• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.4 Metoda Pengumpulan Data

Pengumpulan data diawali dengan pengumpulan data awal (pra-survei) yaitu mengumpulkan data sekunder yaitu peta, data wilayah dan bangunan Rusunawa Sunggal Kodam I/BB serta dokumen peraturan yang mengatur tentang pedoman teknis sistem proteksi kebakaran dengan studi pustaka. Kemudian, peneliti melakukan non participant observation (Observasi langsung) untuk mengumpulkan data primer mengenai kondisi dari sistem proteksi kebakaran di Rusunawa Sunggal Kodam I/BB berdasarkan pada tabel 3.2. Pada kolom keterangan, diisi sesuai dengan sampel penelitian yang akan diambil pada tabel 3.1.

Tabel 3.2 Checklist Pengumpulan Data

No. Variabel Sub Variabel Kondisi

Keterangan Ya/ada Tidak

Sumber: hasil analisis, 2020

84 3.5 Kawasan Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rusunawa Sunggal Kodam I/BB, Jln. Bukit Barisan, Medan Sumatera Utara dikarenakan bangunan hunian tersebut memiliki aktifitas dan perilaku masyarakat yang cukup tinggi, yang dapat menyebabkan meningkatnya potensi bahaya akibat kebakaran.

Gambar 3.1 Peta Lokasi Rusunawa Sunggal Kodam I/BB Sumber: Google Maps

Gambar 3.2 Tampak Belakang Bangunan Rusunawa Sunggal Kodam I/BB Sumber: Dokumentasi pribadi

85

Gambar 3.3 Tampak Depan Bangunan Rusunawa Sunggal Kodam I/BB Sumber: Dokumentasi pribadi

3.6 Metoda Analisa Data

Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis data kuantitatif secara deskriptif (Sugiono, 2005) menggunakan instrument analisa gap dan NKSKB terhadap data yang telah dikumpulkan mengenai kesesuaian kondisi existing desain proteksi kebakaran di Rusunawa Sunggal Kodam I/BB terhadap

Pengumpulan

sekunder = Data wilayah dan

Gambar 3.4 Diagram Metodologi Penelitian Sumber: hasil analisis, 2020

86

peraturan perundang – undangan yang berlaku dan teori perancangan arsitektur mengenai penanggulangan bahaya kebakaran.

Data – data yang diperoleh dari pengamatan langsung dan check list di di lapangan selanjutnya akan digunakan untuk mengetahui penerapan proteksi kebakaran lingkungan berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:26/PRT/M/2008 dengan menggunakan analisa gap yang berfokus pada proteksi arsitektural seperti kelengkapan tapak, sarana penyelamatan dan sistem proteksi pasif.

Tabel 3.3 Data dengan Analisa Gap

No. Sub Variabel

Kondisi yang Diharapkan

Analisa Persentase Gap

Rata – rata (%)

Persentase Gap= 𝑲𝒐𝒏𝒅𝒊𝒔𝒊 𝑬𝒙𝒊𝒔𝒕𝒊𝒏𝒈

𝑲𝒐𝒏𝒅𝒊𝒔𝒊 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑫𝒊𝒉𝒂𝒓𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏 x 100%

Persentase gap setiap sub variabel dijumlah dan dirata – ratakan. Hasil dari rata – rata variabel utama dideskripsikan dengan tabel 2.9.

𝑹𝒂𝒕𝒂 − 𝒓𝒂𝒕𝒂 =𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊 − 𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒅𝒂𝒕𝒂 𝑿 𝑿 = 𝑿𝟏+ 𝑿𝟐+ 𝑿𝟑+ ⋯ + 𝑿𝒏

𝒏

87

Untuk mengetahui Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan terhadap Bahaya Kebakaran (NKSKB), hasil dari pengumpulan data dan analisa gap akan diolah berdasarkan tabel 2.17 dan di hubungkan terhadap kriteria penilaian yang tercantum dalam tabel 2.12. – 2.15. Hasil akhir dari analisa data berupa nilai keandalan bangunan tersebut akan dimaknai sesuai tabel 2.11 dan didapatkanlah rekomendasi desain terhadap sistem proteksi kebakaran rusunawa berdasarkan tabel 2.18.

88 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Wilayah Objek Penelitian

Kecamatan Medan Sunggal berbatasan langsung dengan Kecamatan Medan Helvetia di sebelah utara, Kecamatan Medan Selayang di sebelah selatan, kabupaten Deli Serdang di sebelah barat dan Kecamatan Medan Baru di sebelah timur. Kecamatan Medan Sunggal merupakan salah satu kecamatan di Kota Medan yang mempunyai luas sekitar 13,90 km2. dengan ketinggian wilayah sekitar 17 m sampai dengan 28 m diatas permukaan laut, ketinggian terendah berada di kelurahan Lalang dan ketinggian tertinggi berada dikelurahan Sunggal. Kecamatan Medan Sunggal dihuni oleh 115.837 orang penduduk dimana penduduk terbanyak berada di Kelurahan Tanjung Rejo yakni sebanyak 31.882 orang.

Sepanjang tahun 2019, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Medan mencatat 257 kasus kebakaran terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara dimana dari setengah kasus tersebut disebabkan oleh korsleting listrik. Hal ini bertambah parah dengan masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran terutama di wilayah dengan tingkat kepadatan bangunan yang tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Medan, sejumlah pasar dan pertokoan mulai cukup ramai mendukung kegiatan perekonomian di kecamatan Medan Sunggal, diantaranya terdapat 3 pasar, 9 kelompok pertokoan dan 5 swalayan. Kepala Dinas P2K Kota Medan Albon Sidauruk mengatakan bahwa dari 118 hydrant yang ada di Kota Medan, hanya 13 hydrant yang masih berfungsi dengan baik dan juga masih banyak

89

hidran yang debit airnya sangat kecil sehingga akan sangat beresiko jika terjadi kebakaran.

Gambar 4.1 Letak Kecamatan Medan Sunggal Sumber: Kecamatan Medan Sunggal Dalam Angka 2017

Gambar 4.2 Peta Kecamatan Medan Sunggal Sumber: Kecamatan Medan Sunggal Dalam Angka 2017

90

4.1.1 Lokasi Dinas Pemadam Kebakaran Wilayah Kota Medan

Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Medan, mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang pencegahan dan pemadaman kebakaran berdasarkan asas otonomi daerah dan tugas pembantuan.

Gambar 4.3 UPT Pemadam Kebakaran Wilayah I Kota Medan Sumber: Dokumentasi Pribadi

UPT pemadam kebakaran yang paling dekat dengan rusunawa adalah UPT Wilayah I Inti Kota di Jl. Candi Borobudur No. 2 bergabung dengan kantor induk pemadam kebakaran.

91

Gambar 4.4 Durasi Tempuh Pemadam Kebakaran UPT I ke Rusunawa Sunggal

Sumber: google maps

4.2 Kondisi Eksisting Bangunan

Rusunawa Sunggal yang ada di Jalan Bukit Barisan ini menggunakan desain integratif berupa modul tipikal, struktur ekonomis, sistem ME yang optimal (memperkecil resiko bocor dan resiko kebakaran), menyediakan fasilitas umum dan penunjang dengan sirkulasi udara alami yang baik didalam unit hunian serta pencahayaan ruangan yang cukup. Ditambah lagi dengan adanya ruang khusus untuk interaksi sosial sehingga penghuni dapat melaksanakan aktivitas sehari – harinya dengan baik.

4.2.1 Bangunan Rusunawa

Bangunan dengan luas total bangunan 4400m2 ini merupakan rusunawa yang dibangunan sebagai rumah hunian untuk keluarga petugas dinas TNI. Jumlah lantai yang ada pada rusunawa ini berjumlah 5 lantai dengan ukuran unit huniannya adalah 36 m2. Lantai dasar

92

berfungsi sebagai fasilitas umum dan perekonomian untuk penghuni yang ada di rusunawa. Pada unit huniannya, terdapat 2 kamar tidur, ruang tamu dan ruang keluarga, kamar mandi / WC, dapur, dan tempat jemur.

4.3 Analisa Gap

Analisa gap digunakan untuk mencari tingkat kesenjangan kondisi existing proteksi kebakaran gedung terhadap kriteria penilaian proteksi kebakaran yang telah dipersyaratkan. Analisa gap nantinya akan dimasukkan ke dalam perhitungan nilai keandalan sistem keselamatan bangunan (NKSKB) yang dilanjutkan dengan rekomendasi desain untuk setiap sub variabel yang ada. Untuk tabel analisa gap, dapat dilihat pada tabel 4.1 – 4.4. yang menunjukkan analisa gap untuk masing – masing variabel utama yang diteliti dan rekapitulasi analisa gap pada tabel 4.5.

Persentase Gap= 𝑲𝒐𝒏𝒅𝒊𝒔𝒊 𝑬𝒙𝒊𝒔𝒕𝒊𝒏𝒈

𝑲𝒐𝒏𝒅𝒊𝒔𝒊 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑫𝒊𝒉𝒂𝒓𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏 x 100%

𝑹𝒂𝒕𝒂 − 𝒓𝒂𝒕𝒂 =𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊 − 𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒅𝒂𝒕𝒂 𝑿 𝑿 = 𝑿𝟏+ 𝑿𝟐+ 𝑿𝟑+ ⋯ + 𝑿𝒏

𝒏 4.3.1 Kelengkapan Tapak

Sub variabel yang ada pada variabel kelengkapan tapak adalah sumber air, jalan lingkungan, jarak antar bangunan, dan hidran halaman. Persentase gap dikaji dari masing – masing point kondisi yang diharapkan dan dibandingkan dengan kondisi eksistingnya.

93

Tabel 4.1 Hasil Analisa Gap Kelengkapan Tapak

No Sub

Variabel

Kondisi yang

Diharapkan Analisa dan Kondisi Eksisting Persentase Gap 1. Sumber

air

Tersedia dengan kapasitas yang memenuhi persyaratan minimal terhadap fungsi bangunan

Gambar 4.5 Kondisi Eksisting Sumber Air Rusunawa Pada bangunan rusunawa, tersedia roof tank untuk kebutuhan air bersih penghuni yang dialirkan ke tiap – tiap unit hunian dengan kapasitas 4 m3. Kapasitas sumber air tersebut dapat menjangkau

100

94

semua unit hunian dengan baik.

Untuk sub variabel ini, persyaratan terpenting adalah sistem air pada bangunan dapat melayani seluruh kebutuhan penghuni ditiap lantainya. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, bangunan rusunawa telah memenuhi persyaratan yang ada.

2. Jalan lingkun gan

• Tersedia dengan lebar minimal 6m

• Diberi pengerasa n

• Lebar jalan masuk minimal 4 m.

Gambar 4.6 Kondisi Eksisting Jalan lingkungan Rusunawa Ukuran jalan masuk dan keluar rusunawa adalah 4,5 m sehingga sudah memenuhi persyaratan. Untuk lebar dari jalan

100

95

lingkungan yang dilapisi dengan perkerasan pada tapak rusunawa ini adalah 8 m sehingga cukup luas untuk sirkulasi kendaraan pemadam kebakaran ke dalam site bangunan. Dari tiga persyaratan yang ada, jalan lingkungan yang ada pada tapak sudah memenuhi semua persyaratan dengan baik, namun beberapa rekomendasi desain yang dapat dilakukan adalah berupa pelebaran jalan masuk ke dalam tapak.

3. Jarak antar banguna n

Sesuai Persyaratan (Tinggi s/d 8 – 3 m; 8 s/d 14 – 6 m;

tinggi > 40m - >8 m)

Gambar 4.7 Kondisi Sekitar Tapak Rusunawa

Disekitar bangunan rusunawa terdapat rumah – rumah warga yang berada cukup jauh dari bangunan rusunawa yakni sekitar

100

96

30 m sehingga api tidak dapat menjalar dengan mudah. Tinggi bangunan adalah sekitar 14 m sehingga jarak antar bangunan sudah memenuhi persyaratan yang ada. Bangunan rusunawa merupakan satu unit bangunan utuh yang dikelilingi oleh rumah

Gambar 4.8 Kondisi Hidran Halaman

Hidran halaman tersedia tepat didepan bangunan rusunawa sehingga dapat diakses dengan mudah. Akan tetapi, selang hidran tersebut berada dalam keadaan yang kurang terawat dan tidak dapat berfungsi jika sewaktu – waktu terjadi kebakaran.

Sedangkan untuk kualitas spek

66,6

97

dari hidran halamannya sudah memenuhi persyaratan.

Persyaratan berupa keberadaan dan lokasi hidran halaman pada tapak menjadi penting untuk dimasukkan kedalam rekomendasi desain karena lokasi yang mudah diakses oleh petugas pemadam kebakaran dapat membantu mengatasi bahaya kebakaran.

Gambar 4.9 Site Rusunawa

98

Dari persyaratan yang ada, hanya dua yang terpenuhi sehingga untuk persentase analisa gapnya

adalah:

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 =

𝟐

𝟑 𝒙 𝟏𝟎𝟎% = 𝟔𝟔, 𝟔%

Rata - Rata 91,5

Berdasarkan tabel 4.1, rata – rata persentase gap untuk variabel kelengkapan tapak adalah 91,5 % yang sangat sesuai dengan peraturan.

A = POS PENJAGA C = RUSUNAWA

B = PARKIR MOTOR D = RUANG GENERATOR DAN POMPA = AREA MOBIL PEMADAM

= HIDRAN HALAMAN

= HIDRAN PILAR

= SIAMES CONNECTION

99 4.3.2 Sarana Penyelamatan

Sub variabel yang ada pada variabel sarana penyelamatan adalah jalan keluar dan konstruksi jalan keluar.

Tabel 4.2 Hasil Analisa Gap Sarana Penyelamatan

No Sub

Variabel

Kondisi yang

Diharapkan Analisa Persentase

Gap

Gambar 4.10 Tangga Utama dan Tangga Darurat Rusunawa

Pada bangunan rusunawa, terdapat 2 tangga darurat yang menghubungkan tiap lantainya.

Tangga darurat ini memiliki tinggi efektif 2,88 m dengan lebar anak tangga 1,2 m dan tinggi anak tangga 0,18 m. Dua tangga darurat tersebut berada di bagian kiri dan

kanan bangunan yang

bersebelahan langsung dengan

76

100

pintu keluar bangunan dengan jarak efektif 6 m. Hal ini tentu saja dapat berpengaruh baik terhadap tingkat keamanan penghuni jika sewaktu – waktu terjadi kebakaran karena penghuni dapat keluar dengan cepat dan aman.

Kekurangan pada tangga darurat ini adalah tidak terdapat ruang khusus yang dapat melindungi penghuni dari bahaya kebakaran sehingga bukaan dan atribut pelengkapnya juga tidak mencukupi seperti penggunaan pintu ayun dan desain sign / tanda kebakaran. Untuk tingkat kesenjangannya, point ke 4,6, dan 7 menjadi kekurangan pada tangga darurat rusunawa dimana pada point ke 4, lebar anak tangga tidak sesuai dengan persyaratan yang ada yakni minimal 2 meter. Oleh karena itu, pada rekomendasi desain dapat ditambahkan kompartmen ruang tersendiri untuk tangga darurat dan penambahan sign / tanda kebakaran yang baik.

101

Gambar 4.11 Ukuran Tangga Darurat

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟏 = 𝟏𝟎𝟎%

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟐 = 𝟏𝟎𝟎%

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟑 = 𝟏𝟎𝟎%

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟒 = 𝟏𝟐𝟎

𝟐𝟎𝟎 𝒙 𝟏𝟎𝟎%

= 𝟔𝟎%

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟓 = 𝟏𝟎𝟎 𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟔 = 𝟎%

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟕 = 𝟎%

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟖 = 𝟏𝟎𝟎 % 𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟗 = 𝟏𝟎𝟎 % 𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟏𝟎 = 𝟏𝟎𝟎%

𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 = 𝟕𝟔𝟎

𝟏𝟎𝟎𝟎 𝒙 𝟏𝟎𝟎% = 𝟕𝟔%

2. Konstru ksi jalan keluar

• Harus bebas halangan

• Lebar minimal 200 cm.

• Dapat mencegah penjalaran asap kebakaran.

62

102

Gambar 4.12 Kondisi dan Potongan Tangga Darurat

Pada salah satu bagian tangga darurat yang ada pada rusunawa, terdapat papan yang menhalangi sirkulasi tangga darurat. Hal ini tentu saja berbahaya sehingga akses salah satu tangga darurat menjadi terganggu sehingga untuk perhitungan analisa gapnya adalah sebesar 50 % dikarenakan 1 dari 2 tangga darurat yang tidak bebas halangan.

Dan juga penjalaran asap menjadi masalah pada rusunawa dikarenakan pada tangga darurat tidak terdapat kompartemen ruang tersendiri sehingga asap dari koridor rusunawa dapat langsung masuk ke area tangga darurat. Oleh karena itu, salah satu rekomendasi desain yang dapat dilakukan

103

adalah dengan melakukan kompartmen ruang pada tangga darurat serta bukaannya.

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟏 =𝟏

𝟐 𝒙 𝟏𝟎𝟎%

= 𝟓𝟎 % 𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟐 =𝟏𝟐𝟎

𝟐𝟎𝟎 𝒙 𝟏𝟎𝟎%

= 𝟔𝟎%

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟑 = 𝟎%

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟒 = 𝟏𝟎𝟎%

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟓 = 𝟏𝟎𝟎 % 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 = 𝟑𝟏𝟎

𝟓𝟎𝟎 𝒙 𝟏𝟎𝟎% = 𝟔𝟐%

Rata – Rata 69

Berdasarkan tabel 4.2, rata – rata persentase gap untuk variabel sarana penyelamatan adalah 69 % yang berarti sesuai dengan peraturan.

4.3.3 Sistem Proteksi Aktif

Sub variabel yang ada pada variabel sistem proteksi aktif adalah deteksi dan alarm, siames connection, APAR, hidran gedung, sprinkler, sistem pemadam luapan, pengendali asap, deteksi asap, pembuangan asap, lift kebakaran, pencahayaan darurat, listrik darurat, dan ruang pengendali operasi.

Tabel 4.3 Hasil Analisa Gap Sistem Proteksi Aktif

No Sub

Variabel

Kondisi yang

Diharapkan Analisa Persentase

Gap

104 kecuali kelas 1a

Gambar 4.13 Instalasi Fire Alarm Rusunawa

Kondisi deteksi dan alarm didalam rusunawa berada dalam keadaan yang baik dan berada ditiap lantai bangunan. Alat manual pemicu alarm juga

100

105

tersedia di rusunawa ini dengan jarak yang dekat sehingga lebih efektif dalam pengoperasiannya.

Deteksi dan alarm pada bangunan ini memenuhi persyaratan minimal yang telah ditentukan. siames connection berada pada lokasi yang mudah dijangkau oleh mobil pemadam. Akan tetapi, tanda petunjuk untuk proteksi tersebut tidak tersedia sehingga untuk rekomendasi desainnya adalah dengan penyediaan tanda petunjuk untuk setiap sarana proteksi aktif yang ada pada rusunawa.

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 = 𝟏

𝟐 𝒙 𝟏𝟎𝟎%

= 𝟓𝟎%

50

106 3. Alat

pemada m api ringan

• Jenis APAR sesuai SNI 03-3988

• Jumlah sesuai dengan luasan bangunannya .

• Jarak penempatan antar alat maksimal m

Gambar 4.14 Kondisi APAR di Rusunawa

Jenis APAR di bangunan ini yakni dry powder dengan kapasitas 2,5 kg dan daya padam 8-A;34B sudah memenuhi persyaratan dimana mampu mengatasi bahaya kebakaran A, B, C dan E. Sedangkan untuk jumlah APAR yang digunakan pada bangunan ini belum sesuai dengan luasan bangunan per lantainya (880 m2) dimana hanya terdapat 1 APAR per lantai

43,83

107

sehingga jarak penempatannya juga tidak terpenuhi.

𝑷𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒕𝒂𝒔𝒆 𝑮𝒂𝒑 𝟏 = 𝟏𝟎𝟎%

Gambar 4.15 Kondisi Instalasi Hydrant di Rusunawa

Rusunawa ini memenuhi semua persyaratan yang telah ditentukan dimana hydran

100

108 bh/800m2

dengan partisi

gedung dapat memberikan pasokan air yang cukup dan 1

Bahaya kebakaran yang ada pada rusunawa adalah bahaya kebakaran sedang dimana terdapat berbagai jenis bahan dengan nilai kemudahan terbakar sedang. Pada bangunan ini tidak terdapat sprinkler untuk mengatasi bahaya kebakaran gedung sehingga untuk meningkatkan tingkat keandalan pada bangunan, maka dapat dibuat sebuah desain sprinkler tipe wet pipe dengan model branching pattern with dead end (pola percabangan).

0

109 tidak terdapat sistem pemadam luapan untuk mengatasi bahaya kebakaran gedung terdapat sistem pengendali asap seperti cerobong pembuangan asap ataupun fan pembuangan asap.

0

110 detector < 20 m dan < 10 m dari dinding pemisah atau tirai asap

Pada bangunan ini tidak terdapat sistem deteksi asap untuk mencegah terjadinya bahaya kebakaran.

0

111 sebagai jalur pembuangan asap.

Pada bangunan ini, tidak terdapat reservoir asap khusus untuk mengatasi bahaya asap pada saat terjadinya kebakaran.

Rusunawa ini mengandalkan void gedung dan tangga sebagai medium pembuangan asapnya.

0

sekurang-Bangunan ini tidak memiliki lift kebakaran khusus sebagai sarana evakuasi darurat. Sarana evakuasi yang dapat digunakan pada bangunan ini hanya berupa tangga darurat yang

0

112

menghubungkan tiap – tiap lantai rusunawa. darurat harus dipasang disetiap tangga yang dilindungi

50

113 terhadap

kebakaran, disetiap lantai dengan luas lantai >

300 m2, disetiap jalan terusan dan tidak terjadi gangguan listrik, tanda petunjuk arah keluar harus memenuhi standar yang berlaku

Gambar 4.16 Kondisi Pencahayaan di Rusunawa

Pencahayaan darurat / lampu indikator tersedia 1 buah disetiap koridor lantai rusunawa dan mengandalkan pencahayaan alami serta lampu biasa di koridor rusunawa. Dan juga tanda petunjuk / sign tangga darurat juga tidak ada untuk setiap 2 tangga darurat yang ada disetiap lantai. Oleh karena itu, masih perlu ditambahkan tanda / sign darurat sehingga dapat mengarahkan penghuni rusunawa dengan lebih baik lagi.

114 ruang generator listrik dan pompa sehingga sudah memenuhi kebutuhan untuk tiap penghuni rusunawa.

100

115

peralatan yang lengkap, dan

Pada bangunan ini, terdapat ruang pengendali operasi yang dapat memantau jika sewaktu – waktu terjadi kebakaran dan memiliki peralatan yang cukup

100

Rata – Rata 41,83

Berdasarkan tabel 4.3, rata – rata persentase gap untuk variabel sistem proteksi aktif adalah 41,83 yang berarti kurang sesuai peraturan.

4.3.4 Sistem Proteksi Pasif

Sub variabel yang ada pada variabel sistem proteksi pasif adalah ketahanan api struktur bangunan, kompartemenisasi ruang, dan perlindungan bukaan.

Tabel 4.4 Hasil Analisa Gap Sistem Proteksi Pasif

No Sub

Variabel

Kondisi yang

Diharapkan Analisa Persentase

Gap

116

Ketahanan api struktur

bangunan sesuai dengan yang

dipersyaratkan (tipe A, Tipe B, Tipe C), sesuai dengan fungsi / klasifikasi bangunannya

-Sistem struktur rangka terbuka dan dinding geser (shear wall) - Mutu beton: K – 350.

- Mutu besi: U-24 dan U-40.

- Dimensi kolom mulai lt. dasar sd lt. 5 dibuat seragam.

- Ukuran balok pada setiap lantai dibuat sama.

Pondasi bangunan dipilih menggunakan pondasi dalam:

- Type 1: pondasi tiang pancang Mini Pile 25 x 25 dan 30 x 30 cm.

– Type 2: pondasi bored pile, diameter 80 cm.

Gambar 4.17 Rangka Atap Baja Ringan Rusunawa

Rusunawa merupakan bangunan kelas 3 dengan persyaratan bahwa bangunan tersebut harus memiliki tipe konstruksi tipe A berdasarkan SNI 03-1736-2000. Ada 3 persyaratan yang diharus

100

117

dipenuhi, yakni persyaratan kolom, persyaratan lantai, dan persyaratan atap.

Untuk persyaratan lantai, sudah memenuhi karena terletak langsung di atas tanah dan pada bangunan tidak terdapat basement. Begitu juga dengan persyaratan atap dimana rusunawa merupakan bangunan kelas 3 dimana pada kelas tersebut persyaratan atapnya adalah menggunakan rangka atap baja ringan yang tahan api.

Sedangkan untuk persyaratan kolom, TKA kolom memenuhi TKA yang diisyaratkan yakni

90/90/90 dari segi

Pada bangunan rusunawa, sudah memenuhi 3 persyaratan yang diperuntukkan untuk bangunan kelas 3 dengan tipe konstruksi A dari segi atap,lantai, dan kolomnya. Kekurangan pada rusunawa adalah pada bangunan tersebut tidak terdapat sistem sprinkler dan hanya mengandalkan APAR sebagai proteksi portable untuk mengatasi bahaya kebakaran

58,3

118 tipe serta cara pemasangan

sehingga untuk rekomendasi desainnya dapat dibuat sebuah sistem sprinkler yang sesuai dengan konteks bangunan dan pelebaran untuk jalur masuk kedalam tapak juga dapat dilakukan sehingga kendaraan dapat lebih leluasa masuk ke vertical dari dinding tertutup dari bawah

25

119 sampai atas

disetiap lantai diberi penutup

Gambar 4.18 Kondisi Bukaan Bukaan yang ada pada rusunawa tidak memiliki fire shutter (penyetop api) yang dapat mengatasi bahaya api. Hal ini tentu saja berbahaya dikarenakan bukaan dengan tebal 40 mm ini masih menggunakan material kayu yang tidak tahan api sehingga diperlukan penutup yang tahan api untuk bukaan

Berdasarkan tabel 4.4, rata – rata persentase gap untuk variabel sistem proteksi pasif adalah 61,1 % yang berarti sesuai dengan peraturan. Hasil pengamatan analisa gap direkapitulasi yang ditunjukkan pada tabel 4.5.

120

Tabel 4.5 Rekapitulasi Persentase Analisa Gap

4.4 Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan (NKSKB)

Penilaian NKSKB didasarkan pada kriteria penilaian pada tabel 2.11 dan pembobotan untuk masing – masing sub variabel pada tabel 2.17. Persentase analisa gap dimasukkan ke dalam kolom hasil penilaian keandalan sistem keselamatan bangunan (NKSKB) berdasarkan pada tabel 2.18. Penilaian tersebut disajikan dalam tabel 4.6 – 4.9.

4.4.1 Kelengkapan Tapak

Analisis penilaian komponen kelengkapan tapak di Rusunawa Sunggal Kodam I/BB dapat disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.6 NKSKB Kelengkapan Tapak

No. Parameter NKSKB Persentase Gap Keterangan 1. Kelengkapan Tapak 91,5 Sangat sesuai dengan

peraturan 2. Sarana

Penyelamatan 69 Sesuai dengan peraturan

3. Sistem Proteksi

Aktif 41,83 Kurang sesuai dengan

peraturan 4. Sistem Proteksi

Pasif 61,1 Sesuai dengan peraturan

121

Jumlah 22,9125

Berdasarkan tabel 4.6, nilai kondisi untuk kelengkapan tapak sebesar 22,9125 dengan nilai bobot kelengkapan tapak adalah 25. Hal ini menunjukkan bahwa komponen kelengkapan tapak di Rusunawa Sunggal Kodam I / BB telah memenuhi syarat sesuai dengan peraturan.

Pada salah satu sub variabel hidran halaman, masih ada beberapa elemen yang diperlu ditambah sehingga dapat meningkatkan tingkat keandalannya misalnya dari segi penempatan maupun dari segi jumlah prasarananya.

4.4.2 Sarana Penyelamatan

Analisis penilaian sarana penyelamatan di Rusunawa Sunggal Kodam I/BB dapat disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.7 NKSKB Sarana Penyelamatan

No.

122 2. Konstruksi

jalan keluar

C 62 50 7,75

Jumlah 17,25

Berdasarkan tabel 4.7, nilai kondisi untuk sarana penyelamatan sebesar 17,25 dengan nilai bobot sarana penyelamatan adalah 25. Hal ini menunjukkan bahwa komponen sarana penyelamatan di Rusunawa Sunggal Kodam I / BB terpasang, tetapi ada sebagian kecil instalasi yang tidak sesuai persyaratan.

4.4.3 Sistem Proteksi Aktif

Analisis penilaian sistem proteksi aktif di Rusunawa Sunggal Kodam I/BB dapat disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.8 NKSKB Sistem Proteksi Aktif

No.

123 7. Pengendali

asap

K 0 8 0

8. Deteksi asap K 0 8 0

9. Pembuangan asap

K 0 7 0

10. Lift kebakaran

K 0 7 0

11. Pencahayaan darurat

K 50 8 0,96

12. Listrik darurat

B 100 8 1,92

13. Ruang pengendali operasi

B 100 7 1,68

Jumlah 10,2015

Berdasarkan tabel 4.8, nilai kondisi untuk sistem proteksi aktif sebesar 10,2015 dengan nilai bobot sistem proteksi aktif adalah 24. Hal ini menunjukkan bahwa komponen sistem proteksi aktif di Rusunawa Sunggal Kodam I / BB berada dalam kondisi yang kurang dan tidak sesuai sama sekali.

4.4.4 Sistem Proteksi Pasif

Analisis penilaian sistem proteksi pasif di Rusunawa Sunggal Kodam I/BB dapat disajikan dalam tabel berikut:

124

Tabel 4.9 NKSKB Sistem Proteksi Pasif

No.

3. Perlindungan bukaan

K 25 32 2,08

Jumlah 16,29

Berdasarkan tabel 4.9, nilai kondisi untuk sistem proteksi pasif sebesar 16,29 dengan nilai bobot sistem proteksi pasif adalah 26. Hal ini menunjukkan bahwa komponen sistem proteksi pasif di Rusunawa Sunggal Kodam I / BB memiliki tingkat keandalan yang cukup dimana ada sebagian kecil kriteria yang belum memenuhi persyaratan.

Tabel 4.10 Rekapitulasi NKSKB Rusunawa

No. Parameter NKSKB Nilai Nilai

125

Berdasarkan tabel 4.10, Rusunawa Sunggal Bukit Barisan memiliki nilai keandalan terhadap bahaya kebakaran sebesar 66,654 %.

Perhitungan ini menunjukkan bahwa tingkat keandalan bangunan rusunawa ini adalah “cukup” yakni ada beberapa elemen yang terpasang, tetapi ada sebagian kecil instalasi yang tidak sesuai persyaratan.

4.5 Rekomendasi Desain Arsitektural Proteksi Kebakaran

Rekomendasi ini didasarkan pada kriteria – kriteria penilaian yang masih belum terinstalasi pada tabel 2.12 – 2.15. Masing – masing kriteria tersebut nantinya menjadi rekomendasi perbaikan terhadap nilai keandalan sistem keselamatan bangunan rusunawa.

4.5.1 Kelengkapan Tapak

Rekomendasi desain yang dapat diberikan adalah berupa perbaikan terhadap kondisi dan perletakan hidran halaman yang berada tepat didepan

Rekomendasi desain yang dapat diberikan adalah berupa perbaikan terhadap kondisi dan perletakan hidran halaman yang berada tepat didepan