MENDENGAR PESAN MASA LALU, MENEBAR SABDA MASA KINI
5.3 Sabda Tuhan di Toraja Masa Kini
Toraja seharusnya menjadi ladang yang subur bagi benih Injil, karena orang Toraja sudah memiliki konsep kematian dan kehidupan kekal, yang kemudian tertuang dalam ritual ARS. Pembicaraan akan kematian dan kehidupan kekal, baik oleh orang-orang Toraja maupun oleh orang-orang Kristen, sama-sama terkait dengan harapan pada kehidupan kekal. Harapan itu, berisi tentang adanya kemungkinan mencapai yang abadi setelah kehancuran/kebinasaan, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah. Harapan akan janji Allah itu mampu memberikan kekuatan yang dapat memenuhi dan mengubah hidup manusia di dunia ini. Berkat kekuatan harapan itu, manusia terdorong untuk berusaha mengubah harapan itu menjadi kenyataan.
Harapan akan kehidupan kekal itulah yang diwartakan oleh Injil. Injil adalah kabar kembira tentang kerajaan Allah, sebagaimana yang diwartakan oleh Yesus, dalam Roh Kudus.79 Yesus, dengan segala kehadiran dan penampilan-Nya, dengan sabda maupun karya-Nya, dengan tanda-tanda serta mukjizat-mukjizat-Nya, dan terutama dengan wafat dan kebangkitan-mukjizat-mukjizat-Nya, akhirnya mengutus Roh Kudus untuk memenuhi wahyu dan meneguhkan kesaksian Ilahi, bahwa Allah menyertai manusia untuk membebaskan manusia dari kegelapan dosa dan maut, serta membangkitkan mereka bagi hidup kekal80. Allah memberikan kehidupan kekal kepada manusia, sebagai ganti dari hidupnya yang fana di dunia ini, hidup yang diakhiri oleh kematian.
79 Luk 4:14-15, 43. Paulus VI, Evangelii Nuntiandi, art. 26.
80 Kons. Vatikan II, DV art. 4.
5.3.1 Pemenuhan oleh Injil
Sebagaimana yang dipaparkan pada bagian sebelumnya, pemahaman religius Toraja tentang kematian dan kehidupan kekal memiliki banyak kecocokan dan juga ketidakcocokan dengan warta Injil sebagaimana tertuang dalam Kitab Suci dan ajaran Gereja. Paham kematian Toraja ditempatkan dalam kaitannya dengan keyakinan akan hidup setelah kematian, yakni kehidupan kekal.
Demikianpun refleksi teologis Kristiani memahami kematian dalam kerangka adanya kehidupan kekal yakni penyelamatan definitif Allah setelah kematian.
Perbedaannya adalah terutama terkait dengan bagaimana manusia memperoleh kehidupan kekal.
Paham religius Toraja tentang keselamatan sebenarnya berpusat pada aluk dan pemali (larangan) sebagai hukum atau pranata yang diciptakan Puang Matua untuk mengatur hidup manusia agar selamat dalam kehidupan di dunia ini dan juga untuk memperoleh kehidupan kekal. Aturannya sangat sederhana, kalau mematuhi aluk dan pemali itu maka selamat, sementara kalau melanggar maka tidak akan selamat atau binasa. Dalam konteks kematian, maka keselamatan akan diperoleh bila manusia taat pada aluk mate, yakni ARS. Jika tidak, maka orang yang meninggal tetap ada di dunia dan tidak pergi ke Puya81.
Terkait dengan aluk dan pemali ini (khususnya ARS), kita dapat melihat dua hal pokok dalam pewartaan Injil. Pertama, kehidupan kekal diperoleh dari ketaatan pada hukum Ilahi, dan kedua, pelanggaran terhadap hukum Ilahi mengakibatkan kematian.
81 Bdk. Uraian dalam bab III, 3.4.
a) Hukum Ilahi dan Kehidupan Kekal
Janji Allah akan keselamatan manusia sebagaimana diwartakan dalam Injil juga terkait dengan kesetiaan pada hukum Ilahi. Dalam Perjanjian Lama, Allah mengikat perjanjian dengan umat-Nya dalam rangka penyelamatan umat manusia.
Melalui perantaraan Musa, Yahwe mengangkat bangsa Israel sebagai umat-Nya, sementara umat Israel menjadikan Yahwe sebagai Allah mereka82. Ikatan perjanjian antara Yahwe dan bangsa Israel ini didasarkan pada hukum. Jika bangsa Israel taat pada perintah dan hukum Tuhan maka mereka akan selamat, terberkati; sebaliknya, jika mereka tidak setia maka mereka akan celaka, binasa atau terkutuk83 . Hal ini terbukti dalam sepanjang sejarah bangsa Israel, sebagaimana yang dikisahkan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Mereka jatuh bangun memelihara kesetiaan mereka kepada Allah. Saat mereka tekun dan setia beribadah kepada Allah serta bertahan dalam cara hidup mereka yang saleh, maka mereka hidup makmur di tanah air mereka. Sebaliknya, ketika mereka meninggalkan hidup saleh dan tidak beribadah kepada Allah, maka hidup mereka porak-poranda, banyak yang mati karena kalah perang, mereka ditindas oleh bangsa asing. Ketidaksetiaan pada hukum Allah akibatnya adalah penderitaan yang berujung pada kematian.
Berpegang erat pada hukum Allah tetap menjadi penekanan Yesus untuk memperoleh hidup yang kekal. Ketika ada seorang datang kepada Yesus menanyakan tentang apa yang harus ia perbuat untuk memperoleh hidup yang
82 Kel 6:6, 19:5-6.
83 Ul 11:26-28.
kekal, Yesus menunjuk pada perintah Allah84. Lebih dari kesetiaan pada hukum Allah, Yesus menambahkan “datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21).
Cita-cita akan kehidupan kekal orang Toraja dengan usaha mematuhi hukum Ilahi, aluk dan pemali, akan terpenuhi dan mendapat kesempurnaan dalam pertemuan dengan Yesus. Ia adalah kesempurnaan hukum. Ia tidak menghapus hukum yang lama, tetapi menyempurnakannya. Hukum itu sempurna dalam sabda-Nya yang menyatu dengan tindakan-tindakan-Nya. Sabda dan tindakan-tindakan-Nya itu adalah sabda dan pekerjaan Allah sendiri85. Oleh karena itu, hukum-hukum-Nya tak akan keliru, karena apa yang dikatakan-Nya, itulah yang dikehendaki oleh Allah yang mengutus Dia. Yesus bersabda, “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman” (Yoh 6:39). Kebangkitan itu terkait dengan kehidupan kekal.
Sabda Yesus mengantar orang pada kehidupan kekal. Sabda yang menyatu dalam diri Yesus inilah yang diwartakan oleh Injil. Bahkan Kitab Suci mewartakan bahwa dalam diri Yesus, Allah sendiri melawat umatnya. Ketika orang-orang Yahudi menyaksikan peristiwa Yesus yang membangkitkan anak Muda dari Nain, “semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: „Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita‟, dan
„Allah telah melawat umat-Nya‟” (Luk 7:16).
Jadi, berpegang pada hukum Ilahi yang dibawa oleh Yesus berarti berpegang pada hukum yang sempurna, hukum yang mengantar orang pada
84 Mrk 10:17-19.
85 Yoh 5:30, 6:39, 4:34.
keselamatan. Terkait dengan nasib orang mati, Yesus menjanjikan kehidupan kekal. Dari diri-Nya sendiri, Ia berkata:
Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri (Yoh 5:24-26).
b) Dosa, Kematian dan Keselamatan
Pelanggaran terhadap hukum Ilahi dalam bahasa Kristiani disebut dosa.
Dosa itu mendatangkan kematian. Hal ini sangat tampak jelas dalam kisah pelanggaran Londong diRura86. Pelanggaran terhadap hukum Allah (dalam hal ini hukum perkawinan) mengakibatkan kematian dirinya dan semua orang yang ambil bagian dalam pelanggaran itu, sementara yang tidak melanggar (antara lain:
Pong Mula tau) tetap selamat. Selanjutnya, relasi Allah dan manusia terputus. Hal ini disimbolkan oleh tumbangnya Eran diLangi’ (tangga ke Langit) sarana yang digunakan manusia untuk menjalin komunikasi dengan Puang Matua. Melalui Eran itu manusia bisa secara langsung menemui Allah dan berkomunikasi dengan-Nya. Eran itu pun tak pernah ditegakkan lagi, sehingga pelanggaran Londong diRura membawa efek terhadap semua manusia, yakni terputusnya relasi dengan Allah.
Pelanggaran terhadap hukum Ilahi oleh Londong diRura mengakibatkan tumbangnya Eran diLangi’, sebuah lambang terputusnya relasi antara Allah dan
86 PTM-TL 606-640.