TANTANGAN PEMBELAJARAN ONLINE ILMU AGAMA HINDU SECARA KONTEKSTUAL
3. Tantangan Pembelajaran Online Berbasis Information Technology (IT)
Saat ini, negara Indonesia dan sebagian besar negara di dunia sedang mengalami pandemi virus Corona atau yang biasa dikenal dengan istilah pandemi Covid-19. Agar tidak terpapar atau terjangkiti virus Corona, pemerintah membuat kebijakan yang tegas, yakni melarang pembelajaran secara tatap muka langsung, guru dan para siswa harus melakukan pembelajaran secara online atau pembelajaran secara daring (dalam jaring-an). Banyak guru mengalami kesulitan dalam memanfaatkan teknologi informasi (information technology) yang belum pernah dipelajari sebelumnya dan guru “terpaksa” harus menggunakannya untuk pembelajaran.
Pelaksanaan pembelajaran secara online atau daring bukan tanpa masalah. Ada beberapa masalah atau tantangan yang dihadapi oleh guru, siswa, sekolah, dan orang tua dalam pembelajaran online yang berbasis Information Technology, yakni: pertama, masalah rendahnya kesadaran guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran secara online atau secara daring. Menurut Tim Kompas (2020), laporan dari sejumlah daerah di Indonesia menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran daring belum berjalan optimal, terutama di daerah pelosok dengan teknologi dan jaringan internet terbatas. Hal ini membutuhkan intervensi kebijakan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara sistematis dan terus-menerus (kontinyu).
Kedua, keterbatasan biaya pulsa internet. Untuk sebagian, masalah ini bisa diatasi melalui subsidi biaya pulsa oleh pemerintah, khususnya melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Namun, masalah ini tetap menjadi masalah besar dalam pembelajaran online Agama Hindu di Indonesia.
Ketiga, keterbatasan sarana aplikasi dan peralatan belajar seperti laptop dan smartphone.
Sebagian guru Agama Hindu dan para siswa belum memiliki sarana atau perangkat untuk menunjang pembelajaran online. Akibatnya, pembelajaran online atau secara daring tidak dapat dijalankan sama sekali, atau berubah menjadi tugas-tugas yang diberikan secara manual oleh guru untuk dikerjakan oleh para siswa di rumah.
Keempat, guru dan siswa belum terbiasa melaksanakan pembelajaran dengan cara online.
Banyak guru dan siswa mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembe-lajaran dengan cara online atau daring karena tidak memiliki wawasan sebelumnya atau kurangnya penguasaan skills di bidang pembelajaran online. Sebagian guru Agama Hindu di Indonesia telah mendapat pelatihan tentang metode pembelajaran online, sedangkan sebagian lainnya, terutama di pedesaan dan di pedalaman tidak atau belum mendapatkan pelatihan ini.
Kelima, lemahnya kreativitas dan inovasi dari para guru Agama Hindu di Indo-nesia dalam memvariasikan pembelajaran Agama Hindu secara online. Akibatnya, terjadi kejenuhan terutama yang dialami oleh para siswa. Hal ini bisa diatasi melalui pelatihan dan motivasi belajar oleh para guru sendiri. Jika mandeknya atau ketiadaan kreativitas dan inovasi pembelajaran online berlangsung dalam waktu yang lama, maka akan terjadi penurunan kualitas proses dan hasil pembelajaran Agama Hindu. Tantangan bagi para guru Agama Hindu adalah mampu memvariasikan pembelajaran online yang berbasis Information Technology dengan berbagai cara, seperti: ceramah melalui video yang diberi ilustrasi musik dan gambar-gambar yang menarik, kelompok diskusi online, dialog atau tanya jawab secara online, membuat kuis melalui program aplikasi, me-lakukan penilaian atau latihan soal secara online, melakukan pembelajaran kooperatif secara online, dan penugasan kepada siswa untuk membuat atau menghasilkan karya yang bermakna, yang diwujudkan menjadi video praktik pembelajaran Agama Hindu, misalnya dalam bidang panca yajna, dharma gita, dan lain-lain. Diharapkan dengan pembelajaran Agama Hindu secara online yang memiliki keragaman atau variasi materi dan metode, akan membuat para siswa senang belajar, tidak merasa bosan, dan yang lebih penting pembelajaran berhasil masuk ke tiga ranah/domain, yakni ranah: pengeta-huan (kognitif), keterampilan (skills), dan afektif (sikap atau karakter) para siswa.
Selain karena faktor adanya pandemi Covid-19 saat ini, pada era revolusi industri 4.0 para siswa dapat belajar secara otodidak tanpa bimbingan guru. Mereka dapat belajar sendiri melalui e-books dan sumber belajar lainnya yang tersedia melalui bantuan internet. Sumber-sumber ajaran Hindu telah ditemukan dalam format aplikasi berbasis internet: aplikasi e-books dan lainnya (Suwantana, dkk., 2020). Hal ini merupakan salah satu tantangan bagi eksistensi guru di sekolah dan juga guru suci yang selama ini menjadi rujukan belajar secara konvensional.
Ada berbagai platform teknologi informasi yang berpeluang untuk diman-faatkan dalam mendukung kegiatan pembelajaran Agama Hindu secara online atau daring dan sekaligus berpeluang pula “memaksa” para guru Agama Hindu agar melek teknologi informasi (Astini, 2020). Beberapa di antaranya sebagai berikut: zoom, google classroom, whatsapp, e-learning, dan lain-lain. Terkait dengan penggunaan berbagai platform teknologi informasi tersebut. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran Agama Hindu secara online atau daring, yaitu: Pertama, guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan pihak sekolah perlu memastikan bahwa semua siswa memiliki
perangkat atau sarana pembelajaran secara online seperti: laptop, handphone, dan sarana wi-fi di rumah. Guru perlu melakukan survei terhadap siswa dan keluarganya untuk mengetahui ketersediaan perangkat daring dan paket data. Untuk guru atau siswa yang tidak memiliki wi-fi di rumah, pemerintah harus mencari cara untuk membeli atau menyewa hotspot wi-fi dan kemudian memiliki rencana untuk mendistribusikan perangkat daring dan hotspot.
Kedua, pelatihan bagi guru dan para siswa. Guru yang mengajar Pendidikan Agama Hindu di sekolah formal dan non-formal harus melatih diri dan para siswanya tentang program aplikasi dan teknologi informasi yang mereka gunakan saat belajar secara online di/dari rumah. Inisiatif dan pelaksanaan pelatihan dapat dilakukan oleh pemerintah di bawah Kemen-dikbud RI, dari pihak Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI beserta seluruh jajarannya, dari pemerintah daerah, dari pihak sekolah, dari pihak kampus atau Perguruan Tinggi (PT) Hindu sebagai bentuk kegiatan/
program pengab-dian masyarakat, dilaksanakan oleh pihak guru, juga bisa dilaksanakan oleh organisasi atau perkumpulan Dosen Hindu Indonesia (DHI).
Ketiga, guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan/atau pihak sekolah harus menyiapkan pedoman teknis atau petunjuk tentang cara mengakses dan menggunakan alat dan kurikulum pembelajaran daring Pendidikan Agama Hindu. Informasi hendaknya disajikan dalam berbagai format termasuk video, teks, termasuk screenshot, dan tutorial. Para guru perlu mengetahui cara login dan menggunakan fasilitas pembelajaran online.
Keempat, para guru yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu harus menetapkan jadwal harian. Sangat diharapkan adanya kejelasan tentang kapan guru dan para siswa melaksanakan pembelajaran daring. Sesuai dengan konsep belajar merdeka, merdeka belajar, maka pembelajaran daring Pendidikan Agama Hindu dibuat fleksibel dari segi tempat (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra), namun tetap harus dibuatkan jadwal hariannya oleh guru.
Kelima, guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di sekolah perlu mengunggah lembar kerja siswa agar diisi dan dikembalikan oleh para siswa. Lembar kerja siswa hendaknya mencakup secara holistik tentang materi ilmu Agama Hindu, baik aparavidya maupun paravidya. Lembar kerja siswa hendaknya mencakup ketiga ranah pendidikan, yakni:
pengetahuan (kognitif), keterampilan (skills), dan sikap (karakter). Di samping itu, lembar kerja siswa hendaknya mencakup hasil belajar siswa secara tekstual dan kontekstual. Lembar kerja dibuat dalam bentuk softcopy file dan diunggah (di-upload) secara online, serta dikerjakan dan dikirimkan oleh para siswa secara online pula kepada guru.
Keenam, guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di sekolah perlu merancang pembelajaran secara online yang tidak memerlukan banyak dukungan dari orang tua, yang mungkin sudah kewalahan. Pada saat pandemi Covid-19 sampai saat ini, orang tua terutama ibu justru menjadi sangat stress dalam membantu anak-anaknya dalam pembelajaran online. Hal
ini harus disadari dan memerlukan emphaty dari guru, terutama dalam memberikan tugas-tugas, kuis, dan soal-soal untuk evaluasi pembelajaran secara online. Dengan pembelajaran online, bisa jadi yang mengerjakan tugas-tugas, kuis, dan soal-soal adalah orang tua siswa (terutama ibu), bukan dikerjakan oleh para siswa. Guru perlu memperhatikan kondisi emosional para siswa dan keluar-ganya, terutama mereka yang kurang nyaman dengan alat digital pembelajaran online.
Ketujuh, guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di sekolah perlu memikirkan cara memberikan penilaian atau evaluasi pembelajaran secara online, khususnya ujian. Sebaiknya, guru tidak membuat soal dengan jawaban yang mudah. Guru tidak hanya membuat soal dalam bentuk pilihan Benar (B) atau Salah (S) dan soal dengan tipe pilihan ganda, tetapi hendaknya juga membuat soal dalam bentuk uraian yang berisi pertanyaan mengapa dan nilai-nilai spiritual yang didapatkan para siswa dari belajar Agama Hindu, serta pertanyaan tentang hasil belajar secara kontekstual. Guru wajib memberi umpan balik tentang kemajuan hasil belajar dari para siswa.
Kedelapan, guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di sekolah perlu menyiapkan dan mengevaluasi secara terus-menerus (kontinyu) materi pembe-lajaran Agama Hindu secara holistik dari aspek aparavidya dan paravidya. Guru harus memiliki sikap merdeka.
Sekolah juga harus berani merdeka. Bahan atau materi pelajaran juga merdeka. Metode dan strategi pembelajaran harus merdeka, yakni harus bervariasi, serta jangan monoton dan bersifat konvensional.
Kesembilan, guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di seko-lah perlu memastikan bahwa semua terkomunikasikan dengan baik melalui jalur komu-nikasi dua arah, misalnya whatsApp, e-mail, video call, dan lain-lain. Guru perlu men-jelaskan sedetail mungkin apa yang diharapkan dari para siswa tentang pembelajaran Agama Hindu secara online dan memastikan tanggung jawab para siswa dalam menger-jakan tugas-tugas, menjawab kuis, dan lain-lain, bagaimana mereka dapat menemukan hal-hal yang mereka butuhkan untuk memenuhi tanggung jawab itu, dan apa yang harus mereka lakukan terlebih dahulu.
Kesepuluh, guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan pihak sekolah perlu menyediakan kurikulum yang fleksibel dan siap menghadapi pandemi Covid-19, termasuk skenario pembelajaran (silabus, lesson plan) yang fleksibel, multi-skenario pembelajaran, serta penilaian atau asessmen yang fleksibel dengan tanpa mengurangi kualitas. Kurikulum yang dibuat oleh pemerintah pusat adalah pedoman atau panduan bagi guru yang tidak boleh menghilangkan hak kemerdekaan guru Pendidikan Agama Hindu.
III. PENUTUP
Sebagai penutup dari uraian di atas, dapat ditarik beberapa simpulan bahwa di masa pandemi Covid-19 sejak bulan Maret 2020 sampai saat ini, para guru Pendidikan Agama Hindu menghadapi berbagai tantangan dalam pembelajaran, sebagai berikut: pertama, tantangan dalam
melaksanakan pembelajaran ilmu Agama Hindu secara holistik, aparavidya dan paravidya, intelektual dan spiritual, sekala-niskala, makro-kosmos dan mikrokosmos, atau secara omnijektif.
Kedua, tantangan dalam hal melak-sanakan pembelajaran Agama Hindu secara kontekstual dengan pendekatan saintifik. Ketiga, tantangan dalam melaksanakan pembelajaran online atau daring berbasis Infor-mation Technology (IT).
Para guru Pendidikan Agama Hindu harus terus belajar dalam menguasai materi Agama Hindu baik aspek aparavidya maupun paravidya, melaksanakan pembelajaran Agama Hindu secara kontekstual melalui berbagai langkah-langkah pendekatan sain-tifik, terus berlatih dalam menggunakan metode pembelajaran, dan terus mengembang-kan wawasan dan berlatih dalam menggunakan berbagai sarana dan media pembelajaran berbasis Information Technology (IT) untuk dirinya dan para siswanya.