• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aluk Rambu Solo’ : Antara Makna-Nilai dan Fenomena

MENDENGAR PESAN MASA LALU, MENEBAR SABDA MASA KINI

5.2 Catatan Kristis: Aluk Rambu Solo’ dalam Modernitas Global

5.2.1 Aluk Rambu Solo’ : Antara Makna-Nilai dan Fenomena

Ada kesan bahwa alasan klasik lestarinya ARS hingga sekarang hampir tidak lagi terletak pada makna religiusnya, tetapi lebih pada nilai-nilai sosialnya yang dipandang tetap aktual dan penting bagi kehidupan masyakat. Nilai-nilai itu, antara lain: nilai pemulihan dan pembangunan kembali relasi sosial, penghormatan, kesejahteraan, kekeluargaan, Sipopa’di’-Siporannu (kesatuan

dalam penderitaan dan pengharapan), berbagi harta milik/solidaritas, nilai jasa, kesatuan dan fungsi sosial dan harga diri59. Nilai-nilai sosial yang positif ini memang perlu didukung dan dipelihara, bahkan dikembangkan. Sekalipun demikian, kita tidak bisa bertahan pada alasan klasik itu tanpa disertai sikap kritis.

Kiranya kita perlu untuk melihat secara lebih kritis unsur-unsur lain yang tersembunyi di balik fenomena ARS yang dibentuk oleh pandangan zaman sekarang. Apakah nilai-nilai dasar tersebut masih menjadi jiwa ARS ataukah ada unsur berubah atau kepentingan lain seiring dengan zaman yang terus berubah.

a) Aluk Rambu Solo’ dan Turisme (Pariwisata)

Setelah hampir seabad berinteraksi dengan kekristenan dan juga dunia luar melalui hubungan sosio-politik, ekonomi, pariwisata, ilmu pengetahuan &

teknologi, apakah ARS masih murni ritual etnis tradisional Toraja? Shinji Yamashita, seorang peneliti & antropolog asal Jepang, dengan berani dan tegas mengkritisi ARS dan menilainya sebagai tradisi etnis yang sudah dimanipulasi60. Ia mengambil contoh kasus ARS dari Puang Mengkendek, seorang aristrokrat mantan bupati Tana Toraja, Jacob Kobong Andilolo, yang dilaksanakan di Batu Kila‟, Mengkendek, Tana Toraja, pada tanggal 30 Oktober sampai 7 November 1992. Menurut analisis Yamashita, setelah agama tradisional Toraja semakin lemah karena orang-orang Toraja beralih ke agama Kristen, tradisi religius seperti ARS direkonstruksi ke dalam sebuah format yang baru, yang disebut turisme/

59 Uraian dalam Bab II, 2.5.4.

60 S. Yamashita, “Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi”, 69-82.

kepariwisataan61. Di dalam kerangka yang baru ini, ritual tergantikan oleh pertunjukan besar (spektakuler) dan sebuah obyek yang estetik untuk dilihat dan bahkan “untuk dirasakan”. Bila dihubungkan dengan turisme, maka tak lain adalah untuk kepentingan devisa yang diperoleh dari wisatawan yang datang dari negara-negara asing. Mungkin analisis Yamashita ini tidak menyenangkan bagi orang Toraja, akan tetapi sudah menjadi pengetahuan umum bahwa “Toraja tourism is typically one which focuses on its “unique” cultural tradition, especially the spectacular funeral practices”62.

ARS dipromosikan demi kepentingan pariwisata sebagai upacara pemakaman tradisional etnis Toraja. Orang Toraja pun meyakinkan para wisatawan bahwa ARS yang mereka saksikan adalah ritual tradisional, warisan kuno yang tetap eksis hingga sekarang. Benar pertanyaan Yamashita: Apakah memang ARS yang dilakukan orang kristiani di jaman postmodern ini adalah ARS

“yang asli”? Orang Kristen telah menarik ARS itu dari makna dan tujuannya

“yang asli”, khususnya untuk “mengantar” arwah ke Puya (peralihan manusia), sehingga yang ada sekarang adalah penyederhanaan pada “yang asli” dengan meletakkan penekanan pada “upacara adat” – yang mencakup hubungan sosial dan perayaan yang menarik. Binatang dikurbankan di luar konteks religius karena ajaran Kristen menolak paham religius Toraja tentang kurban-kurban itu63, sehingga kurban-kurban dalam ARS hanyalah diterima dalam konteks sosial, yakni untuk dibagi-bagi kepada masyarakat. Sementara itu, pengorbanan binatang

61 S. Yamashita, “Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi”,77.

62 S. Yamashita, “Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi”,78.

63 Uraian dalam bahasan bab ini, 5.1.2, c).

(kerbau dan babi) dalam konteks ARS adalah suatu yang dramatis dan menjadi peristiwa yang menarik, terutama bagi wisatawan. Karena wisatawan tidak tertarik dengan makna religiusnya, pengorbanan adalah suatu kegiatan yang tidak biasa, mengejutkan dan praktek “jaman kuno”64.

Bila ARS di jaman ini menjadi objek pariwisata, sebenarnya merupakan ulah pemerintah. Pemerintah memanfaatkan ARS untuk promosi pariwisata.

Keluarga sendiri pada umumnya tak memperhitungkan hal ini. Tanpa wisatawan, ARS tetap diadakan. Yamashita bisa saja benar dalam kasus ARS Puang Mengkendek, mengingat upaya Sampe, putera Puang Mengkendek, menghubungi perusahan televisi Jepang untuk mendokumentasikan ARS ayahnya, bahkan mengeruk keuntungan dari film dokumenter yang dibuat oleh perusahaan tersebut.

For Sampe, televition meant acquiring money and publicity for Toraja tourism, in addition to documenting his father‟s great funeral. For the Javanese TV company, the exotic Toraja funeral was means to convey

“a human drama of life and death” to a Japanese audiens. Returning to Tokyo, the TV producer finally edited the film with an emphasis on the spectacular aspects of the funeral and the “buffalo boy” (actually a middle-aged man)65.

Dalam contoh kasus ini, kecurigaan Yamashita dapat saja benar. Lagi pula, Sampe memiliki Hotel untuk tempat menginap para tamu asing, wisatawan maupun para pejabat pemerintahan khususnya dari Jakarta. Hal ini pula yang memperkuat analisis Yamashita: ARS dimanfaatkan sebagai promosi hotel

64 S. Yamashita, “Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi”,78-79.

65 “Bagi Sampe, televisi berarti memperoleh uang dan publisitas untuk turisme Toraja, sebagai tambahan terhadap dokumen pemakaman agung bapaknya. Bagi perusahaan TV Jawa, pemakaman Toraja yang eksotis adalah sarana untuk menyampaikan „sebuah drama manusia tentang hidup dan mati‟ kepada para pendengar Jepang. Kembali ke Tokyo, produsen TV akhirnya mengedit film itu dengan suatu penekanan pada aspek yang menarik dari pemakaman dan tentang

„anak laki-laki si gembala kerbau‟ (sebenarnya seorang tengah umur)”. S. Yamashita,

“Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi”, 80.

sekaligus periwisata Toraja. Kendati demikian, apakah hal ini berlaku bagi semua pelaksanaan ARS? Dari sekian banyak orang Toraja yang melaksanakan ARS, mungkin hanya Sampe yang bisa berbuat demikian untuk ARS bapaknya, karena memiliki akses untuk itu. Pada umumnya, pihak keluarga yang membiayai pesta tidak langsung diuntungkan secara finansial dari turisme, pihak yang diuntungkan adalah pemilik hotel, penjual jasa pariwisata dan negara.

b) Aluk Rambu Solo’ dan Status Sosial

Bila Yamashita menggagas ARS sebagai ritual tradisional yang telah direkonstruksi pada kepentingan turisme, hal lain yang mempengaruhi pelaksanaan ARS adalah status sosial dalam masyarakat. Di balik nilai-nilainya yang luhur, ARS menjadi ajang untuk mempertahankan bahkan membentuk status sosial dalam masyarakat. Seorang responden saya mengatakan: “Sekalipun saya tak memiliki apa-apa, saya akan melakukan apa saja, asal upacara penguburan orang tua saya mencapai garis merah”. Artinya, walaupun ia tidak memiliki uang untuk membiayai ARS, ia akan berusaha agar bisa melaksanakan ARS layaknya untuk keturunan ningrat: jenazahnya sudah dibungkus kain merah dengan hiasan emas. Menurut Lesoan Aluk Padang diMa’dikai, itu berarti kurban minimal 9 ekor kerbau dan sejumlah babi.

Demi mempertahankan status sosial, seseorang berusaha melaksanakan ARS sekalipun baginya terlalu memberatkan dari segi ekonomi, bahkan sampai harus menjual sawah-ladang. Kalau sudah tidak ada lagi yang dapat dijual, terpaksa membuat utang. Sementara untuk mendapatkan status sosial atau

pengakuan dalam masyarakat, ARS merupakan jalan yang lapang bila seseorang memiliki kekuatan ekonomi. Tekanan untuk mendapatkan pengakuan dalam masyarakat ini begitu kuat dalam masyarakat Toraja sehingga ARS ditampilkan sebagai sarana mempromosikan status sosial.

Sebagaimana konsep „yang asli‟, ARS dilakukan berdasarkan status sosial dalam masyarakat, berdasarkan garis keturunan. Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin besar pula ARS yang harus dilaksanakan66. Ini adalah sebuah tuntutan adat berdasarkan ketentuan ARS, yang diyakini sebagai bagian dari hukum Ilahi. Berdasarkan ketentuan ini, maka jelas bahwa hanya orang yang status sosialnya tinggi dapat melaksanakan ARS tingkat tinggi pula. Dengan melihat pelaksanaan ARS saja para pelayat sudah tahu tentang status sosial almarhum/ah dan keluarganya. Dengan kata lain, ARS menjadi „pengumuman‟

tentang status sosial keluarga.

Setelah sebagian besar orang Toraja menjadi Kristen, aturan semacam ini melemah. Hal ini dipengaruhi oleh ajaran Kristen yang menolak perbudakan (dengan sendirinya juga pembedaan orang berdasarkan status sosial), sehingga para budak (status sosial terendah) memposisikan diri sebagai orang merdeka67. Aturan ARS yang didasarkan pada kasta pun melemah dan bergeser pada ketentuan kedua, yakni kekuatan ekonomi. Bila mampu membiayai ARS, maka siapa saja tanpa membedakan status sosial bisa melaksanakan ARS yang besar.

66 Uraian dalam bab II, 2.3.

67 Pesoalan perbudakan terungkap antara lain dalam Laporan Dr. H. van der Veen, kepada pengurus Besar Nederlandsch Bijbelgenootschap pada tahun 1922, sebagaimana didokumenkan dalam Th.van den End, Sumber-sumber Zending Tentang Sejarah Gereja Toraja, 172-173.

Ketika sistem status sosial tradisional yang didasarkan pada garis keturunan melemah, maka terbukalah kesempatan membentuk sistem status sosial baru berdasarkan pola pikir modern yang didasarkan pada kekuasaan, pendidikan dan kekayaan. Sebenarnya, sistem status sosial tradisional sejajar dengan status sosial versi modern. Hanya saja, status sosial tradisional sifatnya alami dan tidak bisa diubah, sedangkan status sosial modern sifatnya buatan (tergantung pada usaha manusia) dan mudah berubah. Ajaran kekristenan dan perkembangan zaman menggeser sistem status sosial tradisional kepada status sosial modern.

Seiring perubahan zaman, status sosial modern ini mulai muncul sebagai hal yang menentukan untuk pelaksanaan ARS. Oleh orang Toraja modern, ARS yang merupakan pesta terbesar dalam masyarakat Toraja dijadikan sebagai sarana yang lazim untuk “mengumumkan” status sosial sekaligus “meminta” pengakuan dari masyarakat. ARS yang besar dan meriah menjadi pertunjukan tingginya status sosial seseorang. Pola pikir modern memberikan cara penilaian baru terhadap keagungan sebuah ARS yang mampu menghadirkan prestise bagi pelakunya.

Sebagaimana yang dikemukakan Yamashita, ARS sekarang tidak hanya dinilai dari banyaknya kerbau yang dikurbankan (sebagaimana ketentuan tradisional) tetapi juga banyaknya orang berpengaruh, para pejabat pemerintahan dari Jakarta68 dan tamu-tamu asing yang hadir dan menyaksikan ARS itu. Maka, ketika sekarang ARS menjadi „ajang pertarungan prestise‟ maka mungkin benarlah kesimpulan dari pengamatan Zakaria Ngelow, seorang dosen di STAKN69 Toraja, bahwa “for the modern Christian, the funeral feast is more as medium to show the

68 S. Yamashita, “Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi”, 79.

69 STAKN: Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri.

clan‟s wealth off; the more wealth a family show, the more prestige it will get in the society”70.