Aspek Teknis Per Sektor
LAYAK HUNI, PRODUKTIF,
C. Alternatif Pola Pembiayaan
Equity adalah merupakan sumber pendanaan dari internal cash PDAM dan
Pemda untuk program penambahan sambungan rumah (SR). Dilaksanakan oleh PDAM yang memiliki kecukupan dana untuk memenuhi sebagian kebutuhan investasi ;
Pinjaman Bank Komersial adalah merupakan sumber pembiayaan dari
pinjaman bank komersial dengan jumlah equity tertentu sebagai pendamping pinjaman. Dilaksanakan oleh PDAM yang memiliki kecukupan dana pendamping dan menerapkan tarif minimal diatas harga pokok produksi (tarif dasar) ;
Trade Credit adalah merupakan sumber pembiayaan dari pinjaman bank
komersial melalui pihak ke tiga (kontraktor/supplier) dan dibayar dengan angsuran dari pendapatan PDAM dalam masa tertentu (10 tahun atau lebih). Dilaksanakan oleh PDAM yang diperkirakan dapat mengangsur sesuai dengan perjanjian ;
Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) merupakan sumber pembiayaan
dari badan usaha swasta (BUS) berdasarkan kontrak kerjasama antara BUS dengan pemerintah (BOT/Konsesi). Dilaksanakan di kabupaten/kota yang memiliki pasar potensial (captive market) dan telah dilengkapi dengan studi pra- FS dan kesiapan pemerintah daerah ;
Obligasi adalah merupakan sumber dana dari penerbitan surat utang yang
akan dibayar dari pendapatan PDAM. Dilaksanakan oleh PDAM yang telah memiliki rating minimal BBB ;
Penyusunan RPIJM Bidang Cipta Karya Kota Mojokerto Tahun 2014-2018
CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu tindakan yang dilakukan
suatu perusahaan sebagai bentuk tanggungjawab terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada.
6.3.5. Usulan Rencana Program dan Kegiatan Pengembangan SPAM
Pemenuhan kebutuhan air di Kota Mojokerto didasarkan pada besarnya peningkatan tingkat pelayanan tiap tahun, jumlah penduduk jumlah sambungan, serta jumlah kehilangan air. Ditinjau dari jumlah proyeksi penduduk tiap kelurahan hingga tahun 2032 dan pemakaian rata-rata air bersih konsumen SR, maka perhitungan kebutuhan air rata-rata direncanakan sebesar 150-160 liter/orang/hari (untuk konsumen SR) dan 30 liter/orang/hari (untuk konsumen HU/KU), kebutuhan air tersebut berlaku hingga akhir tahun 2032 (sesuai “Kategori Kota dan Standar Kebutuhan Air Bersih” yang dikeluarkan oleh Ditjen Cipta Karya). Nilai kehilangan air direncanakan mengalami penurunan secara bertahap setiap tahunnya, agar kerugian PDAM dapat dikurangi dan air yang hilang dapat disuplai kepada masyarakat yang lebih membutuhkan. Kebutuhan air bersih Kota Mojokerto hingga akhir tahun 2032 dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Penyusunan RPIJM Bidang Cipta Karya Kota Mojokerto Tahun 2014-2018
Tabel 6.16. Proyeksi Kebutuhan Air Kota Mojokerto Tahun 2012 - 2032
Adapun rencana sistem penyediaan air minum kota meliputi :
a. Air minum perpipaan
Pengembangan sistem air minum perpipaan di Kota Mojokerto antara lain sebagai berikut :
Pemanfaatan kapasitas tak termanfaatkan.
Pengembangan sistem pelayanan air minum perpipaan dan non perpipaan. Meningkatkan cakupan pelayanan air minum di seluruh wilayah Kota Mojokerto. Penambahan kapasitas pengambilan air sesuai dengan arahan penyediaan, pengembangan, konservasi dan penataan kawasan sumber-sumber air baku daerah dengan arahan kawasan lindung.
2012 2017 2022 2027 2032
1 Jumlah Penduduk orang 121.319 132.147 145.141 155.969 166.798
1. Domestik (Dom)
2 Prosentase Daerah Pelayanan % 126 95 95 95 95 3=(1*2) Jml. Penduduk Daerah Pelayanan orang 145.142 102.042 102.961 103.898 104.854 2 Prosentase Penduduk Terlayani % 30,28 33,28 36,28 40,28 44,28 3=(1*2) Jml. Penduduk Terlayani orang 34.970 38.720 42.522 47.555 52.658
1.1 Sambungan Rumah(SR)
4 Prosentase % 80,00 80 80 80 80
5=(3*4) Jml. Penduduk Terlayani orang 27.976 30.976 34.017 38.044 42.126 6 Penduduk per Sambungan orang/SR 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 7=(5/6) Jumlah Sambungan unit 6.994 7.744 8.504 9.511 10.532 8 Unit Konsumsi L/org/hr 120 120 120 120 120 9=(5*8) Pemakaian Rata-Rata L/dt 38,86 43,02 47,25 52,84 58,51
1.2 Kran Umum (KU)
10 Prosentase % 20,00 20,00 20,00 20,00 20,00
11=(3*10) Jml. Penduduk Terlayani orang 6.994 7.744 8.504 9.511 10.532 12 Penduduk per Sambungan orang/KU 100 100 100 100 100 13=(11/12) Jumlah Sambungan unit 69,94 77 85 95 105
14 Unit Konsumsi L/orang/hr 30 30 30 30 30
15=(11*14) Pemakaian Rata-Rata L/dt 2,43 2,69 2,95 3,30 3,66
16=(7+13) Jumlah Pelanggan Dom unit 7.064 7.821 8.589 9.606 10.637 17=(9+15) Pemakaian Rata-Rata Dom L/dt 41,28 45,71 50,20 56,14 62,17
2. NON DOMESTIK (N. Dom)
18 Jumlah Sambungan unit 70 77 85 95 105
19 Pemakaian Rata-Rata L/dt 2,02 2,24 2,46 2,75 3,05
20 = 16 + 18 Jumlah Pelanggan Dom + N.Dom unit 549 580 612 653 695
21 = 17 + 19 Pemakaian Rata-Rata Dom + N. Dom L/dt 329,52 332,86 336,21 339,88 343,57
3. 22 Kebocoran % 30,4 30 30 30 29,5
23 = 22*21 L/dt 103,82 75,71 77,28 79,20 81,15
24 = 20 Total Sambungan Dom + N. Dom unit 7.613 8.402 9.201 10.259 11.331
25 = 21 + 23 Total Kebutuhan Air Rata-Rata L/dt 474,63 454,28 463,69 475,23 486,88
Sumber : RTRW Kota Mojokerto 2012 - 2032
Penyusunan RPIJM Bidang Cipta Karya Kota Mojokerto Tahun 2014-2018
Sumber-sumber air baku yang bisa dikembangakan antara lain adalah : IPA Wates (Sungai Brantas), sumur Jl. Raung, sumur Jl. Arjuna, sumur Jl. Welirang, sumur Balongsari, sumur Banteng Pancasila, sumur Panggeraman, sumur Gunung Gedangan dan sumur dalam Meri.
Pemanfaatan kembali sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih daerah. Pemeliharaan secara rutin, peningkatan, dan/atau pembangunan reservoir.
Reservoir yang bisa dikembangkan yaitu : reservoir Wates, reservoir Balongsari, reservoir (menara) Balongsari, dan reservoir Meri.
Pemeliharaan secara rutin, perluasan, dan/atau penggantian secara berkala jaringan perpipaan transmisi primer dan sekunder.
− Jaringan perpipaan transmisi primer terdiri dari jaringan perpipaan IPA Wates.
− Jaringan perpipaan transmisi sekunder terdiri dari IPA Wates ke reservoir Wates, reservoir Balongsari, reservoir (menara) Balongsari, reservoir Meri. Pengembangan baru sebagai upaya perluasan jaringan pendistribusian air
bersih yang merata dan penggantian secara berkala jaringan perpipaan distribusi primer dan sekunder.
− Jaringan perpipaan distribusi primer meliputi ruas jalan : Jl. Mayjend Sungkono, Jl. Hayam Wuruk, Jl. Brawijaya, Jl. Tirbuana Tunggadewi, Jl. Prajurit kulon, Jl. Raya Surodinawan, Jl. Suromulang Timur, Jl. Mojopahit Selatan, sebagian Jl. Mojopahit, Jl. Raden Wijaya, Jl. Pahlawan, Jl. Gajah Mada, Jl. Meri Gatoel, Jl. Raya Meri, sebagian Jl. Tropodo I, sebagian Jl. Benteng Pancasila, sebagian Jalan Kedungsari, Jl. Semeru, Jl. Bancang, Jl. Raya Ijen, sebagian Jl. Empunala, Jl. Randu Gede, Jl. Keboan, Jl. Gunung Gedangan Timur, sebagian Jl. Watu Dakon, dan Jl. Pendidikan.
− Jaringan perpipaan distribusi sekunder meliputi ruas jalan : jalan utama perumahan Griya Permata Ijen, Jl. Muria, Jl. Randu Gede, Jl. Lawu I, Jl. Pepaya, Jl. Joko Tole, sebagian Jl. Empunala, Jl. Gedingan Gang III, Jl. KH. Mansyur, Jl. Magersari I, Jl. Veteran, Jl. Kauman Gang IX, Jl. Kauman Gang I, sebagian Jl. Mojopahit, Jl. Pemuda, Jl. Taman Siswa, Jl. KH. Nawawi, Jl. Panglima Besar Sudirman, Jl. Bhayangkara, Jl. KH. Wahid Hasyim, Jl. Raden Wijaya, Jl. Rianto, Jl. Raya Cinde, Jl. Trenggilis Raya, Jl. Suromulang Barat, Jl. Raya Suromurukan, sebagian Jl. Pulorejo Atas, Jl. Pulorejo Bawah, Jl. Pulorejo, dan Jl. Pulorejo 6.
Penyusunan RPIJM Bidang Cipta Karya Kota Mojokerto Tahun 2014-2018
b. Air minum non perpipaan
Untuk rencana pengembangan air minum non perpipaan ini diatur lebih lanjut oleh peraturan daerah.
6.4. Penyehatan Lingkungan Permukiman
6.4.1. Air Limbah
Sub Bidang Air Limbah pada Bidang Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum memiliki program dan kegiatan yang bertujuan untuk mencapai kondisi masyarakat hidup sehat dan sejahtera dalam lingkungan yang bebas dari pencemaran air limbah pemukiman. Air limbah yang dimaksud adalah air limbah permukiman (municipal Wastewater) yang terdiri atas air limbah domestik (rumah tangga) yang berasal dari sisa mandi, cuci, dapur dan tinja manusia dari lingkungan pemukiman serta limbah industri rumah tangga yang tidak mengandung Bahan Beracun Berbahaya (B3). Air limbah pemukiman ini perlu dikelola agar tidak menimbulkan dampak seperti pencemaran air permukaan dan air tanah, disamping sangat beresiko menimbulkan penyakit seperti diare, thypus, kolera dan lain-lain.
6.4.1.1. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan Pengelolaan Air Limbah