• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masa Adaptasi: Gereja Berdialog dengan Budaya

MEWARTAKAN KEGEMBIRAAN KRISTIANI, MENGHARAPKAN TRANSFORMASI KEHIDUPAN

4.3 Masa Adaptasi: Gereja Berdialog dengan Budaya

Menuju keberhasilan-keberhasilan yang diraih dalam karya pewartaan Injil di Toraja tidak lepas dari banyaknya usaha penyesuaian, baik yang dilakukan oleh pewarta Injil Eropa, oleh orang-orang Toraja sendiri, maupun dalam kerja sama di antara keduanya. Hal ini sudah berlangsung sejak awal karya misi, terutama ketika pewarta Injil Eropa mulai menghadapi situasi yang tidak kondusif

45 D.J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, 452.

46 D.J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, 452.

karena penolakan masyarakat Toraja terhadap pewartaan Injil yang dianggap sebagai ancaman bagi kehidupan mereka. Maka muncul kesadaran di kalangan pewarta Injil, untuk melakukan pewartaan menurut pola-pola baru yang lebih bersahabat. Kesadaran akan kelemahan sikap-sikap dan cara-cara pewartaan zendeling serta bahaya penolakan dari orang-orang Toraja, mulai muncul sejak terbunuhnya zendeling A.A. van de Loosdrecht di Bori‟ tanggal 26 Juli 1917.

Belajar dari peristiwa itu, baik dari pihak pemerintah maupun dari antara zendeling sendiri, misalnya J. Kruyt, memberi saran kepada para zendeling untuk tidak terlalu frontal terhadap adat-istiadat orang Toraja47.

Sikap yang tidak frontal terhadap adat-istiadat secara konkret adalah mengadakan penyesuaian-penyesuaian. Itu berarti ada unsur-unsur dari budaya setempat yang dimasukkan ke dalam praktek hidup orang-orang Kristen.

Sementara itu, dari pihak orang-orang Toraja, ajaran-ajaran Kristen disesuaikan dengan kebiasaan-kebiasaan dalam adat mereka. Usaha ini antara lain sudah tampak dalam upacara penguburan seorang bayi dari seorang Kristen bernama Kadang. Bayi itu meninggal pada tanggal 19 November 1918 dan dimakamkan sehari setelahnya yakni 20 November1918. Lai‟ Baroeng, istri Kadang belum menjadi Kristen. Ayah perempuan ini menghendaki agar si bayi, yang belum dibaptis itu, dimakamkan menurut ketentuan lengkap dari adat Toraja. Zendeling tidak menolak bila bayi itu dimakamkan menurut tatacara Toraja, asalkan tidak disertai dengan adat kebiasaan yang bertentangan dengan agama Kristen, seperti

47 E.A.J. Nobele, salinan rahasia, Palopo 20 Agustus 1917, sebagaimana dimuat dalam Dr. Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 123-127. A.C. Kruyt kepada guru zending J. Belksma, Pendolo 26 Desember 1917, sebagaimana dimuat dalam Dr. Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 135-138.

pemberian suguhan dan puji-pujian oleh perempuan-perempuan yang bertindak sebagai jururatap demi menghormati roh orang mati. Zendeling juga tidak keberatan kalau babi dan kerbau disembelih di dekat rumah duka sebagaimana kebiasaan masyarakat namun tidak dimaksudkan sebagai bekal bagi arwah menuju ke alam Ilahi, melainkan untuk dimakan oleh orang-orang yang menghadiri pesta dan mengusung jenazah ke keburan. Segera setelah meninggal, si bayi dibawa ke rumah keluarga asalnya, yakni Tongkonan dari ayah si Kadang.

Pada hari pemakaman, H. van de Veen dan Belksma, pekerja zending, menyampaikan kata-kata hiburan, bernyanyi, kemudian jenazah bayi diusung ke kuburan di bukit batu, yakni kuburan keluarga ayah si Kadang. Di depan kuburan disembelih seekor anjing, setandan pisang diusung di belakang keranda jenazah si bayi. Begitu juga dengan sepotong tebu, sebuah caping dan payung diusung bersama jenazah. Semua barang itu diletakkan di depan kuburan. Setelah semua hal itu dilaksanakan, seekor kerbau disembelih di kaki bukit batu48.

Pemakaman ini disebut sebagai pemakaman secara Kristen yang pertama di Toraja. Tampak bahwa secara umum tatacara pemakaman menurut adat Toraja tetap dilaksanakan, hanya saja beberapa kegiatan dan terutama pemahaman terhadap tindakan-tindakan dalam pemakaman adat itu ditiadakan atau diubah berdasarkan ajaran Kristiani. Juga ada beberapa tambahan seperti berdoa dan bernyanyi sebagaimana lazimnya dalam ibadat Kristen. Tentu saja tidak bisa dipastikan bahwa orang-orang Toraja menyembelih kerbau dan babi dalam

48 Dr. H. van der Veen, dalam surat laporannya kepada Pengurus Besar Nederlandsch Bijbelgenootschap mengenai masa Juli-Desember 1918, Rantepao, 12 Februari 1919, sebagaimana dimuat dalam Dr. Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 150.

kematian itu bukan dimaksudkan sebagai bekal bagi arwah. Demikian pula simbol-simbol lain, seperti setandan pisang, sepotong tebu, dan barang-barang yang diletakkan di kuburan, merupakan simbol-simbol khas Aluk Todolo. Akan tetapi, upaya ini ditempuh sebagai jalan tengah hasil kompromi untuk mengubah secara perlahan-lahan upacara pemakaman menurut tatacara adat Toraja.

Harus diakui bahwa ada begitu banyak kesulitan yang dihadapi dalam usaha mempertemukan kekristenan dengan adat-istiadat Toraja. Dalam rangka penyesuaian ini, maka zending merubah sikapnya terhadap kegiatan-kegiatan adat seperti ritual kematian, ARS. Alasan perubahan sikap itu antara lain karena zending mulai melihat bahwa dalam adat orang Toraja ada banyak hal yang tidak melawan kehendak Tuhan. Pertimbangan lain di balik itu adalah demi keberhasilan pewartaan Injil, sehingga Injil bisa diterima oleh kalangan atas dan menengah yang tidak mau dipisahkan dari lingkungan adat mereka. Hal ini juga terkait dengan alasan sosial, pembagian warisan dan sebagainya49. Sementara kalangan bawah (hamba) sangat senang dengan kegiatan misi karena kekristenan

“memerdekakan” mereka.

Dalam usaha penyesuaian lebih lanjut, para zendeling menyarankan kepada orang Kristen untuk membedakan ritus religius (aluk) dengan ritus sosial-adat (ada’) pada ritual kematian dan pesta-pesta lainnya. Maka pada tahun 1923, dibuatlah rumusan Peratuan Adat untuk orang Kristen yang sifatnya praktis, berupa apa saja yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan oleh orang Kristen.

Dalam aturan itu antara lain diungkapkan bahwa: Jenazah boleh dikubur di liang,

49 Y.A. Sarira (analisator), Rambu Solo’ dan Persepsi Orang Kristen Toraja tentang Rambu Solo’, 183.

boleh juga di dalam tanah; sebaiknya jenazah segera dikubur; boleh menyembelih kerbau, babi, tetapi jangan dianggap sebagai bekal si mati; tidak boleh memberi persembahan kepada arwah orang mati; ratap tangis dan bernyanyi tidak dilarang;

tau-tau (patung si mati) dilarang dibuat; dan seterusnya50. Tentu saja peraturan yang sifatnya praktis itu tak mampu menjangkau seluruh unsur dan tindakan budaya. Oleh karena itu, maka kesimpulan akhir dari peraturan itu adalah semua yang terkait dengan aluk (kepercayaan Aluk Todolo) jangan dilakukan oleh orang kristiani, sedangkan yang bersifat sosial dibolehkan. Sikap tersebut ditegaskan kembali dalam Konferensi Zending ke-54 bulan Desember 193351.

Di balik usaha pemisahan aluk dan ada’ sebenarnya terdapat persoalan yang rumit. Itulah sebabnya, dikotomi antara aluk dan ada’ ini menjadi pertanyaan yang tak kunjung terjawab secara jelas. Secara teoritis, kita dapat membedakan antara aluk dan ada’, tetapi dalam praksis hal itu sangat sulit. Orang sulit memetakan mana yang aluk dan mana yang ada’ dari sebuah kegiatan budaya. Sebenarnya kesulitan itu muncul ketika orang Toraja mengenal kata ada’

yang selanjutnya dipakai untuk kegiatan-kegiatan budaya. Kata ada’ (bahasa Indonesia: adat), baru dikenal oleh orang Toraja melalui perjumpaan dengan orang-orang Bugis. Istilah itu mulai popular digunakan pada tahun 1947, sejak Luwu dan Toraja dipisah menjadi dua Swapraja52. Dalam berbagai upacara, orang tidak lagi menggunakan kata aluk (ritual agama Aluk Todolo), melainkan kata ada’

50 J. Belksma dalam laporannya mengenai resort Rantepao dalam tahun 1923, sebagaimana dimuat dalam Dr. Th. Van den End, Sumber-sumber zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 188-190. Lih.

lampiran 3.

51 Y.A. Sarira (analisator), Rambu Solo’ dan Persepsi Orang Kristen Toraja tentang Rambu Solo’, 186.

52 Kobong, Th. dkk., Aluk, Adat dan Kebudayaan Toraja dalam Perjumpaan dengan Injil, Pusbang-Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja, Toraja 1992, 22-23

meskipun yang dimaksudkan adalah pelaksanaan suatu aluk. Sebagai contoh, istilah ada’ digunakan untuk menyebut upacara pemakaman (Rambu Solo’), padahal upacara pemakaman itu jelas merupakan pelaksanaan aluk sehingga disebut Aluk Rambu Solo’ atau Aluk Tomate, yakni ritual yang diadakan sehubungan dengan kematian. Demikian pula, kata aluk dalam banyak hal telah digantikan dengan kata ada’. Mungkin benar bahwa dengan menggunakan kata ada’ seolah-olah kegiatan-kegiatan aluk itu netral dari kepercayaan Aluk Todolo.

Sementara kata aluk dipersempit pemakaiannya hanya pada upacara ritus keagamaan (penyembahan) saja, padahal kegiatan-kegiatan yang disebut adat pun tak lepas dari kepercayaan atau agama tertentu.

Kesulitan-kesulitan dari usaha pemisahan aluk dan ada’ pada tataran praktis, tampak misalnya dalam kasus berikut.

Pada tahun 1924 timbul kesulitan antara para kepala adat di Patilang dengan jemaat Kristen di sana. Orang-orang Kristen tidak bersedia pada pesta-pesta kematian menyerahkan potongan daging yang menurut adat harus diserahkan kepada kaum parenge’, yaitu buku leso (pangkal paha). Para sendeling tidak berhasil mencapai kesepakatan mengenai sikap yang perlu mereka ambil terhadap perkara tersebut.

Maka mereka mengajukan persoalan ini pada rapat Krsiten yang dilangsungkan di Angin-angin pada bulan Juni 1924. Oleh rapat itu diusulkan kompromi sebagai berikut: agar diserahkan potongan daging yang lain dari pada yang ditentukan oleh adat. Namun kompromi ini ditolak oleh para kepala. Campur tangan oleh Controleur dan Asisten-Residen dari Palopo tidak berhasil mendekatkan kedua belah pihak. Lalu pada tanggal 28 Agustus 1926 soal ini dijadikan pokok perbincangan antara Gubernur Sulawesi, A.J.L. Couvreur, dengan Konferensi pada Zendeling53.

Dari contoh kasus di atas, pokok persoalannya terletak pada penolakan orang-orang Kristen untuk memberikan bagian daging kepada kepala adat.

53 Dr. Th. Van den End, Sumber-sumber zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 207.

Menurut mereka, tindakan itu merupakan penyembahan roh dan mengandung pula pengakuan bahwa mereka takluk kepada kaum imam agama kafir. Terhadap persoalan ini muncul beragam pandangan. Zendeling H. Pol setuju bahwa kedua hal itu berhubungan dengan aluk, yakni penyembahan leluhur, karena buku leso diberikan kepada imam/toparenge’ sebagai pengantara roh leluhur dengan rakyat.

Tetapi menurut H. van der Veen, buku leso diberikan hanya sebagai tanda penghormatan saja. Ia menghendaki agar orang-orang Toraja Kristen tetap memenuhi kewajiban lama, yakni tuntutan adat, tetapi kewajiban itu disekularkan, artinya dihilangkan sifat agamawinya54. Oleh orang-orang Kristen, pendapat Veen ini dikritik karena kalau penghormatan saja, Toparenge’ (kepala distrik) bisa diberikan daging lain saja (bukan buku leso) yang lebih baik mutunya55. Usulan Veen itu memang tidak mudah dilaksanakan.

Kesulitan lain terkait dengan ritus menurunkan mayat ke rante (ma’pasonglo’), mengarak kerbau (ma’pasa’ tedong), adu kerbau (ma’pasilaga tedong), adu kaki (sisemba’), pembagian daging (manta duku’), nyanyian duka (ma’badong), dst, yang disebut sebagai adat. Bagaimanapun juga, kegiatan-kegiatan tersebut di atas terkait dengan aluk karena mengandung makna yang tak lepas dari keyakinan Aluk Todolo terhadap kematian dan ritual untuk mengantar orang mati kembali ke dunia asalnya (sule lako tampa rapa’na). Peraturan-peraturan dari pihak Gereja akhirnya semakin lemah, karena orang-orang Kristen

54 Dr. Th. Van den End, Sumber-sumber zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 218.

55 Y.A. Sarira (analisator), Rambu Solo’ dan Persepsi Orang Kristen Toraja tentang Rambu Solo’, 187. Th. Kobong, Injil dan Tongkonan, Inkarnasi, Kontekstualisasi, Transformasi, 109-110.

sendiri mempertanyakan: bagaimana harus membagi daging secara Kristen atau sisemba’ secara Kristen, apalagi dengan adu kerbau secara Kristen56.

Persoalan penyesuaian ini menjadi bagian dari misi Gereja yang berkelanjutan, sejalan dengan berkembangnya waktu dan perubahan zaman.

Pelaksanaan kegiatan adat di kalangan orang-orang Toraja Kristen tetap merupakan kesulitan yang berulang-ulang. Setelah masa revolusi kemerdekaan, pesta-pesta pemakaman tetap dipertahankan dengan perubahan akibat pengaruh-pengaruh yang makin meluas dari pendidikan modern. Sebagaimana dikemukakan pendeta utusan C. Balke, bahwa pesta-pesta adat diberi sifat kekristenan dengan ditambahi embel-embel doa dan pengucapan syukur, bahkan ada juga yang mempersembahkan beberapa ekor kerbau kepada Gereja. Diakui oleh Balke bahwa “Sulit sekali untuk mengambil sikap radikal. Dalam keseluruhan adat, segala sesuatu saling berhubungan; orang-orang terjalin dalam sebuah jaringan besar berupa kewajiban timbal balik, sehingga seorang yang bersikap radikal menimbulkan reaksi-reaksi yang berakibat luas yang sulit diselesaikan”57.

Dari uraian di atas, tampak bahwa para pendeta atau zendeling memiliki perhatian besar pada persoalan adat-istiadat Toraja, mempelajarinya dan banyak membuat aturan untuk membebaskan orang Kristen dari kekafiran adat-istiadat itu.

Berbeda dengan mereka, para misionaris Katolik pada umumnya kurang tahu dan kurang berminat untuk mempersoalkan adat-istiadat Toraja. Sebagai contoh, Pastor A. Vervoort, CICM turut ma’badong bersama murid-muridnya pada

56 Y.A. Sarira (analisator), Rambu Solo’ dan Persepsi Orang Kristen Toraja tentang Rambu Solo’, 188.

57 Drs. C. Balke, dalam suratnya yang dikirim kepada majalah “Alle den Volcke”, Rantepao, 13 September 1957, sebagaimana dimuat dalam Dr. Th. Van den End, Sumber-sumber zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 709.

penutupan retret murid SMP pada tahun 195358, padahal ma’badong sebenarnya ditujukan untuk orang mati. Perhatian misionaris Katolik terutama diarahkan pada pembukaan sekolah dan pembangunan gereja dan jemaat 59 . Baru dalam perkembangan selanjutnya, seorang misionaris bernama Pastor Jeff Hendryck, CICM, yang tertarik untuk mempelajari adat Toraja. Tujuannya bukan untuk menghukum unsur tertentu ataupun mau memasukkan elemen tertentu dari adat Toraja ke dalam Gereja. Berbeda dengan para zendeling yang mempersoalkan kekafiran adat Toraja (aspek religius), misionaris menitikberatkan penilaian pesta orang mati sebagai peristiwa yang bersifat feodal dan malapetaka sosial-ekonomi karena mengakibatkan orang berutang banyak (aspek sosial-ekonomis). Sekalipun demikian, misionaris Katolik tidak melarang membuat pesta kematian karena melihat adanya segi sosial yang positif, yakni pesta itu terbuka kepada siapa saja yang datang. Pada tanggal 30 Maret 1955, para Pastor membicarakan masalah penguburan Katolik. Keputusan dalam rapat itu antara lain:

(1) Pesta kematian diizinkan asal tidak disertai dengan persembahan kepada dewa.

(2) Ma’badong dilarang karena dianggap memberi kesempatan melakukan dosa, (antara lain: perzinahan atau kumpul kebo bagi muda-mudi).

(3) Disetujui untuk tidak bertindak keras kalau ma’badong terjadi pada siang hari, tetapi berangsur-angsur itu pun harus dibasmi sebab mudah ma’badong siang akan dilanjutkan menjadi ma‟badong malam.

(4) Dianggap tidak bijaksana kalau teks Kristen dipakai untuk ma’badong, sebaiknya orang berdoa dan menyanyikan lagu-lagu Kristen.

(5) Pada pemakaman orang bukan Katolik, orang Katolik dilarang turut ma’badong.

(6) Orang mati yang Katolik dalam keluarga bukan Katolik lebih baik tidak dimakamkan dengan upacara Katolik; makamnya diberkati secara diam-diam saja.

(7) Dianggap tidak pantas kalau dua aluk yang berbeda dicampuradukkan.

(8) Kalau bisa, pemakaman Katolik disertai dengan Misa; kalau tidak mungkin pada hari pemakaman sendiri, Misa Requiem bisa juga diadakan pada hari Minggu atau pada hari pastor datang merayakan Misa di kampung tersebut

(9) Arakan menuju makam hendaklah teratur dan jumlah pembicaraan harus dibatasi60.

Menurut van Schie, tidak semua keputusan rapat itu disetujui oleh semua pastor. Ada yang berpendapat bahwa larangan ma’badong kurang bijaksana dan besar kemungkinan tidak akan ditaati oleh banyak orang. Pastor Jeff Hendryck, CICM salah satu pastor yang tidak setuju dengan larangan ma’badong membuktikan bahwa alasan pelarangan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Hal itu dibuktikan ketika ia meneliti kebiasaan ma’badong dengan menghadiri suatu pesta orang mati di Buntao‟, sekitar tahun 1960, atas permintaan pastor Leo Blot. Oleh van Schie dikisahkan sebagai berikut:

Setibanya di pesta itu dan makan malam bersama banyak orang, pastor menarik diri seakan-akan pergi tidur. Sesudah beberapa saat, beliau turun dari rumah tempat penginapannya dengan memakai kain sarung hendak menyamar sebagai orang kampung. Dengan demikian, sempat menyaksikan orang ma’badong dalam suasana kekeluargaan tanpa dikenali. Dalam laporannya kepada Pastor L. Blot dan rekannya yang lain bahwa orang ma’badong dalam suasana kekerabatan dan bahwa seandainya ada kenakalan terjadi, agaknya hanya dilakukan di antara para penonton yang duduk-duduk dipinggir dalam keadaan gelap-gulita. Dengan demikian beliau memperkuat pendapatnya sendiri yang dulu menyatakan tidak setuju dengan larangan ma’badong yang pernah diputuskan oleh rapat para pastor61.

60 G. van Schie, CICM, Gereja Katolik di Tana Toraja dan Luwu, Sejarah tentang Awal Perkembangannya, 193.

61 G. van Schie, CICM, Gereja Katolik di Tana Toraja dan Luwu, Sejarah tentang Awal Perkembangannya, 290.

Selain rapat para pastor, pada tanggal 26-30 Juli 1965, diadakan pula Kongres Interparokial Dekanat di Makale. Dalam kongres ini semangat pembaruan Konsili Vatikan II sudah menjadi bahan perbincangan. Terkait dengan ritual pemakaman adat Toraja, antara lain diputuskan:

(1) Permohonan kepada atasan Gereja agar lebih menegaskan supaya pesta-pesta yang berlebihan disederhanakan.

(2) Mundukung usaha untuk mengusulkan kepada atasan Gereja agar upacara-upacara/kebiasaan-kebiasaan dari adat Toraja dapat dipergunakan dalam liturgi secara bijaksana.

(3) Permohonan kepada pemerintah agar mengeluarkan peraturan tentang penguburan jenazah dalam waktu 2x24 jam tanpa mengurangi suatu apa pun dari adat/kebudayaan setempat62.

Jadi, secara umum, para misionaris Katolik tidak menerapkan aturan-aturan yang menimbulkan perlawanan dari orang-orang Toraja terkait dengan pesta kematian. Terhadap sikap para misionaris itu van Schie berpendapat bahwa,

“Secara lebih-kurang sadar, mereka (para misionaris) berharap agar nanti orang Toraja sendiri yang akan membuang apa yang tidak sesuai dengan semangat Injil serta mempertahankan apa yang sesuai”63.

Bila kita mencermati persoalan penyesuaian antara kekristenan dan adat Toraja ini dalam skala yang lebih luas, maka kita akan terlibat dalam persoalan hubungan antara budaya dan agama. Agama dan budaya jelas merupakan dua hal yang berbeda. Akan tetapi hal itu tidak berarti bahwa keduanya terpisah karena antara keduanya terdapat kaitan yang erat satu sama lain. Amalorpavadass mengatakan: “Cultures and religion are two distinct entities with a personality, identity and autonomy of their own….Yet for their vitality and growth, they are

62 G. van Schie, CICM, Gereja Katolik di Tana Toraja dan Luwu, Sejarah tentang Awal Perkembangannya, 262-268.

63 G. van Schie, CICM, Gereja Katolik di Tana Toraja dan Luwu, Sejarah tentang Awal Perkembangannya, 340.

interdependent, need mutual sharing in openness and depth and undergo dynamic interaction and reciprocal influences”64. Keterkaitan ini tidak dapat disangkal karena baik agama maupun budaya, keduanya berada dan terkait dengan kehidupan manusia. Dari kenyataan ini, maka seharusnya hubungan timbal balik dan kesatuan dinamis antar keduanya harus dipelihara dan dikembangkan, bukannya dipisahkan atau bahkan yang satu menyingkirkan yang lain.

Dalam pandangan Katolik, pengakuan Gereja terhadap otonomi kebudayaan65, mengajak Gereja untuk berdialog dengan kebudayaan dalam usaha pewartaan Injil. Salah satu syarat mendasar dalam dialog adalah adanya sikap terbuka dan hormat pada pelbagai kebudayaan. Sikap terbuka dan hormat ini mengandaikan analisis rasional terhadap unsur-unsur positif dalam setiap tradisi kebudayaan, yang kemudian diangkat dan didialogkan dengan ajaran kekristenan.

Konsili Vatikan II menekankan bahwa kebudayaan sudah selayaknya menuntut supaya dihormati dan dalam arti tertentu “tidak dapat diganggu-gugat, tentu saja tanpa merongrong hak-hak pribadi maupun persekutuan, baik yang khas maupun umum, dalam lingkup kesejahteraan masyarakat” (GS 59).

Sekalipun Gereja menaruh hormat yang besar terhadap kebudayaan, itu tidak berarti bahwa Gereja mengagungkan corak kebudayaan tertentu. Gereja tidaklah dibatasi oleh corak budaya khas manapun dan sadar akan misi universalnya. Gereja “tidak terikat secara eksklusif tak terceraikan kepada suku atau bangsa manapun, kepada corak yang khas manapun, kepada adat-istiadat

64 “Budaya dan agama adalah dua hal yang beda dengan personalitas, identitas dan otonomi masing-masing….Sekalipun begitu, mereka saling tergantung demi pertumbuhan dan vitalitas mereka, kebutuhan sharing timbal balik yang terbuka dan mendalam dan mengalami interaksi yang dinamis dan pengaruh timbal balik”. D.S. Amalorpavadass, Gospel and Culture,14.

65 Kons. Vatikan II, GS art. 59.

entah yang lama entah yang baru” (GS 48). Maka, di mana pun juga Gereja perlu mengakui dan mewujudkan secara nyata hak semua orang atas kebudayaan manusiawi dan sosial66. Orang-orang Kristiani juga diajak untuk terus menerus mencari cara untuk menyajikan ajaran yang lebih kontekstual bagi masyarakat sezaman, yang kemudian dinyatakan dalam kebudayaan sekarang67. Dalam kerangka itu, sudah merupakan keharusan bagi orang-orang Kristen untuk meninggalkan setiap hal yang negatif dan sikap agresif terhadap budaya. Sebagai gantinya, mereka sebaiknya berusaha untuk mengambil bagian sikap kritis dan masuk dalam setiap bentuk kebudayaan autentik manusia68.

Dalam Anjuran Apostoliknya, Ecclesia in Asia, Sri Paus Yohanes Paulus II menulis: “Kita bersyukur kepada Allah lagi atas kekayaan kebudayaan-kebudayaan, bahasa-bahasa, tradisi-tradisi dan sifat-sifat perasaan halus religius benua yang besar ini”69. Maka sepantasnyalah bila kekayaan khas bangsa-bangsa Asia itu menjadi kebanggaan yang tak harus disingkirkan karena menganut kekristenan. Injil dan penginjilan (evangelisasi) terkait erat dan tidak bertentangan dengan kebudayaan.

Sangat disadari bahwa kebudayaan itu merupakan ruang vital karena di situlah pribadi manusiawi bertatap muka dengan Injil. Ketika Injil bertemu dengan kebudayaan, terjadilah proses timbal-balik, yakni saling memberi dan menerima, antara Injil dan kebudayaan.

66 Kons. Vatikan II, GS art. 60.

67 Kons. Vatikan II, GS art. 62.

67 Kons. Vatikan II, GS art. 62.