• Tidak ada hasil yang ditemukan

RITUAL KEMATIAN ADAT TORAJA

2.5 Makna di Balik Aluk Rambu Solo’

2.5.9 Harga Diri

Selain mengandung nilai kekeluargaan dan kesatuan masyarakat, ARS juga tak lepas dari persoalan harga diri77. Melalui kesatuan masyarakat, setiap orang menemukan dirinya sendiri sebagai manusia yang hidup di tengah-tengah realitas sosial, di alam semesta, serta di bawah kekuasaan Tuhan. Melalui keterlibatannya dalam kegiatan bersama, seseorang menemukan tempatnya dalam masyarakat sebagai pribadi yang terkait satu sama lain dan memegang berbagai macam peranan yang saling melengkapi.

Para pewaris kebudayaan megalithikum berpendapat bahwa memberi lebih utama dari pada menerima78. Orang yang lebih banyak memberi dinilai lebih tinggi daripada yang hanya menerima. Oleh karena itu, orang mempertahankan harga dirinya dengan cara pantang meminta-minta. Hal ini sangat mempengaruhi seseorang untuk mempertahankan status sosialnya atau harga dirinya melalui ARS.

Orang yang merasa mempunyai kedudukan tinggi atau ingin ditinggikan kedudukannya harus mempertunjukkan kelebihannya dengan memberi sebanyak mungkin. Pemimpin, kepala suku, turunan bangsawan dan pahlawan harus memperlihatkan kelebihannya kepada masyarakatnya dengan mengadakan pesta

77 Y.A. Sarira (analisator), Rambu Solo’ dan Persepsi Orang Kristen Toraja tentang Rambu Solo’, 125.

78 Y.A. Sarira (analisator), Rambu Solo’ dan Persepsi Orang Kristen Toraja tentang Rambu Solo’, 104.

untuk hiburan, kesenangan, kebahagiaan dan kemakmuran masyarakat79. Pada masa lalu, pelaksanaan ARS juga menjadi legitimasi kalangan elit (tomakaka). Tak semua kalangan dapat melaksanakan ARS tingkat tinggi, sekali secara ekonomi mampu. Legitimasi status sosial tradisional sangat kuat diperoleh dari pelaksanaan ARS. Oleh karena itu, di masa sekarangpun ARS bisa dilaksanakan untuk pencarian legitimasi prestise, yakni sebagai tokapua (orang besar), jika masyarakat Toraja terseret oleh kepentingan sosial-politi sehingga tidak menekankan kembali filosofi dasar ARS sebagai ritual religius, ritual untuk keselamatan.

ARS menjadi “pesta” perpisahan bagi para pembesar yang telah meninggalkan dunia ini. Kehebatan, kekuasaan dan pengaruh orang yang meninggal itu juga terlihat dari banyaknya orang yang menghadiri “pesta”-nya.

Hal ini terungkap dalam syair-syair badong dan singgi’ tomate, yang menjadi kebanggaan dan harga diri dari almarhum/ah dan keluarga besarnya. Kutipan berikut ini adalah sebagian kecil pujian tersebut:

Tiromi tu tau tongan, tu to natampa deata;

to laen-laen dadinna, to senga‟ pangidenanna.

La natibolloi sarong, natikembongi kambuno, ke layan rante kalua‟;

kambuno to randan langi‟, ta‟dung to lelean uran.

Tang tatiroraka lako, tang ta‟paraka matanta?

Malulun buntu naola, ma‟ti tombang napolalan.

Umpotedong-tedong batu, ma‟pasilaga lolanan;

nadoloan burakena, naturu‟ panglalananna80.

79 Y.A. Sarira (analisator), Rambu Solo’ dan Persepsi Orang Kristen Toraja tentang Rambu Solo’, 104.

80 “Lihatlah manusia sesungguhnya/luar biasa, orang yang ditempa dewa; orang yang unik kelahirannya, yang istimewa pengidamannya. Akan ditumpahi sarong [orang-orang yang datang menggunakan tudung), dikerumuni kambuno, ke gelanggang di hamparan yang luas; kambuno orang pinggiran langit, payung orang kehujanan. Masak kita tidak melihatnya, tidakkah kita memandangnya? Bukit menjadi rata dilalui, kering kubangan kerbau dijalani. Menjadikan batu sebagai kerbau-kerbauan, yang diadu sambil berjalan; dituntun „penasehat‟nya, diikuti penuntun jalannya”. Badong Ma’palao/ma’pasonglo’ dalam H. van der Veen, The Sa’dan Toradja Chant for

Pujian (singgi’) seperti itu dilantunkan dalam badong oleh masyarakat saat pembukaan “pesta”. Harga diri almarhum/ah ditunjukkan dengan menyebutnya sebagai seorang manusia yang hebat, yakni seorang yang ditempa oleh dewa.

Ungkapan “la natibolloi sarong, natikembongi kambuno, ke layan rante kalua‟;

kambuno to randan langi‟, ta‟dung to lelean uran”, mau menyatakan bahwa hebatnya pengaruh almarhum/ah itu sehingga layaklah ia dihargai oleh banyak orang. “Pestanya” dihadiri oleh banyak orang (terutama orang-orang besar), termasuk orang yang datang dari jauh (to randan langi’). Begitu banyaknya orang yang hadir, sehingga dikatakan bahwa bukit menjadi rata dilalui, kubangan kerbau menjadi kering dijalani.

Memang pujian dalam badong yang dilantunkan oleh masyarakat banyak, tidak sama untuk semua orang. Status sosial berdasarkan keturunan, fungsi dan peranannya dalam masyarakat, kesuksesan hidupnya dengan kelimpahan materi dan keturunan yang banyak, keluarga besarnya, tingkat aluk yang diterapkan untuknya, dan sebagainya, semuanya itu sangat mempengaruhi isi syair-syair badong yang dikumandangkan selama “pesta”. Kesuksesan almarhum/ah dan keluarga besarnya terungkap semuanya dalam ARS. Barang-barang pusaka miliknya dan milik Tongkonannya ditampilkan sebagai bagian dari “cerminan diri” almarhum/ah, status sosial dan keberhasilan, pengaruh dan kekuasaan dalam hidupnya dan hidup para leluhurnya.

the Deceased, 73-74. Bdk. Y. Manta‟, R., Sastra Toraja, Kumpulan Kada-Kada Tominaa dalam Rambu Tuka’ Rambu Solo’, 41-42.

Pelaksanaan tingkatan ARS tertentu di satu sisi menjadi tuntutan aluk bagi orang yang meninggal, namun di sisi lain menjadi harga diri bagi almarhum/ah dan keluarganya. Bila almarhum/ah itu berstatus bangsawan, maka menurut aturan aluk dan tradisi masyarakat dia akan di-aluk sesuai dengan statusnya, yakni dengan aluk tingkat tinggi. Bila perlu, baginya diselenggarakan “pesta” yang besar yang akan menjadi kenangan serta menjadi buah bibir masyarakat, sehingga harga dirinya sebagai bangsawan tetap terpelihara, bahkan semakin meningkat.

Kebangsawanan seseorang salah satunya tercermin pada pelaksanaan ARS saat ia meninggalkan dunia ini. Secara sosial, keberhasilan melaksanakan aluk tersebut menjadi legitimasi bagi statusnya sebagai bangsawan.

Aluk Todolo sebenarnya sudah mengatur pelaksanaan tingkatan aluk, termasuk ARS. Tingkatan aluk ini berbeda-beda menurut daerah adat, menurut perkembangan di suatu daerah dan kondisi daerah tersebut81. Sebagai prinsip umum: semakin tinggi tingkatan status sosial seseorang dalam masyarakat, semakin tinggi pula tingkatan aluk yang seharusnya dilakukan. Pada zaman dulu, status sosial seseorang berada sejajar dengan kekuatan ekonominya. Orang yang statusnya sosialnya tinggi (tomakaka) pada umumnya memiliki pengaruh yang besar dalam masyarakat termasuk memiliki kekuatan ekonomi. Umumnya mereka adalah tuan tanah yang memiliki banyak kekayaan. Kalangan bangsawan ini jumlahnya relatif sedikit bila dibandingkan dengan rakyat biasa. Orang yang berstatus sosial rendah (kaunan), tingkat perekonomiannya tentunya rendah, karena ia hanya menjadi kaum pekerja bagi bangsawan. Oleh karena itu, aturan

81 Y.A. Sarira (analisator), Rambu Solo’ dan Persepsi Orang Kristen Toraja tentang Rambu Solo’, 107.

tingkatan aluk yang dilakukan tidak menimbulkan kesulitan dalam masyarakat, khususnya dalam hal pembiayaannya. Aluk tingkat tinggi hanya bisa dilakukan oleh kaum bangsawan (tomakaka), sedangkan masyarakat biasa hanya melakukan tingkatan aluk yang sederhana.

Sekarang ini ada banyak perubahan yang terjadi di masyarakat. Zaman sekarang menuntut orang untuk mengembangkan kehidupannya dan menuntut pembebasan dari status sosial yang didasarkan pada keturunan (status sosial tradisional). Persoalan muncul ketika status sosial seseorang tidak lagi sejajar dengan kekuatan ekonominya. Sekarang ini, tidak semua orang dari keturunan bangsawan berdasarkan garis keturunan memiliki perekonomian yang kuat. Tetapi sebaliknya, tak jarang orang yang dari status sosial menengah bahkan rendah sekalipun memiliki perekonomian yang kuat. Maka tak jarang terjadi bahwa ada sejumlah bangsawan yang memaksakan diri untuk melaksanakan ARS berdasarkan tuntutan status sosialnya, sekalipun kekuatan ekonominya lemah.

ARS dengan tingkat tertentu berusaha dipenuhi demi memperlihatkan status sosial atau mempertahankan status sosialnya di mata masyarakat luas. Sebaliknya, ada sejumlah orang Toraja yang memiliki ekonomi kuat, sehingga ia melaksanakan ARS melebihi tuntutan status sosialnya. Dari fenomena itu, terkesan bahwa di balik pelaksanaan ARS terselubung pertarungan prestise. Dengan pelaksanaan

“pesta” kematian yang besar terbukalah jalan untuk menaikkan status sosial.

Status sosial yang selama ini lebih berpatokan pada garis keturunan (status sosial tradisional) kini dirongrong oleh kekuatan “siapa yang mampu” melaksanakan

“pesta” besar.

Perubahan ini akhirnya menimbulkan gejala/kesan baru, yakni bahwa pelaksanaan ARS menjadi ajang adu gengsi, prestise dan “power” sosial82. Sebagaimana dikemukakan Shally Errington, untuk menjamin sikap hormat terhadap status yang dimilikinya, seseorang memperlihatkan pemilikan statusnya dengan berbagai perilaku dalam kehidupan sosial83. Bagi orang Toraja salah satu perilaku dalam kehidupan sosial yang dapat memberikan pengaruh yang besar adalah pelaksanaan ARS. Konkritnya, “power” sosial itu kini tidak hanya diperlihatkan melalui cara-cara tradisional dengan menyembelih kerbau dalam jumlah yang banyak sehingga pestanya besar, tetapi juga cara-cara di zaman global ini dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang berpengaruh, baik dalam daerah sendiri yakni pejabat-pejabat pemerintahan setempat, maupun dari luar daerah seperti para pejabat dari Jakarta, bahkan tamu-tamu dari luar negeri. Selain itu, sebagai kebanggaan keluarga, peristiwa ini tidak boleh dilewatkan begitu saja sehingga harus didokumentasikan bahkan dipopulerkan melalui media informasi modern, baik cetak maupun elektronik, baik di dalam maupun di luar negeri84. Dari sini muncul kesan bahwa pelaksanaan ARS tidak lagi didasarkan pada aturan adat/aluk yang telah diwarisi turun temurun, melainkan tergantung pada kekuatan finansial demi melegitimasi status sosial. Gejala baru yang muncul dalam pelaksanaan ARS tersebut, tentunya mengundang perhatian setiap insan Toraja, khususnya kalangan akademis dan pemerhati budaya untuk mencermati seluk-beluk ARS. Nilai-nilai positif di balik “pesta” itu perlu diangkat kembali, sehingga

82 Th. Kobong, dkk., Aluk, Adat dan Kebudayaan Toraja dalam Perjumpaan dengan Injil, 46.

83 S. Errington, “Tempat Benda-benda Pusaka di Luwu”, 99.

84 S. Yamashita, “Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi”, 79-81.

ARS tidak berkembang sebatas pertarungan prestise dalam masyarakat, melainkan sebuah manifestasi budaya yang konstruktif.

Kesimpulan

ARS adalah tanggapan orang Toraja terutama yang tinggal di Toraja terhadap realitas kematian. Ritual adat kematian yang didasarkan pada kepercayaan Aluk Todolo ini, diyakini memberikan makna yang besar bagi hidup manusia baik yang sudah mati maupun yang masih hidup. ARS dipandang sebagai upacara penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal, sekaligus mengantarnya ke dunia asalnya. Berdasarkan keyakinan religius tradisional, ARS itu telah diberikan oleh Puang Matua kepada manusia sebagai ritual yang harus dilaksanakan untuk kembali ke dunia Ilahi. Dengan melaksanakan ARS secara baik dan tepat, hidup manusia akan terberkati;

sementara orang yang meninggal dapat kembali ke negeri asalnya (sule lako tamparapa’na).

Ritual adat warisan leluhur ini menjadi khazanah budaya yang tetap terpelihara dalam kehidupan masyarakat Toraja. Meskipun mayoritas orang Toraja sudah menjadi Kristen, namun mereka tetap menjadi pelaku ritual adat yang berlatarbelakan kepercayaan agama suku. Ritual ini tetap dipertahankan karena kekayaan nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai luhur dalam ritual itu merupakan pesan leluhur Toraja yang diwariskan turun temurun;

pesan yang senantiasa bergema dalam sanubari masyarakat Toraja.

BAB III

PAHAM TRADISIONAL KEMATIAN