38 l/detik dan bertekanan 35 Bar
C
Tersedia, tetapi tidak berfungsi secara sempurna atau supply air dan tekanannya kurang daripada persyaratan minimal.
K Tidak tersedia sama sekali
Tabel 2.13 Penilaian Komponen Sarana Penyelamatan
No. Variabel
KSKB Nilai Kriteria Penilaian
1. Jalan Keluar B
• Minimal perlantai 2 exit dengan tinggi efektif 2,5 m
• Setiap exit harus terlindung dari bahaya kebakaran.
• Jarak tempuh maksimal 20meter dari pintu keluar.
Sumber: Peraturan Pd – T – 11 – 2005 – C tentang Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung
54 tidak menggangu proses jalan keluar
• Disediakan lobby bebas asap dengan TKA 60/60/60 terdapat Pintu keluar diberi tekanan positif. point “B” yang terpenuhi.
K Tidak memenuhi kriteria dalam point “B”
2 Konstruksi
Jalan Keluar B
• Konstruksi tahan minimal 2 jam
• Harus bebas halangan
• Lebar minimal 200 cm.
• Jalan terusan yang dilindungi terhadap kebakaran, Bahan tidak mudah terbakar, Langit-langit punya ketahanan penjalaran api tidak <
60 menit
• Pada tingkat tertentu elemen bangunan bisa mempertahankan
55
stabilitas struktur bila terjadi kebakaran
• Dapat mencegah penjalaran asap kebakaran.
• Cukup waktu untuk evakuasi penghuni
• Akses ke bangunan harus disediakan bagi tindakan petugas kebakaran
C Setengah dari kriteria dalam point “B” yang terpenuhi.
K Tidak memenuhi kriteria dalam point “B”
Tabel 2.14 Penilaian Komponen Sistem Proteksi Aktif
No. Variabel KSKB Nilai Kriteria Penilaian
1. Deteksi dan
Alarm B
• Perancangan dan pemasangan system deteksi dan alarm kebakaran sesuai SNI 03-3986
• Sistem deteksi dan alarm harus dipasang pada semua bangunan kecuali kelas 1a
• Tersedia detektor panas
• Dipasang alat manual pemicu alarm
• Jarak tidak > dari 30 m dari titik alarm manual Sumber: Peraturan Pd – T – 11 – 2005 – C tentang Pemeriksaan
Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung
56 C
Perancangan system deteksi dan alarm kebakaran sesuai SNI 03-3986, namun pemasangannya tidak sesuai SNI 03-3986.
K
Tidak sesuai dengan persyaratan perancangan maupun pemasangannya.
2 Siames Connection
B
• Tersedia dan
ditempatkan pada lokasi yang mudah dijangkau mobil pemadam kebakaran kota.
• Diberikan tanda petunjuk sehingga mudah dikenali
C
• Tersedia, namun sulit dijangkau secara mudah dari mobil pemadam.
K
• Tidak tersedia sebagaimana yang dipersyaratkan.
• Jarak penempatan antar alat maksimal 25 m
C
• Jenis APAR sesuai SNI 03-3988
• Kurang dari jumlah sesuai dengan luasan bangunannya.
• Jarak penempatan antar alat maksimal 25 m
57 K
• Jenis dan jumlah yang dipasang tidak sesuai
dengan yang
dipersyaratkan dalam SNI 03-3988.
4. Hidran Gedung B
• Tersedia sambungan slang diameter 35 mm dalam kondisi baik, panjang selang minimal 30 m dan tersedia kotak untuk menyimpan
• Pasokan air cukup tersedia untuk kebutuhan system sekurang-kurangnya untuk 45 ‘
• Bang. Kelas 4, luas 1000m2/bh
(kompartemen tanpa partisi), 2 buah /1000m2
(kompartemen dengan partisi)
• Bang. Kelas 5, luas 800m2 /buah tanpa partisi, dan 2 bh/800m2 dengan partisi
C
• Tersedia sambungan slang diameter 35 mm, panjang selang minimal 30 m dan tersedia kotak untuk menyimpan
• Bang. Kelas 4, hanya tersedia 1 buah perluas 1000m2, baik pada ruang kompartemen tanpa partisi,maupun
58
kompartemen dengan partisi.
• Bang. Kelas 5, hanya tersedia 1 buah perluas 800m2, baik pada ruang kompartemen tanpa partisi,maupun kompartemen dengan partisi.
K
• Tersedia sambungan slang diameter 35 mm, panjang selang minimal 30 m dan tersedia kotak untuk menyimpan namun kondisi kurang terawat.
5. Sprinkler B
• Jumlah, perletakan dan jenis sesuai dengan persyaratan.
• Tekanan catu air sprinkler pada titik terjauh (0,5-2,0) kg/cm2,
• Debit sumber catu air minimal (40-200) liter/menit per kepala sprinkler.
• Jarak kepala sprinkler kedinding kurang dari
½ jarak antara kepala
59
• Dalam ruang
tersembunyi, jarak langitlangit dan atap lebih 80 cm, dipasang jenis kepala sprinkler dengan pancaran keatas
C
• Jumlah, perletakan dan jenis sesuai dengan minimal (40-200) liter/menit per kepala sprinkler. langitlangit dan atap lebih 80 cm, dipasang jenis kepala sprinkler dengan pancaran kebawah.
K
• Jumlah, perletakan dan jenis kurang sesuai dengan persyaratan
60
• Jumlah kapasitas sesuai dengan beban api dari api dari fungsi ruangan yang diproteksi. akan berputar berurutan setelah aktifnya detector asap yang ditempatkan dalam zona sesuai dengan reservoir asap yang dilayani fan.
• Detektor asap harus dalam keadaan bersih dan tidak terhalang oleh benda lain disekitarnya.
• Di dalam kompartemen bertingkat banyak, system pengolahan udara beroperasi dengan menggunakan
61
seluruh udara segar melalui ruang kosong bangunan tidak menjadi satu dengan cerobong pembuangan asap
C
• Fan pembuangan asap akan berputar berurutan setelah aktifnya detector asap yang ditempatkan dalam zona sesuai dengan reservoir asap yang dilayani fan.
• Detektor asap kotor atau terhalang oleh
benda lain
disekitarnya.
K
• Peralatan pengendali tidak terpasang sesuai dengan persyaratan, baik jenis, jumlah atau 03-3689, mengaktifkan system peringatan penghuni bangunan.
• Jarak antar detector <
20 m dan < 10 m dari dinding pemisah atau tirai asap
C
• Sistem Deteksi Asap memenuhi SNI 03-3689, mengaktifkan system peringatan penghuni bangunan
• Jarak antar detector >
20 m dan > 10 m dari
62
dinding pemisah atau tirai asap
K
• Tidak satupun tersedia peralatan yang dimaksud.
9. Pembuangan Asap
B
• Terletak dalam reservoir asap tinggi 2meter dari lantai.
• Luas horizontal reservoir asap maksimal 2000 m2,
dipergunakan sebagai jalur pembuangan asap.
• Udara pengganti dalam jumlah kecil harus disediakan secara otomatis /melalui bukaan ventilasi permanent, kecepatan tidak boleh lebih dari 2,5 m/detik, di dalam kompartemen
kebakaran bertingkat banyak melalui bukaan vertical dengan kecepatan ratarata 1m/detik.
C
• Kapasitas fan pembuang dibawah kapasitas yang dipersyaratkan.
• Pemasangan telah sesuai dengan persyaratan yang diperlukan.
63 K
• Tidak satupun tersedia peralatan yang dimaksud.
10. Lift Kebakaran B
• Untuk penanggulangan saat terjadi kebakaran sekurang-kurangnya 1 buah lif kebakaran harus dipasang pada bangunan ketinggian efektif 25 m.
• Ukuran lift sesuai dengan fungsi bangunan yang berlaku.
• Peringatan terhadap pengguna lif pada saat kebakaran, dipasang di tempat yang mudah terlihat dan terbaca dengan tulisan tinggi huruf minimal 20 mm.
• Penempatan lift kebakaran pada lokasi yang mudah dijangkau oleh penghuni.
C
• Pemasangan lift kebakaran telah sesuai dengan point “B”
hanya penempatan lift kebakaran pada lokasi yang tersembunyi dan tidak mudah dijangkau oleh penghuni.
K
• Tidak satupun tersedia peralatan yang dimaksud.
11. Pencahayaan
Darurat B
• Sistem pencahayaan darurat harus dipasang disetiap tangga yang
64
dilindungi terhadap kebakaran, disetiap lantai dengan luas lantai > 300 m2, disetiap jalan terusan dan koridor.
• Desain Sistem pencahayaan Keadaan darurat beroperasi otomatis, memberikan pencahayaan yang cukup, dan harus memenuhi standar yang berlaku
• Tanda exit jelas terlihat
dan dipasang
berdekatan dengan pintu yang memberikan jalan keluar langsung, pintu dari suatu tangga, exit horizontal dan pintu yang melayani exit
• Bila exit tidak terlihat secara langsung dengan jelas oleh penghuni, harus dipasang tanda petunjuk dengan tanda panah penunjuk arah
• Setiap tanda exit harus jelas dan pasti, diberi
• Setiap tanda exit harus jelas dan pasti, diberi