PADA ANAK USIA DINI
II. PEMBAHASAN 2.1 Psikologi Pendidikan
2.3 Alternatif Solusi Mengatasi Kendala Pembelajaran Daring
Walaupun kendala yang dihadapi satu individu dengan individu yang lain mungkin berbeda, namun penulis berupaya merumuskan beberapa alternatif solusi yang dapat dipertimbangkan untuk mengatasi kendala pengembangan agama Hindu dalam pembelajaran daring pada AUD.
Beberapa alternatif solusi tersebut diantaranya:
Tabel 4. Alternatif Solusi Mengatasi Kendala Pembelajaran Daring
No Kendala Alternatif Solusi
1 Keterbatasan akses pada smartphone atau laptop, jaringan internet, dan kuota.
- Guru dan orang tua dapat memanfaatkan materi pembelajaran yang disiarkan pemerintah melalui TVRI mengingat lebih banyak rumah tangga yang memiliki TV dibandingkan laptop atau smartphone.
- Guru dan orang tua dapat memanfaatkan bantuan kuota gratis untuk pendidikan dari pemerintah.
- Guru dapat melakukan kunjungan ke rumah AUD dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
- Pemerintah diharapkan dapat menyusun program yang memungkinkan pembangunan jaringan listrik dan internet di seluruh wilayah negara Indonesia, serta pengadaan bantuan smartphone atau laptop untuk AUD dan guru atau lembaga PAUD yang membutuhkan.
2 Penyesuaian psikologis AUD - Guru dan orang tua diharapkan dapat memberikan dukungan psikologis kepada AUD
- Guru dan orang tua diharapkan dapat bekerjasama untuk menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan bagi AUD sembari membantu AUD untuk dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.
3 Kondisi lingkungan yang kurang
kondusif. - Diperlukan kerjasama seluruh anggota keluarga untuk menyusun jadwal dan membuat kesepatan agar aktivitas seluruh anggota keluarga dapat berjalan dengan optimal.
- Orang tua diharapkan menyampaikan kendala ini pada guru agar guru dapat mengatur waktu dan metode pembelajaran yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan AUD.
- Seluruh anggota keluarga dapat bersama-sama memanfaatkan area yang ada di rumah sebagai area belajar dan bekerja secara daring dan mengupayakan anggota keluarga yang lain tidak mengganggu selama ada yang menggunakan area tersebut.
4 Beban tugas yang terlalu banyak. - Alih-alih memberikan tugas yang memerlukan waktu dan peralatan khusus, guru dapat memberikan tugas yang sejatinya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari AUD. Seperti berdoa sebelum makan, berdoa sebelum tidur, bagaimana sikap dan mantram saat berdoa, bagaimana membantu orang tua menyiapkan perlengkapan sembahyang, bagaimana mengucap salam, dan sebagainya.
5 Keterbatasan kemampuan
memanfaatkan teknologi. - Guru dan orang tua harus berupaya keras dan terus-menerus untuk mengejar ketertingaalan terkait pemanfaatan teknologi, minimal yang terkait dengan pembelajaran daring AUD. Hal ini harus dilakukan karena manusia mau tidak mau harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat bertahan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini. Guru dan orang tua dapat meminta anggota keluarga atau rekan yang lebih mengerti teknologi untuk mengajari mereka bagaimana cara memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran daring.
6 Penyesuaian kurikulum dan muatan ajaran.
- Senada dengan kemampuan memanfaatkan teknologi, guru PAUD perlu meningkatkan kompetensinya dalam penyusunan kurikulum dan muatan ajaran agar dapat melaksanakan penyesuaian kurikulum sesuai kebutuhan saat ini.
Hal ini juga dapat dilakukan dengan mengacu pada kurikulum darurat pandemic Covid-19 yang diterbitkan pemerintah, disesuaikan dengan aturan dan kebijakan masing-masing lembaga.
7 Tidak semua AUD hadir atau mengikuti pembelajaran daring.
- Jika terjadi karena kendala keterbatasan sarana dan prasarana, guru PAUD dapat melakukan pembelajaran manual dengan mengunjungi rumah AUD yang tidak dapat mengikuti pembelajaran daring.
- Guru PAUD dan orang tua dapat bekerjasama mengembangkan aspek agama AUD dengan lebih banyak menstimulasi perkembangan agama anak dengan aktivitas sehari-hari di rumah.
- Jika terjadi karena AUD masih dalam proses penyesuaian secara psikologis, guru PAUD diharapkan mencari cara untuk menciptakan pembelajaran yang menarik, penuh interaksi aktif, dan tidak membebani AUD.
- Orang tua perlu mendampingi AUD selama pembelajaran daring berlangsung.
8 Kesulitan menjalin komunikasi yang efektif antara guru, orang tua, dan AUD.
- Guru dan orang tua perlu menerapkan psikologi komunikasi dalam berkomunikasi satu sama lain sehingga dapat menjalin kerjasama dalam pengembangan aspek agama AUD.
- Menerapkan psikologi dalam komunikasi bermakna guru dan orang tua harus berupaya untuk memprediksi, menguraikan, dan mengendalikan peristiwa mental dan perilaku dalam berkomunikasi demi mencapai komunikasi yang efektif. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan ajaran Tat Tvam Asi dan Tri Kaya Parisudha dalam menjalin komunikasi.
9 Orang tua kurang mampu membimbing AUD dalam pembelajaran daring.
- Orang tua perlu memperkaya pengetahuan tentang tugas dan capaian perkembangan AUD serta meningkatkan kemampuan untuk menstimulasinya sehingga dapat mendampingi dan membimbing AUD.
- Guru PAUD dapat mengkomunikasikan pada orang tua hal-hal apa yang perlu disiapkan dan dilakukan orang tua dalam membimbing AUD selama pembelajaran daring.
10 Kesibukan pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah tangga.
- Orang tua dapat menyusun skala prioritas sehingga memudahkan penyusunan jadwal dan pembagian tugas seluruh anggota keluarga. Seluruh anggota keluarga dapat dilibatkan dalam melaksanakan pekerjaan rumah tangga dengan membagi tugas sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pengembangan agama AUD selama pembelajaran daring, orang tua memainkan peranan yang sangat penting. World Health Organisation (WHO) merilis panduan bagi orang tua dalam mendampingi anak selama pandemi berlangsung. Panduan ini meliputi kiat-kiat pengasuhan yang lebih positif dan konstruktif dalam mendampingi anak selama beraktivitas di rumah. Peran orang tua yang awalnya membimbing sikap serta keterampilan yang mendasar seperti pendidikan agama, patuh terhadap aturan dan norma, serta pembiasaan yang baik kini meluas sebagai pendamping pendidikan akademik. Penelitian sebelumnya terkait peran orang tua selama pandemi mendeskripsikan peran orang tua dalam mendampingi anak selama pandemi di rumah adalah sebagai berikut (Kurniati et al., 2020):
a. Menjaga dan memastikan anak untuk menerapkan hidup bersih dan sehat.
b. Mendampingi anak dalam mengerjakan tugas sekolah.
c. Melakukan kegiatan bersama selama di rumah.
d. Menciptakan lingkungan yang nyaman untuk anak.
e. Menjalin komunikasi yang intens dengan anak.
f. Bermain bersama anak.
g. Menjadi role model bagi anak.
h. Memberikan pengawasan pada anggota keluarga.
i. Menafkahi dan memenuhi kebutuhan keluarga.
j. Membimbing dan memberi motivasi pada anak.
k. Memberikan edukasi.
l. Memelihara nilai keagamaan.
m. Melakukan variasi dan inovasi kegiatan di rumah.
III. PENUTUP
Tidak dapat dipungkiri bahwa negara kita secara nasional belum tergolong siap baik secara sarana prasarana, ekonomi, kompetensi, maupun psikologis untuk melaksanakan pembelajaran berbasis daring dengan maksimal. Namun demi melindungi kesehatan dan keselamatan seluruh rakyat Indonesia, maka pembelajaran daring tetap harus dilaksanakan meskipun dengan berbagai kendala ada. Optimalisasi pembelajaran daring dapat diupayakan oleh seluruh pihak mulai dari pemerintah dari sisi pengadaan sarana dan prasarana penunjang, guru dan orang tua dengan peningkatan kompetensi, dan anak usia dini itu sendiri. Kerjasama dan keterlibatan aktif seluruh pihak dapat membantu mengatasi kendala-kendala yang ada sehingga pembelajaran daring dapat diselenggarakan dengan optimal meskipun belum ideal.
DAFTAR PUSTAKA
CNN Indonesia. (2020). Mengenal Social Distancing sebagai Cara Mencegah Corona. https://
www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200314102823-255-483358/mengenal-social-distancing-sebagai-cara-mencegah-corona
Ernofalina, E. (2017). Culture Shocks Experienced by Indonesian Students Studying Overseas.
International Journal of Educational Best Practices, 1(2). https://doi.org/https://doi.
org/10.31258/ijebp.v1n2.p87-105
Kementerian Kesehatan RI. (2020). Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Pandemi COVID-19. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2017). Pedoman Pendidikan Karakter pada Anak Usia Dini. Departemen Pendidikan Nasional.
Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. (2021). Peta Sebaran Covid-19. https://covid19.go.id/peta-sebaran-covid19
Kurniati, E., Nur Alfaeni, D. K., & Andriani, F. (2020). Analisis Peran Orang Tua dalam Mendampingi Anak di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 241. https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i1.541
Maiza, Z., & Nurhafizah, N. (2019). Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(2), 356. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/obsesi.
v3i2.196
Mulyadi, S., Basuki, H., & Rahardjo, W. (2019). Psikologi Pendidikan. PT. Raja Grafindo Persada.
Santrock, J. W. (2008). Masa Perkembangan Anak. Salemba Humanika.
World Health Organization. (2020). Helping children cope with stress during the 2019-nCOV outbreak (Handout). World Health Organization.