• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3: ANALISIS STRUKTURAL NOVEL PUTRI CINA

3.3 Alur

Alur Putri Cina secara kronologis sebagai berikut: bab satu kontemporer dengan bab tiga belas sampai selesai, dan bab dua sampai dua belas adalah flashback. Ini terbukti karena pada bab satu sudah ada krisis identitas; apabila sudah ada itu,

pasti sudah ada peristiwa yang menyebabkan itu. Secara plot, urutan Putri Cina sebagai berikut:

Lambang 1: Alur Putri Cina140

Bab Halaman Bagian Alur Tanda

1 9 – 14 Perkenalan1; Timbulnya Konflik1 A1, B1

2 – 12 15 – 87 Peningkatan Konflik1 C1

13 – 17 88 – 148 Perkenalan2; Timbulnya Konflik2 A2, B2

18 149 – 152 Peningkatan Konflik2 C2

19 – 20 153 – 165 Perkenalan3; Timbulnya Konflik3 A3, B3

21 – 28 166 – 257 Peningkatan Konflik3 C3

29 – 31 258 – 302 Klimaks; Penyelesaian D; E

atau A1 – B1 – C1 – A2 – B2 – C2 A3 – B3 – C3 – D – E.

Pada bab pertama, tokoh Putri Cina diperkenalkan. Konfliknya sebagai tokoh juga muncul; ternyata dia merasa kehilangan identitas, yang ditandai dengan kehilangan wajahnya.

Dalam Peningkatan Konflik1, Putri Cina teringat pada cerita rakyat. Anak raja Majapahit, Jaka Prabangkara, dihukum karena telah menggambarkan selir

137 Departemen Pendidikan Nasional. Op. Cit.. Hal. 1416.

138 Sindhunata. Op. Cit. Hal. 248

139 Merupakan penyusunan kalimat sendiri dari terjemahan ‘cantik’, ‘wanita’, ‘seluruh’, ‘dunia’, ‘tidak’, ‘ada’, ‘sama’. Zoet mulder, P. J. Dan S. O. Robson. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Diterjemah kan Darusuprapta dan Sumart i Suprayitna. Cetakan Kelima. 2006. Gramedia: Jakarta. Hal. 34, 90, 404, 1005, 1198.

140 Tanda ditentukan oleh kedudukan unsur itu dalam alu r konvensional. No mor kecil (subscript) menandai p lot mana yang tampil. D dan E tidak mempunyai subscript karena menyatukan ket iga alur cerita.

kesayangan raja dengan sangat tepat, termasuk noda hitam dekat vaginanya. Sebagai hukuman, Jaka Prabangkara ditugaskan untuk menggambarkan semua yang ada di langit dan tidak turun dari langit sampai dia tiba di negeri Cina. Setiba di sana, dia menjadi terkenal dan akhirnya menikah dengan dua perempuan, yaitu seorang warga miskin dan seorang putri kaisar Cina; keturunannya bertakdir kembali ke tanah Jawa. Oleh karena itu, Putri Cina merasa bahwa dia sebenarnya sudah orang Jawa.

Namun, dia teringat lagi bahwa pada kerajaan Majapahit sudah ada seorang selir dari Cina; dengan demikian, Putri Cina merasa bahwa pencariannya tidak selesai. Dia ingat bahwa selir Cina itu telah dienyahkan saat hamil ke Sumatra karena kehendak permaisuri kesayangan raja; selir itu dinikahkan dengan anak raja itu dan akhirnya melahirkan anak dari kedua bapak-anak itu. Kedua anaknya tumbuh dewasa, lalu pulang ke tanah Jawa dan akhirnya menjatuhkan raja Majapahit dan mendirikan kerajaan baru, kerajaan Demak.

Putri Cina tidak tega, anaknya bisa mengkhianati ayah mereka. Dia merasa itu melawan adat. Maka dia, sebagai selir Cina itu, pulang ke tanah Jawa, mencari jawaban. Setelah bertemu dengan Loro Cemplon, seorang hamba di kerajaan Majapahit, dia berangkat ke Banyuwangi untuk mencari Sabdopalon-Nayagenggong. Setiba di sana, dia bertanya Sabdopalon-Nayagenggong mengapa Tanah Jawa selalu menjadi rawan perang.

Sabdopalon-Nayagenggong menceritakan kutukan Sarama, dewi anjing, sebagai balasan kekerasan yang terjadi kepada anaknya. Sabdopalon-Nayagenggong mengatakan bahwa kutukan itu membuat Tanah Jawa menjadi kacau setiap beberapa

ratus tahun, dan bangsa Cina yang dikambinghitamkan. Sabdopalon-Nayagenggong juga menyatakan bahwa itu sebenarnya salah mereka ada kutukan seperti itu.

Sabdopalon-Nayagenggong menceritakan asal usul Semar, Togog dan Batara Guru. Mereka adalah tiga dewa bersaudara yang berasal dari satu telur. Untuk mendapatkan jabatan raja dewa dari ayah mereka, Semar dan Togog berlomba menelan Gunung Gabawarsa. Togog gagal, tetapi Semar berhasil. Namun, gunung itu tidak bisa keluar dari perutnya. Akhirnya Semar dan Togog digusur ke bumi dan Batara Guru menjadi pemimpin dewa. Perbuatan cekcok mereka yang seperti manusia akhirnya menjadi ciri khas manusia.

Ketika Putri Cina bertanya kepada Sabdopalon-Nayagenggong mengapa mereka merasa bersalah, mereka mengakui bahwa merekalah Semar dan murca, atau hilang. Setelah itu, Putri Cina bersama Loro Cemplon pergi ke kota Tuban. Di sana, mereka berpisah dan Putri Cina melewati waktu ratusan tahun dalam waktu singkat.

Saat perjalanan waktu dia melihat keturunan Jaka Prabangkara kembali ke Tanah Jawa dalam jumlah besar. Mereka menjadi kaya raya, tetapi mulai melupakan budaya asalnya. Putri Cina juga melihat kekerasan terhadap bangsanya; dia melihat 10.000 orang Cina dibunuh di Batavia oleh penguasa Tanah Jawa Baru, Kompenie, ratusan orang Cina dibunuh di Tangerang pada tahun 1946, pembunuhan dan perkosaan di Malang pada tahun 1947 dan pembunuhan tanpa alasan pada tahun 1949 di Surabaya.

Setelah melihat semua penderitaan ini, dia berhenti ketika lagu “Cucak Rowo” sedang digandrungi di tanah Jawa. Dia melihat orang turun dari kereta, melepaskan

pakaian dan mendekatkan wayang Cina potehi wanita ke celana dalamnya. Putri Cina, karena sudah terbiasa kekerasan, tidak mengerti ancaman itu.

Pada bab tiga belas sampai dengan enam belas terjadi perkenalan latar baru, yaitu Kerajaan Medang Kamulan Baru. Kerajaan Medang Kamulan Baru adalah lanjutan dari Kerajaan Medang Kamulan yang didirikan dengan ideologi yang beda. Walau ketika Kerajaan Medang Kamulan Baru masih baru itu sangat dicintai oleh rakyat, kini hanya ada rasa putus asa; putus asanya sangat parah, sampai Kerajaan Medang Kamulan Baru juga diberi nama panggilan Kerajaan Pedang Kemulan dan Negeri Mampir Ngombe.

Para antagonis dan salah satu protagonis diperkenalkan pada bab tujuh belas, yaitu raja Prabu Murhardo, senapati Setyoko (dengan nama Gurdo Paksi), lurah prajurit Radi Prawiro (dengan nama Joyo Sumengah) dan penasihat Patih Wrehonegoro. Konflik baru juga timbul; karena rakyat sedang banyak demonstrasi dan ingin menjatuhkan Prabu Murhardo, dia atas saran Patih Wrehonegoro ingin mengalahkan amarah rakyat kepada orang Cina. Namun, Setyoko tidak bersedia. Dia ingin mencari jalan tanpa kekerasan; karena itu, dia menyerahkan Nyai Pesat Nyawa, keris senapati, kepada Prabu Murhardo. Joyo Sumengah, akan tetapi, bersedia melaksanakan tugas itu dan menerima keris senapati.

Dalam bab berikutnya, konflik kekuasaan Prabu Murhardo dan rakyat ditingkatkan. Kebencian masyarakat dialihkan ke orang Cina. Akibatnya, harta- harta orang Cina dijarah, rumah dibakar, dan wanita Cina diperkosa dan dibunuh. Dalam

amuk massa ini aparat tidak bergerak; karena tidak ada aksi dari mereka, terasa bahwa mereka mendukung perusuh ini.

Pada bab sembilan belas dan dua puluh plot ketiga muncul. Tokoh Giok Tien, Giok Hwa dan Giok Hong, tiga kakak-beradik, bersiap untuk mengungsi ke negara Singa. Biarpun Giok Tien istri Setyoko, mereka tidak merasa aman. Saat bersiap untuk mengungsi, Giok Tien menjadi terkenang akan masa lalu.

Giok Tien mengingat masa kecilnya, ketika masih sering mengikuti ibunya menonton ketoprak. Lama-kelamaan dia menjadi pemain ketoprak juga di rombongan Sekar Kastubo. Bersama teman satu rombongan, Korsinah, dia belajar tentang dunia ketoprak. Ketika dia menjadi bintang rombongan itu, dia juga menjadi pujaan lelaki; Korsinah juga mengajar dia dalam hal ini.

Namun, konflik timbul ketika Radi Prawiro, seorang prajurit muda, menjadi mabuk cinta untuk Giok Tien. Biarpun dia ditolak, dia tidak mengalah. Dia berjanji kepada dirinya bahwa dia akan mendapatkan Giok Tien suatu saat.

Konflik ini lalu ditingkatkan dalam tujuh bab berikutnya. Bersama Sekar Kastubo Giok Tien keliling Indonesia. Dia menjadi pemain dan bintang ketoprak Sekar Kastubo. Namun, dia juga menggunakan waktu itu untuk berdoa demi masa depan. Demi kelancaran pemeranannya, Korsinah memberikan rapal ke Giok Tien. Dia menjadi semakin terkenal dan pintar bermain.

Di saat itu Radi Prawiro tidak putus asa untuk memiliki Giok Tien. Dia bicara pada wanita tua dan membayarnya agar Giok Tien kena guna, terpaksa mencintainya.

Setelah dia kena guna, Giok Tien merasa semakin gila. Namun, Korsinah mengerti itu dan bisa menghilangkan guna itu.

Suatu hari, dia menjadi Roro Hoyi dalam lakon Geger Mataram. Karena perannya sangat luar biasa, akhirnya seorang prajurit muda, Setyoko, mendekatinya untuk mengakui cinta. Giok Tien pun jatuh cinta Setyoko, dan mereka menjadi pacar. Lama- lama mereka tunangan, tetapi karena Giok Tien masih ingin main ketoprak, mereka belum berani menikah. Giok Tien juga takut perbedaan suku mereka akan menimbulkan masalah.

Akibat kedekatan Giok Tien dan Setyoko, Radi Prawiro menjadi sangat cemburu dan menyimpan dendam kepada Setyoko. Dia tidak ingin melepaskan Giok Tien.

Sebelum memerankan Eng Tay dalam lakon Sam Pek Eng Tay, Giok Tien mengucapkan rapal yang diajari Korsinah. Pemeranannya sangat bagus, dan dia merasa bahwa dia hampir menjadi Eng Tay yang sesungguhnya. Dia sangat gembira.

Tidak lama setelah itu, Siok Nio, ibu Giok Tien, meninggal dunia. Perpisahannya dengan Siok Nio membuat Giok Tien sangat terharu. Oleh karena itu, dia tidak main ketoprak lagi, tetapi berpindah ke ibu kota bersama kakak-kakaknya untuk bersama dengan Setyoko.

Setelah mengingat masa lalu itu, Giok Tien, Giok Hwa, dan Giok Hong kembali mengepak untuk mengungsi ke Negara Singa. Namun, ada kelompok orang masuk ke rumah. Mereka memerkosa dan membunuh Giok Hwa dan Giok Hong. Namun, Giok Tien diselamatkan Radi Prawiro, yang membantai orang-orang itu.

Giok Tien trauma atas pembunuhan kakak-kakaknya, apalagi karena mereka tertusuk Nyai Pesat Nyawa yang milik suaminya.

Setelah dia dibawa ke rumah Radi Prawiro, ternyata Radi Prawiro tidak datang untuk benar-benar menyelamatkan Giok Tien. Dia ingin menggagahi Giok Tien dan memenuhi nafsunya, serta balas dendam kepada Setyoko. Namun, Prabu Murhardo datang sebelum Radi Prawiro bisa menanggalkan pakaian Giok Tien dan Radi Prawiro disuruh berhenti karena perilakunya tidak untuk kepentingan negara. Giok Tien lega.

Pada saat yang sama Setyoko pulang ke rumah dan diprotes warga-warga setempat. Mereka memandang dia sebagai pembunuh dan pengkhianat; mayat Giok Hwa dan Giok Hong telah ditemukan, bersama Nyai Pesat Nyawa. Setyoko menegaskan bahwa dia tidak bersalah, lalu berangkat ke istana raja untuk mencari keadilan.

Giok Tien dibawa Prabu Murhardo ke istana. Di sana, Prabu Murhardo bingung mengapa dia membawa Giok Tien. Dia sampai pada jawaban bahwa dia ingin memiliki Giok Tien. Akibatnya, dia menggagahi Giok Tien. Radi Prawiro masuk ke ruangan itu saat Prabu Murhardo masih menggagahi Giok Tien, tetapi diam sampai Prabu Murhardo bersyahwat.

Setelah Prabu Murhardo bersyahwat, Radi Prawiro berbicara. Dia menganggap Prabu Murhardo munafik, karena telah melakukan hal yang sudah dia melarang. Prabu Murhardo tidak merasa bersalah; menurut dia itu haknya sebagai raja. Namun, agar Radi Prawiro tidak membantah dia menawarkan Giok Tien untuk

nikmat Radi Prawiro; setelah Radi Prawiro selesai, mereka hendak membunuh Giok Tien.

Radi Prawiro segara turun menggagahi Giok Tien, tetapi tidak mencapai puncak nafsu. Pada klimaks Setyoko akhirnya masuk ke ruangan itu dan menghentikan Radi Prawiro. Dia marah besar, dan berusaha membantu istrinya. Dalam debat yang terjadi saat itu Setyoko mengancam akan ada perang saudara; Giok Tien menghindari itu dengan menyatakan bahwa dia bisa menjatuhkan Prabu Murhardo dengan mudah; dia ada bukti bahwa raja itu biadab. Setyoko juga mengatakan bahwa keluarganya dibunuh, entah oleh siapa; sebagai bukti itu dia menyerahkan Nyai Pesat Nyawa. Prabu Murhardo mengalah.

Akibat persetujuan bersama, Prabu Murhardo mengundurkan diri sebagai raja dan Setyoko mengundurkan diri dari jebatan senapati. Radi Prawiro naik pangkat menjadi senapati dan menerima Nyai Pesat Nyawa kembali. Berakhirlah plot nomor dua.

Empat puluh hari setelah kematian Giok Hong dan Giok Hwa, Giok Tien berdoa untuk roh mereka. Dia tidak percaya pada suaminya; dia masih merasa anak buah suaminya telah membunuh kakaknya. Namun, setelah Setyoko datang dan menyerahkan seragam senapatinya kepada roh Giok Hong dan Giok Hwa, Giok Tien sadar bahwa suaminya benar-benar mencintainya. Mereka berpelukan, bahagia bersama.

Kesunyian ini dipecah ketika Radi Prawiro berusaha untuk menembak Setyoko dengan anak panah. Giok Tien mendorong Setyoko, tetapi dia sendiri kena

anak panah itu. Setyoko memegang mayat istrinya, lalu mengakui bahwa dia merasa lebih parah daripada pengkhianat karena tidak bisa melindungi istrinya. Akhirnya dia pun kena anak panah.

Radi Prawiro mendekati mayat cinta dan musuhnya. Dia puas karena dendamnya akhirnya dibalas, tetapi merasa sedih karena dia sendiri sudah membunuh Giok Tien. Setelah mencoba melupakan cintanya kepada Giok Tien, dia mengakui bahwa cintanya kini membunuhnya. Dia lalu berusaha untuk memegang mayat Giok Tien, tetapi kedua mayat itu lenyap menjadi kupu-kupu.

Kupu-kupu itu beterbangan ke langit. Radi Prawiro melihat, ada awan yang bentuknya mirip sekali dengan Giok Tien. Dia merasa bahwa dirinya sudah dimaafkan, tetapi masih tidak tega. Akhirnya dia menikam diri dengan Nyai Pesat Nyawa. Plot nomor tiga selesai.

Melihat kupu-kupu itu beterbangan dan bersuka ria Putri Cina merasa lega. Dia merasa bahagia, dan terbang bagai kupu-kupu ke seluruh tanah Jawa, berbunga-bunga dan membagikan permata Suinli. Orang Jawa dan orang Cina tinggal dalam kedamaian sejahtera. Plot satu selesai.

Dokumen terkait