• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jawatan-jawatan Kristus – Raja, Imam dan Nabi

Dalam dokumen KATEKISMUS GEREJA KERASULAN BARU (Halaman 107-112)

Allah Tritunggal

3.4 Allah Putra

3.4.7 Jawatan-jawatan Kristus – Raja, Imam dan Nabi

Gelar “Raja” dihubungkan dengan gagasan berkuasa dan memerintah. Para imam melakukan pelayanan-pelayanan kurban untuk mengadakan pendamaian antara manusia dengan Allah. Para nabi diharapkan agar ia memberitakan kehendak ilahi dan menubuatkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.

Berkuasa dan memerintah, mengadakan pendamaian dengan Allah, memberi-takan kehendak Allah dan menubuatkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi: Se-mua ini dapat ditemukan di dalam Yesus Kristus dalam bentuk yang sempurna.

3.4 Allah, Putra

3.4.7.1 Yesus Kristus – Raja

Ketika malaikat Tuhan memberitakan kelahiran Yesus kepada perawan Maria, ia berkata: “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi; […] dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Luk. 1:32,33).

Orang-orang Majus dari Timur menanyakan tentang raja Yahudi yang baru di-lahirkan, yang kepada-Nya mereka datang untuk menyembah (Mat. 2:2).

Di dalam Yesus Kristus janji yang diberikan Allah kepada nabi Yeremia digenap-kan: “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri” (Yer. 23:5). Natanael, salah seorang murid Yesus yang pertama, mengakui: “Kata Natanael kepada-Nya: ‘Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!’” (Yoh. 1:49). Na-mun demikian, sifat rajani Yesus bukan berakar pada pemerintahan duniawi dan ti-dak ternyata pada tampilan kuasa lahiriah, melainkan lebih ditunjukkan di dalam kuasa dari tindakan-tindakan-Nya, dan melalui tanda-tanda serta mukjizat-muk-jizat yang Ia lakukan.

Yesus secara tegas menolak gagasan-gagasan bahwa Ia sedang memperjuangkan kerajaan duniawi (Luk. 24:21) atau bahwa Ia akan menerima suatu mandat politis. Keempat Injil memberitakan bagaimana Yesus memasuki Yerusalem sebelum penderitaan dan kematian-Nya. Dengan demikian Ia menyatakan diri-Nya sebagai Raja damai dan adil yang telah dinubuatkan oleh nabi Zakharia (Za. 9:9). Orang-orang sangat ingin menjadikan Yesus sebagai raja duniawi Israel, dan mengelu-elu-kan Dia (Yoh. 12:13).

Bahkan pada saat ditanyai oleh Pilatus, Yesus menegaskan, bahwa kerajaan-Nya bukan berasal dari dunia ini dan bahwa Ia tidak menuntut kekuasaan dari peme-rintah duniawi. Pilatus menanggapi perkataan Yesus ini sebagai berikut: “Jadi Eng-kau adalah raja?” Dengan demikian ia memberikan kepada Putra Allah kesempatan untuk mengatakan tentang sifat rajani-Nya: “Engkau mengatakan, bahwa Aku ada-lah raja. Untuk ituada-lah Aku ada-lahir dan untuk ituada-lah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran.” Di sini Yesus bahkan mengaku di hadapan seorang wakil penguasa duniawi Roma dan orang-orang kafir, bahwa Ia adalah Raja dan saksi tentang kebenaran (Yoh. 18:33–37).

Kematian-Nya pada kayu salib merupakan titik puncak dan akhir dari suatu pe-rendahan yang pada kenyataannya adalah jalan menuju peninggian Yesus Kristus. “Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: Layout Buku Katekismus v8 NEW UPDATE (22092016):Layout 1 9/23/16 8:13 PM Page 122

3 Allah Tritunggal

‘Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi’ […] dan kata-kata itu tertulis dalam ba-hasa Ibrani, baba-hasa Latin dan baba-hasa Yunani” (Yoh. 19:19,20). Di dalam arti yang lebih mendalam, tulisan pada kayu salib yang dituliskan dalam tiga bahasa ini ber-manfaat untuk mengumumkan sifat rajani Yesus Kristus kepada seluruh dunia.

Martabat rajani Yesus Kristus juga diungkapkan di dalam Wahyu kepada Yoha-nes: Yesus Kristus adalah “yang berkuasa atas raja-raja bumi ini” (Why. 1:5). Ketika malaikat ketujuh meniup sangkakala, Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai se-lama-lamanya” (Why. 11:15): Maka, pemerintahan Yesus Kristus akan ternyata di mana-mana.

3.4.7.2 Yesus Kristus – Imam

Tugas utama imam di dalam Perjanjian Lama adalah untuk mempersembahkan kurban kepada Allah, untuk mengajarkan kepada orang-orang tentang hukum, un-tuk memutuskan kasus-kasus hukum yang sulit dan juga semua persoalan yang ber-kaitan dengan kemurnian ibadat. Tugas imam besar adalah untuk membawa dosa-nya sendiri, dosa para imam dan dosa umat ke hadapan Allah. Untuk maksud ini, ia akan memasuki tempat maha kudus sekali setahun – pada Hari Raya Pendamai-an (Yom Kippur). Di sini ia akPendamai-an bertindak atas nama umat, dPendamai-an melayPendamai-ani sebagai penghubung antara Allah dan umat Israel.

Dengan pandangan pada keimaman perjanjian Lama dan persembahan kurban di Bait Suci, surat kepada orang-orang Ibrani 8:5 berbunyi: “Pelayanan mereka ada-lah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di Sorga”. Dalam terang Injil men-jadi jelaslah, bahwa keimaman Perjanjian Lama hanyalah sementara, “sebab hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan” (Yes. 7:19).

Di dalam penjelmaan Putra Allah, yang melampaui segala keimaman menjadi nyata. Yesus Kristus bukan hanya Imam Besar dalam barisan banyak imam besar Is-rael. Lebih dari itu, di dalam Yesus Kristus nampak Imam Besar yang mendasari ke-selamatan dunia: Allah sendiri mengatasi jurang dosa dan mendamaikan dunia de-ngan diri-Nya dalam Yesus Kristus; tidak ada keimaman lain yang dapat mencapai hal ini. Jadi, Yesus Kristus adalah Imam Besar yang kekal: “Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, keimaman-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia da-tang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr. 7:24,25).

3.4 Allah, Putra

Tidak seperti imam besar dari perjanjian lama, Yesus Kristus tidak memerlukan pendamaian dengan Allah. Ia sendiri adalah Pendamai. Ia tidak hanya memberikan kesaksian tentang perjumpaan-Nya dengan Allah – dalam Dia, manusia disatukan tak terpisahkan dengan Allah.

Pemeliharaan Allah yang penuh kasih bagi dunia dinyatakan didalam keimam-an Yesus Kristus. Didalam Dia, mkeimam-anusia memperoleh jalkeimam-an masuk kepada keselamat-an Allah.

Surat kepada orang-orang Ibrani memberikan petunjuk tentang jawatan Imam Besar Kristus yang mendamaikan dosa-dosa seluruh bangsa (Ibr. 2:17). Didalam Yesus Kristus, Imam Besar yang kekal, pengampunan dosa-dosa dan janji kehidup-an kekal dipastikkehidup-an.

Di dalam Ibrani 3:1 kita baca: “Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus”. Di satu sisi, Yesus Kristus melampaui pelayanan imam-imam besar dalam Perjanjian Lama karena Ia adalah Imam Besar sejati. Dan di sisi lain, Ia adalah prasyarat untuk aktivitas para Rasul dalam Perjanjian Baru. Isi jawatan rasuli menjadi jelas di dalam 2 Korintus 5:20: “dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.”

3.4.7.3 Yesus Kristus – Nabi

Janji yang Allah berikan kepada Musa digenapi didalam Yesus Kristus: “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan ke-pada mereka segala yang Kuperintahkan keke-padanya” (Ul. 18:18).

Nabi-nabi di dalam Perjanjian Lama dipanggil untuk memberitakan kehendak Allah. Pesan-pesan mereka seringkali diawali dengan suatu petunjuk mengenai sumber mereka di dalam Allah: “Beginilah firman TUHAN”. Di dalam Yesus Kristus, Allah sendiri berbicara kepada manusia.

Sesuai dengan Markus 1:15, Putra Allah memulai aktivitas-Nya dengan perkata-an: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percaya-lah kepada Injil!” Tuhan mengajar dengan penuh kuasa berdasarkan otoritas ipercaya-lahi yang diungkapkan dalam perkataan: “Tetapi Aku berkata kepadamu …” (Mat. 5–7). Sebagai seorang nabi, Yesus Kristus juga menubuatkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, seperti yang dicatat di dalam Matius 24, Markus 13, dan Lukas 21, misalnya.

3 Allah Tritunggal

Di dalam percakapan perpisahan (Yoh. 13–16), Ia menjanjikan Roh Kudus yang akan memimpin ke dalam semua kebenaran.

Di dalam kitab Wahyu, Putra Allah menguraikan perkembangan sejarah ke-selamatan sampai pada ciptaan yang baru.

Demikianlah Yesus Kristus juga bekerja sebagai nabi: Ia memberitakan ke-hendak Allah, menerangi masa lalu, mengungkapkan hal-hal tersembunyi, me-nunjukkan jalan menuju kehidupan kekal, dan memberikan janji-janji mengenai hal-hal yang akan datang. Pernyataan-pernyataan-Nya berlaku kekal: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Mrk. 13–31).

RINGKASAN

Sifat rajani Yesus Kristus terlihat di dalam kuasa dengan mana Ia bertindak, dan me-lalui tanda-tanda yang Ia lakukan. (3.4.7.1)

Di dalam arti yang lebih mendalam, tulisan pada kayu salib – yang dituliskan dalam tiga bahasa – bermanfaat untuk mengumumkan sifat rajani Yesus Kristus kepada selu-ruh dunia. (3.4.7.1)

Martabat rajani Yesus Kristus juga dinyatakan di dalam Wahyu (Why. 1:5; 11:15). (3.4.7.1)

Imam Besar yang mendasari keselamatan dunia tampak di dalam Yesus Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya. Tidak seperti imam besar dari Perjanjian La-ma, Yesus Kristus tidak memerlukan pendamaian dengan Allah – seperti yang di-lakukan imam besar Perjanjian Lama – karena Ia sendiri adalah Pendamai. (3.4.7.2) Pemeliharaan kasih Allah bagi dunia menjadi jelas di dalam keimaman Yesus Kristus: di dalam Dia, manusia memperoleh jalan masuk kepada keselamatan Allah. Di dalam Dia terdapat juga kepastian pengampunan dosa-dosa dan janji kehidupan kekal. (3.4.7.2)

Nabi-nabi di dalam Perjanjian Lama dipanggil untuk memberitakan kehendak Allah. Yesus Kristus bertindak sebagai nabi dengan memberitakan kehendak Allah, me-nerangi masa lalu, mengungkapkan hal-hal tersembunyi, menunjukkan jalan hidup, dan memberikan janji-janji untuk masa yang akan datang. (3.4.7.3)

3.4 Allah, Putra

3.4.8 Petunjuk-petunjuk Perjanjian Baru tentang pribadi dan

Dalam dokumen KATEKISMUS GEREJA KERASULAN BARU (Halaman 107-112)