BAB IV ALASAN PENGHAPUS KESALAHAN DALAM
A. Alasan Penghapus Kesalahan
1. Alasan Pemaaf
Alasan yang menghapuskan kesalahan terdakwa, menghilangkan pertanggungjawaban (toerekenbaarheid) pembuat atas peristiwa yang dilakukannya. Perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tetap bersifat melawan hukum, tetapi tidak dapat dipidana karena tidak ada kesalahan. Kelakuan seseorang tetap suatu peristiwa pidana tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan (toegerekend) kepada pembuat.169
Dalam KUHP terdapat beberapa pasal alasan penghapus pidana yang termasuk kedalam alasan pemaaf, yaitu:
a. Tidak mampu bertanggungjawab (Ontoerekeningsvatbaarheid)
Alasan ini terdapat pada pasal 44 KUHP ayat (1) : “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya, disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya (gebrekkige ontwikkeling) atau terganggu karena penyakit (ziekelijke storing), tidak dipidana.” Sebab tidak dapat dihukumnya terdakwa berhubung perbuatannya tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya karena170:
1) Kurang sempurna akalnya, maksudnya disini adalah kekuatan pikiran, daya pikiran, kecerdasan pikiran sejak lahir atau di masa pertumbuhan, contohnya idiot;
169
J.E. Sahetapy,Hukum Pidana, (Yogyakarta: Liberti, 1995), Hal. 56 170
R. Soesilo,Op.Cit.Hal. 52, ditambah dengan penjelasan dalam J.E. Sahetapy,Op.Cit.Hal. 69
2) Sakit merubah akalnya atau terganggu karena penyakit; maksudnya penyakit itu bisa berupa gangguan psikis atau gangguan kesadaran karena sebab fisik, misalnya sakit jiwa dan akibat dari obat tidur yang tidak terduga.
b. Daya paksa (overmacht)
Tercantum dalam Pasal 48 KUHP yang berbunyi :“Tidaklah dapat dihukum
barangsiapa telah melakukan sesuatu perbuatan di bawah pengaruh dari suatu
keadaan yang memaksa”. Menyatakan seseorang yang telah melakukan sesuatu perbuatan karena suatu keadaan yang memaksa tidak dapat dihukum. Daya paksa yang dimaksud berupa paksaan psikis, phisik, dan keadaan darurat (noodtoestand). Mr. J.E. Jonkers membedakan daya paksa menjadi:171
1) Daya paksa mutlak (absolute overmacht), yaitu orang yang mengalami sesuatu yang tidak dapat berbuat lain atau dilawan karena pengaruh yang diberikan oleh orang lain.
2) Daya paksa relatif (relatieve overmacht), yaitu orang yang mengalami pengaruh yang tidak mutlak akan tetapi paksaannya tidak dapat dilawan. 3) Keadaan Darurat (noodtoestand), yaitu keadaan darurat karena seorang
terpaksa untuk memilih diantara dua peristiwa pidana, pilihan masih menjadi inisiatif pembuat.
c. Pembelaan yang melampaui batas (Noodweerexces)
Alasan ini terdalat di dalam Pasal 49 ayat (2), yang berbunyi : “Tiada boleh
dihukum barangsiapa melampaui batas pembelaan yang perlu jika perbuatan itu dilakukannya karena sangat panas hatinya disebabkan oleh seranganitu”.
171
Adapun batas-batasNoodweerexcesyaitu172: 1) Melampaui batas pembelaan yang perlu,
2) Terbawa suatu perasaan yang ‘sangat panas hati’,
3) antara timbulnya perasaan “sangat panas hati” dan serangan yang dilakukan
ada suatu hubungan kausal.
Noodweerexces adalah pembelaan terpaksa melampaui batas, yang disebabkan oleh suatu tekanan jiwa yang hebat karena adanya serangan orang lain yang mengancam. Pembelaan terpaksa yang dilakukan yaitu pembelaan raga, kehormatan kesusilaan, atau harta benda terhadap serangan seketika yang melawan hukum. Serangan menyebabkan kegoncangan jiwa yang meliputi rasa marah, takut, panik, dsb. Pelampauan batas ini oleh undang-undang diperkenankan, asal disebabkan karena perasaan tergoncang hebat yang timbul karena serangan itu; perasaan tergoncang hebat misalnya jengkel atau marah sekali yang biasa dikatakan
”gelap mata”.173 Contohnya ketika seorang polisi melihat istrinya diperkosa, lalu mencabut pistol yang dibawanya dan ditembakkan beberapa kali kepada pemerkosa. Boleh dikatakan itu telah melampaui batas pembelaan darurat, dengan cara lain selain menembakkan pistol bisa saja menghentikan perbuatan pemerkosaan itu.
d. Melakukan perintah jabatan yang tidak sah
Tercantum dalam Pasal 51 ayat (2) KUHP yaitu: “Perintah jabatan yang
diberikan oleh kuasa yang tidak berhak tidak membebaskan dari hukuman, kecuali jika pegawai yang dibawahnya atas kepercayaannya memandang bahwa perintah itu
172
Alvi Syahrin,Alasan Penghapus Pidana, http://alviprofdr.blogspot.com/2010/11/alasan- penghapusan-pidana.html, diunduh tanggal 14 November 2013 Pukul 14.12 WIB
173
seakan-akan diberikan oleh kuasa yang berhak dengan sah dan menjalankan perintah itu menjadi kewajiban pegawai yang dibawah perintah tadi.”
Pasal ini menentukan bahwa menjalankan perintah yang tidak sah, tetap merupakan perbuatan melawan hukum. Tetapi jika perintah tersebut dilaksanakan dengan itikad baik karena memandang perintah yang diberikan itu berasal dari pejabat yang berwenang, dan dilakukan dalam lingkup kewenangannya, maka ia tidak dipidana. Dilihat dari pasal tersebut dapat dihapuskan pidananya apabila memenuhi syarat174:
1) Perintah itu dipandang sebagai perintah yang sah; 2) Dilakukan dengan itikad baik; dan
3) Pelaksanaannya memang dalam ruang lingkup tugas-tugasnya.
Keempat alasan pemaaf yang telah diuraikan diatas merupakan alasan penghapus pidana yang berlaku umum. Dalam KUHP dan terdapat pula alasan penghapus pidana yang berlaku khusus. Adapun keistimewaan dari alasan penghapus pidana yang berlaku khusus yaitu mengecualikan dijatuhkannya hukuman tidak berdasarkan tidak adanya wederrechtelijkheid atau tidak adanya schuld (kesalahan dalam arti kata luas) tetapi dasar bijzondere strafuitsluitingsgronden adalah kepentingan umum tidak akan tertolong oleh suatu penuntutan pidana, pembuat undang-undang pidana menganggap lebih baik dan lebih bijaksana tidak menuntut dimuka hakim pidana.175
174
H.M. Hamdan,Alasan Penghapus..,Op.Cit. Hal. 85 175
Adapun alasan penghapus pidana yang berlaku khusus yang bersifat sebagai alasan pemaaf terdapat dalam pasal:
a. Pasal 110 ayat (4) KUHP176
Pasal 110 ayat (1) menyebutkan tentang permufakatan untuk melakukan perbuatan makar. Pasal ini dipandang khusus karena belum termasuk kedalam percobaan (poging) atau perbuatan persiapan (voorbereiding) yang biasanya belum
termasuk dalam tindak pidana. Diadakannya tindak pidana ‘permufakatan’
menandakan pentingnya tindak pidana yang bersangkutan sedapat mungkin harus diberantas pada waktu baru direncanakan.177
Pada ayat (2) menyebutkan bahwa hukuman juga berlaku bagi orang yang menyuruh melakukan atau memudahkan dari 5 (lima) perbuatan, yaitu:
1) Mencoba membujuk orang lain supaya ia melakukan menyuruh melakukan atau turut melakukan kejahatan itu atau memberi bantuan atau kesempatan, alat-alat, atau keterangan-keterangan untuk melakukan kejahatan;
2) Berusaha mendapatkan untuk dia sendiri atau orang lain kesempatan, alat-alat, atau keteangan-keterangan untuk melakukan kejahatan itu;
3) Menyimpan atau menyediakan barang-barang yang ia ketahui ditujukan untuk melakukan kejahatan itu, barang-barang mana yang menurut ayat 3 pasal ini dapat dirampas;
4) Menyiapkan atau memegang rencana-rencana untuk melakukan kejahatan itu, rencana-rencana tersebut ditujukan untuk diberitahukan kepada orang lain;
176
Pasal 110 ayat (4) berbunyi :” Tidak boleh dihukum barang siapa maksudnya ternyata hanya menyediakan atau memudahkanperubahan ketatanegaraan dengan pengertian umumnya.”
177
5) Berusaha mencegah, menghalangi, atau menggagalkan suatu daya upaya pemerintah untuk mencegah atau menumpas pelaksanaan kehendak melakukan kejahatan itu.
Hal ini bertujuan untuk menghentikan sejak dini niat seseorang untuk melakukan kejahatan makar. Karena dipandang perlu dan dikhawatirkan dengan adanya tindak pidana seperti yang dimaksud dalam ayat (1) dan (2) ini, warga negara akan terlalu merasa tertekan dalam kemerdekaannya untuk berpikir dan berbuat secara politis yang menyangkut tentang kehidupan berbangsa dan bernegara.178 Ini berlaku bagi warga masyarakat yang bertujuan untuk mempersiapkan atau memudahkan perubahan dibidang ketatanegaraan kita pada umumnya. Dengan demikian kehidupan berpolitik pada umumnya dan pada pekerjaan partai-partai politik pada khususnya, dapat berjalan dengan semestinya.179 Dengan kata lain, orang-orang yang melalukan perbuatan yang dilarang pada pasal 110 ayat (1) dan (2), karena didasarkan atas maksud dan tujuan yang baik untuk mengubah ketatanegaraan dapat dimaafkan.
b. Pasal 166 KUHP180
Pasal ini berkait dengan pasal 164 dan 165 yang memberikan ancaman pidana pada seseorang yang tidak melaporkan tentang informasi bahwa ia mengetahui akan terjadi suatu kejahatan yang berat sifatnya ketika pada saat itu kejahatan tersebut
178
Ibid.
179
Ibid. Hal. 88 Lihat Wirjano Prodjodikoro, Tindak-tindak Pidana Tertentu di Indonesia, (Banding: Refika Aditama, 2002), Hal. 200-201
180
Pasal166 berbunyi: “ Pasal 164 dan 165 tidak berlaku bagi orang yang jika pemberitahuan itu akan mendatangkan bahaya penuntutan hukum bagi dirinya, bagi salah seorang dari kaum keluarganya sedarah atau keluarganya karena perkawinan dalam keturunan yang lurus atau derajat kedua atau ketiga dari keturunan menyimpang bagi suaminya (istrinya) atau bekas suaminya (istrinya) atau bagi orang lain, yang kalau dituntut, boleh ia meminta supaya tidak usah memberi keterangan sebagai saksi, berhubungan degan jabatan atau pekerjaannya.”
masih dapat dicegah atau dihindarkan. Hukuman baru dapat diberikan kepada orang tersebut apabila kejahatan itu telah terjadi. Menurut pasal 166 kedua pasal tersebut tidak berlaku, karena perbuatan itu dilakukan untuk menghindarkan dirinya atau sanak keluarganya dari penuntutan pidana atau terhadap seseorang yang dalam perkaranya ia dapat dibebaskan dari kewajiban memberi saksi di muka pengadilan.
c. Pasal 221 ayat (2) KUHP181
Pasal 221 ayat (1) menentukan 2 (dua) macam perbuatan yang dipidana yaitu182:
1) Orang yang sengaja menyembunyikan orang yang telah melakukan kejahatan atau yang dituntut karena suatu kejahatan, atau menolong orang untuk melarikan diri daripada penyelidikan dan pemeriksaan atau tahanan oleh Polisi dan/atau penegak hukum;
2) Orang yang membinasahkan, menghilangkan, menyembunyikan, atau merusak benda-benda atau bekas-bekas yang digunakan untuk kejahatan agar tidak dapat diperiksa oleh pejabat yang berwenang, dengan maksud untuk menyembunyikan kejahatan atau untuk menghalang-halangi proses pemeriksaan, penyidikan atau penuntutan.
Kedua perbuatan tersebut dilarang dan diancam pidana, tetapi dalam ayat (2) perbuatan itu dimaafkan karena bertujuan untuk melindungi keluarganya. Jadi alasan ini berlaku bagi orang-orang yang memiliki hubungan dengan pelaku yang berusaha
181
Pasal 221 ayat (2) berbunyi: “ Peraturan ini tidak berlaku bagi orang yang melakukan perbuatan yang tersebut itu dengan maksud akan meluputkan atau menghindarkan bahaya penuntutan terhadap salah seorang kaum keluarganya atau sanak saudaranya karena perkawinan dalam keturunan yang lurus atau dalam derajat yang kedua atau yang ketiga dari keturunan yang menyimpang atau terhadap suami (istrinya) atau jandanya.”
182
untuk melindungi keluarga atau sanak saudaranya, diluar daripada itu alasan tersebut tidak berlaku.183