• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transformasi Pemaknaan dan Pelaksanaan Aluk Rambu Solo’

MENDENGAR PESAN MASA LALU, MENEBAR SABDA MASA KINI

5.2 Catatan Kristis: Aluk Rambu Solo’ dalam Modernitas Global

5.2.2 Transformasi Pemaknaan dan Pelaksanaan Aluk Rambu Solo’

Tak hanya orang Toraja yang tinggal di kampung halaman yang merasa terikat dengan kegiatan adat Toraja. Banyak orang Toraja yang tinggal di perantauan dan telah menjadi Kristen, tetap “terikat” pada kampung halaman mereka dan ritual tradisi mereka, khususnya ARS. Ketika seorang Toraja meninggal di perantauan, keluarga berusaha untuk membawa jenazahnya kembali ke Toraja agar bisa mendapat penghormatan terakhir ala adat tradisional warisan leluhur. Sebagai contoh konkret, Puang Mengkendek, Jakob Kobong Andilolo, seorang aristokrat dan mantan bupati Tana Toraja, yang meninggal di Makassar pada bulan Desember 1991, jenazahnya dibawa oleh keluarganya ke Toraja dan dimakamkan pada tahun berikutnya, November 1992, dengan tatacara pemakaman adat Toraja71.

Bagi orang Kristen Toraja, ARS dipertahankan sebagai “tradisi adat Toraja”. Dengan demikian ARS diterima sebagai pesta adat yang dipisahkan dari aluk72. Ini berarti ARS dicabut dari makna dasarnya yakni sebuah upacara religius.

70 “Bagi orang-orang Kristen modern, pesta pemakaman adalah lebih sebagai medium untuk memamerkan kekayaan suku; sebagai pameran kekayaan keluarga, sebagai gengsi yang akan diperoleh di masyarakat”. Z.J. Ngelow, “Puang Matua: Torajan God in the Christian Bible”, dalam Naming God in Asia dan Pasific, A. Wati Longchar (ed.), Hongkong 2006, 86.

71 ARS dari Puang Mengkendek ini antara lain diulas oleh S. Yamashita dalam artikelnya,

“Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi”, 69-82.

72 Pandangan ini sudah terbentuk sejak tahun 1923 sebagai jalan keluar terhadap ketegangan yang dihadapi oleh Gereja berhadapan dengan adat-istiadat Toraja. Pada waktu itu zendeling

Dengan menerima ARS sebagai acara adat semata, maka sebenarnya ARS sudah dipisahkan dari jiwanya. Ini sangat ironis ritual kematian ini disebut Aluk Rambu Solo’ dan bukan Adat Rambu Solo’. Kenyataan ini mendukung pendapat Yamashita ketika ia mengatakan ARS sebagai “manipulasi tradisi etnis”. ARS yang sekarang dilaksanakan oleh orang Toraja, khususnya yang sudah menjadi Kristen adalah sebuah ARS yang sudah kehilangan makna religiusnya. ARS versi Kristen adalah penyederhanaan dari ARS “yang asli” karena orang-orang Kristiani lebih menekankan hubungan sosial dan perayaan yang menarik. Sekalipun demikian, ARS yang sudah disederhanakan itu tetap dipopulerkan sebagai pemakaman tradisional Toraja73. Jadi, ARS sekarang tinggal fenomena tradisi yang sudah direkonstruksi ulang dalam paham dan pelaksanaan yang sudah banyak meninggalkan ritual-ritual khas yang dianggap tidak sesuai dengan iman Kristen.

Ketika ARS hanya dikaitkan dengan „urusan sosial‟, maka hal ini membuka peluang lebar bagi „pertarungan sosial‟, mengenai status dan kekuasaan.

Siapa yang mampu secara ekonomi, maka ia akan memenangkan pertarungan itu.

Hal ini yang disebut oleh Yamashita sebagai “politik ritual”, yakni bahwa melalui ARS, struktur kuasa lokal diproduksi74. Tak ada lagi makna religius sebagai penyeimbang sehingga ARS dijadikan sebagai tempat “adu gengsi” memamerkan kekayaan, kekuasaan, dan status sosial sekaligus sebagai sarana menaikkan harga

mengeluarkan Peraturan Adat berupa daftar kegiatan-kegiatan dan paham-paham dari adat Toraja yang boleh diikuti dan tidak boleh dikuti oleh orang Kristen.

73 S. Yamashita dalam artikelnya, “Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi” 78.

74 S. Yamashita, “Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi”, 79. Ia pula merujuk tulisannya berdasarkan penelitiannya di Toraja dari tahun 1976 sampai 1978 dan 1984: S. Yamashita, Politics of Ritual among the Toraja of Sulawesi, Indonesia, Kobundo, Tokyo 1988, 12-14.

diri, mempopulerkan diri, dan sebagainya. Nilai-nilai penting dalam ARS menjadi sekunder, terpinggirkan, terutama terkait dengan nilai pemulihan dan pembangunan kembali relasi dengan yang meninggal dan masyarakat umum.

Penghormatan kepada yang meninggal bukan lagi sebagai intensi yang utama dari ritual, karena ritual itu sudah dipusatkan pada kepentingan sosial yang masih hidup. Orang-orang yang melayat bukan lagi didasarkan pada prinsip solidaritas sipopa’di’-siporannu, melainkan datang sebagai penonton yang mengagumi keluarga pelaksana pesta. Ungkapan-ungkapan dalam badong: “Umbamira sangtondokta, tomai sang banuanta? Ke‟de‟ko tatannun bating, tabalandung rio-rio. Sae nasang to marintin, mairi‟ tangke tikunna. Lamarintin lako ambe‟, mario-rio lako ma‟dadi”75, tinggal ungkapan yang kehilangan makna.

Para pelaku ARS sibuk dalam urusan harga diri dan utang-piutang (babi dan kerbau), sehingga orang mati tampaknya sebagai obyek untuk urusan sosial tersebut. Tanpa mengurangi nilai-nilai sosial dari pelaksanaan ARS, semestinya nilai yang lebih besar diletakkan pada kehidupan kekal yang dirindukan oleh almarhum/ah. Balas-membalas jasa berupa materi bawaan (tangkean suru’) harus ditempatkan sebagai ungkapan simpati/bela-sungkawa (pa’waimata) dan solidaritas dengan keluarga yang berduka (siporannu-sipopa’di’). Nilai-nilai dari pelaksanaan ARS ini mesti kembali pada akarnya dan kecenderungan yang negatif harus dihindari. ARS memiliki nilai-nilai yang luhur terutama bagi orang-orang

75 “Dimanakah masyarakat sekampung kita, orang-orang tetangga kita? Berdirilah, mari kita menenun ratap, memulai lagu duka. Datanglah semua orang berbelasungkawa, seluruh sanak keluarganya. Menyatakan belasungkawa kepada ayah, turut berduka bagi yang menjadikan kita”.

Ossoran badong to dirapai‟ dari Nonongan dalam H. van der Veen, The Sa’dan Toradja Chant for the Deceased, 19; bdk .Ossoran badong to dirapai‟ dari Tikala, H. van der Veen, The Sa’dan Toradja Chant for the Deceased,47.

yang masih hidup seperti kekeluargaan, solidaritas, gotong-royong, saling menghargai, memelihara pranata sosial dan sebagainya. Atas alasan inilah ARS tetap dipertahankan, sebagai bagian dari tradisi yang dibanggakan. Nilai-nilai di balik “pesta” ARS itu perlu diangkat kembali, sehingga tidak berkembang sebatas pertarungan prestise dalam masyarakat, yang tentu saja terarah pada “pemborosan ekonomi”. Hal ini justru akan menggerogoti masyarakat Toraja dari segi ekonomi, menghabiskan seluruh perhatian dan kekuatan ekonomi pada pelaksanaan “pesta”

karena kepentingan harga diri. Sebagaimana dikatakan Yamashita, pada tanggal 25 Januari 1993, Televisi Jepang menyiarkan ARS dengan judul “The Toraja:

Feast of Death, People Who Live to Day”76. Hal ini mengacu pada pemakaman Puang Mengkendek, Jakob Andilolo, pada tahun 1992 yang menurut pemberitaan surat kabar di Jepang: "the greatest funeral in Indonesia that has ever been performed this century in which thousands of guest-mourners came and five hundred animals were killed."77

Untuk mengatasi kecenderungan negatif dari pelaksanaan ARS itu, maka ARS harus dikembalikan sebagai upacara religius. Tentu saja, makna religius yang diangkat bukan berdasarkan kepercayaan Aluk Todolo, melainkan berdasarkan iman Kristiani. Dengan demikian, ritual kematian itu adalah aluk dan bukan semata ada’/adat. Kekristenan harus bisa mengisi makna religius yang hilang dari ARS berdasarkan iman Kristen. Dengan kembali melihat persamaan dan

76 “Toraja: Pesta Kematian, Bangsa yang Hidup untuk Mati”. S. Yamashita, “Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi”, 81.

77 “Pemakaman yang terbesar di Indonesia yang pernah dilakukan pada abad ini, di mana beribu-ribu tamu yang datang dan lima ratus binatang dibunuh”. Japanese newpaper Asahi Shinbun, January 25,1993, sebagaimana dikutip S. Yamashita, “Manipulating Ethnic Tradition: The Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi”, 80-81.

perbedaan paham terhadap kematian dan kehidupan kekal antara Toraja dan Kristen, kiranya agama Kristen mampu mengintergasikan makna religius berdasarkan iman Kristiani di dalam ARS. Tentu saja, teologi Kristiani tidak dapat langsung begitu saja menggantikan makna dari tindakan ARS. Maka itu, dibutuhkan adaptasi agar tindakan-tindakan dalam ARS itu dapat menjadi medan pengungkapan iman dan memberikan nilai-nilai yang sesuai Injil. Harapannya adalah terjadinya transformasi pemaknaan dalam tindakan ARS, sehingga dari kegiatan itu makna religius yang hilang, diangkat kembali dalam keyakinan yang baru berdasarkan Injil.

Secara umum, ARS mesti dilihat sebagai upacara untuk mengantar orang mati ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Pada kesempatan itulah, orang yang hidup (dalam persekutan para kudus) memohon agar almarhum/ah dapat menikmati janji Kristus, yakni membawanya kepada tempat yang telah disediakan di dalam Kerajaan Allah di Surga. Dalam hal ini, ada perubahan paham yang sangat mendasar, namun tidak meniadakan kegiatan budaya itu sendiri.

Pelaksanaan ARS diberi makna yang baru berdasarkan paham keselamatan Kristiani.

Memang disadari bahwa ARS tidak begitu saja bisa mengungkapkan seluruh misteri kematian dan harapan akan kebangkitan sebagaimana yang diyakini oleh orang Kristiani. Oleh karena itu, pemahaman Kristiani terhadap hal tersebut juga menuntut tanggapan berupa sikap dan tindakan berdasarkan paham Kristiani. Kendati demikian, tidak berarti bahwa sikap dan tindakan lama semuanya harus disingkirkan, melainkan diangkat, dimurnikan dan diberi

kekayaan pemahaman yang baru. Hal pokok dari iman Kristen adalah keselamatan dari Allah melalui Kristus dalam kesatuannya dengan Roh Kudus. ARS tidak lagi diyakini sebagai penjamin keselamatan, karena yang menjadi jaminan keselamatan adalah Yesus Kristus, dan keyakinan itu oleh orang Kristiani diungkapkan dalam Perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi (dalam hal ini Misa Requiem) menjadi puncak dan pusat dari tanggapan orang-orang Kristen dalam menanggapi misteri kematian. Ekaristi pertama-tama adalah sebuah perayaan puji syukur atas tindakan penyelamatan Allah yang mengagumkan bagi umat-Nya dan sekaligus permohonan berkat bagi umat sekarang78. Tindakan penyelamatan yang dipuji itu memang sudah terjadi pada masa lampau, akan tetapi juga sekaligus merupakan penghadiran kembali tindakan penyelamatan Allah di masa sekarang, sehingga kini umat mengalami tindakan penyelamatan itu dan sekaligus berharap bahwa Allah akan menyempurnakan penyelamatan itu di masa yang akan datang.

Kekayaan rohani, makna religius Kristen ini seharusnya mengisi rangkaian ARS, menjadi pusat dan puncak ARS dan bukan hanya sebagai tempelan atau pelengkap ARS. Dengan melihat suasananya yang meriah, ARS adalah sebuah pesta, pesta dalam kedukaan. Dalam iman dan harapan akan pemenuhan janji penyelamatan Allah, maka tidak salah jika dihadapan kematian, umat Kristiani mengadakan pesta dan memuji Allah. Maut bukanlah akhir, karena Allah akan bertindak, Ia akan menganugerahkan kehidupan baru, kehidupan kekal, kepada orang yang percaya kepada-Nya.

78 E. Martasudjita, Pr., Ekaristi, Tinjauan Teologis, Liturgis dan Pastoral, Kanisius, Yogyakarta 2005, 343.