SUBKULTUR MUSIK INDIEPOP VERSI BANGKUTAMAN
3. Bangkutaman : DIY ( Do It Yourself ) dan RCA ( Root Character Attitude )
3.1 Konsep DIY ( Do It Yourself )
3.1.2 Bangkutaman , ideologi bermusik dan Major label
Acum adalah salah satu pendiri Bangkutaman sekaligus salah satu pendiri subkultur musik indiepop di Yogyakarta. Latar belakang keluarganya adalah keluarga yang sangat dekat dengan musik. Ayahnya seorang pemain musik (band), sedangkan ibunya adalah seorang sinden137. Mengingat latar belakang keluarganya yang dekat
dengan musik maka tidak heran jika Acum bermain musik pula. Meskipun latar belakang pendidikannya bukanlah tentang musik, namun kehidupan Acum tidak jauh-jauh dari musik. Selain bermusik, Acum juga bekerja di sebuah penerbitan majalah khusus musik di Jakarta.
Berikut ini adalah kutipan wawancara ketika peneliti mewawancarai Acum perihal sikap Bangkutaman terhadap major label.
P (Peneliti): bangkutaman udh terendus mayor label blm mas? Hehhehe A (Wahyu Nugroho atau Acum): udah. cuma kita ga mau.
P: oya???? trs2....heheh pgn dgr critanya nih aku....klo blh sih
A: tapi kalo major label mau nurut sama kita, ya gpp juga. dulu banget sih P: emang syaratnya dari Bangkutaman apa?
A: all music dan production harus sesuai yang kita mau. Dan lain-lainnya. P: kalau 50:50 gimana?
A: major-indie kan soalan distribusi aja. 50:50 sejauh itu menguntungkan ok aja. yang jelas karya musik kita jangan jadi culun. misal di album ode buat kota, kita ngomongin masalah kota, trus di album kedua jadi cinta. yg jelas posisi tawar kita harus tinggi 138
Latar belakang keluarga, dan bidang yang digelutinya sekarang ini cukup memberikan pengetahuan sehingga mempengaruhi pola pikir Acum mengenai konsep bermusik. Seperti terlihat dalam wawancara di atas, ketika major label „mendatangi‟
137
Wawancara tanggal 11 November 2011 via facebook. 138
Bangkutaman, Bangkutaman tidak menerima tawaran major label begitu saja. Mereka memberikan persyaratan utama yaitu semua proses produksi harus sesuai dengan yang diinginkan Bangkutaman. Namun ketika peneliti bertanya lebih lanjut tentang kemungkinan negosiasi 50:50 yang artinya antara Bangkutaman dan major label
memiliki keuntungan yang sama, Acum (seolah-olah) kembali menegaskan bahwa produksi major maupun indie jangan sampai membuat karya menjadi tidak originial
(Acum mengistilahkan dengan „culun‟). Demi karya yang tidak „culun‟ tersebut maka
posisi tawar Bangkutaman harus tinggi. Posisi tawar yang tinggi dimaksudkan agar musisi atau pemain band tidak mudah disetir oleh major label.
Mengacu pada kutipan dari Hebdige di awal sub bab ini, kutipan tersebut mengatakan bahwa subkultur tidak langsung mengemukakan bahwa mereka kontra dengan hegemoni. Namun, perlawanan tersebut tidak hanya dihadirkan lewat tanda-tanda tetapi juga melalui ungkapan verbal yang tidak frontal. Bangkutaman tidak sepenuhnya menolak untuk bergabung dengan major label, hanya saja, perlu beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh major label. Persyaratan tersebut sebagai usaha dari Bangkutaman
untuk melawan dominasi major label. Terutama dominasi major label terhadap proses kreatif Bangkutaman. Bagi Acum, proses produksi sangat penting. Proses produksi tersebut nantinya akan mempengaruhi lagu-lagu yang dihasilkan. Kebebasan dalam produksi pada akhirnya akan menghasilkan keoriginalitas dan kualitas dalam berkarya. Hal tersebut menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar. Dengan kata lain, konsep keoroginalitasan dan kebebasan dalam berkarya menjadi suatu konsep yang penting bagi
Bangkutaman, dalam hal ini Acum, juga pernah mengemukakan kepada peneliti bahwa Bangkutaman tidak melawan mainstream, mereka lebih menyebut diri mereka alternatif.
P (peneliti): mas, apakah musik Bangkutaman bisa dikatakan melawan mainstream? A: (Wahyu Nugroho atau Acum): aduh, kita sih lebih suka menggunakan kata alternatif ya dibanding melawan139
Secara lisan mereka memang tidak mengungkapkan bahwa mereka melawan, namun dalam praktik bermusiknya, apa yang mereka lakukan adalah melawan hegemoni
mainstream. Konsep perlawanan tersebut dapat dilihat dari tanda-tanda yang melekat pada Bangkutaman. Ungkapan-ungkapan seperti Bangkutaman „tidak membenci‟ major label, hubungan timbal balik antara pihak musisi dan major label dan bahwa dalam sebuah band tidak hanya musik namun lebih daripada itu, dalam sebuah band juga harus ada Root, Character, dan attitude140 tersebut adalah ungkapan-ungkapan tersirat, yang dibalik ungkapan tersebut terdapat sisi perlawanan terhadap major label.
Sedikit berbeda dengan subkultur musik indie pada saat ini khususnya dalam band
Bangkutaman, Hebdige menulis tentang perlawanan frontal yang dilakukan oleh subkultur musik punk pada waktu itu
The name of the group (the Unwanted, the Reject, the Sex Pistols, the Clash, the Worst,
etc) and the titles of the songs: „Belsen was a Gas‟, „If you Don‟t Want to Fuck Me, fuck off, „I wanna be sick on You‟, reflected the tendency towards wilful desecration and the
voluntary assumption of outcast status which characterized the whole punk movement. Such tactics were, to adapt Lve-Strauss‟s famous phrase, „things to whiten mother‟s hair with‟. In the early days at least, these „garage bands‟ could dispense with musical terminology, „passion‟ for „technique‟, the language of the common man for the arcane
posturings of the existing elite, the now familiar armoury of frontal attacks for the bourgeois notion of entertainment or the classical consept of „high art‟141
(Nama band (the Unwanted, the Reject, the Sex Pistols, the Clash, the Worst, dan lain-lain) dan judul lagu: “Belsen was a Gas”, “If You Don‟t Want to fuck Me, fuck off”, “I
139
. Wawancara dilakukan via telepon tanggal 7 Agustus 2011 sehingga tidak dapat dikutip secara persis. 140
Lebih lanjut mengenai Root, Character dan Attitude lihat bab empat sub bab 2. 141
Wanna be Sick on You”, mencerminkan kecenderungan menuju kenajisan yang diniatkan dan dengan suka rela mengasumsikan status orang buangan yang memang menyifati gerakan punk. Taktik semacam ini, untuk memakai ungkapan terkenal Levi-Strauss, “sesuatu yang bikin rambut ibu ubanan”. Setidaknya pada hari-hari awalnya, “band garasi” ini barangkali hendak membuang pretensi bermusik dan mengganti, dalam pengertian romantik, “teknik” dengan “ passi”, postur rahasia para elit diganti dengan bahasa orang biasa, inilah khasanah persenjataan yang kini telah popular untuk secara frontal menyerang pandangan borjuis tentang hiburan atau konsep klasik “seni adiluhung”)
Terdapat perbedaan antara Bangkutaman sebagai band subkultur musik indiepop saat ini dengan subkultur punk pada waktu itu. Bangkutaman melakukan perlawanan dengan tersirat. Perlawanan tersebut Bangkutaman tujukan kepada major label. Sedangkan subkultur punk pada waktu itu secara terang-terangan melawan konsep borjuis mengenai seni adiluhung
Orang-orang yang bermusik dalam dunia subkultur biasanya membawakan genre yang berbeda dibandingkan genre yang ada dalam industri musik. Namun faktanya, keberbedaan tersebut tidak lantas membuat pihak major label tidak berminat meminang band-band dari scene indie. Peneliti berasumsi bahwa major label berniat meminang
Bangkutaman karena Bangkutaman tidak hanya mempunyai fans di Indonesia, tetapi juga fans di luar Indonesia. Major label berpikir bahwa hal tersebut akan sangat menguntungkan dari segi financial.
Di sinilah ujian bagi band-band subkultur musik indie. Menjadi salah satu band
mainstream yang terkenal seantero negeri pasti membawa kebanggaan tersendiri, namun kebanggaan tersebut juga memberikan efek lain. Paling tidak, band-band yang ditarik menjadi band mainstream harus bermusik menurut selera pasar. Bangkutaman, mungkin juga band-band subkultur lain yang pernah dilirik oleh major label, mempunyai jalan keluar yaitu dengan memberikan penawaran yang tinggi kepada major label. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga keoriginalitasan bermusik dan RCA yang mereka miliki. Dua
hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah, pertama, bahwa Bangkutaman mempunyai nilai tawar yang tinggi terhadap major label tertama yang berkaitan dengan materi lagu. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Bangkutaman tetap konsisten dengan genre musik yang dianutnya. Kedua, perlawanan yang dilakukan oleh Bangkutaman terhadap major label tidak dilakukan dengan frontal. Hal tersebut ditunjukan Bangkutaman dengan
memilih kata „alternatif‟ dibanding „melawan‟.