• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan (NKSKB)

Penilaian NKSKB didasarkan pada kriteria penilaian pada tabel 2.11 dan pembobotan untuk masing – masing sub variabel pada tabel 2.17. Persentase analisa gap dimasukkan ke dalam kolom hasil penilaian keandalan sistem keselamatan bangunan (NKSKB) berdasarkan pada tabel 2.18. Penilaian tersebut disajikan dalam tabel 4.6 – 4.9.

4.4.1 Kelengkapan Tapak

Analisis penilaian komponen kelengkapan tapak di Rusunawa Sunggal Kodam I/BB dapat disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.6 NKSKB Kelengkapan Tapak

No. Parameter NKSKB Persentase Gap Keterangan 1. Kelengkapan Tapak 91,5 Sangat sesuai dengan

peraturan 2. Sarana

Penyelamatan 69 Sesuai dengan peraturan

3. Sistem Proteksi

Aktif 41,83 Kurang sesuai dengan

peraturan 4. Sistem Proteksi

Pasif 61,1 Sesuai dengan peraturan

121

Jumlah 22,9125

Berdasarkan tabel 4.6, nilai kondisi untuk kelengkapan tapak sebesar 22,9125 dengan nilai bobot kelengkapan tapak adalah 25. Hal ini menunjukkan bahwa komponen kelengkapan tapak di Rusunawa Sunggal Kodam I / BB telah memenuhi syarat sesuai dengan peraturan.

Pada salah satu sub variabel hidran halaman, masih ada beberapa elemen yang diperlu ditambah sehingga dapat meningkatkan tingkat keandalannya misalnya dari segi penempatan maupun dari segi jumlah prasarananya.

4.4.2 Sarana Penyelamatan

Analisis penilaian sarana penyelamatan di Rusunawa Sunggal Kodam I/BB dapat disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.7 NKSKB Sarana Penyelamatan

No.

122 2. Konstruksi

jalan keluar

C 62 50 7,75

Jumlah 17,25

Berdasarkan tabel 4.7, nilai kondisi untuk sarana penyelamatan sebesar 17,25 dengan nilai bobot sarana penyelamatan adalah 25. Hal ini menunjukkan bahwa komponen sarana penyelamatan di Rusunawa Sunggal Kodam I / BB terpasang, tetapi ada sebagian kecil instalasi yang tidak sesuai persyaratan.

4.4.3 Sistem Proteksi Aktif

Analisis penilaian sistem proteksi aktif di Rusunawa Sunggal Kodam I/BB dapat disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.8 NKSKB Sistem Proteksi Aktif

No.

123 7. Pengendali

asap

K 0 8 0

8. Deteksi asap K 0 8 0

9. Pembuangan asap

K 0 7 0

10. Lift kebakaran

K 0 7 0

11. Pencahayaan darurat

K 50 8 0,96

12. Listrik darurat

B 100 8 1,92

13. Ruang pengendali operasi

B 100 7 1,68

Jumlah 10,2015

Berdasarkan tabel 4.8, nilai kondisi untuk sistem proteksi aktif sebesar 10,2015 dengan nilai bobot sistem proteksi aktif adalah 24. Hal ini menunjukkan bahwa komponen sistem proteksi aktif di Rusunawa Sunggal Kodam I / BB berada dalam kondisi yang kurang dan tidak sesuai sama sekali.

4.4.4 Sistem Proteksi Pasif

Analisis penilaian sistem proteksi pasif di Rusunawa Sunggal Kodam I/BB dapat disajikan dalam tabel berikut:

124

Tabel 4.9 NKSKB Sistem Proteksi Pasif

No.

3. Perlindungan bukaan

K 25 32 2,08

Jumlah 16,29

Berdasarkan tabel 4.9, nilai kondisi untuk sistem proteksi pasif sebesar 16,29 dengan nilai bobot sistem proteksi pasif adalah 26. Hal ini menunjukkan bahwa komponen sistem proteksi pasif di Rusunawa Sunggal Kodam I / BB memiliki tingkat keandalan yang cukup dimana ada sebagian kecil kriteria yang belum memenuhi persyaratan.

Tabel 4.10 Rekapitulasi NKSKB Rusunawa

No. Parameter NKSKB Nilai Nilai

125

Berdasarkan tabel 4.10, Rusunawa Sunggal Bukit Barisan memiliki nilai keandalan terhadap bahaya kebakaran sebesar 66,654 %.

Perhitungan ini menunjukkan bahwa tingkat keandalan bangunan rusunawa ini adalah “cukup” yakni ada beberapa elemen yang terpasang, tetapi ada sebagian kecil instalasi yang tidak sesuai persyaratan.

4.5 Rekomendasi Desain Arsitektural Proteksi Kebakaran

Rekomendasi ini didasarkan pada kriteria – kriteria penilaian yang masih belum terinstalasi pada tabel 2.12 – 2.15. Masing – masing kriteria tersebut nantinya menjadi rekomendasi perbaikan terhadap nilai keandalan sistem keselamatan bangunan rusunawa.

4.5.1 Kelengkapan Tapak

Rekomendasi desain yang dapat diberikan adalah berupa perbaikan terhadap kondisi dan perletakan hidran halaman yang berada tepat didepan bangunan utama, penambahan dan perletakan hidran halaman dan kotak hidran serta perletakan area titik kumpul karena pada bangunan tidak tersedia area titik kumpul. Area titik kumpul diletakkan pada area terbuka dan mudah dijangkau pada sisi timur bangunan. Ruang terbuka yang ada didepan bangunan selebar 8 m dijadikan sebagai area titik kumpul yang langsung mengarah keluar tapak.

126

Gambar 4.19 Siteplan Rusunawa

Gambar 4.20 Rekomendasi Desain Kelengkapan Tapak

127 4.5.2 Sarana Penyelamatan

Kondisi eksisting bangunan mengenai jalan keluar menggunakan sirkulasi jalan keluar menggunakan konfigurasi linear dengan kelompok ruang terkluster. Pada setiap lantai bangunan, terdapat 2 eksit berupa tangga darurat. Ukuran tangga darurat tersebut adalah dengan ketinggian efektif 2,8 meter, lebar 120 cm, tinggi anak tangga adalah 18 cm dan berada dekat dengan pintu keluar rusunawa yakni 6 meter. Peletakan dari tangga darurat ini langsung menuju ruang terbuka dan keluar dari bangunan rusunawa.

Gambar 4.21 Denah Eksisting Lantai Dasar Rusunawa

A = POS PENJAGA C = RUSUNAWA B = PARKIR MOTOR D = RUANG GENERATOR DAN POMPA

= AREA MOBIL PEMADAM = HIDRAN PILAR = TITIK KUMPUL

= HIDRAN HALAMAN = SIAMES CONNECTION

128

Gambar 4.22 Denah Eksisting Lantai Tipikal 2 – 5 Rusunawa

Rekomendasi yang dapat diberikan adalah berupa penambahan lift kebakaran dan shaft kebakaran yang sebelumnya belum ada pada bangunan rusunawa dan kompartemenisasi ruang dengan penambahan pintu darurat untuk setiap tangga darurat yang ada ditiap lantai bangunan beserta kelengkapannya untuk mengarahkan penghuni rusunawa ke pintu keluar dengan aman. Kompartmen ruang tersebut bertujuan untuk melindungi penghuni rusunawa dari bahaya api dan bahaya asap dari bagian koridor rusunawa. Beberapa hal yang tidak dapat dilakukan adalah berupa pelebaran tangga darurat yang masih kurang dari yang dipersyaratkan yakni dengan minimal lebar 2 m.

129

Gambar 4.23 Rekomendasi Sarana Penyelamatan

Gambar 4.24 Rekomndasi Desain Kelengkpaan Atribut Tangga Darurat 4.5.3 Sistem Proteksi Aktif

Usulan yang dapat diberikan adalah berupa penambahan siames connection, jumlah APAR per lantainya, petunjuk arah, dan pengadaan sprinkler pada bangunan rusunawa. Penambahan siames connection pada bangunan karena pada kondisi eksisting belum tersedia. Siames connection diletakkan pada sisi timur dan barat bangunan sehingga dapat lebih efektif digunakan. Pada siamese connection bagian timur yang jaraknya berdekatan dengan ruang generator, siames connection diberi penanda supaya mudah ditemukan. Penanda berbentuk bujur sangkar berukuran 25 cm x 30 cm.

130

Jenis APAR yang digunakan adalah serbuk kimia kering karena pemadam dengan jenis tersebut dapat memadamkan kebakaran dari beberapa sumber kebakaran. APAR yang digunakan berukuran 3kg karena lebih efektif dan mudah dalam penggunaan. APAR akan dipasang pada dinding dengan ketinggian 1,25 m dari permukaan lantai dan diletakkan pada area yang mudah dijangkau. APAR akan dilengkapi dengan penanda dan petunjuk penggunaannya. Penambahan jumlah APAR akan di sesuaikan dengan kebutuhan dan jarak tempuh di setiap lantainya. Jarak antar APAR maksimum sesuai dengan standar adalah 25 m dengan jarak tempuh 23 m.

Jarak antar APAR pada bangunan rusunawa adalah 18 m dan untuk pengadaan asap dan deteksi asap, dapat diterapkan pada ruang – ruang yang vital seperti ruang panel dan genset, kantor pengelola, dan koridor di tiap lantainya.

Gambar 4.25 Perletakan APAR dan Hidran Gedung

131

Gambar 4.26 Rekomendasi Peletakan dan Jumlah APAR Lantai Dasar

Gambar 4.27 Rekomendasi Peletakan APAR dan Jumlah APAR Lantai 2 – 5

132

Gambar 4.28 Penambahan Petunjuk Arah di Koridor Rusunawa

Gambar 4.29 Ketinggian APAR di tiap lantai rusunawa

Gambar 4.30 Perletakan Sprinkler di Lantai Dasar Rusunawa

133

Gambar 4.31 Perletakan Sprinkler di Lantai 2 – 5

4.5.4 Sistem Proteksi Pasif

Dilihat dari kondisi eksisting bangunan, untuk konstruksi bangunan yang tahan api berada dalam keadaan yang baik dimana struktur bangunan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Sedangkan untuk kompartemenisasi ruangnya, berada dalam keadaan yang kurang dan perlindungan bukaannya cukup baik.

Rekomendasi terhadap kompartemenisasi ruangnya adalah dengan memperlebar jalur masuk pemadam kebakaran ke site yakni dari 4,5 m menjadi 6 m. Rekomendasi jendela kebakaran berupa penambahan fire shutter yang dapat menutup secara otomatis pada bagian luar jendela. Dan juga pada bukaan rusunawa, dapat ditambahkan material seperti material

134

uPVC yang tahan api dan dapat menambah kesan arsitektural bangunan.

Penambahan pengendali asap yaitu berupa exhaust fan dan pressure fan pada tangga darurat yang berfungsi untuk mencegah asap masuk kedalam ruang tangga darurat serta penggunaan tirai asap dan rolling door pada area koridor.

Tirai asap dapat membantu menahan asap masuk ke dalam ruang tangga darurat dan bila kebakaran semakin membesar, rolling door akan digunakan.

Gambar 4.32 Penambahan tirap asap di koridor menuju pintu darurat Tabel 4.11 Nilai Keandalan Bangunan Rusunawa

No Paramater KSKB Kondisi Awal

Setelah Perbaikan 1. Kelengkapan Tapak 22,9125 25 2. Sarana Penyelamatan 17,25 21 3. Sistem Proteksi Aktif 10,2015 15,12 4. Sistem Proteksi Pasif 16,29 22.59

NKSKB 66,654 83.71

Berdasarkan tabel 4.11, nilai keandalan bangunan Rusunawa Sunggal Kodam I Bukit Barisan setelah dilakukannya perbaikan design adalah sebesar 83,71 yang termasuk dalam kategori “Baik”

135 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data penelitian dapat disimpulkan bahwa dari keempat variabel utama, variabel kelengkapan tapak, sarana penyelamatan, dan sistem proteksi pasif sudah sesuai dengan peraturan berdasarkan hasil dari analisa gap. Sedangkan untuk sistem proteksi aktif bangunan rusunawa perlu ditambah karena kurang sesuai dengan peraturan. Tingkat keandalan bangunan Rusunawa Sunggal Kodam I / Bukit Barisan adalah 66,654 yang termasuk dalam kategori “Cukup” dimana ada sub komponen utilitas yang berfungsi kurang sempurna, kapasitasnya kurang dari yang ditetapkan dalam desain/ spesifikasi, sehingga kenyamanan dan fungsi ruang dan/atau gedung menjadi terganggu.

Rekomendasi desain yang dapat diusulkan untuk dapat melengkapi dan memperbaiki tingkat keandalan tersebut adalah:

1. Kelengkapan Tapak

Berdasarkan gambar 4.20, rekomendasi desainnya adalah berupa perbaikan terhadap kondisi dan perletakan hidran halaman yang berada tepat didepan bangunan utama sehingga dapat dengan mudah diakses oleh pemadam kebakaran, serta perluasan dan penambahan ruang area titik kumpul dibagian timur bangunan dikarenakan pada bangunan tidak tersedia area titik kumpul dengan sign (tanda) yang jelas. Ruang kosong dibagian

136

timur bangunan dapat dijadikan parkir tambahan sehingga sirkulasi parkirnya tidak berfokus pada satu titik.

2. Sarana Penyelamatan

Berdasarkan gambar 4.23 – 4.24, dapat dilakukan penambahan lift kebakaran dan shaft kebakaran yang sebelumnya belum ada pada bangunan rusunawa dan kompartemenisasi ruang untuk tangga darurat yang ada ditiap lantai bangunan beserta kelengkapannya seperti petunjuk arah dan penanda pintu kebakaran. Peletakan dan jumlah tangga darurat pada rusunawa telah memenuhi persyaratan yang ada. Akan tetapi, hal yang tidak dapat dilakukan pada bangunan ini adalah pelebaran anak tangga darurat yang masih belum memenuhi persyaratan minimal yakni 2 m. Untuk mengatasi hal tersebut, tangga utama dengan lebar 1,8 m dapat digunakan sebagai tangga darurat dikarenakan dekat dengan pintu masuk utama bangunan yang langsung mengarah keluar bangunan yakni dibagian tengah bangunan.

3. Sistem Proteksi Aktif

Berdasarkan gambar 4.25 – 4.31, rekomendasi yang dapat diberikan adalah berupa perletakan APAR pada ruang yang sesuai per lantainya yang berjumlah 3 buah dengan jarak 18 m dari APAR ke APAR, petunjuk arah, serta pengadaan sprinkler pada bangunan rusunawa. Perletakan sistem pemercik otomatis dengan jenis wet pipe system (sistem pipa basah) dan model branching pattern with dead end (pola percabangan) dengan jarak penempatan 4 meter.

137 4. Sistem Proteksi Pasif

Perlebaran jalur masuk pemadam kebakaran ke dalam site dan penambahan material tahan api berupa uPVC untuk bukaan yang ada di Rusunawa Sunggal Kodam I /Bukit Barisan yang masih berbahan kayu.

Berdasarkan gambar 4.32, Perletakan tirai – tirai asap pada koridor menuju pintu darurat dapat meminimalisir bahaya asap sehingga penghuni rusunawa dapat keluar dengan lebih aman. Beberapa hal yang tidak dapat dilakukan pada rusunawa adalah redesain terhadap bukaan pada ruang hunian tipe 36 m2 sehingga untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan fire shutter yang dapat menutup secara otomatis pada bagian luar jendela kebakaran.

5. Perlu dibuat SOP berupa manajemen proteksi kebakaran untuk bangunan rusunawa seperti perawatan dan perbaikan secara berkala terhadap elemen – elemen proteksi kebakaran oleh supervisor / petugas yang kompeten untuk menjamin kinerja sistem proteksi tersebut serta dilakukannya pelatihan evakuasi kebakaran secara rutin oleh seluruh penghuni rusunawa sehingga dapat mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi bahaya kebakaran.

Rekomendasi desain arsitektural yang diberikan dapat meningkatkan tingkat keandalan rusunawa menjadi 83,71 yang termasuk dalam kategori “Baik”. Hal ini menunjukkan bahwa komponen sistem proteksi kebakaran (kelengkapan tapak, sarana penyelamatan, sistem proteksi aktif, dan sistem proteksi pasif) berfungsi dengan baik, sehingga gedung dapat digunakan secara optimum, dimana para

138

pemakai gedung dapat melakukan kegiatannya dengan mendapat perlindungan dari sistem proteksi kebakaran yang efektif.

5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan untuk perkembangan ilmu arsitek terutama dalam meminimalisir dan mengatasi bahaya kebakaran pada penelitian selanjutnya adalah:

1. Penambahan list of activity (pola perilaku) penghuni rusunawa yang lebih detail untuk setiap lantai yang ada sehingga dapat menambah rekomendasi desain yang telah diberikan.

2. Fasilitas disekitar rusunawa berupa kantin dibangun dengan menggunakan material yang tidak tahan api dan keadaan jalan utama menuju rusunawa belum terdapat adanya perkerasan. Hal ini dapat membahayakan rumah dan vegetasi sekitar karena dapat menghalangi akses pemadam mobil kebakaran menuju site. Oleh karena itu, pemakaian bahan yang tahan api dapat diterapkan pada fasilitas tersebut jika sewaktu – waktu akan direnovasi.

139

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kota Medan. 2017. Kecamatan Medan Sunggal Dalam Angka 2017

Basset dan Short, 1980, dalam Kurniasih “Pedoman Teknik Pembangunan Perumahan Sederhana Bersusun Kementerian Pekerjaan Umum

Basir, Abdul, Evaluasi Pendidikan, Surabaya: Universitas Airlangga, 1998.

Col Perks, Tony Beveridge. 2003. Guide to Enterprise IT Architecture. New York.

Curtis, Dan B; Floyd, James J.; Winsor, Jerryl L. Komunikasi Bisnis dan Profesional. Remaja Rosdakarya, Bandung. 1996. Hal 414

Neufert, Ernst, Jilid 1. Data Arsitek. Jakarta: Erlangga.

Nurkancana. 1983. Evaluasi Pendidikan. Surabaya, Usaha Nasional

Permen PU No.26 tahun 2008 mengenai Pedoman Teknis Manajemen Proteksi Kebakaran Lingkungan dan Perkotaan

Peraturan Departemen Pekerjaan Umum No.11 C Tahun 2005 mengenai Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung

Short. 1980. Housing and Residential Structure: Alternative Approaches Architecture and Fire Pschoanalytic.

SNI 03-1735-2000 tentang Tata Cara Perencanaan Akses Bangunan Dan Akses Lingkungan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung SNI 03-1736-2000 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Proteksi Pasif Untuk

Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah Dan Gedung

SNI 03-1745-2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Pipa Tegak dan Slang Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung

SNI 03-6574-2001 tentang Tata Cara Perancangan Pencahayaan Darurat, Tanda Arah, dan Sistem Peringatan Bahaya Pada Bangunan Gedung

SNI 03-3988-2000 tentang Klasifikasi APAR Bangunan Gedung

140

SNI 03-3989-2000 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Sprinkler Otomatis Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung

Suharsimi, 2016. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Indonesia

Worthen, B. R., & Sanders, J. R., (1987). Educational evaluation: Alternative approaches and practical guidelines. London: Longman Group Ltd.

Zografos, S. 2019. Architecture and Fire: A Psychoanalytic Approach to Conservation. London, UCL Press.

141 LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Checklist Pengumpulan Data

No Variabel Sub

Variabel Sampel Kondisi

Keterangan

Sumber air pada tapak berada di bagian belakang bangunan tepatnya berada di bagian timur tapak

Kapasitas sumber air

✓ Kapasitas dari sumber airnya adalah 4 m3 Lokasi belakang bangunan tepatnya berada di bagian timur tapak.

Jalan

lingkungan adalah 8m Kondisi

perkerasan

✓ Perkerasan jalan

menggunakan paving

142

block ubin dengan kondisi yang baik.

Jarak bangunan disekitar rusunawa ± 8 m

Spek hidran ✓ Spek hidran mengikuti

yang telah

diisyaratkan yakni dengan debit 0,2858 cm, tinggi anak tangga

= 18 cm dan tinggi tangga darurat 2,88 Jarak tempuh

eksit

✓ Jarak tempuh tangga darurat ke eksit bangunan adalah 5 m

143 mengarah keluar bangunan. tersedia akses khusus untuk petugas menuju ke bangunan.

144 Jarak antara deteksi dan alarm

✓ Deteksi dan alarm berdekatan satu sama lain pada bangunan.

Siames connecti on

Ketersediaan siames connection

Lokasi siames connection

✓ Berada tepat di depan bangunan utama dengan jarak 1 meter ke hidran halaman.

APAR Jenis APAR sesuai jenis bangunan

Tipe dry powder dengan kapasitas 2,5

kg.

Jumlah APAR

✓ 1 per lantai bangunan

145 Jarak penempatan

✓ Karena hanya 1 per lantai, maka terpisah oleh ketinggian per yang terawatt dibandingkan dengan hidran halaman.

Sprinkler Jenis sprinkler tersedia sistem pemadam luapan.

Kapasitas pemadam luapan

146 tersedia sistem pengendali asap. tersedia detector asap dan hanya ada detector panas saja. terdapat sistem pembuangan asap tersedia lift kebakaran.

Ukuran lift tersedia pencahayaan darurat yang lengkap

dan hanya

mengandalkan lampu

pada koridor

147

tersedia listrik darurat dengna kapasitas generator 10.000 kVA.

tersedia ruang pengendali sebagai monitoring keadaan rusunawa dengan peralatan yang lengkap. lantai dibuat sama.

Kompart tidak terdapat instalasi sprinkler untuk

148 sistem pembuangan asap. Sedangkan untuk lebar jalan masuk

Material pada bukaan masih menggunakan material yang tidak tahan api seperti kayu dan untuk ukuran bukaannya adalah 65 x 65 cm