• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masa Modern: Menerima Kekristenan, Mengunggulkan Budaya Barat

MEWARTAKAN KEGEMBIRAAN KRISTIANI, MENGHARAPKAN TRANSFORMASI KEHIDUPAN

4.2 Masa Modern: Menerima Kekristenan, Mengunggulkan Budaya Barat

Sebelum munculnya sikap-sikap kritis terhadap kebudayaan di pertengahan abad XX, orang-orang Kristen Barat, secara keseluruhan, tidak mempunyai keraguan apa pun mengenai keunggulan iman mereka terhadap iman-iman lain25. Ada kemungkinan bahwa hal itulah yang mempengaruhi perasaan unggul dalam hal keagamaan mereka, sehingga melahirkan keyakinan mengenai

22 E. Woga, CSsR, Dasar-dasar Misiologi, 20; yang mengutip G. Collet, Das Missionsverständnis der Kirche in der Gegenwärtigen Diskussion, Mainz 1984, 27.

23 D.S. Amalorpavadass, Gospel and Culture,11.

24 D.J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, 459.

25 D.J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, 448-449.

keunggulan kebudayaan mereka. Terhadap hal ini, Bosch menyebutnya bukan sebuah fenomena yang baru. “Orang-orang Yunani kuno menyebut bangsa-bangsa lain barbaroi. Orang Romawi dan anggota-anggota peradaban-peradaban besar lainnya pun memandang rendah orang lain”26. Hal yang sering terjadi, perasaan-perasaan unggul seperti itu muncul dari yang berkuasa dan dominan terhadap yang lemah. Hal yang sama berlaku bagi perasaan-perasaan keunggulan Barat.

Seperti halnya agama Barat disebarkan ke seluruh dunia, demikian pula kebudayaannya dipandang sebagai yang unggul dari semua kebudayaan lain. Para misionaris juga berada pada pandangan ini, hanya sedikit sekali perbedaan di antara mereka27. Sikap tersebut begitu kentara ketika orang-orang Kristen Barat berjumpa dengan orang-orang yang berbeda dengan mereka baik secara fisik maupun kebudayaan. Perbedaan itu tidak dihargai, tetapi justru dihancurkan.

Orang Barat merasa diri orang-orang dididik secara ilmiah, sedangkan orang non-Barat dipandang sebagai “kurang berpengetahuan”, “kurang ilmiah”, bahkan belum beradab28.

Realitas keterbelakangan sebuah masyarakat di mata orang Barat, dijumpai di Toraja ketika mereka masuk ke daerah itu di awal abad XX. Ny. van de Loosdrecht menulis kesan pertamanya di Toraja bahwa orang-orang Toraja tinggal di pegunungan, sementara yang tinggal di Rantepao (pusat daerah, kini menjadi kota kecil) adalah orang-orang Minahasa yang keren dan berpakaian putih, bersepatu warna coklat dan bertopi halus, juru tulis yang berasal dari Timor

26 D.J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, 449.

27 D.J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, 451.

28 P.G. Hiebert, “Siapa „yang lain‟, Siapa „kita‟”, dalam Dr. G. Kirchberher, SVD – Dr. J.M. Prior, SVD (ed.), Iman dan Transformasi Budaya, Nusa Indah, Ende 1994, 18.

serta orang-orang Bugis. Tidak ada sekolah sehingga suaminya banyak bepergian untuk proyek pendirian sekolah29. Sementara itu, H. van de Loosdrecht juga mengatakan bahwa pola hidup orang-orang Toraja mengalir dari hari ke hari dan tak banyak memikirkan hari esok. Mereka bukan pekerja keras dan pada umumnya tidak berprakarsa. Kehidupan perkawinan sangat tidak teratur. Mereka hidup dalam situasi kekafiran; hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan ketaatan pada dewata (roh-roh) dan leluhur. Ekonomi mereka terkuras oleh pesta-pesta kematian yang meriah dan pesta-pesta adat lainnya, menyembelih kerbau dan babi sebanyak-banyaknya sebagai kurban persembahan kepada dewata (roh-roh) dan leluhur mereka30.

Situasi yang demikian membuat para pewarta Injil Eropa bersemangat untuk bekerja, mendidik mereka dengan konsep-konsep modern dan mewartakan kepada mereka kegembiraan Kristiani. Usaha-usaha mereka itu banyak memberikan sumbangan positif bagi kemajuan sosial di Toraja. Di tengah kegiatan pewartaaan mereka, bidang-bidang sosial, terutama pendidikan dan kesehatan menjadi bagian dari misi. Hal itu dilakukan bukan hanya karena karya-karya itu sangat mendukung misi mereka tetapi juga karena didorong oleh keprihatinan mereka terhadap keterbelakangan orang-orang Toraja. Para misionaris Katolik yang mulai bekerja di Toraja sejak tahun 1938 juga menaruh perhatian pada karya pendidikan dan kesehatan. Bagaimana pun juga,

29 Ny. van de Loosdrecht-Sizoo dalam suratnya kepada Ny. J. Kruyt-Moulijn, Rantepao, 25 Mei 1914, sebagaimana dimuat dalam Dr. Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 129.

30 Dr. H. van der Veen dalam suratnya kepada Pengurus Besar Nederlandsch Bijbelgenootschap, Rantepao, 26 Juni 1917, sebagaimana dimuat dalam Dr. Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 116-120.

sekolah itu memainkan peran besar bagi perkembangan kekristenan dan kemajuan masyarakat Toraja pada umumnya. Keberhasilan-keberhasilan ini memang tidak dapat disangkal dan harus dipuji.

Kegiatan misi orang-orang Kristen Eropa memang memberi pengaruh yang besar bagi kehidupan orang-orang Toraja. Kemajuan pendidikan telah mempengaruhi cara orang-orang Toraja dalam berpakaian, berpikir, bersikap, berbicara dan pada akhirnya menjadi Kristen. Para pewarta Injil memperlihatkan dan menghadirkan kehidupan modern di Toraja. Tak jarang muncul pandangan bahwa menjadi Kristen berarti berubah menjadi orang modern. Pendidikan dan Injil telah menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran mereka terhadap tulah berupa bencana yang akan muncul bila mereka menjadi Kristen. Wabah yang merusak tanaman padi, penyakit yang menyerang manusia dan hewan-hewan, tak ada kaitannya dengan penyembahan kepada dewata dan leluhur. Seorang tominaa bernama Kamboeno menjadi Kristen karena menurut dia, “mengabdi kepada Tuhan mengubah orang, sedangkan pemujaan kepada dewa-dewa membiarkan kita tetap saja seperti sedia kala”31.

Sekalipun orang-orang Toraja kokoh dalam mempertahankan adat leluhur, mereka juga terbuka dalam menerima hal-hal baru. Sebagaimana dikemukakan oleh zendeling D.J. van Dijk, dalam pesta-pesta kematian juga tampak tarian dari luar, seperti tarian Bugis. Demikian pula seolah sudah menjadi keharusan akan adanya musik pada pesta kematian, dan sebaiknya musik itu berasal dari luar. D.J.

van Dijk juga menyebutkan bahwa “seorang tominaa, yang dalam

31 Dr. H. van der Veen dalam suratnya kepada Pengurus Besar Nederlandsch Bijbelgenootschap, Rantepao, 30 Agustus 1922, sebagaimana dimuat dalam Dr. Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 172.

mempersembahkan kurban seperti biasanya berseru kepada sejumlah dewata, tak lupa pula menyebut nama Tuhan Yesus”32.

Pengaruh zaman modern juga tampak pada pesta kematian Sa‟pang pada tahun 1969 di Tandung, Kesu‟, sebagaimana diceritakan oleh Hetty Nooy-Palm.

Sesaat setelah kematiannya, Sa‟pang didandani dengan pakaian militer, bukan pakaian adat tradisional. Setelah itu, ia didudukkan di kursi33. Pada Aluk Rante, selain untuk keluarga dan para pelayat pada umumnya, disediakan pula tempat/ruang/pondok khusus untuk para pejabat pemerintahan, tamu-tamu asing (tourists) dan juga kru film yang disiapkan untuk merekam peristiwa itu34. Pestanya dimeriahkan oleh nyanyian dari sejumlah perempuan yang disebut ma’katia (nyanyian khusus selama pesta kematian, yang disertai dengan tarian).

Menurut Hetty, ma’katia ini adalah serapan dari orang-orang Bugis sejak sekitar tahun 193535.

Lebih jauh dari pernak-pernik modern dalam pesta kematian, pengaruh pikiran-pikiran modern juga memaksa perubahan dalam struktur masyarakat terkait dengan perbudakan. Ajaran moral Kristiani membebaskan budak-budak dan menjadikan mereka orang „merdeka‟. Banyak budak yang akhirnya masuk

32 D.J. van Dijk dalam laporannya mengenai resort Rantepao, 1931, sebagaimana dimuat dalam Dr.

Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 331

33 Sebelum pengaruh luar masuk Toraja, kursi belum dikenal sehingga sehingga jenazah diletakkan saja di lantai rumah dengan bersandar pada tiang/dinding rumah, ketika dilaksanakan rapat penentuan tingkat ARS yang akan dilakukan. H. Nooy-Palm, The Sa’dan – Toraja, a Study of Their Social Life and Religion, Vol. II, Ritual of the East and West, Kaninklijk Instituut voor Taal, Land-en Volkenkunde (KITLV), Verhandelingen 118, Foris Publications, Dordrecht-Hollan/Cinnaminson, U.S.A 1986, 225.

34 H. Nooy-Palm, The Sa’dan – Toraja, a Study of Their Social Life and Religion, Vol. II, Ritual of the East and West, 226

35 H. Nooy-Palm, The Sa’dan – Toraja, a Study of Their Social Life and Religion, Vol. II, Ritual of the East and West,,227

Kristen agar dapat membebaskan diri dari tuannya36, termasuk kewajiban-kewajibannya dalam Aluk Rambu Solo’ dan kewajiban-kewajiban lain. Hal ini tampak dalam sebuah kasus yang dikisahkan oleh H. van der Veen37. Ia mengikuti ARS dari seorang budak pada tanggal 25-28 Juni 1928 di kampung Lemo di Makale. Mendiang budak itu telah menjadi calon baptisan dan dikubur secara Kristen. Pada upacara penguburannya disembelih dua ekor kerbau dan sembilan ekor babi. Konon menurut adat kepala kerbau yang disembelih pada upacara pemakaman seorang budak harus dipersembahkan kepada tuan mendiang budak itu sebagai ikatan perbudakan. Dalam tradisi penganut Aluk Todolo, peristiwa itu harus disertai persembahan beberapa potong daging yang sebelumnya telah disirami jamu-jamu yang berkhasiat. Maksud dari adat itu adalah untuk memohon berkat atas tuan itu dari arwah budak yang mati itu. Pertanyaannya adalah bagaimana orang harus bertindak pada upacara pemakaman budak Kristen itu?

Setelah melalui perundingan rumit yang melibatkan pemerintah setempat, zendeling dan masyarakat, diputuskan bahwa cukuplah hanya dipersembahkan kepala kerbau itu kepada tuan mendiang budak itu sebagai pertanda kepatuhan sosial saja, tanpa diiringi upacara kafir. Terhadap keputusan ini, ahli waris mendiang, yang sudah menjadi calon baptis, agak keberatan juga. Mereka beranggapan bahwa karena mereka telah melepaskan agama yang dianutnya dulu, mereka seharusnya bebas pula dari kewajiban adat itu. Akan tetapi, van der Veen

36 H. van der Veen Veen dalam suratnya kepada Pengurus Besar Nederlandsch Bijbelgenootschap, Rantepao 1928, sebagaimana dimuat dalam Dr. Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 228.

37 H. van der Veen Veen dalam suratnya kepada Pengurus Besar , Nederlandsch Bijbelgenootschap, Rantepao 1928, sebagaimana dimuat dalam Dr. Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 229-230.

dan rekannya waktu itu berpendapat bahwa sebaiknya kebiasaan itu dipertahankan agar jangan dengan mendadak terputus ikatan antara kaum hamba dengan tuannya.

Terkait dengan persoalan perhambaan ini, ajaran Kristiani memang memunculkan kekhawatiran terutama dari orang-orang kaya dan terpandang (to makaka) bahwa mereka akan kehilangan pekerja-pekerja mereka. Saat itu, orang kecil, golongan budak (to kaunan), yang hidup seluruhnya tergantung dari to makaka, tunduk pada keinginan tuannya karena mereka adalah bawahan yang tidak berhak mempunyai kemauan dan pendapat sendiri. Orang-orang terkemuka yang memegang kendali, sedangkan orang-orang kecil tinggal menuruti saja, tak ada hak untuk membantah38. Ajaran Kristiani pun membuat kaum to makaka khawatir, jangan-jangan golongan kaunan (hamba) akan terlalu maju dan mengurangi kejayaan dan keagungan mereka. Terhadap hal itu, H. van der Veen menilai bahwa to makaka itu masih tetap berpikiran menurut pola lama yang bahkan serupa dengan pola pikiran zaman pra-abad pertengahan di Eropa.

Tampak bahwa pikiran-pikiran modern yang tiba-tiba disodorkan kepada mereka menimbulkan perasaan tidak enak 39. Tetapi seiring perkembangan waktu, terutama peran sekolah dan pewartaan Injil, kekhawatiran-kekhawatiran itu terkubur oleh perubahan pola pikir dan ketidakmampuan melawan kuatnya pengaruh kekristenan dan perubahan-perubahan zaman.

38 P. Zijlstra dalam suratnya mengenai resort Ma‟kale-Sangalla‟ dalam tahun 1920, sebagaimana dimuat dalam Dr. Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 159.

39 Dr. H. van der Veen dalam suratnya kepada Pengurus Besar Nederlandsch Bijbelgenootschap, Rantepao, 25 September 1917, sebagaimana dimuat dalam Dr. Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 131.

Tentu saja, usaha-usaha yang dilakukan oleh para pewarta Injil terhadap kehidupan orang-orang Toraja tidak dianggap sebagai pemaksaan untuk suatu kehidupan yang lebih baik dan lebih beradab. Sebagaimana diungkapkan Bosch, usaha-usaha itu mereka lakukan karena mereka yakin bahwa Injil memegang peranan besar sehingga bangsa-bangsa Barat menjadi kuat dan besar. Oleh karena itu pula, mereka dapat memberikan pengaruh yang sama bagi bangsa-bangsa lain40. Maka yang menjadi fokus perhatian para misionaris adalah mengangkat bangsa-bangsa yang kehilangan hak-hak istimewa yang mereka sendiri telah nikmati. Melalui karya misi, bangsa-bangsa yang miskin secara budaya akan diangkat ke suatu tingkat yang lebih tinggi. Salah satu teks yang populer untuk misi adalah Yoh 10:10, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Menurut Newbigin, “Kehidupan dalam segala kelimpahan ditafsirkan sebagai kelimpahan dalam hal-hal yang baik yang akan diberikan oleh pendidikan, pengobatan dan pertanian modern bagi bangsa-bangsa yang kehilangan haknya di dunia”41.

Dengan meletakkan karya misi dalam sudut padang kebudayaan, benarlah kiranya apa yang dikemukakan Bosch bahwa ada juga sisi negatif dari usaha orang-orang Kristen Eropa kepada bangsa-bangsa non-Eropa. Kiranya aspek negatif yang paling serius bukanlah kesombongan luar biasa yang diambil banyak pembicara dalam keberhasilan-keberhasilan ini, melainkan ketiadaan yang hampir total dari kemampuan untuk bersikap kritis terhadap kebudayaan mereka sendiri

40 D.J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, 451-452.

41 L. Newbigin, The Open Secret: Sketches for a Missionary Theology, Eardmans, Grand Rapids 1978,103.

atau untuk menghargai kebudayaan-kebudayaan asing42. Akibatnya, muncul kesan bahwa dibalik kegiatan mereka yang luhur terjadi sebuah invasi kebudayaan.

Kebudayaan Eropa diupayakan mengganti kebudayaan bangsa-bangsa non-Eropa.

Keprihatinan seperti ini sudah disadari oleh beberapa pewarta Injil di Toraja antara lain Pdt G. H. Beekenkamp, sekretaris GZB. Ketika berbicara tentang zending dan pendidikan, ia menyebutkan tentang pentingnya memperhitungkan watak bangsa-bangsa dan menempatkan mereka dalam kebudayaan mereka sendiri. Menurutnya, “Kita tidak boleh menempatkan tanaman Timur dalam rumah kaca Barat. Kita harus maju dan orang perlu semakin memperhitungkan watak bangsa, dan sebagainya. Kita tidak boleh membuat mereka menjadi orang Belanda; mereka harus menjadi orang Kristen, orang Kristen Timur” 43.

Akan tetapi, menurut Bosch kesulitannya adalah para penganjur misi ini buta terhadap etnosentrisme mereka sendiri. Pandangan-pandangan tentang moralitas, kehormatan, tatanan, efisiensi, individualisme, profesonalisme, pekerjaan dan kemajuan teknologi diekspor tanpa ragu-ragu oleh para misionaris Eropa kepada bangsa-bangsa lain44. Oleh karena itu, mereka cenderung untuk tidak menghargai bahkan menolak kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa yang mereka datangi. Kesatuan antara hidup dan belajar; kekerabatan, kesatuan antar individu, paguyuban kebudayaan, kebijaksanaan rakyat yang sangat mendalam;

kebiasaan masyarakat-masyarakat tradisional, semuanya itu disingkirkan oleh mentalitas yang dibentuk oleh Pencerahan. Mentalitas itu cenderung mengubah manusia menjadi obyek, membentuk kembali seluruh dunia sesuai dengan

42 D.J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, 452.

43 Dr. Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja, 99.

44 D.J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, 452.

gambaran Barat, memisahkan manusia dari alam dan dari sesamanya dan

“mengembangkan” mereka sesuai dengan standar-standar dan dugaan-dugaan Barat45.

Para penulis dan pembicara misi tidak banyak meragukan malangnya kehidupan masyarakat non-Barat karena kebudayaan asli dari bangsa-bangsa itu mengandung banyak unsur yang cacat. Mereka yakin bahwa peradaban Kristen akan melepaskan mereka dari kemalangan itu46. Selain itu, mereka meyakini bahwa dengan adanya usaha-usaha misi, bangsa-bangsa kafir akan mengalami kemajuan sebagaimana yang telah dialami bangsa-bangsa Barat. Keyakinan itu terbukti lewat keberhasilan-keberhasilan yang terjadi, sebagaimana tampak pada kemajuan bangsa-bangsa non-Eropa dalam berbagai bidang kehidupan. Fakta menunjukan bahwa kemajuan orang Toraja merupakan kerja keras orang-orang Eropa yang menunjukkan kehidupan modern lewat karya-karya mereka, terutama pendidikan, kesehatan serta pewartaan Injil.