• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUBKULTUR MUSIK INDIEPOP VERSI BANGKUTAMAN

3. Bangkutaman : DIY ( Do It Yourself ) dan RCA ( Root Character Attitude )

3.1 Konsep DIY ( Do It Yourself )

3.1.1 Alat Musik

Orang-orang pada awal sejarah subkultur pada waktu itu adalah kelas pekerja atau kelas bawah. Oleh karena itu mereka menggunakan apa saja agar dapat menciptakan musik. Serupa namun tak sama dengan keadaan subkultur musik indie sekarang. Pegiat-pegiat subkultur musik indie sekarang pun menggunakan berbagai alat agar tercipta musik yang mereka inginkan. Bagi pemain musik, alat musik menjadi sesuatu hal yang penting. Saking pentingnya, seorang musisi bisa melakukan berbagai cara untuk mendapatkan alat musik yang mereka inginkan. Mulai dari membeli baru maupun bekas di sebuah toko musik, membeli lewat online shop, sampai memesan secara khusus (sering disebut custom) kepada orang yang ahli dalam membuat sebuah alat musik. Sayangnya, harga alat musik yang beredar di pasaran dapat dibilang tidak murah, pun biaya membuat tiruan (custom). Apalagi jika alat musik tersebut bermerk tertentu yang sudah cukup terkenal. Sebagai ilustrasi, seorang pemain gitar secara praktik mungkin dapat

memainkan gitar dengan merk apapun. Namun, akan ada gengsi dan kepuasan yang berbeda ketika pemain gitar tersebut memainkan gitar (asli bukan custom) dengan merk tertentu yang disukainya. Dengan adanya gengsi dan kepuasan itulah maka musisi-musisi seolah berlomba-lomba untuk mendapatkan alat musik yang diinginkan. Kalaupun tidak dapat membeli alat musik asli merk tertentu, maka musisi-musisi (seakan-akan) berlomba-lomba mengcustom sehingga mendapatkan alat musik yang diinginkan.

Mengenai konsep alat musik, dalam bukunya, Suka Harjana, menulis bahwa secanggih-canggihnya sebuah alat musik tidak dapat menggantikan fungsi manusia di dalam kegiatan bermusik. Hal tersebut disebabkan karena manusialah yang meramu, yang memiliki ide dan alat-alat musik tersebut membantu manusia untuk membuat ide-ide menjadi sebuah musik. Dengan kata lain, alat musik hanyalah sebagai perantara atau media saja131

. Membicarakan mengenai alat musik dalam musik mainstream dengan dunia subkultur tidak jauh berbeda. Masing-masing pegiat musik tersebut ingin mendapatkan alat musik sesuai dengan yang mereka inginkan. Jika seorang musisi mempunyai latar belakang keluarga kelas menengah ke atas, biasanya dia langsung dapat membeli atau mengcustom alat musik yang diinginkan. Sebaliknya, jika musisi berasal dari kelas bawah, biasanya terjadi pinjam-meminjam antar musisi.

Dari wawancara dengan Irwin132, peneliti mendapatkan data bahwa dalam

bermusik, Irwin menggunakan gitar elektrik merk Fender made in Mexico yang pada waktu itu dibelinya dengan harga 6,2 juta rupiah. Sedangkan Acum menggunakan bass replika Fender. Menurut peneliti, ada suatu ambivalensi dalam ungkapan Irwin dalam wawancara tersebut. Di satu sisi Irwin mengatakan bahwa dia mempunyai gitar merk

131

Hardjana, Suka. 2003. Corat-Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini. Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.hlm 26-28.

132

Fender yang harganya 6,2 juta rupiah yang dia kemukakan dengan ungkapan “adanya cuma ini”. Namun di sisi lain dia mengatakan bahwa jangan termakan merk, jangan

hanya karena tidak menggunakan merk tertentu kemudian tidak berkarya. Perkataan Irwin tersebut menurut peneliti melengkapi dengan yang diungkapkan oleh Suka Harjana. Suka Harjana menitik beratkan pada ide sebagai bagian yang terpenting dari proses bermusik, sedangkan Irwin mengemukakan karya adalah hasil akhir dari serangkaian proses bermusik. Dapat disimpulkan bahwa jika tidak ada ide dari buah pikiran manusia, sehebat apapun alat yang digunakan maka karya yang dihasilkan pun juga menjadi tidak maksimal. Namun menurut peneliti, harus diingat juga bahwa semakin berkualitas alat musik yang digunakan maka semakin bagus dan bervariasi juga musik yang dihasilkan.

Konsep alat musik bagi pegiat subkultur zaman dahulu dan kini nampaknya tidak jauh berbeda. Mereka mengusahakan bahkan menggunakan berbagai alat untuk dapat menyalurkan ide-ide bermusik mereka. Namun, seiring dengan kecanggihan teknologi terjadi perbedaan-perbedaan antara pegiat subkultur musik indie dahulu dan kini. Tampaknya, pegiat-pegiat subkultur kini berasal dari masyarakat kelas menengah ke atas. Mereka mempunyai cukup pengetahuan untuk mencipta alat-alat musik sehingga lebih canggih, misalnya gitar yang diberi efek tertentu sehingga dapat menghasilkan suara yang mereka inginkan dan mempunyai cukup akses untuk memproduksi dan mendistribusikan lagu-lagu mereka.

Memang, alat musik yang baik akan mampu mendukung penampilan sebuah band di atas panggung, namun jangan hanya keterbatasan alat kemudian tidak berkarya. Karena, menurut Irwin, yang terpenting dari sebuah alat musik adalah suara atau sound yang dihasilkan, bukan merknya. Untuk menghasilkan sound sesuai dengan yang

diinginkan ada banyak cara. Salah satunya dengan datang kepada orang yang ahli dalam meracik sound dan mereparasi alat musik menjadi sesuai yang diinginkan. Selain itu, yang terpenting dari sebuah grup band adalah karya, bukan pakaian atau alat-alat musik bermerk yang mereka perlihatkan 133. Memang benar apa yang diungkapkan oleh Irwin,

namun menurut peneliti ada sesuatu yang dicari oleh musisi atau band ketika mereka membeli merk tertentu. Jika tidak ada yang dicari, maka mereka cukup mengcustom saja, tidak perlu merogoh kantong lebih dalam untuk membeli sebuah alat musik tertentu buatan luar negri jika sound yang dihasilkan sama. Gengsi dan kepuasan pribadi. Itulah yang musisi cari dari membeli suatu alat musik dengan merk tertentu.

Pernyataan Irwin maupun sikap musisi ataupun grup band-grup band mengenai konsep alat musik menunjukan adanya sikap yang ambivalen. Seperti yang dikemukakan Bhabha,

…. that discourse of mimicry is constructed around ambivalence; in order to be effective, mimicry must continually produce its slippage, its excess, it difference. The authority of that mode of colonial discourse that I have called mimicry is therefore stricken by an indeterminacy: mimicry emerges as the representation of a difference that is itself a process of disavowal134

(…. bahwa wacana mimikri dibangun sekitar ambivalen; agar efektif, mimikri harus terus-menerus menghasilkan slip nya, kelebihan, itu perbedaan. Kewenangan bahwa modus wacana kolonial yang saya sebut mimikri karena itu dilanda ketidakpastian suatu: mimikri muncul sebagai representasi dari perbedaan yang itu sendiri merupakan proses pengingkaran)

Hibriditas memicu timbulnya mimikri. Dalam kajian pascakolonial, konsep mimikri diperkenalkan oleh Homi K. Bhabha. Menurut Bhabha, yang dimaksud dengan mimikri adalah reproduksi belang-belang si Eropa di lingkungan kolonial yang sudah tidak murni, yang tergeser dari asal-usulnya dan terkonfigurasi ulang dalam cahaya

133

Wawancara dengan Irwin via chatting facebook tanggal 15 Agustus 2011 134

sensibilitas dan kegelisahan khusus kolonialisme. Sebenarnya, mimikri lebih dekat dengan olok-olok. Resistensi dapat berupa mimikri yang akan memunculkan olok-olok135

Selain itu, mimikri disebabkan adanya hubungan yang ambivalen antara penjajah dan terjajah. Sikap ambivalensi ini dipicu oleh adanya kecintaan terhadap suatu hal sekaligus membencinya. Menurut Bhabha ambivalensi tidak hanya dapat dibaca sebagai petanda trauma subjek kolonial, melainkan juga sebagai ciri cara kerja otoritas kolonial serta dinamika perlawanan. Selanjutnya, Bhabha juga mengungkapkan bahwa kehadiran kolonial itu selalu ambivalen, terpecah antara menampilkan dirinya sebagai asli dan otoritatif dengan artikulasinya yang menunjukkan pengulangan dan perbedaan. Dengan kata lain, identitas kolonial itu tidak stabil, meragukan, dan selalu terpecah136

Dari pernyataan Irwin terlihat bahwa di satu sisi Irwin mengatakan bahwa musisi jangan termakan merk, namun di sisi lain Irwin justru menggunakan gitar dengan merk

Fender, salah satu merk alat musik ternama. „Jangan termakan merk‟ yang diungkapkan Irwin mengindikasikan bahwa dia „membenci‟ alat musik bermerk, sedangkan

tindakannya membeli salah satu gitar bermerk justru mengindikasikan yang sebaliknya. Kedua, kegiatan pengcustom-an alat musik yang dilakukan oleh musisi maupun band-band subkultur musik menunjukan bahwa ada rasa mengagumi alat musik dengan merk-merk tertentu yang biasanya diproduksi dari luar negeri. Keambivalensian di sini menunjukan bahwa sebagus-bagusnya alat musik merk dalam negeri, toh alat musik luar negeri lebih mempesona. Adanya keterpesonaan Timur terhadap Barat. Mengapa? Hal ini

135Foulcher, Keith. 2008. “Larut di Tempat yang Belum Terbentuk Mimikri dan Ambivalensi dalam Sitti

Noerbaja Marah Rusli” dalam Day, Tony dan Keith Foulcher. Sastra Indonesia Modern Kritik Postkolonial. Edisi Revisi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hlm 105

136

Loomba, Ania. 2003. Kolonialisme/Pascakolonialisme. Diterjemahkan oleh Hartono Hadikusumo. Yogyakarta: Bentang. Hlm 229-230

kerap kali terjadi pada masyarakat paskakolonial di mana terjadi proses „memandang

-dipandang‟ antara penjajah dengan yg dijajah. Salah satu akibat dari penjajahan adalah

sikap ambivalen.