• Tidak ada hasil yang ditemukan

Allah – Bapa, Putra dan Roh Kudus

Dalam dokumen KATEKISMUS GEREJA KERASULAN BARU (Halaman 81-86)

Allah Tritunggal

3.2 Allah – Bapa, Putra dan Roh Kudus

Allah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Putra dan Roh Kudus. Dengan demikian Allah dapat dikenali sebagai Allah Tritunggal. Penyataan diri Allah ini membentuk dasar pengajaran tentang Trinitas. Tindakan-tindakan Allah di dalam sejarah dan penciptaan senantiasa adalah pekerjaan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah me-nyatakan diri-Nya sebagai Pencipta, Penebus, dan Pendamai serta Pencipta ciptaan yang baru. Allah menyatakan hakikat tritunggal-Nya di dalam kehidupan Yesus – pada saat pembaptisan-Nya, pemuliaan-Nya, penyaliban-Nya, kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke surga, begitu juga pada saat pencurahan Roh Kudus pada Penta-kosta: Ia adalah Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Misteri Trinitas Allah diungkapkan dengan berbagai cara di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi dalam hal ini di dalam Kitab Suci tidak ditemu-kan istilah atau suatu pengajaran tentang Trinitas. Pengajaran ini dikenal dan di-rumuskan di dalam gereja awal berdasarkan kesaksian-kesaksian Alkitab.

3.2.1 Petunjuk-petunjuk tentang Allah Tritunggal di dalam

Perjanjian Lama

Petunjuk yang pertama tentang aktivitas Allah Tritunggal dicatat di dalam berita pertama tentang penciptaan (Kej. 1:1–31; 2:1–4). Di sana disebutkan: “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej. 1:2), begitu juga: “Baiklah Kita men-jadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej. 1:26). “Elohim”, sebutan un-tuk Allah yang digunakan di dalam teks asli bahasa Ibrani adalah benun-tuk jamak, yang berarti “Yang Ilahi” dan juga “Allah-Allah”, dan hendaknya dipahami, di dalam 84

3.2 Allah – Bapa, Putra dan Roh Kudus

terang Injil, sebagai petunjuk pada Allah Tritunggal.

Berbagai perwujudan ilahi “Malaikat TUHAN” (Kej. 16:7–11,13; Kel. 3:2–5; Hak. 6:11–16), “Roh Allah” (Kej. 1:2), atau “Roh TUHAN” (Hak. 3:10; 1 Sam. l 16: 13) juga dipahami sebagai petunjuk misteri Allah Tritunggal.

Peristiwa-peristiwa dan petunjuk-petunjuk, di mana angka tiga juga muncul, juga menunjuk pada Tritunggal:

• Tiga utusan Allah yang mengunjungi Abraham (Kej. 18), di dalam tradisi Kris-ten dipahami sebagai petunjuk rahasia Trinitas ilahi.

• Aktivitas Allah Tritunggal berdasarkan berkat keimaman Harun dari Bil. 6:24– 26 ditafsirkan dengan cara yang sama: “TUHAN memberkati engkau dan me-lindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan mem-beri engkau damai sejahtera.”

• Tiga kali pujian malaikat di dalam penglihatan pertama Nabi Yesaya dianggap sebagai suatu petunjuk pada Allah Tritunggal: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (Yes. 6:3).

3.2.2 Petunjuk-petunjuk tentang Allah Tritunggal di dalam

Perjanjian Baru

Meskipun Perjanjian Baru tidak berisi rumusan pengajaran yang penuh tentang Tri-nitas, tetapi mencatat peristiwa-peristiwa dan rumusan-rumusan yang menunjuk-kan dengan jelas tentang Trinitas ilahi dan aktivitasnya di dalam sejarah keselamat-an. Salah satu contoh kehadiran Allah Tritunggal dapat ditemukan tepat pada per-mulaan aktivitas Yesus di muka umum, ketika, pada saat pembaptisan-Nya, Bapa dan Roh Kudus bersaksi perihal pengutusan Putra Allah yang menjelma menjadi manusia: “Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: ‘Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan’” (Mrk. 1:10,11). Putra Allah, sebagaimana dinyatakan di sini, bekerja di dalam kesatuan dengan Bapa dan Roh Kudus.

Bapa, Putra dan Roh Kudus juga disebutkan di dalam perintah untuk mem-baptis, yang diberikan Yesus Kristus kepada para Rasul-Nya sebelum kenaikan-Nya ke surga (Mat. 28:18,19).

Tantanda perihal ikatan antara pribadi-pribadi ilahi dapat ditemukan di da-lam Injil Yohanes, yang membicarakan tentang kemanunggalan antara Putra dan Layout Buku Katekismus v8 NEW UPDATE (22092016):Layout 1 9/23/16 8:13 PM Page 96

3 Allah Tritunggal

Bapa, dan di mana Yesus Kristus berkata: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30; band. Yoh. 1:1,18). Janji akan Roh Kudus juga bersaksi tentang Trinitas Allah (Yoh. 16:13-15).

Terdapat petunjuk-petunjuk lebih lanjut perihal Trinitas Allah di dalam surat-surat Perjanjian Baru. Hal ini dapat ditemukan di dalam puji-pujian kepada Allah dan juga di dalam kata-kata berkat tertentu. Sesuai dengan itu, 1 Korintus 12:4–6 menyebutkan: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pe-layanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.” Ayat ini menunjuk-kan keistimewaan Allah sebesar dengan penyataan diri yang bermacam-macam da-ri pda-ribadi-pda-ribadi ilahi. Bahwa aktivitas Allah membeda-rikan bukti mengenai hakikat trinitas-Nya, juga disaksikan di dalam Efesus 4:4–6: “satu tubuh, dan satu Roh, se-bagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung da-lam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” Aktivitas pe-nyelamatan dari Allah Tritunggal disebutkan di dalam 1 Petrus 1:2: “[…] yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya.”

Suatu petunjuk yang jelas mengenai sifat Trinitas Allah dapat ditemukan di da-lam kata-kata berkat pada akhir surat kepada orang-orang di Korintus yang kedua: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian! [Amin]” (2 Kor. 13:13).

3.2.3 Perkembangan pengajaran tentang Trinitas

Pengenalan perihal Trinitas Allah dan pemaparan pengajarannya telah dimulai ti-dak lama setelah kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis. Untuk menyatakan hubungan-hubungan ini secara tata bahasa, telah digunakan istilah-istilah filosofis kuno se-perti “pribadi” atau “hipostasis”, begitu juga “substansi”. Merumuskan suatu peng-ajaran tentang Trinitas, di satu sisi berguna untuk membicarakan tentang pengerti-an ypengerti-ang diperoleh berdasarkpengerti-an kepercayapengerti-an, dpengerti-an di sisi lain untuk melindungi ke-percayaan terhadap pengajaran-pengajaran sesat, yang berusaha untuk menyampai-kan gambaran tentang Allah, yang tidak sesuai dengan kesaksian Perjanjian Baru. Pengajaran tentang Trinitas telah dirumuskan pada konsili-konsili pertama pada abad keempat dan kelima.

Istilah “Trinitas’ telah dicetuskan oleh Theophilos dari Antiokhia, yang hidup 86

3.2 Allah – Bapa, Putra dan Roh Kudus

pada pertengahan kedua abad kedua, tetapi pemimpin gereja Tertullian (sekitar ta-hun 160 sampai 220) yang menjadikannya populer. Tertullian menekankan kesatu-an Allah – “satu substkesatu-ansi [ilahi] di dalam tiga pribadi” (Latin: “una substkesatu-ansia tres personae”). Ia juga yang pertama kali menerapkan istilah “pribadi” pada Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Konsili di Nicea (tahun 325) secara tegas memegang teguh kemanunggalan ila-hi hakikat Bapa dan Putra. Alasan langsung di balik ini adalah pengajaran Arius (wafat tahun 336), yang membantah, bahwa keberadaan Putra sebelumnya telah di-ciptakan oleh Allah dari ketiadaan, yang membentuk tindakan penciptaan Allah yang pertama. Bertentangan dengan pandangan ini, konsili bertahan bahwa Putra tidak diciptakan, melainkan merupakan bagian dari Allah Tritunggal dari kekekalan. Pertentangan yang dikenal sebagai “Kontroversi Arian” ini tidak berakhir de-ngan konsili di Nicea, melainkan berkepanjade-ngan hingga konsili Konstantinopel (tahun 381). Pada konsili ini telah dinyatakan, bahwa Roh Kudus juga merupakan pribadi ilahi – dan Allah yang sejati – sebagaimana Bapa dan Putra.

Pada tahun-tahun selanjutnya pengajaran tentang Trinitas, dengan sedikit pe-ngecualian, diakui secara umum di dalam kekristenan. Meskipun demikian, pem-bahasan-pembahasan tentang pengajaran Trinitas belum disimpulkan. Khususnya di bawah pengaruh Bapak Gereja Augustinus (tahun 354 sampai 430), Gereja Barat menekankan, bahwa Roh Kudus sama-sama berasal dari Bapa dan Putra. Sedang-kan Gereja Timur mempertahanSedang-kan suatu versi kuno dari Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel, yang menyatakan, bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa melalui Putra.

Para reformator mengadopsi kepercayaan kepada Trinitas Allah dari gereja awal (abad kedua sampai keenam). Dengan pengecualian pemahaman yang ber-beda yang disebutkan di atas perihal Roh Kudus, pengajaran tentang Trinitas ada-lah sama untuk semua gereja kristiani. Itu merupakan saada-lah satu pernyataan men-dasar dari kepercayaan kristiani dan merupakan suatu ciri khas penting yang mem-bedakannya dari dua agama pengikut Abraham lain, yaitu agama Yahudi dan Islam. Pada sinode gereja kesebelas di Toledo (675) dinyatakan: “Bapa adalah sama se-perti Putra, Putra adalah sama sese-perti Bapa, Bapa dan Putra adalah sama sese-perti Roh Kudus, yaitu dengan hakikat satu Allah.”

3.2.4 Kesatuan tiga pribadi ilahi

Orang-orang Kristen mengakui satu Allah Tritunggal. Setiap pribadi ilahi – Bapa, Layout Buku Katekismus v8 NEW UPDATE (22092016):Layout 1 9/23/16 8:13 PM Page 98

3 Allah Tritunggal

Putra dan Roh Kudus – adalah Allah yang sejati. Iman Kristen menyatakan, bahwa Allah, Bapa, Putra dan Roh Kudus, senantiasa ada, yaitu dari kekekalan.

Sesuai dengan itu, “Bapa”, “Putra” dan “Roh Kudus” bukan hanya sekadar nama yang menunjukkan berbagai bentuk keberadaan atau penyataan Allah, melainkan tiga nama itu berarti pribadi-pribadi ilahi yang berbeda keberadaannya satu dengan yang lain. Pada kenyataannya, Bapa tidaklah sama dengan Putra, dan Putra tidak-lah sama dengan Bapa, Roh Kudus tidaktidak-lah sama dengan Bapa atau Putra: Hal ini karena “Bapa” adalah yang memperanakkan, “Putra” adalah yang diperanakkan dan “Roh Kudus” adalah yang berasal dari keduanya.

Tiga pribadi ilahi ini senantiasa saling berkaitan dan yang mahakekal. Per-bedaan dari tiga pribadi ilahi ini tidak memecahkan kemanunggalan Allah, karena ketiganya adalah satu sifat atau substansi. Di dalam mereka tidak terdapat per-tentangan kehendak. Bapa seutuhnya ada di dalam Putra, seutuhnya ada di dalam Roh Kudus. Putra seutuhnya ada di dalam Bapa, seutuhnya ada di dalam Roh Ku-dus. Roh Kudus seutuhnya ada di dalam Bapa, seutuhnya ada di dalam Putra.

Umat Kristen mengakui, bahwa semua tindakan Allah di dalam penciptaan, ke-selamatan, dan ciptaan yang baru, merupakan tindakan-tindakan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Memang semua tindakan ilahi, pada saat yang sama, adalah tindakan-tindakan dari Bapa, Putra dan Roh Kudus, tetapi itu tidak senantiasa dilaksanakan dengan cara yang sama. Memang penciptaan adalah tindakan Allah Bapa dan Allah Putra, tetapi bukan Allah Bapa, atau Allah Roh Kudus, melainkan Allah Putra sen-diri yang menjelma menjadi manusia. Bukan Bapa atau Putra, melainkan Roh Ku-dus sendiri yang dicurahkan. Di dalam tradisi Kristen, ketiga pribadi ilahi ini ma-sing-masing diberi suatu titik berat (peruntukan): Allah Bapa adalah Pencipta, Putra adalah Penebus, dan Roh Kudus adalah Pencipta ciptaan baru.

RINGKASAN

Tindakan-tindakan Allah di dalam penciptaan dan sejarah adalah pekerjaan Bapa, Putra dan Roh Kudus. (3.2)

Petunjuk-petunjuk tentang Allah Tritunggal dapat ditemukan di dalam berita pen-ciptaan yang pertama, di dalam tiga utusan Allah yang mengunjungi Abraham, di da-lam tiga kali berkat Harun, dan di dada-lam tiga kali pujian malaikat di dada-lam penglihat-an ypenglihat-ang berkaitpenglihat-an dengpenglihat-an ppenglihat-anggilpenglihat-an Nabi Yesaya. (3.2.1)

3.2 Allah – Bapa, Putra dan Roh Kudus

Salah satu contoh untuk kehadiran Allah Tritunggal dapat ditemukan pada saat Yesus dibaptis, ketika Bapa dan Roh Kudus bersaksi tentang pengutusan Putra. Bapa, Putra dan Roh Kudus juga disebutkan di dalam pengutusan agung Yesus, juga di dalam kata-kata berkat yang ditulis di dalam 2 Kor. 13:13. (3.2.2)

Pengajaran tentang ketritunggalan Allah dirumuskan pada Konsili Ekumenis pada abad keempat dan kelima. Pada konsili di Nicea, kemanunggalan hakikat ilahi Bapa dan Putra menjadi pengajaran yang bersifat mengikat. Pada Konsili di Konstantino-pel, kesatuan substansi Roh Kudus dengan Bapa dan Putra ditetapkan sebagai peng-ajaran. (3.2.3)

“Bapa”, “Putra”, dan “Roh Kudus” adalah pribadi ilahi yang berbeda di dalam keber-adaan Mereka, tetapi Mereka senantiasa saling berkaitan dan satu untuk selama-lama-nya. (3.2.4)

Di dalam tradisi Kristen, setiap pribadi ilahi diberi suatu titik berat: Allah, Bapa ada-lah Pencipta, sedangkan Alada-lah, Putra adaada-lah Penebus, dan Alada-lah, Roh Kudus adaada-lah Pencipta ciptaan baru. (3.2.4)

Dalam dokumen KATEKISMUS GEREJA KERASULAN BARU (Halaman 81-86)