• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyaliban Yesus dan kematian kurban

Dalam dokumen KATEKISMUS GEREJA KERASULAN BARU (Halaman 124-127)

Allah Tritunggal

3.4 Allah Putra

3.4.9 Kesengsaraan dan kematian kurban Yesus

3.4.9.5 Penyaliban Yesus dan kematian kurban

Di jalan menuju Golgota, Yesus diikuti sejumlah besar kumpulan orang. Kepada pe-rempuan-perempuan yang menangisi-Nya, Tuhan berkata: “Hai puteri-puteri Yeru-salem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (Luk. 23:28). Dengan kata-kata ini, Ia menunjukkan penghancuran Yerusalem yang tidak lama lagi.

Dua penjahat juga disalibkan bersama Tuhan. Salib Yesus berdiri di tengah-te-ngah. Di sini tergenapkanlah Yes. 53:12: Tuhan terhitung di antara para pembe-rontak. Penderitaan berat yang tak terbayangkan akhirnya membawa pada per-gumulan kematian yang keji.

Perkataan Yesus yang dikatakan di kayu salib memberikan kesaksian mengenai keagungan ilahi-Nya. Bahkan sementara menderita dan akan mati, Ia berpaling kepada orang lain dengan penuh belas kasih, pengampunan, pengantara dan ke-pedulian dan karena itu menyatakan kasih dan kemurahan Allah.

Tradisi gereja menyampaikan perkataan terakhir Yesus – yang dicatat berbeda-beda di dalam Injil-injil – menjadi urutan yang khas, sebagai berikut:

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka per-buat” (Luk. 23:34)

Putra Allah berbelas kasihan bahkan di kayu salib, di hadapan Bapa-Nya mengantarakan semua orang yang telah membawa-Nya ke kayu salib dan bagi mereka yang tidak menyadari lingkup tindakan mereka. Di sini Yesus menggenapi perintah kasih kepada musuh dengan cara yang sempurna (Mat. 5:44,45,48).

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada

3 Allah Tritunggal

sama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43)

Tuhan berpaling kepada penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan-Nya, yang memohon kemurahan kepada-Nya dan mengenali Yesus se-bagai Juruselamat saat menghadapi kematian. Firdaus yang Tuhan buka-kan bagi pendosa yang menyesal itu adalah – sesuai dengan pengertian pada waktu itu – adalah kediaman orang-orang saleh dan benar di alam baka.

“Ibu, inilah, anakmu!” – “Inilah ibumu!” (Yoh. 19:26,27)

Menjelang kematian-Nya, Yesus peduli kepada Maria, ibu-Nya, dan mem-percayakannya kepada murid-Nya, Yohanes. Ini menunjukkan kasih dan perawatan Kristus, yang masih membela kebutuhan orang lain, meskipun Ia sendiri membutuhkan.

Di dalam tradisi Kristen, Maria diartikan sebagai simbol gereja yang di-tempatkan di bawah perawatan jawatan Rasul, yang di sini diwakili oleh Rasul Yohanes.

“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk. 15:34)

Ketika kematian telah dekat, orang-orang Yahudi yang saleh berpaling kepada Allah dengan perkataan dari Mzm. 22 ini. Di satu sisi mereka merasakan bahwa Allah jauh, tetapi di sisi lain juga mengakui iman mere-ka pada kuasa dan kemurahan-Nya. Di sini Yesus menujumere-kan mere-kata-mere-kata ini kepada Bapa-Nya.

Akan tetapi, Mzm. 22 juga menunjuk pada penderitaan orang-orang be-nar dan pengandalan mereka kepada Allah. Lebih dari itu, Mazmur ini, dalam arti yang lebih luas, dipandang sebagai kematian kurban Kristus dan karena itu adalah kesaksian Perjanjian Lama mengenai Mesias Yesus.

“Aku haus” (Yoh. 19:28)

Dengan ini, kata-kata dari Mzm. 69:22 tergenapkan: “Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam”. Dalam arti kiasan, minuman terakhir ini me-nandakan bahwa Yesus harus minum cawan kesengsaraan sepenuhnya dan karena itu menggenapi kehendak Bapa dengan sempurna.

“Sudah selesai” (Yoh. 19:30)

Saat itu jam kesembilan, yakni menjelang sore hari ketika perkataan ini diucapkan. Sebuah tahap penting di dalam sejarah keselamatan tiba pada akhirnya: Yesus mempersembahkan kurban untuk kelepasan manusia. Kurban kematian-Nya menutup perjanjian lama yang hanya diadakan dengan umat Israel. Perjanjian baru, yang padanya orang-orang kafir juga 128

3.4 Allah, Putra

memiliki jalan masuk, kini berlaku (Yes. 9:16).

“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk. 23:46)

Kutipan dari Mzm. 31:6 ini menjadikan jelas, bahwa pada saat itu Yesus Kristus mengandalkan diri sepenuhnya kepada Bapa-Nya.

Peristiwa-peristiwa dramatis menyertai kematian Tuhan: Gempa bumi, bukit batu terbelah; tabir Bait Suci yang memisahkan tempat maha kudus dengan tempat ku-dus terbelah menjadi dua bagian. Ini menandakan bahwa pelayanan kurban Per-janjian Lama telah berakhir dalam kematian Kristus dan tidak memiliki arti lagi. Perjanjian lama telah digenapi. Sebaliknya, ini merupakan suatu petunjuk, bahwa melalui kematian kurban Yesus dan “terbelahnya tabir Bait Suci” – “yaitu diri-Nya sendiri” (Ibr. 10:20) -, jalan kepada Bapa kini terbuka.

Di bawah dampak peristiwa-peristiwa ini, kepala pasukan dan para prajurit yang menjaga Yesus berseru: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” (Mat. 27:54). Jadi, adalah orang-orang kafir yang bersaksi tentang Yesus sebagai Putra Allah pada ke-matian-Nya.

Yusuf dari Arimatea yang berasal dari Mahkamah Agama, datang kepada Pon-tius Pilatus dan meminta supaya ia diberi jasad Yesus agar ia menguburkan-Nya. Bersama dengan Nikodemus yang pernah diajar oleh Tuhan tentang kelahiran kem-bali dari air dan Roh (Yoh. 3:5), ia membaringkan Yesus di kubur yang belum per-nah dipergunakan sebelumnya, yang telah digali di dalam bukit batu. Sebuah batu digulingkan di depan kubur: Imam-imam kepala memerintahkan pasukan men-jaganya (Mat. 27:57–66).

Seperti kematian-Nya, penderitaan Yesus terjadi untuk mewakili manusia se-suai dengan kesaksian Kitab Suci dan karena itu memiliki dampak keselamatan: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk ka-mu dan telah meninggalkan teladan bagika-mu, supaya kaka-mu mengikuti jejak-Nya Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri te-lah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang tete-lah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sem-buh” (1 Ptr. 2:21–24).

Melalui kesengsaraan dan kematian-Nya, Kristus, Pengantara, mendamaikan manusia dengan Allah dan menciptakan kelepasan dari dosa dan maut. Dengan de-mikian tergenapkanlah perkataan Yohanes Pembaptis: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Melalui kurban kematian-Nya, Tuhan menghancurkan kuasa Iblis dan mengalahkan maut (Ibr. 2:14). Karena Yesus Kristus Layout Buku Katekismus v8 NEW UPDATE (22092016):Layout 1 9/23/16 8:13 PM Page 140

3 Allah Tritunggal

telah menolak semua pencobaan Iblis dan tetap tanpa dosa, Ia dapat menanggung dosa-dosa semua umat manusia ke atas diri-Nya (Yes. 53:6) dan oleh darah-Nya, Ia dapat memperoleh jasa dengan mana semua kesalahan yang timbul dari dosa dapat dihapuskan: Hidup-Nya yang telah Ia serahkan untuk para pendosa adalah tebusan. Kurban kematian-Nya membukakan jalan bagi manusia untuk sampai kepada Allah.

3.4.9.6 Petunjuk-petunjuk di dalam Perjanjian Lama tentang

Dalam dokumen KATEKISMUS GEREJA KERASULAN BARU (Halaman 124-127)